Download the book for free
Lima
Автор: Jihanna YvonnePulau Tasmania - Australia.
Setelah membersihkan diri di vila yang berada di Pulau Tasmania (Jangan heran jika aku memiliki banyak vila di mana-mana. Karena hobi dan jenis pekerjaan yang diberikan oleh Gabriel tidak terbatas, aku harus mempunyai banyak tempat tinggal yang tersebar di berbagai pulau ataupun negara-negara bagian lain), kubaringkan tubuh sejenak di kursi santai. Dan tak butuh waktu lama, aku sudah terlelap dalam dunia mimpi.
"Nona Vaea! Nona Vaea! Bangun! Bangun! Sarapan Nona."
Suara Ujang yang mengganggu waktu istirahatku membuatku mengumpat dalam hati.
Maidbot sialan! Tidakkah ia tau aku baru memejamkan mata beberapa menit?
"Berikan alasan padaku, Ujang, kenapa aku tidak akan membunuhmu saat ini?" tanyaku datar dengan mata yang masih terpejam. Ayolah, aku masih ingin beristirahat sejenak.
"Mmm ... Aku tampan dan baik hati. Aku mencintai Nona Vaea!"
Secara reflek, aku langsung melemparkan pot bunga di meja sebelahku tetapi Ujang dapat menghindar dengan mudah. Aku mendengus kecil. Robot itu memang memiliki reflek yang bagus.
"Kapan kau sampai?" tanyaku sambil menggelung rambut ke atas, meninggalkan beberapa helai di samping kanan kiri wajahku.
"Satu jam yang lalu." Ujang tersenyum.
Tersenyum? Tentu saja! Aku sudah bilang sebelumnya bukan jika Ujang, meskipun dia adalah sebuah robot, tapi dia memiliki wajah dan tubuh seperti manusia pada umumnya. Ia bahkan bisa mengeluarkan ekspresi-ekspresi seperti manusia dengan cara mempelajarinya. Ujang biasanya melakukannya dengan menonton berbagai jenis film atau DVD.
Bagi orang-orang biasa, mustahil untuk mengetahui siapa Ujang sebenarnya. Meskipun sudah banyak sekali maidbot yang diproduksi pada masa kini, tetapi maidbot-maidbot tersebut tidak memiliki ekspresi bahkan lebih terkesan kaku. Yang tentu saja bisa dibedakan dengan mudah dengan manusia.
"Baiklah. Aku akan sarapan dan ...," aku menolehkan kepala kepadanya sebelum menuju ruang makan," ... kau tau apa yang harus kau lakukankan?"
Ujang mengangguk. "Aku mengerti, Nona."
Aku menyunggingkan senyum tipis. Ujang adalah robot yang cerdas. Tanpa harus kuberi tau, dia tau apa yang harus dilakukan.
See? Ketika aku berangkat ke Sydney, tanpa kusuruh pun dia mengikuti ke sini. Dan tanpa harus ku beri tau juga dia tau apa yang harus dikerjakan. Yaitu membereskan barang bukti!
Itulah alasanku dulu menolak ketika Gabriel ingin memberikan maidbot di setiap vila maupun apartemenku yang berada di berbagai belahan dunia. Karena Ujang saja sudah lebih dari cukup untuk membantu.
Selesai sarapan aku menuju kamar. Aku ingin tidur tapi melihat pemandangan di luar sana, pantai yang indah, matahari yang mulai bersinar terik memancarkan aura panas, membuatku ingin berjemur. Akhirnya kuputuskan untuk mengambil salah satu bikini yang berwarna merah dan memakainya. Tubuhku tampak sangat seksi dengannya.
Sebelum keluar dari vila dan menuju pantai, aku memakai sebuah mantel bulu dan kacamata hitam terlebih dahulu. Kemudian dengan percaya diri aku menuju pinggir pantai yang memang jaraknya cukup dekat.
Beberapa pasang mata para pria menatapku dengan tatapan kagum. Kurasa mereka menyukai bentuk tubuhku yang terlihat sebagian karena yang sebagian masih tertutup mantel yang kukenakan. Bahkan aku mendengar beberapa dari mereka mengumpat setelah aku mengerlingkan sebelah mataku pada mereka. Bukan aku ingin menggoda mereka, tapi saat melihat perut sixpack mereka membuatku ingin menyentuhnya kemudian menggoreskan beberapa sayatan di sana. Atau memotong-motong perut mereka yang kelewat seksi itu setelah aku mencobanya di ranjang? Ah, pikiranku mulai melantur lagi.
Setelah sampai di salah satu kursi pantai, aku melepas mantel dan meletakkannya sembarang di meja samping. Aku pun membaringkan tubuh di atas kursi pantai itu. Dan kali ini, hampir semua mata pria di sana yang masih memiliki hasrat normal melihat ke arahku.
Aku beusaha keras mengabaikan tatapan-tatapan para pria itu, sebab semakin mereka melihatku dengan tatapan 'lapar', semakin ingin aku membuat lubang di perut mereka. Sial! Aku tak tahan untuk melakukannya lagi.
Rasanya benar-benar panas!
Berniat mengalihkan pikiran yang mulai kacau, aku mencoba menghubungi Gabriel. Aku mengambil sebuah minipad yang tersimpan di saku mantel. Tak butuh waktu lama panggilan video telah tersambung.
"Bisakah kau memberi job lain, El? Aku bosan sekali. Target semalam tidak seru. Aku bahkan harus mendinginkan otakku agar bisa berpikir jernih saat ini. Orang-orang di sini begitu menggiurkan untuk kutembak satu-persatu," runtutku tepat ketika Gabriel mengangkat panggilan video dariku.
"Sialan! Jangan nekat, V!" bentak Gabriel yang membuatku mendengus kesal.
"Tunggu sebentar, V. Aku akan mengirimkan sebuah file padamu," sambung Gabriel.
Sebuah notifikasi pesan masuk telah kuterima. Aku segera membukanya dan membaca sekilas sebuah file yang berisi data sebuah organisasi yang sama sekali tidak kumengerti untuk apa.
" ... Ly, aku rasa aku perlu melanjutkan pembicaraan ini denganmu juga."
"Apa ini, El? Jangan mengirimkan hal yang tidak jelas. Kau tau aku malas membaca ...,"
Ucapanku terhenti saat menyadari sesuatu. Tunggu! Apakah tadi Gabriel menyebut 'Ly?'.
"Dan siapa yang kau sebut 'Ly'?"
"Berisik! Kau tidak perlu tau siapa dia! Itu job untukmu, V."
"Sialan!"
Aku mulai memprotes sifat bossy nya itu, tapi dia tampak mengabaikanku. Gadis menyebalkan!
Tapi akhirnya aku memilih bungkam dan fokus pada layar video call kami. Aku baru menyadari jika saat ini aku tidak hanya terhubung dengan Gabriel, tetapi juga dengan seorang gadis berambut hitam yang mengenakan jas putih. Dia tampak seperti seorang yang membosankan.
"Ada beberapa hal yang janggal, Ly. Tentang Grevio. Termasuk bagaimana Grevio tahu aktivitasku beberapa hari terakhir yang jarang berkumpul di organisasi. Dan, bagaimana dia bisa menyebarkan informasimu ke masyarakat."
Oh, jadi dia Ly? batinku.
Kulihat Gabriel menekan salah satu LED nya yang langsung menampakkan beberapa data-data kegiatan organisasi.
"7 anggota biasa terlihat hanya menerima misi ringan. 3 anggota semi-pro hanya menerima misi di Negara asing 2 kali - 3kali. Itupun hanya sekedar melakukan hack mesin jet Ainpro78 dan melakukan install ulang program ZBX20 ...," Gabriel memulai penjelasannya.
" ... 2 anggota lainnya hanya melakukan control pada polisi cyber agar asosiasi tidak terlacak. Sehingga, tertinggal hanya aku, Xander dan Grevio yang sedikit banyak memiliki kesibukan masing-masing ...,"
"Xander dengan beberapa klien dari luar negeri. Dan Grevio yang hanya melakukan catatan kegiatan asosiasi ke berbagai tempat."
Aku termenung mencerna seluruh penjelasan dari Gabriel.
"Kupikir kegiatan pria itu masih normal kalau hanya sekedar mencatat agenda asosiasi. Apanya yang aneh?" tanya Ly memotong penjelasan Gabriel.
Well, tampaknya Ly kurang mengetahui bagaimana mengerikannya dunia bawah itu. Apapun bisa terjadi. Bahkan kawan bisa menjadi lawan dan siapapun bisa jadi penghianat.
Bahkan ada istilah yang sering digunakan di sana. Yang mengatakan bahwa musuhnya musuhmu adalah temanmu. Sungguh dunia yang membingungkan.
"Aku mengcoding sesuatu tadi malam dengan blueprint organisasi sebelum meledakkan rumah Xander." Gabriel kembali menjelaskan sembari menggeser slide pada layar LED nya yang lain. "Dan, aku baru saja sadar akan satu hal."
Lalu, tampillah aktivitas Grevio selama seminggu terakhir dari kamera dan sebuah penyadap di ruang organisasi.
"Wow, seorang pengkhianat organisasi rupanya," tukasku menyeringai kecil. Dugaan sesaatku tadi sepertinya sangat tepat.
"What the hell! Dia cyber police?!" kudengar Ly memekik kaget beberapa detik setelahnya.
Wow, wow, wow, tampaknya ini akan sangat menarik!
To Be Continue ...
* * * * *
Note :
Jet Ainpro78 : sebuah pesawat jet yang dikendalikan oleh pilot dari ruang bunker khusus untuk melakukan pengintaian pada Negara tertentu.
ZBX20 : sebuah satelit khusus untuk para polisi cyber.
Поделитесь книгой с
Facebook
Twitter
Whatsapp
Reddit
Copy Link
Последняя глава
VSYCHO (The Dark Lust) Indonesia Dua Puluh Tujuh
Jonathan menyeringai tipis, mengelus pipiku perlahan dan berkata dengan suara rendah. "Tentu saja kau tau. Sudah kubilang siapapun akan tertarik padaku karena aku tampan dan kaya raya."Ingin rasanya aku mendengus mendengar ucapan narsisnya. Well, dia memang kaya tetapi soal tampan? Entahlah, yang jelas dia bukan seleraku.
VSYCHO (The Dark Lust) Indonesia Dua Puluh Enam
"Ada apa, El?" tanyaku sembari mengernyitkan dahi. Dalam hati bertanya-tanya kenapa dia berteriak-teriak tidak jelas."Apa kau mau aku menjadi pencabut nyawamu
VSYCHO (The Dark Lust) Indonesia Dua Puluh Lima
"Naikkan kecepatan, Vasco.""Aku tahu, V." Vasco menambah laju kecepatan Roadfast V. Mobil tersebut melesat dengan cepat, menyalip mobil-mobil lain yang diikuti dengan teriakan klakson di sana sini. Adrenalinku makin terpacu hebat karena jalanan kini tampak kabur saking cepatnya laju kendaraan yang kunaiki ini.
VSYCHO (The Dark Lust) Indonesia Dua Puluh Empat
"Vasco," aku memanggil nama pria yang kini duduk di sampingku – di kursi kemudi. Saat ini kami sudah duduk di dalam mobil yang Vasco sebut sebagai Roadfast V. V diambil dari huruf depannya sendiri."Kau yakin?" tanyaku sekali lagi. Ia menatapku dengan senyuman miring penuh arti."Aku tahu yang paling kau butuhkan dan inginkan saa
VSYCHO (The Dark Lust) Indonesia Dua Puluh Tiga
Turun dari mobil sport merah milik Freeze, aku mengedarkan pandangan ke sekeliling tempat di mana kini aku berdiri. Deretan mobil mewah, mobil sport maupun volent keluaran terbaru tampak berjejer rapi sesuai jenis dan kualifikasi masing-masing. Orang-orang baik pria maupun wanita tampak tersebar di segala penjuru ruangan tersebut, sibuk memperhatikan desain, keindahan, kemewahan bahkan mencoba menaiki mobil-mobil tersebut dengan rasa bangga dan sorot mata tertarik.
VSYCHO (The Dark Lust) Indonesia Dua Puluh Dua
WARNING!! Terdapat sedikit adegan dewasa, dibawah umur bisa jauh-jauh dari part ini. Muehehehe ...Happy reading guys!!
VSYCHO (The Dark Lust) Indonesia Empat Belas
Dua hari berlalu sejak malam itu. Dan hari ini adala
