Download the book for free
2
Author: Varga Nurlela BlafireAku menghela napas untuk yang kesekian kalinya malam itu. Kudongakkan kepala dan menatap langit yang mendung. Ayunan dengan kursi bersandar yang kududuki tampak agak bergoyang saat aku membenarkan posisi duduk.
Aku tengah berada di Taman Kota Koba … nama yang terpampang, sih, begitu. Tapi, kata Kakek, orang-orang lebih senang menyebutnya alun-alun. Apa pun alasannya, aku sedang tak ingin peduli dengan itu.
Lantunan lagu “Jangan Menyerah” yang dibawakan D'Masiv berdentum merdu di telingaku. Namun, hanya itu saja. Aku hanya bisa mendengarkan musik itu tanpa bisa menyaksikannya dengan benar.
“Ape-ape ikak ne!”
Aku menoleh. Beberapa meter dariku, Kakek sedang bersenda gurau menggunakan bahasa Bangka yang tak kupahami dengan beberapa temannya. Salah satunya adalah seseorang yang sempat berteriak tak keruan di depan rumah tadi siang.
Sungguh menyebalkan. Kukira benar-benar ada preman atau apa. Ternyata hanya teman Kakek yang mengira kakekku membawa seorang wanita panggilan dan sebangsanya. Lalu, teman Kakek itu berakhir salah tingkah saat aku cemberut lalu masuk ke kamar dengan kaki mengentak.
“Bara!”
Aku hanya melirik malas sebagai balasan untuk kakekku, yang sedang menenteng botol alkohol dan mencoba untuk menyembunyikan itu dariku.
“Jangan jauh-jauh. Kau diam di situ saja! Nanti tersesat!”
Lagi-lagi, aku menghela napas. Ternyata, Kakek sama saja dengan Ayah dan Ibu. Mereka pikir aku akan terus … selalu harus di samping mereka? Hanya boleh berinteraksi dengan orang lain melalui komunikasi online?
Aku benar-benar sudah lelah.
Saat perhatian Kakek tercurah sepenuhnya ke obrolan bersama teman-temannya, aku berdiri dan mulai mengendap-endap seperti seorang pencuri.
Aku berjalan perlahan menjauhi area khusus anak-anak itu dengan sangat waspada. Begitu yakin kalau Kakek masih anteng di sana, aku berlari tanpa benar-benar menimbulkan suara. Puji syukur kepada dewa mana saja, suara Rian D'Masiv menyamarkan langkah-langkahku.
Karena taman kanak-kanak berada di belakang panggung, maka aku terus berlari memutar hingga tiba di selarik jalan aspal kecil yang masih dalam wilayah alun-alun. Ratusan orang sudah memadati area penonton dan aku mengeluh keras-keras. Tak mungkin aku menjejalkan diri ke sana.
Aku terlampau asing di sini.
Maka, sebagai bentuk dari menghibur diri sendiri, aku keluar dari area khusus konser. Hal pertama yang kulakukan setelah itu adalah mulai menjelajahi semua stan makanan dan minuman dengan perasaan berharap.
Pertama, aku singgah di stan yang khusus menjual milkshake ice blend. Aku membeli satu dengan rasa cokelat menggunakan uang jajanku di ATM—sore tadi Kakek mengambilkannya untukku. Rencananya aku baru bisa beli ini-itu kalau Kakek mendampingi cucunya ini. Untung aku punya rencana memberontak.
Lalu kedua, aku berhenti di stan dengan banner Sosis & Sempol. Dengan semangat aku membeli sepuluh tusuk sosis sekaligus dengan ukuran besar-besar.
Ini kebahagiaan!
Kalau boleh jujur, aku sebenarnya agak-agak gugup. Ini pertama kalinya aku pergi ke keramaian seorang diri—benar-benar sendiri!—setelah sekian lama.
Lega rasanya.
Setelah itu, aku hanya melewati stan-stan lain sambil menikmati sosis telur bersaus pedas dengan perasaan santai. Ada stan khusus anak-anak, warung bakso dan mie ayam dadakan, stan kacang rebus, stan merchandise D'Masiv, stan permen kapas, dan stan-stan lain yang membuat jalanan di luar alun-alun jadi sangat padat oleh manusia yang berjejalan.
Beberapa menit telah berlalu, maka aku memutuskan untuk kembali. Aku sedang tak ingin diceramahi oleh Kakek sekali pun.
—·—·—
“Ikak ni diem-diem nek nyari' tunang ka yang selingkuh, ok?”
Aku terkejut dan menoleh pada orang kurang ajar yang membuat jantungku hampir berakhir. Setelah memastikan Kakek masih saja mengobrol dengan teman-temannya—kini sambil duduk bersila di atas tanah—aku kembali menoleh ke samping dan melotot.
“Aku tidak bisa bahasa Bangka!” kataku ketus.
Kucoba untuk mengabaikan kata "selingkuh" yang terdengar sama maknanya jika diartikan dalam bahasa Indonesia.
Mata pemuda kurang ajar itu membulat. Ia mengangguk-angguk seakan cepat paham.
“Oh, kau baru pindah ke sini, ya?” pemuda itu berkata penasaran dengan suara agak keras, meningkahi suara artis bernyanyi di samping kami. Keningnya berkerut. “Kau dari mana?”
Giliran keningku yang berkerut. Kutelaah penampilannya. Ia memakai jaket denim biru dengan kaos putih, serta celana jeans dan sepatu kasual warna hitam. Rambutnya yang berpotongan pendek berwarna sehitam iris matanya. Wajah anak itu lumayan oke, tapi ekspresinya seperti bocah bodoh.
Sudah jelas yang namanya bocah bodoh itu tidak berbahaya.
“Aku dari Jakarta,” kujawab dengan singkat.
“Aku punya teman di sana.” Pemuda itu memberitahu.
“Aku tidak tanya,” sahutku datar.
Ia mengendus udara setidaknya dua kali sebelum kemudian mengoceh asal-asalan. “Kau ini apa, sih? Vampir atau perubah-serigala? Aku benar-benar tak bisa membedakannya. Kenapa bisa begitu? Kau pakai apa biar bisa mengacaukan aroma tubuh seperti itu?”
Setelah sempat kaget sebentar, kujaga ekspresiku agar tetap datar dan terkesan tidak peduli. Diam-diam kuputuskan, pemuda di depanku ini tidak bodoh; hanya idiot kelas berat.
“Oh, ya, kenalkan!” Pemuda itu menyodorkan tangannya. Kujabat ia dengan agak waswas. “Namaku Saga. Saga Adrian. Kau?”
“Bara.”
Kulepas jabatan tangannya, lalu beranjak meninggalkan pemuda sinting itu.
“Eh, tunggu!”
Aku menoleh. “Apa lagi?”
“Aku serius! Kau ini vampir atau perubah-serigala, sih? Beritahu saja. Aku mau jadi temanmu, kok!”
Aku menggeram. Dia mau, aku tidak mau, kataku dalam hati. Untung saja aku tidak punya cukup jam terbang untuk mengumpati seseorang secara langsung.
“Dengar, Saga.” Hampir saja kumuntahkan kembali nama itu dari mulutku. Namanya bagus, otaknya tidak. “Aku tak tahu apa masalahmu, tapi berhenti mengatakan yang tidak-tidak! Vampir atau perubah-serigala … topik viral itu sudah tenggelam bertahun-tahun lalu! Masa kau masih memikirkannya, sih?”
Saga mengerutkan kening gusar. Ia tampak luar biasa heran. Kuanggap itu sebagai pertanda bahwa otaknya memang rada bergeser.
“Kau ingin berkata bahwa kau tidak tahu siapa dirimu?” ujar Saga keheranan.
Sial. Sampai kapan ini akan berlanjut?!
Aku berkacak pinggang, menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya dengan sabar.
“Saga yang Tampan—” pemuda itu langsung tersipu, “—aku tahu siapa diriku ini, percayalah. Apa pun yang kau pikirkan, pikirkan saja sendiri. Itu urusanmu. Tapi, jangan seret aku ke dalam kegil—”
“BARBARA!”
Tak pernah kudengar Kakek memanggilki seperti itu kecuali sedang marah.
Mencoba melemaskan tubuh dari kebekuan yang melanda tiba-tiba, aku menurunkan tanganku dan membalikkan badan seperti robot. Ada yang salah dengan persendianku.
“Halo, Kakek.” Cicitanku ditenggelamkan suara Rian D'Masiv yang manis.
Leher dan punggungku mulai panas. Tanda-tanda akan terkena azab duniawi sebentar lagi.
“Mau kemana kau?” bentak Kakek, tapi, matanya melotot ke arah Saga.
“Eh, tidak ke mana-mana, kok,” jawabku cepat. “Aku cuma jalan-jalan di sekitar sini, dan tidak sengaja bertemu dia.”
Aku tersenyum gugup. Ingin rasanya aku memberi kode lewat tatapan agar Saga bisa menyamai kebohonganku, tapi urung kalau mengingat bagaimana pikirannya berjalan.
“Tidak usah berbohong!”
Aku terperanjat. Ya ampun. Deteksi Kebohongan yang dimiliki Ayah ternyata diwarisinya dari orang tua ini. Kuputuskan untuk diam saja sambil menunggu Kakek menggiringku pulang.
KEMANA KEBERANIANKU YANG AGUNG?!
“Dan kau!” Jari telunjuk Kakek secara mengejutkan menusuk dada Saga dengan geram. “Jauhi Barbara!”
Tampang Saga berubah kesal. “Keluargamu membiarkan dia ti—”
“DIAM!”
Ekspresi Saga tidak berubah. Ia tetap kesal. Aku hanya bisa menatap keduanya dengan bingung. Kakek sepertinya sudah kenal Saga.
“Pikirkan urusanmu sendiri! Jangan urusi orang lain!” tukas Kakek marah.
Hatiku bersorak karena kata-katanya hampir sama denganku beberapa saat yang lalu. Sudah jelas Saga memang tidak beres. Kakek saja sampai berpikiran begitu.
Kakek menggamit lenganku, dan kami pulang saat itu juga. Lebih cepat dari yang seharusnya.
Di perjalanan, aku cuma bisa diam sambil mengawasi hutan-hutan kecil di seberang jalan. Kakek masih tampak marah.
Sesungguhnya, aku tak pernah benar-benar tahu apa yang membuat Kakek dan orang tuaku semarah itu. Ada apa dengan Barbara dan kebebasannya?
Sialan!
“Aku menyerah, Kek,” kataku pelan.
Kakek menghentikan mobilnya di tepi jalan, membiarkan mobilnya tetap hidup.
“Apa maksudmu?” sahut Kakek datar. Matanya mengawasi motor dan mobil yang hilir mudik.
Aku menggertakkan gigi. “Ayah dan Ibu tak pernah benar-benar memberiku alasan yang cukup masuk akal. Kuharap kau bisa.”
“Tentang apa?” Suara datar itu lagi.
Ingin rasanya aku berteriak kuat-kuat di samping lubang telinga Kakek.
Alih-alih, aku hanya menjawab di antara sela-sela gigi yang masih kugertakkan. “Tentang kebebasanku seperti anak-anak normal yang lain. Kenapa aku dibatasi? Aku ini tahanan negara atau apa?”
Kakek menghela napas berat. Ia masih tak mau menatapku.
Kakekku memulai. “Kau hanya tak boleh kelu—”
“Hanya?! Apanya yang hanya?” potongku pedas.
Kakek memijit pangkal hidungnya seakan sedang lelah. “Orang tuamu sudah berusaha mengabulkan semua permintaanmu, Bara. Tolonglah hargai permintaan mereka juga.”
Aku meradang. Aku sudah cukup sabar selama belasan tahun ini. Aku tak mau jadi tahanan keluarga lebih lama lagi.
“Berikan aku alasan yang LOGIS, Kakek! Mengapa itu saja dipersulit?!”
“Karena alasan itu hanya akan membunuhmu!” Kakek berteriak. Matanya menyala-nyala oleh kemarahan saat ia akhirnya menatapku. “Tak ada dari kami yag menginginkanmu mati begitu saja!”
Aku tertawa seperti orang gila. Mataku mulai basah.
Aku berhenti tertawa. “Batasi aku beberapa bulan lagi, Kek, dan aku akan lebih cepat mati.”
“Jaga bicaramu!” bentak Kakek.
Air mataku meleleh.
“Orang tetap akan mati suatu hari nanti!” teriakku. “Apa dengan mengawasiku tiap detik lantas bisa membuat Tuhan membatalkan kematianku?!”
“Kau tetap akan mati, Bara, tapi dengan cara yang normal.” Kakek menggeram. “Bukan dengan cara … cara lain!”
Kuhapus air mataku dengan kasar. Aku tertawa dan mendengus. Tahu percakapan ini tak akan membawa kami ke mana-mana.
“Terserah kalian sajalah, Kek. Terserah kalian saja.”
Share the book to
Facebook
Twitter
Whatsapp
Reddit
Copy Link
Latest chapter
WOLVIRE (Bahasa Indonesia) 27
Linda dan Aryadi berdiri dengan tegang, tak terkecuali Rokan Allegro dan yang lain. Ketiga belas witch hanya berdiri kaku mengelilingi peti mati terbuka yang di dalamnya terbaring tubuh Barbara. Namun, bibir mereka tampak berkomat-kamit tanpa mengeluarkan suara. Kedua tangan para witch itu saling terkait di depan, seakan sedang berdiri santai dan hanya menikmati dinginnya gua yang mereka masuki.Linda mulai tak sabar. Keinginannya untuk menginterupsi begitu besar, tapi ia berusaha untuk menahannya. Seseorang menyentuh bahunya, Linda menoleh dan mendapati Rokan Allegro yang mengangguk pelan, membantunya menguatkan hati untuk bersabar.Para witch itu tampak bergerak setelah kira-kira tiga puluh menit atau lebih. Mereka mulai berjalan perlahan mengitari peti mati seraya mengulurkan tangan ke arah Barbara. Mereka mulai bergumam seirama dengan suara rendah, gema yang d
WOLVIRE (Bahasa Indonesia) 26
“Persiapkan apa yang perlu dipersiapkan. Kita butyh melakukan Penjemputan Jiwa secepatnya.”“Baik, sir.”Linda menatap kepergian sang witch yang menjauh dan masuk ke dalam lift itu. Pandangannya beralih pada Rokan Allegro. Sebuah pemikiran mendadak terlintas di benaknya.“Sir, kau bilang cuma para witch yang bisa menggunakan Pemindah Raga,” Linda menyatakan.Rokan Allegro mengerutkan kening. “Lalu?”“Bagaimana mungkin witch itu dan Barbara bisa sampai ke mari secepat ini? Kalau mereka berhasil menyelamatkan Barbara sebelum tengah malam dan tiba di sini pukul lima, bukankah itu waktu yang dibutuhkan untuk para witch saat mereka menggunakan Pemindah Raga?”Rokan Allegro mengambil langkah ke depan, berhenti di pintu Ruang Penyembuhan dan memandang Barbara yang terbaring lemah dari balik kaca. “Barbara adalah jenis immortal lain selain witch yang bisa menggunakan Pemindah Raga.&rd
WOLVIRE (Bahasa Indonesia) 25
Aku tidak tahu bagaimana cara seseorang bisa kerasukan dengan benar. Atau dalam hal ini, dikendalikan secara penuh. Itu terasa mengerikan saat aku diberitahu bahwa aku dikurung di dalam otakku sendiri. Dalam tubuhku sendiri. Aku bertanya-tanya apakah begini yang akan kurasakan jika seandainya aku memiliki kepribadian ganda. Namun, ini sepertinya lebih buruk. Aku tak bisa merasakan segala indra yang ada di fisik nyataku lagi. Aku merasa kosong. Aku merasa buta. Aku seperti orang gila yang tersesat dalam lingkup kegelapan di bawah jurang nan menyesakkan.Yang bisa kulakukan, atau setidaknya begitulah yang kupikir kulakukan, hanya menangis.Suara iblis itu tak lagi menakut-nakutiku, tapi setelah beberapa saat yang terasa seperti jutaan jan bagiku, suara itu tiba-tiba meraung. Aku berjengit, namun tetap tak melakukan apa-apa selain memeluk lutut di suatu tempat di antara luasnya pikiranku. Aku baru mendongak saat kusadari bahwa raungan itu tak kunjung berhenti. Aku tidak t
WOLVIRE (Bahasa Indonesia) 24
Selama berhari-hari berikutnya Saga tak lagi merepotkan diri mencari Bara dan keluarganya lagi, seperti yang sang ibu suruh padanya. Ia tak bisa mengelak saat perasaannya tetap saja khawatir meski ia sudah berusaha berpikir jahat selama detik-detik tertentu dalam benaknya yang tengah melamun. Biar bagaimana pun, Saga sudah menganggap Bara sebagai temannya. Seseorang yang sepatutnya khawatir jika salah satu temannya menghilang, atau yang lebih parah, dikejar oleh pemburu yang lebih parah dari serigala liar.Pada suatu hari, lima belas hari setelah menghilangnya Bara dan keluarga, ia datang ke hutan itu. Hutan yang ia tak berani dekati sebelumnya. Saga tak tahu apakah dia sudah gila atau akan menjadi gila atau dunia itu sendiri yang gila. Sebenarnya, ia sendiri tak yakin siapa siapa yang gila gara-gara siapa.Intinya adalah Saga sudah tak tahan lagi. Berdiam diri sementara ia tahu bahwa temannya sedang dalam bahaya, itu terasa seperti hal yang salah. Vampir dan para shap
WOLVIRE (Bahasa Indonesia) 23
“Pa! Setidaknya kita harus melaporkan hal ini pada INDICENT, bukan?”Sudah seminggu sejak Saga menemukan rumah Mr. Aryadi yang acak-acakan. Namun, saat Saga memberitahukan perihal ini pada orang tua angkatnya, mereka menolak melakukan apa pun dan dengan tegas melarang Saga berkoar-koar tentang itu pada siapa pun.Setiap hari, setiap saat yang bisa Saga lakukan, ia selalu meluangkan waktu untuk datang melihat rumah kakek Bara lagi dan lagi. Saat masih belum ada juga tanda-tanda keberadaan dari para penghuni rumah itu, lagi dan lagi, Saga membiarkan dirinya melesat dan berkelebat ke sana-kemari, mencoba mencari ke mana keluarga itu pergi. Sejak hilangnya keluarga kecil itu, ponsel Bara sama sekali tak bisa dihubungi oleh Saga. Operator seluler selalu menjawab bahwa nomor yang dihubungi sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan.Pernah suatu hari Saga sampai harus mendatangi beberapa kota lain yang dekat dengan kota Koba, menanyakan tentang ciri-
WOLVIRE (Bahasa Indonesia) 22
Hari saat kemunculan Hugo di rumah Aryadi …. Saga mendengkus saat matanya mengawasi lalu-lalang kendaraan dari jendela kamarnya. Mulutnya memberengut sementara tangannya bersedekap. Kesebalan tampak memenuhi ekspresi di wajahnya yang imut. Orang tua angkatnya tadi sempat memergoki Saga sedang saling telepon bersama Bara. Hanya menggunakan tatapan mengancam sewajarnya seorang ibu yang marah pada anaknya, ibu Saga memberi isyarat agar ia mengaktifkan mode loud speaker-nya. Begitu Bara mengatakan bahwa orang tuanya akan datang ke Bangka untuk menjelaskan semua hal pada gadis itu, orang tua Saga serentak melotot.“Kabari aku nanti,” balas Saga cepat-cepat saat Bara akan menutup teleponnya. Saga lekas berdiri dari tempat tidurnya sembari mengantongi handphonenya dan menatap kedua orang tuanya dengan salah satu alis dinaikkan. “Kenapa Mama harus menyuruhku—”“Seharusnya kau tidak perlu ikut campur urusan orang l
WOLVIRE (Bahasa Indonesia) 21
Tujuh sosok berpakaian serba merah gelap itu tiba-tiba muncul begitu saja di suatu tempat di Hutan Setan. Untuk sesaat mereka menyeimbangkan diri. Pemindah Raga bukan pilihan transportasi instan yang nyaman bahkan untuk para witch itu sendiri. Terasa akan sedikit goyah saat mereka telah menginjak
WOLVIRE (Bahasa Indonesia) 20
Beberapa meter setelah mereka memasuki kedalaman hutan, Tetua Brahma menghentikan langkahnya dan membalikkan badan. Kesembilan orang sisanya memandang tetua itu dengan sorot mata bertanya-tanya.“Gunakan kecepatan lari supernatural kita,” ujar Tetua Brahma, disambut dengan angg
WOLVIRE (Bahasa Indonesia) 5
Cafe di kota kecil ini sangat berbeda dengan cafe di Jakarta. Meski begitu, tetap saja estetika tampilannya tak mengecewakan. Terutama Cafe Ananda yang kini aku—kami—singgahi.Aku menyesap es kapucino bertabur granula kecoklatan di atasnya dengan perasaan senang. Seorang pemuda
WOLVIRE (Bahasa Indonesia) 4
Saat aku berkata "terserah kalian saja", Ayah dan Ibu akan benar-benar melakukan apa pun yang mereka ingin aku lakukan. Mereka tak pernah mengerti bahwa di balik kata terserah yang kulontarkan, tersembunyi makna "aku ingin didengarkan".Namun, aku tak menyangka Kakek juga akan berlaku sama
