loading
Home/ All /Make A Wish (Indonesia)/3. Mau gue temani ke psikiater?

3. Mau gue temani ke psikiater?

Author: Apple Leaf
"publish date: " 2020-10-27 12:06:05

Kanya POV

Samuel Wijaya menghiraukanku dan masuk ke dalam apartemen, tidak lupa dengan bungkusan hitam di tangannya. Dia menoleh ke belakang ketika aku sudah menutup pintu apartemen. 

"Tadinya gue mau langsung ke kantor aja, tapi sayang banget sama bungkusan ini. Jadi gue ketok pintu terus bertamu dengan sopan seperti kata seseorang." Ucapnya sembari tersenyum menyindir serta mengangkat bungkusan tersebut tinggi-tinggi.

Aku memperhatikan dengan tatapan malas pada bungkusan tersebut yang telah kuketahui isinya. Semalam Samuel Wijaya memasak semua isi kulkasku, aku pun makan banyak tadi malam. Jadi, bukan hanya kesalahannya saja yang telah membuat isi kulkasku kosong, namum aku juga ikut andil dalam mengosongkan isi kulkasku sendiri.

"Kayaknya gue harus makan sendiri aja deh di luar." Samuel kembali mengambil langkah mendekat ke arah pintu. 

Sebelum dia bisa meraih gagang pintu, aku yang masih berdiri di pintu masuk dengan segera mengambil bungkusan hitam di tangannya. Aku sangat lapar dan tidak mungkin membiarkan sarapanku lenyap begitu saja.

Segera aku berlari ke arah dapur dan mendengar Samuel terkekeh di belakangku. Wajahku memerah karena sudah bersikap tidak sopan padanya, apalagi barusan aku membicarakannya di belakang punggungnya, meskipun aku hanya menggerutu sendirian.

"Karena lo udah di sini, ngapain makan sendirian di luar?" sembari menenteng bungkusan berisi sarapan kami, aku membawa dua piring serta sendok dan garpu, lantas meletakkannya di atas meja makan mini. "Lo duduk aja, Sam, duduk di mana pun lo mau. Di lantai juga boleh."

"Astaga! Masa gue disuruh duduk di lantai. Nyesel gue bawain lo sarapan."

Menata piring dan menaruhnya di kedua sisi meja. Aku mulai mengeluarkan sarapan yang berada dalam bungkusan hitam tersebut. Nasi goreng yang biasa Samuel bawakan untukku. Nasi goreng kesukaanku yang hanya ada di seberang rumah Samuel Wijaya, dia cukup baik sering-sering membawakan sarapan untukku.

"Nyesel, tapi tetap aja lo bawain gue sarapan, 'kan?"

"Hmph! Tadi katanya gue nggak sopan karena masuk ke apartemen lo seenaknya? Jadi gue pikir lo nggak mau sarapan bareng karena udah punya tiga biji telur dalam kulkas lo." balik bertanya padaku, Samuel Wijaya masih memiliki nada menyindir.

Aku hanya terkekeh canggung mendengarnya dan tidak membalas agar pembahasan itu tidak menjadi panjang. Memutar bola mata malas, segera kubuka bungkusan pada nasi goreng itu; mencium baunya saja sudah membuat air liur terasa ingin keluar. Aku sudah tidak sabar untuk menyantapnya.

Melirik pada meja dan benar saja aku merasa ada yang kurang, ternyata aku lupa mengambilkan air minum untuk kami. "Gue mau ambil minum dulu." Segera aku bangkit, berjalan cepat menuju dapur dan membawa dua gelas air putih di tanganku tanpa perlu repot-repot memakai nampan untuk membawanya.

"Hati-hati, Kay, jangan jalan cepat-cepat nanti airnya tumpah!"

Samuel memang pria yang sungguh perhatian, siapa pun yang akan menjadi pacarnya nanti akan sangat beruntung memiliki pria seperti Samuel. Dia tampan, mapan juga pekerja keras. Bahkan Samuel sudah tidak tinggal bersama orang tuanya lagi, bukan karena orang tuanya tinggal jauh, melainkan Samuel Wijaya sudah mampu membeli rumah untuk dirinya sendiri. 

Rumah yang dihuni olehnya cukup besar dan memiliki dua lantai di kawasan yang terbilang cukup elit pula. Jarak dari apartemenku dengan rumah Samuel sebenarnya cukup jauh. Tentu tidak masalah baginya berkunjung ke apartemenku karena dia mengendarai mobil dan tentunya hasil kerja kerasnya pula selama beberapa tahun terakhir.

Andaikan saja aku juga mempunyai pacar seperti Samuel Wijaya di masa depan. Maksudku aku tidak ingin berpacaran dengan Samuel karena dia sendiri sudah aku anggap sebagai sahabatku. Meskipun kebanyakan di luar sana sahabat menjadi cinta atau malah stuck in friend zone. Aku tidak ingin merusak persahabatan yang telah aku bangun dengan Samuel menjadi hancur karena sebuah perasaan, dan beruntungnya aku tidak memiliki perasaan seperti itu padanya.

Kutaruh salah satu gelas di depan Samuel dan satunya lagi untuk diriku. "Selamat makan," ucapku. Dengan tidak sabar aku memasukkan satu sendok makan penuh nasi goreng ke dalam mulutku.

"Kay,"

Aku menoleh ketika Samuel memanggil namaku lirih, "Ada apa?"

"Semalam mimpi lagi?" Samuel bertanya seraya mengambil sendok, kemudian memasukkan satu suap nasi goreng ke dalam mulutnya. Untuk sesaat dia tampak menikmati nasi goreng yang dikunyahnya. Setelahnya Samuel kembali menatapku dengan mata agak sendu.

"Hm, iya." Jawabku singkat. Aku terus memakan nasi goreng di mejaku karena tidak bisa berhenti menikmati rasa gurih ketika masuk ke dalam mulutku.

"Mau gue temani ke psikiater?"

Tanganku berhenti ketika akan menyendok nasi goreng yang berada di piringku. Sejenak aku termenung karena pertanyaan Samuel seperti mempertahankan kewarasanku. Hanya sebuah mimpi aku tidak harus jauh-jauh berkunjung ke psikiater. Seperti yang kukatakan sebelumnya, jika aku pergi ke sana, maka aku sendiri sudah tidak mempercayai kewarasanku.

"Kay, bukan berarti gue bilang lo gila atau gangguan syaraf. Gue cuma khawatir lo mimpi yang sama berulang-ulang hanya karena adegan novel yang lo tulis dan itu pun nggak nyata adanya." Samuel Wijaya kembali berucap. Dia nampak khawatir padaku, apalagi dengan kesehatan mentalku.

Aku masih termenung, tidak memiliki niatan untuk menjawab. Mengetahui Samuel mengkhawatirkan aku, tentunya aku senang. Tetapi, ada rasa berat di dalam hatiku ketika aku berpikir mungkin saja semua itu terjadi karena aku memang tidak waras?

Tidak, tidak, menggelengkan kepalaku seolah memberikan jawaban tidak pada Samuel. "Gue nggak apa-apa, Sam. Habisin sarapannya biar nggak telat lagi ke kantor." Kembali mengambil sendok dan memasukkan nasi goreng itu ke dalam mulutku, namun rasanya sudah tak seperti semula lagi. Kemungkinan karena suasana hatiku berubah, oleh karena itu aku tidak dapat menikmati nasi goreng ini lagi.

Samuel menghela napas. "Terserah lo aja. Apa pun keputusan lo—gue pasti dukung."

"Thanks, Sam, lo emang sahabat terbaik gue."

Memberikan senyum seluas lautan pada Samuel—hingga ekor mataku mengkerut. Akan tetapi—entah mengapa aku melihat senyum Samuel seperti senyum masam, mungkinkah karena aku menolak untuk bertemu psikiater? Aku sudah putuskan tidak akan menemui psikiater!

"Lo makan aja sendiri Kay, gue harus buru-buru ke kantor." Samuel Wijaya melirik pada jam tangan yang melingkar pada pergelangan tangan kanannya. Kemudian dia bangkit dari duduknya ketika aku selesai memasukan nasi goreng yang kesekian sendok ke dalam mulutku.

Mulutku penuh dengan makanan sehingga aku hanya dapat mengangguk padanya.

"Nanti gue sarapan di kantor aja. Dahi tuh benarin, kusut banget kayak hidup lo, kusut!" Samuel tersenyum mengejek.

Hampir saja tersedak mendengar ucapannya, aku segera meneguk setengah gelas air putih. "Pergi sana!" usirku dengan nada kesal yang dibuat-buat.

"Dah, Kay!"

Bersambung

Tidak akan mudah untuk mengubah sesuatu yang telah diputuskan. Mendukung adalah tindakan nyata untuk menjadikannya lebih kuat. — Apple Leaf

Want to know what happens next?
Continue Reading
Previous Chapter
Next Chapter

Share the book to

  • Facebook
  • Twitter
  • Whatsapp
  • Reddit
  • Copy Link

Latest chapter

Make A Wish (Indonesia)   28. Tangan lembab yang menghentikan langkahku

Eros POV“Kamu mau minum teh hangat sebelum tidur?” Aku dengan baik hati menawarinya dan mengajaknya menginap di sini hanya sekedar basa-basi saja, tetapi dia mengiyakannya. Ada rasa lega, juga canggung setelah yang aku rasakan saat ini.Begitupun juga dengan udara yang aku rasakan malam ini cukup pengap, sehingga aku membuka jendela kamarku dan membiarkan angin menyerbu ke dalam.Dia sedang duduk di tepi ranjang dengan canggung sama canggungnya seperti aku.“Nggak usah,” jawabnya singkat.Kanya mencubit jarinya dengan kuat. Aku tahu dia sedang mencoba menghilangkan rasa gugupnya.“Jangan gugup. Aku tidak akan melakukan apa-apa padamu. Kalau begitu tidur saja. Aku juga sudah mengantuk.” Lantas aku pergi ke kamar mandi dengan tujuan menggosok gigi dan mandi sebelum aku pergi tidur. Aku menoleh pada Kanya yang masih terduduk dengan tatapan kosong, “kalau kamu ma

Make A Wish (Indonesia)   27. Mau nginap?

Eros POVMalam ini terasa lebih dingin lagi dalam kamar besar yang kuhuni sendiri. Kemarin malam ranjang ini sangat panas dari suhu tubuh Kanya. Aku menatap langit-langit putih dan berpikir kalau aku sudah gila saat ini. Menyuruh perempuan gila itu agar makan di apartemenku setiap hari dan rela memasak hanya karena aku tinggal sendirian.Alasan klise yang bisa kutemukan tanpa perlu berpikir keras dan dia mau datang setiap hari.Betapa anehnya dunia ini. Aku tidak dapat merasakan keakraban bahkan dengan orang yang sudah lama aku kenal, tetapi Kanya … dia perempuan yang baru aku temui satu hari. Namun, kami seperti mengenal satu sama lain terasa sangat lama.Apakah hanya perasaanku saja atau semua ini hanya kebetulan saja?“Hentikan Eros! Jangan gunakan waktu liburmu yang singkat hanya untuk memikirkan tetanggamu yang gila,” ujarku pada diriku sendiri.

Make A Wish (Indonesia)   26. Mimpi membunuhku?

Kanya POVSetelah menunggu sekitar 30 menit, akhirnya aku dapat menikmati masakan Eros—pria yang tidak pernah memasak untuk siapa pun sebelumnya, kecuali aku.Ih, tapi aku tidak akan merasa bangga karena hal ini. Aku mengambil beberapa sendok sayuran lagi, juga daging ayam cincang. Rasanya sangat lezat ketika mereka sampai di mulutku. Rasanya ingin makan masakan Eros setiap hari.“Tampaknya kamu sangat menikmati masakanku?”Eros bertanya sambil menatapku, dan tidak menghiraukan makanannya. Aku balas menatapnya, lalu menjawab pertanyaan pria yang sudah repot-repot memasak untukku, “Enak banget! Gue nggak nyangka masakan lo bisa seenak ini. Belajar di mana?”Eros menggeleng, “Aku tidak belajar memasak di mana pun. Sudah kukatakan kalau pekerjaanku sangat sempurna.” Dia mulai lagi berkata arogan, membuatku terbatuk dan harus meminum air disaat makanan sedang lezat-lezatnya masuk ke dalam mulutku.

Make A Wish (Indonesia)   25. Tunggu dan duduk di sana

Eros POV“Cici!”Tatapanku mengarah lurus seraya berjalan mendekat ke arah Cici—kucingku—yang aku adopsi beberapa bulan lalu. Kucing kecil dengan bulu berwarna putih keabu-abuan sedang bersandar malah di atas punggung kaki seorang perempuan yang kukenal baru kemarin.Kanya mengalihkan tatapannya dari Cici padaku. Dia nampak kaget sangat jelas dari kedua kelopak matanya yang terangkat tinggi-tinggi ketika aku memanggil nama kucing kecil.“Ini kucing lo? Kenapa … bisa ada diluar?” aku membiarkan Kanya bertanya penasaran sebelum aku menjawab.Cici sudah berada di tanganku. Aku mengelus-elus bulu lembut kucing kecil tanpa keluarga. Meskipun demikian, sekarang aku merupakan keluarganya. Cici tidak sendirian.“Bagaimana kamu bisa keluar, hum?” Ah, melihat alis Kanya yang ditekuk. Aku lupa menjawabnya dan menyapa Cici lebih dulu. Cici lebih imut daripada dia, membuat

Make A Wish (Indonesia)   24. Eros—pria tengik

Kanya POV“Ah! Capek banget.”Kubaringkan badanku di atas ranjang karena terlalu lelah setelah mengetik sebanyak 3000 kata dalam tiga jam karena aku berhati-hati dalam setiap kalimat yang aku ketik. Merangkainya sampai aku benar-benar puas akan menjadi kalimat yang membuat para pembaca terhanyut, hingga penasaran di akhir chapter nanti. Hari ini aku belum update chapter yang seharusnya sudah aku update jam 12 tadi malam. Namun, semalam aku sama sekali tidak dapat menyentuh laptop.Setelah hari yang cukup melelahkan dan mencekam bagiku. Rasa takut itu menjalar ke seluruh tubuh sampai-sampai menelusup ke nadiku.Samuel Wijaya sejak kemarin tidak menghubungiku lagi. Kemungkinan dia merasa bersalah atau bahkan sudah menganggapku gila. Apalagi jika aku beritahu tentang orang berjas hujan merah. Dia pasti akan menggelengkan kepalanya dengan intens. Lantas berbalik pergi menjauh dariku.Drrrt!

Make A Wish (Indonesia)   23. Perempuan itu lagi!

Eros POV“Dia membunuhku dalam mimpinya?” aku menggelengkan kepala tidak percaya akan perkataan Kanya padaku tadi pagi. Hanya sebuah mimpi dan dia begitu ketakutan setelah mengalaminya. Mungkinkah wajahku ketika dibunuh olehnya sangat mengerikan? Aku menjadi semakin penasaran dengan perempuan itu dan juga mimpi anehnya. Mimpi berulang yang aneh dan dia bawa ke dalam kehidupan nyata.Dari tempatku berdiri saat ini, di lantai 17. Aku dapat melihat pemandangan di luar sana; gedung-gedung pencakar langit, jalanan yang senantiasa macet dan taman-taman kecil di sela-sela gedung perkantoran. Pemandangan yang sama kulihat setiap hari tanpa bosan.“Aku masih penasaran apakah benar pria dalam mimpinya adalah aku? Lalu kenapa dia membunuhku? Kanya sama sekali tidak menjelaskan hal itu padaku, dia langsung keluar dari apartemenku setelah berkata demikian. Bahkan dia dia tidak menoleh lagi. Mungkin dia ingin melupakan kejadian tadi malam. Apakah

Make A Wish (Indonesia)   10. Kenapa nggak bisa dibuka?

Kanya POV“Kay, lo nggak apa-apa? Dia siapa?”Aku mengatur napasku ketika bertemu dengan Samuel di depan restoran, untuk saat ini aku belum bisa menjawab pertanyaan Samuel. Menggelengkan kepala menjadi hal termudah yang bisa aku lakukan sekarang ini sebagai jawab

Make A Wish (Indonesia)   9. Tentu. Aku tidak akan mati

Eros POVAku menghentikan mobilku dan melihat wanita dengan bibir merah itu mengeluarkan bulir-bulir keringat dingin dari dahinya. Dia nampak pucat karena mimpi buruk saat ini kemungkinan tengah menyapa dalam tidur singkatnya.Saat aku sibuk mengemudi, Kanya Arun

Make A Wish (Indonesia)   8. Berisik!

Kanya POVTubuhku bagaikan sebuah boneka yang dipasangi oleh puluhan tali yang digerakkan oleh pria itu. Tali-tali yang menggerakkan tubuhku tanpa sadar dapat aku lihat dan aku sudah terduduk di dalam mobil sport hitam milik Eros."Tali?" melihat seluruh tubuhku,

Make A Wish (Indonesia)   7. Nona hantu pagi-pagi, sedang apa di sini?

Kanya POVKakiku sangat lemas setelah menutup pintu apartemenku. Aku terduduk lemas di lantai, senyum kecut menghiasi bibir merahku. Ingin rasanya mengeluarkan air mata, namun cairan bening itu tidak kunjung terjun dari mataku.Yang ada saat ini hanyalah rasa tak

More Chapters
Download the Book
GoodNovel

Download the book for free

Download
Search what you want
Library
Browse
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystemFantasyLGBTQ+ArnoldMM Romancegenre22- Englishgenre26- EnglishEnglishgenre27-Englishgenre28-英语
Short Stories
SkyMystery and suspenseModern urbanDoomsday survivalAction movieScience fiction movieRomantic movieGory violenceRomanceCampusMystery/ThrillerImaginationRebirthEmotional RealismWerewolfhopedreamhappinessPeaceFriendshipSmartHappyViolentGentlePowerfulGory massacreMurderHistorical warFantasy adventureScience fictionTrain station
CreateWriter BenefitContest
Hot Genres
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystem
Contact Us
About UsHelp & SuggestionBussiness
Resources
Download AppsWriter BenefitContent policyKeywordsHot SearchesBook ReviewFanFictionFAQFAQ-IDFAQ-FILFAQ-THFAQ-JAFAQ-ARFAQ-ESFAQ-KOFAQ-DEFAQ-FRFAQ-PTGoodNovel vs Competitors
Community
Facebook Group
Follow Us
GoodNovel
Copyright ©‌ 2026 GoodNovel
Term of use|Privacy