loading
Home/ All /Remarry (Indo)/BAB 2 – PERLAKUAN KASAR

BAB 2 – PERLAKUAN KASAR

Author: Nhovie EN
"publish date: " 2020-10-13 22:42:51

Tak lama pintu kembali terbuka, aku melihatnya masuk membawa seutas tali. Dengan cepat dia mengikat kedua tangan dan kakiku.

“Apa yang kau lakukan Rafa? Ahhh, ini sakit.” Aku meringis kesakitan karena dia mengikatku dengan sangat kuat.

“Aku tidak ingin kau kabur. Aku tidak akan membiarkanmu menikmati malam bersama suamimu itu.”

“Mbak, tolong bereskan kekacauan yang terjadi didalam. Sekalian nanti tolong siapkan makan malam untuk isteri saya.” Aku mendengar dengan jelas apa yang Rafa sampaikan pada seseorang dibalik pintu yang masih terbuka. Tutur bahasa Rafa begitu sopan. Tapi aku tidak suka dia menyebutku adalah isterinya.

Seseorang masuk kedalam kamar dan menutup pintu. Dia adalah seorang wanita dengan perawakan cukup tenang. Usianya aku perkirakan sekitar 45 tahunan. Dia tersenyum melihatku dan mulai membersihkan serpihan kaca yang aku senggol tadi.

“Kak, maaf. Bolehkah aku minta tolong sesuatu?” Aku memberanikan diri menyapa wanita itu.

“Mau tolong apa bu? Asal jangan minta tolong untuk melepaskan ikatan ini.” Dia berjalan kearahku. Kulihat matanya menaruh iba melihat kondisiku saat ini.

“Tolong

jangan panggil aku ibu kak, panggil saja Nisa. Aku hanya minta tolong ambilkan kerudungku dan tolong pakaikan.”

“Baiklah Nisa.”

Wanita itu mengambilkan kerudung dan memakaikannya ke kepalaku. Tak lupa ia mengusap kedua pipiku dan menatapku dengan penuh hiba. Aku melihat ada tetesan bening keluar dari matanya.

“Boleh Nisa tau siapa nama kakak?”

“Panggil saja Mbak Rena. Nisa yang sabar ya. Sebenarnya Rafa itu sangat baik, dia begitu menyayangi Nisa. Cuma mungkin caranya sedikit salah.” Aku hanya tersenyum.

“Yang penting jangan buat dia emosi. Mbak tidak tahan melihat Nisa seperti ini.” Mbak Rena membelai kedua kakiku yang terikat tali dengan sangat kuat.

“Mbak pamit ya, mbak akan siapkan makan untuk Nisa.” Aku hanya tersenyum melihat mbak Rena berlalu dari balik pintu.

Aku begitu lelah dan mengantuk. Aku lihat jam di dinding sudah menjukkan pukul sepuluh malam. Akupun merebahkan badan diranjang besar ini, dan terlelap.

Aku terbangun ketika mendengar alunan suara azan dari pengeras suara masjid. Sekarang kamar ini tidak begitu gelap karena ada cahaya dari lampu tidur diatas nakas sebelah

ranjang tempatku berbaring.

Au...

Aku sedikit mengerang, karena pergelangan tangan dan kakiku terasa perih. Entah sejak kapan ikatan ini terlepas, tapi yang jelas aku sudah terbebas. Namun bekas ikatan yang kuat tadi meninggalkan rasa perih dan ngilu. Aku merasakan pergelangan tangan dan kaki agak lengket, sepertinya seseorang telah mengolesi obat.

Aku berusaha bangkit dengan kondisi fisik cukup lemah. Aku mencoba membuka pintu, namun sia-sia, pintu ini terkunci. Aku melihat saklar lampu disebelah pintu, dan akupun memencetnya membuat ruangan ini menjadi sangat terang oleh cahaya lampu kamar.

Aku melihat diatas sofa sudah tersedia perlengkapan shalat. Alhamdulillah, ternyata Rafa masih menyiapkan ini untukku. Akupun berjalan menuju kamar mandi, mengambil air widlu dan menunaikan shalat subuh.

Cukup lama aku menangis sembari menengadahkan tangan diatas sajadah ini. Memohon petunjuk dan perlindungan dari Allah, hingga tak terasa mataku mulai mengantuk dan aku terlelap masih diatas sajadah ini.

-

-

-

POV Rafa

            Entah sudah berapa kali aku memukul ranjang ini dengan tanganku. Sebenarnya aku tidak tega melihat wanita yang begitu aku cintai menangis dan menderita. Tapi rasa cemburu membuatku gelap mata. Aku tidak rela apabila Nisa dekat dengan pria manapun, walau hanya berbicara. Apalagi kali ini aku harus melihat Nisa menghabiskan malam bersama laki-laki yang berstatus suaminya.

            Aku panas dan terbakar amarah. Aku lebih baik melihat Annisa mati daripada harus melihatnya hidup bersama laki-laki lain. Tidak peduli Nisa adalah ibu dari Amanda, putri semata wayang kami.

Semenjak awal perkenalan kami waktu SMA dulu, aku sudah menggilai Annisa. Aku benar-benar jatuh cinta sedalam-dalamnya kepada gadis itu. Hingga kuliah, akupun memutuskan untuk kuliah di Fakultas yang sama dengannya. Tujuannya hanya satu, ingin selalu mengawasinya. Aku tidak bena-benar ingin kuliah. Bahkan tugas-tugas kuliah semua kuserahkan pada temanku, kusuruh dia yang mengerjakan.

Aku bahkan pernah menghajar salah seorang teman lelaki Nisa karena kedapatan membantu Annisa menyelesaikan tugas kuliahnya. Pernah juga aku mengajak teman-temanku mengancam dan memberikan satu pukulan kepada teman Nisa yang lainnya karena sudah menyapa Annisa ketika berjalan didepannya. Dan itu aku lakukan didalam ruang kelas jurusan mereka.

Semenjak saat itu, tidak ada lagi lelaki yang mau berteman bahkan menyapa Annisa. Karena aku cukup populer di fakultas ini, dan memiliki banyak teman-teman yang setiap saat mengawasi pergerakan Nisa. Aku tau, dari dulu aku bersikap kejam kepadanya. Tapi semua itu aku lakukan karena aku begitu mencintainya. Cinta yang dalam membuatku gila. Aku takut kehilangannya. Aku takut Nisa terpikat kepada pria lain.

Sore tadi aku menculik Annisa sesaat setelah dia keluar dari parkiran motor tempatnya bekerja. Annisa kubius hingga dia tak sadarkan diri. Aku melakukannya sendiri, sementara anak buahku mengawasi sekitar. Aku tidak ingin siapapun menyentuh tubuh Annnisa. Hanya aku yang boleh menyentuhnya, memeganginya dan memilikinya.

Tok...tok...tok...

“Maaf Rafa, bolehkah mbak masuk?” Seseorang yang aku tau adalah mbak Rena memecah lamunku.

“Ya Mbak, silahkan.”

Mbak Rena adalah asisten rumah tangga dirumah ini. Namun aku sudah menganggapnya adalah kakak sendiri. Mbak Rena duduk diatas ranjang sebelahku.

“Maaf Rafa, mbak tidak bermaksud ikut campur. Tapi mbak kasihan melihat Annisa. Dia sangat terluka dan pasti kesakitan. Barusan mbak lihat sepertinya Nisa sudah tertidur.” Aku menyeka wajahku dengan kedua telapak tanganku.

“Maafkan Rafa Mbak, Rafa tidak berniat menyakiti Nisa. Justru Rafa begitu mencintainya. Mbak tau betapa besarnya rasa cinta Rafa kepada Nisa. Tapi Rafa tidak mampu menahan emosi setiap bayangan Annisa sedang bercumbu dengan suaminya memenuhi isi kepala Rafa.” Tak sadar ada tetesan bening keluar dari retinaku.

“Mbakkan sudah beberapa kali bilang ke Rafa, mencintai itu tidak harus memiliki. Apalagi harus membuat orang yang kita cintai tersiksa, itu salah Rafa.” Mbak Rena mengenggam pergelangan tangan kiriku. Cara bicaranya sangat lembut dan menenangkan.

“Maaf mbak, istilah itu tidak berlaku untuk Rafa. Bagaimanapun Rafa harus memiliki Nisa kembali. Apapun akan Rafa lakukan untuk memilikinya kembali. Setelah itu Rafa akan menebus semua kesalahan Rafa. Rafa bersumpah akan membahagiakan Annisa mbak.” Aku tidak mampu lagi menahan derasnya airmata ini.

“Mbak sudah siapkan makanan untuk Rafa dan Annisa.” Mbak Rena mengusap kepalaku dengan lembut dan kemudian meninggalkanku sendiri dikamar ini.

Aku bergegas menuju kamar tempat Annisa kusekap. Kamar itu terletak disebelah kamarku. Aku melihat wanitaku sudah terlelap. Aku tau, dia pasti sangat kesakitan dan menderita. Aku tak kuasa menahan aimataku. Kembali kukunci pintu dari dalam, takut tiba-tiba nanti Annisa terbangun dan melarikan diri.

Perlahan aku lepaskan ikatan dikaki dan tangannya. Aku meluruskan posisi tidurnya. Aku lakukan dengan sangat pelan dan hati-hati, jangan sampai kehadiranku menganggu istirahatnya. Dia sekarang tampak kurus, sungguh berbeda dari Annisa yang kutinggalkan dua tahun yang lalu. Kuperkirakan kini beratnya hanya 40an kg. Dua tahun yang lalu beratnya masih 60 kg, terlihat montok dan berisi. Aku tersenyum membayangkan wanitaku dulu. Nanti akan kubuat dia montok lagi.

Aku mengusap lembut kepalanya yang sudah ditutupi kerudung. Mungkin mbak Rena yang sudah membantu Nisa mengenakan lagi kerudungnya. Aku memegangi pergelangan tangan Nisa, tampak memar dan luka.

Pasti ini sakit sekali, fikirku.

Aku segera keluar kamar, mengambil obat memar dan mengolesinya ke pergelangan tangan dan kaki Nisa. Setelah itu aku meninggalkannya sendirian. Menghidupkan lampu tidur dan mematikan lampu utama.

“Selamat Tidur sayang.” Bisikku pelan ketelinga Annisa seraya mengecup lembut keningnya.

Want to know what happens next?
Continue Reading
Previous Chapter
Next Chapter

Share the book to

  • Facebook
  • Twitter
  • Whatsapp
  • Reddit
  • Copy Link

Latest chapter

Remarry (Indo)   BAB 42 – Bertemu Aisyah

“Sekarang bagaimana?” tanya Hendra.“Gue nggak tau. Gue akan coba negosiasi dengan Siska. Gue hanya ingin semua bisa diselesaikan dengan baik. Gue ingin tanggung jawab ke Siska berupa materi, tapi gue juga nggak ingin Annisa mengetahui apapun. Intinya gue nggak ingin Annisa terluka.”“Jadi lu bersedia ngasih perempuan itu 5 miliar? 5 miliar itu banyak bosku ... bisa buat bangun perusahaan baru, ngerti nggak bos ...,” geram Hendra.

Remarry (Indo)   BAB 41 – Semakin Bimbang

Setelah lebih dari 30 menit berlalu, Rafa dan Annisa mengakhiri permainan panas mereka. Annisa tampak sangat kelelahan karena kondisinya yang tengah hamil, membuatnya agak kesulitan mengimbangi permainan Rafa.Annisa tertidur sesaat setelah Rafa menyelesaikan hasratnya. Melihat wanita yang ia cintai tertidur pulas, Rafa bangkit dari ranjang dan menutupi tubuh Annisa dengan selimut. Rafa bergegas mengambil ponselnya untuk melihat siapakah yang sedari tadi menghubunginya.Deg .

Remarry (Indo)   BAB 40 – Gelisah

“Maaf pak, apa bapak memanggil saya?” ucap Jesyka ketika memasuki ruangan Rafa.“Ya, duduk!”“Ada apa pak?” ucap Jesyka ramah.“saya ingin membahas rencana kita tempo hari mengenai pengalihan kepemilikan perusahaan

Remarry (Indo)   BAB 39 – Pendapat Hendra

“Aku akan memberimu 50juta, setelah itu aku mohon agar kau pergi dari kehidupanku selamanya. Perkara Aisyah, jika kau tidak menginginkannya, aku akan mengirimkannya ke panti asuhan, atau aku akan mencarikan orang tua angkat untuknya.” Kata-kata itu akhirnya keluar dari bibir Rafa setelah beberapa menit ruangan itu hening.“Aku sudah bilang, kalau aku ingin kita menikah. Aku tidak ingin 50jutamu itu. Aku ingin status untuk Aisyah. Aisyah juga berhak bahagia dengan ayah dan ibu kandungnya. Sama seperti Amanda, putrimu.” Siska masih bersikeras dengan pendiriannya.

Remarry (Indo)   BAB 38 – Bertemu Rafa

Tok ...Tok ...Tok ...“Siapa ...?” jawab Rafa yang sedang memeriksa beberapa dokumen penting proyek yang sedang di kerjakan oleh perusahannya.

Remarry (Indo)   BAB 37 – Meninggalkan Batam

“Aku juga ingin ke Padang.” Ucap Siska mantap.“Apa kau yakin?”“Tidak ada pilihan lain. Tapi aku hanya punya uang 2juta. Apa kamu bisa meminjamkanku uang , Ria? Karena di Padang nanti, aku harus mencari kontrakan, alas tidur dan peralatan masak sederhana.”“Me

Remarry (Indo)   BAB 25 - Bertemu Rehan

Hari ini aku berniat ingin menemui Rehan. Besok resepsi pernikahan akan digelar. Aku merasa tidak nyaman jika belum meminta maaf dan m

Remarry (Indo)   BAB 24 - Kiss Memalukan

“Masyaa Allah...” Aku tidak hentinya memuji kebesaran ilahi melihat semua keindahan ini. Aku merasa tempat ini seper

Remarry (Indo)   BAB 23 - Pesona Bukittinggi

Kamipun meninggalkan hotel menuju kebun Binatang. Sudah 2 tahun lebih aku tidak pernah ketempat ini lagi. Tidak cukup banyak yang beru

Remarry (Indo)   BAB 22 - Tamasya

POV Rafa

More Chapters
Download the Book
GoodNovel

Download the book for free

Download
Search what you want
Library
Browse
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystemFantasyLGBTQ+ArnoldMM Romancegenre22- Englishgenre26- EnglishEnglishgenre27-Englishgenre28-英语
Short Stories
SkyMystery and suspenseModern urbanDoomsday survivalAction movieScience fiction movieRomantic movieGory violenceRomanceCampusMystery/ThrillerImaginationRebirthEmotional RealismWerewolfhopedreamhappinessPeaceFriendshipSmartHappyViolentGentlePowerfulGory massacreMurderHistorical warFantasy adventureScience fictionTrain station
CreateWriter BenefitContest
Hot Genres
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystem
Contact Us
About UsHelp & SuggestionBussiness
Resources
Download AppsWriter BenefitContent policyKeywordsHot SearchesBook ReviewFanFictionFAQFAQ-IDFAQ-FILFAQ-THFAQ-JAFAQ-ARFAQ-ESFAQ-KOFAQ-DEFAQ-FRFAQ-PTGoodNovel vs Competitors
Community
Facebook Group
Follow Us
GoodNovel
Copyright ©‌ 2026 GoodNovel
Term of use|Privacy