Download the book for free
3- Kegalauan Haidar
Author: adwlstr28Haidar menghela nafas dan mengaduk-aduk matchiato latte-nya dengan tatapan kosong ke luar jendela cafetaria yang berada di lantai sepuluh. Dari sini ia bisa melihat pemandangan kota Jakarta dan hiruk pikuk kemacetan di jalan raya. Dirinya sedang tak bersemangat setelah dinas malam yang terasa panjang dan melelahkan. Ditambah hubungannya dengan Meta yang masih stuck dan belum ada perkembangan apapun. Apalagi untuk meyakinkan kedua orangtua Meta jika dirinya bisa menjadi imam yang baik untuk Meta, rasanya akan sangat sulit. Belum meyakinkan saja ia sudah ditolak mentah-mentah.
Lagipula apa yang salah dengan status duda? Hanya pernah menikah sebelumnya bukan berarti ia imam yang buruk kan? Jika memang sudah jalannya untuk berpisah, masa harus dipaksakan? Jalan kehidupan setiap orang kan berbeda. Tentu semua itu sudah digariskan oleh takdir kan?
"Kenapa lo? Galau?" Suara Keanu membuat Haidar mengangkat kepalanya dan mendengus kasar." Udah pacaran masih aja galau. Makanya cepetan nikahin."
Haidar berdecak," gampang banget lo ngomongnya."
"Kenapa sih? Ada masalah apa? Sini Mas Keanu ajarin cara menarik perhatian calon mertua biar direstuin," ucap Keanu dengan gaya tengilnya. Ia merangkul Haidar yang jelas-jelas risih dengan kelakuannya. Tapi Haidar tak menghindar.
"Nyokap bokapnya Meta masih gak setuju sama gue. Gara-gara gue duda," ucap Haidar dengan putus asa.
Keanu tergelak. Menahan tawanya. Bukan menertawakan status Haidar saat ini tapi menertawakan jalan pikiran calon mertuanya yang entah seperti apa sampai mempermasalahkan status seseorang seperti itu." Udah coba ketemu lagi?"
Haidar menggeleng," baru sekali aja gue udah diusir."
Keanu melotot tak percaya. Sedrama itukah?" Terus apa rencana lo?"
Haidar mengedikkan bahunya." Kalo gini terus gue capek. Gue kan berhubungan dengan Meta bukan cuma niat pacaran tapi mau nikahin dia juga. Tapi kalo dipersulit begini rasanya kayak gak dihargain aja. Niat gue kan baik. Gue gak pernah ngapa-ngapain si Meta juga. Tapi di mata orangtuanya tuh gue salah terus. Sekarang aja gue backstreet sama Meta. Sial banget kan?"
"Tapi masa lo nyerah gitu aja?"
Haidar mendesah pelan." Bukan nyerah juga sih, Nu. Tapi terkadang ketika perjuangan lo gak dihargai kan rasanya mending nyerah dari awal deh. Cari seseorang yang bisa nerima status gue apa adanya. Gak cuma pasangan tapi juga keluarganya. Karena pernikahan itu kan bukan hanya menyatukan dua hati tapi menyatukan dua keluarga juga. Restu keluarga jelas penting. Kalo restu keluarganya aja gue gak dapet gimana gue bisa lanjutin hubungan ini?"
"Terus Meta gimana?"
"Seperti biasa. Dia minta dinikahin cepet-cepet. Tapi masa gue mau ngajak kawin lari anak orang. Gak etis banget."
"Dia udah coba bujuk orangtuanya belum?"
Haidar hanya mengedikkan bahunya dan memilih menatap ke luar jendela lagi.
Keanu mengerutkan keningnya dan berpikir. Meski memang kisah Haidar agak rumit karena bersangkutan dengan keluarga inti si wanita yang ingin dia nikahi. Apalagi wanita kan butuh ayahnya sebagai wali nikah nanti. Jelas aspek itu adalah yang terpenting.
Tak lama Shanum dan Abizar datang ke cafetaria. Mereka membawa nampan berisi makanan masing-masing lalu menghampiri meja Haidar dan Keanu.
"Mas kenapa? Lagi marahan?" tanya Shanum saat melihat Keanu dan Haidar saling duduk membelakangi.
"Eh? Shanum. Gak kok. Lagi bantuin Haidar mikir."
Shanum mengerutkan keningnya sementara Abizar memilih untuk menyantap makanannya.
"Memangnya kenapa?" tanya Shanum lagi.
"Biasa. Gak direstuin calon mertua," ucap Keanu dengan senyuman jahilnya. Tapi Haidar sepertinya sedang tidak bisa diajak bercanda. "Makanya dia galau."
" Masa sih? Orangtua Meta gak setuju?" tanya Shanum yang tak percaya. Padahal ia pikir hubungan Haidar dan Meta berjalan lancar. Bahkan mereka katanya mau menikah.
"Gak tau ah. Pusing." Haidar memegangi kepalanya. Ia malah beranjak dari tempatnya dan pergi.
"Kan ngambek. Biasalah. Kesepian doi," ledek Keanu lagi yang memilih untuk menyantap makan siangnya.
"Tiara mana, Mas? Biasanya bareng," ucap Shanum lagi yang suka kekompakan Keanu dan Tiara. Mereka seringkali makan siang bersama dan mencoba menyesuaikan jadwal mereka. Meski terkadang Tiara atau Keanu yang harus menunggu.
"Tiara lagi sakit jadi gak kerja hari ini," ucap Keanu yang terlihat murung." Kebanyakan lembur karena kemarin kan ganti jadwal pas cuti honeymoon. Katanya ada yang tukeran cuti sama temannya jadi dia jam kerjanya nambah."
"Wah! Pasti capek banget. Apalagi dia sekarang jadi perawat bagian rawat inap ya."
Keanu mengangguk lagi lalu mendelik ke arah Abizar." Iya nih gara-gara peraturan di sini. Suami istri gak boleh kerja dalam satu ruangan yang sama. Bilang aja dia sirik gara-gara gak bisa kerja bareng istrinya juga." Ia mencebik membuat yang dibicarakan menoleh kepadanya dan menunjuk dirinya sendiri." Eh? Ngerasa ya?"
Abizar hanya mendengus," saya kan hanya ingin profesionalitas kalian. Bukan karena iri. Ngapain iri? Toh di rumah juga puas-puasan sama istri sendiri."
Keanu terkekeh geli apalagi wajah Shanum memerah seketika." Jadi gimana kadonya?" tanyanya lagi membuat Shanum memilih beranjak dan membeli kopi dibanding mendengar pembicaraan absurd para pria di sekitarnya ini.
"Apaan? Kayak gituan dijadiin kado. Gak butuh tahu." Abizar mencebik dengan tatapan tak suka.
"Hah? Masa? Kan hampir tujuh tahun gak di asah. Masih normal kan?" tanya Keanu yang kemudian tertawa sendiri karena ucapannya.
"Ya masih lah! Masih kuat, masih bagus, no minus! Jadi gak usah deh ngasih obat kuat begitu. Kalo butuh saya juga bisa beli sendiri."
Keanu tak bisa menahan tawanya lagi. Ia sampai memegangi perutnya sendiri. Sebenarnya ia agak balas dendam ke Abizar yang memberi kado beberapa set lingerie. Walau sangat berguna sih jadi Tiara punya stok seragam malam yang banyak.
Shanum hanya menggelengkan kepalanya saat mendengar suara tawa Keanu yang sangat keras itu. Pasti pembicaraan mereka berdua aneh-aneh deh. Shanum sudah bisa menebaknya.
..........
Denaya memegangi perutnya yang sudah tampak membuncit. Usia kandungannya sudah jalan tiga bulan. Wanita muda itu pun tak jarang harus memuntahkan isi perutnya lagi di saat rasa mual melingkup dirinya. Ia terpaksa tidak bisa melanjutkan KOAS karena keadaannya tak memungkinkan. Tubuhnya sering lemas. Jika ia tetap KOAS yang ada dirinya akan semakin drop dwn Richardo juga tak mengijinkan.
Sekarang Denaya ikut suaminya-- Richardo di Kalimantan. Selain memiliki beberapa cabang restoran, Richardo juga memiliki pekerjaan lain di daerah Kalimantan. Pria itu sedang membangun proyek waduk yang dulunya bekas galian penambangan yang sudah tak terpakai lagi.
Dan demi menutupi aib keluarganya, jadilah Denaya terpaksa ikut suaminya ke pulau sebrang yang jauh dari keluarga intinya. Apalagi tempat tinggalnya kini di dalam hutan dan jauh dari perkotaan. Setiap periksa kandungan saja Denaya harus menempuh perjalanan berjam-jam demi bisa sampai di sebuah klinik kandungan. Meski Richardo kaya raya juga tapi tak sekaya Abizar, Denaya tetap tak bisa menikmatinya. Bagaimana bisa ia menikmati uang di tengah hutan begini? Yang ada kerjaannya hanya main hape atau melihat-lihat kebun. Sangat membosankan. Ia sendiri tak punya teman dan seringkali sendirian di rumah saat Richardo bekerja. Denaya tak bisa banyak protes karena ketidakberdayaan dirinya. Richardo memang memperlakukannya dengan baik tapi semua itu tak membuat Denaya luluh. Ia perlu hiburan, ia butuh tempat yang ramai. Bukan hutan seperti ini.
"Bisa-bisa keluar dari sini aku jadi manusia paling gaptek sedunia."
Share the book to
Facebook
Twitter
Whatsapp
Reddit
Copy Link
Latest chapter
Perfect Partner in Life 16- Ketidaksempurnaan
Kehidupan tidak selalu sejalan dengan apa yang kita inginkan. Namun percayalah jika Tuhan punya rencana yang baik dalam setiap kehidupan. Rencana yang bahkan mungkin awalnya kita anggap sebagai hal buruk, bisa jadi itu adalah rencana terbaik dalam kehidupan yang kita miliki............Haidar mulai menerima keberadaan Rasya dalam lingkungannya termasuk soal Rasya yang ternyata di
Perfect Partner in Life 15- Persiapan
Setelah pendaftaran berbagai berkas dan kemudian diurus oleh notaris kepercayaan keluarganya, Abizar mulai mencari-cari info soal komunitas yang sudah lebih dulu berkecimpung di dunia sosial. Rencananya, yayasannya nanti tidak hanya menampung anak-anak yang terlantar tapi juga membantu mereka untuk melanjutkan pendidikannya. Keuangan keluarga Abizar sangat stabil, apalagi mereka punya rumah sakit pribadi sehingga pendapatan mereka pun banyak. Sehingga mereka ingin sekali berbagi rejeki pada orang-orang yang membutuhkan, terutama anak-anak yang masa depannya masih panjang dan harus diarahkan agar tidak menjadi buruk di kemudian hari.
Perfect Partner in Life 14- Belum Sempurna
Kevin terkejut mendengar ucapan Camelia yang mengijinkannya untuk menikah lagi hanya untuk mendapatkan keturunan. Sungguh, siapa sih pasangan di dunia ini yang tidak ingin memiliki anak? Buah cinta dari pernikahan mereka? Tentu semua ingin. Termasuk Kevin. Namun pernikahan bukan melulu soal memiliki keturunan, melanjutkan silsilah keluarga. Ia menikahi Camelia karena ia mencintai wanita itu sejak pandangan pertama. Camelia yang begitu manis dan cantik membuat Kevin jatuh cinta hingga memutuskan untuk mempersunting wanita itu hingga menjadi pendamping hidupnya hingga saat ini da
Perfect Partner in Life 13- Niat Baik
Sekitar tengah malam, Shanum dan Abizar sudah sampai di Bandung. Jasmine dan Januar pun tampak menunggu kedatangan anak dan menantunya itu. Bahkan keduanya tidak terlihat mengantuk sama sekali dan malah mengajak Shanum dan Abizar membicarakan soal pembuatan ijin untuk yayasan yang akan mereka bangun nanti.Karena keantusiasan Jasmine dan Januar, Shanum dan Abizar jadi ikut semangat dan tidak merasa lelah sama sekali meski mereka sudah melalui perjalanan jau
Perfect Partner in Life 12- Mulai Menerima
Abizar berdiri di depan kamar rawat Camelia yang pintunya tertutup. Tak lama seorang pria yang Abizar ketahui adalah suami dari Camelia itu keluar. Pria itu pun menyapanya dengan sopan meski wajahnya terlihat kelelahan tapi dia tetap tersenyum saat menyapanya. Sebelum pintu kamar rawat itu tertutup kembali, Abizar dapat melihat sosok Camelia yang tengah duduk bersandar di brankarnya dan menatap ke arahnya tanpa ekspresi. Benar-benar mirip. Abizar memb
Perfect Partner in Life 11- Keinginan Setiap Wanita
"Mas, kenapa?" tanya Shanum yang merasa suaminya lebih banyak diam akhir-akhir ini. Ia pun berinisiatif membuatkan coklat panas dan mengantarkannya ke Abizar yang sedang duduk di balkon kamar mereka sembari menatap langit malam yang cerah saat itu. Abizar menoleh pada istrinya dan tersenyum kecil. "Aku gak apa-apa kok. Sini." Ia menepuk tempat kosong di sebelahnya.
Perfect Partner in Life 8- Dimulai dari Sini
Bulan madu Shanum dan Abizar berlalu begitu cepat. Mungkin benar kata orang, apapun hal bahagia di dalam hidupmu terasa berlalu sangat cepat. Lain jika sebuah rasa sakit dan sedih, pasti terasa lama se
Perfect Partner in Life 7- Kebahagiaan dan Rasa Sakit
Sekitar tengah malam, Abizar dan Shanum baru sampai di Labuan Bajo. Mereka pun melanjutkan perjalanan dengan mobil beserta supir yang sudah mereka pesan sebelumnya. Mereka pun dibawa ke Mohini Resort,
Perfect Partner in Life 6- Bulan Madu
Sepulangnya Shanum dan Abizar ke rumah, mereka langsung beristirahat demi menjaga stamina untuk perjalanan panjang besok malam.
Perfect Partner in Life 10- Ketidaksempurnaan
Haidar menatap Meta yang kini duduk di depannya. Tadinya ia dan wanita itu memang tidak berniat untuk bertemu apalagi duduk berdua lagi seperti ini. Rasanya terlalu sakit untuk Haidar melakukannya lagi
