Download the book for free
BAB. 7
Author: Rustina ZahraWahyu terbangun dari tidurnya, ia mendengar suara air jatuh ke lantai dari kamar mandi. Ditengok jam yang ada di dinding. Saatnya sholat subuh akan segera tiba. Wahyu memijit kening, rasa pusing menyergap kepalanya. Mungkin karena ia kurang tidur, akibat menonton pertandingan sepak bola dini hari tadi. Refleks Wahyu menolehkan kepala, saat pintu kamar mandi terbuka. Nur muncul di sana dengan setelan baby doll lengan panjang, dan celana panjang. Rambutnya yang masih terlihat basah tergerai di atas bahu. Ini pertama kalinya Wahyu melihat rambut Nur.
Tanpa sengaja Nur juga menatap ke arah ranjang, tatapan mereka bertemu. Cepat keduanya membuang pandangan mereka. Nur berjalan ke arah di mana tasnya berada. Ia mengambil sisir, dan hijab. Setelah menyisir rambut, Nur langsung memasang hijabnya.
Suara ketukan di pintu mengagetkan mereka, cepat Nur beranjak untuk membuka pintu."Ibu.""Kalian sudah ditunggu yang lain untuk sholat subuh. Mana Wahyu?" Ibu Wahyu melongok ke dalam kamar, Nur bersyukur karena ia sudah membereskan bekas tempat tidurnya."Ya Bu." Wahyu mendekat ke arah ibunya, dan Nur."Baru bangun? Istrimu sudah mandi kamu baru bangun.""Kepalaku sedikit pusing, Bu.""Sudah ibu bilang, tidak usah nonton bola, nanti sakit kepala, akhirnya benarkan apa yang ibu ucapkan!""Iya Bu, aku mau cuci muka dulu""Cuci muka? Kamu tidak mandi?" Pertanyaan itu bernada menyelidik, tatapan ibu Wahyu menyelidik, dari ujung kaki sampai ujung kepala Wahyu, dan Wahyu juga Nur paham apa maksud dari pertanyaan ibu Wahyu."Cuci muka saja cukup Bu," jawab Wahyu akhirnya.
"Kalau kalian tidak gigih berusaha, bagaimana ibu bisa cepat menimang cucu!""Bu, satu hari libur tidak akan mempengaruhi apapunkan?" Jawaban Wahyu membuat pipi Nur merona, ia menundukan kepala, malu dengan tatapan ibu mertuanya yang tertuju kepadanya."Hhh, ya sudahlah. Cepat cuci muka sana. Ayo Nur kita ke musholla."Nur mengikuti langkah ibu Wahyu menuju musholla di rumah itu.Wahyu menghela napasnya dengan berat, ada kebimbangan di dalam hatinya. Haruskah ia menyingkirkan egonya demi kebahagiaan nenek, dan kedua orang tuanya. Apakah Nur mau bekerjasama dengannya, setelah apa yang sudah ia lakukan terhadap Nur selama ini. Wahyu kembali menghela napas, sebelum masuk ke dalam kamar mandi.
☘☘🏵☘☘
Setelah sarapan, Wahyu pergi bersama Ayahnya, dan Bayu, adiknya. Rencananya Nur akan diantar oleh supir ke rumah ibunya. Tapi sebuah mobil yang sangat dikenal masuk ke halaman rumah mertuanya.
"Cantika!" Seru Nur dengan binar bahagia di wajahnya. Soleh ke luar lebih dulu dari mobil. Lalu ia membukakan pintu untuk istrinya, yang menggendong putranya yang baru berusia 2 bulan. Nur langsung menghampiri mereka."Assalamuallaikum." Soleh dan Cantika memberi salam.
"Walaikum Salam. Ya Allah senangnya pagi-pagi sudah dapat tamu istimewa!" Seru Nur riang, matanya bersinar cemerlang. Diambil alihnya Aska dari gendongan Cantika."Eeh ada Soleh, dan Cantika, mari masuk," ibu Wahyu menyapa mereka. Soleh dan Cantika menyalami ibu Wahyu sembari mengucap salam."Nul, kapan Aska dapat adik dari kamu Nul?" Tanya Cantika dengan suara bernada manjanya.Nur hanya tersenyum mendengar pertanyaan sahabatnya.
"Iya, ini Wahyu sama Nur, kapan bisa memberi ibu cucu. Neneknya Wahyu yang sudah tidak sabar lagi""Kamu tidak menundakan, Nul?" Tanya Cantika. Nur menggelengkan kepalanya dan masih mengukir senyum di bibirnya. Sesungguhnya ia berusaha menahan air matanya. Ditatapnya dengan lekat wajah Aska putra sahabatnya.'Aku juga ingin memenuhi keinginan semua orang, tapi sayangnya Kak Wahyu tak bisa menerimaku. Apa yang bisa aku lakukan. Cintanya masih untukmu, Cantika. Tak ada ruang di dalam hatinya untukku. Dia seperti tak bisa melepaskan bayanganmu, meski dia tahu tak mungkin lagi bisa memilikimu.'
"Aska tambah besar tambah ganteng ya" puji Nur.
"Ya dong, siapa dulu Abbanya, Bie Soleh!" Cantika memeluk manja lengan Soleh, didongakan wajahnya untuk menatap wajah suaminya. Soleh menarik ujung hidung istrinya dengan gemas. Nur tersenyum melihatnya, siapa yang tidak iri melihat kebahagiaan yang ditunjukan sahabatnya. Cantika beruntung karena memilih jodoh yang tepat, dan Allah merestui pilihannya. Nur tahu, tidak akan gampang menghadapi seorang Cantika dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Hanya Solehlah yang paling tahu seperti apa Cantika, karena Soleh sudah dekat dengan Cantika sejak Cantika masih kecil.Setelah berbincang agak lama, akhirnya Cantika dan Soleh yang mengantarkan Nur ke rumah ibunya.
☘☘🏵☘☘
Nur mencuci piring bekas makan malam mereka, ketika Henny sepupu Wahyu yang datang berkunjung, dan ikut makan malam di rumah orang tua Wahyu bersama kedua orang tuanya, mendekati Nur.
"Nur!" Panggilnya dengan nada tak bersahabat."Ya" Nur menolehkan kepalanya."Kamu dan Kak Wahyu sudah setahun menikah, tapi kamu belum hamil juga. Aku curiga kalau ada yang tidak beres denganmu, Nur" ucap Henny dengan tuduhan tanpa perasaan yang ia tujukan pada Nur."Terserah Kak Henny mau bilang apa, hanya Allah yang tahu kebenarannya" sahut Nur dengan nada datar, tanpa terpancing emosinya."Nenek itu sudah tidak sabar ingin menimang anak Kak Wahyu, harusnya kau memeriksakan dirimu. Mungkin saja kau mandul. Semakin cepat diketahui, semakin bagus. Agar Kak Wahyu bisa segera mengambil keputusan, dan nenek tak lagi harus menunggu sesuatu yang tidak pasti!"
"Kenapa Kak Henny berusaha menekanku? Kenapa tidak bicarakan saja hal ini dengan Kak Wahyu. Keturunan tidak akan bisa didapatkan dengan bim salabim abra kadabra, semua butuh proses, dan atas ijin Allah juga tentunya. Pekerjaanku sudah selesai, aku ingin kembali ke kamarku, selamat malam Kak Henny. Maaf jika aku bicara lancang pada Kakak."
Nur langsung meninggalkan Henny di dapur untuk menuju kamar. Nur tahu, sejak awal ia masuk dalam keluarga Wahyu, Henny sudah tidak menyukainya, tapi Nur tidak tahu apa penyebabnya.
Dilihatnya Wahyu masih duduk di ruang tengah bersama ayah dan adiknya, Bayu.
Nur kembali ke rumah orang tua Wahyu, setelah dijemput Wahyu di rumah ibunya tadi sore. Tentu saja Wahyu melakukannya atas permintaan nenek dan ibunya.Sepanjang makan malam tadi, nenek Wahyu terus membahas tentang keinginannya melihat anak mereka. Dan Nur bisa melihat kegelisahan pada sikap Wahyu karena keinginan neneknya.
Nur masuk ke dalam kamar, dan menutup pintunya. Baru saja ia ingin menggelar sprei di atas lantai ketika pintu kamar terbuka. Sesaat Nur menatap Wahyu yang masuk ke dalam kamar. Sesaat kemudian ia kembali melanjutkan menggelar alas tidurnya.
"Kita harus bicara!"Nur menegakan tubuhnya, matanya menatap Wahyu yang berdiri tak begitu jauh di depannya. Tatapan mata mereka bertemu, Wahyu membuang pandangannya, ia duduk di tepi ranjang."Duduklah!" Wahyu menunjuk kursi kecil yang ada di sana. Nur menghela napasnya, lalu melangkah ke arah kursi kecil, dan duduk diam di depan Wahyu, dengan pertanyaan yang memenuhi benaknya.☘☘🏵BERSAMBUNG🏵☘☘
Share the book to
Facebook
Twitter
Whatsapp
Reddit
Copy Link
Latest chapter
Nur Cahaya Cinta BAB. 19
Nur ke luar dari kamar setelah selesai mandi. Nur mengernyitkan keningnya saat tak melihat siapa-siapa di ruang tengah."Kak!" Nur memanggil Wahyu yang tidak terlihat, ia menuju ruang tamu. Dilihatnya Wahyu menutup pintu pagar dengan payung di tangannya. Nur menunggu Wahyu di teras rumah, Wahyu berjalan mendekatinya."Sudah pulang ya, Kak""Iya""Aku jadi malu, pasti ibu pikir aku ....""Aku sudah jelaskan ke ibu dan nenek, kalau kamu kelelahan karena harus kerja rodi semalam" Wahyu masuk ke dalam rumah diikuti oleh Nur."Kerja rodi?""Hmmm, yang tadi malam""Yang tadi malam?" Nur mendongakan wajahnya dengan kening berkerut menatap Wahyu, ia sungguh tidak mengerti apa yang dimaksud Wahyu dengan kerja rodi.
Nur Cahaya Cinta BAB. 18
Begitu melihat nama orang yang menelponnya, Wahyu memutuskan untuk mengabaikannya. Ia hanya mematikan suara ponselnya. Wahyu kembali naik ke atas ranjang. Sebelumnya ia melepas celananya, mata Nur melotot saat melihat Wahyu yang tanpa busana. Cepat Nur membuang pandangannya, jantungnya berdegup lebih cepat lagi, ia merasa tubuhnya panas dingin jadinya.Wahyu langsung menindih Nur yang masih memakai penutup segi tiganya."Siapa Kak?" Tanya Nur saat tatapan mereka bertemu. "Tata" jawab Wahyu singkat."Tata?" Nur mengernyitkan keningnya, karena merasa asing dengan nama itu."Orang yang ingin beli rumah""Kenapa tidak dijawab, Kak""Saat ini, ini lebih penting dari segalanya" Wahyu mengecup bibir Nur, membuat Nur tersipu ka
Nur Cahaya Cinta BAB. 17
Sesaat hanya kesunyian yang ada di antara mereka, meski Wahyu cukup berpengalaman dalam hal wanita, tapi baginya tetaplah ini menjadi hal yang berbeda. Ia belum sampai pada tahap 'bercinta' dengan teman wanitanya.Nur merapikan rambutnya yang tergerai, digelungnya asal, rambut panjangnya yang hitam bergelombang. Wahyu menolehkan kepalanya. Ditatap dari samping, lekukan bibir Nur terlihat sangat seksi. "Aku kembali ke kamarku ya Kak" pamit Nur pada Wahyu. Ia merasa jengah duduk berduaan tanpa ada yang dibicarakan."Nur" Wahyu menahan lengan Nur yang ingin berdiri. Wahyu menggeser duduknya lebih dekat. Nur menolehkan kepalanya, tangan Wahyu terangkat, dibukanya gelungan rambut Nur, sehingga rambut Nur tergerai kembali. Mata Nur mengerjap gelisah, ia merasa berdebar-debar karena paha Wahyu yang masih terbungkus celana pendek menempel di pahanya yang tertutup daster panjangnya.Jemari Wahyu meraih dagu Nur. Mata Wahyu menatap
Nur Cahaya Cinta BAB. 16
Makan malam mereka berjalan dalam kesunyian, sesekali Wahyu melirik Nur. Ia gemas sekali melihat pipi Nur saat Nur mengunyah makanannya. Pipi itu benar-benar seperti bakpao berwarna coklat saja. Jemari Nur yang pendek dan terlihat gemuk tidak luput dari rasa gemasnya. Rasanya Wahyu ingin menggigitnya.'Argghh, ini semua karena mimpi tadi, kenapa semua yang ada pada Nur jadi terasa menggemaskan. Padahal selama ini aku sukses mengabaikannya, tapi...argghhhh'Tanpa sadar Wahyu menggerutukan giginya, karena kesal pada dirinya sendiri. Niatnya mendekati Nur agar rencananya untuk membuat Nur hamil sebelum 6 bulan terlaksana, tanpa harus ada embel-embel cinta. Tapi sekarang justru hatinya yang mulai liar, tak bisa untuk diperintah otaknya.Nur menjilat bibirnya, lalu meneguk air minumnya. Wahyu menundukan kepalanya, menutup matanya, mengutuki dirinya.'Ya Allah, apa ini hukumanmu atas sikapku
Nur Cahaya Cinta BAB. 15
Nur pulang ikut dengan Lisna, teman kerjanya yang naik motor. Tapi hujam yang mendadak turun membuat mereka harus berteduh di emperan sebuah ruko. Dan seperti beberapa hari yang lalu, Nur kembali bertemu dengan Raffi di situ. Raffi tidak sendirian, ia bersama Arif temannya. Merekapun terlibat pembicaraan yang mengasyikan, sambil menunggu hujan mulai reda. Tapi, hari mulai gelap, hujan tak kunjung reda juga, justru seperti bertambah derasnya. Nur jadi khwatir kalau Wahyu lebih dulu tiba di rumah sebelum dirinya.Tiba-tiba sebuah mobil berbelok ke halaman ruko tempat Nur berteduh. Nur tahu betul siapa pemilik mobil itu. Nur melangkah untuk mendekati mobil. Dan benar dugaannya, kalau Wahyulah yang berada di dalam mobil itu."Kak Wahyu!""Masuk""Sebentar Kak, aku pamit dulu sama temanku" sahut Nur, Nur berpamitan pada Lisna, Raffi, dan Arif. Setelah itu baru ia masuk ke dalam mobil Wahyu. Nur melirik Wahyu ya
Nur Cahaya Cinta BAB. 14
Nur menatap mobil Wahyu sampai hilang dari pandangannya.Nur masuk lewat pintu yang ada di samping butik."Assalamuallaikum" Nur mengucap salam begitu membuka pintu."Walaikum salam, diantar siapa Nur?" Tanya Bunda Aira."Kak Wahyu" jawab Nur dengan rona merah di wajahnya."Tumben diantar suami""Karena hujan Bunda, jadi diantar""Ehmm, ayo Nur masuk ke ruanganku. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu" Bunda Aira menggamit lengan Nur."Ada apa ya Bunda?""Jangan tegang dan cemas begitu, ayo duduk" Bunda Aira mempersilahkan Nur untuk duduk di depannya."Begini Nur, butik kita akan meluncurkan produk terbaru, dan aku butuh bantuanmu untuk itu" "Butuh bantunku bagaimana ya Bunda? Aku kan kerja di sini, sudah pasti aku akan membantu Bunda semampu aku bisa" "Ini bukan tentang pekerjaanmu memasang payet, kancing, dan sebagainya, Nur""Lalu tentang apa, Bunda?""Aku ingin kau jadi model produk terbaru butik kit
Nur Cahaya Cinta BAB. 10
Nur dan Wahyu sudah berada di dalam mobil Wahyu. Sikap keduanya lebih canggung dari biasanya. Tak ada satupun yang bersuara, bahkan diantara mereka berdua, seperti tak ada yang terdengar bernapas saja. Sunyi senyap di antara mereka berdua. Wahyu memarkir mobilnya di garasi rumah orang t
Nur Cahaya Cinta BAB. 9
"Aku mau lewat, Kakak mau ke ...." Nur menghentikan ucapannya, saat Wahyu berbalik dan pergi meninggalkannya. Wahyu ke luar dari kamar tanpa mengucapkan apa-apa. Nur menatap punggung Wahyu dengan resah di dalam dadanya. Sampai subuh Nur tak bisa memejamkan matanya, dan Wahyu kembali lag
Nur Cahaya Cinta BAB. 13
Suara ketukan di pintu kamar mengagetkannya. Nur membuka pintu kamar dan menemui Wahyu yang berdiri di depannya."Oleskan salep ini di kulitmu yang terkena air panas tadi" Wahyu mengangsurkan salep di tangannya pada Nur."Terimakasih Kak" Nur menerima salep yang disodorkan Wahyu.
Nur Cahaya Cinta BAB. 8
"Kita harus bicara soal keinginan nenek. Ini memang rumit, dan ....""Ini bukan masalah rumit, Kak. Kakaklah yang membuat ini jadi rumit" potong Nur cepat."Apa maksudmu?" Wahyu membalas tatapan Nur yang terarah tepat ke matanya."Pilihan ada di tangan Kakak. Jika Kakak t
