loading
Home/ All /Make A Wish (Indonesia)/2. Nggak mungkin

2. Nggak mungkin

Author: Apple Leaf
"publish date: " 2020-10-27 12:04:59

Kanya POV

"Ah!!!" aku berteriak sekencang mungkin ketika kabut merah sepekat darah yang mengalir dari dada Eros—menyelubungi selsuruh gudang tempat aku menikam pria itu. Mataku terbuka dan napasku tersengal-sengal seperti telah berlari puluhan meter jauhnya, serta keringat dingin membasahi seluruh badanku, untungnya aku tidak mengompol karena ketakutan. 

Akan sangat memalukan bagi perempuan seusiaku, ketakutan karena mendapatkan mimpi buruk sampai mengompol. Membayangkan saja rasanya lebih mengerikan daripada menikam dada Eros dengan belati.

Aku mencoba menegakkan tubuhku. Kepalaku amat berat dan sakit seolah dipukul dengan pentungan. Membenahi pernapasanku agar lebih santai lantas aku bersandar.

"Mimpi itu lagi, berulang kali tetap sama dengan ending yang sama pula." Gumamku pelan. "Hah," menghela napas lemah itu yang dapat aku lakukan untuk saat ini ketika napasku sudah mulai membaik, tidak tersengal seperti beberapa saat lalu.

Kuperhatikan kesepuluh jemari tangan yang mengetik naskah dengan part pembunuhan di dalamnya, juga tangan yang telah menikam dada pria bernama Eros. Mereka masih tetap sama lurus tanpa ada lecet sedikitpun.

Tenggorokanku terasa kering karena berteriak bukan hanya dalam mimpi saja, namun aku benar-benar berteriak dalam tidurku. Tanganku mengambil gelas yang sudah terisi air di atas nakas. Tetapi, aku segera menghentikan pergerakan tanganku ketika mencapai gelas di atas nakas tersebut.

Aneh! Aku menarik kembali tanganku.

"Tunggu sebentar. Bukannya gue ketiduran di meja belajar? Setelah gue matiin laptop dan semuanya sudah gelap. Kenapa gue bisa ada di tempat tidur?" aku spontan mengambil gelas di atas nakas. Lantas meneguk air tersebut dengan tergesa-gesa.

Satu gelas penuh air pada gelas itu telah masuk ke dalam tenggorokanku dengan sekali teguk. Aku gemetar karena kebingungan juga rasa takut. Apakah aku berjalan sambil tidur tadi malam sehingga aku berada di ranjang, bahkan lengkap dengan selimut yang menutupi tubuhku? Ini gila! Tidak cukup dengan mimpi buruk berulang, sekarang ... hal aneh seperti ini pun terjadi.

"Apa Sam balik lagi buat pindahin gue ke kamar? Nggak mungkin dia balik lagi karena udah malam banget. Terus siapa?"

Aku memijat pelipisku karena rasa sakit kepalaku makin menjadi ketika wajah pria yang aku tikam semalam singgah dalam pikiranku. Setiap kali mimpi ini datang seperti melahapku hidup-hidup, aku takut akan menjadi gila hanya karena sebuah mimpi.

Pernah aku ingin menemui psikiater. Namun aku mengurungkan niatku karena aku rasa tidak terlalu penting dan aku bisa mengatasinya. Sampai sekarang aku masih bisa mengatasi hal yang disebut mimpi buruk ini, meskipun demikian rasa sakit kepalaku bagaikan nadi-nadi dalam otakku pecah. Sakit sekali.

"Eros." Seketika nama pria dalam mimpiku terlontar begitu saja dari mulutku. "Nggak mungkin dia! Dia nggak nyata!" aku segera menepis pikiran konyol tersebut.

Tidak mungkin Eros membawaku ke tempat tidur, lalu masuk ke dalam mimpiku, 'kan? "Hahaha, ada-ada saja." Sembari terkekeh canggung, aku bangkit dari ranjang, masih dengan kepala terasa berat. Melangkah sempoyongan menuju ke kamar mandi layaknya orang mabuk, selalu seperti ini dan membuatku terbiasa akan hal ini.

Aku masuk ke kamar mandi dan melihat pantulan diriku pada cermin. Rambut lurus acak-acakan, kantung mata hitam dan wajah kusam seperti kurang tidur. Ya, memang aku kurang tidur berkat mimpi aneh yang tak kunjung berakhir.

"Sampai kapan gue harus begini?"

Tanganku masih gemetar ketika mengambil sikat gigi, kemudian membubuhkan pasta gigi di atasnya. Aku mulai menggosok gigi dan menelisik kesalahan apa yang pernah aku buat hingga didatangi oleh pria tampan, meskipun harus mati di tanganku. 

Kepalaku terasa berat dan kelopak mataku hampir jatuh, rasa sakitnya membuatku ingin tidur kembali. Beruntung aku sudah terbiasa dengan semua ini dan tidak lagi muntah seperti dulu.

"Salah gue apa coba? Mimpinya terasa nyata banget, gagal paham gue. Apa gue harus ke psikiater, ya?" menghela napas berat. Jika aku sampai pergi ke psikiater, maka aku akan meragukan kesehatan mentalku. Aku sendiri masih bisa menulis dengan tenang dan memakai logikaku. Mungkinkah jika aku tidak menulis lagi, mimpi itu tidak akan pernah datang lagi? Ataukah aku harus beralih haluan dan menulis novel dengan genre lain?

****

45 menit kemudian, setelah melakukan relaksasi di bak mandi. Aku sudah merasa agak tenang dari pagi yang mencekam. Kepalaku masih agak berat, tapi badanku terasa segar berkat busa-busa yang aku siapkan sebelum mandi.

Seperti biasanya aku mengenakan busana kasual karena aku hanya akan tinggal di dalam apartemen saja. Setelah memutuskan untuk tinggal sendiri dan menyewa apartemen ini, sudah 1 tahun lamanya. Sementara orang tuaku berada di kampung.

Aku pergi ke kota dengan tujuan mencari pekerjaan, nyatanya mencari pekerjaan sangatlah susah, apalagi untukku yang hanya lulusan SMA. Harapanku pada waktu itu sangat tinggi karena bosan berada di kampung dan hanya bertemu dengan orang-orang yang sama setiap hari.

Kupikir setelah aku pergi ke kota, mendapatkan pekerjaan, aku akan bertemu dengan teman-teman baru. Berbagai perusahaan sudah aku datangi, tidak ada satu pun yang melirik CVku. Hingga aku menemukan sebuah aplikasi membaca yang mengubah hidupku sekarang ini.

Dalam platform tersebut mengadakan sebuah lomba menulis. Aku hanya mencoba-coba menyalurkan ide-ide dalam kepala saat aku merasa bosan ketika menunggu panggilan kerja. Tiga bulan menunggu sambil menaruh CV ke berbagai perusahaan masih tidak membuahkan hasil.

Sebenarnya aku tidak pernah membayangkan tulisanku akan memenangkan lomba itu dan menjadi pohon uangku sekarang. Selama satu tahun aku menggarap novel pertama dan memiliki hingga ratusan chapter. Dalam sehari jumlah pembaca di setiap chapter sudah melebihi gaji yang diberikan oleh platform tersebut, dan saat ini novel keduaku juga sedang booming seperti novel sebelumnya, meskipun baru memiliki 11 chapter.

Setelah bermimpi buruk samalaman, perutku terasa lapar dan harus segera mendapatkan asupan pagi.

"Masak apa, ya, hari ini? Gue malas banget."

Membuka pintu kulkas dengan malas, hanya untuk menemukan tiga butir telur di dalamnya. Apalagi yang lebih memuakkan daripada pagi ini?

"But why?" gerutuku kesal. "Nasib, tiga butir telur buat satu hari? Nggak ada daging pula, nih, gara-gara Sam. Dia makan semua isi kulkas gue semalam. Pekerja kantoran malah numpang makan di rumah orang."

"Siapa yang lo bilang numpang makan?"

Tanpa aku sadari, Samuel Wijaya telah berdiri di pintu masuk sambil menutup pintu tersebut. Aku lupa bahwa dia bisa masuk ke apartemenku seenak jidatnya. Harusnya kuganti saja kata sandinya agar dia tidak bisa masuk ketika aku sedang membicarakan dirinya.

"Lo bikin kaget aja, mentang-mentang gue kasih password apartemen gue. Lo nggak bisa juga seenaknya main masuk gitu aja, Sam." Dengan memasang muka tebal aku sengaja mengalihkan pembicaraan agar dia lupa aku telah menggerutu di belakang punggungnya.

"Oke, gue keluar."

"Eh?"

Samuel Wijaya sungguh-sungguh keluar dari apartemenku, tapi sesaat kemudian bel berbunyi dan suara Samuel terdengar dari luar memintaku untuk membukakan pintu.

Dengan terpaksa aku membuka pintu dan melotot pada pria itu. "Sam, but why?"

Bersambung

Aku mencari sesuatu yang sepertinya hilang dari pandanganku. — Apple Leaf

Want to know what happens next?
Continue Reading
Previous Chapter
Next Chapter

Share the book to

  • Facebook
  • Twitter
  • Whatsapp
  • Reddit
  • Copy Link

Latest chapter

Make A Wish (Indonesia)   28. Tangan lembab yang menghentikan langkahku

Eros POV“Kamu mau minum teh hangat sebelum tidur?” Aku dengan baik hati menawarinya dan mengajaknya menginap di sini hanya sekedar basa-basi saja, tetapi dia mengiyakannya. Ada rasa lega, juga canggung setelah yang aku rasakan saat ini.Begitupun juga dengan udara yang aku rasakan malam ini cukup pengap, sehingga aku membuka jendela kamarku dan membiarkan angin menyerbu ke dalam.Dia sedang duduk di tepi ranjang dengan canggung sama canggungnya seperti aku.“Nggak usah,” jawabnya singkat.Kanya mencubit jarinya dengan kuat. Aku tahu dia sedang mencoba menghilangkan rasa gugupnya.“Jangan gugup. Aku tidak akan melakukan apa-apa padamu. Kalau begitu tidur saja. Aku juga sudah mengantuk.” Lantas aku pergi ke kamar mandi dengan tujuan menggosok gigi dan mandi sebelum aku pergi tidur. Aku menoleh pada Kanya yang masih terduduk dengan tatapan kosong, “kalau kamu ma

Make A Wish (Indonesia)   27. Mau nginap?

Eros POVMalam ini terasa lebih dingin lagi dalam kamar besar yang kuhuni sendiri. Kemarin malam ranjang ini sangat panas dari suhu tubuh Kanya. Aku menatap langit-langit putih dan berpikir kalau aku sudah gila saat ini. Menyuruh perempuan gila itu agar makan di apartemenku setiap hari dan rela memasak hanya karena aku tinggal sendirian.Alasan klise yang bisa kutemukan tanpa perlu berpikir keras dan dia mau datang setiap hari.Betapa anehnya dunia ini. Aku tidak dapat merasakan keakraban bahkan dengan orang yang sudah lama aku kenal, tetapi Kanya … dia perempuan yang baru aku temui satu hari. Namun, kami seperti mengenal satu sama lain terasa sangat lama.Apakah hanya perasaanku saja atau semua ini hanya kebetulan saja?“Hentikan Eros! Jangan gunakan waktu liburmu yang singkat hanya untuk memikirkan tetanggamu yang gila,” ujarku pada diriku sendiri.

Make A Wish (Indonesia)   26. Mimpi membunuhku?

Kanya POVSetelah menunggu sekitar 30 menit, akhirnya aku dapat menikmati masakan Eros—pria yang tidak pernah memasak untuk siapa pun sebelumnya, kecuali aku.Ih, tapi aku tidak akan merasa bangga karena hal ini. Aku mengambil beberapa sendok sayuran lagi, juga daging ayam cincang. Rasanya sangat lezat ketika mereka sampai di mulutku. Rasanya ingin makan masakan Eros setiap hari.“Tampaknya kamu sangat menikmati masakanku?”Eros bertanya sambil menatapku, dan tidak menghiraukan makanannya. Aku balas menatapnya, lalu menjawab pertanyaan pria yang sudah repot-repot memasak untukku, “Enak banget! Gue nggak nyangka masakan lo bisa seenak ini. Belajar di mana?”Eros menggeleng, “Aku tidak belajar memasak di mana pun. Sudah kukatakan kalau pekerjaanku sangat sempurna.” Dia mulai lagi berkata arogan, membuatku terbatuk dan harus meminum air disaat makanan sedang lezat-lezatnya masuk ke dalam mulutku.

Make A Wish (Indonesia)   25. Tunggu dan duduk di sana

Eros POV“Cici!”Tatapanku mengarah lurus seraya berjalan mendekat ke arah Cici—kucingku—yang aku adopsi beberapa bulan lalu. Kucing kecil dengan bulu berwarna putih keabu-abuan sedang bersandar malah di atas punggung kaki seorang perempuan yang kukenal baru kemarin.Kanya mengalihkan tatapannya dari Cici padaku. Dia nampak kaget sangat jelas dari kedua kelopak matanya yang terangkat tinggi-tinggi ketika aku memanggil nama kucing kecil.“Ini kucing lo? Kenapa … bisa ada diluar?” aku membiarkan Kanya bertanya penasaran sebelum aku menjawab.Cici sudah berada di tanganku. Aku mengelus-elus bulu lembut kucing kecil tanpa keluarga. Meskipun demikian, sekarang aku merupakan keluarganya. Cici tidak sendirian.“Bagaimana kamu bisa keluar, hum?” Ah, melihat alis Kanya yang ditekuk. Aku lupa menjawabnya dan menyapa Cici lebih dulu. Cici lebih imut daripada dia, membuat

Make A Wish (Indonesia)   24. Eros—pria tengik

Kanya POV“Ah! Capek banget.”Kubaringkan badanku di atas ranjang karena terlalu lelah setelah mengetik sebanyak 3000 kata dalam tiga jam karena aku berhati-hati dalam setiap kalimat yang aku ketik. Merangkainya sampai aku benar-benar puas akan menjadi kalimat yang membuat para pembaca terhanyut, hingga penasaran di akhir chapter nanti. Hari ini aku belum update chapter yang seharusnya sudah aku update jam 12 tadi malam. Namun, semalam aku sama sekali tidak dapat menyentuh laptop.Setelah hari yang cukup melelahkan dan mencekam bagiku. Rasa takut itu menjalar ke seluruh tubuh sampai-sampai menelusup ke nadiku.Samuel Wijaya sejak kemarin tidak menghubungiku lagi. Kemungkinan dia merasa bersalah atau bahkan sudah menganggapku gila. Apalagi jika aku beritahu tentang orang berjas hujan merah. Dia pasti akan menggelengkan kepalanya dengan intens. Lantas berbalik pergi menjauh dariku.Drrrt!

Make A Wish (Indonesia)   23. Perempuan itu lagi!

Eros POV“Dia membunuhku dalam mimpinya?” aku menggelengkan kepala tidak percaya akan perkataan Kanya padaku tadi pagi. Hanya sebuah mimpi dan dia begitu ketakutan setelah mengalaminya. Mungkinkah wajahku ketika dibunuh olehnya sangat mengerikan? Aku menjadi semakin penasaran dengan perempuan itu dan juga mimpi anehnya. Mimpi berulang yang aneh dan dia bawa ke dalam kehidupan nyata.Dari tempatku berdiri saat ini, di lantai 17. Aku dapat melihat pemandangan di luar sana; gedung-gedung pencakar langit, jalanan yang senantiasa macet dan taman-taman kecil di sela-sela gedung perkantoran. Pemandangan yang sama kulihat setiap hari tanpa bosan.“Aku masih penasaran apakah benar pria dalam mimpinya adalah aku? Lalu kenapa dia membunuhku? Kanya sama sekali tidak menjelaskan hal itu padaku, dia langsung keluar dari apartemenku setelah berkata demikian. Bahkan dia dia tidak menoleh lagi. Mungkin dia ingin melupakan kejadian tadi malam. Apakah

Make A Wish (Indonesia)   18. Aku di sini

Kanya POVPunggungku seketika membeku layaknya dihujam oleh ketajaman es batu. Suara itu datang dari belakang, serta hembusan angin membelai rambutku dari arah suara tersebut.Napasku masih sesak terasa sebuah tekanan kuat menghimpit paru-paruku, tidak membiarkan

Make A Wish (Indonesia)   17. Dasar pria brengsek!

Kanya POVSakit!Remuk!Semua tulang-tulangku terasa telah dipotong-potong dengan pisau tajam. Kelopak mataku bergerak-gerak, memaksa untuk terbuka karena rasa nyeri menjalar di seluruh tubuhku saat ini.Ketika netraku telah terb

Make A Wish (Indonesia)   16. Jangan menyesal

Eros POVPekatnya malam di luar sana, juga dinginnya udara yang masuk menelusup melalui pintu balkon yang terbuka melambaikan tirai putih sedikit demi sedikit. Dinginnya angin tersebut tak membuat kamar apartemenku menjadi sejuk.Suhu hangat dari kedua badan yang

Make A Wish (Indonesia)   15. Coba lihat dirimu sekarang

Eros POVMembulatkan mata tak percaya dengan apa yang terjadi saat ini. Aku seperti pria yang tak berdaya di bawah paksaan kedua tangan Kanya yang memeluk erat leherku. Kanya memaksa mendaratkan bibirnya pada bibirku tanpa aba-aba, seketikan membuat tubuhku mematung. Aku bahkan t

More Chapters
Download the Book
GoodNovel

Download the book for free

Download
Search what you want
Library
Browse
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystemFantasyLGBTQ+ArnoldMM Romancegenre22- Englishgenre26- EnglishEnglishgenre27-Englishgenre28-英语
Short Stories
SkyMystery and suspenseModern urbanDoomsday survivalAction movieScience fiction movieRomantic movieGory violenceRomanceCampusMystery/ThrillerImaginationRebirthEmotional RealismWerewolfhopedreamhappinessPeaceFriendshipSmartHappyViolentGentlePowerfulGory massacreMurderHistorical warFantasy adventureScience fictionTrain station
CreateWriter BenefitContest
Hot Genres
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystem
Contact Us
About UsHelp & SuggestionBussiness
Resources
Download AppsWriter BenefitContent policyKeywordsHot SearchesBook ReviewFanFictionFAQFAQ-IDFAQ-FILFAQ-THFAQ-JAFAQ-ARFAQ-ESFAQ-KOFAQ-DEFAQ-FRFAQ-PTGoodNovel vs Competitors
Community
Facebook Group
Follow Us
GoodNovel
Copyright ©‌ 2026 GoodNovel
Term of use|Privacy