loading
Home/ All /The Hottest Desire (Bahasa Indonesia)/6. Konsultasi

6. Konsultasi

Author: Miafily
"publish date: " 2020-09-15 12:04:24

Meskipun sudah dikatakan membaik, tetapi Makaila tetap harus menjalani konsultasi secara berkala. Hanya saja intensitasnya dikurangi daripada sebelumnya. Jika biasanya adalah seminggu sekali, maka sekarang sekitar dua atau tiga minggu sekali, sesuai dengan yang dijadwalkan oleh psikiater yang menangani Makaila. Saat ini, Makaila sendiri tengah digandeng oleh Edelia menyusuri lorong rumah sakit yang tidak terlalu ramai. Lorong tersebut akan membawa keduanya menuju ruangan praktek psikiater Makaila. Ini juga adalah salah satu perubahan yang dialami oleh Makaila.

Sebelumnya, selama dua tahun penuh Makaila tidak melangsungkan konsultasi di rumah sakit tetapi di rumah pribadi sang psikiater. Hal tersebut terjadi karena Makaila memang sebelumnya terlalu paranoid untuk berbaur dengan orang-orang di lingkungan di mana dirinya tinggal. Jadi, Edelia meminta sebuah solusi pada psikiater Makaila dan mendapatkan saran berupa hal tersebut. Tentu saja, Edelia merasa sangat bersyukur karena psikiater yang menangani Makaila sangat baik dan bisa mengerti dengan apa yang dirasakan oleh Makaila. Psikiater itu sendiri, memang sudah dikenal oleh Makaila dan Edelia sejak lama, karena ia dulu pernah bertetangga dengan mereka.

Edelia menoleh melihat putrinya yang tampak tidak terlalu takut saat berpapasan dengan orang asing. Ia bahkan sudah bisa menunjukkan senyum tipis pada para perawat atau dokter yang menyapanya. Tentu saja ini adalah kemajuan pesat bagi Makaila, dan Edelia merasa senang dengan perubahan baik Makaila ini. Edelia sendiri berharap jika putrinya bisa kembali hidup normal, seperti pada gadis pada umumnya. Edelia ingin Makaila menghabiskan waktunya di luar, mungkin jalan-jalan di mall, atau bahkan menonton film dengan kekasihnya. Edelia berharap, putrinya bisa bahagia.

Sibuk dengan pikiran mereka masing-masing, Edelia dan Makaila sama sekali tidak menyadari jika beberapa pria berdecak kagum dengan kecantikan yang keduanya miliki. Meskipun sudah berumur empat puluh tahunan, Edelia tentu saja masih cantik. Bahkan terlihat terlalu muda untuk perempuan seusianya, sementara itu Makaila sendiri memiliki daya tarik sendiri sebagai daun muda. Sepertinya, kecantikan ibunya menurun padanya, hingga Makaila memesona dengan alami, meskipun tanpa polesan make up sedikit pun pada wajahnya yang ayu.

Keduanya tiba di ruang praktek psikiater, tepat waktu. Ternyata saat itu, sudah waktunya Makaila menjalani konseling. Edelia mendampingi Makaila masuk ke dalam ruangan, sementara suster yang bertugas kembali menutup pintu dan menunggu di meja administrasi. Edelia membawa Makaila untuk duduk berhadapan dengan seorang dokter yang kini tersenyum dengan ramahnya, membuat wajahnya yang sudah tampan, terlihat semakin sedap dipandang saja.

“Pagi, Makaila. Bagaimana kabarmu hari ini? Hanya beberapa saat tidak bertemu saja, aku merasa jika kamu terlihat semakin cantik,” puji sang dokter yang bernama Yafas.

“Pa-Pagi juga Yafas, kabarku baik. Terima kasih atas pujiannya,” jawab Makaila malu-malu. Dirinya dan Edelia memang tidak memanggil Yafas dengan gelarnya, karena Yafas sendiri memintanya.

Yafas mengangguk dan mengulas senyum yang tulus dan terasa sejuk untuk dipandang. Edelia pun berkata pada Yafas, “Silakan dimulai kunsultasinya.”

Setelah itu, Edelia menatap Makaila dan memasang senyum manis pada putrinya itu. “Lakukan seperti biasanya, ya. Tidak perlu merasa cemas, dan tidak pelu menutupi apa pun. Katakan apa yang ingin kamu katakan, dan lakukan apa yang ingin kamu lakukan,” ucap Edelia.

Makaila mengangguk dan berkata, “Iya, Ma. Makaila mengerti.” Edelia pun menghadiahkan sebuah kecupan pada kening Makaila dan bangkit untuk ke luar dari ruang praktek Yafas yang tentunya akan menjadi ruang konseling bagi Makaila.

Setelah Edelia menutup pintu, Yafas pun memberikan isyarat pada Makaila untuk berpindah ke sofa nyaman yang memang disediakan untuk berbincang santai yang tak lain adalah sesi konseling. Sebelum memulai acara konseling tersebut, Yafas pun menyajikan susu vanilla serta sepotong brownies yang menjadi camilan favorit Makaila. Sudah bertahun-tahun mengenal Makaila dan dua tahun menjadi psikiaternya, tentu saja membuat Yafas lebih dari cukup mengenal karaketr Makaila serta mengetahui apa saja yang Makaila sukai.

“Jadi, sebenarnya apa yang membuatmu terganggu akhir-akhir ini, Makaila?” tanya Yafas memulai konseling.

Makaila sendiri tidak merasa terkejut dengan apa yang ditanyakan oleh Yafas ini. Makaila sudah menebak, jika Yafas akan menyadari jika memang ada hal yang tengah mengganggu dirinya. “A-Aku takut,” jawab Makaila dengan suara bergetar yang membuat Yafas mengernyitkan keningnya. Sebagai seorang psikiater yang menangani Makaila, sejak Makaila trauma berat, hingga traumanya itu membaik seiring berjalannya waktu, Yafas sendiri sudah lama tidak mendengar Makaila berbicara dengan nada bergetar yang jelas dipenuhi oleh rasa takut ini.

Namun, Yafas tidak menunjukkan rasa terkejut dan rasa ingin tahu yang saat ini tengah menyelubungi hatinya. Yafas masih terlihat tenang saat bertanya, “Apa yang membuatmu takut?”

“Mimpi itu datang lagi, dan semakin parah,” jawab Makaila pelan.

Saat itulah Yafas merasa jika ada hal yang tidak beres. Sudah lama dirinya tidak mendengar jika Makaila tidak tidur dengan nyenyak. Padahal selama dua bulan ini, Makaila sudah tidak lagi menceritakan jika dirinya terganggu oleh mimpi buruk yang memang selalu datang setelah kejadian dua tahun yang lalu. Mimpi buruk yang tak lain adalah sebuah ingatan mengenai pembunuhan yang Makaila lihat, dan berujung dengan mimpi jika dirinya dikejar-kejar serta diancam untuk dibunuh. Tentu saja bagi gadis semuda Makaila, mendapatkan mimpi berulang seperti itu setiap malam, terasa sangat berat dan menekan.

Namun, dua bulan yang lalu, Makaila memiliki kemajuan dengan tidak lagi mendapatkan mimpi buruk. Kabar yang cukup membahagiakan karena Makaila bisa tidur dengan nyenyak tanpa terganggu dengan mimpi yang selalu saja membangunkan dirinya. Hanya saja, kenapa saat ini mimpi buruk itu datang kembali? Pasti ada satu atau dua hal yang menjadi pemantiknya. Yafas pun menyunggingkan senyum tipis sebelum bertanya, “Tidak perlu terlalu cemas. Mari kita cari solusinya bersama. Sebelum itu, bolehkah aku tau, apa ada hal yang mengingatkanmu dengan kejadian dua tahun lalu? Atau mungkin, ada satu atau dua hal yang kamu lupakan mengenai kejadian itu, dan baru teringat akhir-akhir ini?”

Makaila jelas sangat ingin menjawab iya saat itu juga. Karena jelas, Makaila memang merasa sangat terancam dengan kehadiran Bara yang tak lain adalah pembunuh dari dua tahun yang lalu. Makaila pun menatap Yafas yang masih menunggu jawaban darinya. Makaila gugup dan memilih untuk meneguk susu yang disajikan oleh Yafas. Gadis satu itu berpikir, jika ini adalah kesempatan yang sangat baik untuk mengungkapkan identitas Bara dan membuatnya terlepas dari semua ancaman yang diberikan oleh pria satu itu. Makaila kembali menatap Yafas.

Yafas adalah pria dewasa, dan tubuhnya kekar. Rasanya, Yafas bisa melindungi dirinya sendiri jika Bara akan mencelakai dirinya. Yafas adalah orang yang cerdas dan lebih dari cukup untuk mencari jalan ke luar dari masalah yang membelit ini. Ya, rasanya bukan pilihan buruk untuk meminta bantuan Yafas. Kedua tangan Makaila saling meremas dan berkata, “Ya-Yafas, aku ingin meminta bantuanmu.”

“Tentu saja. Coba katakan apa yang kamu perlukan, dan katakan apa yang kamu cemaskan. Aku akan melakukan apa pun yang kamu minta,” jawab Yafas sama sekali tidak merasa ragu.

Semakin yakinlah Makaila jika dirinya memang perlu untuk mengatakan alasan yang membuatnya seperti ini. Makaila pun berkata, “Kalau begitu, sebelum aku meminta bantuanmu. Aku ingin menceritakan sesuatu lebih dulu.”

Yafas mengangguk dan berkata, “Maka ceritakanlah.”

“Jadi ….”

Ucapan Makaila terinterupsi dengan suara ketukan pintu. Yafas sendiri mengernyitkan keningnya. Jika tidak ada masalah mendesak, biasanya suster yang berada di meja administrasi pasti sebisa mungkin akan menjaga situasi tetap tenang ketika ada yang tengah berkonsultasi. Karena itulah, Yafas mempersilakan untuk sang pengetuk pintu membuka pintu. Munculan sang perawat yang kemudian berkata, “Maaf, Dok. Saya ingin menyampaikan pesan yang diberikan Nyonya Edelia.”

Yafas mengangguk dan mempersilakan perawatnya untuk melanjutkan perkataannya. “Nyonya Edelia mendapatkan panggilan dari kantornya, dan tidak bisa untuk menunggui Nona Makaila sampai selesai konseling. Karena itu, Nyonya Edelia mengirim orang yang dikenal Nona Makaila untuk menjemput Nona saat waktu konseling sudah selesai,” ucap sang perawat.

Makaila mengernyitkan keningnya saat mendengar perkataan sang perawat. Ia menerka-nerka, siapakah yang dikirim oleh mamanya untuk menjemputnya. Namun, saat Makaila melihat sosok di belakang sang perawat, Makaila tidak bisa menahan diri untuk menahan napasnya. “Bara,” bisik Makaila tidak percaya.

Want to know what happens next?
Continue Reading
Previous Chapter
Next Chapter

Share the book to

  • Facebook
  • Twitter
  • Whatsapp
  • Reddit
  • Copy Link

Latest chapter

The Hottest Desire (Bahasa Indonesia)   50. Akhir yang Manis

Makaila terlihat begitu bahagia saat mendengar kabar dari Harry jika ibunya hari ini sudah diperbolehkan untuk pulang dan sebentar lagi akan tiba di kediaman Yakov. Saat ini saja, Makaila berusaha untuk melangkah dengan cepat. Ia tidak ingin sampai ibunya lebih dulu tiba, sebelum dirinya tiba di depan pintu untuk menyambut kepulangannya. Sedikit banyak, Makaila merasa bersalah karena dirinya tidak bisa menemani sang ibu yang selama beberapa minggu ini memang dirawat secara intensif di rumah sakit.Hal ini terjadi, karena Bara dan Harry sama-sama melarang Makaila untuk ke luar dari kediaman Yakov, apalagi untuk mengunjungi Luna yang memang dirawat di

The Hottest Desire (Bahasa Indonesia)   49. Kenyataannya

Luna merapikan gaun sederhana yang ia kenakan. Perempuan satu itu tampak begitu senang mengenakan pakaian seperti ini, setelah sekian lama dirinya hanya menggunakan pakaian pasien. Benar, hari ini Luna sudah diperbolehkan untuk pulang. Karena itulah, Luna sama sekali tidak ingin membuang waktu lebih lama untuk segera bersiap untuk pulang. Ia ingin segera pulang dan bertemu dengan putrinya.Tentu saja, Luna ingin melepaskan kerinduannya pada sang putri yang sudah lama tak ia temui. Selama dirinya dirawat di rumah sakit, Makaila memang tidak diperbolehkan untuk menjenguk terlalu sering. Bahkan, Makaila hanya bisa menjenguk satu kali. Tentu saja, hal t

The Hottest Desire (Bahasa Indonesia)   48. Insting

Bara membenarkan letak selimut yang menutupi tubuh Makaila. Setelah itu, Bara mencium kening Makaila dengan lembut sebelum bangkit dan meninggalkan Makaila yang tentu saja semakin tenggelam di alam bawah sadarnya. Bara tentunya tidak meninggalkan Makaila begitu saja tanpa penjagaan. Meskipun Makaila berada di kediaman Yakov, yang tak lain adalah kediaman ayahnya sendiri, tetapi Bara tetap harus memberikan keamanan berlapis mengingat kejadian demi kejadian buruk yang datang silih berganti dalam kehidupan Makaila. Bara menutup pintu kamar Makaila dan menatap Fabian dan beberapa pengawal yang berasal dari kediaman Yakov sendiri, serta para pengawal bawahan Bara.

The Hottest Desire (Bahasa Indonesia)   47. Lebih dari Berhak

Makaila terlihat begitu terburu-buru dan melangkah cepat setengah berlari. Namun, Bara yang menggandeng tangannya dengan lembut menahan tangan Makaila dan berkata, “Pelan-pelan saja. Toh, kita sudah berada di rumah sakit. Sebentar lagi kau bisa bertemu dengan ibumu. Sekarang, lebih baik perhatikan langkahmu dengan baik.”Makaila yang mendengarnya dengan patuh memelankan langkah kakinya. Hal tersebut membuat Bara mengulum senyum dan menanamkan sebuah kecupan pada pelipis Makaila dengan lembut. “Gadis pintar,” puji Bara lalu menghela Makaila untuk melangkah kembali.

The Hottest Desire (Bahasa Indonesia)   46. Selamat

Makaila tersentak. Ia tebangun dari tidurnya dan duduk di tengah ranjang dengan tubuh bergetar hebat dan keringat yang membasahi kening serta pelipisnya. Belum juga Makaila menormalkan penglihatannya, Makaila sudah lebih dulu merasakan serangan mual yang sangat. Hal itu terjadi saat dirinya mengingat kejadian di mana darah segar yang terciprat pada wajahnya disusul dengan aroma karat amis yang pekat terasa di ujung hidungnya. Makaila membekap mulutnya sendiri dan berusaha untuk menggerakkan kakinya yang terasa lemas. Namun, Makaila jelas-jelas merasa sangat kesulitan.Untungnya, seseorang datang dan membantu Makaila dengan menggendong tubuh Makaila

The Hottest Desire (Bahasa Indonesia)   45. Tembakkan Pertama

“Kau ingin menjadikannya simpananmu? Maka lakukanlah! Tapi masih bisakah kau melakukannya saat sudah berada di neraka?” tanya Bara dengan wajah penuh kemurkaan dan aura mengerikan yang menguar di sekujur tubuhnya yang kekar. Pria yang menjambak rambut Makaila menoleh pada sumber suara, dan tidak bisa menahan dir

The Hottest Desire (Bahasa Indonesia)   16. Mengawasi

“Mama!” seru Makaila saat melihat Edelia masuk ke dalam apartemen dengan senyuman yang merekah.

The Hottest Desire (Bahasa Indonesia)   15. Selangkah di Depan

“Apa yang akan kau laporkan?” tanya Bara pada Fabian yang berada di ujung sambungan telepon. Sementara dirinya sendiri, kini menatap pantulan dirinya

The Hottest Desire (Bahasa Indonesia)   14. Kecurigaan Yafas

Yafas melangkah dengan santai menyusuri lorong yang akan membawanya menuju sebuah pintu apart

The Hottest Desire (Bahasa Indonesia)   13. Tiba-Tiba Saja (21+)

Makaila menahan rasa malunya saat Bara dengan tidak canggung memeriksa bagian intim Makaila s

More Chapters
Download the Book
GoodNovel

Download the book for free

Download
Search what you want
Library
Browse
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystemFantasyLGBTQ+ArnoldMM Romancegenre22- Englishgenre26- EnglishEnglishgenre27-Englishgenre28-英语
Short Stories
SkyMystery and suspenseModern urbanDoomsday survivalAction movieScience fiction movieRomantic movieGory violenceRomanceCampusMystery/ThrillerImaginationRebirthEmotional RealismWerewolfhopedreamhappinessPeaceFriendshipSmartHappyViolentGentlePowerfulGory massacreMurderHistorical warFantasy adventureScience fictionTrain station
CreateWriter BenefitContest
Hot Genres
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystem
Contact Us
About UsHelp & SuggestionBussiness
Resources
Download AppsWriter BenefitContent policyKeywordsHot SearchesBook ReviewFanFictionFAQFAQ-IDFAQ-FILFAQ-THFAQ-JAFAQ-ARFAQ-ESFAQ-KOFAQ-DEFAQ-FRFAQ-PTGoodNovel vs Competitors
Community
Facebook Group
Follow Us
GoodNovel
Copyright ©‌ 2026 GoodNovel
Term of use|Privacy