Download the book for free
5. Firasat yang Terbukti
Author: MiafilyMakaila terlihat begitu pucat. Bagaimana mungkin dirinya tidak pucat jika saat ini dirinya tengah duduk di atas pangkuan Bara. Tentu saja, Makaila merasa jika posisinya ini sangat tidak aman. Ya, tidak aman sebagai seorang target pembunuhan, dan tidak aman sebagai seorang gadis. Ayolah, Bara itu adalah pria yang sudah dewasa, dan Makaila yakin jika Bara adalah pria yang normal. Tentu saja, sebagai seorang gadis, Makaila merasa jika posisi ini sangatlah berbahaya. Namun, Makaila sama sekali tidak bisa berutik. Saat ini Makaila berusaha untuk tidak bergerak berlebihan dan memilih untuk fokus dengan pelajaran yang tengah tersaji di hadapannya.
“Sekarang, kerjakan sesuai dengan cara yang aku jelaskan barusan. Jika salah, aku tidak akan berpikir dua kali untuk memberikan hukuman padamu. Tapi, jika kau berhasil mengerjakannya dengan baik, maka aku akan memberikan hadiah yang tentu saja akan menyenangkan,” bisik Bara tepat di telinga kiri Makaila. Bisikan itu jelas membuat Makaila merinding bukan main. Namun, Makaila berusaha untuk fokus dan segera mengerjakan soal logaritma yang terlihat begitu rumit. Bahkan, Makaila memerlukan cukup banyak waktu dan kertas untuk memecahkan sebuah soal tersebut.
Namun, Bara sama sekali tidak mengganggu apa yang tengah dikerjakan oleh Makaila. Bara lebih memilih untuk melingkarkan kedua tangannya pada pinggang ramping Makaila. Ternyata saat fokus, Makaila sama sekali tidak menyadari apa yang dilakukan oleh Bara. Makaila masih saja tetap fokus dengan apa yang ia kerjakan, hal itu membuat Bara merasa tergelitik. Pria satu itu menenggerkan dagunya pada bahu mungil Makaila dan mengamati apa yang tengah dikerjakan oleh Makaila. Mau tidak mau, Bara menyunggingkan senyumnya saat melihat jika Makaila mengerjakan tugasnya dengan sangat baik.
Bara pun mulai memikirkan apa hadiah yang akan ia berikan pada Makaila, karena Bara yakin jika Makaila bisa mengerjakan tugasnya dengan baik. Meskipun niat awal Bara menyamar menjadi seorang guru privat adalah untuk melaksanakan rencananya menjerat Makaila, tetapi Bara rasa tidak ada ruginya untuk mengajarkan pelajaran yang memang dibutuhkan oleh Makaila. Tentu saja, bagi seseorang seperti Bara, kecerdasan adalah hal yang paling utama. Bara adalah seorang bos dalam dunia kriminal, jadi dirinya memang perlu memiliki ketajaman insting yang berbading lurus dengan kecerdasan yang ia miliki.
Mengingat mengenai profesinya, Bara sendiri merasa jika dirinya sudah tidak sabar untuk mengungkapkannya pada Makaila. Selama ini, tentu saja Bara bisa menebak jika Makaila hanya sekadar berpikir bahwa Bara hanyalah seorang penjahat yang tidak segan untuk membunuh seseorang. Namun, nyatanya Bara bukanlah penjahat yang memiliki kejahatan sebatas itu. Sayangnya, Bara tidak bisa mengatakannya saat ini juga. Karena Bara harus melakukan semuanya sesuai dengan rencana, agar apa yang ia lakukan terkendali dan sukses seperti yang ia harapkan.
Bara tersadar saat Makaila berseru, “Ah, sudah selesai!”
Bara pun menatap hasil kerja Makaila yang memang ditunjukkan secara bangga oleh Makaila. Bara meneliti setiap angka demi melihat apakah memang ada angka yang salah. Namun, sesuai dengan perkiraan sebelumnya, Makaila sama sekali tidak melakukan kesalahan dalam proses pengerjaan hingga mendapatkan hasil yang tepat dengan perhitungan Bara sebelumnya. Makaila yang masih duduk di pangkuan Bara yang duduk lesehan di kamar pribadinya, tentu saja merasa harap-harap cemas. Meskipun Makaila yakin dirinya sudah mengerjakannya dengan sangat baik, tetapi Makaila tidak bisa menahan diri untuk merasa gugup. Makaila tidak ingin mendapatkan hukuman dari Bara.
Makaila memang belum tahu hukuman apa yang akan diberikan oleh Bara padanya. Namun, mengingat Bara yang bahkan tidak berkedip saat menarik pelatuk dan membunuh seseorang, Makaila yakin jika hukuman yang akan diberikan oleh Bara pastinya terasa sangat mengerikan. Karena itulan, Makaila berusaha untuk mengerjakannya dengan sebaik mungkin, penuh ketelitian dan kehati-hatian. Mungkin, bisa dibilang Makaila merasa jika dirinya tengah mengerjakan soal ujian seperti dirinya sekolah dulu. Hanya saja, tekanan yang ia rasakan saat ini jelas terasa lebih mencekam karena ada Bara yang mngawasi serta menilai hasil kerjanya.
Bara mengangguk dan mengambil bolpoin merah untuk menilai beberapa poin. Bara menuliskan sesuatu sembari berkata, “Daripada menggunakan cara sepanjang itu, lebih baik kau menggunakan cara seperti ini. Jelas, saat ujian cara yang aku berikan ini akan lebih menguntungkan karena menghemat waktu.”
Makaila tentu saja dengan fokus mengamati apa yang tengah ditulis dengan cepat oleh Bara. Sedikit banyak, Makaila sendiri merasa begitu takjub dengan kemampuan Bara. Karena Bara memang memiliki kemampuan yang sangat baik jika disebut sebagai seorang tenaga pengajar. Dengan kemampuan tersebut, Makaila curiga jika kemungkinnan Bara memang berprofesi sebagai seorang guru. Namun, mengingat Bara yang bahkan memiliki senjata api dan pernah membunuh, rasanya sangat mustahil jika Bara memang adalah seorang tenaga pengajar yang resmi. Apa mungkin, Bara repot-repot belajar dan berusaha menjadi pengajar demi menjerat Makaila? Makaila berusaha untuk menepis pemikirannya tersebut dan memilih untuk kembali fokus dengan apa yang tengah diajarkan oleh Bara.
Setelah selesai menunjukkan cara mudah serta singkat, Bara meletakkan bolpoinnya dan bertanya, “Apa kau mengerti dengan cara ini?”
Makaila tidak menoleh untuk menatap Bara yang jelas tengah mengamatinya. Makaila tetap fokus dengan cara yang ditunjukkan oleh Bara dan malah menjawab, “Bisakah kamu memberikan soal yang lain untukku? Aku ingin mencoba cara yang baru kamu ajarkan.”
Bara yang mendengar perkataan Makaila merasakan pergolakan batin. Di satu sisi, sebagai seseorang yang mengajarkan, Bara merasa senang karena Makaila memiliki semangat untuk belajar. Namun di sisi lain, Bara merasa kesal setengah hidup dengan apa yang dilakukan oleh Makaila. Kenapa? Karena rasanya, Bara kalah menarik dengan soal matematika yang saat ini tengah dipandangi dengan penuh minat oleh Makaila. Hanya saja, Bara sama sekali tidak keberatan untuk membuat sebuah soal yang baru untuk Makaila. Bara jelas ingin mengetahui kemampuan Makaila.
Perkiraan Bara mengenai Makaila yang memang memiliki kecerdasan dalam bidang akademik memang benar adanya. Hal itu terbukti dengan Makaila yang dengan mudah menerapkan apa yang baru saja diajarkan oleh Bara. Makaila berseru senang setelah mengerjakan soal tersebut dan meminta Bara untuk memeriksa hasil kerjanya. “To-tolong periksa hasil kerjaku,” ucap Makaila antusias dengan hasil kerjanya, dan seakan-akan lupa jika sosok yang tengah memangkunya saat ini adalah sosok yang seharusnya sangat ia hindari.
Bara pun menarik buku Makaila agar mudah ia lihat. Bara kembali mengangguk dan memberikan nilai sempurna karena Makaila mengerjakannya dengan sangat baik. Makaila yang melihat hal itu tentu saja tersenyum dengan senangnya, hingga kedua pipinya yang putih merona dengan cantiknya. Tentu saja itu adalah pemandangan langka bagi Bara yang selama ini selalu disuguhkan dengan raut ketakutan yang pucat pasi. Melihat raut senang ini, Bara pun seakan-akan mendapatkan ide cemerlang sebagai hadiah yang akan ia berikan pada Makaila.
Bara berdeham dan berkata, “Karena kau berhasil mengerjakan dua soal dengan sangat baik, maka aku akan menepati janjiku untuk memberikan hadiah atas kerja bagus ini.”
Mendengar hal itu, Makaila pun tersadar dari rasa senangnya dan mengernyitkan keningnya dalam. Tentu saja ia merasa penasaran dengan hadiah yang akan diberikan oleh Bara tersebut. Makaila pun menoleh sembari bertanya, “Apa hadiah yang akan kamu beri—”
Namun, belum juga Makaila menyelesaikan apa yang ia tanyakan, Bara sudah lebih dulu menahan bagian belakang kepala Makaila dan menanamkan sebuah kecupan pada bibir penuh Makaila. Jelas Makaila terkejut dan berusaha untuk menjauhkan diri, hanya saja Makaila kalah cepat karena sebelumnya Bara sudah menahan kepalanya. Apa yang dilakukan oleh Bara tidak sampai di sana saja, Bara juga mengulurkan tangannya yang bebas untuk meremas salah satu buah dada Makaila. Darah seakan-akan surut dari wajah Makaila, dan menyisakan rona pucat yang begitu kentara.
Dada Makaila mulai terasa begitu sesak saat dirinya tidak bisa bernapas dengan baik. Tubuhnya bergetar hebat, disusul keringat dingin yang mengucur deras. Makaila benar-benar takut, hingga tidak lagi bisa mempertahankan kesadarannya dan lunglai dalam pelukan Bara yang sebenarnya sudah mulai bergairah. Melihat Makaila yang sudah tidak sadarkan diri dalam pelukannya, Bara pun tidak bisa menahan diri untuk memaki, “Shit! Apa aku terlalu berlebihan?”
***
“Argh!” teriak Makaila sembari tersentak dari posisi berbaringnya. Keringat dingin mengucur deras mengiringi air mata yang terus saja menetes di sudut kedua matanya.
Mendengar jeritan putrinya, Edelia yang semula tengah menyiapkan makan malam, segera berlari dan masuk ke dalam kamar Makaila masih dengan celemek yang ia kenakan. Edelia duduk di tepi ranjang dan menyeka keringat dingin di kening serta pelipis putrinya. “Sstt, Sayang. Tenanglah, itu hanya mimpi buruk. Mama ada di sini, tenanglah,” ucap Edeli mencoba menenangkan putrinya.
Makaila yang mendengar hal itu menggigit bibirnya dengan kuat. Tidak, apa yang membuatnya bangun bukanlah mimpi biasa. Itu adalah hal yang benar terjadi tadi siang. Bara sudah melecehkan dirinya. Namun, Makaila tidak mungkin mengatakan hal tersebut pada Edelia. Karena hal itu sama saja dengan mengungkapkan identitas sesungguhnya dari Bara, itu artinya Edelia juga akan berada dalam bahaya. Tentu saja, Makaila tidak mau keluarga satu-satunya ini mendapatkan masalah bahkan berada dalam bahaya. Makaila tidak ingin.
Makaila memeluk ibunya dengan erat dan menumpahkan isak tangisnya di sana. Makaila tidak ingin ibunya dalam bahaya, karena itulah Makaila akan berusaha menanggung semua ini sendirian. Makaila akan berusaha sekuat tenaga untuk itu. Walaupun Makaila sendiri tidak yakin, akan sejauh mana dirinya bisa bertahan dengan situasi yang jelas terasa menyesakkan ini. Makaila hanya bisa berdoa, agar Tuhan segera mengulurkan tangannya dan memberikan pertolongan pada Makaila agar segera terlepas dari jeratan Bara.
Share the book to
Facebook
Twitter
Whatsapp
Reddit
Copy Link
Latest chapter
The Hottest Desire (Bahasa Indonesia) 50. Akhir yang Manis
Makaila terlihat begitu bahagia saat mendengar kabar dari Harry jika ibunya hari ini sudah diperbolehkan untuk pulang dan sebentar lagi akan tiba di kediaman Yakov. Saat ini saja, Makaila berusaha untuk melangkah dengan cepat. Ia tidak ingin sampai ibunya lebih dulu tiba, sebelum dirinya tiba di depan pintu untuk menyambut kepulangannya. Sedikit banyak, Makaila merasa bersalah karena dirinya tidak bisa menemani sang ibu yang selama beberapa minggu ini memang dirawat secara intensif di rumah sakit.Hal ini terjadi, karena Bara dan Harry sama-sama melarang Makaila untuk ke luar dari kediaman Yakov, apalagi untuk mengunjungi Luna yang memang dirawat di
The Hottest Desire (Bahasa Indonesia) 49. Kenyataannya
Luna merapikan gaun sederhana yang ia kenakan. Perempuan satu itu tampak begitu senang mengenakan pakaian seperti ini, setelah sekian lama dirinya hanya menggunakan pakaian pasien. Benar, hari ini Luna sudah diperbolehkan untuk pulang. Karena itulah, Luna sama sekali tidak ingin membuang waktu lebih lama untuk segera bersiap untuk pulang. Ia ingin segera pulang dan bertemu dengan putrinya.Tentu saja, Luna ingin melepaskan kerinduannya pada sang putri yang sudah lama tak ia temui. Selama dirinya dirawat di rumah sakit, Makaila memang tidak diperbolehkan untuk menjenguk terlalu sering. Bahkan, Makaila hanya bisa menjenguk satu kali. Tentu saja, hal t
The Hottest Desire (Bahasa Indonesia) 48. Insting
Bara membenarkan letak selimut yang menutupi tubuh Makaila. Setelah itu, Bara mencium kening Makaila dengan lembut sebelum bangkit dan meninggalkan Makaila yang tentu saja semakin tenggelam di alam bawah sadarnya. Bara tentunya tidak meninggalkan Makaila begitu saja tanpa penjagaan. Meskipun Makaila berada di kediaman Yakov, yang tak lain adalah kediaman ayahnya sendiri, tetapi Bara tetap harus memberikan keamanan berlapis mengingat kejadian demi kejadian buruk yang datang silih berganti dalam kehidupan Makaila. Bara menutup pintu kamar Makaila dan menatap Fabian dan beberapa pengawal yang berasal dari kediaman Yakov sendiri, serta para pengawal bawahan Bara.
The Hottest Desire (Bahasa Indonesia) 47. Lebih dari Berhak
Makaila terlihat begitu terburu-buru dan melangkah cepat setengah berlari. Namun, Bara yang menggandeng tangannya dengan lembut menahan tangan Makaila dan berkata, “Pelan-pelan saja. Toh, kita sudah berada di rumah sakit. Sebentar lagi kau bisa bertemu dengan ibumu. Sekarang, lebih baik perhatikan langkahmu dengan baik.”Makaila yang mendengarnya dengan patuh memelankan langkah kakinya. Hal tersebut membuat Bara mengulum senyum dan menanamkan sebuah kecupan pada pelipis Makaila dengan lembut. “Gadis pintar,” puji Bara lalu menghela Makaila untuk melangkah kembali.
The Hottest Desire (Bahasa Indonesia) 46. Selamat
Makaila tersentak. Ia tebangun dari tidurnya dan duduk di tengah ranjang dengan tubuh bergetar hebat dan keringat yang membasahi kening serta pelipisnya. Belum juga Makaila menormalkan penglihatannya, Makaila sudah lebih dulu merasakan serangan mual yang sangat. Hal itu terjadi saat dirinya mengingat kejadian di mana darah segar yang terciprat pada wajahnya disusul dengan aroma karat amis yang pekat terasa di ujung hidungnya. Makaila membekap mulutnya sendiri dan berusaha untuk menggerakkan kakinya yang terasa lemas. Namun, Makaila jelas-jelas merasa sangat kesulitan.Untungnya, seseorang datang dan membantu Makaila dengan menggendong tubuh Makaila
The Hottest Desire (Bahasa Indonesia) 45. Tembakkan Pertama
“Kau ingin menjadikannya simpananmu? Maka lakukanlah! Tapi masih bisakah kau melakukannya saat sudah berada di neraka?” tanya Bara dengan wajah penuh kemurkaan dan aura mengerikan yang menguar di sekujur tubuhnya yang kekar. Pria yang menjambak rambut Makaila menoleh pada sumber suara, dan tidak bisa menahan dir
The Hottest Desire (Bahasa Indonesia) 44. Situasi Tak Terduga
“Wah, putri Mama cantik sekali,” puji Luna setelah menyelesaikan tugasnya merias
The Hottest Desire (Bahasa Indonesia) 12. Terbakar dalam Gairah (21+)
Makaila terbangun saat tengah malam tiba. Sengatan rasa sakit yang menyerang sekujur tubuh Ma
The Hottest Desire (Bahasa Indonesia) 11. Kabar Buruk (21+)
“Wah, ke mana perginya rasa percaya dirimu itu? Kau s
The Hottest Desire (Bahasa Indonesia) 10. Taruhan
Makaila menerima kecupan dari Edelia, dan melambaikan tangannya pada Edelia yang terburu-buru
