Download the book for free

Chapter 1
LOS ANGELES - CALIFORNIA
Seorang wanita cantik berambut coklat dan bermata biru berhasil ditarik paksa oleh ayahnya untuk pulang ke rumah. Setelah melarikan diri selama tiga bulan, akhinya kini Callista berhasil dibawa oleh Michael ayahnya pulang ke rumah.
“Masih mau melarikan diri lagi Callista?” seru Michael meninggikan suaranya.
“Pa, aku tidak bermaksud melarikan diri. Aku hanya tidak mau meneruskan bisnismu. Masih ada Ka Jessica yang menangani semua bisnismu. Papa tahu aku ini sibuk. Jadi aku mohon jangan memaksaku,” kata Callista dengan nada penuh permohonan.
“Apa kau tidak mendengar apa yang papa katakan? Papa tetap ingin kau meneruskan bisnis ini. Tidak bisa sepenuhnya kau berikan pada kakakmu Jessica!” tukas Michael tegas.
Callista mendengus tak suka. “Kenapa papa selalu memaksaku? Aku ini tidak bisa meninggalkan pekerjaanku. Papa tahu menjadi Dokter adalah impianku, Pa.”
“Dan apa kau tidak mendengar apa yang papa katakan padamu? Kau harus tetap meneruskan bisnis keluarga kita Callista Hutomo!” balas Michael dengan penuh penekanan. Dia tidak suka jika dibantah.
“Ma, bantuin, Ma. Katakan pada Papa. Aku tidak bisa mengurus bisnisnya.” Callista berusaha membujuk Alice ibunya.
Michael menajamkan matanya pada putrinya itu. “Jangan meminta bantuan pada ibumu! Apa yang Papa katakan kau tidak bisa membantahnya, Callista!”
Callista mengumpat dalam hati, merutuki nasib buruknya harus meneruskan bisnis keluarganya. Sudah berkali-kali Callista mengatakan dirinya tidak ingin meneruskan bisnis keluarganya tapi tetap saja keluaganya memaksa.
“Callista sayang, menurutlah pada Papa,” kata Alice yang berusaha menengahi perdebatan antara suami dan putri bungsunya.
Callista tidak bergeming, dia terus mengumpat dalam hati. Ya, Wanita blasteran Indonesia - California ini tidak perduli dengan apa yang dikatakan oleh ayahnya. Callista memang tidak pernah berniat untuk meneruskan bisnis keluarganya. Sejak dulu Callista memang tidak berniat memimpin perusahaan keluarganya. Impian Callista adalah menjadi seorang dokter. Itu kenapa Callista selalu meminta Jessica yang menggantikan dirinya dalam memimpin perusahaan.
“Callista, sekarang Papa harus berangkat ke Paris. Ada meeting dengan rekan kerja Papa. Ingat Callista, saat Papa kembali kau sudah harus menduduki kursi kepemimpinan dan Papa ingatkan padamu jangan pernah berniat meninggalkan rumah. Kau keluar dari rumah, pengawal di depan akan menangkapmu dan menyeretmu masuk ke dalam rumah!” tukas Michael tegas.
Callista membuang napas kasar, dia memilih untuk diam dan tidak menjawab ayahnya itu. Jika dia menjawab maka ayahnya akan menunda kepergiannya.
Micahel mengecup kening Alice dan Callista. Kemudian dia langsung berjalan meninggalkan ruangan. Callista mendengus kesal, sifat ayahnya itu memang terkenal sangat keras dan tidak suka di bantah.
Alice menatap putri bungsunya yang terlihat kesal, dia mengulum senyumannya. Karena memang Michael dan Callista memiliki sifat yang sama yaitu mereka sama-sama keras kepala.
Alice melangkah mendekat ke arah Callista. “Sayang kenapa kau sering sekali membuat ayahmu marah?”
Callista mencebikan bibirnya. “Aku tidak membuatnya marah. Tapi Papa yang selalu memaksakan kehendaknya. Aku sudah katakan aku tidak ingin memimpin perusahaannya. Aku sudah memiliki bisnis restoran dan itu saja aku sering melupakan bisnisku. Belum lagi jadwalku di rumah sakit itu sangat padat. Tidak mungkin aku membagi waktuku untuk meneruskan bisnis Papa.”
“Sayang, kakakmu kasihan tidak ada yang membantunya. Belajarlah memimpin perusahaan keluarga kita sayang..” Alice berusaha membujuk putri bungsunya itu.
“Ada apa ini?” Suara Jessica beseru saat masuk ke dalam rumah. Dia menatap adiknya dan ibunya seperti membahas sesuatu yang penting. Dia langsung melangkah mendekat ke arah Callista dan ibunya.
“Callista, kau di rumah? Kakak pikir kau tidak di rumah,” kata Jessica sedikit terkejut adik bungsunya itu berada di rumah. Karena biasanya adiknya paling susah untuk pulang ke rumah.
“Terpaksa, ini karena papa menyeretku pulang ke rumah. Jika tidak mana mungkin aku berada di rumah,” ucap Callista ketus.
Jessica menggeleng pelan dan tersenyum. Kemudian dia menjawab, “Perdebatan apa lagi antara dirimu dan Papa?”
“Kau mengetahuinya, ka! Apa lagi kalau bukan papa memintaku memimpin perusahaan. Bagaimana bisa aku ini seorang Dokter. Bisnis restoranku saja tidak bisa aku tangani. Sekarang papa memintaku untuk mengurus bisnisnya. Aku tidak bisa!” ujar Callista dengan tegas. “Sudahlah, aku harus pergi sekarang. Aku ingin ke rumah sakit. Jangan ada lagi yang memaksaku pulang ke rumah.”
Callista langsung memutar tubuhnya, dan berjalan meninggalkan Alice dan Jessica. Sedangkan Jessica hanya bisa menghela napas dalam, dia tentu sangat mengenal sifat keras dari adik perempuannya itu.
“Callista tunggu, Papa memintamu untuk tidak meninggalkan rumah!” teriak Alice dengan kencang ketika Callista melangkah pergi meninggalkan rumah.
Namun, terikan Alice tetap tidak membuat Callista menghentikan langkahnya. Terlihat Callista yang bahkan tidak memperdulikan teriakan ibunya itu.
Saat Callista hendak melangkah keluar dari rumah, langkahnya terhenti ketika David assitant pribadi dari ayahnya menghalangi jalannya.
“Minggir David! Kau menghalangi jalanku!” tukas Callista dingin.
“Nona, maaf Tuan Michael tidak mengizinkan Nona untuk meninggalkan rumah. Saya mohon Nona tidak pergi,” ujar David yang berusaha menahan Callista untuk tidak meninggalkan mansion.
Callista membuang napas kasar. Kemudian, dia melayangkan tatapan tajam ke arah David. “Minggirlah sebelum aku mematahkan lehermu!”
Alice dan Jessica mendengar keributan, mereka tahu ini pasti ulah Callista yang marah karena ada yang menghalanginya. Mereka langsung berjalan ke depan mereka dan menghampiri Callista yang sedang berdebat dengan David.
“Callista, papa tidak mengizinkanmu keluar dari rumah sayang,” kata Alice mengingatkan.
Callista berdecak kesal. “Aku ini bukan anak kecil, Ma! Aku tidak suka jika dilarang seperti ini!”
“Nona, maaf tapi ini pesan dari Tuan Michael,” balas David menegaskan.
“Minggir! Aku ingin pergi. Kau ingin aku patahkan lehermu! Minggir sekarang!” seru Callista. Dia semakin menatap tajam David yang berdiri di hadapannya itu.
Tanpa menunggu, Alice langsung menggerakan kepalanya memberikan isyarat pada pengawalnya untuk menahan Callista. Dengan cepat para pengawal berhamburan menahan Callista pergi.
Callista mengumpat dalam hati, ibunya ini benar-benar membuat kesabarannya habis.
“Kalian minggir atau aku akan benar-benar mematahkan leher kalian!” Callista menghunuskan tatapan tajam, pada para pengawal yang berhamburan menghalangi langkahnya.
“Nona, Tuan Michael meminta anda untuk tidak meninggalkan rumah,” jawab seorang pengawal seraya menundukan kepalanya di hadapan Callista.
Callista tidak memperdulikan ucapan pengawalnya, dia langsung melanjutkan lagi langkanya. Namun dengan sigap para pengawalnya menahan tangan Callista. Callista menatap tajam para pengawal yang menahan dirinya. Callista langsung menepis tangan pengawalnya. Dia menendang dan menghajar pengawalnya hingga mereka semua tersungkur di lantai. David kini turun tangan, dia mencoba mengunci gerakan Callista. Namun Callista langsung menendang David hingga membuat David kini tersungkur.
“Callista!” teriak Alice dengan keras. Pandangan Alice jatuh pada pengawalnya yang sudah tersungkur di lantai. Alice melupakan satu hal, putri bungsunya sangat mampu melawan para pengawalnya.
Callista tidak memperdulikan teriakan ibunya, dia langsung berlari masuk ke dalam mobilnya dan melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh meninggalkan mansion keluarganya.
“Kenapa kalian mencegah putriku saja tidak bisa!” Suara Alice berseru dengan nada tinggi pada seluruh pengawalnya yang tersungkur di lantai akibat ulah Callista.
“M-Maafkan kami nyonya,” David menundukan kepalanya tidak berani menatap Alice.
“Ma, sudahlah. Aku sudah tahu ini pasti akan terjadi, Ma. Callista tidak suka jika kita memaksanya. Mama tahu sejak dulu Callista tidak pernah mau meneruskan bisnis keluarga. Biarkan saja, Ma, aku masih bisa menangani perusahaan,” ujar Jessica. Dia mengelus lengan Alice menenangkan ibunya dari kemarahan pada adiknya.
“Kenapa susah sekali mengatur adikmu itu Jessica. Kalau tahu begini mama tidak akan menyetujuinya saat dia mengambil kuliah dokter,“ kata Alice yang menyesal. Harusnya saat anaknya meminta kuliah dokter, dia berusaha melarangnya.
“Ma, Callista sudah bukan anak kecil lagi. Dia sudah 25 tahun, dia bisa membedakan mana yang terbaik untuk dirinya ma. Jangan terlalu memaksakan keinginan kita, Ma. Nantinya Callista akan melarikan diri,” balas Jessica mengingatkan.“Tapi saat Papamu pulang dan adikmu tidak ada di rumah. Sudah pasti Papamu itu akan marah besar Jessica!” tukas Alice kesal.
Jessice mengelus bahu Alice. “Nanti aku akan berbicara dengan Papa. Aku yakin Papa akan mengerti, Ma. Saat ini aku masih bisa menangani perusahaan kita. Jadi aku minta Mama tidak perlu memikirkan hal lainnya.”
Alice mendesah pelan. “Sebentar lagi kau akan menikah dengan Adam. Kau akan segera menjadi seorang istri. Papamu juga sudah tidak muda lagi. Kenapa Callista keras kepala sekali.”
“Ma, aku masih memiliki waktu. Sekarang ini aku masih baru akan bertunangan dengan Adam. Aku yakin Callista akan membantu perusahaan kita nanti. Tenanglah, Ma,” ujar Jessica yang berusaha menenangkan ibunya.
“Semoga saja adikmu tidak lagi keras kepala,“ balas Alice dengan helaan napas berat.
Jessica menggeleng pelan dan tersenyum, “Tenanglah ma, Callista tidak mungkin hanya diam ketika Papa sudah mengalami kesulitan dalam perusahaan.”
“Ya, semoga seperti itu,” jawab Alice daar.
“Sekarang, lebih baik kita masuk ke dalam.” Jessica langsung membawa Alice masuk ke dalam rumah. Dia meminta Alice untuk tidak lagi memikirkan hal berat. Terutama tentang Callista yang belum mau memimpin perusahaan. Sejak dulu Jessica mengetahui, adikna itu hanya mencintai pekerjaannya sebagai seorang Dokter. Namun, meski demikian Jessica percaya, Callista tidak akan mungkin hanya diam ketika ayahnya mengalami kesulitan dalam memimpin perusahaan keluarganya.
***
- To Be Continued
Latest chapter
Daniel And Callista (INDONESIA) Bab 55 Kecemburuan Yang Membuat Egois
Daniel menyandarkan punggungnya di kursi. Dia memejamkan mata lelah. Sudah tiga hari ini, dia tidak berkomunikasi dengan Callista. Sebenarnya, dia ingin sekali menghubungi Callista, tapi ego yang ada di dalam dirinya mengalahkan keinginannya. Tidak bisa dipungkiri, dia masih begitu marah melihat Callista dekat dengan Mike. Ya, meski dia sudah mendapatkan informasi, jika benar Callista menggantikan Viktor menangani pasien yang mengalami kerusakan jantung, tapi tetap saja Daniel tidak suka Callista harus dekat dengan Mike. Hal yang membuat Daniel marah, adalah ketika saat Callista membiarkan Mike menemaninya di lobby, padahal sejak awal, Daniel sudah mengatakan jangan pernah dekat dengan Mike.
Last Updated : 2020-11-14
Daniel And Callista (INDONESIA) Bab 54 Pertengkaran
Daniel turun dari mobilnya, dia membanting kasar pintu mobilnya, kemudian melangkah masuk ke dalam penthousenya. Callista turun dari mobil, dia berlari mengejar Daniel yang sudah lebih dulu masuk ke dalam penthousenya. “Daniel, tunggu, kita harus bicara..” Callista menahan lengan Daniel, hingga membuat langkah kaki Daniel terhenti. “Callista, aku lelah. Lebih baik kau langsung istirahat.” Daniel melepaskan tangan Callista yang menyentuh lengannya itu.
Last Updated : 2020-11-14
Daniel And Callista (INDONESIA) Bab 53 Ungkapan Hati
Callista melangkah keluar dari ruang operasi. Setelah berada di ruang operasi hampir tiga belas jam berada di ruang operasi, membuatnya begitu lelah. Callista melirik arloji, kini sudah pukul delapan malam. Tanpa menunda, Callista langsung menuju ruang kerjanya, mengganti pakaiannya dan bersiap-siap untuk pulang. Sebelumnya, dia mengirimkan pesan pada Daniel, untuk tidak menunggunya. Bukan tidak ingin dijemput, tapi Callista hanya tidak ingin Daniel kelelahan harus menjemputnya. Tentu Callista mengerti, kesibukan Daniel sudah menyita banyak waktu kekasihnya itu. Dia tidak ingin merepotkan kekasihnya. Terlebih jarak dari perusahaan Daniel ke Queen Hospital tidaklah dekat.
Last Updated : 2020-11-07
Daniel And Callista (INDONESIA) Bab 52 Kedatangan Adam
“Nanti sore aku akan menemputmu,” ucap Daniel saat tiba di lobby rumah sakit. Rasanya begitu berat melepas kekasihnya itu. Padahal sebelumnya, Daniel sudah meminta Callista untuk tidak bekerja. Tapi tentu Callista menolaknya. Bisa saja Daniel memaksa Callista untuk tidak bekerja, tapi Daniel memilih untuk menuruti keinginan kekasihnya itu. Ini lebih baik, demi menghindar berdebat dengannya.Callista mendesah pelan. “Apa kau itu tidak bekerja? Kau selalu menjemputku. Bukan tidak ingin dijemput, tapi aku tidak ingin kau kelelahan harus menjemputku.”
Last Updated : 2020-11-05
Daniel And Callista (INDONESIA) Bab 49 Cemburu?
Daniel menatap Callista yang tengah tertidur dalam pelukannya. Dia mengelus lembut pipi Callista. Bulu mata lentik, hidung mancung dan mungil
Daniel And Callista (INDONESIA) Bab 48 Rencana Ke Jepang
Daniel menatap Callista yang tengah memasukan pakaian miliknya ke dalam tas. Sudah sejak tadi Daniel mengatakan cukup pelayan saja yang memasukan bajunya ke dala
Daniel And Callista (INDONESIA) Bab 51 Tetaplah Disisiku
Perlahan Callista mulai membuka matanya, dia merintih kesakitan pada bagian bawahnya. Namun, dia berusaha untuk menahan rasa sakit di bagian bawahnya. Tatapan Ca
Daniel And Callista (INDONESIA) Bab 50 Completely Mine
“Daniel, kau kenapa? Apa kau melakukan kesalahan?” Callista menghentakan kakinya, saat masuk ke dalam penthouse milik Daniel. Tatapannya menatap kesa
Reviews

Chapters
Read
Download
To Readers
Jiang Sese dapat dengan jelas mengingat betapa acuh tak acuh ayahnya ketika dia mengatakan kepadanya: "Setelah kamu pergi, jangan pernah menyebutkan bahwa kamu berasal dari keluarga Jiang, jangan sampai kamu mempermalukan dirimu sendiri." Tunangannya bahkan lebih kejam, mengkritiknya dengan ekspresi menghina di wajahnya. "Jiang Sese, bagaimana kamu bisa melakukan sesuatu yang begitu menjijikkan?" Kenangan ini membangkitkan Jiang Sese yang sudah lemah.2 YINI
