loading
Home/ All /Olevey and the Devil King (Bahasa Indonesia)/4. Sang Iblis

4. Sang Iblis

Author: Miafily
"publish date: " 2020-09-26 10:55:51

Keyakinan Leopold memang benar adanya. Tidak ada hal buruk yang terjadi pada diri Olevey. Gadis satu itu, kini tampak begitu tenang dalam tidur pulasnya. Olevey yang sebelumnya tampak gelamor dengan gaun mewah dan riasan full, kini tampak begitu polos selayaknya Olevey biasanya. Ia tampak mengenakan gaun berbahan sutra terbaik berwarna merah gelap. Rambutnya yang berwarna kecokelatan tergerai begitu saja di atas bantal empuk yang menyangga kepalanya. Benar, Olevey memang terbaring nyaman di atas ranjang luas yang memiliki empat tiang penyangga bagi kelambu merah tipis yang kini menggantung dengan anggun di setiap tiang.

Bergeser pada sisi lain ruangan tersebut, ada barang-barang mewah berupa set sofa empuk, karpet bulu, hingga lukisan abstrak yang sepertinya memiliki tema yang sama, merah. Siapa pun yang memiliki kamar, dan bangunan tersebut, sudah dipastikan adalah sosok kaya raya yang tidak ragu untuk mengeluarkan uang yang tidak sedikit hanya demi menyediakan ruangan yang nyaman serta berkelas. Ruangan itu terlampau hening, hingga setiap helaan napas Olevey yang lembut terdengar dengan begitu jelas. Namun, keheningan tersebut tidak bertahan lama, saat dua sosok bertubuh tinggi dan berbahu lebar memasuki ruangan tersebut yang tak lain adalah sebuah kamar.

Kedua sosok tersebut terdiri dari seorang pria berambut hitam legam dengan netra merah berkilau selayaknya rubi, serta yang satunya adalah pria berambut keemasan bernetra serupa dengan rambutnya. Sosok berambut hitam itu melangkah dan duduk dengan nyaman di tepi ranjang dan mengamati Olevey yang masih tenang dalam tidurnya. Sementara pria berambut keemasan berdiri dengan sikap seorang ajudan yang patuh dan penuh hormat. Sudah jelas, jika sosok berambut hitam adalah sosok tuan yang tentunya memiliki kuasa yang tidak main-main.

“Sampai kapan aku harus membuatnya tertidur seperti ini, Exel?” tanya pria bernetra merah.

“Yang Mulia harus sedikit bersabar. Setidaknya, tunggu hingga efek sihir yang saat ini membuatnya tidur memudar dengan sendirinya. Setelah itu, Yang Mulia tidak perlu lagi memaksanya untuk tidur, untuk membuat beradaptasi di dunia ini,” jawab pria berambut keemasan yang tak lain adalah pemilik nama Exel.

Jangan heran dengan Exel yang memanggil sang tuan dengan sebutan yang mulia. Sebab itu jelas harus dilakukan, mengingat status sang tuan yang memang dianggap mulia di dunia tersebut. Tepat, pria berambut hitam dan bernetra semerah rubi tersebut, tak lain adalah Diederich Hedwig de Veldor. Sang Iblis, lebih tepatnya raja para iblis yang selama ini menerima persembahan yang diberikan oleh umat manusia di dunia tengah, demi menjaga perdamaian antara dunia manusia dan dunia iblis yang memang sering kali memanas.

Diederich sebagai seorang raja iblis yang memang sudah lama hidup dan sudah terbilang tidak memiliki ketertarikan pada apa pun. Bahkan, saat setiap kali persembahan tiba, Diederich tidak pernah terlihat berminat untuk datang dan mengambil persembahan tersebut. Namun, tahun ini berbeda. Dengan mengejutkannya, Diederich mengatakan jika dirinya ingin melihat dunia manusia. Setidaknya Diederich ingin mengunjungi lembah Darc yang memang menjadi tempat persembahan bersama Exel yang setiap tahunnya bertugas untuk mengambil barang persembahan dan memberikan batu rubi bagi sang gadis persembahan. Seharusnya, sejak hal itu terjadi Exel sudah bisa menyimpulkan jika memang akan ada hal besar yang terjadi.

Exel menggeser pandangannya pada sosok gadis persembahan yang kemarin sudah mencuri perhatian Diederich. Exel tidak bisa memungkiri jika sosok sang gadis persembahan memang menawan dengan pesona yang sangat jarang ditemukan di dunia iblis. Jujur saja, Exel sendiri memang merasakan ketertarikan yang kuat terhadap gadis satu ini. Namun, Exel merasa ada yang lebih dari sekadar pesona saja yang dimiliki oleh gadis ini, hingga bisa membuat dirinya bahkan sang raja memiliki ketertarikan sebesar ini.

Diederich yang merasakan pandangan Exel tertuju pada gadis yang masih terbaring tenang di atas ranjang, tanpa permisi mengeluarkan aura hitam yang tentu saja menekan Exel dengan mudahnya. Exel yang menyadari hal tersebut tak bisa menahan diri untuk segera berlutut. Ia sudah melayani tuannya selama ribuan tahun waktu dunia iblis. Tentu saja, dengan semua waktu tersebut, Exel mengerti jika saat ini tuannya tengah merasa tidak dengan sesuatu. Exel sendiri sadar, hal yang membuat Diederich tidak senang adalah tingkahnya yang tadi meletakkan pandangannya terlalu lama pada sang nona manusia.

“Maafkan saya Yang Mulia. Saya benar-benar tidak berniat untuk menyinggung perasaan Yang Mulia,” ucap Exel dengan sungguh-sungguh. Ia memang tidak sengaja meletakkan pandangannya terlalu pada nona manusia, yang tak bisa dipungkiri memiliki daya tarik sendiri.

Diederich melirik tajam dan membuat punggung Exel dirayapi hawa dingin yang mencekam. Tentu saja, Exel yang merasakan hal tersebut, merasa jika dirinya tengah dalam bahaya yang mengancam. Bisa saja, dirinya akan mendapatkan hukuman berat dari Diederich yang memang sudah marah besar padanya. Namun, ternyata Diederich memalingkan perhatiannya dan berkata, “Keluar.”

Tidak perlu meminta Diederich mengulang apa yang barusan yang ia katakan, Exel pun segera menunduk memberi hormat sebelum menghilang dari dalam ruangan tersebut. Dalam sekejap, ruangan luas dan mewah tersebut sudah tidak lagi diterangi cahaya lilin dan lampu yang sebelumnya memang memenuhi ruangan kamar. Selain itu, Diederich juga menyelubungi kamar tersebut dengan sihir perlindungan yang tidak bisa ditembus oleh siapa pun, kecuali atas seizinnya yang memang memasang sihir perlindungan tersebut.

Diederich menatap sosok Olevey yang masih terbaring dengan tenang. Tentu saja Diederich tahu jika Olevey masih mengarungi alam bawah sadarnya. Mungkin saja, Olevey tengah bermain-main di sana. Diederich mengernyitkan keningnya dalam-dalam saat netranya terasa sangat sulit meninggalkan sosok lemah yang berada di hadapannya ini. Jujur saja, Diederich sangat terganggu dengan sosok lemah ini. Jelas dirinya merasa terganggu karena eksistensi gadis ini telah mengganggu ketenangannya. Selama ini, tidak ada satu pun eksintesi yang bisa membuatnya tergerak untuk ingin terus melihatnya dan membuatnya terus berada di dekatnya.

Ya, Olevey adalah anomali bagi Diederich. Bagaimana bisa, seorang gadis manusia yang lemah sepertinya bisa membawa dampak sebesar ini padanya? Ia memang membawa Olevey ke dunia iblis karena dorongan refleks, ia bahkan tidak berpikir apa yang akan ia lakukan pada Olevey saat dirinya sudah berada di dunia iblis seperti ini. Sepertinya, keputusan yang terbaik adalah memusnahkan gadis di hadapannya ini. Setidaknya setelah ia musnah, Diederich tidak akan lagi merasa terganggu.

Tanpa banyak kata, Diederich pun mengulurkan salah satu tangannya dan berniat untuk mencekik leher jenjang Olevey. Hanya saja, belum juga dirinya berhasil menekan leher Olevey dan meremukkannya hingga pemiliknya tidak lagi bernyawa, Diederich merasakan sengatan seakan-akan tangannya tengah digigiti semut merah. Diederich tidak menarik tangannya dan memiliih untuk melihat apa yang menjadi penyebab hal tersebut. “Tanda mata? Kau pikir, tanda mata seperti itu bisa melindungimu dari raja iblis sepertiku?” tanya Diederich tajam.

Namun, tentu saja Olevey yang masih tidak sadarkan diri tidak memberikan jawaban apa pun. Diederich kembali berniat untuk kembali melaksanakan niatnya. Sayangnya, lagi-lagi niatannya terhalang karena kini kelopak mata yang semula menutup dengan rapat, mulai terbuka secara perlahan. Lalu tak lama, sepasang netra emerald yang berkilauan terbuka dengan indahnya di hadapan Diederich. Melihat hal itu, Diedirch sama sekali tidak berniat untuk menarik tangannya. Ia malah menyeringai dan berkata, “Kau bangun tepat waktu. Tentu saja membunuh saat korban sadar, akan terasa lebih menyenangkan. Bersiaplah, aku tidak akan memberikan rasa sakit yang terlalu lama untukmu.”

Olevey yang sebelumnya baru saja terbangun dan belum bisa mengembalikan orientasinya, kini terkejut saat lehernya yang jenjang sudah dicengkram dengan cengkraman yang cukup ketat. Olevey tersentak dan sadar sekaligus. Tentu saja, secara refleks, Olevey menyentuh cengkraman pada lehernya. Olevey berusaha untuk melepaskan cengkaraman yang sudah mulai menutup jalan napasnya. Sayangnya, usaha Olevey sia-sia. Tubuh Olevey sudah kehilangan tenaga dan melemas begitu saja.

Saat ini, Olevey tidak bisa berbuat apa pun selain menatap pria yang tengah mencekiknya. Sebelumnya, Olevey sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk mengamati sosok yang sudah memberikan rasa sakit padanya ini. Namun, kali ini Olevey yang tengah berada di ujung hidupnya, memilih untuk menikmati keindahan yang tersaji di hadapannya. Rasanya tidak berlebihan jika Olevey menyebutnya sebagai keindahan. Karena selain berwajah indah dengan rahang dan hidung yang tegas, pria yang tengah mencekiknya ini juga memiliki sepasang netra indah sewarna rubi. Rasanya, ini kali pertama Olevey melihat warna netra seperti ini.

Saking indahnya, Olevey yang berada di ujung kesadarannya, tidak bisa menahan diri untuk berbisik, “Netra yang indah.”

Saat Olevey jatuh tak sadarkan diri, saat itulah Deiderich melepaskan cengkramannya dengan wajah yang cukup terkejut. Hal itu terjadi, karena Deiderich memang bisa mendengar apa yang dibisikkan oleh Olevey. Deiderich terdiam beberapa saat sebelum meledakkan tawanya yang terdengar mengerikan. “Menarik, sungguh menarik. Kita lihat, apa saja yang membuatmu berbeda dan terlihat lebih menarik daripada gadis manusia yang lainnya,” ucap Diederich dan menatap tajam pada Olevey yang sudah tak sadarkan diri lagi.

Want to know what happens next?
Continue Reading
Previous Chapter
Next Chapter

Share the book to

  • Facebook
  • Twitter
  • Whatsapp
  • Reddit
  • Copy Link

Latest chapter

Olevey and the Devil King (Bahasa Indonesia)   34. Tak Boleh Mati

“Bagaimana kabar Ayah dan Ibu, ya? Apa mereka baik-baik saja?” tanya Olevey sembari menatap bunga-bunga segar yang dibawa oleh Slevi. Bunga yang sengaja dipetik untuk dirangkai oleh Olevey.Entah kenapa, tadi malam Diederich tiba-tiba berkata jika dirinya ingin sebuah pot bunga berisi karangan bunga yang dibuat sendiri oleh Olevey. Awalnya, Olevey sendiri tidak mau menuruti apa yang diinginkan oleh Diederich. Namun, Diederich mengancam akan mengurungnya di dalam kamar, lebih tepatnya mengikatnya di atas ranjang dan membuatnya mengerang sepanjang hari.

Olevey and the Devil King (Bahasa Indonesia)   33. Ajakan

“Bagaimana mungkin tidak bisa?!” tanya Leopold dengan nada tinggi pada para penyihir yang sudah ia kumpulkan dari sepenjuru negeri sebagaimana petunjuk yang diberikan oleh Elgah.Salah satu penyihir yang dituakan mendongak dari posisi berlututnya di hadapan singgasananya. “Yang Mulia, portal tersebut sangat sulit untuk ditembus. Meskipun sudah disatukan, energi kami tidak cukup untuk memaksa membukanya. Bahkan saat menembus kabut pembatas di tepi lembah Darc saja, kami sudah hampir kehabisan kekuatan. Jadi—”

Olevey and the Devil King (Bahasa Indonesia)   32. Serangan Balasan

Leopold mengernyitkan keningnya saat menyadari jika dirinya tengah mengalami kondisi di mana dirinya sadar tengah berada dalam alam bawah sadarnya, lebih tepatnya tengah mengalami sebuah mimpi. Saat ini, Leopold berada di sebuah ruangan luas dengan aksen hitam dan merah yang sangat kental. Hanya dalam sekali lihat, Leopold bisa menyimpulkan jika ruangan ini tak lain adalah sebuah kamar tidur. Hal itu semakin diperkuat dengan sebuah ranjang berukuran besar berkelambu yang berada di sisi ruangan ini. Saat cahaya bulan merambat memasuki ruangan, Leopold bisa melihat dengan jelas melihat siluet yang tercetak pada kelambu.

Olevey and the Devil King (Bahasa Indonesia)   31. Tak Masuk Akal

Diederich menyugar rambutnya sembari menatap arah di mana portal penghubung antar dua dunia berada. Ia sesekali menyesap anggur dari gelas kristal di tangannya, dengan ekspresi dingin. Ia masih bisa merasakan, jika ada kekuatan-kekuatan yang berada di seberang portal yang berusaha untuk membuka portal tersebut. Meskipun kuasa untuk membuka portal ada sepenuhnya di tangannya, Diederich sama sekali tidak bisa memungkiri jika portal pada akhirnya memang bisa dipaksa untuk terbuka tanpa seizinnya sekali pun. Namun, hal itu akan terasa sangat mustahil, jika yang berusaha membukanya adalah kaum manusia.

Olevey and the Devil King (Bahasa Indonesia)   30. Tidak Ingin Melepaskan (21+)

Olevey menggigit ujung bantal, berusaha untuk tidak mendesah sama sekali saat Diederich terus bergerak memasukinya dengan dalam dan kuat. Tentu saja, Diederich sengaja menyentak miliknya dengan sentakkan yang kuat, demi mendengar erangan Olevey. Namun, sejak awal menyatukan diri, Olevey sama sekali tidak mau mengeluarkan sedikit pun erangannya yang manis. Diederich menyeringai, sepertinya ia perlu membuat Olevey terkejut dan melonggarkan pertahanannya. Diederich memeluk Olevey dari belakang lalu berbicara dalam hatinya, “Eve, mengeranglah. Aku ingin mendengar erangan manismu.”“Dasar Iblis tidak tau malu!”

Olevey and the Devil King (Bahasa Indonesia)   29. Penobatan

Diederich menyelimuti Olevey menggunakan sayapnya yang lembut dan lebar. Olevey jatuh tertidur karena terlalu lelah mengimbangi Diederich yang terus saja menariknya untuk menyelami kenikmatan demi kenikmatan. Setela hampir semalaman terus membuat Olevey terjaga, saat menjelang pagi Diederich pun membiarkan Olevey yang sudah merengek ingin tidur. Tentu saja, Diederich melepaskan Olevey begitu dirinya sendiri mendapatkan pelapasan terbaik yang sesuai dengan harapannya. Pelepasan menakjubkan yang hanya bisa ia rasakan jika mereguk kenikmatan bersama dengan Olevey.Diederich menatap Olevey yang berusaha mencari kehangatan. Saat ini, Olevey tampak begitu bersahabat dan butuh perlindungan. Berbeda

Olevey and the Devil King (Bahasa Indonesia)   28. Mari Lanjutkan (21+)

“Tidak,

Olevey and the Devil King (Bahasa Indonesia)   27. Gagal Melarikan Diri

Olevey membuka matanya secara tiba-tiba dan langit-langit kamar berwarna gel

Olevey and the Devil King (Bahasa Indonesia)   12. Dasar Iblis

“Ayah,” panggil Leopold setengah putus asa

Olevey and the Devil King (Bahasa Indonesia)   11. Penyempurnaan

More Chapters
Download the Book
GoodNovel

Download the book for free

Download
Search what you want
Library
Browse
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystemFantasyLGBTQ+ArnoldMM Romancegenre22- Englishgenre26- EnglishEnglishgenre27-Englishgenre28-英语
Short Stories
SkyMystery and suspenseModern urbanDoomsday survivalAction movieScience fiction movieRomantic movieGory violenceRomanceCampusMystery/ThrillerImaginationRebirthEmotional RealismWerewolfhopedreamhappinessPeaceFriendshipSmartHappyViolentGentlePowerfulGory massacreMurderHistorical warFantasy adventureScience fictionTrain station
CreateWriter BenefitContest
Hot Genres
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystem
Contact Us
About UsHelp & SuggestionBussiness
Resources
Download AppsWriter BenefitContent policyKeywordsHot SearchesBook ReviewFanFictionFAQFAQ-IDFAQ-FILFAQ-THFAQ-JAFAQ-ARFAQ-ESFAQ-KOFAQ-DEFAQ-FRFAQ-PTGoodNovel vs Competitors
Community
Facebook Group
Follow Us
GoodNovel
Copyright ©‌ 2026 GoodNovel
Term of use|Privacy