Buch kostenlos herunterladen
Bab 16 - Inspirasi Itu Adanya... Di Sini
Josephine VDWAndrea tidak punya akun di media sosial mana pun. Ia tahu betapa perusahaan-perusahaan teknologi menyimpan data para penggunanya untuk kepentingan bisnis dan ia tidak rela privasinya dilanggar oleh Facebook, Twitter, LinkedIn, Google, dan lain-lain.
Tetapi ia bersyukur atas keberadaan para raksasa internet itu karena ia bisa mengikuti berita tentang Ludwina kalau ia sedang memikirkan gadis itu.Ludwina itu sering sekali berpindah tempat, Andrea sampai hampir kesulitan mengikuti jejaknya. Minggu ini ia di Kyoto, dan berikutnya sudah ke Xian, lanjut ke Hong Kong, kemudian mampir di Melbourne.Selama enam bulan Andrea mengikuti foto-fotonya di Instagram, hanya New York yang dikunjungi gadis itu dua kali. Sepertinya kota itu memang memiliki tempat istimewa di hatinya.Ah, Andrea ingat, Ludwina memang dulu kuliah di Columbia University. Tentu ia punya teman-teman semasa kuliah di New York, dibandingkan dengan kota lain di dunia yang hanya dikunjunginya saat traveling.Sayang sekali Ludwina tidak suka berkunjung ke Singapura...Andrea akan senang jika berjumpa dengannya di sini.Pikiran Andrea melayang sedikit saat melihat foto Ludwina di Central Park sedang berpose dengan sebuah buku. Di sebelahnya ada seorang pemuda kulit putih berambut ikal panjang yang tampak tersenyum akrab.Ia bertanya dalam hati apa kira-kira hubungan pemuda itu dengan Ludwina. Mungkin teman kuliahnya?"Hi, Andre... Nanti malam ikut gathering kantor?" Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu ruangannya dan muncul Lucia dari balik pintu. Lucia adalah office manager yang cantik dan dari awal Andrea masuk kerja selalu bersikap manis kepadanya."Ah, tidak bisa, aku pulang ke Jakarta menjenguk ibuku," jawab Andrea sambil tersenyum. "Aku sudah sebulan tidak pulang.""Oh, too bad. Hopefully next time?"Andrea hanya tersenyum, tidak menjanjikan apa-apa.Selama enam bulan bekerja di Singapura, Andrea selalu menyempatkan diri untuk pulang ke Jakarta setiap dua minggu. Ibunya hanya tinggal sendiri di Jakarta bersama kedua anjing mereka dan ia mengerti pasti ibunya kesepian setelah ia pindah keluar negeri.Biasanya ia akan mengambil penerbangan Jumat malam setelah jam kerja dan menghabiskan akhir pekan di rumah ibunya, memasak bersama sambil ngobrol atau membantu ibunya berkebun di taman kecil di rumah mereka. Hari senin subuh ia akan terbang kembali ke Singapura dan langsung ke kantornya dari bandara Changi.Sebulanan ini ia tidak pulang karena sedang fokus menyelesaikan pengujian sistem cyber security untuk klien VIP baru perusahaan, karenanya begitu proyek itu selesai ia segera memesan tiket dan pulang ke Jakarta. Dengan hanya membawa ransel, ia pun berangkat ke bandara.Begitu mendarat di Sukarno Hatta, Andrea baru ingat bahwa ia tidak memiliki uang rupiah di dompetnya untuk naik taksi. Akhirnya ia naik ke lantai 2 dulu untuk mencari ATM di area keberangkatan.Setelah menarik uang yang cukup, ia pun bergegas menuju lift untuk turun ke lantai dasar dan mencari taksi untuk pulang. Saat pintu otomatis terbuka dan ia hampir keluar terminal... tiba-tiba langkahnya terhenti.Gadis berambut panjang dan pipi berbintik-bintik yang ada di balik pintu otomatis yang barusan terbuka itu juga menghentikan langkahnya....Mereka berdua saling menatap dengan pandangan tidak percaya."Eh... kamu dari mana?""Dari Singapura, mau pulang ke tempat Ibu. Kamu mau ke mana?""Mau ke Inggris..."Tanpa dikomando sepasang senyum muncul di wajah keduanya secara bersamaan."Wahh...sudah lama sekali ya, berapa bulan?" tanya Ludwina dengan suara penuh semangat, "Sudah berapa lama kita nggak ketemu?""Uhm... 7 bulan lebih beberapa hari," jawab Andrea, masih tersenyum. Ia tak percaya keberuntungannya malam ini. Untung di dompetnya tadi tidak ada rupiah sehingga ia terpaksa naik ke terminal keberangkatan untuk mencari ATM dan secara kebetulan bisa bertemu Ludwina yang sedang akan berangkat ke Inggris."Bagaimana kabarmu di Singapura? Suka tinggal di sana?""It's OK. Kotanya bersih, rapi, semuanya teratur," jawab Andrea. Ia menunjuk kedua koper Ludwina di troli, "Berapa lama di Inggris?""Sebenarnya aku mau tinggal sebulan di Edinburgh, makanya bawaannya banyak." Ludwina tertawa kecil."Oh, aku pikir kamu masih di New York. Ternyata sudah di Indonesia dan sekarang malah mau ke Skotlandia," kata Andrea keheranan. Memang susah sekali mengikuti jejak Ludwina ini. Fotonya di Instagram yang dilihat Andrea tadi siang diambil di Central Park."Oh, aku sudah pulang dari New York minggu lalu. Sekarang aku mau menapak tilas kehidupan JK Rowling selama di Skotlandia, untuk mencari inspirasi menulis. Aku akan mengunjungi kedai kopi tempatnya biasa duduk menulis berjam-jam, melintasi jalan-jalan dan mendatangi tempat yang ia datangi..."Andrea ingat bahwa selama enam bulan ini ia mengikuti pergerakan Ludwina berpindah dari satu kota ke kota lainnya di dunia dengan begitu ringan.Ia bisa memperkirakan berapa besar uang yang harus dikeluarkan untuk membiayai gaya hidupnya yang mahal itu. Ternyata semua perjalanannya semata demi mencari inspirasi menulis. Betapa mahalnya inspirasi itu!Sungguh beruntungnya Ludwina karena orangtuanya yang demikian kaya mampu memberikan apa saja yang ia inginkan. Gadis itu tak pernah mengalami kesulitan hidup sama sekali.Andrea tanpa sadar menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar penjelasan Ludwina."Kamu nggak bakat menjadi penulis novel. Kamu terlalu bahagia," katanya kemudian dengan pandangan kasihan. Ia tidak bermaksud tega, tetapi menurutnya Ludwina perlu mendengar kebenaran ini agar ia berhenti mencari inspirasi di tempat-tempat yang tidak semestinya, dan berhenti membuang waktu di jalan."Kok...kamu ngomong gitu?" tanya Ludwina dengan suara pelan, tetapi ia tidak tersinggung.Andrea menghela nafas panjang."Kamu nggak bisa menulis dengan kreatif karena kamu nggak pernah susah. Semua seniman besar menghasilkan karya-karya terbaik bahkan genius mereka saat mereka miskin, atau kesusahan, atau depresi. Lihat saja musisi Sting misalnya, sekarang dia bahagia dan nggak pernah menghasilkan mahakarya apa pun lagi. Karya-karya legendaris Van Gogh dihasilkan saat ia depresi.Kamu ini sama sekali nggak pernah hidup susah, hidupmu terlindungi bubble tidak kasat mata yang menghindarkan kamu dari kesedihan, rasa kesal harus menunggu, diperlakukan orang dengan tidak baik, rasa takut karena nggak tahu harus makan apa besok, dan lain-lain, karena buat kamu semuanya ada, semuanya indah, semuanya terjamin.Kamu nggak akan ngerti bagaimana perasaan orang yang sedih karena ditolak cinta, atau perasaan orang yang putus asa karena tidak punya tujuan... Kamu hanya bisa menulis tentang hotel mewah di Paris, wisata gondola di Venice, daun-daun berguguran di Central Park...." Ia mengambil brosur tentang Scotlandia yang ada di tangan Ludwina yang masih terpana mendengar kata-katanya. "Tentang kastil di Scotlandia...Kalau kamu traveling keliling dunia, kamu hanya melihat kulit luar kehidupan. Sementara kamu kalau mau menulis novel, harus mencari inspirasi tentang manusia dan hati serta jiwa mereka."Ludwina terpana mendengar kata-kata Andrea."Kemana pun kamu pergi, yang kamu cari nggak akan ketemu. Inspirasi itu adanya... di sini." Andrea memegang tangan Ludwina yang tadi memegang brosur dan menaruhnya di dadanya.Mereka saling menatap selama beberapa lama, hingga akhirnya deheman dari penumpang di belakang Ludwina yang ingin masuk lewat pintu otomatis seketika membuyarkan kebisuan di antara keduanya."Te...terima kasih. Aku mengerti maksudmu. Aku berangkat dulu."Ludwina buru-buru menarik tangannya dari pegangan Andrea dan mendorong trolinya masuk ke dalam terminal.Wajahnya terasa panas dan ia tidak berani menoleh ke belakang. Andrea mengangguk. Ia menoleh ke arah Ludwina pergi dan baru beranjak setelah gadis itu hilang dari pandangan.Tadinya ia bermaksud mengatakan bahwa inspirasi itu adanya di hati Ludwina sendiri, tetapi saat menyentuh tangan Ludwina, ia sadar bahwa tidak sopan kalau ia menaruh tangan gadis itu di dada Ludwina untuk menjelaskan maksudnya, maka ia menariknya ke dadanya sendiri. Sekarang ia hanya bisa berharap Ludwina mengerti maksudnya tadi....Ah, pasti mengerti. Ludwina kan pintar.Buch teilen mit
Facebook
Twitter
Whatsapp
Reddit
Copy Link
Aktuellstes Kapitel
Kisah Cinta Ludwina & Andrea Bab 58 - Akhirnya Bahagia
"Aku sayang banget sama kamu, Andrea," bisik Ludwina ke telinga Andrea, "Aku ingin menghabiskan setiap hari mencintaimu."Andrea membantu Ludwina membuka pakaiannya dan dengan sangat hati-hati mencumbu istrinya. Ia sungguh merindukan tubuh Ludwina dan bercinta dengannya. Ia selalu menahan diri setelah mereka berkumpul bersama karena takut membuat Ludwina sakit, tetapi hari ini istrinya yang berinisiatif untuk bercinta dan ia tidak akan mengecewakannya.Mereka bercinta dengan sangat lembut dan menikmati setiap detik kebersamaan itu, jauh lebih syahdu dari biasanya, karena mereka tahu setiap detik mereka bersama adalah sangat berharga.Andrea sangat lega melihat rona wajah kemerah-merahan Ludwina yang diliputi rasa bahagia saat mereka tidur malam itu. Ia berharap dapat membekukan momen itu selamanya.***Bu Inggrid, Pak Kurniawan dan Johann kaget setengah mati ketika akhirnya Andrea memberi tahu mereka tentang penyakit Ludwina. Atas permintaan istrin
Kisah Cinta Ludwina & Andrea Bab 57 - Ludwina Ingin Sembuh
Mereka tiba di coffee shop langganan mereka dan barulah Andrea meletakkan Ludwina di kursi. Ia memesan kopi favorit keduanya lalu duduk di samping Ludwina sambil menggenggam tangannya. Ia tak mau melepaskan gadis itu sama sekali. Takkan pernah lagi!"Kamu mau berapa lama di New York?" tanyanya saat mereka sedang menikmati kopinya. "Aku mesti beli baju banyak kalau kita akan lama di sini.""Aku nggak tahu..." jawab Ludwina. "Aku mesti ketemu dokterku untuk konsultasi lagi besok.""Oke, aku ikut ya." kata Andrea cepat.Ludwina mengangguk.Mereka tidak membahas penyakit Ludwina sampai keduanya tiba di hotel. Andrea merasa lebih baik jika ia mendengar langsung dari dokter. Ia tak ingin membuat istrinya stress dengan berbagai pertanyaannya.Setelah memastikan Ludwina beristirahat, Andrea pergi ke toko terdekat dan membeli pakaian. Ia menolak ditemani karena tidak ingin Ludwina menjadi kelelahan. Setelah kembali ke hotel ia memesan makanan dan mer
Kisah Cinta Ludwina & Andrea Bab 56 - Pertemuan Di Central Park
Karena Ludwina tidak mengangkat ponselnya, Andrea akhirnya menghubungi Johann untuk mencari tahu keberadaan istrinya. Dari Johann ia mengetahui bahwa Ludwina sudah berangkat ke New York. Andrea segera memesan penerbangan ke sana tetapi kemudian ia sadar bahwa visa Amerika yang ada di paspornya baru saja kedaluwarsa.Ia ingat 5 tahun lalu mengajukan visa Amerika karena berniat traveling ke sana bersama Ludwina tetapi mereka malah menikah di Bali dan baru berangkat setahun kemudian. Visa yang diperolehnya valid untuk 5 tahun dan baru berakhir minggu ini.Sungguh mematahkan hati. Ketika akhirnya ia mengetahui apa yang terjadi dengan Ludwina, Andrea tak bisa segera menyusulnya.Andrea buru-buru pulang ke Inggris dan mengajukan visa Amerika lewat kedutaan Amerika Serikat di London. Ia sangat gelisah dan tidak bisa tidur sambil menunggu visanya diproses. Ia berusaha mengalihkan pikirannya dari Ludwina dengan bekerja, tetapi tidak berhasil."Joe, aku perlu bicar
Kisah Cinta Ludwina & Andrea Bab 55 - Andrea Ke Singapura
Sebenarnya Ludwina patah hati saat meninggalkan Andrea di pantai. Ia tak pernah melihat suaminya menangis sebelumnya dan hatinya tercabik-cabik saat ia harus menampilkan wajah dingin dan pergi meninggalkannya begitu saja.Ini demi kebaikan Andrea, berkali-kali ia meyakinkan dirinya sendiri.Ludwina segera meminta concierge memesankan taksi untuknya dan kembali ke Hotel Kanawa. Setibanya di sana ia segera masuk ke kamar dan mengurung diri. Tubuhnya merasa sangat lelah dan ia tak mampu bertemu siapa pun. Telepon dari Mbak Ria, editornya, pun harus ia tolak. Ia hanya mengirim SMS bahwa ia akan datang ke sesinya di UWRF besok dan hari ini ia ingin beristirahat dengan tanpa gangguan.***Andrea sebenarnya tergoda untuk datang ke UWRF dan melihat Ludwina lagi. Tetapi setiap mengingat betapa gadis itu masih belum memaafkannya, Andrea merasa sakit dan mengurungkan niatnya. Sepanjang hari ia hanya mencoba menghilangkan ke
Kisah Cinta Ludwina & Andrea Bab 54 - Pertemuan Dan Perpisahan Di Bali
Ludwina yang tiba di Hotel Hilton keesokan harinya mengira guest relation officer yang menemuinya juga mengenalinya sama seperti beberapa penggemar yang ia temui di Central Park. Ia mengikuti saja ketika staf itu membawanya ke kamar cantik menghadap laut yang ditinggali Andrea.Ia sebenarnya sudah check in di Hotel Kanawa milik ayahnya, sehingga ke Hilton hanya dengan membawa tas tangannya. Ia ingat bahwa hari ini adalah ulang tahun pernikahannya dengan Andrea. Mungkin ia akan menerima untuk makan malam bersama Andrea terakhir kalinya sebelum meminta dokumen perceraian itu dari suaminya dan mengakhiri pernikahan mereka.Ia melihat bunga dan prosecco dengan pita merah di kamar itu. Hatinya seketika terasa sakit, ia masih ingat dengan jelas malam itu ketika Andrea melamarnya. Ia melihat dua kemeja Andrea yang dibelikannya sebelum suaminya itu berangkat ke London dan pertahanannya runtuh.Ludwina kembali menangis untuk kesekian kalinya. Tadinya ia sudah mampu bersi
Kisah Cinta Ludwina & Andrea Bab 53 - Ludwina Mampir Ke London
Suasana menjadi syahdu dengan hujan rintik-rintik di luar jendela. Andrea lalu mengeluarkan sebotol wine dan dua gelas serta segelas jus untuk Ronan. Ia menuangkan wine untuk dirinya dan Adelina. Ia menyerahkan gelas berisi wine kepada gadis itu. Adelina menerimanya dengan sepassang mata masih berkaca-kaca."Sore-sore begini pas sekali untuk minum wine. Lumayan bisa membuat suasana hati menjadi lebih baik." Andrea mendentingkan gelasnya ke gelas Adelina dan meneguk wine-nya. "Minumlah... biar kau merasa baikan."Adelina mengangguk dan menyesap wine-nya. Wajahnya yang suram perlahan-lahan tampak mulai cerah."Wine makes adulting bearable (Wine membuat orang dewasa bisa bertahan hidup)." katanya dengan senyum mulai menghiasi wajahnya. Keduanya tertawa kecil. Andrea mengangguk juga, membenarkan."Aku tahu kamu perempuan kuat, tapi kalau kamu merasa sedang sedih dan ingin berbagi, tempatku dan segelas wine selalu siap menunggu," kata Andrea kemu
Kisah Cinta Ludwina & Andrea Bab 36 - Ludwina, Aku Cinta Kamu!
Andrea tahu toleransi alkoholnya rendah, dan ia bukan seorang lelaki yang banyak minum wine. Tetapi malam ini adalah malam istimewa, dan ia membutuhkan tambahan keberanian karena...Ia ingin melamar Ludwina.Pemuda itu meneguk prosecco-nya sedikit, "Aku tetap minum untuk menemani ka
Kisah Cinta Ludwina & Andrea Bab 35 - Makan Malam Bersama Andrea
Ludwina mendarat di Bandara Changi tepat pukul 7 malam. Begitu melewati custom ia melihat Andrea telah menunggunya di pintu keluar, melambaikan tangan. Keduanya saling berpelukan dan cium pipi lalu Andrea membawakan koper Ludwina ke arah tempat parkir. Gadis itu mengikuti dengan bingung."
Kisah Cinta Ludwina & Andrea Bab 34 - Misi Tambahan Ludwina
Andrea menjadi sangat kuatir dan ia buru-buru ke Raffles Hotel untuk mengecek keadaan gadis itu."Miss Ludwina Kurniawan sudah check out tadi pagi," kata resepsionis setelah Andrea meminta dihubungkan ke kamar Ludwina."Oh..." Andrea sangat terkejut mendengarnya. Ia tidak menyangka
Kisah Cinta Ludwina & Andrea Bab 33 - Kembali Ke Singapura
Tiga hari di Italia berlalu seperti mimpi. Andrea dan Ludwina menikmati kunjungan mereka ke Roma, Firenze (yang juga dikenal sebagai Florence) dan Sienna. Semuanya menampilkan pesona kota tua dari ratusan tahun lalu yang membuat mereka seperti masuk ke dalam mesin waktu.Akhirnya saat yang
