loading
Home/ All /My Mine (Indonesia)/Awal
My Mine (Indonesia)

Awal

Author: Sixthly
"publish date: " 2020-10-26 14:49:13

Jakarta, Mei 2010

Nadhara sedang mematut dirinya di cermin, ia memakai gaun selutut berwarna merah hati. Malam ini, ia akan menemani Althaf  untuk pergi ke pernikahan teman kekasihnya itu. Wajahnya tampak sangat cantik dihiasi dengan riasan tipis, Nadhara juga menggerai rambutnya, rambut ikalnya terurai cantik di punggung menambah kecantikan gadis itu malam ini.

Hari ini, Nadhara sengaja seharian di rumah untuk berdandan dan ia juga sudah membeli gaun khusus yang akan di pakainya untuk menemani Althaf. Nadhara kembali mematut dirinya di cermin, penampilannya malam ini sedikit lebih feminim dan lebih elegan, namun sama sekali tidak membuatnya terlihat tua dari umurnya.

Tidak lama kemudian, ketika Nadhara mendengar suara mobil yang singgah di depan rumahnya. Nadhara langsung pamit kepada kedua orangtuanya dan adiknya yang sedang mengerjakan tugas di kamarnya.

Malam ini, Althaf tampak sangat tampan dengan balutan stelan jas berwarna cokelat tua dengan dasi kupu-kupu yang serasi dengan gaun yang ia kenakan sekarang. Pria itu tampak sangat menawan membuat Nadhara tidak bisa mengalihkan tatapannya.

Nadhara masuk ke dalam mobil lalu melambai kepada kedua orang tuanya. Di dalam perjalanan Nadhara terus melihat Althaf terus saja meliriknya. Ia menatap ke bawah dan merasa jika penampilannya baik-baik saja.

“Al, penampilanku aneh ya?”

Althaf langsung menoleh ke arah Nadhara lalu menggeleng pelan. “Aneh kenapa?”

“Ya, siapa tau aneh, abis dari tadi kamu ngelirik aku terus. Apa aku ganti baju aja, ya?” tanya Nadhara dengan perasaan kecewa.

“Jangan, nggak ada yang aneh kok.” Ucap Althaf sembari tersenyum dan memacu kecepatan mobil menuju tempat acara.

“Jadi, aku cantik?” tanya Nadhara sembari berekspresi imut di depan Althaf.

Althaf tersenyum, “Iya, kamu cantik.”

Nadhara langsung tersenyum bahagia dan mencium pipi Althaf cepat, membuat pria itu menggelengkan kepalanya pelan. “Segitu aja?”

“Eh, terus mau kayak gimana?” tanya Nadhara dengan ekspresi tidak mengerti.

Bersamaan dengan itu, mereka berhenti di lampu merah, “Kayak gini.” Althaf merain tengkuk Nadhara lalu mencium bibir gadis itu pelan dan melumatnya hingga membuat napas keduanya memburu.

Althaf melepas ciuman mereka setelah terdengar bunyi kelakson dari arah belakang mobilnya. Nadhara langsung memukul bahu Althaf, ia menengok ke kanan dan ke kiri utuk memastikan tidak ada orang yang melihat mereka.

“Ih, kamu nanti lipbam aku habis.” protes Nadhara lalu menggembungkan pipinya.

Al tersenyum, “Kan bisa pakai lagi. Aku suka, lipbalm kamu, manis.”

“Iya, kemarin aku beli yang rasa apel.” Ucap Nadhara sembari memoleskan lipbalm ke bibirnya lagi.

Nadhara mengigit bibirnya pelan, ia sudah sangat sering berciuman dengan Althaf. Pria itu lah pacar pertamanya, Althaf juga yang mengambil ciuman pertamanya, Nadhara sangat bahagia bisa merasakan semua hal pertama itu dengan Althaf karena pria itu memperlakukannya dengan baik.

Althaf merupakan seorang anak kuliahan yang sekarang sudah hampir menyelesaikan pendidikan koasnya. Sementara, Nadhara baru saja naik ke kelas tiga SMA. Mereka kenal dari teman Nadhara yang merupakan adik dari Althaf. Sejak itu mereka menjadi akrab sampai berpacaran seperti sekarang.

Mereka lalu membahas hal lain hingga sampai di tempat tujuan mereka. Ternyata teman Althaf yang menikah itu merupakan seorang Dokter dan seorang perawat. Ketika mereka betemu dengan teman-teman Althaf, pria itu mengenalkannya sebagai kekasih pria itu.

“Ini, Nadhara. Kekasihku.” Ucap Althaf bangga dan membuat hati Nadhara mengembang.

Sepulangnya mereka dari acara itu, Althaf terus menggenggam tangan Nadhara. “Keringetan Al, lepas dulu ya.” Ucap Nadhara.

Althaf menggeleng, “Mau pegangan terus.”

Nadhara berdecak, “Kamu kenapa sih? Dari pas pulang aneh banget.”

Althaf menggeleng, “Nggak apa-apa. Kita singgah bentar di sini ya, aku pusing.”

Nadhara mengangguk, ia melihat Althaf memelankan mobilnya di pinggir sebuah taman kota. Tempat itu sudah sepi karena jam sudah sangat larut. Nadhara memeriksa ponselnya dan tidak menemukan apapun di dalam benda pipih itu lalu kembali menyimpannya dalam tas.

Tiba-tiba terdengar suara ‘klik’ dari sabuk pengaman yang di lepas oleh Althaf. Pria itu langsung melepas sabuk pengaman milik Nadhara dan meraih tubuhnya dalam satu tarikan dan sukses duduk di pangkuan pria itu.

“Al?”

Tanpa aba-aba, Althaf langsung mencium lembut bibir Nadhara, ia kaget tetapi lama-kelamaan menerima ciuman Althaf ketika pria itu semakin memperdalam ciumannya. Nadhara langsung melingkarkan tangannya di leher Althaf.

Sementara, Althaf terus memperdalam ciumannya, bibirnya bermain di atas bibir Nadhara lembut. Kedua tangannya yang berada di pinggang Nadhara meremas pelan di sana. Napas Nadhara terengah, Althaf melepaskan ciumannya lalu menyampirkan rambut Nadhara ke bahu kanan gadis itu. Ciumannya berpindah ke rahang Nadhara, mengecupnya lembut di sekitar sana dan semakin membuat Nadhara terengah.

“Al, udahan ya?” ucap Nadhara terengah ketika merasakan Althaf sudah membuka restelting gaun yang ia kenakan dan mengusap punggungnya lembut.

Al menatap wajah Nadhara, rambut gadis itu berantakan dan entah kenapa terlihat begitu seksi di matanya. “Kenapa?” tanya Althaf.

“Mau pipis,” jawab Nadhara lalu mengigit bibirnya pelan, ia tidak bisa menatap tepat ke arah mata Althaf karena ia malu. Althaf tersenyum kecil lalu mengecup pelan bibir Nadhara, “Itu bukan karena kamu mau pipis, sayang.” Jawab Althaf dengan suara serak.

“Terus, aku kenapa?” tanya Nadhara dengan ekspresi tidak mengerti.

Al menggeleng, “Nggak apa-apa. Sini aku bantuin perbaiki gaun kamu.” ucap Althaf lalu menarik kembali resteling gaun milik Nadhara lalu membantu gadis itu untuk kembali ke posisinya semula.

…

Jakarta, Juni 2010

Tiga hari lagi,

Althaf

akan berangkat ke Papua untuk menjalankan tugasnya sebagai intersip, kebetulan  Althaf  kebagian tempat di Papua, walaupun bukan di pelosok dan hanya di pinggir kota membuat Nadhara tetap merasa khawatir.

Mereka melewati waktu bersama agar nanti bisa melepas rindu saat sudah berjauhan. Seperti hari ini, mereka pergi berjalan-jalan ke taman hiburan bedua untuk mengabadikan waktu bersama. Tangan mereka bertautan, sesekali ia akan mengecup punggung tangan atau puncak kepala Nadhara, ia akan sangat rindu dengan kekasihnya ini jika sudah pergi nanti.

“Rasanya nggak mau pulang.” ucap Nadhara lalu memeluk lengan

Althaf

dengan manja ketika mereka akan meninggalkan taman hiburan.

“Besok kita jalan-jalan lagi, ya?” tanya Althaf sembari mengacak rambut Nadhara mencoba menghibur gadis itu.

Nadhara menggeleng, “Besok aku ada ulangan tengah semester.”

“Nginep di rumah aku aja gimana?” tanya Althaf sembari memasangkan sabuk pengaman di tubuh Nadhara.

“Mama sama papa bukannya lagi ke bandung?” tanya Nadhara.

Althaf mengangguk, “Iya, Aleyaa nginap di rumah tante Arin.”

“Loh, kamu tinggal di rumah sendiri dong?” tanya Nadhara bingung.

“Nggak, kan ada aku sama bibi, sama Pak Man juga yang tukang kebun. Nggak sendiri.” jawab Althaf.

Nadhara tampak berpikir lalu mengangguk pelan, Althaf lalu mencium punggung tangan Nadhara. “Aku ijin sama orangtua aku dulu ya.”

Althaf mengangguk lalu menjalankan mobil ke rumahnya. Sesampainya mereka di sana, Nadhara langsung masuk ke kamar Aleyaa, adik Althaf. Nadhara sudah memberi tahu Aleyaa jika ia akan menginap. Ia sudah terbiasa menginap di sini, apalagi kedua orangtua Althaf juga sering memanggilnya untuk menginap untuk mengerjakan tugas bersama dengan Aleyaa.

Nadhara langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri, setelah itu ia memakai terusan selutut milik Aleyaa. Nadhara yang memang seukuran dengan Aleyaa memang sering bertukar baju. Rumah lantai dua itu terlihat sepi karena kedua orangtua Althaf dan Aleyaa tidak ada, ia turun ke dapur untuk minum segelas air untuk membasahi tenggorokannya lalu kembali naik ke lantai atas.

Terlalu sepi, akhirnya Nadhara memutuskan untuk pergi ke kamar Althaf dan mengetuk pelan kamar pria itu. Nadhara menahan napas ketika melihat Althaf sedang bertelanjang dada, tubuhnya hanya di balut handuk berwarna biru dan air terlihat menetes dari rambut Althaf.

“Peluk aku, dong.” Ucap Althaf sembari merentangkan tangannya.

Nadhara menghela napas pendek lalu menutup pintu di belakangnya, mau tidak mau ia memeluk Althaf. Ia juga sudah sering masuk ke kamar ini untuk mencuri-curi waktu untuk bermesraan dengan Althaf. Kamarnya sama besar dengan kamar Aleyaa, hanya saja Althaf memiliki kasur berukurang king size yang sangat besar dan nyaman untuk berbaring.

Althaf memiliki lemari buku lebih banyak dari pada lemari pakaian, di meja belajarnya juga di penuhi buku yang terbuka dan tidak tersusun rapi. Mungkin itu ciri khas seseorang yang mengambil jurusan kedokteran.

“Al, pesen makanan yuk. Di bawah nggak ada makanan.” Ucap Nadhara.

Althaf mengangguk, “Iya, tapi cium dulu.”

Nadhara bedecak, ia berbalik lalu meraih tengkuk Althaf dan mencium pria itu. Altaf tersenyum, ia langsung menekan tengkuk Nadhara dan semakin memperdalam ciuman mereka. Nadhara langsung melepas tautan bibir mereka, “Katanya cium.”

“Iya, inikan memang ciuman.” Jawab Althaf.

Nadhara mencubit perut Althaf, “Iya, ciuman. Tapi kamu udah ngehimpit aku di dinding gini.”

Althaf terkekeh, “Kamu seksi sih. Ya udah, kamu duduk aja dulu, aku mau lanjutin mandi.”

“Ih, pantes asem.” Ucap Nadhara lalu mendorong Althaf kembali masuk ke kamar mandi.

Nadhara lalu berjalan ke tempat tidur Althaf dan berbaring di sana, rasanya sangat empuk dan hangat. Lama-lama, ia tengkurap di tempat tidur pria itu sembari menikmati hembusan angin malam yang masuk ke kamar Althaf.

Kesenangan Nadhara terganggu ketika ia merasakan seseorang menggelitik kakinya. Nadhara tertawa geli dan membuat Althaf semakin melancarkan aksinya mengelitik kaki Nadhara, sampai mereka berdua berada di atas ranjang dengan napas memburu saling melawan.

“Cium?” ucap Althaf lagi.

Nadhara menggeleng, “Kamu genit ih, dari tadi minta cium.” Ucapnya lalu menutup mulutnya dengan satu tangan.

Althaf terkekeh, ia tidak kehabisan cara untuk membujuk Nadhara menciumnya. Ia mulai mencium kening Nadhara, lalu turun ke pelipis kekasihnya, ia tahu titik-titik sensitif kekasihnya itu. Ciuman Altaf mulai turun ke leher gadis itu, dan memberikan jilatan lembut berulang kali. Napas Nadhara mulai memburu dan akhirnya menurunkan tangannya dari mulut untuk memegang bahu Altaf.

Althaf langsung memanfaatkan kesempatan itu untuk mencium bibir Nadhara. Mereka bedua hanyut dalam ciuman panas, hingga keduanya tidak menyadari jika perbuatan mereka sudah terlalu jauh. Tubuh bagian atas Nadhara sudah terekpose, hanya menyisakan celana pendek yang di pakai gadis itu yang kini sudah mulai di tarik oleh Althaf.

Nadhara langsung menutupi dadanya dengan bantal yang mudah ia jangkau. Tetapi, Althaf menghalanginya, “Tubuh kamu indah,”

“Kamu mau ngapain?” tanya Nadhara saat Althaf mulai menurunkan celananya.

Althaf mencium kening Nadhara, “Mau main,” jawab pria itu lalu mulai menciumi dada atas kekasihnya, membuat Nadhara mengigit bibir bawahnya pelan.

“Kamu nggak mau buat aku hamil kan?” tanya Nadhara sembari menatap Althaf.

Althaf menggeleng, “Aku tahu caranya supaya kamu nggak hamil.” Jawabnya sembari melepaskan kain terakhir yang ada di tubuh Nadhara.

“Kamu percaya sama aku kan?” tanya Althaf menatap tepat di kedua mata Nadhara.

Nadhara mengangguk, “Iya, aku percaya kamu.”

Althaf kembali mencium puncak kepala Nadhara, “Aku sayang kamu.”

Nadhara tersenyum lalu melingkarkan kedua tangannya di leher Althaf, “Aku lebih cinta kamu.”

Want to know what happens next?
Continue Reading
Previous Chapter
Next Chapter

Share the book to

  • Facebook
  • Twitter
  • Whatsapp
  • Reddit
  • Copy Link

Latest chapter

My Mine (Indonesia)   Chapter 12 - Ferdi

Nadhara terkejut dengan sausana restoran itu. Dia menatap Ferdi tetapi pria itu hanya menatapnya dengan penuh senyum sembari menggiringnya ke dalam restoran. Ferdi memang sudah memesan tempat di restoran romantis yang terletak di Bali itu. Hari ini, dia ingin menyatakan perasaannya kepada Nadhara. Perasaan yang sudah dia pendam selama bertahun-tahun. Dia pikir, jika tidak memberitahu Nadhara tentang apa yang di rasakan mungkin suatu saat nanti Ferdi akan menyesal.

My Mine (Indonesia)   Chapter 11 - Dinner

…Juni 2010Nadhara sedang berjalan di Lombok Internasional Airport, dia menyeret koper dan berbicara dengan Sarah. Nadhara sedang ikut dalam liburan keluarga sahabatnya itu, kedekatan

My Mine (Indonesia)   Chapter 10 - Bestfriend?

Nadhara menarik kopernya keluar dari bandara, mereka akan dijemput oleh sopir resort. Kebetulan dia satu mobil dengan Ferdi karena rekannya yang lain memutuskan untuk berjalan-jalan. Hanya mereka berdua yang ingin ke resort untuk beristirahat terlebih dahulu.“Nad? Mau jalan-jalan nanti malam?” tanya Ferdi.

My Mine (Indonesia)   Chapter 9 - French Kiss

Hari ini, toko roti Rosemarry, milik Nadhara tutup. Dia menutupnya selama tiga hari untuk memberikan hadiah liburan kepada semua orang yang bekerja bersamanya. Penjualan dua minggu itu sangat melebihi target dan untuk merayakannya mereka akan liburan.Bukan liburan biasa, mereka semua akan pergi ke Bali. Nadhara sudah menyewa resort yang akan mereka tempati selama tiga hari ke depan. Dia akan pergi sendiri, sementara semua orang satu-persatu sudah men

My Mine (Indonesia)   Chapter 8 - First Kiss

Althaf sebenarnya ingin tinggal di tempat itu, apalagi ketika tahu jika lantai itu menjadi rumah Nadhara. Tetapi, dia tiba-tiba mendapat panggilan darurat karnea ada pasien datang dengan gagal jantung.Althaf terburu-buru bahkan tidak tahu jika saat itu Nadhara sempat memperhatikannya keluar dari toko itu karena tampak sangat cemas dan terburu-buru. Althaf langsung pergi ke rumah sakit, dia bahkan lupa membayar makanannya.

My Mine (Indonesia)   Chapter 7 - Regret

Nadhara sedang sibuk menghias kue ketika pintu dapur di ketuk dari luar, “Mbak, ada yang nyari diluar.” Kata Dira.Nadhara mengerutkan kening, bingung. “Siapa?” “Itu, Mbak. Cowo ganteng yang datang waktu itu.” jawab Dira.

My Mine (Indonesia)   Chapter 6 - The Past

Juni 2010

My Mine (Indonesia)   Chapter 5 - Hangover

Nadhara sangat ingin menampar dirinya sendiri dan berharap semua ya

More Chapters
Download the Book
GoodNovel

Download the book for free

Download
Search what you want
Library
Browse
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystemFantasyLGBTQ+ArnoldMM Romancegenre22- Englishgenre26- EnglishEnglishgenre27-Englishgenre28-英语
Short Stories
SkyMystery and suspenseModern urbanDoomsday survivalAction movieScience fiction movieRomantic movieGory violenceRomanceCampusMystery/ThrillerImaginationRebirthEmotional RealismWerewolfhopedreamhappinessPeaceFriendshipSmartHappyViolentGentlePowerfulGory massacreMurderHistorical warFantasy adventureScience fictionTrain station
CreateWriter BenefitContest
Hot Genres
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystem
Contact Us
About UsHelp & SuggestionBussiness
Resources
Download AppsWriter BenefitContent policyKeywordsHot SearchesBook ReviewFanFictionFAQFAQ-IDFAQ-FILFAQ-THFAQ-JAFAQ-ARFAQ-ESFAQ-KOFAQ-DEFAQ-FRFAQ-PTGoodNovel vs Competitors
Community
Facebook Group
Follow Us
GoodNovel
Copyright ©‌ 2026 GoodNovel
Term of use|Privacy