Memuat
Beranda/ Semua /Nur Cahaya Cinta/BAB. 8

BAB. 8

Penulis: Rustina Zahra
"Tanggal publikasi: " 2020-09-26 14:41:52

"Kita harus bicara soal keinginan nenek. Ini memang rumit, dan ...."

"Ini bukan masalah rumit, Kak. Kakaklah yang membuat ini jadi rumit" potong Nur cepat.

"Apa maksudmu?" Wahyu membalas tatapan Nur yang terarah tepat ke matanya.

"Pilihan ada di tangan Kakak. Jika Kakak tidak menginginkan memiliki anak dariku, kita bisa berpisah, dan Kakak bisa mencari wanita la ...."

"Kau gila, Nur!" Wahyu menatap tajam bola mata Nur. Ia tidak menyangka, Nur akan berani mengatakan hal itu.

"Aku gila? Selama ini aku diam, karena aku tidak ingin ibuku juga tersakiti, kalau pernikahan ini berakhir. Tapi tadi siang ibu mengatakan, apapun yang bisa membuatku bahagia, ibu akan mendukungku. Kalau Kakak merasa jijik terhadapku, untuk apa ...."

"Tidak!" Wahyu bangkit dari duduknya, Nur ikut bangkit juga. Tatapan mereka berkonfrontasi. 

"Kenapa tidak, selama ini Kakak tidak pernah memberi aku kesempatan untuk melakukan tugasku sebagai seorang istri, jadi ...."

"Allah membenci perceraian, Nur!" Seru Wahyu, seakan ia seorang pria labil yang sedang bingung dalam mengambil sikap.

"Lalu, apakah Allah suka melihat sepasang suami istri yang terikat janji pernikahan, tinggal satu rumah, tapi bagai dua orang asing yang tidak saling mengenal, jawab aku, Kak!" Mata Nur yang menatap lekat mata Wahyu berkaca-kaca. 

"Tidak! Aku tidak akan menceraikanmu, tidak untuk saat ini. Karena aku tidak ingin melukai perasaan nenek. Nenek sedang sakit, aku tidak ingin penyakitnya tambah parah." Wahyu menurunkan nada suaranya.

Nur memejamkan mata, lalu menarik napasnya dalam, dan ia hembuskan dengan perlahan.

Wahyu menatapnya dengan perasaan yang ia sendiri bingung untuk mengungkapkan.

"Aku ingin kita memenuhi keinginan nenek," ucap Wahyu pelan. Nur mendongakan wajah, ditatapnya Wahyu dengan seksama.

"Apa maksud Kakak, keinginan nenek agar kita segera memiliki anak? Kakak yakin ingin memiliki anak dariku, sedang Kakak sendiri merasa jijik melihatku?" Tanya Nur dengan nada sinis. Tatapannya tajam menikam ke bola mata Wahyu. 

"Aku akan mencoba untuk menyukaimu, Nur" jawab Wahyu dengan nada gamang. Wahyu tahu, ia harus menurunkan ego demi kebahagiaan keluarganya.

"Menyukai untuk sementara, sampai tujuan Kakak terpenuhi. Tidak Kak, jangan paksakan diri Kakak. Lebih baik kita katakan jujur saja pada semuanya, bahwa pernikahan kita selama ini tidak berjalan sebagaimana seharusnya" ucap Nur dengan nada mantap.

Wahyu melangkah maju untuk mendekati Nur, mereka berdiri berhadapan dengan jarak cukup dekat. Wahyu menundukan kepala, sementara Nur mendongakan ke arahnya. Tatapan mata mereka bertemu, sesaat saling memaku. Tubuh mereka berdiri membeku. 

"Aku tahu, selama ini aku sudah bersalah karena mengabaikanmu. Aku hanya tak ingin berpura-pura, aku hanya ingin kau tahu, kalau aku ti ...."

"Aku tahu Kak. Perpisahan kita akan melepaskan Kakak dari semuanya. Itu yang terbaik menurutku, Kakak bebas ... aww!" Nur menjerit, karena tiba-tiba Wahyu mencengkeram kuat bahunya.

"Dengar Nur!" Wahyu memegang bahu Nur dengan kuat.

"Aku tidak akan menceraikanmu!" Ucap Wahyu tajam, setajam tatapannya yang menghujam ke bola mata Nur.

"Jangan pernah mengungkit masalah perceraian, di depanku, apalagi di depan orang tua dan nenekku. Kau dengar! Jika kau melakukannya, aku tidak akan pernah memaafkanmu. Aku akan membuat hidupmu tidak tenang disepanjang sisa usiamu!" Ancam Wahyu dengan nada geram.

Mata Nur mengerjap berulang kali, ia berusaha menahan air matanya.

"Jadi Kakak ingin terus memejarakan aku dalam pernikahan yang tidak punya masa depan ini? Aku tahu, tidak mudah mengubah rasa, aku tahu tidak mudah menumbuhkan rasa cinta. Aku tidak menuntuk Kak Wahyu untuk mencintaiku, karena aku juga belum bisa mencintai Kakak. Tapi setidaknya jangan anggap aku seperti sampah bau yang ingin Kakak hindari. Aku punya perasaan, aku punya harga diri. Andai Kakak tak bisa menerimaku sebagai istri, setidaknya anggaplah aku sebagai teman Kakak."

Wahyu melepaskan pegangannya di bahu Nur. Terdengar ia menarik napas.

"Aku tahu, tak ada satupun dari diriku yang bisa dibandingkan dengan Cantika. Aku tahu, aku bukan siapa-siapa. Tapi bukan berarti Kakak bisa terus memperlalukan aku semau Kakak. 1 tahun itu lama Kak. 1 tahun aku hanya diam, dan memendam semuanya, dan hari ini aku putuskan untuk mengungkapkan semuanya."

"Apapun yang kau katakan Nur. Aku tidak akan menceraikanmu, dan kau tidak boleh pergi dariku, sebelum aku mengijinkanmu pergi, paham!" Wahyu menudingkan telunjuknya ke arah Nur, tatapan dan suaranya sama tajamnya. Tanpa menunggu jawaban Nur, Wahyu ke luar dari kamar. Meninggalkan Nur yang berdiri diam dalam ketidak pastian.

Ia sudah berbohong pada Wahyu tentang cerita soal ibunya. Ia tidak sanggup menceritakan masalahnya pada ibunya. Hanya cerita karangan fiksi yang bisa ia kisahkan. Tentang kebahagiaan dalam rumah tangganya. Semua itu ia lakukan agar bisa melihat senyum di bibir ibunya, dan air mata bahagia bukan kesedihan mengalir di pipi ibunya.

'Maafkan aku Bu. Biarlah aku sendiri yang terluka, biarlah aku hadapi semua ini sendiri saja, sampai batas dimana kesabaranku tak bersisa.'

☘☘🏵☘☘

Nur terbangun karena suara petir yang sangat nyaring terdengar. Dibarengi dengan padamnya listrik. Beruntung di rumah Wahyu jika listrik padam maka genset akan langsung menyala. Jadi mereka tidak perlu dalam gelap berlama-lama.

Nur menatap ke arah ranjang, tapi ranjang itu kosong, Wahyu tidak ada di sana. Nur ingin kembali membaringkan tubuhnya, saat matanya menangkap sosok Wahyu yang berdiri mematung di dekat jendela. Pandangan Wahyu tertuju ke luar jendela yang hordennya ia buka. Nur tidak tahu apa yang membuat Wahyu termangu di sana.

Apakah tentang keinginan neneknya, ataukan tentang pembicaraan mereka sebelumnya.

Tiba-tiba Nur merasa ingin buang air kecil. Setelah merapikan letak jilbabnya, dengan perlahan, agar tidak bersuara, dan Wahyu tak bisa mendengar gerakannya, Nur berdiri, dan melangkah dengan hati-hati untuk masuk ke dalam kamar mandi. Diliriknya Wahyu sesaat, baru ia membuka, dan menutup pintu kamar mandi dengan sangat pelan, untungnya suara deras hujan menyamarkan suara-suara yang ia timbulkan.

Selesai buang air kecil, Nur ke luar dari kamar mandi. Tapi ia terlonjak mundur, sambil menutup mulutnya, untuk meredam teriakannya. Wahyu sudah berdiri di hadapannya, menatapnya dengan tatapan yang sulit untuk dipahaminya.

"Ya Allah, Kak Wahyu membuat aku terkejut saja! Haahhh, Kakak ingin ke kamar mandi, aku sudah selesai" Nur ingin melangkah melewati Wahyu, tapi Wahyu seakan menghalangi langkahnya. Nur ke kiri, Wahyu bergerak ke kanan. Nur ke kanan, Wahyu bergerak ke kiri. Nur mendongakan wajahnya, tidak mengerti kenapa Wahyu menghalangi langkahnya.

"Ada apa Kak?" Tanya Nur bingung.

Wahyu menundukan kepalanya, tatapan mereka bertemu. Nur mengerutkan keningnya dalam, ia dilanda kebingunan akan sikap Wahyu kepadanya. Ditatap wajah Wahyu seksama, tapi ia tidak menemukan jawaban apapun di sana. Wajah Wahyu datar, sedatar tatapannya.

"Aku mau lewat Kak, Kakak mau ke ka ...."

☘☘🏵BERSAMBUNG🏵☘☘

Ingin tahu kelanjutannya?
Lanjutkan Membaca
Bab Sebelumnya
Bab selanjutnya

Bagikan buku ke

  • Facebook
  • Twitter
  • Whatsapp
  • Reddit
  • Copy Link

Bab terbaru

Nur Cahaya Cinta   BAB. 19

Nur ke luar dari kamar setelah selesai mandi. Nur mengernyitkan keningnya saat tak melihat siapa-siapa di ruang tengah."Kak!" Nur memanggil Wahyu yang tidak terlihat, ia menuju ruang tamu. Dilihatnya Wahyu menutup pintu pagar dengan payung di tangannya. Nur menunggu Wahyu di teras rumah, Wahyu berjalan mendekatinya."Sudah pulang ya, Kak""Iya""Aku jadi malu, pasti ibu pikir aku ....""Aku sudah jelaskan ke ibu dan nenek, kalau kamu kelelahan karena harus kerja rodi semalam" Wahyu masuk ke dalam rumah diikuti oleh Nur."Kerja rodi?""Hmmm, yang tadi malam""Yang tadi malam?" Nur mendongakan wajahnya dengan kening berkerut menatap Wahyu, ia sungguh tidak mengerti apa yang dimaksud Wahyu dengan kerja rodi.

Nur Cahaya Cinta   BAB. 18

Begitu melihat nama orang yang menelponnya, Wahyu memutuskan untuk mengabaikannya. Ia hanya mematikan suara ponselnya. Wahyu kembali naik ke atas ranjang. Sebelumnya ia melepas celananya, mata Nur melotot saat melihat Wahyu yang tanpa busana. Cepat Nur membuang pandangannya, jantungnya berdegup lebih cepat lagi, ia merasa tubuhnya panas dingin jadinya.Wahyu langsung menindih Nur yang masih memakai penutup segi tiganya."Siapa Kak?" Tanya Nur saat tatapan mereka bertemu. "Tata" jawab Wahyu singkat."Tata?" Nur mengernyitkan keningnya, karena merasa asing dengan nama itu."Orang yang ingin beli rumah""Kenapa tidak dijawab, Kak""Saat ini, ini lebih penting dari segalanya" Wahyu mengecup bibir Nur, membuat Nur tersipu ka

Nur Cahaya Cinta   BAB. 17

Sesaat hanya kesunyian yang ada di antara mereka, meski Wahyu cukup berpengalaman dalam hal wanita, tapi baginya tetaplah ini menjadi hal yang berbeda. Ia belum sampai pada tahap 'bercinta' dengan teman wanitanya.Nur merapikan rambutnya yang tergerai, digelungnya asal, rambut panjangnya yang hitam bergelombang. Wahyu menolehkan kepalanya. Ditatap dari samping, lekukan bibir Nur terlihat sangat seksi. "Aku kembali ke kamarku ya Kak" pamit Nur pada Wahyu. Ia merasa jengah duduk berduaan tanpa ada yang dibicarakan."Nur" Wahyu menahan lengan Nur yang ingin berdiri. Wahyu menggeser duduknya lebih dekat. Nur menolehkan kepalanya, tangan Wahyu terangkat, dibukanya gelungan rambut Nur, sehingga rambut Nur tergerai kembali. Mata Nur mengerjap gelisah, ia merasa berdebar-debar karena paha Wahyu yang masih terbungkus celana pendek menempel di pahanya yang tertutup daster panjangnya.Jemari Wahyu meraih dagu Nur. Mata Wahyu menatap

Nur Cahaya Cinta   BAB. 16

Makan malam mereka berjalan dalam kesunyian, sesekali Wahyu melirik Nur. Ia gemas sekali melihat pipi Nur saat Nur mengunyah makanannya. Pipi itu benar-benar seperti bakpao berwarna coklat saja. Jemari Nur yang pendek dan terlihat gemuk tidak luput dari rasa gemasnya. Rasanya Wahyu ingin menggigitnya.'Argghh, ini semua karena mimpi tadi, kenapa semua yang ada pada Nur jadi terasa menggemaskan. Padahal selama ini aku sukses mengabaikannya, tapi...argghhhh'Tanpa sadar Wahyu menggerutukan giginya, karena kesal pada dirinya sendiri. Niatnya mendekati Nur agar rencananya untuk membuat Nur hamil sebelum 6 bulan terlaksana, tanpa harus ada embel-embel cinta. Tapi sekarang justru hatinya yang mulai liar, tak bisa untuk diperintah otaknya.Nur menjilat bibirnya, lalu meneguk air minumnya. Wahyu menundukan kepalanya, menutup matanya, mengutuki dirinya.'Ya Allah, apa ini hukumanmu atas sikapku

Nur Cahaya Cinta   BAB. 15

Nur pulang ikut dengan Lisna, teman kerjanya yang naik motor. Tapi hujam yang mendadak turun membuat mereka harus berteduh di emperan sebuah ruko. Dan seperti beberapa hari yang lalu, Nur kembali bertemu dengan Raffi di situ. Raffi tidak sendirian, ia bersama Arif temannya. Merekapun terlibat pembicaraan yang mengasyikan, sambil menunggu hujan mulai reda. Tapi, hari mulai gelap, hujan tak kunjung reda juga, justru seperti bertambah derasnya. Nur jadi khwatir kalau Wahyu lebih dulu tiba di rumah sebelum dirinya.Tiba-tiba sebuah mobil berbelok ke halaman ruko tempat Nur berteduh. Nur tahu betul siapa pemilik mobil itu. Nur melangkah untuk mendekati mobil. Dan benar dugaannya, kalau Wahyulah yang berada di dalam mobil itu."Kak Wahyu!""Masuk""Sebentar Kak, aku pamit dulu sama temanku" sahut Nur, Nur berpamitan pada Lisna, Raffi, dan Arif. Setelah itu baru ia masuk ke dalam mobil Wahyu. Nur melirik Wahyu ya

Nur Cahaya Cinta   BAB. 14

Nur menatap mobil Wahyu sampai hilang dari pandangannya.Nur masuk lewat pintu yang ada di samping butik."Assalamuallaikum" Nur mengucap salam begitu membuka pintu."Walaikum salam, diantar siapa Nur?" Tanya Bunda Aira."Kak Wahyu" jawab Nur dengan rona merah di wajahnya."Tumben diantar suami""Karena hujan Bunda, jadi diantar""Ehmm, ayo Nur masuk ke ruanganku. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu" Bunda Aira menggamit lengan Nur."Ada apa ya Bunda?""Jangan tegang dan cemas begitu, ayo duduk" Bunda Aira mempersilahkan Nur untuk duduk di depannya."Begini Nur, butik kita akan meluncurkan produk terbaru, dan aku butuh bantuanmu untuk itu" "Butuh bantunku bagaimana ya Bunda? Aku kan kerja di sini, sudah pasti aku akan membantu Bunda semampu aku bisa" "Ini bukan tentang pekerjaanmu memasang payet, kancing, dan sebagainya, Nur""Lalu tentang apa, Bunda?""Aku ingin kau jadi model produk terbaru butik kit

Nur Cahaya Cinta   BAB. 13

Suara ketukan di pintu kamar mengagetkannya. Nur membuka pintu kamar dan menemui Wahyu yang berdiri di depannya."Oleskan salep ini di kulitmu yang terkena air panas tadi" Wahyu mengangsurkan salep di tangannya pada Nur."Terimakasih Kak" Nur menerima salep yang disodorkan Wahyu.

Nur Cahaya Cinta   BAB. 12

Listrik belum menyala juga. Nur meletakan di atas meja 3 batang lilin yang masing-masing ia tempatkan dibekas kaleng kue berwarna biru tua yang berukuran kecil. Kue kering yang di atasnya bertabur gula, kue kering paling digemari oleh Wahyu. Nur t

Nur Cahaya Cinta   BAB. 11

"Baiklah, aku pergi. Tapi jika Kak Wahyu membutuhkan bantuanku kapanpun juga, aku akan selalu siap membantu" tanpa rasa malu sedikitpun, Henny bangkit dari duduknya. Wahyu tetap diam di kursinya."Aku pergi""Hmmm" Wahyu menganggukan kepalanya. Ditatapnya punggung Henny yang k

Nur Cahaya Cinta   BAB. 9

"Aku mau lewat, Kakak mau ke ...." Nur menghentikan ucapannya, saat Wahyu berbalik dan pergi meninggalkannya. Wahyu ke luar dari kamar tanpa mengucapkan apa-apa. Nur menatap punggung Wahyu dengan resah di dalam dadanya. Sampai subuh Nur tak bisa memejamkan matanya, dan Wahyu kembali lag

Bab Lainnya
Unduh Buku
GoodNovel

Unduh Buku Gratis di Aplikasi

Unduh
Cari
Pustaka
Pencarian
RomansayinniHistoricalUrbanMafiaSystemFantasiLGBTQ+aRnoldMM Romancegenre22- 印尼语genre26- IndonesiaNamegenre27-请勿使用印尼语genre28- IndonesiaName
Cerita Pendek
LangitMisteri dan teka-tekiKota modernSurvival akhir duniaFilm aksiFilm fiksi ilmiahFilm romantisKekerasan berdarahRomansaKehidupan SekolahMisteri/ThrillerFantasiReinkarnasiRealistisManusia SerigalaharapanmimpikebahagiaanPerdamaianPersahabatanCerdasBahagiaKekerasanLembutKuat红安Pembantaian berdarahPembunuhanPerang sejarahPetualangan fantasiFiksi ilmiahStasiun kereta
MenulisKeuntungan PenulisLomba
Genre Populer
RomansayinniHistoricalUrbanMafiaSystemFantasi
Hubungi kami
Tentang kamiHelp & SuggestionBisnis
Sumber
Unduh AplikasiKeuntungan PenulisKebijakan KontenKata kunciPencarian PopulerUlasan bukuFanFictionFAQFAQ-IDFAQ-FILFAQ-THFAQ-JAFAQ-ARFAQ-ESFAQ-KOFAQ-DEFAQ-FRFAQ-PTGoodNovel vs Competitors
Komunitas
Facebook Group
Ikuti kami
GoodNovel
Copyright ©‌ 2026 GoodNovel
Syarat Penggunaan|Kebijakan Privasi