loading
Home/ All /Olevey and the Devil King (Bahasa Indonesia)/3. Menghilang

3. Menghilang

Author: Miafily
"publish date: " 2020-09-26 10:51:17

Leopold mengepalkan kedua tangannya erat-erat saat melihat semua harta dan persembahan lainnya yang berada di lembar Darc masih tersaji dengan rapi tanpa ada satu pun yang hilang. Ah, Leopold salah. Ada satu hal yang hilang. Putra mahkota dari kerajaan Xilen tersebut melangkah menyusuri jalan setapak yang memang disediakan untuk menjalani jalanan yang akan dilewati oleh gadis persembahan serta rombongan yang membawa persembahan bagi sang Iblis.

Leopold berhenti di sebuah gazebo cantik yang memang disediakan untuk para gadis persembahan untuk menjalankan tugasnya menunggui semua persembahan. Gadis persembahan akan tetap berada di sana hingga sang iblis mengambil semua persembahan dan memberikan hadiah bagi para gadis berupa batu rubi yang besarannya berbeda-beda tergantung seberapa puasnya sang iblis dengan kecantikan gadis persembahan tersebut. Biasanya, keesokan harinya sang gadis persembahan akan bisa kembali ke pelukan keluarganya setelah pihak istana mengirimkan kereta kuda untuk menjemput sang gadis persembahan yang memang sudah selesai mengerjakan tugasnya.

Namun, kali ini berbeda. Sejak awal, Leopold sudah merasa tidak nyaman dan merasa begitu cemas saat mendengar kabar bahwa Olevey lah yang terpilih menjadi keindahan tahun ini, dan dinobatkan sebagai gadis persembahan. Karena rasa cemas tersebut, Leopold tergerak untuk ikut dalam rombongan penjemput Olevey yang memang bertugas sebagai gadis persembahan. Lalu saat inilah Leopold menyaksikan bukti firasat buruk yang selama beberapa minggu ini menyerang hatinya.

Leopold mengetatkan rahangnya, saat melihat gazebo cantik tersebut sudah tidak memiliki penghuni hidup di sana. Olevey sudah menghilang dan digantikan dengan batu ruby—ah lebih tepatnya bongkahan batu rubi besar serta sangat berkilau di dalam gazebo tersebut. Dadanya saat ini dipenuhi oleh kemarahan yang menggebu-gebu. Seakan-akan siap untuk meledakkan dirinya saat ini juga.

“Vey, kamu sudah berjanji untuk kembali dengan selamat dan mendengar apa yang ingin aku katakan. Lalu, sekarang kamu pergi ke mana?” bisik Leopold sembari menatap nyalang pada bongkahan batu rubi yang berkilauan di hadapannya ini. Seumur hidup Leopold, ia tidak pernah melihat jika sang Iblis menghadiahkan batu rubi sebesar dan seindah ini pada utusan pihak manusia. Lalu kenapa kali ini sang Iblis bermurah hati dengan memberikan hadiah sebesar ini, dan malah membawa gadis persembahan yang biasanya selalu tidak tersentuh serta bisa kembali dengan selamat?

Kecemasan demi kecemasan terus menyerang Leopald, pria tinggi tersebut mengangkat pandangannya dan menatap sisi lembar Darc yang ditutupi kabut gelap. Itu adalah batas dari daerah kekuasaan kerajaan Xilen, dengan daerah tak terjamah yang disebut sebagai tanah iblis. Kabut tersebut tidak boleh dilewati oleh siapa pun, dan jika ada yang melanggarnya, maka riwayat hidupnya berakhir saat itu juga. Kenapa? Karena siapa pun yang berusaha untuk melewatinya, tidak pernah bisa kembali dan menceritakan apa yang sudah mereka lewati serta apa yang mereka saksikan di balik kabut tebal tersebut.

“Kita kembali ke istana. Ini harus segera kita laporkan pada Yang Mulia Raja, dan harus didiskusikan pada Pendeta Agung, baik Pendeta Hitam maupun Pendeta Putih,” ucap Leopold tegas dan berbalik pada bawahannya yang kini mengangguk dan segera berbagi tugas.

Sebagian prajurit akan ikut kembali dengan Leopold, dan sebagian lagi menjaga semua persembahan serta bongkahan batu rubi yang menjadi pertanda jika sang Iblis memang datang untuk melihat persembahan yang sudah disiapkan oleh rakyat kerajaan Xilen. Kini Leopold menunggangi kuda dan memacunya dengan kecepatan tinggi. Tentu saja, sebagian prajurit segera mengikuti Leopold. Meskipun jarak antara lembar Darc dan ibu kota di mana istana kerajaan berada terbilang jauh, Leopold dan rombongannya bisa mencapai ibu kota dengan rentang waktu yang tidak terlalu lama.

Sudah ada rakyat yang menyambut kedatangan Leopold dengan alunan musik yang meriah. Namun, musik meriah dan suka cita itu terhenti seketika saat semua orang melihat wajah Leopold yang tegang dan tidak berkespresi ramah seperti biasanya. Apalagi saat mereka melihat, tidak ada kereta kuda yang mengikuti rombongan Leopald. Yang ada hanyalah para pengawal yang memang menunggang kuda perang mereka. Saat itulah, semua rakyat merasakan firasat buruk. Mereka menyimpulkan jika ada sesuatu yang salah dalam persembahan tadi malam.

Semua orang mulai bertanya-tanya, apa mungkin persembahan kali ini tidak diterima oleh sang iblis? Atau mungkin, ada sesuatu yang terjadi dengan lady Olevey yang memang mencetak sejarah dengan menarik perhatian semua kupu-kupu agung? Semua hanya bisa berbisik-bisik dalam bayang-bayang. Tentu saja tidak ada orang yang ingin menyinggung keluarga Duke Meinhard atau bahkan menyinggung keluarga kerajaan. Mengingat hubungan kedua keluarga tersebut memang sangat baik, dan digadang-gadang keduanya akan menjalin hubungan keluarga. Sebab sang putra mahkota yang memang menyimpan perasaan pada sang nona muda.

Kini, Leopolad tiba di istana. Semua kalangan bangsawan yang memang sudah berada di istana untuk menyambut kedatangan gadis persembahan, tentu saja merasa bingung sekaligus terkejut saat melihat jika Leopold tiba tanpa membawa Olevey serta. Ilse dan Walfred tentu saja yang paling pertama bertanya ke mana putri mereka pergi, dan kenapa Leopold tidak membawa serta putri mereka yang memang sudah bertugas sebagai gadis persembahan untuk pulang bersana?

Namun, Leopold yang memang menggunakan pakaian resminya sebagai putra mahkota sama sekali tidak tergerak untuk memberikan jawaban yang diinginkan oleh pasangan Duke tersebut. Saat ini, Leopold malah mengedarkan pandangannya ke sekeliling dirinya, di mana semua para bangsawan kerajaan Xilen yang hadir menatapnya dengan penuh tanda tanya. Terakhir, Leopold memandang sang ayah yang saat ini memutuskan untuk bertanya, “Putraku, Putra Mahkota, di mana Lady Olevey kita berada? Kenapa kamu tidak membawanya serta? Tidak ada hal buruk yang terjadi, bukan?”

Leopold yang mendengar pertanyaan tersebut tidak bisa menahan diri untuk mengepalkan tangannya erat-erat. Tentu saja, Leopold sangat enggan untuk menjawab pertanyaan yang diberikan oleh semua orang ini. Leopold enggan mengungkap jika saat ini Olevey menghilang dan kemungkinan di bawa oleh Sang Iblis ke dunia bawah. Namun, Leopold tidak bisa menyembunyikan fakta ini lebih lama. Kepulangannya saat ini, tentu saja untuk mendiskusikan alasan mengapa Olevey bisa dibawa oleh sang Iblis, dan kenapa hanya Olevey?

Leopold menatap Karl, sang raja kerajaan Xilen tersebut dengan tatapan kelabu. Karl yang mendapatkan tatapan tersebut jelas saja terkejut. Ia mengenal putranya dengan sangat baik. Setelah istrinya meninggal, Karl tidak pernah berniat untuk mengambil seorang permasuri baru untuk menjadi ibu kerajaan dan ibu pengganti bagi Leopld. Jadi, sudah dipastikan jika Karl yang merawat Leopold sejak kecil bisa merasakan ikatan batin yang cukup kuat dengan putra ini. Melihat tatapan yang diberikan oleh Leopold, Karl bisa menyimpulkan jika memang ada hal buruk yang sudah terjadi. Dan sudah dipastikan jika kabar buruk tersebut berkaitan dengan Olevey, gadis yang dicintai oleh putranya.

“Olevey … menghilang,” ucap Leopold dingin dengan nada datar, membuat semua orang tersentak dengan apa yang mereka dengar.

“A, Apa? Menghilang?” tanya Ilse tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Walferd yang berdiri di sisi Ilse dengan sigap menahan tubuh istrinya yang goyah. Tentu saja Walferd merasa terkejut dan merasa begitu sedih dengan kabar yang ia dengar ini. Namun, Walferd tetunya harus berpikir dengan jernih sebagai seorang ayah, sebagai suami, dan sebagai seorang Duke.

Leopold menatap Ilse dengan penuh penyesalan. “Maafkan aku Nyonya Duchess, tetapi aku harus menegaskannya kembali. Olevey menghilang. Ia menghilang dan digantikan dengan bongkahan batu rubi paling besar serta paling berkilau yang pernah aku lihat selama ini. Tapi, Nyonya dan Tuan Duke cemas, aku yakin di mana pun Olevey berada saat ini, Olevey pasti dalam keadaan baik-baik saja,” ucap Leopold dengan penuh kesungguhan. Mendengar hal tersebut, Ilse tidak bisa menahan diri untuk menangis dengan pilu. Sebagai seorang ibu, tentu saja Ilse merasakan hatiny tercabik mendengar jika putrinya sudah menghilang dan dirinya ditukar oleh sebongkah batu rubi.

Tentu saja Leopold juga merasakan kesedihan yang sama besar dengan kedua orang tua Olevey. Namun, Leopold yakin dengan apa yang ia katakan. Di mana pun kini Olevey berada, Leopold lebih dari yakin jika Olevey berada dalam kondisi baik-baik saja. Olevey adalah gadis kuat dan cerdas, ia pasti bisa melewati situasi sesulit apa pun itu. Ya, Leopold yakin.

Want to know what happens next?
Continue Reading
Previous Chapter
Next Chapter

Share the book to

  • Facebook
  • Twitter
  • Whatsapp
  • Reddit
  • Copy Link

Latest chapter

Olevey and the Devil King (Bahasa Indonesia)   34. Tak Boleh Mati

“Bagaimana kabar Ayah dan Ibu, ya? Apa mereka baik-baik saja?” tanya Olevey sembari menatap bunga-bunga segar yang dibawa oleh Slevi. Bunga yang sengaja dipetik untuk dirangkai oleh Olevey.Entah kenapa, tadi malam Diederich tiba-tiba berkata jika dirinya ingin sebuah pot bunga berisi karangan bunga yang dibuat sendiri oleh Olevey. Awalnya, Olevey sendiri tidak mau menuruti apa yang diinginkan oleh Diederich. Namun, Diederich mengancam akan mengurungnya di dalam kamar, lebih tepatnya mengikatnya di atas ranjang dan membuatnya mengerang sepanjang hari.

Olevey and the Devil King (Bahasa Indonesia)   33. Ajakan

“Bagaimana mungkin tidak bisa?!” tanya Leopold dengan nada tinggi pada para penyihir yang sudah ia kumpulkan dari sepenjuru negeri sebagaimana petunjuk yang diberikan oleh Elgah.Salah satu penyihir yang dituakan mendongak dari posisi berlututnya di hadapan singgasananya. “Yang Mulia, portal tersebut sangat sulit untuk ditembus. Meskipun sudah disatukan, energi kami tidak cukup untuk memaksa membukanya. Bahkan saat menembus kabut pembatas di tepi lembah Darc saja, kami sudah hampir kehabisan kekuatan. Jadi—”

Olevey and the Devil King (Bahasa Indonesia)   32. Serangan Balasan

Leopold mengernyitkan keningnya saat menyadari jika dirinya tengah mengalami kondisi di mana dirinya sadar tengah berada dalam alam bawah sadarnya, lebih tepatnya tengah mengalami sebuah mimpi. Saat ini, Leopold berada di sebuah ruangan luas dengan aksen hitam dan merah yang sangat kental. Hanya dalam sekali lihat, Leopold bisa menyimpulkan jika ruangan ini tak lain adalah sebuah kamar tidur. Hal itu semakin diperkuat dengan sebuah ranjang berukuran besar berkelambu yang berada di sisi ruangan ini. Saat cahaya bulan merambat memasuki ruangan, Leopold bisa melihat dengan jelas melihat siluet yang tercetak pada kelambu.

Olevey and the Devil King (Bahasa Indonesia)   31. Tak Masuk Akal

Diederich menyugar rambutnya sembari menatap arah di mana portal penghubung antar dua dunia berada. Ia sesekali menyesap anggur dari gelas kristal di tangannya, dengan ekspresi dingin. Ia masih bisa merasakan, jika ada kekuatan-kekuatan yang berada di seberang portal yang berusaha untuk membuka portal tersebut. Meskipun kuasa untuk membuka portal ada sepenuhnya di tangannya, Diederich sama sekali tidak bisa memungkiri jika portal pada akhirnya memang bisa dipaksa untuk terbuka tanpa seizinnya sekali pun. Namun, hal itu akan terasa sangat mustahil, jika yang berusaha membukanya adalah kaum manusia.

Olevey and the Devil King (Bahasa Indonesia)   30. Tidak Ingin Melepaskan (21+)

Olevey menggigit ujung bantal, berusaha untuk tidak mendesah sama sekali saat Diederich terus bergerak memasukinya dengan dalam dan kuat. Tentu saja, Diederich sengaja menyentak miliknya dengan sentakkan yang kuat, demi mendengar erangan Olevey. Namun, sejak awal menyatukan diri, Olevey sama sekali tidak mau mengeluarkan sedikit pun erangannya yang manis. Diederich menyeringai, sepertinya ia perlu membuat Olevey terkejut dan melonggarkan pertahanannya. Diederich memeluk Olevey dari belakang lalu berbicara dalam hatinya, “Eve, mengeranglah. Aku ingin mendengar erangan manismu.”“Dasar Iblis tidak tau malu!”

Olevey and the Devil King (Bahasa Indonesia)   29. Penobatan

Diederich menyelimuti Olevey menggunakan sayapnya yang lembut dan lebar. Olevey jatuh tertidur karena terlalu lelah mengimbangi Diederich yang terus saja menariknya untuk menyelami kenikmatan demi kenikmatan. Setela hampir semalaman terus membuat Olevey terjaga, saat menjelang pagi Diederich pun membiarkan Olevey yang sudah merengek ingin tidur. Tentu saja, Diederich melepaskan Olevey begitu dirinya sendiri mendapatkan pelapasan terbaik yang sesuai dengan harapannya. Pelepasan menakjubkan yang hanya bisa ia rasakan jika mereguk kenikmatan bersama dengan Olevey.Diederich menatap Olevey yang berusaha mencari kehangatan. Saat ini, Olevey tampak begitu bersahabat dan butuh perlindungan. Berbeda

Olevey and the Devil King (Bahasa Indonesia)   18. Tengah Dalam Bahaya

Olevey berbalik dan mendorong Diederich menjauh darinya

Olevey and the Devil King (Bahasa Indonesia)   17. Apa Ini Waktunya?

Olevey and the Devil King (Bahasa Indonesia)   16. Mimpi

Olevey berdiri di bawah guyuran bulan merah yang berpen

Olevey and the Devil King (Bahasa Indonesia)   15. Mimpi Indah

More Chapters
Download the Book
GoodNovel

Download the book for free

Download
Search what you want
Library
Browse
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystemFantasyLGBTQ+ArnoldMM Romancegenre22- Englishgenre26- EnglishEnglishgenre27-Englishgenre28-英语
Short Stories
SkyMystery and suspenseModern urbanDoomsday survivalAction movieScience fiction movieRomantic movieGory violenceRomanceCampusMystery/ThrillerImaginationRebirthEmotional RealismWerewolfhopedreamhappinessPeaceFriendshipSmartHappyViolentGentlePowerfulGory massacreMurderHistorical warFantasy adventureScience fictionTrain station
CreateWriter BenefitContest
Hot Genres
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystem
Contact Us
About UsHelp & SuggestionBussiness
Resources
Download AppsWriter BenefitContent policyKeywordsHot SearchesBook ReviewFanFictionFAQFAQ-IDFAQ-FILFAQ-THFAQ-JAFAQ-ARFAQ-ESFAQ-KOFAQ-DEFAQ-FRFAQ-PTGoodNovel vs Competitors
Community
Facebook Group
Follow Us
GoodNovel
Copyright ©‌ 2026 GoodNovel
Term of use|Privacy