loading
Home/ All /Make A Wish (Indonesia)/4. Siapa?

4. Siapa?

Author: Apple Leaf
"publish date: " 2020-10-27 12:07:16

Kanya POV

Setelah Samuel Wijaya keluar dari apartemenku, aku berhenti memakan sarapan. Termenung sejenak, cairan hangat jatuh dari pelupuk mata tanpa aku sadari sebabnya. Perlahan dadaku terasa sesak dan rongga dalam hatiku terasa disisi oleh sesuatu yang tidak aku ketahui.

Rindu. Seperti rasa rindu yang melelehkan darah beku dari setiap nadiku. Air mataku semakin deras dan terasa hangat, tidak dapat kutahan lagi, tangisan tersedu-sedu memenuhi apartemenku.

Aku sendiri tidak yakin darimana datangnya hujaman kerinduan ini muncul dan mengiris jantungku. Seketika wajah kesakitan Eros melintas dalam benakku, dadaku semakin sesak dan hatiku semakin tercabik. Pria itu tidak nyata dan aku sendiri telah berulang kali menikamnya dengan kejam menggunakan tanganku.

Memperhatikan tangan-tangan yang telah menikam pria itu tanpa belas kasih. Rasanya aku ingin menusuk tanganku sendiri. Menunduk karena rasa sesak di dadaku makin menjadi, layaknya sangat merindukan sesuatu yang tak ingin aku lepaskan. Tapi apa? Apakah mungkin Eros?

"Ah!" tangisanku tak berhenti meski aku telah mencoba beberapa kali menepuk kuat pada dadaku. "Sakit sekali."

Tak terasa sudah satu jam lamanya aku menangis tanpa alasan yang jelas. Nasi goreng di depanku sudah penuh dengan genangan air mata. Aku merasa sangat lelah setelah menguras air mataku. Napasku tersengal, tenggorokanku terasa kering serta mataku sudah sembab. Pengelihatanku menjadi agak buram lantaran bulir-bulir cairan hangat masih tergenang di pelupuk mataku. Masih sama seperti sebelumnya; sakit. Kelopak mataku terpejam dan tetes terakhir dari air mataku meluncur dengan mulus ke pipiku.

Kutarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan selama beberapa detik sebelum aku bangkit dan membereskan meja makan.

Aku buru-buru ke kamar mandi, hanya untuk mendapati keadaan wajahku pada cermin besar di depanku. Sosok yang nampak pada cermin merupakan diriku, riasan pada wajahku sudah terhapus oleh air mata layaknya cucuran hujan kala dunia diselubungi awan mendung tak akan berhenti hinga awan tersebut menjadi putih kembali, serta dengan sorot mata amat sayu dan sembab pada kedua kelopak mataku. 

Jemariku menyentuh pantulan mataku pada cermin. "Apakah ini gue yang nggak pernah menangis meski gue kelaparan sekalipun? Apakah ini gue yang nggak menangis meski terluka sekalipun? Apakah ini gue yang nggak akan menangis ketika sakit sekalipun? Lalu apa yang membuat gue nangis tersedu?" pertanyaan demi pertanyaan aku lontarkan pada bayangan diriku.

Kembali aku menyentuh dadaku. "Di sini rasanya sakit banget. Gue seperti merindukan sesuatu atau seseorang yang menghancurkan logika gue." Lagi-lagi aku menarik napas dalam, rasa sesak itu masih mendiami dadaku. "Sepertinya gue harus mandi lagi. Gue nggak bisa membiarkan diri gue seperti ini dan dikuasai oleh perasaan asing yang menyeruak masuk tanpa sebab apa pun."

***

Aku berendam di bak mandi selama 30 menit dan hampir ketiduran di dalam sana. Setelah menganti pakaian dan membuat secangkir kopi agar mataku tetap terjaga, aku membawa secangkir kopi hitam ke dalam kamarku.

Bagaimanapun juga aku harus melanjutkan aktivitasku seperti biasanya. Telah aku putuskan untuk membuat sinopsis novel ketiga, walaupun novel keduaku masih on going. Aku ingin memperbanyak karyaku serta menambah penghasilanku tentunya.

Merasa agak lebih tenang setelah menyesap kopi hitam di tanganku dan mencium baunya seperti relaksasi kembali. "Hm, kopi hitam memang teman yang paling baik." Senyumku sudah kembali mekar dan rasa sesak yang aku rasakan tadi telah memudar secara perlahan.

Meletakkan cangkir tersebut di atas nakas aku mengambil ponsel dan mencari platform menulis yang mana aku meng-upload naskahku di sana. "Berapa jumlah views hari ini?" sejenak aku menutup mulutku dengan telapak tanganku ketika memperhatikan jumlah views harian. "Wow, lumayan juga padahal bukan adegan itu. Kalau adegan itu mungkin lebih wow lagi. Karena baru gue update semalam besok pasti lebih banyak dari ini."

Terlalu senang aku meraih cangkir kopi dan menyesapnya seperti meneguk air dingin. "Ahk—" kuletakan kembali cangkir keramik itu di atas nakas, "Ah! Panas banget." Mengambil beberapa lembar tisu lantas menyeka bibirku. Aku sempat berpikir, mungkinkah hari ini merupakan hari buruk bagiku?

Mengambil laptop yang sengaja aku bawa kemari setelah menghidupkannya sebelum mengambil ponselku. Jari-jemariku mulai mengetik setiap rangkaian paragraf dari chapter selanjutnya. Tak dapat berhenti ketika jemariku telah menari di atas keyboard berwarna putih di atas tempat tidur.

Tokoh dalam novel keduaku bernama Eros Darwin—sebagai karakter utama yang memiliki kepribadian ganda. Aku sengaja memberikan nama Eros Darwin pada sebagai karakter psikopat dalam novel ini, setidaknya dia tetap hidup di dunia fiksi.

"Eros." Bisikku ketika jemariku mengetik nama Eros di dalam paragraf-paragraf pada layar datar itu. "Kenapa dingin banget?" kusentuh punggung leherku lantaran merasakan sesuatu yang dingin melintas di sana, lantas memalingkan wajahku spontan ke arah balkon yang terbuka. 

"Pantas aja dingin—" aku memotong ucapanku sendiri. "Siapa yang buka pintu balkon?" 

sempat mengerutkan kening beberapa saat karena aku tidak pernah membuka pintu balkon atau mungkin aku lupa pernah membukanya? Aku menggeleng menepis pikiran-pikiran aneh yang agaknya sebentar lagi akan menyusup ke dalam pikiranku.

Aku bergerak cepat melesat ke arah pintu balkon dan menutup pintu tersebut. Namun anehnya sensasi dingin tetap menyapa area tengkukku. Spontan aku menengok ke belakang dan tidak mendapati siapa pun. "Haha," aku terkekeh garing, "masih pagi, masih pagi, Kanya. Mikir apa, sih?" hari ini cuaca cukup dingin jadi aku menutup pintu balkon agar udara dingin tidak masuk ke dalam kamarku.

Berlari ke arah ranjangku sembari memicingkan mata, menengok ke kanan dan ke kiri. "Ini kan apartemen gue, ngapain gue pakai acara takut segala? Ada-ada aja." Ucapku menenangkan diri.

Jemariku kembali mengetik setelah terganggu untuk beberapa saat, ide dalam kepalaku tidak hilang sama sekali. Rangkaian paragraf baru mulai tertuang. Aku terlalu fokus melihat layar yang dipenuhi barisan-barisan paragraf baru sampai aku menyentuh tengkukku dan merasakan sesuatu yang dingin menempel di sana.

Memalingkan wajahku ke kiri, tetap saja tidak ada siapa pun. Aku melihat pada tanganku sendiri tidak terjadi apa pun. "Siapa?" dahiku berkerut karena setelah melepaskan tanganku dari tengkuk, area itu kembali terasa dingin.

Layaknya sebuah tangan dingin mengelus tengkukku, aku menelan ludah dalam-dalam dan kembali berseru, "Siapa?!" mencoba memjamkan mataku dan merasakan hawa dingin itu masih berada di tengkukku. Dingin bagaikan bongkahan es. Aku sudah tidak tahan lagi karena takut, aku bergerak cepat sampai harus terjungkal dari ranjang. "Siapa!" aku berteriak seraya berlari menuju pintu dan segera keluar dari kamarku.

Bersambung

Jika sesuatu yang tak kuketahui membuat air mata di pelupuk terjatuh, apa yang harus aku lakukan untuk mencari tahu? — Apple Leaf

Want to know what happens next?
Continue Reading
Previous Chapter
Next Chapter

Share the book to

  • Facebook
  • Twitter
  • Whatsapp
  • Reddit
  • Copy Link

Latest chapter

Make A Wish (Indonesia)   28. Tangan lembab yang menghentikan langkahku

Eros POV“Kamu mau minum teh hangat sebelum tidur?” Aku dengan baik hati menawarinya dan mengajaknya menginap di sini hanya sekedar basa-basi saja, tetapi dia mengiyakannya. Ada rasa lega, juga canggung setelah yang aku rasakan saat ini.Begitupun juga dengan udara yang aku rasakan malam ini cukup pengap, sehingga aku membuka jendela kamarku dan membiarkan angin menyerbu ke dalam.Dia sedang duduk di tepi ranjang dengan canggung sama canggungnya seperti aku.“Nggak usah,” jawabnya singkat.Kanya mencubit jarinya dengan kuat. Aku tahu dia sedang mencoba menghilangkan rasa gugupnya.“Jangan gugup. Aku tidak akan melakukan apa-apa padamu. Kalau begitu tidur saja. Aku juga sudah mengantuk.” Lantas aku pergi ke kamar mandi dengan tujuan menggosok gigi dan mandi sebelum aku pergi tidur. Aku menoleh pada Kanya yang masih terduduk dengan tatapan kosong, “kalau kamu ma

Make A Wish (Indonesia)   27. Mau nginap?

Eros POVMalam ini terasa lebih dingin lagi dalam kamar besar yang kuhuni sendiri. Kemarin malam ranjang ini sangat panas dari suhu tubuh Kanya. Aku menatap langit-langit putih dan berpikir kalau aku sudah gila saat ini. Menyuruh perempuan gila itu agar makan di apartemenku setiap hari dan rela memasak hanya karena aku tinggal sendirian.Alasan klise yang bisa kutemukan tanpa perlu berpikir keras dan dia mau datang setiap hari.Betapa anehnya dunia ini. Aku tidak dapat merasakan keakraban bahkan dengan orang yang sudah lama aku kenal, tetapi Kanya … dia perempuan yang baru aku temui satu hari. Namun, kami seperti mengenal satu sama lain terasa sangat lama.Apakah hanya perasaanku saja atau semua ini hanya kebetulan saja?“Hentikan Eros! Jangan gunakan waktu liburmu yang singkat hanya untuk memikirkan tetanggamu yang gila,” ujarku pada diriku sendiri.

Make A Wish (Indonesia)   26. Mimpi membunuhku?

Kanya POVSetelah menunggu sekitar 30 menit, akhirnya aku dapat menikmati masakan Eros—pria yang tidak pernah memasak untuk siapa pun sebelumnya, kecuali aku.Ih, tapi aku tidak akan merasa bangga karena hal ini. Aku mengambil beberapa sendok sayuran lagi, juga daging ayam cincang. Rasanya sangat lezat ketika mereka sampai di mulutku. Rasanya ingin makan masakan Eros setiap hari.“Tampaknya kamu sangat menikmati masakanku?”Eros bertanya sambil menatapku, dan tidak menghiraukan makanannya. Aku balas menatapnya, lalu menjawab pertanyaan pria yang sudah repot-repot memasak untukku, “Enak banget! Gue nggak nyangka masakan lo bisa seenak ini. Belajar di mana?”Eros menggeleng, “Aku tidak belajar memasak di mana pun. Sudah kukatakan kalau pekerjaanku sangat sempurna.” Dia mulai lagi berkata arogan, membuatku terbatuk dan harus meminum air disaat makanan sedang lezat-lezatnya masuk ke dalam mulutku.

Make A Wish (Indonesia)   25. Tunggu dan duduk di sana

Eros POV“Cici!”Tatapanku mengarah lurus seraya berjalan mendekat ke arah Cici—kucingku—yang aku adopsi beberapa bulan lalu. Kucing kecil dengan bulu berwarna putih keabu-abuan sedang bersandar malah di atas punggung kaki seorang perempuan yang kukenal baru kemarin.Kanya mengalihkan tatapannya dari Cici padaku. Dia nampak kaget sangat jelas dari kedua kelopak matanya yang terangkat tinggi-tinggi ketika aku memanggil nama kucing kecil.“Ini kucing lo? Kenapa … bisa ada diluar?” aku membiarkan Kanya bertanya penasaran sebelum aku menjawab.Cici sudah berada di tanganku. Aku mengelus-elus bulu lembut kucing kecil tanpa keluarga. Meskipun demikian, sekarang aku merupakan keluarganya. Cici tidak sendirian.“Bagaimana kamu bisa keluar, hum?” Ah, melihat alis Kanya yang ditekuk. Aku lupa menjawabnya dan menyapa Cici lebih dulu. Cici lebih imut daripada dia, membuat

Make A Wish (Indonesia)   24. Eros—pria tengik

Kanya POV“Ah! Capek banget.”Kubaringkan badanku di atas ranjang karena terlalu lelah setelah mengetik sebanyak 3000 kata dalam tiga jam karena aku berhati-hati dalam setiap kalimat yang aku ketik. Merangkainya sampai aku benar-benar puas akan menjadi kalimat yang membuat para pembaca terhanyut, hingga penasaran di akhir chapter nanti. Hari ini aku belum update chapter yang seharusnya sudah aku update jam 12 tadi malam. Namun, semalam aku sama sekali tidak dapat menyentuh laptop.Setelah hari yang cukup melelahkan dan mencekam bagiku. Rasa takut itu menjalar ke seluruh tubuh sampai-sampai menelusup ke nadiku.Samuel Wijaya sejak kemarin tidak menghubungiku lagi. Kemungkinan dia merasa bersalah atau bahkan sudah menganggapku gila. Apalagi jika aku beritahu tentang orang berjas hujan merah. Dia pasti akan menggelengkan kepalanya dengan intens. Lantas berbalik pergi menjauh dariku.Drrrt!

Make A Wish (Indonesia)   23. Perempuan itu lagi!

Eros POV“Dia membunuhku dalam mimpinya?” aku menggelengkan kepala tidak percaya akan perkataan Kanya padaku tadi pagi. Hanya sebuah mimpi dan dia begitu ketakutan setelah mengalaminya. Mungkinkah wajahku ketika dibunuh olehnya sangat mengerikan? Aku menjadi semakin penasaran dengan perempuan itu dan juga mimpi anehnya. Mimpi berulang yang aneh dan dia bawa ke dalam kehidupan nyata.Dari tempatku berdiri saat ini, di lantai 17. Aku dapat melihat pemandangan di luar sana; gedung-gedung pencakar langit, jalanan yang senantiasa macet dan taman-taman kecil di sela-sela gedung perkantoran. Pemandangan yang sama kulihat setiap hari tanpa bosan.“Aku masih penasaran apakah benar pria dalam mimpinya adalah aku? Lalu kenapa dia membunuhku? Kanya sama sekali tidak menjelaskan hal itu padaku, dia langsung keluar dari apartemenku setelah berkata demikian. Bahkan dia dia tidak menoleh lagi. Mungkin dia ingin melupakan kejadian tadi malam. Apakah

Make A Wish (Indonesia)   16. Jangan menyesal

Eros POVPekatnya malam di luar sana, juga dinginnya udara yang masuk menelusup melalui pintu balkon yang terbuka melambaikan tirai putih sedikit demi sedikit. Dinginnya angin tersebut tak membuat kamar apartemenku menjadi sejuk.Suhu hangat dari kedua badan yang

Make A Wish (Indonesia)   15. Coba lihat dirimu sekarang

Eros POVMembulatkan mata tak percaya dengan apa yang terjadi saat ini. Aku seperti pria yang tak berdaya di bawah paksaan kedua tangan Kanya yang memeluk erat leherku. Kanya memaksa mendaratkan bibirnya pada bibirku tanpa aba-aba, seketikan membuat tubuhku mematung. Aku bahkan t

Make A Wish (Indonesia)   14. Tidak tertarik

Kanya POVTuhan!Aku memekik dalam hati setelah memberi jarak antara wajahku dan wajah Eros. Mataku membulat masih tak percaya bahwa aku berada di dalam kamar mandi bersama seorang pria dengan keadaan pakaian dilucuti, dan pria itu adalah pria tidak jelas antara manusia atau makhluk h

Make A Wish (Indonesia)   13. Haus, mau air

Eros POVDasar gila! Itulah yang bisa aku katakan pada Kanya yang berteriak histeris setelah melihatku di dalam lift. Apakah aku begitu menyeramkan sehingga dia pingsan?Aku rela menggendongnya ala bridal karena dia tak kunjung sadar dari pingsannya. Kurasa dia t

More Chapters
Download the Book
GoodNovel

Download the book for free

Download
Search what you want
Library
Browse
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystemFantasyLGBTQ+ArnoldMM Romancegenre22- Englishgenre26- EnglishEnglishgenre27-Englishgenre28-英语
Short Stories
SkyMystery and suspenseModern urbanDoomsday survivalAction movieScience fiction movieRomantic movieGory violenceRomanceCampusMystery/ThrillerImaginationRebirthEmotional RealismWerewolfhopedreamhappinessPeaceFriendshipSmartHappyViolentGentlePowerfulGory massacreMurderHistorical warFantasy adventureScience fictionTrain station
CreateWriter BenefitContest
Hot Genres
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystem
Contact Us
About UsHelp & SuggestionBussiness
Resources
Download AppsWriter BenefitContent policyKeywordsHot SearchesBook ReviewFanFictionFAQFAQ-IDFAQ-FILFAQ-THFAQ-JAFAQ-ARFAQ-ESFAQ-KOFAQ-DEFAQ-FRFAQ-PTGoodNovel vs Competitors
Community
Facebook Group
Follow Us
GoodNovel
Copyright ©‌ 2026 GoodNovel
Term of use|Privacy