Download the book for free
Perjodohan
Author: YustieyussSelin sedang mengendarai sedan hitamnya dalam perjalanan menuju rumah orang tuanya setelah lebih dari dua bulan tidak pernah pulang, orang tuanya memaksanya untuk pulang malam ini, entah hal penting apa yang akan mereka sampaikan mengingat tadi pagi ia menerima telepon dari Mamanya yang memaksanya untuk pulang dan tidak ingin menerima penolakan karna mereka tahu ia akan memberikan berbagai alasan untuk tidak pulang.
Selin langsung memarkirkan mobilnya di garasi yang biasa ia tempati tanpa memperhatikan jika ada mobil lain yang ada di halaman depan rumahnya dan langsung masuk melalui pintu samping yang langsung menghubungkan area dapur.
Dari posisinya sekarang ini, Selin bisa mendengar beberapa orang sedang berbicara di ruang tamu, tetapi ia tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang sedang mereka bahas. Ia bisa mengenali suara kedua orang tuanya dan ada tiga suara dari orang yang berbeda. Karena penasaran Selin pun langsung menuju sumber suara tersebut.
"Mama Papa Selin pulang", ucap Selin pada orang tuanya dan sontak orang-orang yang berada di ruangan itu menoleh kearah Selin.
Ada beberapa orang yang Selin tidak kenali yang duduk bersama orang tuanya disana. Sudah jelah bahwa merekalah pemilik suara yang tadi Selin dengar.
"Ehh anak mama udah datang yah? " tanya sang mama sambil tersenyum hangat, Senyum yang sudah lama sekali tidak Selin lihat hari ini kembali tampak menghiasi wajah ayu mamanya. Walaupun sang mama sudah berumur 53 tahun, tetapi kecantikan masa muda mamanya masih tersisa sampai sekarang. "Sini sayang, Kenalin ini om Hans Atmajaya dan istrinya tante Ina Atmajaya teman mama sama papa dan yang itu anaknya Dion Atmajaya". ujar mamanya mengundang Selin untuk bergabung bersama mereka diruang tamu sambil memperkenalkan ketiga tamunya, Selin mengambil tempat duduk tepat disebelah mamanya dan tersenyum pada ketiga tamu tersebut.
"Selamat malam, kenalin saya Selin" ucap Selin sopan memperkenalkan diri dan menyalami ketiga tamu kedua orang tuanya tersebut.
"Wah cantik yah pah?, sopan lagi" tanya tante Ina pada suaminya dengan senyum mengembang yang hanya di angguki oleh sang suami dan membalas senyumannya.
Mereka berbincang-buncang beberapa saat sampai salah satu asisten rumah tangga mama Selin datang memberitahu mama Selin bahwa hidangan makan malam mereka telah siap.
"Nah berhubung semuanya udah ngumpul mending kita langsung ke ruang makan saja" ucap mama Selin seraya berdiri dan menuju meja makan yang di ikuti oleh semua orang.
Selin duduk di kursi yang sejajar dengan kedua orang tuanya dan para tamunya duduk di depannya. Makan malam mereka berjalan lancar yang diselingi obrolan ringan seperti, bagaimana kesibukan masing-masing serta obrolan seputar pekerjaan mereka.
Setelah beberapa saat dan kegiatan makan mereka telah selesai Mama Selin memulai percakapan "nah karna makan malamnya sudah selesai, mari kita membahas tujuan awal kita"
deg deg deg
Selin langsung menatap Sang mama dan selanjutnya menatap orang-orang yang berada di ruangan itu secara bergantian dan sekarang pandangannya tertuju pada Dion yang juga memandang ke arahnya. Sedari tadi Dion lebih banyak diam dan hanya sesekali mengeluarkan suaranya jika ditanya, dan untuk sesaat pandangan mereka terkunci mencoba saling menebak apa yang mereka pikirkan.
"Mah...Pah, apa maksud semua ini? apa tujuan awal dari makan malam ini? " tanya Selin memutus pandangannya pada pria di depannya itu dan mengalihkan pandangannya ke arah kedua orang tuanya yang berada di sebelahnya dengan tatapan curiga.
"Ehm... Sayang kami sudah sepakat untuk menjodohkan kalian, kalian sangat cocok untuk satu sama lain", ujar mama Selin.
Butuh beberapa detik agar Selin bisa mencerna apa yang diucapkan oleh ibunya sebelum memberikan tatapan tidak suka pada kedua orang tuanya. Tatapan yang diberikan Selin seolah menjadi tanda penolakan yang cukup jelas untuk rencana kedua orang tuanya itu.
"Iya sayang, kami sudah sepakat dengan itu, bahkan kami telah merencanakan untuk melakukan pertunangan kalian malam ini juga" sambung tante Ina.
Sedangkan Dion sedari tadi hanya terdiam tidak mengeluarkan sepatah kata pun, ia menatap hanya Selin, mencoba mencari tahu apa yang sedang di pikirkan gadis itu, dan dari apa yang dilihat Dion dari ekspresi gadis yang duduk di depannya ini, ia sangat yakin kalau gadis itu akan menolak perjodohan mereka.
Apakah ia akan menolak perjodohan ini? tanya Dion dalam hati
"Sayang, ini permintaan pertama dan terakhir dari kami, ini juga demi kebahagiaanmu nak. kamu harus memulai hidupmu lagi dan lupakan semua masa lalu mu, jangan biarkan hal itu menghalangimu untuk menata masa depanmu, yahh... mama mohon sama kamu" ujar mama Selin sambil menggenggam kedua tangan Selin dengan mata yang berkaca-kaca.
Selin hanya bisa terdiam mendengar permintaan mamanya itu, memang selama ini kedua orang tuanya tidak pernah meminta hal yang macam-macam pada Selin bahkan memberi kebebasan padanya untuk mengambil setiap keputusan dalam hidupnya.
"Kenapa tiba-tiba seperti ini?" tanya Selin, kali ini nada bicaranya sudah sedikit melunak. Ia sedikit merasa kecewa terhadap kedua orang tuannya yang tidak membicarakan hal ini sebelumnya.
"Ini tidak tiba-tiba kok sayang, kami sudah lama merencanakan rencana ini dan menunggu waktu yang pas untuk menyampaikannya sama kamu" Ucap wanita paruh baya yang duduk di seberangnya yang Selin ketahui bernama Tante Ina. Selin masih terdiam setelah mendengar apa yang diucapkan oleh tante Ina, tatapannya masih mengarah ke samping pada sang mama, ia masih menunggu penjelasan dari mamanya itu.
"Tante Ina benar sayang, kami sudah lama merencanakan perjodohan kalian ini. Bahkan Dion sudah tahu dari awal tentang hal ini" Ucap Mama Selin, kali ini Selin mengalihkan pandangannya kembali ke arah pria di depannya ini setelah mendengar dari mamanya bahwa pria itu sudah tahu lebih dulu soal perjodohan ini.
"Tetap saja, kalian tidak pernah mendiskusikan hal ini pada Selin sebelumnya, kalian tidak pernah meminta pendapat Selin sama sekali" ucap Selin dengan pandangan kecewanya yang ia tujukan ke kedua orang tuanya, ia sungguh kecewa dengan sikap orang tuanya yang tidak pernah mendiskusikan masalah ini, padahal hal ini juga menyangkut masa depannya kan?.
"Bagaimana kami bisa mendiskusikan hal ini sama kamu? sedangkan kamu sendiri selalu menghindar jika kami menghubungimu dan memintamu untuk pulang ke rumah" kali ini Papa Selin yang angkat bicara, setelah dari tadi hanya terdiam menyaksikan percakapan mereka.
Selin terdiam mendengar ucapan sang papa. Papanya benar, ia selalu menghindar setiap kedua orang tuanya memintanya untuk pulang ke rumah mereka.
Setelah terdiam dengan pikirannya sendiri, akhirnya Selin kembali mengeluarkan suaranya setelah menarik dan menghembuskan nafasnya secara perlahan untuk mengembalikan ketenangan pada dirinya dan apa yang Selin katakan mengagetkan orang-orang yang berada dimeja makan tersebut dengan keputusan yang ia berikan.
"Baiklah Mah, Selin akan menerima perjodohan ini tapi kita juga harus meminta persetujuan pada Doin", jawab Selin datar dan mengarahkan pandangannya pada Dion yang duduk di depannya dan juga menatap ke arahnya
"Dion juga setuju untuk perjodohan ini" jawab Dion singkat. Selin cukup terkejut dengan jawaban yang diberikan oleh Dion yang terdengar penuh keyakinan.
"Tapi Selin punya syarat" ucap Selin lagi sengaja menggantungkan ucapannya setelah mendengar jawaban Dion.
"Apa syaratnya sayang?" tanya tante Ina dengan raut bahagia.
"Selin tidak akan menerima kebohongan apa pun terlebih pengkhianatan" ucap Selin tegas sambil menatap kearah Dion dengan nada tegasnya, ia ingin menunjukkan jika apa yang dia ucapkan itu adalah serius. "Jika hal itu terjadi, maka aku akan pergi saat itu juga" sambungnya yang mengagetkan pasangan Atmajaya itu. Sedangkan kedua orang tuanya hanya pasrah dengan keputusan yang akan diambil oleh putrinya itu jika suatu hari hal itu terjadi pada hubungannya mereka, kedua orang tua Selin cukup memaklumi keputusan sang putri.
"Aku berjanji tidak akan melakukan kesalah itu" Ucap Dion mantap tanpa mengalihkan tatapannya dari Selin.
Selin hanya tersenyum miring mendengar janji yang diucapkan oleh pria yang sebentar lagi akan menjadi calon suaminya itu. Ia tidak membutuhkan janji kosong semacam itu, yang ia butuhkan hanya pembuktian dari setiap kata-katanya.
"Jangan pernah menjanjikan sesuatu yang tidak bisa kamu kendalikan," ucap Selin lagi.
Share the book to
Facebook
Twitter
Whatsapp
Reddit
Copy Link
Latest chapter
SELIN—DION Salah Paham
Selin keluar dari dalam Toilet dengan wajah yang lumayan segar dan penampilan yang kembali rapi, ia menemukan sang sahabat sudah menunggunya di salah satu kursi yang berada didepan meja kerjanya sambil memainkan ponselnya dengan senyum yang tercetak jelas di wajah sang sahabat, ia yakin jika orang yang sedang berbalas pesan dengannya adalah Farukh—tunangan sang sahabat.Menyadari keberadaan Selin, Cerry langsung mengalihkan pandangannya yang sedari tadi berada pada ponselnya kearah sang sahabat."udah siap?" tanya Cerry sambil memasukkan ponselnya kedalam tas tangannya."Udah, kita pulang sekarang?" Jawab Selin sambil mengajak Sang sahabat segera pulang yang diangguki oleh sang sahabat.Mereka berdua kemudian beranjak meninggalkan ruang kerja Selin sambil bercakap membahas hal-hal yang sesekali membuat mereka tersenyum dan Selin bisa melupakan sejenak tentang mood nya yang hancur hari ini.*****
SELIN—DION Mood yang Hancur
Dion mengejar langkan lebar Selin dengan langkahnya yang tak kalah lebar pula, ia takut jika kedatangan Diandra yang tak terduga barusan akan memengaruhi mood sang calon istri tercintanya itu."Sayang, tunggu aku. Aku akan mengantar mu kembali ke kantor" ucap Dion setelah berhasil meraih tangan Selin setelah mereka sudah berada diluar rumah makan tersebut.Selin tidak berusaha melepaskan tangannya yang sudah digenggam erat oleh Dion dan sedang dituntun oleh pria itu untuk berjalan menuju mobilnya.Selin tetap tidak mengucapkan sepatah kata pun saat mereka memasuki mobil hingga mobil yang dikendarai oleh Dion berhenti tepat didepan gedung perkantoran Selin.Selin keluar dari mobil tersebut masih dengan kebungkaman yang membuat Dion bertambah frustasi. Dion lebih memilih di bentak dan dicaci maki oleh sang calon istri tercintanya ini dari pada didiamkan seperti ini layaknya makhluk yang tak kasat mata. Tapi ia sangat
SELIN—DION Andalusia
Acara makan malam kedua keluarga yang akan segera menjadi satu itu berjalan dengan lancar, mereka banyak membahas tentang persiapan pernikahan kedua anak mereka serta berbagai rencana mereka setelah menikah nanti.Selin dan Dion sepakat untuk melakukan perjalanan bulan madu mereka untuk menjelajahi Spanyol terkhusus kota bagian Andalusia, seperti Granada, Sevilla, Toledon, serta Cordova kota yang mendapat julukan kota para filsuf dan Mutiara Dunia, kota yang menjadi pusat peradaban ilmu pengetahuan di Dunia. Mereka juga akan menyempatkan diri untuk mampir ke Maroko setelah pulang dari perjalanan mereka di Andalusia.Menurut Selin, sangat tidak adil rasanya jika ia tidak mengunjungi Maroko, karna ditempat itulah sejarah Andalusia dimulai. Ia ingin mengunjungi kota Tangier yang menjadi saksi nyata dari sejarah penaklukan Andalusia.Sedari dulu, memang Selin sangat memimpikan untuk menjelajah tempat tersebut tetapi dengan kesibukannya
SELIN—DION Suasana Haru
Dion hanya memandangi punggung Selin hingga tak terlihat lagi setelah gadis itu masuk berbelok di simpang tangga, dan kemudian melangkah menuju sofa yang berada dibelakangnya.Untung saja kejadian tadi siang tidak berlanjut yang akan membuat hubungan antar dia dan Selin memburuk, sungguh ia sangat takur jika seandainya hal itu benar terjadi pada mereka, Pikir Dion. Dion juga bergidik ngeri mendapat respon dan kata-kata Selin tadi pas berada di mobil. sungguh, Selin memang pribadi yang tegas dalam menyikapi sesuatu, bahkan bisa dikatakan sangat tegas.*****Selin keluar dari kamarnya dengan penampilan yang lebih segar dan simpel dengan memakai pakaian rumahan, baju kaos yang sedikit longgar serta celana kulot selutut, rambutnya ia gerai dibahunya yang masih terlihat agak basah karna memang tadi ia keramas.Diruang tamu sudah duduk lima orang yang saling berbincang membahas berbagai hal yang rin
SELIN—DION Makan Malam
Selin melepas pelukan Dion dengan perlahan dan menghapus air mata Dion yang membasahi pipinya, Dion tidak berusaha menyembunyikan tangisannya tersebut. "Sudah, jangan menangis. Kamu ngga malu sama aku?, dan ingat aku juga ngga suka sama pria cengeng" ucap Selin masih menghapus jejak air mata di pipi Dion. Dion kembali meremas tangan Selin yang masih berada di pipinya dan membawanya ke depan bibirnya untuk ia kecup."Terima kasih" ucap Dion setelah mengecup tangan ramping gadis yang sangat ia cintai ini. Dion sadar jika ia telah jatuh sangat dalam pada perasaan cintanya pada gadis cantik di depannya ini.Dion kembali ke posisi duduknya di belakang kemudi tanpa melepaskan genggaman tangan kirinya pada tangan Selin. " Kita pulang sekarang?" tanyanya yang hanya mendapat anggukan sebagai jawaban dari sang calon istri tercintanya yang sangat irit bicara itu.*****Di sepanjang perjalanan pulang, Dion tidak pernah sekalipu
SELIN—DION Makan Malam
Selin melepas pelukan Dion dengan perlahan dan menghapus air mata Dion yang membasahi pipinya, Dion tidak berusaha menyembunyikan tangisannya tersebut. "Sudah, jangan menangis. Kamu ngga malu sama aku?, dan ingat aku juga ngga suka sama pria cengeng" ucap Selin masih menghapus jejak air mata di pipi Dion. Dion kembali meremas tangan Selin yang masih berada di pipinya dan membawanya ke depan bibirnya untuk ia kecup."Terima kasih" ucap Dion setelah mengecup tangan ramping gadis yang sangat ia cintai ini. Dion sadar jika ia telah jatuh sangat dalam pada perasaan cintanya pada gadis cantik di depannya ini.Dion kembali ke posisi duduknya di belakang kemudi tanpa melepaskan genggaman tangan kirinya pada tangan Selin. " Kita pulang sekarang?" tanyanya yang hanya mendapat anggukan sebagai jawaban dari sang calon istri tercintanya yang sangat irit bicara itu.*****Di sepanjang perjalanan pulang, Dion tidak pernah sekalipu
SELIN—DION Pertemuan yang tak diharapkan
Setelah pulang dari acara makan siang mereka, Selin dan Cerry kembali ke kantor dan menuju ruangan masing-masing untuk menyelesaikan beberapa berkas yang belum selesai. Tak terasa waktu berjalan begitu cepat hingga jam pulang kantor pun tiba, dan seperti biasa setiap Se
SELIN—DION Janji Dion
Dion tiba di restoran lebih dulu karena memang jarak dia dari rumahnya dari lokasi tersebut yang terbilang dekat dan memang ia berangkat lebih dulu dari pada Selin dan temannya itu. Sedangkan Selin dan Cerry tiba lima belas menit kemudian. Dion yang telah menunggu kedatanga
SELIN—DION Mulai Menerima
Selin lagi-lagi terlihat melamun di meja kerjanya, dan beberapa kali kepergok oleh rekan satu divisinya hingga membuat orang-orang tersebut merasa terheran-heran dengan sikapnya itu, karna yang mereka tahu Selin bukanlah orang yang suka membawa masalah pribadinya ke kantor dan menyebabkan semua p
SELIN—DION Rasa Penasaran Dion
Setelah kejadian di rumah Selin minggu lalu, ia selalu memikirkan tentang permintaan mamanya dan jawaban yang iya berikan. Selin sangat yakin bahwa dia tidak akan bisa membuka hatinya kembali, tapi dia juga tidak mungkin menolak permintaan orang yang sangat ia sayangi terlebih ini memang adalah p
