loading
Home/ All /Kisah Cinta Ludwina & Andrea/Bab 24 - Bagaimana Dengan Kevin?

Bab 24 - Bagaimana Dengan Kevin?

Author: Josephine VDW
"publish date: " 2020-09-18 20:50:15

Ketika akhirnya Ludwina pulang ke Jakarta, Johann tak habis-habis menggodanya.

"Katanya nggak suka jalan ke Singapura... Katanya Singapura itu membosankan setengah mati..." katanya sambil tertawa-tawa di balik kemudi ketika menjemput Ludwina dari bandara.

Adiknya hanya merengut dan pura-pura tidak mendengar.

***

Ludwina mencoba menulis novel dengan latar belakang Singapura tahun 1950'an , dengan inspirasi dari Maria Hertogh, tetapi setelah beberapa bab ia kembali merasa tertahan dan tak mampu melanjutkan. Padahal saat ia di Singapura, dua bab berhasil ia tulis dengan lancar.

Kini setelah kembali ke Jakarta ia merasa kehilangan ide. Bab tiga hanya bertambah dua paragraf saja.

Ia bertanya-tanya apakah inspirasinya mengalir sewaktu di Singapura karena keberadaan Andrea atau karena ia memang beruntung dan kisah Maria memberinya ilham. Ia membuka bank inspirasinya dan mencari-cari ide cerita lain.

Sewaktu di Jerman ia membaca tentang keberadaan Kaspar Hauser, seorang pemuda misterius berusia 16 tahun tiba di Nuremberg pada tahun 1928 dengan sikap linglung. Banyak orang bilang wajahnya sangat mirip dengan raja Baden (salah satu kerajaan kecil di Jerman beberapa ratus tahun lalu).

Ia hanya tahu namanya adalah Kaspar Hauser, dan selama belasan tahun ia hidup dikurung di sebuah ruangan oleh orang misterius tanpa pernah melihat udara luar. Ketika umurnya 16 tahun ia dilepaskan di Nuremberg dan penduduk mengalami kesulitan berkomunikasi dengannya karena kosakatanya yang terbatas.

Kaspar mati ditusuk orang misterius sebelum identitasnya berhasil terungkap, dan hingga kini banyak teori konspirasi yang mengatakan bahwa Kaspar sebenarnya adalah pangeran putra mahkota Baden yang diculik sewaktu bayi. Sayangnya, hingga kini, teori itu tidak bisa dibuktikan.

Ludwina sangat menyukai misteri dan ia mengumpulkan kisah-kisah unik dari seluruh dunia yang ia temukan dalam perjalanannya. Sayangnya kisah Kaspar Hauser ini mirip dengan kisah The Man in Iron Mask karya Alexandre Dumas.

Pangeran Putra Mahkota Prancis yang dikurung selama belasan tahun di penjara dengan menggunakan topeng karena terjadi kesalahan di pihak keluarga raja yang tidak menduga bahwa pangeran terlahir kembar.

Ughhh.... rasanya semua cerita yang menarik sudah pernah ditulis oleh pengarang lain. Ludwina tak tahu harus menulis apa lagi.

Mungkin sudah saatnya ia traveling lagi....

Ludwina membuka peta dunia di laptopnya dan menutup mata. Dengan sembarang ia menunjuk suatu lokasi di peta dan membuka matanya. Ia akan membeli tiket ke negara yang ditunjuk oleh telunjuknya dan traveling lagi untuk mencari inspirasi.

SINGAPURA.

Matanya terbelalak...

Ludwina mengucek-ucek matanya dan memastikan jarinya tidak salah tunjuk.

Negara Singapura ini kan kecil banget... Kok bisa-bisanya jarinya menunjuk ke situ?

Ia menghela nafas panjang dan menutup laptopnya.

Aku pasti sudah gila.

Ludwina membuka ponselnya dan menulis pesan Whatsapp kepada Andrea.

[Kapan kamu mau ke Italia?]

[Aku ada proyek penting sebulan ke depan. Belum bisa ambil cuti liburan.]

[Mau traveling bareng aku? Aku tahu Italia luar dalam. Mau sekalian ke Spanyol atau Jerman juga boleh.]

[Sounds wonderful! Tapi aku ga naik business class kayak kamu. Kalau terbang naik pesawat yang sama dan duduknya beda kelas rasanya nggak enak ya. Mungkin lebih baik kita langsung ketemu di Eropa?]

[Uhmm...kalau kita terbang bareng, aku bisa kasih kamu upgrade ke business gratis sih, miles frequent flyer-ku ada ratusan ribu.] Ludwina buru-buru menambahkan [...kalau kamu nggak keberatan sih.]

Ludwina tahu masalah uang adalah hal yang sensitif untuk orang yang berasal dari kelas sosial berbeda. Itu juga yang membuat biasanya orang kaya menikah dengan orang kaya, karena kecanggungan akibat uang cenderung tidak ada di antara mereka.

Kalau misalnya Ludwina traveling dengan Kevin, dia tidak perlu pusing memikirkan naik pesawat kelas apa. Entah Kevin yang membelikan tiket pesawat business atau first class untuk mereka, atau Ludwina yang membelikan. Ia mempunyai kartu kredit yang limitnya bisa dipakai untuk membeli rumah, kalau ia mau.

Akhirnya masuk balasan dari Andrea.

[Gimana kalau kita bagi tugas? Kamu ngurusin penerbangan, dan aku ngurusin akomodasi? Nanti untuk makan kita urus gantian.]

Ludwina menepuk keningnya sendiri. Ia tak mengira Andrea akan memberikan solusi yang paling tepat. Bila mereka traveling bersama, tentu biayanya harus ditanggung bersama. Karena Ludwina punya uang lebih banyak ia terbiasa terbang dengan kelas business.

Penerbangan ke Eropa biasanya sekitar 800 dolar untuk ekonomi dan 4000 dolar untuk business. Walaupun misalnya Andrea mampu membeli tiket business untuk dirinya sendiri, tentu harga tiket yang demikian tinggi tidak dapat dijustifikasi oleh penghasilannya sebagai karyawan. Belum lagi penginapan, transportasi dalam kota, dan makanan.

Ludwina tak tega membuat Andrea menghabiskan uang demikian banyak hanya untuk mengikuti gaya travelingnya yang mahal, tapi ia tak dapat membayangkan harus terbang dengan kursi ekonomi yang sempit...

Jadi kalau Ludwina bisa mengurus tiket mereka, ia akan dapat menggunakan milesnya yang banyak untuk mendapatkan dua tiket business untuk dirinya dan Andrea, tanpa harus menyinggung ego pemuda itu.

Andrea bisa mengurus penginapan untuk mereka sesuai dengan budgetnya sendiri. Ludwina tidak manja kalau soal tempat untuk tidur, ia bisa menginap di hotel murah atau airbnb. Dengan demikian mereka masing-masing mengambil bagian tanggung jawab yang dapat mereka lakukan dan keduanya bisa traveling bersama.

[Oh, that's perfect! Kamu pinter banget ya cari solusi. Aku cariin tiket buat kita, kamu yang urus akomodasi. Nanti kalau perlu rekomendasi aku bisa kasih beberapa link.]

Oh why are you so perfect? tanya Ludwina dalam hati.

Ia tersenyum lebar membayangkan bisa ke Italia bersama Andrea. He sounds like a perfect travelmate.

[Andrea, tadi aku random pilih negara di peta untuk traveling, Aku tutup mata dan secara acak memilih tempat di peta.... Tahu nggak, ternyata telunjukku memilih Singapura!!!]

Ludwina tidak tahan untuk tidak menceritakan hal itu kepada Andrea. Ia berdebar-debar menunggu apa kira-kira tanggapan Andrea.

[You have chosen well.]

Datang balasan dari Andrea, membuat Ludwina tersenyum dan kemudian tertawa pelan.

[Kau jangan bosan melihatku di Singapura ya...] tulis Ludwina.

[Let me know when you're in town. Always love to have you around.]

Kasih tahu kalau lagi di Singapura. Aku senang ketemu kamu.

Ludwina mengangguk-angguk sendiri lalu meletakkan ponselnya di meja makan. Terdengar dehaman ayahnya yang memperhatikan sikapnya yang dari tadi tersenyum sendiri.

"Ngobrol dengan siapa, Win?"

"Ayah masih ingat sama Andrea, nggak? Dia sekarang sudah pindah ke Singapura karena dapat pekerjaan di sana. Aku kemarin jalan-jalan ke Singapura dua minggu untuk ketemu dia."

"Oh ya?"

"Aku mau ke Singapura lagi besok."

Ayah dan ibunya saling pandang.

"Apa kamu nggak sekalian pindah saja ke sana?" cetus Johann dengan nada menggoda. "Baru juga pulang, masa sudah ke sana lagi?"

"Tapi kan kita sudah nggak punya rumah di Singapura..." keluh Ludwina.

"Lho, kamu serius, Win?" tanya ibunya keheranan. "Kamu suka banget sama anak itu sampai mau pindah ke Singapura?"

Ludwina terdiam. Ia lalu mengangguk pelan.

"Terus Kevin bagaimana?" tanya Johann. "Kamu dan Kevin waktu SMP kan sudah ditunangkan. Itu harus diberesin dulu."

"Aku sudah ketemu Kevin bareng Andrea waktu di Singapura dan dia kayaknya nggak masalah kok," kata Ludwina. "Kami malah makan malam di restoran barunya."

"Oh ya?" Johann tampak tidak percaya. "Kevin mau putusin pertunangan sama kamu?"

"Aku nggak bahas itu sama sekali kok. Tapi harusnya jelas dong buat Kevin, aku tuh kemarin datang ke sana makan malam sama laki-laki lain. Kalau Kevin keberatan dia pasti sudah bilang. Aku dan Kevin kan cuma bikin perjanjian kalau kami masih single sampai umur 25, nanti kami nikah, dan perjanjiannya sudah diperpanjang jadi umur 30. Kalau aku pacaran sama Andrea, berarti perjanjiannya batal, dong."

Johann menggeleng-geleng. "Kamu itu konyol ya, dan Kevin mau saja meladeni kekonyolanmu itu. Terakhir aku ketemu Kevin di Hong Kong, dia masih menganggap kamu tunangannya. Dia nanya aku apa sebaiknya dia melamar kamu tahun ini atau 5 tahun lagi."

Ludwina sungguh terkejut mendengar kata-kata Johann. Ini tidak mungkin! Kevin adalah teman masa kecilnya dan ia tak pernah menganggap serius perjodohan di antara mereka. Ia mengira Kevin pun demikian.

"Kamu dan Kevin memang sudah ditunangkan waktu kecil dulu, sebelum Wolfgang meninggal..." kata ayah pelan. "Sebenarnya ayah dan ibu sudah tidak mewajibkan kalian untuk mengikuti perjodohan yang dibuat waktu kalian masih kecil.. tetapi, kalau ternyata Kevin dan keluarganya belum melepas kamu, sebaiknya masalah ini harus dibicarakan dulu di antara kedua keluarga. Ayah tidak mau hubungan keluarga kita menjadi rusak."

Ludwina tampak pucat. Ia membuka ponselnya dan mencari nomor Kevin... tetapi di saat terakhir mengurungkan niatnya untuk menelepon.

Lebih baik ia bicara langsung dengan pemuda itu dan menjernihkan masalah. Ia harus mengetahui apakah perkataan Johann tentang Kevin yang ingin melamarnya itu benar. Akhirnya ia hanya mengirim pesan Whatsapp.

[Kevin, kamu masih di Singapura? Kita perlu bicara.]

[Sudah di Hong Kong. Mau bicara apa?]

[Aku besok ke Hong Kong ya. Ini penting.]

[Oke.]

Ludwina buru-buru menyelesaikan makan malamnya lalu permisi ke kamarnya untuk memesan tiket ke Hong Kong untuk keesokan harinya.

Perkataan Johann terus terngiang-ngiang di benaknya, dan malam itu Ludwina sama sekali tidak bisa tidur.

Want to know what happens next?
Continue Reading
Previous Chapter
Next Chapter

Share the book to

  • Facebook
  • Twitter
  • Whatsapp
  • Reddit
  • Copy Link

Latest chapter

Kisah Cinta Ludwina & Andrea   Bab 58 - Akhirnya Bahagia

"Aku sayang banget sama kamu, Andrea," bisik Ludwina ke telinga Andrea, "Aku ingin menghabiskan setiap hari mencintaimu."Andrea membantu Ludwina membuka pakaiannya dan dengan sangat hati-hati mencumbu istrinya. Ia sungguh merindukan tubuh Ludwina dan bercinta dengannya. Ia selalu menahan diri setelah mereka berkumpul bersama karena takut membuat Ludwina sakit, tetapi hari ini istrinya yang berinisiatif untuk bercinta dan ia tidak akan mengecewakannya.Mereka bercinta dengan sangat lembut dan menikmati setiap detik kebersamaan itu, jauh lebih syahdu dari biasanya, karena mereka tahu setiap detik mereka bersama adalah sangat berharga.Andrea sangat lega melihat rona wajah kemerah-merahan Ludwina yang diliputi rasa bahagia saat mereka tidur malam itu. Ia berharap dapat membekukan momen itu selamanya.***Bu Inggrid, Pak Kurniawan dan Johann kaget setengah mati ketika akhirnya Andrea memberi tahu mereka tentang penyakit Ludwina. Atas permintaan istrin

Kisah Cinta Ludwina & Andrea   Bab 57 - Ludwina Ingin Sembuh

Mereka tiba di coffee shop langganan mereka dan barulah Andrea meletakkan Ludwina di kursi. Ia memesan kopi favorit keduanya lalu duduk di samping Ludwina sambil menggenggam tangannya. Ia tak mau melepaskan gadis itu sama sekali. Takkan pernah lagi!"Kamu mau berapa lama di New York?" tanyanya saat mereka sedang menikmati kopinya. "Aku mesti beli baju banyak kalau kita akan lama di sini.""Aku nggak tahu..." jawab Ludwina. "Aku mesti ketemu dokterku untuk konsultasi lagi besok.""Oke, aku ikut ya." kata Andrea cepat.Ludwina mengangguk.Mereka tidak membahas penyakit Ludwina sampai keduanya tiba di hotel. Andrea merasa lebih baik jika ia mendengar langsung dari dokter. Ia tak ingin membuat istrinya stress dengan berbagai pertanyaannya.Setelah memastikan Ludwina beristirahat, Andrea pergi ke toko terdekat dan membeli pakaian. Ia menolak ditemani karena tidak ingin Ludwina menjadi kelelahan. Setelah kembali ke hotel ia memesan makanan dan mer

Kisah Cinta Ludwina & Andrea   Bab 56 - Pertemuan Di Central Park

Karena Ludwina tidak mengangkat ponselnya, Andrea akhirnya menghubungi Johann untuk mencari tahu keberadaan istrinya. Dari Johann ia mengetahui bahwa Ludwina sudah berangkat ke New York. Andrea segera memesan penerbangan ke sana tetapi kemudian ia sadar bahwa visa Amerika yang ada di paspornya baru saja kedaluwarsa.Ia ingat 5 tahun lalu mengajukan visa Amerika karena berniat traveling ke sana bersama Ludwina tetapi mereka malah menikah di Bali dan baru berangkat setahun kemudian. Visa yang diperolehnya valid untuk 5 tahun dan baru berakhir minggu ini.Sungguh mematahkan hati. Ketika akhirnya ia mengetahui apa yang terjadi dengan Ludwina, Andrea tak bisa segera menyusulnya.Andrea buru-buru pulang ke Inggris dan mengajukan visa Amerika lewat kedutaan Amerika Serikat di London. Ia sangat gelisah dan tidak bisa tidur sambil menunggu visanya diproses. Ia berusaha mengalihkan pikirannya dari Ludwina dengan bekerja, tetapi tidak berhasil."Joe, aku perlu bicar

Kisah Cinta Ludwina & Andrea   Bab 55 - Andrea Ke Singapura

Sebenarnya Ludwina patah hati saat meninggalkan Andrea di pantai. Ia tak pernah melihat suaminya menangis sebelumnya dan hatinya tercabik-cabik saat ia harus menampilkan wajah dingin dan pergi meninggalkannya begitu saja.Ini demi kebaikan Andrea, berkali-kali ia meyakinkan dirinya sendiri.Ludwina segera meminta concierge memesankan taksi untuknya dan kembali ke Hotel Kanawa. Setibanya di sana ia segera masuk ke kamar dan mengurung diri. Tubuhnya merasa sangat lelah dan ia tak mampu bertemu siapa pun. Telepon dari Mbak Ria, editornya, pun harus ia tolak. Ia hanya mengirim SMS bahwa ia akan datang ke sesinya di UWRF besok dan hari ini ia ingin beristirahat dengan tanpa gangguan.***Andrea sebenarnya tergoda untuk datang ke UWRF dan melihat Ludwina lagi. Tetapi setiap mengingat betapa gadis itu masih belum memaafkannya, Andrea merasa sakit dan mengurungkan niatnya. Sepanjang hari ia hanya mencoba menghilangkan ke

Kisah Cinta Ludwina & Andrea   Bab 54 - Pertemuan Dan Perpisahan Di Bali

Ludwina yang tiba di Hotel Hilton keesokan harinya mengira guest relation officer yang menemuinya juga mengenalinya sama seperti beberapa penggemar yang ia temui di Central Park. Ia mengikuti saja ketika staf itu membawanya ke kamar cantik menghadap laut yang ditinggali Andrea.Ia sebenarnya sudah check in di Hotel Kanawa milik ayahnya, sehingga ke Hilton hanya dengan membawa tas tangannya. Ia ingat bahwa hari ini adalah ulang tahun pernikahannya dengan Andrea. Mungkin ia akan menerima untuk makan malam bersama Andrea terakhir kalinya sebelum meminta dokumen perceraian itu dari suaminya dan mengakhiri pernikahan mereka.Ia melihat bunga dan prosecco dengan pita merah di kamar itu. Hatinya seketika terasa sakit, ia masih ingat dengan jelas malam itu ketika Andrea melamarnya. Ia melihat dua kemeja Andrea yang dibelikannya sebelum suaminya itu berangkat ke London dan pertahanannya runtuh.Ludwina kembali menangis untuk kesekian kalinya. Tadinya ia sudah mampu bersi

Kisah Cinta Ludwina & Andrea   Bab 53 - Ludwina Mampir Ke London

Suasana menjadi syahdu dengan hujan rintik-rintik di luar jendela. Andrea lalu mengeluarkan sebotol wine dan dua gelas serta segelas jus untuk Ronan. Ia menuangkan wine untuk dirinya dan Adelina. Ia menyerahkan gelas berisi wine kepada gadis itu. Adelina menerimanya dengan sepassang mata masih berkaca-kaca."Sore-sore begini pas sekali untuk minum wine. Lumayan bisa membuat suasana hati menjadi lebih baik." Andrea mendentingkan gelasnya ke gelas Adelina dan meneguk wine-nya. "Minumlah... biar kau merasa baikan."Adelina mengangguk dan menyesap wine-nya. Wajahnya yang suram perlahan-lahan tampak mulai cerah."Wine makes adulting bearable (Wine membuat orang dewasa bisa bertahan hidup)." katanya dengan senyum mulai menghiasi wajahnya. Keduanya tertawa kecil. Andrea mengangguk juga, membenarkan."Aku tahu kamu perempuan kuat, tapi kalau kamu merasa sedang sedih dan ingin berbagi, tempatku dan segelas wine selalu siap menunggu," kata Andrea kemu

Kisah Cinta Ludwina & Andrea   Bab 37 - Will You Marry Me?

Andrea pelan-pelan melepaskan diri dari Ludwina dan ia tersenyum geli melihat gadis itu tampak kecewa. Ia mencuil hidung Ludwina dan tertawa."Aku sudah janji sama ayahmu untuk memperlakukanmu dengan penuh hormat. Aku nggak mau melanggar janji.""Kamu bicara sama ayah?" tanya Ludwin

Kisah Cinta Ludwina & Andrea   Bab 36 - Ludwina, Aku Cinta Kamu!

Andrea tahu toleransi alkoholnya rendah, dan ia bukan seorang lelaki yang banyak minum wine. Tetapi malam ini adalah malam istimewa, dan ia membutuhkan tambahan keberanian karena...Ia ingin melamar Ludwina.Pemuda itu meneguk prosecco-nya sedikit, "Aku tetap minum untuk menemani ka

Kisah Cinta Ludwina & Andrea   Bab 35 - Makan Malam Bersama Andrea

Ludwina mendarat di Bandara Changi tepat pukul 7 malam. Begitu melewati custom ia melihat Andrea telah menunggunya di pintu keluar, melambaikan tangan. Keduanya saling berpelukan dan cium pipi lalu Andrea membawakan koper Ludwina ke arah tempat parkir. Gadis itu mengikuti dengan bingung."

Kisah Cinta Ludwina & Andrea   Bab 34 - Misi Tambahan Ludwina

Andrea menjadi sangat kuatir dan ia buru-buru ke Raffles Hotel untuk mengecek keadaan gadis itu."Miss Ludwina Kurniawan sudah check out tadi pagi," kata resepsionis setelah Andrea meminta dihubungkan ke kamar Ludwina."Oh..." Andrea sangat terkejut mendengarnya. Ia tidak menyangka

More Chapters
Download the Book
GoodNovel

Download the book for free

Download
Search what you want
Library
Browse
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystemFantasyLGBTQ+ArnoldMM Romancegenre22- Englishgenre26- EnglishEnglishgenre27-Englishgenre28-英语
Short Stories
SkyMystery and suspenseModern urbanDoomsday survivalAction movieScience fiction movieRomantic movieGory violenceRomanceCampusMystery/ThrillerImaginationRebirthEmotional RealismWerewolfhopedreamhappinessPeaceFriendshipSmartHappyViolentGentlePowerfulGory massacreMurderHistorical warFantasy adventureScience fictionTrain station
CreateWriter BenefitContest
Hot Genres
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystem
Contact Us
About UsHelp & SuggestionBussiness
Resources
Download AppsWriter BenefitContent policyKeywordsHot SearchesBook ReviewFanFictionFAQFAQ-IDFAQ-FILFAQ-THFAQ-JAFAQ-ARFAQ-ESFAQ-KOFAQ-DEFAQ-FRFAQ-PTGoodNovel vs Competitors
Community
Facebook Group
Follow Us
GoodNovel
Copyright ©‌ 2026 GoodNovel
Term of use|Privacy