Unduh Buku Gratis di Aplikasi
7
Penulis: Varga Nurlela BlafirePikiranku campur aduk. Seperti memasukkan segala jenis minuman ke dalam satu teko air putih; rasanya sungguh tak keruan.
Aku memikirkan bagaimana perasaan orang tua kandungku sesaat sebelum mereka menghadapi ajal. Aku memikirkan bagaimanakah hidupku seandainya mereka masih ada.
Akankah semua tetap sama? Akankah aku tetap dibatasi? Akankah semua bisa menjadi mudah?
Apa yang salah dari menjadi hidup?
Air mataku menitik, saat kerinduan ganjil akan keberadaan orang tua
Bagikan buku ke
Facebook
Twitter
Whatsapp
Reddit
Copy Link
Bab terbaru
WOLVIRE (Bahasa Indonesia) 27
Linda dan Aryadi berdiri dengan tegang, tak terkecuali Rokan Allegro dan yang lain. Ketiga belas witch hanya berdiri kaku mengelilingi peti mati terbuka yang di dalamnya terbaring tubuh Barbara. Namun, bibir mereka tampak berkomat-kamit tanpa mengeluarkan suara. Kedua tangan para witch itu saling terkait di depan, seakan sedang berdiri santai dan hanya menikmati dinginnya gua yang mereka masuki.Linda mulai tak sabar. Keinginannya untuk menginterupsi begitu besar, tapi ia berusaha untuk menahannya. Seseorang menyentuh bahunya, Linda menoleh dan mendapati Rokan Allegro yang mengangguk pelan, membantunya menguatkan hati untuk bersabar.Para witch itu tampak bergerak setelah kira-kira tiga puluh menit atau lebih. Mereka mulai berjalan perlahan mengitari peti mati seraya mengulurkan tangan ke arah Barbara. Mereka mulai bergumam seirama dengan suara rendah, gema yang d
WOLVIRE (Bahasa Indonesia) 26
“Persiapkan apa yang perlu dipersiapkan. Kita butyh melakukan Penjemputan Jiwa secepatnya.”“Baik, sir.”Linda menatap kepergian sang witch yang menjauh dan masuk ke dalam lift itu. Pandangannya beralih pada Rokan Allegro. Sebuah pemikiran mendadak terlintas di benaknya.“Sir, kau bilang cuma para witch yang bisa menggunakan Pemindah Raga,” Linda menyatakan.Rokan Allegro mengerutkan kening. “Lalu?”“Bagaimana mungkin witch itu dan Barbara bisa sampai ke mari secepat ini? Kalau mereka berhasil menyelamatkan Barbara sebelum tengah malam dan tiba di sini pukul lima, bukankah itu waktu yang dibutuhkan untuk para witch saat mereka menggunakan Pemindah Raga?”Rokan Allegro mengambil langkah ke depan, berhenti di pintu Ruang Penyembuhan dan memandang Barbara yang terbaring lemah dari balik kaca. “Barbara adalah jenis immortal lain selain witch yang bisa menggunakan Pemindah Raga.&rd
WOLVIRE (Bahasa Indonesia) 25
Aku tidak tahu bagaimana cara seseorang bisa kerasukan dengan benar. Atau dalam hal ini, dikendalikan secara penuh. Itu terasa mengerikan saat aku diberitahu bahwa aku dikurung di dalam otakku sendiri. Dalam tubuhku sendiri. Aku bertanya-tanya apakah begini yang akan kurasakan jika seandainya aku memiliki kepribadian ganda. Namun, ini sepertinya lebih buruk. Aku tak bisa merasakan segala indra yang ada di fisik nyataku lagi. Aku merasa kosong. Aku merasa buta. Aku seperti orang gila yang tersesat dalam lingkup kegelapan di bawah jurang nan menyesakkan.Yang bisa kulakukan, atau setidaknya begitulah yang kupikir kulakukan, hanya menangis.Suara iblis itu tak lagi menakut-nakutiku, tapi setelah beberapa saat yang terasa seperti jutaan jan bagiku, suara itu tiba-tiba meraung. Aku berjengit, namun tetap tak melakukan apa-apa selain memeluk lutut di suatu tempat di antara luasnya pikiranku. Aku baru mendongak saat kusadari bahwa raungan itu tak kunjung berhenti. Aku tidak t
WOLVIRE (Bahasa Indonesia) 24
Selama berhari-hari berikutnya Saga tak lagi merepotkan diri mencari Bara dan keluarganya lagi, seperti yang sang ibu suruh padanya. Ia tak bisa mengelak saat perasaannya tetap saja khawatir meski ia sudah berusaha berpikir jahat selama detik-detik tertentu dalam benaknya yang tengah melamun. Biar bagaimana pun, Saga sudah menganggap Bara sebagai temannya. Seseorang yang sepatutnya khawatir jika salah satu temannya menghilang, atau yang lebih parah, dikejar oleh pemburu yang lebih parah dari serigala liar.Pada suatu hari, lima belas hari setelah menghilangnya Bara dan keluarga, ia datang ke hutan itu. Hutan yang ia tak berani dekati sebelumnya. Saga tak tahu apakah dia sudah gila atau akan menjadi gila atau dunia itu sendiri yang gila. Sebenarnya, ia sendiri tak yakin siapa siapa yang gila gara-gara siapa.Intinya adalah Saga sudah tak tahan lagi. Berdiam diri sementara ia tahu bahwa temannya sedang dalam bahaya, itu terasa seperti hal yang salah. Vampir dan para shap
WOLVIRE (Bahasa Indonesia) 23
“Pa! Setidaknya kita harus melaporkan hal ini pada INDICENT, bukan?”Sudah seminggu sejak Saga menemukan rumah Mr. Aryadi yang acak-acakan. Namun, saat Saga memberitahukan perihal ini pada orang tua angkatnya, mereka menolak melakukan apa pun dan dengan tegas melarang Saga berkoar-koar tentang itu pada siapa pun.Setiap hari, setiap saat yang bisa Saga lakukan, ia selalu meluangkan waktu untuk datang melihat rumah kakek Bara lagi dan lagi. Saat masih belum ada juga tanda-tanda keberadaan dari para penghuni rumah itu, lagi dan lagi, Saga membiarkan dirinya melesat dan berkelebat ke sana-kemari, mencoba mencari ke mana keluarga itu pergi. Sejak hilangnya keluarga kecil itu, ponsel Bara sama sekali tak bisa dihubungi oleh Saga. Operator seluler selalu menjawab bahwa nomor yang dihubungi sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan.Pernah suatu hari Saga sampai harus mendatangi beberapa kota lain yang dekat dengan kota Koba, menanyakan tentang ciri-
WOLVIRE (Bahasa Indonesia) 22
Hari saat kemunculan Hugo di rumah Aryadi …. Saga mendengkus saat matanya mengawasi lalu-lalang kendaraan dari jendela kamarnya. Mulutnya memberengut sementara tangannya bersedekap. Kesebalan tampak memenuhi ekspresi di wajahnya yang imut. Orang tua angkatnya tadi sempat memergoki Saga sedang saling telepon bersama Bara. Hanya menggunakan tatapan mengancam sewajarnya seorang ibu yang marah pada anaknya, ibu Saga memberi isyarat agar ia mengaktifkan mode loud speaker-nya. Begitu Bara mengatakan bahwa orang tuanya akan datang ke Bangka untuk menjelaskan semua hal pada gadis itu, orang tua Saga serentak melotot.“Kabari aku nanti,” balas Saga cepat-cepat saat Bara akan menutup teleponnya. Saga lekas berdiri dari tempat tidurnya sembari mengantongi handphonenya dan menatap kedua orang tuanya dengan salah satu alis dinaikkan. “Kenapa Mama harus menyuruhku—”“Seharusnya kau tidak perlu ikut campur urusan orang l
WOLVIRE (Bahasa Indonesia) 21
Tujuh sosok berpakaian serba merah gelap itu tiba-tiba muncul begitu saja di suatu tempat di Hutan Setan. Untuk sesaat mereka menyeimbangkan diri. Pemindah Raga bukan pilihan transportasi instan yang nyaman bahkan untuk para witch itu sendiri. Terasa akan sedikit goyah saat mereka telah menginjak
WOLVIRE (Bahasa Indonesia) 20
Beberapa meter setelah mereka memasuki kedalaman hutan, Tetua Brahma menghentikan langkahnya dan membalikkan badan. Kesembilan orang sisanya memandang tetua itu dengan sorot mata bertanya-tanya.“Gunakan kecepatan lari supernatural kita,” ujar Tetua Brahma, disambut dengan angg
WOLVIRE (Bahasa Indonesia) 19
“Kita terlambat, Dad!”Linda menggerak-gerakkan kakinya dengan penuh kekhawatiran. Matanya menatap barisan pepohonan yang melesat di luar jendela mobil yang mereka tumpangi menuju Alas Purwo (Hutan Purwa). Aryadi memegang kedua tangan wanita itu yang tak henti-hentinya saling m
WOLVIRE (Bahasa Indonesia) 4
Saat aku berkata "terserah kalian saja", Ayah dan Ibu akan benar-benar melakukan apa pun yang mereka ingin aku lakukan. Mereka tak pernah mengerti bahwa di balik kata terserah yang kulontarkan, tersembunyi makna "aku ingin didengarkan".Namun, aku tak menyangka Kakek juga akan berlaku sama
