loading
Home/ All /Daniel And Callista (INDONESIA)/Bab 7 Bagaikan Mawar Berduri

Bab 7 Bagaikan Mawar Berduri

Author: Abigail Kusuma
"publish date: " 2020-09-15 05:14:24

“Jika kalian berani, jangan melawan seorang wanita!” desis pria itu saat mengunci pergerakan dari anak buah Michael.

Callista terkesiap melihat ada sosok pria yang membantunya. Rasanya dia ingin menolak bantuan itu tapi tidak mungkin. Akhirnya Callista membiarkan pria itu membantunya melawan pengawal ayahnya.

Callista kembali melawan pengawal dari ayahnya, hingga mereka tersungkur di lantai dan meninggalkan Callista.

“Terima kasih,” ucap Callista pada pria di hadapanya itu. Namun pria itu tidak menjawab saat Callista mengucapkan terima kasih.

Olivia mulai membuka matanya, sejak tadi saat Callista berkelahi dia terus memejamkan matanya karena tidak berani menatap sahabatnya. Saat Olivia melihat pengawal yang di kirim ayahnya Callista sudah tidak ada, dengan cepat Olivia langsung berlari menghampiri Callista. “Kau tidak apa-apa, Callista? Kau tidak terluka, kan?” Olivia memegang bahu Callista, memeriksa sahabatnya itu memiliki terluka atau tidak.

“Aku baik-baik saja,” balas Callista.

“Maaf Nona, anda harus mengganti kerusakan ini,” kata sang manager yang kini menghampiri Callista.

“Sialan!” umpat Callista. Jika bukan karena ulah ayahnya, tidak mungkin dia harus menngganti kerusakan ini.

“Biar aku yang membayar.” Pria yang tadi membantu Callista menyerahkan black card miliknya pada sang manager untuk membayar semua kerusakan.

Callista tersentak saat pria itu langsung memberikan black card pada manager klub malam itu. “Tuan? Tunggu kenapa anda membayarnya? Aku bisa membayarnya, Tuan.”

Pria itu tidak menjawab, setelah menyelesaikan pembayaran dia langsung berjalan meninggalkan Callista. Callista berteriak agar pria itu berhenti tapi pria itu tidak merespon dirinya.

Dengan cepat Callista berlari mengejar pria itu dan kini dia berhasil menahan lengan pria itu. “Tunggu tuan."

Pria itu membalikan diri, lalu dia menatap lekat manik mata biru Callista. “Jika kau ingin berterima kasih, maka tidak perlu berterima kasih,” kata pria itu dengan suara dingin.

“Bukan, aku bukan hanya ingin berterima kasih. Tapi aku ingin mengganti uangmu, Tuan. Aku tidak ingin memiiki hutang. Berikan nomor rekeningmu, aku akan mentransfer uang ke rekeninmu,” jawab Callista. Dia membalas tatapan pria bermata coklat di hadapannya itu.

Pria itu melangkah mendekat dan tersenyum miring. “Jika suatu saat kita bertemu lagi, kau bisa membayarnya. Tapi saat ini aku tidak menerima uang darimu.”

Callista mengerjap, dia tidak mengerti dengan apa yang di katakan pria itu. Pria itu terus tersenyum ke arah Callista. Tubuh tegap, wajah yang tampan dan mata berwarna cokat itu benar-benar membuat Callista tidak mampu mengalihkan pandanganya. Kemudian pria itu membalikan tubuhnya dan berjalan meninggalkan Callista.

Olivia berlari menghampiri Callista yang berada di luar. Dengan cepat dia langsung menepuk bahu sahabatnya yang tengah melamun. “Callista, kau kenapa?” tegur Olivia yang sontak membuat Callista mengentikan lamunannya.

“Ah, tidak-tidak. Aku tidak apa-apa,” jawab Callista cepat.

“Lebih baik kita pulang saja sekarang,” balas Olivia.

Callista menganggik setuju. Kini Callista dan Olivia berjalan meninggalkan klub malam itu. Olivia beruntung, dia dan Callista datang lebih awal hingga temannnya yang memiliki klub malam itu, tidak melihat kejadian tadi. Jika saja temannya melihat, pasti Olivia sungguh merasa tidak enak pada temannya. Dan akibat kekacauan malam ini, Olivia mengajak Callista untuk segera pulang.

***

“Tuan Muda,” sapa Harry menundukan kepalanya saat melihat Daniel melangkah masuk ke dalam rumah.

“Kau di sini? Apa ayahku memanggilmu?” Daniel mengerutkan keningnya, dia menatap lekat Harry. Tidak biasanya assistantnya itu datang ke rumahnya di malam hari.

Harry mengangguk. “Tuan Besar Gio memanggil saya untuk membahas beberapa pekerjaan.”

“Sekarang di mana ayahku?” tanya Daniel dingin.

“Tuan Besar Gio sedang beristiahat, Tuan,” jawab Harry.

Daniel mengangguk singkat. “Harry aku ingin bertanya padamu.”

“Maaf, apa yang ingin Tuan tanyakan?” tanya Harry dengan tatapan begitu serius ke arah Daniel.

“Aku ingin bertanya, apa pandanganmu jika melihat seorang wanita yang sangat cantik, tapi dia terlihat tangguh. Dia bagai mawar yang di luar begitu indah. Tapi ketika kau menyentuh mawar itu, tanganmu bisa terluka dengan duri yang mengelilingi mawar itu,” ujar Daniel. Dia berkata dengan begitu santai, namun tatapaannya begitu serius.

“Tuan, menurut saya wanita tidak selamanya lemah. Meski pada dasarnya para wanita memang harus kita jaga. Tapi banyak juga wanita yang tidak ingin dianggap lemah. Kebanyakan wanita dengan ciri yang Tuan maksud memiliki harga diri yang tinggi. Dan pasti wanita yang Tuan maksud memiliki sifat keras.” Harry menjelaskan dengan apa yang dia pikirkan tentang sosok wanita yang dimaksud oleh Daniel.

Daniel mengangguk-anggukan kepalanya. “Sepertinya apa yang kau nilai tentang wanita itu sudah menjelaskan tentang karakter wanita itu,” balas Daniel yang membenarkan perkataan assistantnya itu. “Harry, apa kau sudah mencari wanita yang tepat untukku? Wanita itu harus menemaniku di pertunangan Adam dan juga Mr. Jonathan. Apa kau sudah menemukannya?” 

“Tuan maaf, sebelumnya saya sudah mengirimkan beberapa foto dari anak pengusaha terkenal di sini tuan. Tapi kemarin tuan tidak memilih satu pun dari mereka,” jawab Harry hati-hati.

Daniel membuang napas kasar. “Foto yang kau berikan tidak ada yang aku suka. Aku suka wanita yang cantik natural. Tidak berlebihan, sedangkan kau mengirimkan wanita yang berpenampilan berlebihan.”

“Tuan, tapi kebanyakan wanita dari kalangan atas, maaf maksud saya jika mereka

Nona dari keluarga kaya mereka akan berpenampilan seperti yang Tuan maksud.” Harry berusaha menjelaskan.

“Kalau begitu cari dari kalangan biasa. Tidak perlu berlebihan. Aku tidak menyukai wanita yang  berpenampilan berlebihan!” tukas Daniel dingin.

“Tuan, bukannya sebelumnya anda meminta wanita dari anak pengusaha terkenal?” tanya Harry memastikan. Pasalnya, Daniel mengatakan padanya jika dia harus mencari seorang wanita berpendidikan tinggi dan juga anak dari pengusaha terkenal untuk bisa menemaninya nanti di pesta.

Daniel mengumpat pelan. “Ini karena Adam, dia terus mendesakku mencari anak dari pengusaha. Tapi sekarang lebih baik kau mencari yang lain. Tidak masalah dia hanya karyawan biasa, perawat, atau pekerjaan apa pun selama wanita itu berasal dari wanita baik-baik.”

Harry mengangguk patuh. “Baik Tuan, saya akan mencari wania yang anda inginkan.”

“Satu lagi, mungkin wanita bermata biru. Terlihat sangat cantik bukan? Wanita bermata biru dan berambut coklat,” tambah Daniel dengan seringai di wajahnya.

“Tuan, sebelumnya ada wanita bermata biru bernama Nona Alana. Tapi hanya berbeda rambut Nona Alana berwarna pirang. Apa Tuan menginginkan Nona Alana?” Harry berusaha menawarakan salah satu pilihannya.

“Alana Foland, aku mengenal wanita itu. Tidak aku tidak menginginkan wanita seperti Alana Foland. Aku tidak suka wanita terlalu angkuh. Dia selau memandang rendah seseorang. Bukan wanita seperti itu yang aku inginlan. Lagi pula, aku menginginkan wanita berambut coklat. Sepertinya jauh lebih menganggumkan dengan perpaduan mata yang indah.” Daniel membayangkan wanita berambut coklat dann bermata biru.

“Baik Tuan, saya akaan berusaha mencarinya,” jawab Harry. “Tuan, saya juga ingin mengingatkan besok adalah rapat pemegang saham di Queen Hospital.”

Daniel mengangguk samar. “Ya, aku mengingatnya. Sudah lama aku tidak melihat perkembangan rumah sakit itu secara langsung. Aku hanya melihat dari laporan yang kau berikan ruamh sakit itu berkembang sangat pesat. Rencananya aku akan membuka cabang Queen Hospital di Europe.”

“Benar tuan, saat ini Queen Hospital memang sangat maju dan berkembang dengan pesat. Saya yakin, jika kita memperluas cabang Queen Hospital tentu akan membuat Queen Hospital semakin memiliki reputasi yang sangat baik,” ujar Harry yang membenarkan perkataan Daniel.

“Aku ingin beristirahat. Besok setelah rapat pemegang saham, aku ingin lebih bersantai dan kosongkan jadwal,” tukas Daniel dingin.

“Baik tuan,” jawab Harry.

Kemudian, Daniel berjalan meninggalkan Harry menuju kamar. Namun langkah Daniel terhenti ketika melihat Alin turun dari tangga. Melihat Alin menghampiri Daniel, dengan cepat Harry menundukan kepalanya lalu undur diri.

“Daniel, Mama ingin bicara pada mu!” kata Alin tegas.

“Ada apa?” tanya Daniel sedikit malas. Terakhir kali Alin membahas tentang perjodohan yang membuat pria itu enggan bebricara dengan ibunya.

“Mama tahu kau takut Mama bicara tentang perjodohan, bukan?” Alin bisa menebak dari raut wajah putranya itu yang tidak ingin membahas tentang perjodohan.

Daniel membuang napas kasar. “Jangan membahas itu.”

Alin melangkah mendekat, dan tersenyum. “Tidak sayang, kali ini mama tidak membahas itu.”

“Lalu apa yang Mama inginkan?” Daniel menautkan alisnya. Tatapanna menatap dingin ibunya itu.

“Adikmu sudah resmi menjadi dokter di Queen Hospital. Mama ingin kau terus menjaga dan mengawasi adikmu. Mama tidak ingin dia kembali tinggal di Paris. Mama ingin kalian

tinggal di sini. Kau sebagai kakak tidak boleh lengah. Kau harus menjaga adikmu dengan baik,” kata Alin mengingatkan.

“Aku tahu, sekarang aku ingin beristirahat,“ balas Daniel datar.

“Ya, istirahatlah.” Alin mengelus rahang putranya itu.

Daniel melangkah masuk ke dalam kamar, terdengar dering ponsel. Daniel mengambil ponsel di dalam saku jas. Menatap ke layar tertera nama Adam mengirimkan pesan. Daniel mengusap layar untuk membuka pesan dari Adam. Kemudian, dia langsung membaca pesan masuk dari sahabatnya itu.

*Sialan! Kau di mana? Kenapa kau pergi dari klub tidak berpamitan? Sialan kau Daniel!*

Daniel tersenyum tipis saat membaca pesan dari Adam. Dia kembali memasukan ponsel ke dalam saku jas. Lalu kembali melangkah masuk ke dalam kamar.

***

-To Be Continued

Want to know what happens next?
Continue Reading
Previous Chapter
Next Chapter

Share the book to

  • Facebook
  • Twitter
  • Whatsapp
  • Reddit
  • Copy Link

Latest chapter

Daniel And Callista (INDONESIA)   Bab 55 Kecemburuan Yang Membuat Egois

Daniel menyandarkan punggungnya di kursi. Dia memejamkan mata lelah. Sudah tiga hari ini, dia tidak berkomunikasi dengan Callista. Sebenarnya, dia ingin sekali menghubungi Callista, tapi ego yang ada di dalam dirinya mengalahkan keinginannya. Tidak bisa dipungkiri, dia masih begitu marah melihat Callista dekat dengan Mike. Ya, meski dia sudah mendapatkan informasi, jika benar Callista menggantikan Viktor menangani pasien yang mengalami kerusakan jantung, tapi tetap saja Daniel tidak suka Callista harus dekat dengan Mike. Hal yang membuat Daniel marah, adalah ketika saat Callista membiarkan Mike menemaninya di lobby, padahal sejak awal, Daniel sudah mengatakan jangan pernah dekat dengan Mike.

Daniel And Callista (INDONESIA)   Bab 54 Pertengkaran

Daniel turun dari mobilnya, dia membanting kasar pintu mobilnya, kemudian melangkah masuk ke dalam penthousenya. Callista turun dari mobil, dia berlari mengejar Daniel yang sudah lebih dulu masuk ke dalam penthousenya. “Daniel, tunggu, kita harus bicara..” Callista menahan lengan Daniel, hingga membuat langkah kaki Daniel terhenti. “Callista, aku lelah. Lebih baik kau langsung istirahat.” Daniel melepaskan tangan Callista yang menyentuh lengannya itu.

Daniel And Callista (INDONESIA)   Bab 53 Ungkapan Hati

Callista melangkah keluar dari ruang operasi. Setelah berada di ruang operasi hampir tiga belas jam berada di ruang operasi, membuatnya begitu lelah. Callista melirik arloji, kini sudah pukul delapan malam. Tanpa menunda, Callista langsung menuju ruang kerjanya, mengganti pakaiannya dan bersiap-siap untuk pulang. Sebelumnya, dia mengirimkan pesan pada Daniel, untuk tidak menunggunya. Bukan tidak ingin dijemput, tapi Callista hanya tidak ingin Daniel kelelahan harus menjemputnya. Tentu Callista mengerti, kesibukan Daniel sudah menyita banyak waktu kekasihnya itu. Dia tidak ingin merepotkan kekasihnya. Terlebih jarak dari perusahaan Daniel ke Queen Hospital tidaklah dekat.

Daniel And Callista (INDONESIA)   Bab 52 Kedatangan Adam

“Nanti sore aku akan menemputmu,” ucap Daniel saat tiba di lobby rumah sakit. Rasanya begitu berat melepas kekasihnya itu. Padahal sebelumnya, Daniel sudah meminta Callista untuk tidak bekerja. Tapi tentu Callista menolaknya. Bisa saja Daniel memaksa Callista untuk tidak bekerja, tapi Daniel memilih untuk menuruti keinginan kekasihnya itu. Ini lebih baik, demi menghindar berdebat dengannya.Callista mendesah pelan. “Apa kau itu tidak bekerja? Kau selalu menjemputku. Bukan tidak ingin dijemput, tapi aku tidak ingin kau kelelahan harus menjemputku.”

Daniel And Callista (INDONESIA)   Bab 51 Tetaplah Disisiku

Perlahan Callista mulai membuka matanya, dia merintih kesakitan pada bagian bawahnya. Namun, dia berusaha untuk menahan rasa sakit di bagian bawahnya. Tatapan Callista kini teralih melihat sosok pria yang masih tertidur pulas di sampingnya. Seketika senyum di bibir Callista terukir mengingat kejadian tadi malam. Sentuhan Daniel, tatapan pria itu yang begitu memuja tubuhnya. Bahkan sepanjang malam, Daniel selalu terus menginginkannya. Pria itu tidak henti memuji dirinya. Tadi malam, adalah hal terindah dalam hidup Callista. Dimana dia memberikan hal yang paling berharga dari dirinya, untuk pria yang dia cintai.Callista membawa tangannya menyentuh dengan lembut wajah Daniel. Rahang t

Daniel And Callista (INDONESIA)   Bab 50 Completely Mine

“Daniel, kau kenapa? Apa kau melakukan kesalahan?” Callista menghentakan kakinya, saat masuk ke dalam penthouse milik Daniel. Tatapannya menatap kesal Daniel yang sejak tadi mendiaminya.“Tidak, aku hanya lelah,” jawab Daniel dingin. Dia melangkah masuk ke dalam kamarnya. Callista langsung mengikuti Daniel masuk ke dalam kamar pria itu. “Kau tidak pernah seperti ini, katakan padaku ada apa?” Callista menahan lengan Daniel. Kesabarannya sudah habis. Sepanjang perjalanan, Daniel te

Daniel And Callista (INDONESIA)   Bab 49 Cemburu?

Daniel menatap Callista yang tengah tertidur dalam pelukannya. Dia mengelus lembut pipi Callista. Bulu mata lentik, hidung mancung dan mungil

Daniel And Callista (INDONESIA)   Bab 48 ­­­­­­­­­Rencana Ke Jepang

Daniel menatap Callista yang tengah memasukan pakaian miliknya ke dalam tas. Sudah sejak tadi Daniel mengatakan cukup pelayan saja yang memasukan bajunya ke dala

Daniel And Callista (INDONESIA)   Bab 47 Aku mencintaimu

Kondisi Daniel berangsur membaik. Setiap harinya Callista selalu menjaga Daniel. Bahkan Callista akan selalu menginap di ruang rawat Daniel, hanya demi memastik

Daniel And Callista (INDONESIA)   Bab 46 Hampir Kehilanganmu

Sudah satu minggu Daniel tidak sadarkan diri. Operasi Daniel berjalan lancar. Meski Callista berhasil menyelamatkan Daniel dari masa kritisny

More Chapters
Download the Book
GoodNovel

Download the book for free

Download
Search what you want
Library
Browse
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystemFantasyLGBTQ+ArnoldMM Romancegenre22- Englishgenre26- EnglishEnglishgenre27-Englishgenre28-英语
Short Stories
SkyMystery and suspenseModern urbanDoomsday survivalAction movieScience fiction movieRomantic movieGory violenceRomanceCampusMystery/ThrillerImaginationRebirthEmotional RealismWerewolfhopedreamhappinessPeaceFriendshipSmartHappyViolentGentlePowerfulGory massacreMurderHistorical warFantasy adventureScience fictionTrain station
CreateWriter BenefitContest
Hot Genres
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystem
Contact Us
About UsHelp & SuggestionBussiness
Resources
Download AppsWriter BenefitContent policyKeywordsHot SearchesBook ReviewFanFictionFAQFAQ-IDFAQ-FILFAQ-THFAQ-JAFAQ-ARFAQ-ESFAQ-KOFAQ-DEFAQ-FRFAQ-PTGoodNovel vs Competitors
Community
Facebook Group
Follow Us
GoodNovel
Copyright ©‌ 2026 GoodNovel
Term of use|Privacy