loading
Home/ All /VSYCHO (The Dark Lust) Indonesia/Empat

Empat

Author: Jihanna Yvonne
"publish date: " 2020-10-07 19:54:03

Sebelumnya, terimakasih kepada teman saya winter_yuki yang telah memberikan ide tentang part ini. Jadi, sebelum membully Author, bully dia dulu yah.. Wkakakakak..

Happy Reading!

🍁🍁🍁


Sydney - Australia.

Aku menatap seonggok daging tak bernyawa di hadapanku dan mendengus keras. Dia membosankan. Cepat sekali matinya. Kukira ini akan jadi lebih asik ketika tadi dia berani mencoba melawanku. Aishh, seharusnya tadi aku mempermainkannya dulu sebelum mengakhirinya.

Goblok!

Aku sudah berniat meninggalkan ruangan yang mulai membosankan ini ketika aku mendengar suara isakan tertahan di sudut ruangan. Oh, hampir saja aku melupakan sesuatu. Gadis kecil itu!

Aku menoleh dan kudapati seorang gadis kecil bernama Helen sedang meringkuk ketakutan di sudut ruangan. Aku tersenyum padanya, tetapi entah kenapa ia justru berjengit dan semakin meringkuk ketakutan.

Sialan! Ia pikir aku monster?

Aku kan cantik, decakku dalam hati.

"Hei, adik cantik. Mau bermain?" tanyaku dengan senyum yang sengaja kulebarkan. Aku tidak ingin dia ketakutan. Well, mungkin ia takut karena melihat Ibunya mati. Jadi, aku akan menjadi seorang Kakak yang baik.

Hmmmm, mari kita pikirkan apa yang bisa membuatnya tidak takut lagi padaku.

Aha! Tentu saja!

Setelah yakin dengan ide yang baru saja muncul, akupun dengan senang hati mencari penggalan kepala dari istri Xander yang aku masih tidak tau namanya siapa. Aku senang kepala itu tidak menggelinding terlalu jauh.

Aku meraih kepala itu, memperhatikannya sesaat dan menepuk kedua pipinya.

Yap, ini dia!

Aku berbalik, hendak mendekati Helen dan memberinya benda ini. AKu sekali lagi tersenyum pada gadis kecil itu, tetapi dia justru berteriak histeris dan menangis makin keras.

Kampret! Apalagi yang salah? Tidakkah ia tau niat baikku?

Berusaha mengabaikan teriakan yang mampu membuat telingaku tuli, aku berjalan mendekati gadis kecil itu. 

"Hey, gadis kecil, berhentilah menangis karena Kakak punya hadiah untukmu..." aku mengulurkan tangan, memberikan kepala ibunya padanya. "...ini."

"Arrrrrghhh! Aaaaarrrrrghhhh!!!! Mommy!! Mommy....!!!"

Aku menutup telinga karena jeritannya menjadi tidak terkendali. Sepertinya jika aku masih bertahan di sini untuk sepuluh menit, telingaku benar-benar akan tuli.

"Iya, ini Mommy-mu! Ambillah, dan jangan menangi lagi!" aku berteriak demi mengalahkan jeritannya.

Dia menggeleng keras, semakin histeris. "You kill my Mommy! Kau membunuh Mommy-ku!," teriaknya.

Aku memijat pelipisku, berpikir bahwa mungkin gadis ini sudah gila. Dia jelas-jelas ingin Ibunya, tetapi saat aku memberikan kepalanya, ia malah teriak.

"Hey, aku tidak membunuh ibumu. Aku hanya bermain dengan ... sebuah boneka. Kau tidak lihat? Dia hanya boneka, sayang," hiburku. Semoga ia tertipu. Bukankah begitu seorang anak kecil? Mudah tertipu karena masih polos?

Tapi, sial! Ia pintar. Ia tidak tertipu dengan perkataanku.

Apakah ia CIA yang sedang menyamar?

Aku menyipitkan mata, berusaha mengamati gadis itu baik-baik untuk mencari tahu siapakah ia? Namun karena ia terus berteriak dan histeris, aku tidak tahan lagi.

"Heh, bocah!" Aku membanting kepala itu di depannya. Ia menjerit, lagi, semakin keras. "Diam!"

Aku menjambak rambut indah panjangnya, lalu membenturkan kepalanya ke tembok. Berhasil! Ia diam, pemirsa!

Saat aku mencengkeram kerah leher bagian belakangnya, saat itulah aku melihat darah mengalir di pelipisnya.

"Aish, kau jadi berdarah, kan?" desisku tak suka. "Anak naka, harus dihukum, kan?"

Aku menyeret badannya yang meronta-ronta lemah ingin dilepaskan dan kuhempaskan langsung ke atas mayat ibunya yang sudah tewas dan terpotong itu.

Ia menjerit lagi, berusaha beringsut menjauh. Namun sebelum itu, aku sudah ada di sana, membatasi gerakannya.

"DIAM!" sentakku keras dan berhasil membuat gadis kecil itu menunduk diam seketika. Terlihat dia berusaha menahan isakan yang ingin keluar dari bibir mungilnya.

Aku menyeringai.

"Good girl! Nah, sekarang, sebagai hukuman, bantu aku membelah perut benda ini. Kau tau? Bagian dalam perut ... meskipun aku belum pernah mencobanya, tapi aku yakin itu enak sekali." ucapku sambil menyerahkan sebuah pisau lipat pada gadis kecil itu. "Nanti kita bisa memasaknya dan memakannya bersama."

"Tidak!" Gadis itu menggeleng keras menolak.

"Baiklah," desahku sabar. " ... jika kau tidak mau kau bisa mencongkel matanya saja. Kau tau, aku pernah melihat souvenir gantungan kunci berbentuk mata dari sebuah rumah hantu dan itu sangat menggelikan. Seharusnya mereka memberikan mata asli sebagai souvenir! Itu baru namanya keren!"

Aku menatapnya antusias. "Bagaimana? Kau setuju kan denganku?"

Gadis itu tetap menggeleng dan aku mencoba menekan emosiku yang mulai naik ke ubun-ubun karena dia tidak mau menuruti perkataanku. Hei, aku hanya mengajaknya bermain agar dia bahagia! Apa itu salah?

"Helen ... itukan namamu?" tanyaku berusaha kembali lembut padanya padahal emosiku sungguh sudah ingin meledak. Dia hanya diam tak menjawab.

Aku menghembuskan nafasku kasar. Habis sudah kesabaranku.

"JAWAB, BODOH!" sentakku sambil menjambak rambutnya. "APA KAU BISU, HAH?!"

Dia semakin menangis keras.

Ah! Sialan! Persetan dengannya!

Kuambil pistol yang ada di saku betis kananku dan langsung kuarahkan pada mulutnya.

"JAWAB!" ancamku kesal.

"H-ha ...."

"Hah? Apa?"

"Ha, wawau Hewen." gadis itu menjawab dengan vokal tidak jelas karena ujung pistolku yang telah berada di dalam mulutnya.

"Ah ... Jadi benarkan namamu Helen?" tanyaku lagi yang akhirnya hanya dibalas dengan anggukan kepala gadis kecil yang bernama Helen itu. Aku lantas menjauhkan pistolku dari mulutnya dan mengarahkannya pada bola mata kirinya.

"Okay Helen ... karena kau tidak mau bermain denganku dan membuatku sangat-sangat kesal, maka biarkan aku menghukummu."

DOR!

Mata kiri Helen pecah dan langsung memuncratkan darah pada sebagian wajahku.

Teriakan pilu Helen terdengar di telingaku, dan aku hanya terkekeh pelan. Tidak menunggu waktu lama, aku pun langsung mengarahkan pistol ku ke dalam mulutnya.

DOR

Mulutnya berlubang seketika dan aku hanya menyeringai ketika tubuh Helen ambruk.

"Okay, tugasku selesai! Kerja bagus, Vaea!"

Lantas, aku merebahkan diri pada sisi tubuh gadis kecil itu. Sayang sekali, padahal aku tadi ingin sekali bermain dengannya. Bahkan mungkin aku akan mengangkatnya sebagai adikku. Dia cukup imut.

Mengambil sebuah pisau lipat, aku menancapkannya ke dahi gadis kecil yang sudah tidak bernyawa itu. "Ck, membosankan."

Aku lantas bangkit setelah mengusap wajahku yang sebagian telah terkena cipratan darah. lalu merogoh kantong saku celana hanya untuk menemukan sebuah permen karet.

Hmmmm, yummy... kesukaanku!

To be Continue ....

* * * * *

I just want to say hello everybody!!
Miss me?
Please, stay in this story wkwkwkwk


Yakin deh, author nggak tau nulis apa di part ini. Plis jangan santet dirikuh hehe... Kabuuurrr...


Thank's for reading guys!

Want to know what happens next?
Continue Reading
Previous Chapter
Next Chapter

Share the book to

  • Facebook
  • Twitter
  • Whatsapp
  • Reddit
  • Copy Link

Latest chapter

VSYCHO (The Dark Lust) Indonesia   Dua Puluh Tujuh

Jonathan menyeringai tipis, mengelus pipiku perlahan dan berkata dengan suara rendah. "Tentu saja kau tau. Sudah kubilang siapapun akan tertarik padaku karena aku tampan dan kaya raya."Ingin rasanya aku mendengus mendengar ucapan narsisnya. Well, dia memang kaya tetapi soal tampan? Entahlah, yang jelas dia bukan seleraku.

VSYCHO (The Dark Lust) Indonesia   Dua Puluh Enam

"Ada apa, El?" tanyaku sembari mengernyitkan dahi. Dalam hati bertanya-tanya kenapa dia berteriak-teriak tidak jelas."Apa kau mau aku menjadi pencabut nyawamu

VSYCHO (The Dark Lust) Indonesia   Dua Puluh Lima

"Naikkan kecepatan, Vasco.""Aku tahu, V." Vasco menambah laju kecepatan Roadfast V. Mobil tersebut melesat dengan cepat, menyalip mobil-mobil lain yang diikuti dengan teriakan klakson di sana sini. Adrenalinku makin terpacu hebat karena jalanan kini tampak kabur saking cepatnya laju kendaraan yang kunaiki ini.

VSYCHO (The Dark Lust) Indonesia   Dua Puluh Empat

"Vasco," aku memanggil nama pria yang kini duduk di sampingku – di kursi kemudi. Saat ini kami sudah duduk di dalam mobil yang Vasco sebut sebagai Roadfast V. V diambil dari huruf depannya sendiri."Kau yakin?" tanyaku sekali lagi. Ia menatapku dengan senyuman miring penuh arti."Aku tahu yang paling kau butuhkan dan inginkan saa

VSYCHO (The Dark Lust) Indonesia   Dua Puluh Tiga

Turun dari mobil sport merah milik Freeze, aku mengedarkan pandangan ke sekeliling tempat di mana kini aku berdiri. Deretan mobil mewah, mobil sport maupun volent keluaran terbaru tampak berjejer rapi sesuai jenis dan kualifikasi masing-masing. Orang-orang baik pria maupun wanita tampak tersebar di segala penjuru ruangan tersebut, sibuk memperhatikan desain, keindahan, kemewahan bahkan mencoba menaiki mobil-mobil tersebut dengan rasa bangga dan sorot mata tertarik.

VSYCHO (The Dark Lust) Indonesia   Dua Puluh Dua

WARNING!! Terdapat sedikit adegan dewasa, dibawah umur bisa jauh-jauh dari part ini. Muehehehe ...Happy reading guys!!

VSYCHO (The Dark Lust) Indonesia   Dua Puluh Satu

Baru saja aku menghela napas lega tapi sesaat kemudi

VSYCHO (The Dark Lust) Indonesia   Dua Puluh

Tubuhku reflek bergerak menghindar tatkala merasa se

VSYCHO (The Dark Lust) Indonesia   Sembilan Belas

Tak berselang lama setelah kepergian Freeze, bola ma

VSYCHO (The Dark Lust) Indonesia   Delapan Belas

"Ikut aku." Free

More Chapters
Download the Book
GoodNovel

Download the book for free

Download
Search what you want
Library
Browse
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystemFantasyLGBTQ+ArnoldMM Romancegenre22- Englishgenre26- EnglishEnglishgenre27-Englishgenre28-英语
Short Stories
SkyMystery and suspenseModern urbanDoomsday survivalAction movieScience fiction movieRomantic movieGory violenceRomanceCampusMystery/ThrillerImaginationRebirthEmotional RealismWerewolfhopedreamhappinessPeaceFriendshipSmartHappyViolentGentlePowerfulGory massacreMurderHistorical warFantasy adventureScience fictionTrain station
CreateWriter BenefitContest
Hot Genres
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystem
Contact Us
About UsHelp & SuggestionBussiness
Resources
Download AppsWriter BenefitContent policyKeywordsHot SearchesBook ReviewFanFictionFAQFAQ-IDFAQ-FILFAQ-THFAQ-JAFAQ-ARFAQ-ESFAQ-KOFAQ-DEFAQ-FRFAQ-PTGoodNovel vs Competitors
Community
Facebook Group
Follow Us
GoodNovel
Copyright ©‌ 2026 GoodNovel
Term of use|Privacy