Buch kostenlos herunterladen
Bab 14 - Kehabisan Alasan
Josephine VDWTiga hari kemudian Andrea mendapat SMS dari Ludwina. Saat itu ia sedang mengerjakan coding sebuah program software keamanan digital baru. Ia berhenti sejenak untuk membaca isi pesannya.
[Fisioterapi pertama besok sore di RSCM. Kamu jemput aku ya.]
Ia tersenyum simpul dan mengangguk. Andrea tak bisa melanjutkan pekerjaannya. Pikirannya melayang pada gadis imut yang sempat membikin heboh bandara tiga hari lalu.
Ia tahu pasti, saat memegang tumit Ludwina bahwa terkilirnya tidak parah. Sekarang seharusnya sudah sembuh sama sekali. Tetapi dia tetap berkeras minta ditemani fisioterapi, pasti hanya alasan untuk bertemu Andrea. Mengingat ini Andrea tersenyum semakin lebar.
Baik, mari kita lihat sampai berapa lama kamu bisa berpura-pura terkilir... pikirnya gemas.
***
Andrea mengantar Ludwina fisioterapi setiap hari Sabtu ke RSCM. Setiap kali mereka datang pandangan para terapis yang aneh sama sekali tidak mengganggu Ludwina yang cuek. Andrea yang sangat yakin Ludwina tidak benar-benar terkilir menikmati sandiwara gadis itu dengan hati geli.
Wajahnya setengah mati berusaha dibuat serius saat menggendong Ludwina turun dari mobil ke ruangan terapi. Saat gadis itu dibantu terapis untuk "melatih" kakinya, Andrea akan duduk di sudut ruangan sambil membaca buku.
Sesekali ia akan melirik dari balik bukunya dan melihat Ludwina yang kepayahan mengikuti arahan terapis. Senyum Andrea yang dikulum sambil membaca bukunya membuatnya tampak semakin tampan dan Ludwina tidak pernah bisa konsentrasi pada terapinya.
Selesai fisioterapi Andrea akan kembali menggendongnya ke mobil dan menanyakan kemajuannya.
"Kakiku masih sakit.." keluh Ludwina, "Ugh, menyebalkan. Aku jadi nggak bisa ngapa-ngapain. Padahal aku kan mau nonton film The Great Gatsby.. Sudah dari lama aku tunggu-tunggu filmnya tayang. Bulan depan pasti sudah nggak diputar di bioskop."
Andrea tidak tahu harus berbuat apa. Ia menduga-duga Ludwina sedang mencari alasan agar ia mengantarnya ke bioskop.
Sebenarnya dengan senang hati ia ingin menemani Ludwina ke bioskop, bahkan tanpa harus pura-pura terkilir segala. Tetapi ia masih ingat pengalamannya dulu saat pacaran dengan Adelina yang berakhir dengan patah hati.
Ia tidak ingin mengambil risiko terluka sekali lagi bila jatuh cinta dengan anak orang kaya.
"Kita makan es krim saja ya.." kata Andrea kemudian seolah tidak mendengar keluhan Ludwina. Ia berlari ke minimarket terdekat dan membeli dua es krim magnum. Satu untuk Ludwina, dan satu untuknya.
Ludwina memakan es kirimnya dengan tampang cemberut. "Ugh.. Padahal filmnya bagus banget...hiks..."
Mereka pulang ke rumah Ludwina tanpa bicara apa-apa. Demikianlah sabtu berikutnya Andrea kembali mengantar Ludwina fisioterapi untuk kedua, dan ketiga kalinya. Ludwina sudah berhenti mengeluhkan tentang film Great Gatsby yang tidak bisa ditontonnya karena kakinya yang "sakit".
Ia tahu perbuatannya sia-sia saja karena sepertinya Andrea tidak berminat membawanya nonton. Ia hanya datang melaksanakan tanggung jawabnya menemani Ludwina fisioterapi hingga sembuh dan tugas itu hampir selesai.
Hari ini fisioterapi terakhir dan Ludwina sudah bisa berjalan walau masih tertatih-tatih.
Duh, aktingmu bagus sekali, bocah tengil... pikir Andrea dalam hati saat melihat Ludwina yang cemberut berjalan sambil memegangi tangannya.
"Tunggu di sini ya, aku beli es krim dulu." kata Andrea sebelum mereka naik ke mobil. Ludwina mengangguk lesu. Matanya mengikuti Andrea masuk ke minimarket dengan pandangan sedih, hingga pemuda itu keluar dengan dua es krim magnum seperti biasa.
Ritual hari sabtu mereka akan segera berakhir, dan Ludwina tidak punya alasan lagi untuk bertemu Andrea. Dadanya terasa sesak.
"Ini es krimnya." Andrea membuka satu bungkus es krim dan dan menyerahkannya kepada Ludwina, lalu menikmati es krimnya sendiri.
"Terima kasih," jawab Ludwina. Mereka lalu makan es krim dalam diam.
Andrea membuka ponselnya dan menjelajahi Google sambil menunggu Ludwina yang makan es krim lambat sekali. Tiba-tiba ia mengambil keputusan nekat.
"Great Gatsby masih diputar di 21 Blok M. Kamu masih mau nonton?" tanyanya cepat. Ia menunjukkan jadwal bioskop di ponselnya.
Ludwina terhenyak. Ia sama sekali tidak menyangka di hari terakhir pertemuan mereka, Andrea akan menyanggupi permintaannya. Ia mengangguk kuat-kuat dan buru-buru menghabiskan es krimnya.
"Iya... aku mau! Aku mauuu...!!!"
"Eh, makannya jangan buru-buru, nanti kalau keselek, aku juga yang kena," seru Andrea cepat sambil membantu menepuk-nepuk punggung Ludwina yang batuk-batuk karena es krim. "Tuh, kan..."
Dalam hati Andrea merasa tidak apa-apa kalau ia menemani Ludwina menonton film ke bioskop. Toh setelah ini mereka tidak akan bertemu lagi. Kakinya sudah sembuh, tidak ada lagi jadwal fisioterapi, dan mereka tidak punya alasan lagi untuk bertemu.
Biar ia menutup pertemuan mereka dengan kenangan yang manis. Setelah ini ia akan melanjutkan hidup.
Andrea sudah mendapat panggilan wawancara pekerjaan dari perusahaan IT dari Inggris yang berkantor cabang di Singapura. Hari Senin depan ia akan terbang ke Singapura, dan kalau diterima bekerja di sana, ia akan pindah dari Indonesia.
Sungguh, setelah ini tidak ada alasan lagi untuk bertemu Ludwina.
Gadis itu tampak senaaaang sekali saat memasuki bioskop dan menonton film The Great Gatsby. Ia bercerita bahwa novel The Great Gatsby adalah salah satu novel favoritnya dan ia sangat puas dengan hasil adaptasinya ke dalam film.
Tak henti-hentinya ia memuji akting Leonardo Di Caprio dan mengatakan Gatsby yang tampan, kaya, dan misterius adalah sosok pria ideal setiap perempuan.
Walaupun ia sebal mendengarnya, tetapi Andrea tidak bisa marah. Bagaimanapun ini adalah hari terakhir ia bisa bertemu gadis imut yang menurutnya sangat menggemaskan ini. Ia hanya bisa mengangguk-angguk.
Setelah selesai menonton, mereka pulang ke rumah Ludwina. Keduanya hanya bisa diam di sepanjang perjalanan.
"Terima kasih, ya. Sudah menemaniku terapi sampai pulih. Kamu nggak ada kewajiban apa-apa lagi... Terima kasih juga sudah menemani nonton film Gatsby... It means a lot to me," kata Ludwina lirih saat turun dari mobil.
Andrea ikut turun.
"Sama-sama. Semoga berhasil dengan novelmu ya. Nanti aku cari di toko buku," balas Andrea sambil tersenyum. "Bye, Ludwina..."
"Bye, Andrea..."
Andrea memastikan Ludwina masuk ke dalam rumah dengan tidak kurang suatu apa, lalu ia pergi keluar gerbang dan menyetop taksi.
Di dalam taksi Andrea meremas-remas jarinya dengan resah. Ia tahu tak mungkin bisa berjumpa lagi dengan gadis imut yang menipunya dengan kaki terkilir itu. Tak ada alasan lagi untuk bisa bertemu.
Ia menghela nafas panjang dan pandangannya menjadi sedih.
***
Buch teilen mit
Facebook
Twitter
Whatsapp
Reddit
Copy Link
Aktuellstes Kapitel
Kisah Cinta Ludwina & Andrea Bab 58 - Akhirnya Bahagia
"Aku sayang banget sama kamu, Andrea," bisik Ludwina ke telinga Andrea, "Aku ingin menghabiskan setiap hari mencintaimu."Andrea membantu Ludwina membuka pakaiannya dan dengan sangat hati-hati mencumbu istrinya. Ia sungguh merindukan tubuh Ludwina dan bercinta dengannya. Ia selalu menahan diri setelah mereka berkumpul bersama karena takut membuat Ludwina sakit, tetapi hari ini istrinya yang berinisiatif untuk bercinta dan ia tidak akan mengecewakannya.Mereka bercinta dengan sangat lembut dan menikmati setiap detik kebersamaan itu, jauh lebih syahdu dari biasanya, karena mereka tahu setiap detik mereka bersama adalah sangat berharga.Andrea sangat lega melihat rona wajah kemerah-merahan Ludwina yang diliputi rasa bahagia saat mereka tidur malam itu. Ia berharap dapat membekukan momen itu selamanya.***Bu Inggrid, Pak Kurniawan dan Johann kaget setengah mati ketika akhirnya Andrea memberi tahu mereka tentang penyakit Ludwina. Atas permintaan istrin
Kisah Cinta Ludwina & Andrea Bab 57 - Ludwina Ingin Sembuh
Mereka tiba di coffee shop langganan mereka dan barulah Andrea meletakkan Ludwina di kursi. Ia memesan kopi favorit keduanya lalu duduk di samping Ludwina sambil menggenggam tangannya. Ia tak mau melepaskan gadis itu sama sekali. Takkan pernah lagi!"Kamu mau berapa lama di New York?" tanyanya saat mereka sedang menikmati kopinya. "Aku mesti beli baju banyak kalau kita akan lama di sini.""Aku nggak tahu..." jawab Ludwina. "Aku mesti ketemu dokterku untuk konsultasi lagi besok.""Oke, aku ikut ya." kata Andrea cepat.Ludwina mengangguk.Mereka tidak membahas penyakit Ludwina sampai keduanya tiba di hotel. Andrea merasa lebih baik jika ia mendengar langsung dari dokter. Ia tak ingin membuat istrinya stress dengan berbagai pertanyaannya.Setelah memastikan Ludwina beristirahat, Andrea pergi ke toko terdekat dan membeli pakaian. Ia menolak ditemani karena tidak ingin Ludwina menjadi kelelahan. Setelah kembali ke hotel ia memesan makanan dan mer
Kisah Cinta Ludwina & Andrea Bab 56 - Pertemuan Di Central Park
Karena Ludwina tidak mengangkat ponselnya, Andrea akhirnya menghubungi Johann untuk mencari tahu keberadaan istrinya. Dari Johann ia mengetahui bahwa Ludwina sudah berangkat ke New York. Andrea segera memesan penerbangan ke sana tetapi kemudian ia sadar bahwa visa Amerika yang ada di paspornya baru saja kedaluwarsa.Ia ingat 5 tahun lalu mengajukan visa Amerika karena berniat traveling ke sana bersama Ludwina tetapi mereka malah menikah di Bali dan baru berangkat setahun kemudian. Visa yang diperolehnya valid untuk 5 tahun dan baru berakhir minggu ini.Sungguh mematahkan hati. Ketika akhirnya ia mengetahui apa yang terjadi dengan Ludwina, Andrea tak bisa segera menyusulnya.Andrea buru-buru pulang ke Inggris dan mengajukan visa Amerika lewat kedutaan Amerika Serikat di London. Ia sangat gelisah dan tidak bisa tidur sambil menunggu visanya diproses. Ia berusaha mengalihkan pikirannya dari Ludwina dengan bekerja, tetapi tidak berhasil."Joe, aku perlu bicar
Kisah Cinta Ludwina & Andrea Bab 55 - Andrea Ke Singapura
Sebenarnya Ludwina patah hati saat meninggalkan Andrea di pantai. Ia tak pernah melihat suaminya menangis sebelumnya dan hatinya tercabik-cabik saat ia harus menampilkan wajah dingin dan pergi meninggalkannya begitu saja.Ini demi kebaikan Andrea, berkali-kali ia meyakinkan dirinya sendiri.Ludwina segera meminta concierge memesankan taksi untuknya dan kembali ke Hotel Kanawa. Setibanya di sana ia segera masuk ke kamar dan mengurung diri. Tubuhnya merasa sangat lelah dan ia tak mampu bertemu siapa pun. Telepon dari Mbak Ria, editornya, pun harus ia tolak. Ia hanya mengirim SMS bahwa ia akan datang ke sesinya di UWRF besok dan hari ini ia ingin beristirahat dengan tanpa gangguan.***Andrea sebenarnya tergoda untuk datang ke UWRF dan melihat Ludwina lagi. Tetapi setiap mengingat betapa gadis itu masih belum memaafkannya, Andrea merasa sakit dan mengurungkan niatnya. Sepanjang hari ia hanya mencoba menghilangkan ke
Kisah Cinta Ludwina & Andrea Bab 54 - Pertemuan Dan Perpisahan Di Bali
Ludwina yang tiba di Hotel Hilton keesokan harinya mengira guest relation officer yang menemuinya juga mengenalinya sama seperti beberapa penggemar yang ia temui di Central Park. Ia mengikuti saja ketika staf itu membawanya ke kamar cantik menghadap laut yang ditinggali Andrea.Ia sebenarnya sudah check in di Hotel Kanawa milik ayahnya, sehingga ke Hilton hanya dengan membawa tas tangannya. Ia ingat bahwa hari ini adalah ulang tahun pernikahannya dengan Andrea. Mungkin ia akan menerima untuk makan malam bersama Andrea terakhir kalinya sebelum meminta dokumen perceraian itu dari suaminya dan mengakhiri pernikahan mereka.Ia melihat bunga dan prosecco dengan pita merah di kamar itu. Hatinya seketika terasa sakit, ia masih ingat dengan jelas malam itu ketika Andrea melamarnya. Ia melihat dua kemeja Andrea yang dibelikannya sebelum suaminya itu berangkat ke London dan pertahanannya runtuh.Ludwina kembali menangis untuk kesekian kalinya. Tadinya ia sudah mampu bersi
Kisah Cinta Ludwina & Andrea Bab 53 - Ludwina Mampir Ke London
Suasana menjadi syahdu dengan hujan rintik-rintik di luar jendela. Andrea lalu mengeluarkan sebotol wine dan dua gelas serta segelas jus untuk Ronan. Ia menuangkan wine untuk dirinya dan Adelina. Ia menyerahkan gelas berisi wine kepada gadis itu. Adelina menerimanya dengan sepassang mata masih berkaca-kaca."Sore-sore begini pas sekali untuk minum wine. Lumayan bisa membuat suasana hati menjadi lebih baik." Andrea mendentingkan gelasnya ke gelas Adelina dan meneguk wine-nya. "Minumlah... biar kau merasa baikan."Adelina mengangguk dan menyesap wine-nya. Wajahnya yang suram perlahan-lahan tampak mulai cerah."Wine makes adulting bearable (Wine membuat orang dewasa bisa bertahan hidup)." katanya dengan senyum mulai menghiasi wajahnya. Keduanya tertawa kecil. Andrea mengangguk juga, membenarkan."Aku tahu kamu perempuan kuat, tapi kalau kamu merasa sedang sedih dan ingin berbagi, tempatku dan segelas wine selalu siap menunggu," kata Andrea kemu
Kisah Cinta Ludwina & Andrea Bab 28 - Di Pullman Paris
Ludwina dan Andrea akhirnya tiba di Stasiun Gare du Nord setelah naik Thalys selama tiga jam. Ludwina merasa bahagia sekali saat menginjakkan kaki di Paris.
Kisah Cinta Ludwina & Andrea Bab 27 - Bersama Andrea Di Eropa
"Good night, Wina. See you in Amsterdam."Ludwina me
Kisah Cinta Ludwina & Andrea Bab 26 - Sampai Jumpa Di Amsterdam
Ludwina tidak mendengar berita dari Kevin selama beberapa bulan setelah mereka membahas "pemutusan perjanjian" di antara mereka.
Kisah Cinta Ludwina & Andrea Bab 25 - Memutuskan Pertunangan
Ludwina naik penerbangan paling pagi ke Hong Kong dan tiba di sana sesudah jam makan siang. Ia langsung check in ke hotel Park Royal milik ayahnya. Setelah beristirahat sebentar,
