Download the book for free
Bab 5 Bersenang-senang
Author: Abigail KusumaCallista berjalan keluar dari ruang operasi, Setelah sepuluh jam berada di ruang operasi. Membuat Callista langsung duduk di lantai meluruskan kakinya lelah. Tubuhnya begitu remuk, bahkan rasanya dia tidak mampu lagi berdiri. Tidak hanya Callista, Olivia juga langsung duduk di lantai bersebelahan dengan Callista. Kedua wanita itu merasakan lelah. Tapi di sisi lain mereka puas karena pasien berhasil diselamatkan.
“Callista, nanti malam jangan lupa temani aku ke klub malam temanku. Aku sudah berjanji dengannya untuk datang ke klub malam miliknya. Jadi jangan sampai batal. Aku malu jika harus membatalkannya,” kata Olivia mengingatkan.
Callista menarik napas panjang, lalu menghembuskan perlahan. Dia menyandarkan punggungnya ke dinding. “Bisakah kau diam, Olivia? Kita baru saja selesai operasi. Sepuluh jam membuat tubuhku remuk. Dan kau masih saja berisik tentang ke klub malam. Memangnya kau ini tidak lelah?”
Olivia berdecak kesal. “Aku sudah berjanji dengan temanku. Kita tidak boleh tidak datang.” Olivia mengambil ponselnya di saku baju dan menatap ke layar. “Sekarang masih jam tiga sore, kita bisa segera pulang. Nanti malam jam sembilan aku akan menjemputmu.”
Callista mengumpat dalam hati. Jika bukan karena sudah bejanji dengan sahabatnya ini. Dia sudah pasti memilih untuk tidur satu harian di rumah. Tubuhnya saja terasa begitu remuk. Tapi jika membatalkan pasti Olivia akan marah dan tidak mau bicara dengannya.
“Baiklah, tapi kita jangan minum. Kau tahu aku lemah alkohol dan kau juga. Aku tidak ingin harus menggeretmu keluar dari klub. Berat! Kau tahu itu!” tukas Callista memperingatkan.
“Memangnya aku ini gemuk? Kurang ajar sekali!” cebik Olivia kesal.
Callista mengedikan bahunya. “Mungkin.”
Olivia berdecak pelan. “Matamu sakit, Callista mengatakan aku ini gemuk! Yang benar saja tinggiku 170 cm dengan berat 60 kg. Aku sudah memiliki tubuh yang indah!” balas Olivia. Dia tidak terima jika dikatakan gemuk oleh sahabatnya itu.
“Terserahlah, aku ingin segera kembali ke ruanganku dan langsung pulang. Saat ini aku butuh berendam.” Callista beranjak, dia langsung berjalan menuju ruang kerjanya. Dia ingin mengambil tas dan kunci mobil, setelah itu segera kembali ke apartemen. Itulah yang di pikirkan Callista.
Olivia menghela napas panjang saat melihat Callista berjalan meninggalkannya. Tapi paling tidak Callista akan menemani dirinya nanti malam. Itu sudah lebih dari cukup. Kemudian Olivia beranjak dan langsung menuju ruang kerjanya. Dia juga ingin segera pulang, karena nanti malam dirinya harus menjemput Callista.
Saat Callista tiba di ruang kerjanya, dering ponsel miliknya tidak juga berhenti. Dia mengambil ponsel dan menatap ke layar. Callista langsung mematikan ponsel dan menyimpannya di dalam tas. Bagaimana tidak? Ayahnya tidak berhenti menghubungi untuk meminta Callista pulang ke rumah.
Tanpa memperdulikan panggilan telepon itu, Callista mengambil tas dan kunci mobil. Dia langsung berjalan keluar dari ruang kerja menuju parkiran mobil. Setidaknya kini Callista masih memiliki waktu sebelum menemani Olivia nanti malam. Dia akan memilih berendam untuk merilekskan otot tubuhnya yang mulai kaku.
***
“Tuan Muda,” sapa Harry menundukan kepalanya saat mamasuki ruang kerja Daniel.
“Ada apa?” tanya Daniel dingin tanpa melihat ke arah Harry.
“Tuan, dari tadi Nona Rossa terus menghubungi anda, Tuan,” jawab Harry hati-hati.
“Katakan padanya, aku tidak ingin di ganggu olehnya! Berikan peringatan tegas jangan pernah mencoba lagi menghubungiku!” balas Daniel dengan nada tak suka saat mendengar wanita itu masih terus menghubunginya. Berkali-kali Rossa mencoba menghubunginya. Bahkan wanita itu tidak pernah lelah, ketika Daniel terus menolaknya. Namun, Daniel tidak akan perduli pada wanita itu.
“Baik tuan,” jawab Harry. “Maaf Tuan, anda juga memiliki panggilan telepon lainnya sudah sejak kemarin.”
Daniel membuang napas kasar, kini dia mengalihkan pandangannya dan menatap Harry yang berdiri di hadapannya itu. “Siapa lagi yang menghubungiku? Bukannya aku sudah mengatakan kalau urusan pekerjaan harus melewatimu?”
“M-Maaf, Tuan. Tapi Tuan Adam terus menghubungi anda sejak kemarin,” jawab Harry gugup.
Dering ponsel milik Daniel kembali terdengar, ponsel yang kini berada di genggaman tangan Harry ini terus berdering sejak tadi.
“Berikan ponselku,” tukas Daniel. Harry mengangguk patuh, lalu memberikan ponsel yang di genggamannya pada Daniel.
Daniel menerima ponsel, dia menatap ke layar tertera nama Adam. Daniel menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan. Sebelum kemudian meletakan ponselnya mendekat ke telinganya. “Kenapa kau menghubungiku?” Suara Daniel terdengar begitu dingin saat panggilan sudah terhubung.
“Daniel! Kau ini benar-benar! Sahabatmu menghubungimu, kenapa kau tidak menyapa dengan baik?” seru Adam dari seberang line.
“Cepat katakan apa yang kau inginkan! Aku sibuk!”
“CK! Malam ini aku ingin mengajakmu, aku ke klub malam yang sering kita kujungi dulu. Kau mau, kan?”
“Tidak bisa, aku sibuk!”
“Kau itu kapan tidak sibuknya Daniel? Kau ini akan selalu sibuk!”
“Diamlah, jangan menggangguku! Sudahku katakan aku sibuk!”
“Malam ini semua berkumpul. Andre dan Taylor juga datang. Aku tidak mau tahu kau harus tetap datang. Jangan sampai kau tidak datang!”
Panggilan terputus, Adam lebih dulu memutuskan panggilannya. Daniel tidak meperdulikannya, lalu dia memeberikan ponsel itu pada Harry. Sudah sejak kemarin Daniel memang tidak ingin di ganggu.
“Tuan, apa malam ini Tuan akan pergi?” Harry bertanya dengan hati-hati saat menerima ponsel itu.
“Tidak,” jawab Daniel tegas.
“Tuan maaf kenapa tuan tidak pergi saja? Menurut saya ini agar Tuan jauh lebih menenangkan pikiran anda.” Harry memberikan saran, dia tahu memang saat ini Daniel membutuhkan waktu bersantai. Sejak kepulangan dari Barcelona Daniel memang terus bekerja. Bahkan Daniel selalu pulang larut malam.
“Aku sedang tidak ingin. Sekarang kita ke ruang rapat, sebentar lagi aku ada meeting dengan Mr.Alfred,” kata Daniel mengingatkan. Harry mengangguk patuh. Lalu Daniel beranjak dari tempat duduknya, dia berjalan keluar dari ruang kerjanya. Harry langsung segera mengikuti Daniel dari belakang.
***
Callista mematut cermin, tubuhnya sudah terbalut dengan gaun berwarna silver. Gaun yang sangat cantik memperlihatkan lengkuk tubuhnya yang sempurna. Belahan gaun ini hingga ke pangkal paha. Membuat kaki jenjang dan indah Callista terlihat sangat menawan. Tidak hanya itu, Rambut coklatnya tergerai begitu indah menutupi punggung telanjangnya. Polesan make up tipis penyempurna penampilan Callista malam ini. Ya, kini penampilan Callista begitu mengagumkan.
Suara dering ponsel terdengar, Callista mengambil ponselnya dam menatap kelayar ada pesan masuk dari Olivia. Dia langsung segera membaca pesan masuk dari sahabatnya itu.
*Aku sudah di lobby, segera turun princess jangan membuatku menunggu lama*
Callista menghela napas kasar setelah membaca pesan masuk dari Olivia. Dia mengambil tas dan ponselnya lalu berjalan meninggalkan apartemen.
Di lobby, Callista sudah melihat Olivia dengan balutan gaun berwarna merah memperlihatkan belahan dada Olivia. Sahabatnya itu terlihat sangat seksi dan menggoda. Olivia memang cantik dan seksi. Dia tidak kalah cantik dengan Callista. Bedanya, Callista lebih menyukai make up tipis. Sedangkan Olivia malam ini memperlihatkan make up bold dengan lipstik merah.
“Oh astaga Callista, lihatlah? Kau memang sangat cantik! Gaunmu sangat indah.” Suara Oliva berseru saat Callista sudah berada di hadapannya. Dia membalikan tubuh Callista, melihat dengan jelas punggung telanjang Callista yang begitu sempurna. “Damn it! Kau sangat cantik,“ puji Olivia yang terus menatap gaun yang dipakai Callista malam ini.
Callista mendengus. “Jangan berlebihan. Kau tidak lihat? Kau ini sangat seksi dengan gaun merahmu ini aku yakin semua pria tidak berhenti menggodamu. Dan aku sangat yakin, akan banyak pria di sana yang mengejarmu.”
Olvia memutar bola matanya malas. “Kau salah, gaun berwarna silvermu ini yang membuat para pria bertekuk lutut padamu. Aku hanya memakai gaun berwarana merah dan tidak berlebihan. Aku yakin saat di klub nanti, akan banyak pria yang mendekatimu,“ kata Olivia dengan yakin. “Tapi ingat, jangan pernah menolak para pria yang mendekatimu. Apa kau ini tidak ingin menjalin hubungan dengan seorang pria?”
Callista membuang napas kasar. “Aku tidak ingin membahas itu lagi lebih baik kita berangkat, sekarang sebelum aku berubah pikiran dan memilih untuk tidur di kamarku. Menikmati waktu bersantai di kamar lebih membuatku nyaman dari pada harus menemanimu ke klub malam.”
Olivia berdecak pelan. “Kau ini parah sekali, sudah ayo kita berangkat sekarang,“ ajak Olivia cepat. Dia tidak ingin Callista mengubah rencananya.
Callista mengangguk, lalu masuk ke dalam mobil Olivia. Malam ini Olivia khusus menjemput Callista karena memang Callista mengatakan sedang tidak ingin membawa mobil. Terpaksa Olivia menjemput, jika tidak sahabatnya itu pasti akan menolak untuk menemani dirinya.
Tidal lama kemudian, mobil Olivia mulai berjalan meninggalkan lobby apartemen Callista.
***
-To Be Continued
Share the book to
Facebook
Twitter
Whatsapp
Reddit
Copy Link
Latest chapter
Daniel And Callista (INDONESIA) Bab 55 Kecemburuan Yang Membuat Egois
Daniel menyandarkan punggungnya di kursi. Dia memejamkan mata lelah. Sudah tiga hari ini, dia tidak berkomunikasi dengan Callista. Sebenarnya, dia ingin sekali menghubungi Callista, tapi ego yang ada di dalam dirinya mengalahkan keinginannya. Tidak bisa dipungkiri, dia masih begitu marah melihat Callista dekat dengan Mike. Ya, meski dia sudah mendapatkan informasi, jika benar Callista menggantikan Viktor menangani pasien yang mengalami kerusakan jantung, tapi tetap saja Daniel tidak suka Callista harus dekat dengan Mike. Hal yang membuat Daniel marah, adalah ketika saat Callista membiarkan Mike menemaninya di lobby, padahal sejak awal, Daniel sudah mengatakan jangan pernah dekat dengan Mike.
Daniel And Callista (INDONESIA) Bab 54 Pertengkaran
Daniel turun dari mobilnya, dia membanting kasar pintu mobilnya, kemudian melangkah masuk ke dalam penthousenya. Callista turun dari mobil, dia berlari mengejar Daniel yang sudah lebih dulu masuk ke dalam penthousenya. “Daniel, tunggu, kita harus bicara..” Callista menahan lengan Daniel, hingga membuat langkah kaki Daniel terhenti. “Callista, aku lelah. Lebih baik kau langsung istirahat.” Daniel melepaskan tangan Callista yang menyentuh lengannya itu.
Daniel And Callista (INDONESIA) Bab 53 Ungkapan Hati
Callista melangkah keluar dari ruang operasi. Setelah berada di ruang operasi hampir tiga belas jam berada di ruang operasi, membuatnya begitu lelah. Callista melirik arloji, kini sudah pukul delapan malam. Tanpa menunda, Callista langsung menuju ruang kerjanya, mengganti pakaiannya dan bersiap-siap untuk pulang. Sebelumnya, dia mengirimkan pesan pada Daniel, untuk tidak menunggunya. Bukan tidak ingin dijemput, tapi Callista hanya tidak ingin Daniel kelelahan harus menjemputnya. Tentu Callista mengerti, kesibukan Daniel sudah menyita banyak waktu kekasihnya itu. Dia tidak ingin merepotkan kekasihnya. Terlebih jarak dari perusahaan Daniel ke Queen Hospital tidaklah dekat.
Daniel And Callista (INDONESIA) Bab 52 Kedatangan Adam
“Nanti sore aku akan menemputmu,” ucap Daniel saat tiba di lobby rumah sakit. Rasanya begitu berat melepas kekasihnya itu. Padahal sebelumnya, Daniel sudah meminta Callista untuk tidak bekerja. Tapi tentu Callista menolaknya. Bisa saja Daniel memaksa Callista untuk tidak bekerja, tapi Daniel memilih untuk menuruti keinginan kekasihnya itu. Ini lebih baik, demi menghindar berdebat dengannya.Callista mendesah pelan. “Apa kau itu tidak bekerja? Kau selalu menjemputku. Bukan tidak ingin dijemput, tapi aku tidak ingin kau kelelahan harus menjemputku.”
Daniel And Callista (INDONESIA) Bab 51 Tetaplah Disisiku
Perlahan Callista mulai membuka matanya, dia merintih kesakitan pada bagian bawahnya. Namun, dia berusaha untuk menahan rasa sakit di bagian bawahnya. Tatapan Callista kini teralih melihat sosok pria yang masih tertidur pulas di sampingnya. Seketika senyum di bibir Callista terukir mengingat kejadian tadi malam. Sentuhan Daniel, tatapan pria itu yang begitu memuja tubuhnya. Bahkan sepanjang malam, Daniel selalu terus menginginkannya. Pria itu tidak henti memuji dirinya. Tadi malam, adalah hal terindah dalam hidup Callista. Dimana dia memberikan hal yang paling berharga dari dirinya, untuk pria yang dia cintai.Callista membawa tangannya menyentuh dengan lembut wajah Daniel. Rahang t
Daniel And Callista (INDONESIA) Bab 50 Completely Mine
“Daniel, kau kenapa? Apa kau melakukan kesalahan?” Callista menghentakan kakinya, saat masuk ke dalam penthouse milik Daniel. Tatapannya menatap kesal Daniel yang sejak tadi mendiaminya.“Tidak, aku hanya lelah,” jawab Daniel dingin. Dia melangkah masuk ke dalam kamarnya. Callista langsung mengikuti Daniel masuk ke dalam kamar pria itu. “Kau tidak pernah seperti ini, katakan padaku ada apa?” Callista menahan lengan Daniel. Kesabarannya sudah habis. Sepanjang perjalanan, Daniel te
Daniel And Callista (INDONESIA) Bab 49 Cemburu?
Daniel menatap Callista yang tengah tertidur dalam pelukannya. Dia mengelus lembut pipi Callista. Bulu mata lentik, hidung mancung dan mungil
Daniel And Callista (INDONESIA) Bab 48 Rencana Ke Jepang
Daniel menatap Callista yang tengah memasukan pakaian miliknya ke dalam tas. Sudah sejak tadi Daniel mengatakan cukup pelayan saja yang memasukan bajunya ke dala
Daniel And Callista (INDONESIA) Bab 47 Aku mencintaimu
Kondisi Daniel berangsur membaik. Setiap harinya Callista selalu menjaga Daniel. Bahkan Callista akan selalu menginap di ruang rawat Daniel, hanya demi memastik
Daniel And Callista (INDONESIA) Bab 46 Hampir Kehilanganmu
Sudah satu minggu Daniel tidak sadarkan diri. Operasi Daniel berjalan lancar. Meski Callista berhasil menyelamatkan Daniel dari masa kritisny
