loading
Home/ All /Daniel And Callista (INDONESIA)/Bab 9 Bertemu Kembali

Bab 9 Bertemu Kembali

Author: Abigail Kusuma
"publish date: " 2020-09-15 09:34:17

Suara alarm berbunyi, membuat dua wanita yang tengah tertidur pulas harus terbangun karena alarm sejak tadi tidak berhenti. Calllista dan Olivia yang masih tertidur pulas begitu terganggu karena bunyi alarm.

“Callista! Kenapa alarmmu berisik sekali! Aku masih mengantuk!” seru Olivia. Dia menutup kepalanya dengan bantal. Sunggguh alarm Callista ini benar-benar mengganggu tidurnya.

Callista mengumpat dalam hati, dengan cepat Callista mematikan ponselnya agar alarm itu tidak lagi menganggu tidurnya.

Namun saat Callista memantikan ponselnya, tiba-tiba Olivia melempar bantal yang tadi dia gunakan untuk menutup kepalanya, dengan wajah panik Olivia mengambil arloji miliknya. “Astaga Callista kita terlambat!” Suara teriakan Olivia kencang saat melihat kini sudah pukul delapan pagi.

Callista tidak bergeming, dia memilih untuk menutup matanya. Callista masih mengantuk dan rasanya dia masih belum ingin membuka matanya.

Olivia mengumpat kasar saat melihat Callista masih menutup mata. “Callista bangun! Hari ini ada meeting pemegang saham di rumah sakit! Kita tidak boleh terlambat!” Olivia menggoyangkan bahu Callista agar wanita itu bangun. Namun sialnya, Callista masih juga belum bangun.

“Astaga Callista bangun! Ini sudah jam delapan! meeting dengan pemegang saham rumah sakit jam sembilan Callista! Kita bisa habis jika kita terlambat!” teriak Olivia begitu kencang.

Callista tersentak, dia langsung membuka matanya dengan panik. “Kenapa kau tidak bilang sejak tadi Olivia! Demi Tuhan, aku benar-benar lupa kita ada meeting pagi ini.” Callista melompat turun dari ranjang. “Kau pakai kamar mandi yang di sebelah.” Callista berlari menuju kamar mandi, begitu pun dengan olivia yang langsung berlari menuju kamar mandi yang berada di kamar tamu.

Tiga puluh menit kemudian, Callista dan Olivia sudah bersiap-siap. Beruntung Callista tidak suka memakai make up tebal. Callista lebih menyukai make up tipis sedangkan Olivia kali ini dia harus rela tidak memoles make up bold. Olivia mengikuti Callista hanya memoles make up tipis di wajahnya.

“Aku saja yang membawa mobil.” Callista menyambar kunci mobil, dia tahu di saat seperti ini tidak mungkin Olivia yang membawa mobil. Bisa-bisa mereka berdua datang terlambat.

Callista dan Olivia berlari meninggalkan apartmen menuju parkiran. Mereka masuk ke dalam mobil, dengan cepat Callista menghidupkan mesin dan menginjak gas. Callista mulai mengendari mobilnya dengan kecepatan penuh meninggalkan apartemen.

“Callista! Aku belum ingin mati!” seru Olivia. Dia terus mengumpat  saat Callista mengendarai mobil dengan kecepatan penuh.

“Diamlah jangan berisik! Kau mau kita terlambat? Salahkan dirimu yang memaksa kita ke klub malam dan pulang larut, jika tidak kita tidak akan terlambat seperti ini!” jawab Callista kesal. Tatapannya tetap focus ke depan. Callista menginjak gasnya, menambah kecepatan. Ya, dia tidak mungkin membiarkan dirinya terlambat dalam meeting pertamannya dengan pemegang saham di ruamh sakit tempatnya bekerja. Jika sampai dia terlambat, ini benar-benar sungguh memalukan.

Olivia berdecak pelan. “Kau ini kenapa menyalahkanku!”

Callista tidak menjawab, dia memilih semakin menaikan kecepatannya agar cepat segera tiba di rumah sakit. Dia merutuki kecerobohannya, andai tadi dia tidak mematikan alarm sudah pasti dia tidak akan terlambat.

Perjalanan menuju Queen Hospital membutuhkan waktu satu jam dari apartemen milik Callista. Kini mobil Callista sudah memasuki halaman parkir rumah sakit, dengan cepat Callista dan Olivia melompat turun dari mobil. Mereka berjalan cepat menuju ruang meeting.

“Callista, bagaimana jika kita benar-benar terlambat? Aku baru ingat hari ini ada dua dokter baru yang bekerja di sini,” kata Olivia dengan nada cemas saat berjalan menuju ruang meeting.

“Aku tidak tahu! Kita berdoa saja tidak terlambat,” balas Callista. Dia mangatur napas dan berusaha menenangkan diri agar tidak panik.

Callista dan Olivia melangkah masuk ke dalam ruang meeting. Kali ini mereka berdua sungguh beruntung. Ternyata meeting masih belum dimulai. Pemegang saham masih belum datang. Mereka langsung bergabung dengan dokter specialis bedah lainnya.

“Callista, kita selamat meeting belum dimulai,” bisik Olivia di telinga Callista.

“Kau benar, Tuhan masih melindungi kita,” balas Callista dengan suara pelan.

Tidak lama kemudian seorang pria dengan balutan jas berwarna hitam melangkah masuk ke dalam  ruang meeting. Sosok pria tampan dengan tubuh tegap membuat perhatian para dokter muda di sana. Olivia melebarkan matanya saat melihat sosok pria yang berdiri di podium.

Seketika Olivia kembali memastikan pria itu, dia terus menatap pria itu. Namun dengan cepat Olivia menyentuh lengan Callista yang duduk di sampingnya. Lalu dia berbisik di telinga sahabatnya itu. “Callista, kau lihat pria itu? Bukannya itu pria yang tadi malam membantumu?”

Callista mengerutkan keningnya, tadi memang Callista tidak terlalu memperhatikan karena mematikan ponselnya. Kini Callista mengalihkan pandangannya saat mendengar ucapan Olivia. Dia menatap sosok pria yang berdiri di podium. Seketika Callista mematung melihat pria itu. Dia menggelengkan kepalanya pelan, dia rasa tidak yakin dengan apa yang dia lihat ini. Tapi tunggu, Callista tidak mungkin salah mengenal pria yang baru saja bertemu dengannya tadi malam.

‘Astaga dia,‘ batin Callista.

“Callista, benar pria itu yang membantumu kan?” bisik Olivia di telinga Callista.

“Shut up!” tukas Callista. Dia tidak ingin membahas mengenai pria itu.

“Selamat pagi para Dokter yang telah meluangkan waktu. Saya ingin mengenalkan Tuan Daniel Renaldy. Dia adalah salah satu pemegang saham terbesar di Queen Hospital. Kedatangannya ke sini beliau ingin menyapa kita semua. Saya persilahkan waktu dan tempat untuk Tuan Daniel Renaldy,” ucap kepala dokter yang menjadi pembuka meeting.

“Pagi, terima kasih untuk waktu kalian. Kedatangan saya di sini menyapa para dokter muda. Kedepannya saya berharap Queen Hospital tetap menjadi rumah sakit terbaik.” Daniel memberikan kata sambutan dengan suara tegas. Kini pandangan Daniel menatap sosok wanita berambut coklat yang terbalut dengan jas dokter. Daniel menyunggingkan senyuman tipis saat dirinya bertatpan dengan wanita itu.

Callista mengalihkan pandangannya saat bertatapan dengan pria itu. Dia menundukan kepalanya tidak berani menatap pria yang berdiri di podium yang sejak tadi terus memperhatikan dirinya. Demi Tuhan, saat ini Callista tidak bisa lagi menatap kedepan. Pria itu terus melirik dirinya.

“Callista, pria yang menolongmu tadi malam itu sungguh sangat tampan. Kau bisa lihat para dokter muda juga tidak berkedip melihat pria yang bernama Daniel itu,” bisik Olivia yang sejak tadi tidak henti menatap Daniel.

Callista mengumpat dalam hati. Bisa-bisanya Olivia mengatakan ini padanya. “Kau ini berisik sekali! Apa kau mau aku lempar dari ruang meeting?” tukas Callista mengancam sahabatnya itu untuk tidak lagi membahas pria yang berdiri di podium.

“CK! Bagaimana kau ini, aku hanya mengatakan pria itu sangat tampan!” cebik Olivia kesal.

Meeting berakhir, suara tepuk tangan memenuhi ruang meeting. Daniel turun dari podium dan melangkah keluar. Callista masih tidak bergeming dari tempatnya. Sedangkan para dokter lain sudah berdiri menyambut pria itu. Callista mendengus tak suka, kenapa para dokter muda bersikap terang-teramgan menyukai pria itu? Sebenarnya tanpa ditanya Callista sudah tahu alasannya. Tentu mereka menyukai pria yang memiliki kekuasaan.

“Aku rasa dunia begitu sempit hingga kita bertemu lagi, kau masih mengingatku, Dokter?” kata Pria itu dengan nada rendah, kemudian dia melirik name tag yang tetera nama Dr. Callista. “Well, aku tidak menyangka kau adalah seorang dokter?” lanjutnya dengan seringai di wajahnya.

Callista memberanikan diri mendongakan wajahnya, lalu menatap lekat pria yang berada di hadapannya itu. “Maaf, aku tidak tahu kalau kau adalah Tuan Daniel Renaldy pemegang saham di perusahaan ini.”

Daniel melangkah mendekat dan tersenyum miring. “Apa kau ingat perkataanku sebelumnya Dokter Callista?”

Callista mengangguk cepat. “Ya aku mengingatnya. Kau mengatakan aku harus membayar setalah kita bertemu. Sekarang kau bisa memberikan nomor rekeningmu, Tuan. Aku akan segera mentransfer uang yang telah kau bayarkan itu.”

“Sayangnya aku tidak membutuhkan uangmu,” jawab Daniel dengan santai.

“Tapi kau mengatakan padaku, aku harus membayarnya?” Callista mengernyitkan dahinya tidak mengerti dengan maksud dari pria yang berada di hadapannya ini.

“Right, kau benar Dokter Callista. Kau harus membayarnya tapi bukan dengan uang.” Daniel menjawab dengan senyuman tipis di wajahnya.

Callista menatap lekat Daniel. “Kau ingin aku membayarmu dengan apa?”

Kemudian Daniel mengeluarkan sesuatu dari jasnya, Callista menautkan alisnya saat Daniel memberikan kartu nama padanya. Callista mengambil kartu nama itu, dia melihat tertera nama Daniel Renaldy. Callista menarik napas dalam, dia semakin tidak mengerti dengan apa yang di maksud Daniel.

“Ini kartu namamu, lalu ini untuk apa?” tanya Callista yang masih tidak mengerti.

“Besok pagi jam sepuluh, kau datang ke perushaanku. Aku akan memberitahumu apa yang harus kau bayarkan,” tukas Daniel dingin.

“Kenapa tidak hari ini saja? Kenapa harus besok? Aku bisa membayarkannya detik ini juga.” seru Callista sedikit kesal. Namun, dia berusaha untuk tidak menunjukannya. Karena Callista tidak mungkin berani pada pria di hadapannya itu.

“Aku tidak membutuhkan uangmu Dokter Callista, kau cukup datang ke perusahaan ku besok pagi. Setelah itu aku akan memberitahumu,” balas Daniel tegas.

Daniel melirik arlojinya sebentar, lalu dia kembali menatap Callista. “Aku harus pergi dan besok pagi kau harus datang tepat waktu. Aku tidak suka jika ada yang terlambat ketika bertemu denganku.”

“Tapi-“ ucapan Callista terpotong,  Daniel sudah membalikan tubuhnya dan berjalan meninggalkan Callista. Sedangkan Callista, tidak henti mengumpat karena sikap Daniel yang semena-mena padanya. Andai Daniel bukan pemegang saham di Queen Hospital, sudah pasti Callista menendang pria yang membuat dirinya sulit itu.

***

-To Be Continued

Want to know what happens next?
Continue Reading
Previous Chapter
Next Chapter

Share the book to

  • Facebook
  • Twitter
  • Whatsapp
  • Reddit
  • Copy Link

Latest chapter

Daniel And Callista (INDONESIA)   Bab 55 Kecemburuan Yang Membuat Egois

Daniel menyandarkan punggungnya di kursi. Dia memejamkan mata lelah. Sudah tiga hari ini, dia tidak berkomunikasi dengan Callista. Sebenarnya, dia ingin sekali menghubungi Callista, tapi ego yang ada di dalam dirinya mengalahkan keinginannya. Tidak bisa dipungkiri, dia masih begitu marah melihat Callista dekat dengan Mike. Ya, meski dia sudah mendapatkan informasi, jika benar Callista menggantikan Viktor menangani pasien yang mengalami kerusakan jantung, tapi tetap saja Daniel tidak suka Callista harus dekat dengan Mike. Hal yang membuat Daniel marah, adalah ketika saat Callista membiarkan Mike menemaninya di lobby, padahal sejak awal, Daniel sudah mengatakan jangan pernah dekat dengan Mike.

Daniel And Callista (INDONESIA)   Bab 54 Pertengkaran

Daniel turun dari mobilnya, dia membanting kasar pintu mobilnya, kemudian melangkah masuk ke dalam penthousenya. Callista turun dari mobil, dia berlari mengejar Daniel yang sudah lebih dulu masuk ke dalam penthousenya. “Daniel, tunggu, kita harus bicara..” Callista menahan lengan Daniel, hingga membuat langkah kaki Daniel terhenti. “Callista, aku lelah. Lebih baik kau langsung istirahat.” Daniel melepaskan tangan Callista yang menyentuh lengannya itu.

Daniel And Callista (INDONESIA)   Bab 53 Ungkapan Hati

Callista melangkah keluar dari ruang operasi. Setelah berada di ruang operasi hampir tiga belas jam berada di ruang operasi, membuatnya begitu lelah. Callista melirik arloji, kini sudah pukul delapan malam. Tanpa menunda, Callista langsung menuju ruang kerjanya, mengganti pakaiannya dan bersiap-siap untuk pulang. Sebelumnya, dia mengirimkan pesan pada Daniel, untuk tidak menunggunya. Bukan tidak ingin dijemput, tapi Callista hanya tidak ingin Daniel kelelahan harus menjemputnya. Tentu Callista mengerti, kesibukan Daniel sudah menyita banyak waktu kekasihnya itu. Dia tidak ingin merepotkan kekasihnya. Terlebih jarak dari perusahaan Daniel ke Queen Hospital tidaklah dekat.

Daniel And Callista (INDONESIA)   Bab 52 Kedatangan Adam

“Nanti sore aku akan menemputmu,” ucap Daniel saat tiba di lobby rumah sakit. Rasanya begitu berat melepas kekasihnya itu. Padahal sebelumnya, Daniel sudah meminta Callista untuk tidak bekerja. Tapi tentu Callista menolaknya. Bisa saja Daniel memaksa Callista untuk tidak bekerja, tapi Daniel memilih untuk menuruti keinginan kekasihnya itu. Ini lebih baik, demi menghindar berdebat dengannya.Callista mendesah pelan. “Apa kau itu tidak bekerja? Kau selalu menjemputku. Bukan tidak ingin dijemput, tapi aku tidak ingin kau kelelahan harus menjemputku.”

Daniel And Callista (INDONESIA)   Bab 51 Tetaplah Disisiku

Perlahan Callista mulai membuka matanya, dia merintih kesakitan pada bagian bawahnya. Namun, dia berusaha untuk menahan rasa sakit di bagian bawahnya. Tatapan Callista kini teralih melihat sosok pria yang masih tertidur pulas di sampingnya. Seketika senyum di bibir Callista terukir mengingat kejadian tadi malam. Sentuhan Daniel, tatapan pria itu yang begitu memuja tubuhnya. Bahkan sepanjang malam, Daniel selalu terus menginginkannya. Pria itu tidak henti memuji dirinya. Tadi malam, adalah hal terindah dalam hidup Callista. Dimana dia memberikan hal yang paling berharga dari dirinya, untuk pria yang dia cintai.Callista membawa tangannya menyentuh dengan lembut wajah Daniel. Rahang t

Daniel And Callista (INDONESIA)   Bab 50 Completely Mine

“Daniel, kau kenapa? Apa kau melakukan kesalahan?” Callista menghentakan kakinya, saat masuk ke dalam penthouse milik Daniel. Tatapannya menatap kesal Daniel yang sejak tadi mendiaminya.“Tidak, aku hanya lelah,” jawab Daniel dingin. Dia melangkah masuk ke dalam kamarnya. Callista langsung mengikuti Daniel masuk ke dalam kamar pria itu. “Kau tidak pernah seperti ini, katakan padaku ada apa?” Callista menahan lengan Daniel. Kesabarannya sudah habis. Sepanjang perjalanan, Daniel te

Daniel And Callista (INDONESIA)   Bab 33 Sebuah Keraguan

Callista masih menyimak dan memperhatikan

Daniel And Callista (INDONESIA)   Bab 32 Menginterogasi Olivia

Olivia melangkah keluar dari ruang pemeriksaan. Hari ini dia memiliki jadwal yang cukup banyak karena harus menggantikan Callista. Meski lelah, tapi Olivia tidak

Daniel And Callista (INDONESIA)   Bab 31 Daniel Vs Mike

Kini Daniel dan Callista tengah berada di sebuah restoran terekat dengan rumah sakit. Tidak lama kemudian, Pelayan mengantarkan salmon steak dan mashed potato yang di pesan oleh Da

Daniel And Callista (INDONESIA)   Bab 30 Mengunjungi Kekasihku

“Sekarang papa ingin bertanya sesuatu padamu,” tukas Michael.

More Chapters
Download the Book
GoodNovel

Download the book for free

Download
Search what you want
Library
Browse
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystemFantasyLGBTQ+ArnoldMM Romancegenre22- Englishgenre26- EnglishEnglishgenre27-Englishgenre28-英语
Short Stories
SkyMystery and suspenseModern urbanDoomsday survivalAction movieScience fiction movieRomantic movieGory violenceRomanceCampusMystery/ThrillerImaginationRebirthEmotional RealismWerewolfhopedreamhappinessPeaceFriendshipSmartHappyViolentGentlePowerfulGory massacreMurderHistorical warFantasy adventureScience fictionTrain station
CreateWriter BenefitContest
Hot Genres
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystem
Contact Us
About UsHelp & SuggestionBussiness
Resources
Download AppsWriter BenefitContent policyKeywordsHot SearchesBook ReviewFanFictionFAQFAQ-IDFAQ-FILFAQ-THFAQ-JAFAQ-ARFAQ-ESFAQ-KOFAQ-DEFAQ-FRFAQ-PTGoodNovel vs Competitors
Community
Facebook Group
Follow Us
GoodNovel
Copyright ©‌ 2026 GoodNovel
Term of use|Privacy