loading
Home/ All /Olevey and the Devil King (Bahasa Indonesia)/11. Penyempurnaan

11. Penyempurnaan

Author: Miafily
"publish date: " 2020-09-26 11:06:19

Diederich membawa Olevey yang masih tak sadarkan diri dalam gendongannya yang kokoh dan hangat. Ia membawa Olevey kembali ke dalam kamar pribadinya yang tentu saja adalah kamar paling luas, paling mewah, dan paling ketat penjagaannya. Diederich membaringkan Olevey di tengah ranjang. Namun, Diederich sama sekali tidak beranjak dari sisi Olevey. Ia malah ikut berbaring di samping gadis yang kini tampak sudah jauh lebih barik kondisinya. Napas Olevey sudah cukup teratur, tidak terlihat lagi jika Olevey kesulitan bernapas. Diederic mengulurkan tangannya dan merasakan suhu tubuh Olevey yang sudah kembali normal.

Saat Diederich akan menunduk untuk mencuri ciuman Olevey, ia tertarik oleh sesuatu yang ia rasakan. Ia menoleh pada pintu balkon. Diederich pun turun dari ranjang dengan perlahan. Berusaha untuk tidak membangunkan Olevey yang tentu saja kini sudah terlelap dengan tenangnya. Tanpa membuka pintu, Diederich berpindah dari sisi kamar ke area balkos yang cukup luas. Diederich mendongak dan menatap langit yang lagi-lagi kehilangan bulan merah yang berpendar. Dunia iblis seketika kehilangan sumber cahaya dan mengalami gelap total.

Diederich mengernyitkan keningnya saat merasakan ada hal yang aneh. Rambut Diederich tiba-tiba berubah menjadi merah rubi lagi. Tanda jika bulan merah memang sudah kembali menghilang secara sempurna, dan ini adalah anomaly yang jelas tidak pernah terjadi sebelumnya. Sejak semesta terbentuk, dunia iblis dan dunia manusia dipisahkan oleh sebuah portal, tidak pernah terjadi sekali pun di mana bulan merah menghilang sebanyak dua kali dalam periode bulan merah berpendar. “Sebenarnya, apa yang tengah dilakukan oleh para Dewa sialan itu? Lalu, sebenarnya apa yang direncanakan oleh Sang Takdir?” tanya Diederich pada angin malam yang membawa hawa dingin menggigit.

***

Alkisah, Sang Pencipta menciptakan kaum iblis dari kobaran api. Hal itu menunjukkan betapa kaum iblis memiliki gelora yang berapi-api dalam diri mereka. Kegoisan, dan hawa nafsu adalah hal utama dalam diri mereka. Tentu saja, semakin tinggi tingkatan iblis, maka semakin besar keegoisan, hawa nafsu, dan gelora yang mereka miliki. Hal itulah yang terjadi pada Diederich. Meskipun memliki kekuatan sihir dan kemampuan pengendalian diri yang begitu besar sebagai seorang raja iblis, hal itu sebanding dengan hawa nafsunya. Apalagi, kaum iblis juga dikenal sebagai sosok yang menebar nafsu di kalangan manusia dan mereguk kekuatan dari semua nafsu yang dimiliki oleh para manusia.

Diederich menghela napas panjang untuk berusaha mengendalikan hawa nafsunya yang mulai bangkit. Seumur hidup Diederich, ia belum pernah merasa sesulit ini untuk mengendalikan hawa nafsunya. Meskipun ada masa di mana hawa nafsunya sebagai seorang iblis mencapai titik tertinggi, tetapi Diederich selalu bisa mengendalikannya dan hanya melakukan kegiatan intim yang secukupnya. Itu pun, Diederich tidak pernah sembarangan melakukannya dengan iblis wanita.

Diederich sangat selektif untuk memilih lawan mainnya di atas ranjang. Hal itu terjadi karena Diederich tidak ingin sampai memiliki ikatan emosi dengan siapa pun. Diederich tidak ingin terikat dengan seorang wanita atau seorang iblis saja. Ia ingin hidup bebas. Hanya saja, Diederich tidak bisa menerapkan hal itu saat melihat kondisi Olevey. Ia bisa saja mati, jika Diederich tidak memberikan tanda kepemilikannya pada Olevey. Tanda kepemilikan yang menandakan jika Olevey adalah wanitanya, wanita milik raja yang tidak boleh dilirik atau bahkan diimpikan oleh iblis mana pun.

Benar, Diederich menandai Olevey untuk menyalamatkan nyawa Olevey yang digerogoti energi dari danau kegelapan. Dengan ditandai oleh Diederich, Olevey pasti sudah terlepas dari ancaman kematian yang diakibatkan danau kegelapan. Olevey juga secara alami akan bisa beradaptasi dengan lebih mudah dengan dunia iblis yang tentu saja memiliki sedikit penolakan pada Olevey yang jelas-jelas bukanlah penghuni asli di dunia ini. Namun, lagi-lagi kali ini ada hal aneh yang terjadi. Olevey masih tidak sadarkan diri setelah mendapatkan tanda darinya. Saat ini, suhu tubuh  Olevey bahkan kembali naik.

“Yang Mulia, apa Yang Mulia sudah menuntaskan penandaannya?” tanya Zul setelah selesai memeriksa kondisi Olevey untuk kesekian kalinya.

Diederich yang duduk di sebuah kursi dengan Exel yang berada di belakangnya, kini mengernyitkan keningnya. “Belum. Dia sudah lebih dulu tidak sadarkan diri, dan aku tidak bisa memaksanya melanjutkan ritual,”jawab Diederich.

Baik Exel maupun Zul sama-sama terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Diederich. Tentu saja, sudah bukanlah rahasia lagi, jika Diederich sama sekali tidak memiliki perasaan empati. Ia tidak pernah mementikan orang lain. Bahkan ia tidak peduli dengan keinginan orang lain. Jadi, sangat mengherankan bagi Exel dan Zul saat mendengar jika jungjungan mereka satu ini menahan diri untuk tidak memaksakan apa yang harus ia lakukan. Zul pun berdeham. “Kalau begitu, Yang Mulia harus segera menuntaskan penandaannya. Saat ini, tanda bekas gigitan Yang Mulia sudah muncul. Namun, tanda itu belum sempurna. Hal itulah yang malah membuat rasa sakit kembali datang dan bahkan dua kali lipat rasa sakitnya,” jelas Zul.

Diederich merasa pening. Ia pikir, penandaan pertama saja sudah cukup untuk menghilangkan rasa sakit Olevey. Namun, ternyata penandaan harus dilakukan dengan sempurna. Itu artinya, Diederich memang harus benar-benar memiliki ikatan dengan Olevey. Penandaan secara sempurna bisa dikatakan jika seorang iblis mengakui jika iblis atau sosok yang ia tandai, adalah pasangan resminya. Karena itulah, bukan salah Diederich jika ia menilai, ketika ia menandai Olevey secara sempurna, maka ia akan terikat secara sempurna dengan gadis manusia itu.

“Kalau begitu, keluarlah!” perintah Diederich tegas pada akhirnya.

Zul dan Exel memberikan hormat sebelum undur diri bersamaan. Diederich menatap Olevey dari posisinya. Setelah beberapa saat, Diederich bangkit dari duduknya dan beranjak pada ranjang. Ia mengulurkan tangannya dan meraih Olevey ke dalam pelukannya. Diederich mendudukkan Olevey di atas pangkuannya dan menekan lembut kening Olevey. Diederich berusaha memberikan energi yang sedikit banyak bisa membuat Olevey terbangun.

Apa yang dilakukan oleh Diederich ternyata berhasil. Olevey mengerang dan terbangun dari tidurnya yang memang tidak terasa nyenyak karena rasa sakit yang menyiksa sekujur tubuhnya. Olevey membuka matanya yang indah dan bertemu tatap dengan netra rubi yang berkilau. “Sakit,” erang Olevey menggeliat pelan dalam pelukan Diederich. Saat terbangun seperti ini, rasa sakit di tubuh Olevey semakin menjadi. Apalagi rasa sakit di bekas gigitan Diederich semalam. Rasanya begitu sakit, hingga Olevey tidak bisa menahan tangisnya.

Diederich mengulurkan tangannya dan menyentuh bekas gigitannya yang memang sudah membiru. Samar-samar, ada pola sihir di sana. Bentuk pola yang masih samar ini menandakan jika penandaan memang belum sempurna. “Ini tidak akan sakit lagi, tapi kau harus melakukan apa yang aku arahkan,” ucap Diederich.

Olevey yang sudah setengah sadar karena rasa sakit yang semakin menjadi, hanya bisa mengangguk mengiyakan apa yang dikatakan oleh Diederich. Hal itu membuat Diederich sama sekali tidak membuang waktu untuk menggigit bagian dalam pipinya hingga darah memenuhi rongga mulutnya. Setelah itu, tanpa permisi Diederich menempelkan bibirnya pada bibir Olevey. Tentu saja Olevey menggeleng, menolak untuk menelan apa yang sudah Diderich pindahkan dari mulutnya pada mulut Olevey.

Kepala Olevey terasa makin pening saat merasakan bau karat dan amis yang menyengat di dalam rongga mulutnya. Diederich menahan kepala Olevey dan memastikan jika Olevey menelan darahnya dengan sempurna. Olevey terbatuk begitu dirinya benar-benar menelan darah Diedrich secara sempurna. Belum menghilang rasa tersiksa di tenggorokannya, Olevey tiba-tiba merasakan jantungnya terasa bekitu sakit. Seakan-akan ada sebuah belati yang tajam menancap dengan tepatnya di jantung Olevey.

Lalu tiba-tiba jantung Olevey terasa diremas dengan kuatnya hingga Olevey tidak bisa bernapas dengan benar. Kedua tangan Olevey bergetar hebat dan meraih pakaian bagian depan Diederich dan meremasnya dengan kuat. “Apa yang kau lakukan? I-Ini sakit!” pekik Olevey.

Diederich menatap dingin pada Olevey. Ia terlihat tidak berniat untuk menjelaskan apa pun pada Olevey. Namun, beberapa saat kemudian, Diederich menangkup wajah Olevey dan kembali menyatukan bibir mereka. Tentu saja Olevey menolak ciuman Diderich. Ia tengah tersiksa saat ini, dan Diederich malah menciumnya seperti ini. Apa Doederich gila?! Namun, ternyata yang gila bukan DIederich, melainkan Olevey. Karena tiba-tiba, Olevey membalas ciuman Diederich. Meskipun terasa kaku, Olevey mengikuti gerakan dan arus yang Diederich arungi. Ini gila. Olevey benar-benar tidak mengerti dengan apa yang terjadi.

Want to know what happens next?
Continue Reading
Previous Chapter
Next Chapter

Share the book to

  • Facebook
  • Twitter
  • Whatsapp
  • Reddit
  • Copy Link

Latest chapter

Olevey and the Devil King (Bahasa Indonesia)   34. Tak Boleh Mati

“Bagaimana kabar Ayah dan Ibu, ya? Apa mereka baik-baik saja?” tanya Olevey sembari menatap bunga-bunga segar yang dibawa oleh Slevi. Bunga yang sengaja dipetik untuk dirangkai oleh Olevey.Entah kenapa, tadi malam Diederich tiba-tiba berkata jika dirinya ingin sebuah pot bunga berisi karangan bunga yang dibuat sendiri oleh Olevey. Awalnya, Olevey sendiri tidak mau menuruti apa yang diinginkan oleh Diederich. Namun, Diederich mengancam akan mengurungnya di dalam kamar, lebih tepatnya mengikatnya di atas ranjang dan membuatnya mengerang sepanjang hari.

Olevey and the Devil King (Bahasa Indonesia)   33. Ajakan

“Bagaimana mungkin tidak bisa?!” tanya Leopold dengan nada tinggi pada para penyihir yang sudah ia kumpulkan dari sepenjuru negeri sebagaimana petunjuk yang diberikan oleh Elgah.Salah satu penyihir yang dituakan mendongak dari posisi berlututnya di hadapan singgasananya. “Yang Mulia, portal tersebut sangat sulit untuk ditembus. Meskipun sudah disatukan, energi kami tidak cukup untuk memaksa membukanya. Bahkan saat menembus kabut pembatas di tepi lembah Darc saja, kami sudah hampir kehabisan kekuatan. Jadi—”

Olevey and the Devil King (Bahasa Indonesia)   32. Serangan Balasan

Leopold mengernyitkan keningnya saat menyadari jika dirinya tengah mengalami kondisi di mana dirinya sadar tengah berada dalam alam bawah sadarnya, lebih tepatnya tengah mengalami sebuah mimpi. Saat ini, Leopold berada di sebuah ruangan luas dengan aksen hitam dan merah yang sangat kental. Hanya dalam sekali lihat, Leopold bisa menyimpulkan jika ruangan ini tak lain adalah sebuah kamar tidur. Hal itu semakin diperkuat dengan sebuah ranjang berukuran besar berkelambu yang berada di sisi ruangan ini. Saat cahaya bulan merambat memasuki ruangan, Leopold bisa melihat dengan jelas melihat siluet yang tercetak pada kelambu.

Olevey and the Devil King (Bahasa Indonesia)   31. Tak Masuk Akal

Diederich menyugar rambutnya sembari menatap arah di mana portal penghubung antar dua dunia berada. Ia sesekali menyesap anggur dari gelas kristal di tangannya, dengan ekspresi dingin. Ia masih bisa merasakan, jika ada kekuatan-kekuatan yang berada di seberang portal yang berusaha untuk membuka portal tersebut. Meskipun kuasa untuk membuka portal ada sepenuhnya di tangannya, Diederich sama sekali tidak bisa memungkiri jika portal pada akhirnya memang bisa dipaksa untuk terbuka tanpa seizinnya sekali pun. Namun, hal itu akan terasa sangat mustahil, jika yang berusaha membukanya adalah kaum manusia.

Olevey and the Devil King (Bahasa Indonesia)   30. Tidak Ingin Melepaskan (21+)

Olevey menggigit ujung bantal, berusaha untuk tidak mendesah sama sekali saat Diederich terus bergerak memasukinya dengan dalam dan kuat. Tentu saja, Diederich sengaja menyentak miliknya dengan sentakkan yang kuat, demi mendengar erangan Olevey. Namun, sejak awal menyatukan diri, Olevey sama sekali tidak mau mengeluarkan sedikit pun erangannya yang manis. Diederich menyeringai, sepertinya ia perlu membuat Olevey terkejut dan melonggarkan pertahanannya. Diederich memeluk Olevey dari belakang lalu berbicara dalam hatinya, “Eve, mengeranglah. Aku ingin mendengar erangan manismu.”“Dasar Iblis tidak tau malu!”

Olevey and the Devil King (Bahasa Indonesia)   29. Penobatan

Diederich menyelimuti Olevey menggunakan sayapnya yang lembut dan lebar. Olevey jatuh tertidur karena terlalu lelah mengimbangi Diederich yang terus saja menariknya untuk menyelami kenikmatan demi kenikmatan. Setela hampir semalaman terus membuat Olevey terjaga, saat menjelang pagi Diederich pun membiarkan Olevey yang sudah merengek ingin tidur. Tentu saja, Diederich melepaskan Olevey begitu dirinya sendiri mendapatkan pelapasan terbaik yang sesuai dengan harapannya. Pelepasan menakjubkan yang hanya bisa ia rasakan jika mereguk kenikmatan bersama dengan Olevey.Diederich menatap Olevey yang berusaha mencari kehangatan. Saat ini, Olevey tampak begitu bersahabat dan butuh perlindungan. Berbeda

Olevey and the Devil King (Bahasa Indonesia)   15. Mimpi Indah

Olevey and the Devil King (Bahasa Indonesia)   14. Istriku

Olevey terbangun dari tidurnya karena tidurnya yang nyama

Olevey and the Devil King (Bahasa Indonesia)   13. Hanya Satu

Olevey diantar oleh Slevi menuju aula istana di mana sing

Olevey and the Devil King (Bahasa Indonesia)   12. Dasar Iblis

“Ayah,” panggil Leopold setengah putus asa

More Chapters
Download the Book
GoodNovel

Download the book for free

Download
Search what you want
Library
Browse
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystemFantasyLGBTQ+ArnoldMM Romancegenre22- Englishgenre26- EnglishEnglishgenre27-Englishgenre28-英语
Short Stories
SkyMystery and suspenseModern urbanDoomsday survivalAction movieScience fiction movieRomantic movieGory violenceRomanceCampusMystery/ThrillerImaginationRebirthEmotional RealismWerewolfhopedreamhappinessPeaceFriendshipSmartHappyViolentGentlePowerfulGory massacreMurderHistorical warFantasy adventureScience fictionTrain station
CreateWriter BenefitContest
Hot Genres
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystem
Contact Us
About UsHelp & SuggestionBussiness
Resources
Download AppsWriter BenefitContent policyKeywordsHot SearchesBook ReviewFanFictionFAQFAQ-IDFAQ-FILFAQ-THFAQ-JAFAQ-ARFAQ-ESFAQ-KOFAQ-DEFAQ-FRFAQ-PTGoodNovel vs Competitors
Community
Facebook Group
Follow Us
GoodNovel
Copyright ©‌ 2026 GoodNovel
Term of use|Privacy