loading
Home/ All /Kisah Cinta Ludwina & Andrea/Bab 15 - Biaya Roaming Yang Mahal

Bab 15 - Biaya Roaming Yang Mahal

Author: Josephine VDW
"publish date: " 2020-08-26 15:15:41

Andrea sebenarnya tidak terlalu ingin pindah ke Singapura. Tetapi tawaran pekerjaan di perusahaan IT ini sangat menarik baginya. Ia bisa bereksperimen dengan banyak platform dan mengembangkan berbagai perangkat keamanan digital yang sangat disukainya.

Kesempatan seperti itu tidak ada di Indonesia. Ia juga memilih Singapura karena letaknya yang masih dekat dan ia bisa pulang seminggu sekali untuk menjenguk ibunya jika perlu.

Wawancara terakhirnya dengan user yang akan menjadi manajernya, berlangsung sangat akrab. Keduanya langsung cocok membahas berbagai trend cyber security yang sedang ada.

Joe adalah salah satu dari sedikit orang yang memegang sertifikasi keamanan CISSP, ISSAP, ISSMP, dan CSSLP dan ia menginspirasi Andrea untuk mengikuti jejaknya. Ia memuji Andrea sebagai genius dan berhasil meyakinkannya untuk segera mulai bekerja dan pindah ke Singapura secepatnya.

Employment Pass Andrea segera diurus Perusahaan dan ia menerima konfirmasi tepat seminggu kemudian.

Andrea diberi fasilitas hotel selama dua minggu oleh perusahaan begitu ia tiba di Singapura, agar ia dapat mencari apartemen. Sebagai laki-laki yang simpel dan tidak banyak memiliki barang, ia datang hanya membawa sebuah koper.

Nanti begitu menemukan tempat tinggal yang disukainya, ia tinggal pindah dari hotel ke apartemen baru. Gaji yang diberikan untuk jabatannya lumayan dan Andrea bisa memilih tempat tinggal untuknya sendiri.

Beberapa rekan kerjanya dari Indonesia memilih menghemat biaya akomodasi dengan menyewa apartemen bersama-sama dan menabung sebagian besar gaji mereka, tetapi Andrea adalah seorang penyendiri yang menganggap privasinya lebih penting daripada menabung. 

Di hari keduanya di Singapura, Andrea memutuskan untuk mulai mencari apartemen yang sesuai. Kepalanya langsung pusing melihat begitu banyak iklan dan pilihan di berbagai portal property. Bosnya menyarankannya untuk menggunakan jasa agen, tetapi tetap saja ada terlalu banyak pilihan agen yang membuatnya masih pusing.

Ia hampir melempar ponselnya ke tempat tidur karena sebal ketika tiba-tiba terlihat ada panggilan masuk di layar, dari Ludwina.

Buru-buru Andrea menangkap kembali ponselnya dan memencet tombol terima panggilan. Ia berhasil mendarat di atas tempat tidur dengan ponsel di tangan, dan ia segera menenangkan nafasnya yang memburu karena adrenalin akibat gerakan olahraganya yang tak terduga barusan.

"Hei.. Selamat sore, Wina. Apa kabar?"

Dalam hati ia memuji dirinya sendiri yang berhasil bicara dengan suara yang terdengar normal. Sebulan terakhir ia sering sekali membayangkan wajah gadis itu dan berkali-kali ia hampir tergoda untuk meneleponnya. Sayangnya Andrea tak punya alasan untuk menghubunginya karena Ludwina sudah "sembuh".

Andrea tidak pintar mengarang alasan. Tidak seperti Ludwina dengan kaki terkilirnya.

"Kabar baik..." terdengar suara renyah Ludwina di ujung sana. "Kakiku sudah sembuh sempurna dan sekarang malah sudah bisa jogging, kalau aku mau jogging.. Haha."

"Good to hear."

"Aku juga sudah bisa nonton ke bioskop lagi. Ada banyak film bagus yang ingin kutonton."

"That's good. I'm happy for you."

"Uhmm..kamu sedang sibuk apa?"

Andrea melihat ke komputernya dan mendesah. "Sedang cari apartemen. Aku nggak bakat melakukan yang beginian."

"Cari apartemen di mana? Kamu mau pindah rumah?" tanya Ludwina keheranan.

"Singapura. Aku sudah diterima kerja di sini dan baru pindah kemarin. Sekarang masih tinggal di hotel dan sedang mencari tempat tinggal. Terlalu banyak pilihan, aku nggak tahu mesti mulai dari mana."

"Oh..."

Selama dua menit tidak terdengar suara Ludwina. Rupanya ia masih shock mendengar kabar kepindahan Andrea yang tidak terduga dan tidak dapat menemukan kata-kata yang tepat. Andrea menunggu dengan sabar sampai gadis itu bersuara lagi.

"Kamu sudah pindah ke Singapura..." akhirnya terdengar suara Ludwina pelan. "Kantormu di daerah mana?"

"Di Financial District," jawab Andrea. "Daerah Marina".

"Oh... Kamu mau tinggal di HDB atau apartemen atau kondominium?"

"Apa bedanya?"

Saat mendengarkan penjelasan Ludwina tentang perbedaan ketiga jenis hunian tersebut, tiba-tiba Andrea sadar Ludwina menelepon ke nomor prabayar Indonesianya. Ia belum sempat mampir ke Singtel untuk mengurus nomor telepon lokal.

Andrea tidak tahu tinggal berapa sisa pulsa yang ada di nomor Simpatinya, tetapi ia tidak akan membiarkan telepon itu putus tiba-tiba. Ia cepat-cepat membuka i-banking dan mengisi pulsa sambil mendengarkan Ludwina bicara.

"OK, aku sih nggak masalah tinggal di HDB atau apartemen. Yang penting tempatnya nyaman." kata Andrea akhirnya mengambil kesimpulan.

"Tapi kamu suka olahraga atau tidak? HDB tidak ada fasilitas gym dan kolam renang. Orang kayak kamu mungkin lebih nyaman kalau berolahraga di fasilitas dalam gedung apartemen, daripada harus ke sports center di luar. Kamu kan nggak suka rame-rame."

Dalam hati Andrea merasa tersentuh karena ternyata Ludwina cukup mengerti dirinya, Ia memang tidak suka keramaian.

"Kamu benar. Kalau begitu aku cari apartemen saja, bikin beberapa must-have item list dan kasih ke agen biar mereka yang sortir pilihan dan aku cukup lihat maksimal 3 unit." katanya kemudian.

"Yup. Kamu kan sibuk, jangan buang waktu nyari sendiri."

"Kamu kok tahu banyak tentang Singapura? Pernah tinggal di sini?"

"Hehehe...nggak sih. Dulu aku sama Ibu pasti ke Singapura setiap weekend, untuk belanja. Sampai bosan ke Singapura terus. Aku sudah puasa ke Singapura 2 tahun. Lebih enak traveling ke negara lain," jawab Ludwina. "Rumah kami di Singapura dijual karena aku sudah nggak pernah ke sana."

"Oh...." harapan Andrea yang tadinya mengira bisa bertemu Ludwina di Singapura menjadi sirna begitu mendengar gadis itu tidak berminat datang ke sana.

Seketika itu juga pikirannya menjadi jernih. Ia ingat bahwa seharusnya ia tidak berpikir macam-macam tentang Ludwina, apalagi berharap bisa menjadi kekasihnya. Hidup mereka bagaikan bumi dan langit. Gadis itu terlahir di keluarga kaya raya dan seumur hidupnya tidak pernah mengalami kesulitan dalam hidup.

"Rumah kamu di Singapura dulu di daerah mana?" tanya Andrea sambil lalu.

"Di daerah Beach Road. Di situ tidak terlalu ramai tetapi dekat ke berbagai tempat penting. Menurutku sangat strategis." jawab Ludwina. "Wah, ngomong-ngomong, selamat atas pekerjaan baru kamu ya. Semoga kamu suka tinggal di Singapura. Di sana enaknya nggak perlu naik mobil kemana-mana, karena transportasi umum bagus, ada MRT dan bus yang reliable. Nggak macet juga. Mau jalan kaki juga enak, karena trotoarnya lebar dan mulus, cuma panasnya saja yang bikin nggak tahan."

Andrea kemudian ingat ucapan Adelina beberapa tahun lalu. Sesudah mereka lulus kuliah, Adel ingin Andrea dan dirinya pindah ke luar negeri karena di negara maju orang kaya dan miskin tidak terlalu kelihatan bedanya. Semua orang bisa naik transportasi umum karena mobil tidak terlalu diperlukan.

"Terima kasih. Kurasa aku akan suka tinggal di sini." kata Andrea kemudian.

"OK.. well, I guess... good luck!"

"Thank you, Ludwina."

Saat menutup telepon Andrea menghela nafas dan memandang keluar jendela hotelnya mencoba mengira-ngira ada di sebelah manakah area Beach Road.

Di Jakarta, Ludwina juga menutup telepon dengan wajah sedih. Ia lalu duduk di sofa dalam kamarnya sambil mengingat-ingat sesuatu. Kemudian ia terhenyak dan membekap mulutnya. Ia baru sadar bahwa barusan nomor Andrea yang ia hubungi pasti dalam keadaan roaming. Astaga....

Pasti panggilan telepon tadi mahal sekali...

Seketika Ludwina merasa malu karena sama sekali tidak memikirkan kondisi lawan bicaranya. Ia sadar bahwa selama ini ia terbiasa hanya memikirkan diri sendiri.

"Astaga... apa sebaiknya aku transfer uang untuk mengganti biaya roaming tadi ya?" pikirnya bingung. Setelah beberapa lama, ia memutuskan bahwa menawarkan uang untuk membayar biaya telepon barusan justru akan memperburuk situasi.

Ludwina merasa sangat kesal kepada dirinya sendiri.

***

Want to know what happens next?
Continue Reading
Previous Chapter
Next Chapter

Share the book to

  • Facebook
  • Twitter
  • Whatsapp
  • Reddit
  • Copy Link

Latest chapter

Kisah Cinta Ludwina & Andrea   Bab 58 - Akhirnya Bahagia

"Aku sayang banget sama kamu, Andrea," bisik Ludwina ke telinga Andrea, "Aku ingin menghabiskan setiap hari mencintaimu."Andrea membantu Ludwina membuka pakaiannya dan dengan sangat hati-hati mencumbu istrinya. Ia sungguh merindukan tubuh Ludwina dan bercinta dengannya. Ia selalu menahan diri setelah mereka berkumpul bersama karena takut membuat Ludwina sakit, tetapi hari ini istrinya yang berinisiatif untuk bercinta dan ia tidak akan mengecewakannya.Mereka bercinta dengan sangat lembut dan menikmati setiap detik kebersamaan itu, jauh lebih syahdu dari biasanya, karena mereka tahu setiap detik mereka bersama adalah sangat berharga.Andrea sangat lega melihat rona wajah kemerah-merahan Ludwina yang diliputi rasa bahagia saat mereka tidur malam itu. Ia berharap dapat membekukan momen itu selamanya.***Bu Inggrid, Pak Kurniawan dan Johann kaget setengah mati ketika akhirnya Andrea memberi tahu mereka tentang penyakit Ludwina. Atas permintaan istrin

Kisah Cinta Ludwina & Andrea   Bab 57 - Ludwina Ingin Sembuh

Mereka tiba di coffee shop langganan mereka dan barulah Andrea meletakkan Ludwina di kursi. Ia memesan kopi favorit keduanya lalu duduk di samping Ludwina sambil menggenggam tangannya. Ia tak mau melepaskan gadis itu sama sekali. Takkan pernah lagi!"Kamu mau berapa lama di New York?" tanyanya saat mereka sedang menikmati kopinya. "Aku mesti beli baju banyak kalau kita akan lama di sini.""Aku nggak tahu..." jawab Ludwina. "Aku mesti ketemu dokterku untuk konsultasi lagi besok.""Oke, aku ikut ya." kata Andrea cepat.Ludwina mengangguk.Mereka tidak membahas penyakit Ludwina sampai keduanya tiba di hotel. Andrea merasa lebih baik jika ia mendengar langsung dari dokter. Ia tak ingin membuat istrinya stress dengan berbagai pertanyaannya.Setelah memastikan Ludwina beristirahat, Andrea pergi ke toko terdekat dan membeli pakaian. Ia menolak ditemani karena tidak ingin Ludwina menjadi kelelahan. Setelah kembali ke hotel ia memesan makanan dan mer

Kisah Cinta Ludwina & Andrea   Bab 56 - Pertemuan Di Central Park

Karena Ludwina tidak mengangkat ponselnya, Andrea akhirnya menghubungi Johann untuk mencari tahu keberadaan istrinya. Dari Johann ia mengetahui bahwa Ludwina sudah berangkat ke New York. Andrea segera memesan penerbangan ke sana tetapi kemudian ia sadar bahwa visa Amerika yang ada di paspornya baru saja kedaluwarsa.Ia ingat 5 tahun lalu mengajukan visa Amerika karena berniat traveling ke sana bersama Ludwina tetapi mereka malah menikah di Bali dan baru berangkat setahun kemudian. Visa yang diperolehnya valid untuk 5 tahun dan baru berakhir minggu ini.Sungguh mematahkan hati. Ketika akhirnya ia mengetahui apa yang terjadi dengan Ludwina, Andrea tak bisa segera menyusulnya.Andrea buru-buru pulang ke Inggris dan mengajukan visa Amerika lewat kedutaan Amerika Serikat di London. Ia sangat gelisah dan tidak bisa tidur sambil menunggu visanya diproses. Ia berusaha mengalihkan pikirannya dari Ludwina dengan bekerja, tetapi tidak berhasil."Joe, aku perlu bicar

Kisah Cinta Ludwina & Andrea   Bab 55 - Andrea Ke Singapura

Sebenarnya Ludwina patah hati saat meninggalkan Andrea di pantai. Ia tak pernah melihat suaminya menangis sebelumnya dan hatinya tercabik-cabik saat ia harus menampilkan wajah dingin dan pergi meninggalkannya begitu saja.Ini demi kebaikan Andrea, berkali-kali ia meyakinkan dirinya sendiri.Ludwina segera meminta concierge memesankan taksi untuknya dan kembali ke Hotel Kanawa. Setibanya di sana ia segera masuk ke kamar dan mengurung diri. Tubuhnya merasa sangat lelah dan ia tak mampu bertemu siapa pun. Telepon dari Mbak Ria, editornya, pun harus ia tolak. Ia hanya mengirim SMS bahwa ia akan datang ke sesinya di UWRF besok dan hari ini ia ingin beristirahat dengan tanpa gangguan.***Andrea sebenarnya tergoda untuk datang ke UWRF dan melihat Ludwina lagi. Tetapi setiap mengingat betapa gadis itu masih belum memaafkannya, Andrea merasa sakit dan mengurungkan niatnya. Sepanjang hari ia hanya mencoba menghilangkan ke

Kisah Cinta Ludwina & Andrea   Bab 54 - Pertemuan Dan Perpisahan Di Bali

Ludwina yang tiba di Hotel Hilton keesokan harinya mengira guest relation officer yang menemuinya juga mengenalinya sama seperti beberapa penggemar yang ia temui di Central Park. Ia mengikuti saja ketika staf itu membawanya ke kamar cantik menghadap laut yang ditinggali Andrea.Ia sebenarnya sudah check in di Hotel Kanawa milik ayahnya, sehingga ke Hilton hanya dengan membawa tas tangannya. Ia ingat bahwa hari ini adalah ulang tahun pernikahannya dengan Andrea. Mungkin ia akan menerima untuk makan malam bersama Andrea terakhir kalinya sebelum meminta dokumen perceraian itu dari suaminya dan mengakhiri pernikahan mereka.Ia melihat bunga dan prosecco dengan pita merah di kamar itu. Hatinya seketika terasa sakit, ia masih ingat dengan jelas malam itu ketika Andrea melamarnya. Ia melihat dua kemeja Andrea yang dibelikannya sebelum suaminya itu berangkat ke London dan pertahanannya runtuh.Ludwina kembali menangis untuk kesekian kalinya. Tadinya ia sudah mampu bersi

Kisah Cinta Ludwina & Andrea   Bab 53 - Ludwina Mampir Ke London

Suasana menjadi syahdu dengan hujan rintik-rintik di luar jendela. Andrea lalu mengeluarkan sebotol wine dan dua gelas serta segelas jus untuk Ronan. Ia menuangkan wine untuk dirinya dan Adelina. Ia menyerahkan gelas berisi wine kepada gadis itu. Adelina menerimanya dengan sepassang mata masih berkaca-kaca."Sore-sore begini pas sekali untuk minum wine. Lumayan bisa membuat suasana hati menjadi lebih baik." Andrea mendentingkan gelasnya ke gelas Adelina dan meneguk wine-nya. "Minumlah... biar kau merasa baikan."Adelina mengangguk dan menyesap wine-nya. Wajahnya yang suram perlahan-lahan tampak mulai cerah."Wine makes adulting bearable (Wine membuat orang dewasa bisa bertahan hidup)." katanya dengan senyum mulai menghiasi wajahnya. Keduanya tertawa kecil. Andrea mengangguk juga, membenarkan."Aku tahu kamu perempuan kuat, tapi kalau kamu merasa sedang sedih dan ingin berbagi, tempatku dan segelas wine selalu siap menunggu," kata Andrea kemu

Kisah Cinta Ludwina & Andrea   Bab 48 - Kedatangan Adelina Dan Ronan

Andrea sangat terkejut ketika ia mendarat di Heathrow, London dan mencoba menelepon Ludwina, tetapi panggilannya sama sekali tidak diangkat oleh istrinya itu. Ia mencoba lagi ketika tiba di hotel, dan tetap tidak diangkat.Ia mengirim banyak SMS dan email tetapi tidak satu pun yang dibalas

Kisah Cinta Ludwina & Andrea   Bab 47 - Andrea Ke London

Andrea mengajukan resign dari perusahaannya sekarang dan segera mengurus proses untuk masuk ke perusahaan baru yang didirikan Joe. Dalam waktu dua minggu semuanya siap dan mereka tinggal memilih tanggal keberangkatan.Ia tidak pernah menyangka, setelah semua prosesnya ha

Kisah Cinta Ludwina & Andrea   Bab 46 - Perpisahan Tiga Bulan

Ludwina hanya beralasan saat ia bilang ingin menenangkan diri dengan berbelanja. Sebenarnya ia kembali ke rumah sakit untuk mendapatkan pendapat kedua. Dokter onkologi kedua yang ditemuinya mengonfirmasi temuan Dr. Chou dan mereka memintanya untuk segera melakukan perawatan kemoterapi agar penyeb

Kisah Cinta Ludwina & Andrea   Bab 45 - Permintaan Ludwina

Kabar yang diterimanya hari ini sungguh mematahkan hati. Ludwina menangis terisak-isak di lobi rumah sakit selama setengah jam hingga air matanya kering. Ia tak tahu apa yang harus dilakukannya, berita yang diterimanya dari kedua dokternya tadi sangat mengejutkan.Setelah air matanya kerin

More Chapters
Download the Book
GoodNovel

Download the book for free

Download
Search what you want
Library
Browse
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystemFantasyLGBTQ+ArnoldMM Romancegenre22- Englishgenre26- EnglishEnglishgenre27-Englishgenre28-英语
Short Stories
SkyMystery and suspenseModern urbanDoomsday survivalAction movieScience fiction movieRomantic movieGory violenceRomanceCampusMystery/ThrillerImaginationRebirthEmotional RealismWerewolfhopedreamhappinessPeaceFriendshipSmartHappyViolentGentlePowerfulGory massacreMurderHistorical warFantasy adventureScience fictionTrain station
CreateWriter BenefitContest
Hot Genres
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystem
Contact Us
About UsHelp & SuggestionBussiness
Resources
Download AppsWriter BenefitContent policyKeywordsHot SearchesBook ReviewFanFictionFAQFAQ-IDFAQ-FILFAQ-THFAQ-JAFAQ-ARFAQ-ESFAQ-KOFAQ-DEFAQ-FRFAQ-PTGoodNovel vs Competitors
Community
Facebook Group
Follow Us
GoodNovel
Copyright ©‌ 2026 GoodNovel
Term of use|Privacy