loading
Home/ All /Toxic Relationship (Indonesia)/Chapter 4

Chapter 4

Author: Tatiana H
"publish date: " 2020-09-14 22:27:12

'kadang ingin, kutinggalkan semua, letih hati menahan dusta'

"diatas pedih ini, aku sendiri. Selalu sendiri'

'serpihan hati ini, kupeluk erat. Akan kubawa sampai kumati'

'memendam rasa ini, sendirian, Ku tak tau mengapa aku tak bisa, melupakanmu,,'

lirik lagu yang bermakna tersendiri untukku, menemaniku dikala hujan turun dengan derasnya, dan langit dipenuhi awan gelap. Aku memasang earphoneku dengan volumenya yang lumayan besar, intinya aku hanya larut dalam perasaanku saat ini.

aku berdiri didepan toko, menunggu hujan reda. Hujan yang turun tiba-tiba. angin sejuk menyapa kulit-kulitku, membuat aku sedikit merasa sejuk. Tanpa sadar suasana ini justru membuatku hanyut, ah kapan aku bisa bersikap dewasa. Tidak larut dalam kegalauan yang tak berujung ini.

tanpa kusadari tiba-tiba seseorang menyodorkan payung tepat didepan wajahku, sontak aku terkejut dan langsung melihat kesamping, Disana dia dengan gagahnya tersenyum manis melihat reaksiku yang terkejut. Mulutnya terlihat seperti berbicara, aneh mengapa aku tidak bisa mendengar suaranya. aku bertanya kembali apa yang ia bicarakan, kemudian ia menunjuk diriku, tepat disebelah telingaku. Ahh aku sadar kalau aku masih memakai earphone dengan volume suara yang cukup nyaring. Aku langsung melepas earphone itu gelagapan.

"sekarang udah kedengeran belum?" tanyanya lagi, 

"Udah, sory gw lupa make ini Al" jawabku. Yah dialah Aldi, yang saat itu minta pin BBM ku. Beberapa kali dia memang menghubungiku, namun sejauh ini yang terjadi hanya percakapan singkat dan tanpa arti apapun.

"Udah dari tadi?nggak bawa payung?" Aldi meilirik kantong belanjaan yang kupegang

"Oh iya, ini beliin cemilan buat teman-teman, nggak tau kenapa hujan tiba-tiba. Nggak sempet bawa payung, mau beli juga bawa uangnya pas-pasan tadi" jawaku canggung

" Lain kalau kalau mau keluar, terus keliatan mendung bawa payung yah, Pake ini aja" aldi menyodorkan payung berwarna hijau tadi.

"ha? nggak usah. Bentar lagi juga bakalan reda kok hujannya" gw mengelak, sungkan rasanya.

"Awan setebel itu, pasti hujannya bakalan lama. Ntar lo masuk angin kalau lama-lama diluar. udah pake aja" Paksa aldi

"Nggak usah, kalau gw yang pakai payungnya, elo gimana ntar?" aku masih berusaha mengelak

"Gampang. kan tinggal beli lagi. Buruan gih pulang, nih" aldi meraih tanganku dan memberikan payung itu padaku.

"Loh? kalau lo beli payung baru. terus yang ini gimana? kan harus gw kembaliin. Gw beneran nggak apa-apa kok Al" Aku bersikeras. Tidak enak hati menerima bantuannya. meskipun aku tau ini bukanlah hal yang harus diperdebatkan

"yaudah gini aja, payung ini lo ambil aja. anggap aja payung baru yang mau gw beli ini, lo yang beliiin. Tapi karena lo nggak bawa uang, pake uang gw dulu aja.dengan begitu lo nggak merasa sungkan lagi kan?" Aldi kembali memasang senyum manisnya

"ha?ahh iya, iya. Tapi nanti deh dikampus gw ganti uang lo deh" aku mengangguk setuju

"yaudah, pulang gih. Ntar keburu demam. Hati-hati ya dijalan, kesamber petir gosong loh ntar" ejeknya. Sejenak aku tertawa mendengar ucapannya. Ia pun berlalu masuk kembali kedalam minimarket, mungkin mencari payung seperti yang diucapkannya tadi. Dan akupun menghela nafas lega untuk kemudian beranjak pergi. 

*****

Pesta piyama, menurut rani ini adalah cara terbaik bagi kaum hawa untuk menikmati malam yang panjang. jika dulu aku dan rani terbiasa menikmati pesta ini berdua saja, kini sudah ada laura dan monik. Mengingat esok libur kuliah, kami memutuskan untuk melakukan hal ini. Tidak seperti yang kalian bayangkan, ini bukan pesta dengan gaun mewah, minuman dan makanan yang enak ataupun mahal. Ini hanyalah hal biasa yang sempat aku ciptakan bersama rani dan lama-lama malah jadi kebiasaan

yang kami lakukan, mematikan lampu kamar, membeli banyak cemilan, Terpenting memakai masker wajah untuk kemudian menonton drama korea. Mau mewek ya mewek bareng, mau ketawa ya ketawa bareng. sembari menonton terkadang bercerita banyak hal, saling berbagi kisah masing-masing, atau sekedar meneceritakan hal-hal yang tengah hangat.

ponselku berdering, sekilas aku melihat layar telfon melihat siapa yang menelfonku " eh kecilin suaranya bentar yah" pintaku pada yang lain dan mengangkat telfon

"iya hallo kak?" ucapku

"paket yang kakak kirim udah nyampe?" tanya kak Angga. Dia kakak laki-lakiku. satu-satunya kakak cowok yang kumiliki, karena memang aku anak kedua dari dua orang bersaudara.

"boneka beruang yang gede banget itu? udah kak. Makasih yahh, aku bisa tidur nyenyak sekarang" jawabku antusias

"iya, rajin-rajin kuliahnya, jangan maless. kalau males belajar nikah aja udah" sindir kakakku

"iya kak iya, kakak juga kerja yang rajin mimpin perusahaannya, biar bisa cepat nikah sama kk sarah" balasku

"tu kan, kebiasaan. Dibilangin malah bilang balik, bandel emang" balas kak angga lagi

"hehehe, habisnya nayna diomelinnya gitu mulu" keluhku

"biar kamu nggak lupa kakak ingetin ini, kurang baik apalagi coba. yaudah jaga kesehatan, bye dek." kak Anggapun menutup telfonnya. Aku kembali bergabung dengan yang lain. Itulah kakakku, justru ketika aku kekurangan perhatian orang tuaku, dia yang selalu ada untuk mendengar keluh kesahku. Dia yang selalu memberiku ruang hingga aku tetap bertahan dan memilih tidak menuntutut banyak. kalian paham kan maksudku?, disini bukanlah soal orang tuaku tidak menyayangiku, hanya saja waktu mereka terlalu sibuk sampai terkadang aku kesulitan mengobrol dengan mereka.

"kk angga ya?" tanya rani memastikan

"iya, nanyain bonekanya udah nyampe apa belum" jawabku

"seneng nggak sih nay, punya kakak cowok. Perhatian, kitanya dijaga. Gw mah punya adek cewek berantem mulu" keluh monik

"Gw anak tunggal, tapi tinggal sama saudara itu nggak enak. apa-apa juga sering diomelin kok" lanjut laura

" Ya beda rasa sih. Gw juga punya kakak cowok sama adek cowok, kalau kakak gw nggak kayak kakaknya nayna, dia soalnya sibuk mengejar pendidikan, sekarang udah kerja dijepang. Kalau adek cowok malah manja banget sama gw" sahut rani. Aku hanya bisa bereaksi tersenyum mendengar keluhan mereka

lagi, ponselku berdering. Kali ini aku tertegun melihat nama yang muncul dilayar. Aldi, begitulah nama yang sempat terbaca didalam hati ketika melihat layar ponselku. Aku memberi tanda pada yang lain untuk diam sejenak

"hallo?" sapaku

"Oh hai, sory gw ganggu nih. gw mau mastiin aja" jawab Aldi diseberang

"mastiin apa ya Al?" tanyaku heran

"mastiin lo pulangnya baik-baik aja kan? lo nggak demam atau gimana-gimana kan?" tanyanya dengan nada suara yang terdengar perhatian

"Ohh, ahh iya. gw aman-aman aja kok. Makasih ya payungnya, Gw pasti bakalan ganti kok uangnya" jawabku sungkan

"Udah, nggak usah buru-buru. Yaudah gw mastiin itu doang, bye" Aldi menutup telfonnya

usai aku menutup telfon, mata-mata menjengkelkan sudah menatapku. Lihatlah manusia-manusia penasaran ini, tidak bisa sedikitpun membiarkanku terlepas dari rasa ingin tahu mereka. Aku memutar bola mataku malas, terpaksa harus menjawab tanpa menunggu mereka bertanya duluan.

"Barusan aldi nelfon, nanyain keadaan gw gimana. udah itu aja. Nggak usah diteror gw sama tatapan kalian kayak gitu" sahutku kesal. Mereka bertiga saling bertatapan untuk kemudian tertawa mengejjekku

"hati-hati ya nay, kita nggak tau fikiran cowok. Ntar lo cuman jadi bahan mainan doang" saran Laura padaku. Aku mengangguk setuju. Lagipula sejauh ini aku tidak berfikiran yang menjurus kearah perasaan. Bagiku menambah kenalan itu saja sudah cukup. Meskipun ada rasa was-was jika aku jatuh dalam perasaan yang nantinya membuatku salah tingkah

Want to know what happens next?
Continue Reading
Previous Chapter
Next Chapter

Share the book to

  • Facebook
  • Twitter
  • Whatsapp
  • Reddit
  • Copy Link

Latest chapter

Toxic Relationship (Indonesia)   Chapter 22

Kedatangan Aldi diluar dugaanku, mengingat aku dan aldi sempat saling berdebat. Dengan keras dia melarangku untuk dekat dengan reno. Tapi ia bertingkah tidak seperti seorang pria. Dia membuatku untuk tetap menyukainya tapi tidak berani memegangku. Itu tidak adil. Jika dia bisa dekat dengan wnaita lain seperti devi, mengapa aku tidak bisa dekat dengan pria lain. lagipun aku dan reno dekat karena memang aku nyaman berteman dengannyasebisa mungkin aku menengakan situasi, reno ditemani yang lain duduk disisi api unggun yang berbeda, sementara aku duduk disebelah aldi. berharap suasana hati aldi tidak merusak suasana yang sudah aku dan yang lain dapatkan dari reno malam ini

Toxic Relationship (Indonesia)   Chapter 21

"Kalau ada apa-apa lo kabarin gw ya?" ucapku pada reno sembari menunggu rani datang menjemputku. Hari itu keadaan reno sudah jauh lebih baik. Hanya menunggu luka-lukanya pulih. Suster juga memberi kabar kalau reno bisa pulang segera. "iya bawel.""lo udah ketinggalan banyak mapel kuliah""iya nay, nanti gw belajar sendiri""anak laki mana doyan belajar" sindirku. Re

Toxic Relationship (Indonesia)   Chapter 20

"Enggak kok, ini udah mau pulang. Iya iya, bye" ucapku menutup telfon. Aku lupa waktu ketika sibuk mencari bahan-bahan untuk lomba novelis. sampai aku tidak sadar langit sudah berganti menjadi malam. Rani yang menelfonku sudah protes tidak menentu, mengingat waktu saat itu sudah menunjukkan pukul sebelas malam.Sebenarnya tidak ada masalah jika aku keluar sendirian, hanya saja rani takut terjadi sesuatu padaku, karena aku menyetir mobil sendirian.aku menyalakan musik DJ di mobilku, ya ada sedikit rasa sunyi yang aku rasakan. Badanku bergoyang mengikuti irama musik, aku masih menikmati musik sampai diperjalanan aku terpekik dan membuatku berhenti mendadak.

Toxic Relationship (Indonesia)   Chapter 19

Hari itu terlihat perbedaan yang sangat jelas antara Reno dan Aldi. Mereka memang saling sapa, masih dengan keadaan yang biasa-biasa saja disatu kelas. Tapi aku bisa merasakan perubahan diantara mereka. Mereka tidak se akrab dulu. Mereka berteman namun aku rasa ikatan yang mereka jalani tidak lagi seperti sahabat.Baik aldi maupun reno berubah haluan, jika tadinya mereka sangat dekat. Kini mereka memilih teman mereka yang lain untuk jadi dekat. Kebiasaan rasa penasarankupun muncul. sebenarnya aku tidak ingin ikut campur urusan mereka. Apalgi para cowok-cowok punya caranya sendiri untuk menyeesaikan masalah diantara mereka bukan.

Toxic Relationship (Indonesia)   Chapter 18

Sepertinya kehidupan perkuliahanku tidak akan semulus alur cerita di film-film. Banyak hal yang terjadi begitu saja. Hari ini kelas dihebohkan dengan pertengkaran yang tak pernah disangka. Bahkan akupun yang menoton secara lansung perdebatan sengit diantara mereka tidak mengira ini terjadi. Reno dan Aldi sedang berdebat tentang sesuatu yang tidak kami pahami. Mereka saling berteriak satu sama lain, meskipun mereka sama-sama cowok, tapi tidak ada adegan pukul-pukulan"udah yah, bocah banget sih" teriak ketua kelas. suasana dikelas menjadi hening seketika. Reno dan Aldi saling bertatapan sengit. kemudian mereka berdua memutuskan pergi keluar kelas dengan kompaknya

Toxic Relationship (Indonesia)   Chapter 17

“nay, nayyy” ucap rani yang datang tiba-tiba menghampiriku ke kelas.“kenapa ih?” tanyaku heran. Pasalnya rani pergi keluar kelas untuk ke toilet, namun lihatlah sekarang ia datang dengan nafas yang tersengal-sengal menghampiriku“ini” rani meletakkan sebuah brosure diatas meja. Aku melirik brosure itu. tertera disana mengenai lomba menulis. Sontak mataku berbinar dan dengan antusias nya merebut lembaran brosure dari tangan rani“kapan?diamana? gimana ca

Toxic Relationship (Indonesia)   Chapter 7

Gorengan mang edang itu gorengan terenak yang pernah aku coba, beruntung sekali rasanya dia jualan di sekitar rumah. gorengannya menjadi cemilan wajib garis kreas ala aku. s

Toxic Relationship (Indonesia)   Chapter 6

seberat menunggu kepastian, hari kamis adalah hari yang terberat untukku. Aku rasa mahasiswa lain juga merasakan hal yang sama denganku. Pasalnya pak Samsul, dosen yang seti

Toxic Relationship (Indonesia)   Chapter 16

"intinya ini tambahan untuk tugas kelompok mengenai antamo kemaren, saya nggak mau ada keterlambatan. saya hanya beri waktu satu minggu, kalian paham?" ucap pak samsul tegas

Toxic Relationship (Indonesia)   Chapter 15

sudah lama sekali aku tidak menikmati gorengan terenak sedunia ini, meskipun aku sibuk mengunyah, mataku justru sibuk menatap novel yang aku letakkan dilantai. Aku masih belum be

More Chapters
Download the Book
GoodNovel

Download the book for free

Download
Search what you want
Library
Browse
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystemFantasyLGBTQ+ArnoldMM Romancegenre22- Englishgenre26- EnglishEnglishgenre27-Englishgenre28-英语
Short Stories
SkyMystery and suspenseModern urbanDoomsday survivalAction movieScience fiction movieRomantic movieGory violenceRomanceCampusMystery/ThrillerImaginationRebirthEmotional RealismWerewolfhopedreamhappinessPeaceFriendshipSmartHappyViolentGentlePowerfulGory massacreMurderHistorical warFantasy adventureScience fictionTrain station
CreateWriter BenefitContest
Hot Genres
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystem
Contact Us
About UsHelp & SuggestionBussiness
Resources
Download AppsWriter BenefitContent policyKeywordsHot SearchesBook ReviewFanFictionFAQFAQ-IDFAQ-FILFAQ-THFAQ-JAFAQ-ARFAQ-ESFAQ-KOFAQ-DEFAQ-FRFAQ-PTGoodNovel vs Competitors
Community
Facebook Group
Follow Us
GoodNovel
Copyright ©‌ 2026 GoodNovel
Term of use|Privacy