loading
Home/ All /The Hottest Desire (Bahasa Indonesia)/7. Melepas

7. Melepas

Author: Miafily
"publish date: " 2020-09-15 12:05:59

“Bara,” bisik Makaila tidak percaya.

Suara Makaila tersebut luput dari pendengaran Yafas, saat ini Yafas malah mempersilakan Bara untuk masuk ke dalam ruangannya untuk memeriksa identitasnya. Tentu saja, Yafas harus memastikan jika Bara memang orang yang bisa dipercaya untuk membawa Makaila kembali ke apartemen dengan selamat. Meskipun Edelia sudah mempercayainya, tetapi Yafas tidak bisa percaya begitu saja. Dilihat dari tampilan Bara, Yafas yakin jika dirinya memiliki profesi yang memang memaksanya mengenakan pakaian formal.

Bara mengulurkan tangannya dan menerima jabatan tangan Yafas. Bara pun memperkenalkan diri, “Perkenalkan, saya Bara. Saya adalah guru privat Makaila selama homeschooling.”

Yafas pun mengingat nama Bara. Sebelumnya, Edelia memang sudah bercerita jika sosok guru kompeten yang ia temukan untuk mengajar Makaila, bernama Bara. Karena itulah Yafas mengangguk dan memasang senyum ramah. “Saya sempat mendengar nama Anda dari ibu Makaila, tetapi maaf saya tetap harus memeriksa identitas Anda demi kenyamanan bersama. Jadi, bolehkah saya melihat kartu identitas Anda?” tanya Yafas.

“Tentu saja. Saya bukan orang aneh, yang merasa terganggu hanya karena diminta untuk menunjukkan kartu identitas,” jawab Bara sembari mengeluarkan kartu identitas miliknya dari dompet. Yafas menerimanya lalu sibuk untuk mencatat nama dan alamat Bara, sementara saat itulah Bara memberikan tatapan penuh peringatan pada Makaila. Entah kenapa, saat itulah Makaila merasa jika Bara mengetahui apa yang akan dikatakannya pada Yafas. Dan jujur saja, itu sungguh mengerikan bagi Makaila.

Hawa dingin yang mencekam seketika merambati tulang belakang Makaila dan membuat gadis satu itu menggigil begitu saja. Ya, Makaila tahu jika Bara tengah memberikan peringatan untuk berhati-hati dengan apa yang ia katakan, dan apa yang akan ia lakukan. Makaila merasakan telapak tangannya berubah dingin, saat dirinya melihat Bara memberikan isyarat jika dirinya menyimpan sesuatu di balik jas formal yang ia kenakan saat ini. Sudah dipastikan jika hal tersebut tak lain adalah sebuah senjata api yang kemarin sempat Bara gunakan untuk mengancam Makaila.

“Terima kasih,” ucap Yafas kepada Bara yang sudah kembali berdiri dengan normal. Bara menerima kartu identitas yang dikembalikan oleh Yafas dengan senang hati.

“Kalau begitu, lebih baik Anda menunggu di luar saja. Karena sesi konsultasi Makaila belum selesai,” ucap Yafas. Ia memang berniat untuk kembali melanjutkan sesi konsultasi dengan Makaila.

Hanya saja, Makaila sudah lebih dulu bangkit dari duduknya dan berkata, “Ya-Yafas, mari kita sudahi konsultasinya. Aku tidak mau lagi melanjutkan konsultasinya. Rasanya, aku sudah terlalu lelah untuk konsultasi. Aku ingin pulang dan beristirahat sebelum kembali melanjutkan acara belajarku dengan Bara.”

Jelas, Yafas merasa jika apa yang diminta oleh Makaila terasa sangat aneh dan berat untuk disanggupi oleh Yafas. Sebelumnya, Makaila memang sering meminta sesi konsultasi dihetikan di tengah jalan. Namun, Yafas merasa jika kali ini permintaan Makaila terasa sangat janggal. Karena akhir-akhir ini, Makaila sangat jarang meminta untuk menghentikan konsultasi, apalagi dengan alasan lelah seperti yang barusan ia katakan. Rasanya, Yafas ingin sekali menghentikan Makaila, dan tidak membiarkan Bara membawa Makaila pergi. Namun, Yafas tidak bisa melakukan hal itu. Bara sudah memberikan bukti dan identitas yang jelas.

Selain Bara memang sudah dipercaya oleh Edelia untuk menjemput dan membawa Makaila kembali ke apartemen, Makaila secara pribadi sudah meminta untuk menghentikan sesi konsultasi hari ini. Karena itulah, pada akhirnya Yafas menyunggingkan senyum kecil dan mengangguk. “Baiklah, aku tidak akan memaksamu melanjutkan sesi konseling ini jika kamu merasa lelah. Lebih baik, kamu segera pulang. Tapi, jangan lupa istirahat dan minum obat yang akan aku resepkan,” ucap Yafas lalu kembali ke mejanya untuk membuat resep obat yang harus Makaila tebus nantinya.

Makaila mengangguk dengan cepat dan segera mendekat pada meja Yafas untuk menerima resep yang sudah dibuat oleh Yafas khusus untuknya. Makaila berusaha untuk menutupi rasa gugup dan perasaan takut yang ia rasakan saat ini dari Yafas. Karena Makaila tahu, jika Yafas ini adalah pria yang sangat peka, bahkan lebih peka daripada ibunya sendiri. Makaila menyunggingkan senyumnya dan berkata, “Terima kasih untuk sesi konseling hari ini, Yafas. Aku pulang dulu, permisi.”

Yafas mengangguk dan mempersilakan Makaila untuk melangkah pergi. Bara tampak gentle dengan membukakan pintu bagi Makaila. Sebelum mengikuti langkah Makaila, Bara pun menyempatkan diri untuk tersenyum dan memberikan anggukan sopan sebelum pamit undur diri. Yafas pun membalasnya dengan senyuman khas miliknya. Namun setelah keduanya pergi, Yafas tidak bisa menahan diri untuk mengernyitkan keningnya dalam-dalam. Yafas merasa ada sesuatu yang aneh di sini, tetapi Yafas belum bisa meraba apa hal yang terasa aneh ini.

***

Tiba di apartemen, Makaila tidak diberi kesempatan untuk mengatakan apa pun oleh Bara, dan kini tubuh gadis mungil tersebut sudah dihimpit ke dinding. Bara yang bertubuh tinggi dan kekar, dengan sigap menahan tubuh Makaila untuk tidak bergerak sedikit pun dari sana. Sebelum mengatakan apa pun, bibir Makaila sudah lebih dulu dibungkam oleh ciuman panas yang dilakukan oleh Bara. Makaila tentu saja bergetar penuh rasa takut. Ia bahkan menangis deras, dan berusaha berontak dengan segala cara. Kedua tangannya ia gunakan untuk mendorong tubuh Bara agar menjauh darinya. Namun, keduanya segera di tahan oleh salah satu tangan Bara.

Makaila semakin menangis keras saat merasakan kedua buah dadanya tengah disentuh dan diremas dengan gerakan sensual. Makaila berusaha untuk mempertahankan kesadarannya. Jika saat ini dirinya jatuh tak sadarkan diri, Makaila tidak bisa membayangkan apa yang dilakukan oleh Bara yang terlihat tengah sangat marah saat ini. Napas Makaila mulai terasa sesak saat Bara masih saja mengulum bibirnya dengan sensual. Bara yang menyadari hal itu melepaskan ciumannya dan menatap tajam Makaila menggunakan kedua netranya yang kelam serta menyorot dingin.

“Apa kau pikir aku ini orang bodoh? Kau berniat untuk mengungkapkan identitasku pada Psikiater itu, bukan?” tanya Bara tajam membuat Makaila semakin tidak bisa menghentikan isak tangisnya.

Bara menunduk dan mencium jejak air mata yang mengalir di kedua pipi Makaila. Ciuman tersebut tentu saja meninggakan jejak panas di kedua pipi Makaila yang jelas memucat karena merasa begitu takut dengan apa yang saat ini tengah terjadi padanya. “Bukankah aku sudah lebih dari cukup memperingatkanmu untuk berhati-hati dan tidak mengungkapkan jati diriku pada siapa pun? Kenapa kau masih saja tidak mau mendengarkan apa yang aku katakan? Jika sudah seperti ini, aku sama sekali tidak memiliki pilihan lain selain memberikan hukuman padamu,” ucap Bara sembari menjauhkan wajahnya dari Makaila, tetapi masih dengan tubuhnya yang menghimpit tubuh Makaila di dinding.

“Maaf, tolong maafkan a—kyaa!” jerit Makaila histeris, saat Bara tanpa berkedip merobek gaun yang dikenakan oleh Makaila menjadi dua bagian. Saat ini, bagian depan tubuh Makaila terlihat dengan jelas.

Sepasang pakaian dalam manis berwarna biru muda menyapa penglihatan Bara saat itu juga. Tentu saja Makaila histeris dan segera berontak dengan ganasnya. Hanya saja, Bara semakin menghimpit tubuh Makaila ke dinding agar Makaila tidak bisa bergerak sama sekali. Salah satu tangan Bara yang memang bebas, ia ulurkan untuk merambati perut datar Makaila lalu berakhir pada buah dada Makaila yang masih tertutupi cup bra yang tidak terlalu besar bagi gadis seusia Makaila. Namun, Bara rupanya tidak merasa kecewa dengan bentuk dan ukuran tersebut. Bara malah memuji, “Menggemaskan.”

Bara pun berusaha untuk menyusupkan tangannya pada cup bra tersebut, dan saat itulah Makaila yang menyadari hal tersebut tidak bisa menahan diri untuk menangis begitu histeris serta berontak dengan gila-gilaan. Bara yang menghadapinya bahkan kesulitan untuk membuat Makaila tenang. Bara melepaskan tangannya dari dada Makaila dan mencoba menahan bahu gadis satu itu, Bara jelas kesal dan menggeram. Baru saja Bara akan menyemburkan kata-kata penuh ancaman pada Makaila, gadis berparas ayu tersebut sudah kembali lunglai dalam pelukan Bara.

Kali ini, Bara menatap tajam wajah Makaila yang ia cengkram rahangnya. Tentu saja Bara kesal karena Makaila sudah jatuh tak sadarkan diri, bahkan saat dirinya belum memulai acara utama. Namun, Bara pun menyeringai dan berbisik, “Aku akan melepaskanmu untuk saat ini. Aku akan membuatmu terbiasa dengan hal ini, dan terbiasa dengan bermain gairah. Saat kau sudah terbiasa, saat itu pula aku akan menarikmu tenggelam dalam permainan ini.”

Want to know what happens next?
Continue Reading
Previous Chapter
Next Chapter

Share the book to

  • Facebook
  • Twitter
  • Whatsapp
  • Reddit
  • Copy Link

Latest chapter

The Hottest Desire (Bahasa Indonesia)   50. Akhir yang Manis

Makaila terlihat begitu bahagia saat mendengar kabar dari Harry jika ibunya hari ini sudah diperbolehkan untuk pulang dan sebentar lagi akan tiba di kediaman Yakov. Saat ini saja, Makaila berusaha untuk melangkah dengan cepat. Ia tidak ingin sampai ibunya lebih dulu tiba, sebelum dirinya tiba di depan pintu untuk menyambut kepulangannya. Sedikit banyak, Makaila merasa bersalah karena dirinya tidak bisa menemani sang ibu yang selama beberapa minggu ini memang dirawat secara intensif di rumah sakit.Hal ini terjadi, karena Bara dan Harry sama-sama melarang Makaila untuk ke luar dari kediaman Yakov, apalagi untuk mengunjungi Luna yang memang dirawat di

The Hottest Desire (Bahasa Indonesia)   49. Kenyataannya

Luna merapikan gaun sederhana yang ia kenakan. Perempuan satu itu tampak begitu senang mengenakan pakaian seperti ini, setelah sekian lama dirinya hanya menggunakan pakaian pasien. Benar, hari ini Luna sudah diperbolehkan untuk pulang. Karena itulah, Luna sama sekali tidak ingin membuang waktu lebih lama untuk segera bersiap untuk pulang. Ia ingin segera pulang dan bertemu dengan putrinya.Tentu saja, Luna ingin melepaskan kerinduannya pada sang putri yang sudah lama tak ia temui. Selama dirinya dirawat di rumah sakit, Makaila memang tidak diperbolehkan untuk menjenguk terlalu sering. Bahkan, Makaila hanya bisa menjenguk satu kali. Tentu saja, hal t

The Hottest Desire (Bahasa Indonesia)   48. Insting

Bara membenarkan letak selimut yang menutupi tubuh Makaila. Setelah itu, Bara mencium kening Makaila dengan lembut sebelum bangkit dan meninggalkan Makaila yang tentu saja semakin tenggelam di alam bawah sadarnya. Bara tentunya tidak meninggalkan Makaila begitu saja tanpa penjagaan. Meskipun Makaila berada di kediaman Yakov, yang tak lain adalah kediaman ayahnya sendiri, tetapi Bara tetap harus memberikan keamanan berlapis mengingat kejadian demi kejadian buruk yang datang silih berganti dalam kehidupan Makaila. Bara menutup pintu kamar Makaila dan menatap Fabian dan beberapa pengawal yang berasal dari kediaman Yakov sendiri, serta para pengawal bawahan Bara.

The Hottest Desire (Bahasa Indonesia)   47. Lebih dari Berhak

Makaila terlihat begitu terburu-buru dan melangkah cepat setengah berlari. Namun, Bara yang menggandeng tangannya dengan lembut menahan tangan Makaila dan berkata, “Pelan-pelan saja. Toh, kita sudah berada di rumah sakit. Sebentar lagi kau bisa bertemu dengan ibumu. Sekarang, lebih baik perhatikan langkahmu dengan baik.”Makaila yang mendengarnya dengan patuh memelankan langkah kakinya. Hal tersebut membuat Bara mengulum senyum dan menanamkan sebuah kecupan pada pelipis Makaila dengan lembut. “Gadis pintar,” puji Bara lalu menghela Makaila untuk melangkah kembali.

The Hottest Desire (Bahasa Indonesia)   46. Selamat

Makaila tersentak. Ia tebangun dari tidurnya dan duduk di tengah ranjang dengan tubuh bergetar hebat dan keringat yang membasahi kening serta pelipisnya. Belum juga Makaila menormalkan penglihatannya, Makaila sudah lebih dulu merasakan serangan mual yang sangat. Hal itu terjadi saat dirinya mengingat kejadian di mana darah segar yang terciprat pada wajahnya disusul dengan aroma karat amis yang pekat terasa di ujung hidungnya. Makaila membekap mulutnya sendiri dan berusaha untuk menggerakkan kakinya yang terasa lemas. Namun, Makaila jelas-jelas merasa sangat kesulitan.Untungnya, seseorang datang dan membantu Makaila dengan menggendong tubuh Makaila

The Hottest Desire (Bahasa Indonesia)   45. Tembakkan Pertama

“Kau ingin menjadikannya simpananmu? Maka lakukanlah! Tapi masih bisakah kau melakukannya saat sudah berada di neraka?” tanya Bara dengan wajah penuh kemurkaan dan aura mengerikan yang menguar di sekujur tubuhnya yang kekar. Pria yang menjambak rambut Makaila menoleh pada sumber suara, dan tidak bisa menahan dir

The Hottest Desire (Bahasa Indonesia)   44. Situasi Tak Terduga

“Wah, putri Mama cantik sekali,” puji Luna setelah menyelesaikan tugasnya merias

The Hottest Desire (Bahasa Indonesia)   43. Negatif

Makaila mencuci wajahnya yang terlihat begitu lesu dan pucat. Hari ini, dirinya tepat sudah tinggal satu bulan di kediaman mewah milik ayahnya. Semuanya terasa nyaman, Makaila

The Hottest Desire (Bahasa Indonesia)   42. Bara yang Licik

Dominik terlihat menatap tiga lembar foto berukuran sekitar 3R yang dicetak hitam putih. Itu

The Hottest Desire (Bahasa Indonesia)   41. Tamu Tak Diundang

Makaila menatap langit yang tampak cerah. Meskipun langit tersebut tampak sama dengan langit

More Chapters
Download the Book
GoodNovel

Download the book for free

Download
Search what you want
Library
Browse
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystemFantasyLGBTQ+ArnoldMM Romancegenre22- Englishgenre26- EnglishEnglishgenre27-Englishgenre28-英语
Short Stories
SkyMystery and suspenseModern urbanDoomsday survivalAction movieScience fiction movieRomantic movieGory violenceRomanceCampusMystery/ThrillerImaginationRebirthEmotional RealismWerewolfhopedreamhappinessPeaceFriendshipSmartHappyViolentGentlePowerfulGory massacreMurderHistorical warFantasy adventureScience fictionTrain station
CreateWriter BenefitContest
Hot Genres
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystem
Contact Us
About UsHelp & SuggestionBussiness
Resources
Download AppsWriter BenefitContent policyKeywordsHot SearchesBook ReviewFanFictionFAQFAQ-IDFAQ-FILFAQ-THFAQ-JAFAQ-ARFAQ-ESFAQ-KOFAQ-DEFAQ-FRFAQ-PTGoodNovel vs Competitors
Community
Facebook Group
Follow Us
GoodNovel
Copyright ©‌ 2026 GoodNovel
Term of use|Privacy