loading
Home/ All /Daniel And Callista (INDONESIA)/Bab 8 Kepulangan Michael

Bab 8 Kepulangan Michael

Author: Abigail Kusuma
"publish date: " 2020-09-15 05:24:40

Michael turun dari mobil, dia membanting kasar pintu mobil. dan berjalan masuk ke dalam rumah dengan wajah yang dipenuhi amarah. Dia baru saja mendapatkan informasi dari David, pengawalnya gagal membawa putri bungsunya pulang. Michael menggeram, kali ini sudah tidak ada lagi kesabaran untuk putrinya itu.

Alice tersentak saat melihat Michael sudah tiba di rumah. Karena memang jadwal kepulangan suaminya itu baru besok. Tapi kini Michael sudah berada di hadapannya.

“Pa, sudah pulang?” Alice melangkah mendekat, lalu membantu Michael melepaskan dasi dan juga jasnya.

“Kali ini aku tidak akan lagi bersabar. Besok aku akan menarik putri bungsumu itu. Aku sudah kehilangan kesabaranku jika berurusan dengannya!” tukas Michael dingin.

Alice mendengus, dia menatap tajam Michael. “Jadi sekarang Callista adalah hanya anakku? begitu Michael Hutomo? Memangnya siapa yang membuatku hamil? Apa ku ini bisa hamil dengan sendirinya?” 

Michael membuang napas kasar. kali ini dia tidak mungkin berdebat dengan istrinya. “Bukan bergitu maksudku, sayang. Tapi Callista benar-benar sudah membuatku kehilangan kesabaran. Anak itu tidak pernah menurut,” kata Michael menjelaskan. “Saat aku meminta dia kuliah bisnis, dia mengambil kedokteran. Sekarang dia juga tidak ingin memegang kendali di perushaan. Tidak mungkin semuanya aku serahkan pada Jessica. Sebentar lagi Jessica akan menikah. Dia pasti sibuk mengurus pernikahannya.”

Alice melangkah mendekat dan mengelus dada Michael. “Tenanglah, aku yakin suatu saat Callista akan mengerti. Dia akan membantumu mengurus perusahaan. Biarkan dia menjadi Dokter untuk sementara waktu. Kau sangat tahu putri bungsumu itu memiliki sifat yang sama denganmu. Kalian berdua sama-sama keras kepala. Kau juga tahu bukan? Menjadi dokter adalah impian Callista.”

“Tapi anak itu selalu tidak pernah menurut! Dia selalu mengjaar anak buahku. Kalin ini Callista sudah melampui batasnya.” Seru Michael. Dia berusaha mengendalikan amarahnya.

Alice mendesah pelan. “Pa, tenanglah. Mama yakin Callista pasti akan membantumu. Dia tidak mungkin hanya diam jika nanti kau harus dipusingkan masalah perusahaan. Menurut Mama, biarkan Callista meraih impiannya. Sejak dulu menjadi Dokter adalah impian Callista.”

“Kenapa anak itu memilih menjadi seorang Dokter? Aku bahkan sudah sering mengatakan padanya, menjadi Dokter tidak akan membuatnya kaya!” seru Michael.

Alice menaik napasnya dan menghembuskan perlahan. Kemudian dia menjawab, “Kau tahu sejak dulu putri bungsumu tidak memperdulikan masalah uang. Lagi pula harusnya kau bangga dengan Callista yang memiliki otak cerdas hingga mampu menjadi dokter specialis bedah diusia yang masih terbilang muda.”

“Ma, jangan membelanya. Kau tahu, aku tidak pernah menyetujui impian Callista menjadi seorang Dokter,” tukas Michael dingin.

“Yasudah, lebih baik kita masuk ke dalam, kau baru pulang pasti sangat lelah. Callista bisa menjaga dirinya dengan baik.” Alice berusaha menenangkan Michael. Dia sangat memahami dengan baik siapa putrinya itu. Terlebih sikap keras kepala Callista yang menurun pada Micahel.

Micahel terdiam sesaat, dia tidak memiliki pilihan lain selain menuruti istrinya, Michael menarik napas panjang lalu berjalan masuk ke dalam kamar.

***

Callista dan Olivia melepas heels dan melempar tas mereka sembarangan. Saat melihat tempat tidur, Callista dan Olivia langsung membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Malam sudah larut, Olivia memutuskan untuk menginap di apartemen Callista. Beruntung mereka memiliki ukuran baju yang sama. Jadi Olivia sering meminjam baju Callista jika dirinya tengah menginap.

“Callista, apa kau tadi tidak bertanya nama pria yang menolongmu? Demi Tuhan, dia bukan hanya tampan tapi dia juga seksi. Apa kau tidak melihat? Tubuhnya tercetak begitu sempurna dengan dada bidang dan otot perut. Satu lagi, lengannya begitu menggoda. Dia sungguh pahatan yang sempurna,” kata Olivia yang masih membayangkan pria asing yang membantu Callista.

Callista mendesah pelan. “Aku bahkan mengucapkan kata terima kasih, dia itu mengabaikan ucapanku.”

Olivia berddecak pelan. “Kalau aku menjadimu, aku pasti akan langsung bertanya namanya. Jadi tidak perlu basa-basi!” cibir Olivia.

“Jangan bicara yang tidak-tidak, Olivia! Aku masih sangat lelah, kau tidak lihat? Anak buah ayahku membanting u?” seru Callista kesal.

Olivia mendengus. “Ini kesalahanmu sendiri, Callista Hutomo. Kau yang melarikan diri dari rumah. Kau juga yang mencari masalah dengan ayahmu itu. Aku rasa kau sangat mengenal baik ayahmu itu. Tapi kau malah melawannya, jika aku menjadi kau lebih baik aku menurut.”

Callista membalikan tubuhnya, seolah tidak memperdulikan perkataan Olivia itu. “Berisik kau Olivia! Lebih baik diam atau aku akan mengusirmu dari apartemenku. Kepalaku sakit mendengar suaramu!”

Olivia mencebikkan bibirnya. Menatap kesal sahabatnya itu. “Jika kau berani mengusirku percayalah seumur hidup kau tidak akan pernah menikah! Karena hanya aku satu-satunya sahabatmu yang mengingatkanmu memiliki kekasih.”

Callista mengumpat dalam hati, dia mengambil bantal dan melempr kasar ke wajah Olivia. Mulut sahabatnya itu benar-benar meembuatnya sakit kepala.

Olivia menangkap bantal yang di lempar Callista. Dia langsung  melempar ke arah Callista. “Sialan kau, Callista!”

Dering ponsel terdengar, membuat Callista dan Olivia kini menoleh ke arah ponsel yang tidak henti berdering itu. Callista menghela napas berat, tengah malam seperti ini ada saja yang menganggunya.

Callista menyambar ponselnya yang berada di atas nakas, dia melihat ke layar tertera nama Jessica yang menghubungi dirinya. Callista menggeser tombol hijau di layar ponsel untuk menerima panggilan. Sebelum kemudian dia meletakan ponselnya mendekat ke telinganyaanya.

“Ada apa ka? Kenapa menghubungiku malam-malam seperti ini?“ jawab Callista dengan nada kesal saat panggilannya terhubung.

“Anak nakal! Berani kau menyambut kakakmu yang menghubungimu dengan nada seperti itu?” Suara Jessica meninggi dari seberang line.

Callista membuang napas kasar. Dia memijit pelipisnya. Hari ini benar-benar hari tersial baginya. “Katakan ka, ada apa? Aku ingin tidur aku lelah.”

“Katakan padaku, kenapa kau melawan anak buah Papa? Astaga Callista, sudah berapa banyak anak buah Papa yang kau buat masuk rumah sakit? Apa kau ino sengaja membuat Papa terkena serangan jantung?” seru Jessica.

“Ka, tidak perlu mengkhawatirkan papa. Aku sudah memeriksa kesehatannya. Papa sangat sehat, jantung papa juga sangat sehat. Aku pastikan papa tidaka akan terkena serangan jantung,” balas Callista yakin.

“Kau ini benar-benar, Callista! Lama kelamaan kakakmu ini juga terkena serangan jantung menghadapi wanita keras kepala sepertimu! Kau harus segera menghubungi papa dan minta maaf padanya. Jangan lagi membuat ulah Callista, sebentar lagi aku akan menikah. Aku akan disibukan dengan persiapanku menikah.”

“Ka, sudahlah aku ingin istirahat. Masalah minta maaf dengan papa nanti aku akan mengaturnya. Tidak sekarang, karena aku masih belum ingin bertemu dengannya sekarang. Kau sangat tahu alasannya.”

“Tapi-“

“Ka, besok aku memiliki jadwal di pagi hari. aku tutup,” potong Callista cepat. Dia langsung memutuskan sambungan teleponnya. Meletakan kembali ponselnya di atas nakas.

Callista kembali membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Olivia menatap Calista yang terlihat begitu lelah. Olivia mengerti, bagaimana perasaan Callista. Sejak dulu, Callista memang bermimpi menjadi seorang dokter. Bukan memimpin perusahaan keluarganya.

“Cal, tadi Ka Jessica menghubungimu?” tanya Olivia hati-hati. Dia melihat Callista yang terlihat begitu lelah.

“Ya, seperti yang kau tahu. Mereka akan terus memaksamu menjadi sesuatu yang mereka inginkan,” jawab Callista dengan helaan napas berat. “Terkadang aku iri denganmu, Olivia. Kau bisa memilih yang kau sukai. Kedua orang tuamu begitu mendukungmu menjadi seorang Dokter. Sedangkan aku? Tidak ada satu pun di anatara keluargaku yang menyentujui impianku ini.”

Olivia menatap lekat Callista, tangan Olivia mengusap dengan lembut lengan Callista. “Kau tahu? Orang tuaku selalu mengatakan setiap orang tua selalu menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Dan aku percaya, orang tuamu juga melakukan hal yang sama. Hanya cara mereka menujukannya berbeda.”

“Tapi mereka tidak pernah mendengar apa yang aku inginkan. Ayahku menginginkanku seperti kakakku Jessica. Aku tidak bisa hidup dalam sorotan kamera, terlebih para media akan bertanya masalah pribadi kita. Aku tidak menyukai hidup seperti itu,” jelas Callista yang menceritakan alasan dirinya enggan untuk menuruti keinginan ayahnya itu.

Olivia menggeleng pelan dan tersenyum. “Kau itu wanita teraneh yang pernah aku temui. Ketika semua orang menginginkan hidup diposisimu. Tapi kau malah tidak menginginkannya. Seharusnya kau senang menjadi pusat perhatian banyak orang.”

“Sudahlah aku ingin beristirahat, Aku tidak ingin membahas apapun.” Callista menarik guling, dia membalikan tubuhnya membelakangi Olivia. Kini yang dibutuhkan Callista adalah beristirahat. Dia malas jika harus membahas tentang keluarganya itu.  

***

-To Be Continued

Want to know what happens next?
Continue Reading
Previous Chapter
Next Chapter

Share the book to

  • Facebook
  • Twitter
  • Whatsapp
  • Reddit
  • Copy Link

Latest chapter

Daniel And Callista (INDONESIA)   Bab 55 Kecemburuan Yang Membuat Egois

Daniel menyandarkan punggungnya di kursi. Dia memejamkan mata lelah. Sudah tiga hari ini, dia tidak berkomunikasi dengan Callista. Sebenarnya, dia ingin sekali menghubungi Callista, tapi ego yang ada di dalam dirinya mengalahkan keinginannya. Tidak bisa dipungkiri, dia masih begitu marah melihat Callista dekat dengan Mike. Ya, meski dia sudah mendapatkan informasi, jika benar Callista menggantikan Viktor menangani pasien yang mengalami kerusakan jantung, tapi tetap saja Daniel tidak suka Callista harus dekat dengan Mike. Hal yang membuat Daniel marah, adalah ketika saat Callista membiarkan Mike menemaninya di lobby, padahal sejak awal, Daniel sudah mengatakan jangan pernah dekat dengan Mike.

Daniel And Callista (INDONESIA)   Bab 54 Pertengkaran

Daniel turun dari mobilnya, dia membanting kasar pintu mobilnya, kemudian melangkah masuk ke dalam penthousenya. Callista turun dari mobil, dia berlari mengejar Daniel yang sudah lebih dulu masuk ke dalam penthousenya. “Daniel, tunggu, kita harus bicara..” Callista menahan lengan Daniel, hingga membuat langkah kaki Daniel terhenti. “Callista, aku lelah. Lebih baik kau langsung istirahat.” Daniel melepaskan tangan Callista yang menyentuh lengannya itu.

Daniel And Callista (INDONESIA)   Bab 53 Ungkapan Hati

Callista melangkah keluar dari ruang operasi. Setelah berada di ruang operasi hampir tiga belas jam berada di ruang operasi, membuatnya begitu lelah. Callista melirik arloji, kini sudah pukul delapan malam. Tanpa menunda, Callista langsung menuju ruang kerjanya, mengganti pakaiannya dan bersiap-siap untuk pulang. Sebelumnya, dia mengirimkan pesan pada Daniel, untuk tidak menunggunya. Bukan tidak ingin dijemput, tapi Callista hanya tidak ingin Daniel kelelahan harus menjemputnya. Tentu Callista mengerti, kesibukan Daniel sudah menyita banyak waktu kekasihnya itu. Dia tidak ingin merepotkan kekasihnya. Terlebih jarak dari perusahaan Daniel ke Queen Hospital tidaklah dekat.

Daniel And Callista (INDONESIA)   Bab 52 Kedatangan Adam

“Nanti sore aku akan menemputmu,” ucap Daniel saat tiba di lobby rumah sakit. Rasanya begitu berat melepas kekasihnya itu. Padahal sebelumnya, Daniel sudah meminta Callista untuk tidak bekerja. Tapi tentu Callista menolaknya. Bisa saja Daniel memaksa Callista untuk tidak bekerja, tapi Daniel memilih untuk menuruti keinginan kekasihnya itu. Ini lebih baik, demi menghindar berdebat dengannya.Callista mendesah pelan. “Apa kau itu tidak bekerja? Kau selalu menjemputku. Bukan tidak ingin dijemput, tapi aku tidak ingin kau kelelahan harus menjemputku.”

Daniel And Callista (INDONESIA)   Bab 51 Tetaplah Disisiku

Perlahan Callista mulai membuka matanya, dia merintih kesakitan pada bagian bawahnya. Namun, dia berusaha untuk menahan rasa sakit di bagian bawahnya. Tatapan Callista kini teralih melihat sosok pria yang masih tertidur pulas di sampingnya. Seketika senyum di bibir Callista terukir mengingat kejadian tadi malam. Sentuhan Daniel, tatapan pria itu yang begitu memuja tubuhnya. Bahkan sepanjang malam, Daniel selalu terus menginginkannya. Pria itu tidak henti memuji dirinya. Tadi malam, adalah hal terindah dalam hidup Callista. Dimana dia memberikan hal yang paling berharga dari dirinya, untuk pria yang dia cintai.Callista membawa tangannya menyentuh dengan lembut wajah Daniel. Rahang t

Daniel And Callista (INDONESIA)   Bab 50 Completely Mine

“Daniel, kau kenapa? Apa kau melakukan kesalahan?” Callista menghentakan kakinya, saat masuk ke dalam penthouse milik Daniel. Tatapannya menatap kesal Daniel yang sejak tadi mendiaminya.“Tidak, aku hanya lelah,” jawab Daniel dingin. Dia melangkah masuk ke dalam kamarnya. Callista langsung mengikuti Daniel masuk ke dalam kamar pria itu. “Kau tidak pernah seperti ini, katakan padaku ada apa?” Callista menahan lengan Daniel. Kesabarannya sudah habis. Sepanjang perjalanan, Daniel te

Daniel And Callista (INDONESIA)   Bab 49 Cemburu?

Daniel menatap Callista yang tengah tertidur dalam pelukannya. Dia mengelus lembut pipi Callista. Bulu mata lentik, hidung mancung dan mungil

Daniel And Callista (INDONESIA)   Bab 48 ­­­­­­­­­Rencana Ke Jepang

Daniel menatap Callista yang tengah memasukan pakaian miliknya ke dalam tas. Sudah sejak tadi Daniel mengatakan cukup pelayan saja yang memasukan bajunya ke dala

Daniel And Callista (INDONESIA)   Bab 47 Aku mencintaimu

Kondisi Daniel berangsur membaik. Setiap harinya Callista selalu menjaga Daniel. Bahkan Callista akan selalu menginap di ruang rawat Daniel, hanya demi memastik

Daniel And Callista (INDONESIA)   Bab 46 Hampir Kehilanganmu

Sudah satu minggu Daniel tidak sadarkan diri. Operasi Daniel berjalan lancar. Meski Callista berhasil menyelamatkan Daniel dari masa kritisny

More Chapters
Download the Book
GoodNovel

Download the book for free

Download
Search what you want
Library
Browse
RomancefeiyHistoryUrbanMafiaSystemFantasyLGBTQ+arNoldMM Romancegenre22-菲语genre26-Pilipinoipinogenre27-请勿使用菲语genre28-Pilipinoipino
Short Stories
KalangitanPagka-misteryo at panghihinalaMakabagong lungsodPag-survive sa katapusan ng mundoPelikulang aksyonPelikula ng agham-piksyonPelikulang romansaDugong na karahasanpag-asapangarapkaligayahanKapayapaanPagkakaibiganMatalinoMasayaMarahasMaamoMalakas红安Madugong pagpatayPagpatayKasaysayan ng digmaanPangarap na pakikipagsapalaranAgham-piksyonIstasyon ng tren
CreateWriter BenefitContest
Hot Genres
RomancefeiyHistoryUrbanMafiaSystemFantasy
Contact Us
About UsHelp & SuggestionBussiness
Resources
Download AppsWriter BenefitContent policyKeywordsHot SearchesBook ReviewFanFictionFAQFAQ-IDFAQ-FILFAQ-THFAQ-JAFAQ-ARFAQ-ESFAQ-KOFAQ-DEFAQ-FRFAQ-PTGoodNovel vs Competitors
Community
Facebook Group
Follow Us
GoodNovel
Copyright ©‌ 2026 GoodNovel
Term of use|Privacy