GoodNovel

Download the book for free

Download
Search what you want
Library
Browse
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystemFantasyLGBTQ+ArnoldMM Romancegenre22- Englishgenre26- EnglishEnglishgenre27-Englishgenre28-英语
Short Stories
SkyMystery and suspenseModern urbanDoomsday survivalAction movieScience fiction movieRomantic movieGory violenceRomanceCampusMystery/ThrillerImaginationRebirthEmotional RealismWerewolfhopedreamhappinessPeaceFriendshipSmartHappyViolentGentlePowerfulGory massacreMurderHistorical warFantasy adventureScience fictionTrain station
CreateWriter BenefitContest

All Chapters of You Are My Reason (INDONESIA): Chapter 21 - Chapter 30

Home /  All /  You Are My Reason (INDONESIA) /  Chapter 21 - Chapter 30
33 Chapters

21. Pusing

"Jadi ...," Mahanta berdehem sebentar. " ... Gimana sama rumahnya? Kamu suka?"  Namun Siera malah mengabaikan pertanyaannya Mahanta barusan, dan balik melemparkan pertanyaan kepada suaminya. "Buat apa kamu bangun rumah seluas ini untuk dihuni sama dua orang aja?"  "Kan enggak selamanya kita hidup berdua, Ra. Nanti bakalan ada anak-anak juga. Jadi menurut aku, lebih baik sekalian aja bikin rumah yang cukup luas."  Siera hanya geleng-geleng kepala. "Memangnya kamu mau punya anak berapa sih, Ta?"  Tentu saja Mahanta terkejut begitu mendengar pertanyaan itu. Karena sebelumnya, Siera hampir tidak pernah membahas tentang hal-hal seperti ini dengan dirinya.  "Aku ... mau punya ... tiga orang anak." Mahanta menatap Siera yang sedang berdiri di dekat jendela kamar dengan posisi tubuh membelakanginya. "Kamu enggak keberatan, 'kan?"  Siera
Read more

22. Opini Hilda

Saat ini, nama Soraya Amanda memang sedang menjadi perbincangan hangat dimana-mana. Apa lagi setelah suaminya yang bernama Ricard mengajukan pembatalan pernikahan secara tiba-tiba, padahal berita pernikahan mereka berdua masih senter dibicarakan oleh media. Karena pernikahan itu baru saja berlangsung, tepatnya 5 hari yang lalu.  Seakan belum cukup membuat kehebohan dengan hal itu, Ricard juga berani angkat bicara di hadapan semua awak media. Dia mengatakan bahwa Soraya telah membohonginya. Karena wanita itu sebenarnya sudah pernah menikah, bahkan memiliki seorang anak yang masih belum diketahui dimana keberadaannya. Hingga membuat semua orang bertanya-tanya, siapakah laki-laki yang pernah menikah dengan Soraya—sang Model Ternama? Lalu siapa anaknya? Kenapa mereka semua bisa berpisah? Mengapa Soraya memilih untuk menyembunyikan masa lalunya dan tidak berterus terang saja? Bahkan masih ada lagi pertanyaan lain yang terus saja berhamburan, tapi belum mem
Read more

23. Setuju

“Jadi, anaknya Jimmy ya?” Siera berjalan mendekati meja makan sambil melepaskan handuk yang masih membungkus rambut panjangnya. Ia sempat tersenyum masam ke arah Hilda sebelum wanita paruh baya itu membuang muka, seolah-olah tidak sudi melihat kedatangan dirinya.  “Ra.” Mahanta langsung berdiri. Sedangkan Malika hanya mengamati apa yang akan terjadi.  “Sekarang aku ngerti, kenapa Ibu bisa setega itu buat nyuruh aku nyuci baju pake tangan dan enggak pernah peduli sama apa yang aku makan. Mau aku makan atau enggak, Ibu memang selalu bersikap masa bodoh, ‘kan?” Siera masih menyempatkan diri untuk terkekeh pelan atas semua perkataannya barusan. “Ternyata Ibu enggak pernah anggep anak ini sebagai anaknya Mahanta.” “Bukan begitu,” cetus Mahanta yang masih saja mau mengelak. Padahal jelas-jelas mereka semua sudah me
Read more

24. (Tidak) Mengizinkan

Setelah menghabiskan satu porsi nasi uduk buatan Ira dengan penuh rasa keterpaksaan, karena sudah kehilangan selera untuk menyantap sarapan, Siera buru-buru kembali ke rumah sebelah lantaran Denis menyuruhnya untuk segera memanggil Mahanta. Mumpung laki-laki itu belum pergi bekerja, katanya. Awalnya Siera sudah berniat untuk mengirimkan pesan singkat saja ke nomor ponselnya Mahanta, tapi Denis langsung melarangnya. Karena hal itu terlalu berlebihan. Alhasil, ia harus repot-repot kembali ke rumah sebelah, dan bertemu lagi dengan Hilda. Padahal ia sedang malas bertatap muka dengan ibu mertuanya. “Kamu disuruh Bapak dateng ke rumah, ada hal penting yang mau dia omongin.” Siera bersedekap di ambang pintu dapur rumahnya Hilda. Karena semua penghuni rumahnya Hilda masih berkumpul di meja makan sana, memperdebatkan tentang beberapa hal sebelum Siera memanggil nama Mahanta dan mengatakan maksud dari kedatangannya. &l
Read more

25. Malam Terakhir

25. Malam Terakhir Siera akan pergi malam ini juga. Ia sengaja menuruti perkataan Denis untuk pergi dari rumah saat langit sudah lumayan gelap, supaya orang-orang tidak mengetahui tentang kepergiannya ke rumah Nenek Imah. Karena tidak ada yang bisa memprediksi apa yang akan dikatakan para tetangga begitu mereka semua mulai ditanya-tanyai oleh awak media.  “Kamu jaga diri baik-baik ya di sana?” Mahanta memegang sebelah tangan Siera yang baru saja selesai mengecek ulang isi salah satu travel bag yang akan dibawanya. “Sebisa mungkin aku bakalan sering jenguk kamu nanti.”  Siera hanya membalasnya dengan gumaman, dan segera melepaskan pergelangan tangannya dari pegangan tangan Mahanta. Karena sejujurnya, ia sedang memendam sebuah kemarahan di dalam dada. Ia marah karena Mahanta tidak mengatakan apa-apa setelah mendengar segala tuduhan yang Hilda ucapkan tentang bayi yang sedang bersemayam di
Read more

26. Langsung Luluh

26. Langsung Luluh Sekitar jam setengah 1 dini hari, Siera baru menyadari kalau ada seseorang yang sedang memeluknya saat ini. Ia lantas menggerakkan tubuh, dan segera menyingkirkan tangan yang sedang melingkar di atas perutnya itu.  Begitu menyadari kalau Mahanta-lah yang sedang tidur bersamanya, kedua mata Siera langsung terlihat segar seketika. “Ngapain sih kamu masih di sini?” tanya Siera sambil mendorong tubuh Mahanta dengan semena-mena, tapi tubuh laki-laki itu tetap berada di tempat yang sama. Hingga kekesalan tampak jelas di wajahnya. “Mahanta,” ucap Siera yang masih berusaha untuk mendorong tubuhnya Mahanta. Ia ingin segera menciptakan jarak di antara mereka berdua. “Kenapa?” gumam Mahanta yang sudah terbangun dari tidur lelapnya sembari menangkap salah satu tangan Siera dengan kedua mata yang mengerjap-ngerjap pelan. “Kamu
Read more

27. Kangen

27. Kangen Mahanta masih berbaring di atas ranjang sambil terus menatap bagian kosong di sampingnya. Ia baru saja mengirimkan pesan singkat kepada Siera agar tidak lupa menunaikan ibadah. Meski ia tahu kalau perempuan itu jarang sekali menyentuh handphone-nya saat masih pagi buta. Namun hidupnya benar-benar terasa hampa, dan ia merasakan kekosongan dimana-mana. Ternyata keberadaan Siera sangat berpengaruh di hidupnya, dan ia harus menanggung kerinduan setiap harinya. Karena perempuan itu menolak bertatap muka dengannya. Padahal mereka berdua masih bisa melakukan video call bersama.  “Ta?” Suara Hilda mulai terdengar dari arah luar pintu kamar, diiringi dengan bunyi ketukan di sana. “Kamu enggak subuhan?”  “Subuhan kok, Bu. Tapi sebentar lagi.” Mahanta sengaja berbicara agak kencang, supaya Hilda bisa mendengar suaranya. Karena ia masih betah berada di ata
Read more

28. Konferensi Pers

28. Konferensi Pers Setelah cukup lama menghindari awak media, akhirnya Soraya Amanda memberanikan diri untuk memberikan klarifikasinya. Ia bahkan rela melakukan konferensi pers untuk meluruskan berbagai berita yang mulai melenceng dari keberanan, dan konferensi pers itu pun akan dilakukan besok siang.  Siera yang mengetahui hal itu dari sosial media, hanya diam saja, dan segera menyimpan ponselnya ke atas meja. Karena ia tidak ingin menambah beban pikiran. Cukup tuduhan Hilda saja yang berhasil membuatnya terpengaruh, hingga memilih untuk menghindar dari ibu mertuanya itu.  “Kamu kenapa?” tanya Rima lengkap dengan senyum simpul yang menghiasi bibirnya. Lalu ikut duduk di samping Siera setelah menaruh secangkir teh miliknya ke atas meja. “Pasti kamu udah kangen banget ya sama Mahanta?”  Siera hanya menggelengkan kepalanya tanpa mengatakan apa-apa, yang langsung
Read more

29. Pulang (2)

29. Pulang (2) “Saya, Soraya Amanda, mengakui bahwa saya memang sudah pernah menikah sebelumnya, dan saya juga sudah pernah melahirkan seorang anak perempuan.” “Tapi ... tolong, jangan ganggu hidup mereka—baik mantan suami saya ataupun anak perempuan saya. Karena saya dan mereka berdua sudah tidak pernah lagi berhubungan, bahkan sejak bertahun-tahun silam.” “Tolong, hargai privasi mereka. Karena mereka berdua cuma orang ‘biasa’, dan enggak akan suka kalau tiba-tiba harus disorot oleh kamera. Apa lagi jika harus disangkut pautkan dengan saya.”  Pada akhirnya, Siera tetap bisa melihat beberapa penggalan video dari konferensi pers yang dilakukan oleh Soraya kemarin siang. Karena ia tidak bisa hidup tanpa menggunakan sosial media, dan Mahanta juga tidak bisa melarangnya.  “Kamu jangan bengong terus dong.” Mah
Read more

30. Rumah Baru (2)

30. Rumah Baru (2) “Ini semua kamu yang belanja sendiri ke pasar, atau dibantu sama Malika?” tanya Siera begitu mendapati isi kulkas yang terlihat cukup penuh oleh berbagai macam bahan makanan.  “Dibantu sama Malika,” gumam Mahanta yang masih bisa didengar dengan jelas oleh Siera. “Kemarin aku sempet anterin dia ke pasar sebelum jenguk kamu ke rumahnya Nenek Imah.”  Siera hanya mengangguk singkat, dan segera mengeluarkan bahan makanan yang ia perlukan. Karena ia akan segera memasak di rumah barunya, untuk yang pertama kalinya.  Ia sangat menyukai dapur ini, karena terlihat sangat rapi, dan bersih. Tapi yang paling penting, ini adalah dapurnya sendiri—milik pribadi, dan tidak ada orang yang akan melarangnya memasak di sini.  “Kamu mau masak apa?” tanya Mahanta yang sedari tadi hanya diam saja sambil mengamat
Read more
Previous Page
Next Page
Download the Book
Hot Genres
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystem
Contact Us
About UsHelp & SuggestionBussiness
Resources
Download AppsWriter BenefitContent policyKeywordsHot SearchesBook ReviewFanFictionFAQFAQ-IDFAQ-FILFAQ-THFAQ-JAFAQ-ARFAQ-ESFAQ-KOFAQ-DEFAQ-FRFAQ-PTGoodNovel vs Competitors
Community
Facebook Group
Follow Us
GoodNovel
Copyright ©‌ 2026 GoodNovel
Term of use|Privacy