loading
Home/ All /My Mine (Indonesia)/Chapter 5 - Hangover

Chapter 5 - Hangover

Author: Sixthly
"publish date: " 2020-10-31 17:39:57

Nadhara sangat ingin menampar dirinya sendiri dan berharap semua yang dia alami pagi ini hanya mimpi. Bertemu Althaf meruakan mimpi buruk. Apalagi sangat terlihat pria itu akan menahannya di sini sampai dia melakukan apa yang Althaf minta.

Semua kejadian ini begitu nyata untuk di anggap sebagai mimpi, terbangun di tempat tidur pria itu membuatnya tertampar kenyataan. Nadhara tidak mungkin bisa melupakan wajah Althaf, selain karena mereka bertemu kemarin. Dia memang otomatis mengenal Althaf karena wajah pria itu selalu terbayang di benaknya walaupun dia mengusirnya setiap saat.

Nadhara menghembuskan napas panjang, dia harus menjernihkan pikirannya agar bisa berpikir lebih tenang.

“Kamu tinggal dulu sebentar disini, mandi. Aku sudah buatin nasi goreng buat sarapan.” Ucap Althaf sembari menatap Nadhara.

Nadhara menatap Althaf tanpa mengatakan apa-apa. Tubuh pria itu tidak terlalu banyak berubah, masih seperti dulu, tinggi dan tegap, belum lagi gurat di wajah Althaf membuatnya semakin terlihat lebih dewasa dari pada dulu. Perbedaan dulu dan sekarang adalah pria itu tampak lebih tegas dan memiliki tubuh yang lebih berotot. Itu membuat pesona Althaf semakin terlihat jelas.

“Aku langsung pulang aja.” Jawab Nadhara lalu kembali berdiri.

Kali ini usahanya berhasil karena rasa pusingnya sudah tidak separah tadi. “Kamu masih hangover, Nad. Sarapan, minum obat terus istirhat dulu. Aku yakin kamu sekarang hanya memaksakan tubuhmu untuk menjauh dariku.”

Nadhara mendengkus, “Aku harus pergi bekerja.” Ucapnya setengah berohong.

“Aku bisa meminta ijin kepada atasanmu, hari ini kau sama sekali tidak bisa bekerja. Aku yakin mereka pasti meliburkanmu hari ini.” ucap Althaf lalu berjalan pelan menuju nakas yang berada tepat di samping tempat tidur.

“Nggak usah, mana ponselku?” tanya Nadhara.

Althaf mencabut daya ponsel Nadhara lalu memberikannya kepada gadis itu, “Nih, semalam low batt.”

Nadhara menghela napas panjang, “Berhenti, Al. Sikap kamu itu nggak sopan!”

“Ponsel kamu sama sekali nggak aku buka, lagian dikunci juga kan? Semalam ponsel kamu jatuh di pinggir tempat tidur dan aku langsung mengisi dayanya. Kamu mandi dulu, lalu sarapan.” Ucap Althaf lalu melangkah kembali ke balkon kamar untuk mengambil gelas.

Nadhara sudah tidak tahan lagi bersikap berpura-pura baik di depan Althaf. “Dengarnya, Al. Aku makasih bangets kamu nolongin aku semalam dan membiarkanku tidur di kasur kamu? Tapi, aku mau pulang sekarang.”

Althaf gemas akrena Nadhara terus mengatakan ingin pulang berkali-kali. Dia langsung menarik Nadhara untuk berdiri di depan sebuah cermin besar yang posisinya tidak jauh dari tempat mereka. Nadhara terkisap begitu melihat pantulan dirinya di cermin, rambutnya sangat ksusut, makeupnya luntur dan jika dia keluar pasti oarng akan melihatnya seperti orang gila.

“See, kamu butuh bersih-bersih supaya lebih segar, makan dan istirahat. Setelah itu, baru aku ijinkan kamu pulang.” Ucap Althaf lalu melangkah menjauh dari Nadhara.

Nadhara mendengkus, “Kamu memangnya siapaku, Al? Kamu nggak berhak ngatur-ngatur aku.”

“Terserah kamu mau nganggap aku apa Nad, bebas. Tapi kamu sebaiknya ikutin saran aku. Mandi, aku ambilin dulu baju Sarah atau kamu mau pakai pakaian aku di lemari juga bisa. Setelah itu, aku tunggu kamu dibawah untuk sarapan.” Ucap Althaf lalu meninggalkan Nadhara sendiri di dalam kamar.

Nadhara mengahmbil napas panjang lalu memejamkan mata, dia sangat frustasi karena situasinya sekarang. Nadhara bahkan tidak bisa membantah ucapan Althaf dan itu kembali membuat hatinya berdenyut sakit.

…

Nadhara menghela napas pelan, selama perjalanan dari rumah Althaf ke rumahnya dia memilih untuk tidak berbicara sedikitpun. Bukan karena kepalanya masih pusing tetapi dia sangat risih duduk di samping pria itu.

Dia hanya menjawab pertanyaan Althaf seadaanya. Dia juga sudah berusaha menolak Althaf mengantarnya untuk pulang tetapi pria itu sangat keras kepala dan tidak mau mengalah. “Kamu kerja dimana, Nad?” tanya Althaf saat mobil mereka berhenti di lampu merah.

Pria itu sudah menjelaskan tentang kepindahannya dari Sumatera ke Jakarta dua bulan yang lalu. Pria itu sangat bersemangat menceritakan tetang pekerjaannya. Sementara, Nadhara hanya mendengarkan pria itu setengah hati, tetapi tetap mengingat apa yang pria itu katakan.

“Di Jakarta.” Ucap Nadhara seadanya.

Althaf terkekeh pelan, “Kamu lucu. Maksudku, kamu kerja di perusahaan mana? Atau sudah berhasil menjadi jaksa?”

Althaf ingat ketika masa sekolah dulu, Nadhara ingin menjadi seorang jaksa. Bukan jaksa yang menyudutkan terasangka tetapi seorang jaksa yang adil dan masih memandang tersangka sebaik-baiknya walaupun memang bersalah.

“Kamu nggak perlu tau lah. Itu terlalu pribadi untuk ku beritahu kepada orang asing.” Jawab Nadhara sembari menatap jalanan.

Mulutnya terkunci rapat setelah mengatakan hal itu, baginya itu juga kata-kata yang sangat menyakitkan tetapi dia harus melakukannya agar Althaf menjauh. Nadhara tidak kuat untuk kembali mengingat masa lalu.

Althaf tersenyum kecut mendengar ucapan Nadahra, “Kita asing ya? Hm, seberapa asing sih kita, Nad? Aku bahkan tahu tanda lahir di punggung kamu, yang bahkan kamu nggak pernah lihat itu atau tahu letaknya di mana.”

Nadhara langsung menoleh cepat kepada Althaf yang sedang menyetir dengan tatapan fokus ke jalan raya.

Dia benar-benar harus berpikir jernih dan sabar menghadapi Althaf. “Mau kamu apa sih?”

Althaf menoleh kepada Nadhara, memandang gadis itu dengan tatapan penuh arti. “Memangnya salah, ya? Kalau kita cerita bareng kayak teman lama? Aku juga kaget, Nad dan terus terang aku senang banget ketemu kamu kemarin di rumah sakit. Tapi, tadi malam aku nggak sengaja lihat kamu di bar, nggak nyesel aku pergi ke sana buat ketemu sama temen.”

Nadhara mendengkus kasar, dia tidak menanggapi ucapan Althaf dan memilih untuk melihat keluar jendela. Perasaannya campur aduk mendengar ucapan pria itu.

Althaf melirik Nadahra, “Jangan sering-sering minum, Nad. Kalau semalam aku nggak ada dan nggak nolongin. Kamu tahukan apa yang akan terjadi, semalam aja sudah berapa pria yang pegang kamu.”

Althaf memejamkan matanya ketika mengingat kejadian semalam, kepalanya panas melihat Nadhara di sentuh oleh pria. Hal itulah yang menyebabkannya menarik Nadhara untuk pergi dari bar itu.

“Al, kamu nggak punya hak untuk ngelarang-ngelarang aku. Keputusan untuk pergi kemana dan sama siapa itu urusanku. Aku bukan anak kecil dan kita nggak sedekat itu.” balas Nadhara.

“Aku cuma kasih saran, Nad. Bahaya banget kalau minum sendiri. Kamu bisa panggil aku kalau next mau minum lagi.” ucap Althaf.

Nadhara tertawa sinis, ksesabarannya sudah habis, dia membuka sabuk pengaman lalu menoleh ke arah pria itu. “Nggak, makasih deh. Turunin aku di sini! Aku bisa jalan kaki atau naik taksi!”

Dia sangat malas berlama-lama di mobil Althaf hanya untuk mendengar ucapan pria itu.

…

Nadhara sibuk memeriksa tempat roti, hari ini mereka menerima banyak pesanan untuk pernikahan. Belum lagi kue raksana tujuh tingkat yang sengaja di pesan oleh pasangan pengantin.

Sekarang semuanya sudah 98% selesai, tinggal memasukkan semua kue ke dalam mobil pengantaran. Nadhara sendiri yang akan mengantarnya dan sekalian datang ke pernikahan itu.

Ini sudah kesekian kalinya mereka mendapat pesanan kue saat pernikahan, jadi mereka sedikit sudah terbiasa dengan hal itu. “Semua kue sudah di hitung kan? Jumlahnya cukup?”

“Iya, Nad. Tadi semua sudah kuhitung dan kulebihkan lima untuk jaga-jaga.” Jawab Mika.

“Oke, makasih ya. Kalau begitu aku pergi dulu.” Ucap Nadhara lalu keluar dari toko roti miliknya.

Nadhara langsung naik ke atas mobil, dia mengikuti mobil box yang berisi kue itu dari belakang. Dia mengikuti dengan hati-hati karena tidak ingin seusatu terjadi dengan kue itu dan mengacaukan pernikahan kliennya.

Nadhara memijit pelipisnya pelan, kepalanya pusing tetapi dia harus tetap bekerja. Nadhara meminum aspirin ketika mobilnya berhenti saat lampu merah. Pertemuannya dengan Althaf menimimbulkan kekesalan, selama seminggu inipun dia tidak pernah tidak memikirkan pria itu.

Mengetahui jika Althaf berada di Jakarta, kota yang sama dengan tempatnya sekarang membuatnya selalu was-was. Nadhara tidak ingin bertemu dengan pria itu lagi tetapi kenapa dia sama sekali tidak bisa berhenti memikirkannya.

Nadhara sedikit lega ketika mengetahui jika Althaf tidak bisa lagi menghubunginya. Dia hanya harus menghindari pria itu dan tidak pergi ke tempat pria itu bekerja. Nadhara harus menghindari Althaf karena sepertinya pria itu sama sekali tidak memiliki niat yang sama.

Acara pernikahan itu berakhir pada pukul tiga sore, Nadhara memang sengaja pergi saat siang hari karena tidak bisa pergi saat malam hari. Pasangan penagantin itu berterimakasih kepadanya karena membuat pesta semakin meriah dengan kedatangan kue raksasa itu.

Ketika Nadhara ingin keluar, tampak seorang pramusaji pernikahan menghampirinya lalu menyerahkan secarik kertas. Dia menerimanya dengan kening berkerut lalu membuka kertas itu.

‘Aku tunggu di parkiran. Kamu cantik banget hari ini.’ – A

Nadhara membulatkan matanya, jika tebakkannya benar, yang mengiriminya pesan surat ini adalah Althaf. Dia tidak ingin bertemu dengan pria itu dan buru-buru berjalan keluar ke arah tempat parkir untuk mencari mobilnya.

“Aku tahu kalau kamu nggak bakal mau ketemu sama aku.” Ucap seseroang yang seketika membuat Nadhara kaget.

Nadahra tidak kaget lagi ketika dia mendengar suara Althaf, dia berbalik dan menemukan pria itu sedang memakai kemera berwarna putih lengkap dengan stelan jas. Betapa kagetnya karena dia tidak sempat melihat pria itu di dalam gedung tadi.

“Ternyata kamu sudah jadi koki kue terkenal ya, Nad. Nggak nyangka kalau hobi kamu dulu bisa jadi usaha sukses kayak gini.” Puji Althaf.

Hati Nadhara sedikit mengembang karena pujian dari Althaf, senyumnya hampir terbit tetapi kembali padam ketika mengingat pria itu yang memujinya. Nadhara tidak bisa lengah, dia tidak mau kembali terjebak dalam pesona Althaf.

…

Nadhara sampai di tokonya tepat jam sembilan malam, dia langsung naik ke atas dan membersihkan diri lalu ke bawah untuk mengecek rekan-rekannya. Tadi, Nadhara sempat makan malam dengan Althaf, lagi-lagi dia tidak bisa menolak ajakan pria itu.

Althaf sangat pintar karena mengajaknya di keramaian, membuatnya menjadi pusat perhatian. Untuk menjaga nama baiknya di depan beberapa tamu undangan yang baru datang atau bersiap untuk pergi, Nadhara terpaksa mengiyakan ajakan Althaf.

Walaupun begitu, dia hanya menanggapi Althaf dengan biasa. Seperti kemarin, dia menunjukkan kebosanan dan ketidaktertarikan berbicara dengan Althaf. Pria itu sangat sabar menghadapinya dan itu membuat Nadhara semakin bersemangat untuk semakin menjauh dari pria itu.

“Bos, roti sama kue hari ini laris banget.” Ucap Mika dengan wajah tersenyum ketika dia sampai di lantai pertama.

Nadhara membulatkan amtanya lalu menatap Mika dengan tatapan tidak percaya. “Hah? Beneran?”

“Iya, Bos. Kayaknya gara-gara dapat orderan dari pengantin tadi, tadi yang singgah rata-rata pakai pakaian pesta gitu. Untung tadi kita udah siap-siap, jadi nggak terlalu kewalahan.” Lapor Mika dengan senyuman bangga.

Wajah pegawainya yang lain juga terlihat berseri-seri walaupun terlihat gurat kelelahan dari wajah mereka. “Syukurlah, kalau gitu malam ini kita harus buat adonan dong? Lembur, gimana?” tanya Nadhara.

Nadhara menatap seluruh pegawainya, “Boleh! Tapi, bonus di tambah ya, Bos?” tanya Dira dengan wajah bersemangat.

“Bonus? Itu sudah pasti, kita harus kejar target untuk besok.” Ucap Nadhara.

Daffa langsung bertepuk tangan, “Wah, tambah semangat kalau ada bonus. Boleh deh, belum ngantuk juga gara-gara banyak pelanggan. Gimana? Yang lain setuju nggak?”

Semua pegawainya serentak menganggukkan kepala, “Yuk, tapi kita nggak bisa bantu di dapur Bos. Bisanya di sini aja?”

Nadhara mengangguk, “Iya, nanti kalian bagian yang susun roti sama kue. Terus sama melayani pelanggan juga kalau ada yang datang. Tenang aja, bonus pasti turun kok.”

Setelah pembicaraan itu, Nadhara langsung ke dapur bersama Daffa dan Mika. Mereka bertiga sibuk menguleni dan membuat campuran untuk membuat roti dan kue. Dua orang lagi sedang sibuk mencuci peralatan mereka.

Nadhara tersenyum, dia sangat bersemangat. Padahal tadi, dia ingin menutup toko lebih cepat tetapi melihat semangat dari pegawainya, Nadhara mengurungkan niat dan malah membuat mereka lembur.

Ini pertama kalinya mereka bekerja lebih dari jam kerja, biasanya mereka sudah bersiap-siap untuk menutup toko tetapi sekarang mereka sibuk untuk membuat kue untuk keesokan harinya.

Aroma manis kue tercium dari dapur. Tebakan mereka sedikit meleset, ternyata pelanggan yang datang masih sangat ramai. Mereka bahkan menunggu untuk membeli roti panas yang baru saja dipanggang di oven.

Itu membuat Nahdara, Mika dan Daffa sedikit kewalahan. Tetapi Akhirnya mereka bisa lega ketika tepat jam dua belas malam toko roti itu terpaksa di tutup karena mereka tidak bisa membuat roti keinginan pelanggan.

“Wah, beruntung banget kamu terima pesanan dari pengantin itu, Nad. Padahal awalnya hampir kita batalin.” Ucap Mika pelan.

Nadhara mengangguk, “Iya, nggak percaya juga bisa kayak gini. Semoga laku terus deh.”

Mika menganggukkan kepalanya kuat. Mereka kembali fokus membuat roti sampai pagi buta. Hanya tinggal mereka bertiga di dalam toko itu karena yang lain sudah pulang terlebih dahulu setelah toko tutup.

Nadhara membilas tangannya dengan air, semua roti akhirnya tersedia di toko. Dia sedikit takjub karena selama berjam-jam tadi, Nadhara tidak pernah sedikitpun memikirkan tentang Althaf, ternyata kesibukan membuatnya bisa melupakan pria itu.

Mereka bertiga naik untuk tidur di rumah Nadhara, ini pertama kalinya pasangan itu naik di lantai tiga dan menginap di rumahnya. Nadhara tidur dengan Mika sementara Daffa tidur di ruang tamu.

Nadhara meraih ponselnya dan dia membuka sebuah pesan dari nomor baru yang masuk. Pesan itu disertai gambar dari kartu member toko rotinya.

‘Kue kamu enak, aku sudah jadi anggota tetap dan akan menjadi pelanggan tetap kamu setiap hari’ – A

Seketika, Nadhara ingin melempar ponselnya. Dia menutup matanya kesal, siapa yang berani memberi nomor ponselnya kepada pria itu?

Want to know what happens next?
Continue Reading
Previous Chapter
Next Chapter

Share the book to

  • Facebook
  • Twitter
  • Whatsapp
  • Reddit
  • Copy Link

Latest chapter

My Mine (Indonesia)   Chapter 12 - Ferdi

Nadhara terkejut dengan sausana restoran itu. Dia menatap Ferdi tetapi pria itu hanya menatapnya dengan penuh senyum sembari menggiringnya ke dalam restoran. Ferdi memang sudah memesan tempat di restoran romantis yang terletak di Bali itu. Hari ini, dia ingin menyatakan perasaannya kepada Nadhara. Perasaan yang sudah dia pendam selama bertahun-tahun. Dia pikir, jika tidak memberitahu Nadhara tentang apa yang di rasakan mungkin suatu saat nanti Ferdi akan menyesal.

My Mine (Indonesia)   Chapter 11 - Dinner

…Juni 2010Nadhara sedang berjalan di Lombok Internasional Airport, dia menyeret koper dan berbicara dengan Sarah. Nadhara sedang ikut dalam liburan keluarga sahabatnya itu, kedekatan

My Mine (Indonesia)   Chapter 10 - Bestfriend?

Nadhara menarik kopernya keluar dari bandara, mereka akan dijemput oleh sopir resort. Kebetulan dia satu mobil dengan Ferdi karena rekannya yang lain memutuskan untuk berjalan-jalan. Hanya mereka berdua yang ingin ke resort untuk beristirahat terlebih dahulu.“Nad? Mau jalan-jalan nanti malam?” tanya Ferdi.

My Mine (Indonesia)   Chapter 9 - French Kiss

Hari ini, toko roti Rosemarry, milik Nadhara tutup. Dia menutupnya selama tiga hari untuk memberikan hadiah liburan kepada semua orang yang bekerja bersamanya. Penjualan dua minggu itu sangat melebihi target dan untuk merayakannya mereka akan liburan.Bukan liburan biasa, mereka semua akan pergi ke Bali. Nadhara sudah menyewa resort yang akan mereka tempati selama tiga hari ke depan. Dia akan pergi sendiri, sementara semua orang satu-persatu sudah men

My Mine (Indonesia)   Chapter 8 - First Kiss

Althaf sebenarnya ingin tinggal di tempat itu, apalagi ketika tahu jika lantai itu menjadi rumah Nadhara. Tetapi, dia tiba-tiba mendapat panggilan darurat karnea ada pasien datang dengan gagal jantung.Althaf terburu-buru bahkan tidak tahu jika saat itu Nadhara sempat memperhatikannya keluar dari toko itu karena tampak sangat cemas dan terburu-buru. Althaf langsung pergi ke rumah sakit, dia bahkan lupa membayar makanannya.

My Mine (Indonesia)   Chapter 7 - Regret

Nadhara sedang sibuk menghias kue ketika pintu dapur di ketuk dari luar, “Mbak, ada yang nyari diluar.” Kata Dira.Nadhara mengerutkan kening, bingung. “Siapa?” “Itu, Mbak. Cowo ganteng yang datang waktu itu.” jawab Dira.

My Mine (Indonesia)   Chapter 6 - The Past

Juni 2010

More Chapters
Download the Book
GoodNovel

Download the book for free

Download
Search what you want
Library
Browse
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystemFantasyLGBTQ+ArnoldMM Romancegenre22- Englishgenre26- EnglishEnglishgenre27-Englishgenre28-英语
Short Stories
SkyMystery and suspenseModern urbanDoomsday survivalAction movieScience fiction movieRomantic movieGory violenceRomanceCampusMystery/ThrillerImaginationRebirthEmotional RealismWerewolfhopedreamhappinessPeaceFriendshipSmartHappyViolentGentlePowerfulGory massacreMurderHistorical warFantasy adventureScience fictionTrain station
CreateWriter BenefitContest
Hot Genres
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystem
Contact Us
About UsHelp & SuggestionBussiness
Resources
Download AppsWriter BenefitContent policyKeywordsHot SearchesBook ReviewFanFictionFAQFAQ-IDFAQ-FILFAQ-THFAQ-JAFAQ-ARFAQ-ESFAQ-KOFAQ-DEFAQ-FRFAQ-PTGoodNovel vs Competitors
Community
Facebook Group
Follow Us
GoodNovel
Copyright ©‌ 2026 GoodNovel
Term of use|Privacy