Memuat
Beranda/ Semua /Nanny to Mommy (Indonesia)/Batch 3 : Kecewa

Batch 3 : Kecewa

Penulis: Rose Marberry
"Tanggal publikasi: " 2020-09-02 09:36:12

"Selamat pagi." Azyan mendengar suara bariton yang mengantar tidurnya. Gadis itu tersadar, ia baru tertidur selama 45 menit. Ia tak bisa tidur karena perlakuan Dennis yang tiba-tiba, dan sekarang ia harus bangun lagi.

Sebenarnya, Azyan masih megantuk, tapi ia sadar diri. Akhirnya dengan senyuman ia terbangun. Keduanya saling menyapa dengan senyuman pagi.

"Dia nggak sadar-sadar." Dennis melihat ke arah Baby Danish, dan tersenyum. Azyan hanya tersenyum, ia juga heran, Baby Danish begitu nyenyak. Biasanya bayi merah itu terbangun 2-4 kali karena pampers penuh atau ingin makan. Tapi, tidak sama sekali. Sepertinya, ia kelelahan karena menangis.

Dennis bangun dari ranjang. Dan mengaruk rambutnya sambil menguap, semua hal itu tak pernah lepas dari pandangan Azyan.

"Saya mau buat sarapan. Kalau ngantuk tidur aja." Dennis pun keluar. Meninggalkan Azyan yang memerah. Hey, ia hanya seorang pengasuh tapi kenapa ia bersikap seperti Nyonya di rumah ini? Azyan menggeleng, bangun dan mengisi kebutuhan di kamar mandi.

Gadis itu keluar dari kamar mandi, dan Baby Danish sama sekali belum sadar. Azyan dibuat geleng-geleng, begitu nyamannya tangan Dennis, hingga Baby Danish tak sadar. Padahal, jika bersamanya, bayi merah itu sering membuatnya begadang.

Azyan mendekati Baby Danish. "Pagi baby, nyenyak benar. Neny ganti pampers ya." Dengan pelan dan hati-hati, Azyan melihat isi pampers Baby Danish, penuh. Tapi tak sadar sama sekali, gadis itu hanya bisa tersenyum bangga. Azyan akhirnya membuka pampers Baby Danish, mengelap bokong bayi itu dengan tisu dan memakai pampers lagi. Baby Danish sedikit terkejut, tapi bayi itu menutup matanya lagi, sepertinya ia begitu lelah.

Azyan akhirnya membereskan tempat tidur, ketika ia menarik seprai bagian Dennis, ia bisa merasakan seprai itu terasa hangat. Bahkan, aroma tubuh Dennis masih tertinggal disana, menarik napas panjang, Azyan mengambil sebanyak mungkin aroma tersebut.

"Zyan sarapan." Dennis memasukan kepalanya ke kamar, tapi badannya tertinggal di luar. Azyan mengelus dadanya, lelaki itu selalu saja membuat jantungnya copot, karena selalu hadir tiba-tiba.

Azyan akhirnya mengelung rambutnya asal, niatnya asal, ia ingin menyisir rambut.

Di atas meja, sudah ada 4 potongan roti bakar, capucino untuk Dennis, dan susu untuk melancarkan ASI. Bahkan, Dennis harus repot-repot membuatkan untuk Azyan, yang notabene hanya pengasuh.

"Duduk Zyan." Dengan gugup, Azyan duduk di samping Dennis. Entah, kenapa lelaki kaku ini, selalu membuat Azyan kehabisan kata. Action yang ia buat, terasa begitu nyata bagi kehidupan Azyan.

"Jam berapa kuliah?"

"10 bang."

"Yaudah. Saya juga mau jemput Bu Amin," Azyan hanya diam. Dan meminum susu tersebut sambil memandang Dennis. Wajah Dennis itu tampan, bahkan jika dilihat lagi, ia seprti copyan ayahnya. Tak ada yang beda, kecuali Ayah Dennis suka tersenyum, tetapi Dennis jarang tersenyum.

"Baby." Kedua manusia dewasa itu bersorak, ketika mendengar suara tangisan bayi. Dengan refleks, Azyan dan Dennis sama-sama mengeser kursi dan berlari ke kamar. Terlihat, Baby Danish yang mengerak-gerakan tangannya sambil menangis.

Azyan akhirnya mengendong, dan memeriksa isi pampers Baby Danish. Benar saja, bayi merah itu baru saja membuang kotorannya. Azyan melirik pada Dennis yang tak suka dengan bau-bau kotoran bayi. Tapi, lelaki itu masih berdiri disana. Akhirnya, Azyan membuka pampers Baby Danish, dan mengambil tisu basah dan pampers lagi.

"Yaudah, saya nunggu diluar." Azyan hanya tersenyum, hampir tertawa keras, ketika melihat wajah Dennis yang tak enak, ketika melihat kotoran bayi. Gadis itu hanya geleng-geleng, padahal, jika Dennis punya anak sendiri, mau tak mau, ia harus mengurus hal seperti ini.

Azyan memberi bayi merah makanannya dan membawa keluar. Azyan duduk di kursi, dengan Dennis yang masih setia di meja makan, dan tersisa satu potongan roti.

Akhirnya, Azyan menghabiskan sarapannya sambil memberi makan Baby Danish yang menyedot makanannya dengan begitu rakus. Mungkin, karena bayi itu tak makan semalaman.

"Saya mau mandi." Azyan hanya diam. Dan terus menyusui Baby Danish. Kebetulan sudah bangun, Azyan ingin memandikan Baby Danish.

Akhirnya, Azyan membawa Baby Danish ke kamar dan menidurkan sambil memberi makanan pada bayi itu yang tak mau melepaskan makanannya.

"Udah ya. Mandi dulu, nanti makan lagi." Malah, bayi itu semakin semangat menyedot makanannya. Akhirnya Azyan pasrah dan membiarkan Baby Danish makan.

"Zyan." Azyan sadar ada yang menepuk pipinya lembut. Rupanya ia tertidur.

"Danish mandikan dulu. Saya sudah siapkan airnya." Azyan membuka matanya dan Dennis berdiri di ujung ranjang, laki-laki itu begitu wangi. Akhirnya Azyan melihat bayi merah itu berusaha memasukan tangannya dalam mulut. Azyan membuka baju Baby Danish, dan bayi merah hanya diam. Azyan selalu berdoa, agar Baby Danish cepat besar dan ia bisa bermain bersama bayi mengemaskan ini.

Azyan mengangkat bayi merah itu, dan memandikan. Dennis, lelaki itu hanya berdiri di pintu kamar mandi sambil memegang handuk. Tapi ada rasa aneh yang membuatnya ingin mengurus Baby Danish sendiri. Dengan tak ada drama menangis, Azyan mengangkat bayi merah tersebut. Dan Dennis menyambutnya, membalutkan handuk dan membungkus bayi merah tersebut.

Dennis membawa ke ranjang, Azyan mengambil pakaian Baby Danish dan mengambil segala tetek bengek perlengkapan bayi tersebut. Azyan bersyukur, Baby Danish tidak menangis. Biasanya acara mandi bayi itu, diisi dengan tangisan yang memekik.

"Zyan mandi aja, biar saya yang urus." Azyan ragu. Bisa-bisa tulang bayi itu patah semua.

"Mandi Zyan. Saya sudah biasa ngurus adik-adik." Terpaksa, Dennis mengakui hal-hal yang membuatnya masih menyimpan dendam. Baby Danish mengemaskan, kenapa tak ia urus saja? Dulu, semasa kecil ia selalu mengurus bayi. Apalagi Ilana, semua Dennis lakukan. Membersihkan kotoran adiknya, kadanga memandikan, jadi ia membuat jangan sampai Ilana kualat padanya, padahal gadis itu bar-bar luar biasa.

________________________________

Azyan mencium Baby Danish. Walau hanya berpisah beberapa jam, gadis itu tak rela. Dennis mengantarnya lagi pagi ini, lelaki itu memilih kerja dari rumah. Ia ingin terus mengawasi Baby Danish.

Azyan tersenyum dan pamit pada Dennis. Lelaki itu hanya mengangguk. Kedekatan keduanya, perlahan membuat Azyan tak terlalu cangung berada disekitar Dennis.

Azyan melihat Ilene dan kembarannya sedang melempar tas. Ilene melempari kembarannya dengan tas berkali-kali. Darris menarik rambut sebahu kakaknya.

Cowok itu terdiam, ketika melihat sang mantan. Ia merasa, mungkin karena sifat kekanakan yang ia tunjukan membuat Azyan tak lagi menjalin hubungan dengannya. Karena, jika bersama kembarannya mereka selalu bertengkar.

"Bella! Mana abang?" Teriak Ilene. Gadis itu tak peduli, jika semua perhatian tertuju padanya. Semua orang sudah tahu, si kembar biang rusuh. Dimana ada Ilene dan Darris, disana ada pertengkaran.

"Abang udah pergi."

"Yah.. gagal maning dapat duit lagi. Aku lagi naksir baju model baru di olshop." Azyan hanya menggeleng. Ia bukan gadis yang gemar mengkoleksi baju dan sepatu. Ia membiasakan hidup minimalis sedari kecil.

"Bella." Darris memanggil Azyan. Gadis itu menoleh, dan merasa tak enak hati pada Darris. Percakapan mereka semalam, berakhir begitu saja. Lagian, hubungan mereka telah kandas satu tahun yang lalu, namun cowok tampan yang mirip Dennis tersebut tidak menyerah, walau ia sudah ditolak berkali-kali. Azyan sadar diri, ia merasa bukan lagi anak muda. Ia punya tanggung jawab yang besar, dan sebagian waktunya ia habiskan untuk mengurus anak, bukan lagi mengurusi masalah percintaan yang tak kelar-kelar.

"Bella." Lirih Darris. Cowok itu menarik tangan Azyan ke belakang fakultas, ia ingin meminta kesempatan.

"Woy! Ingat status woy!" Teriak Ilene. Tapi diabaikan oleh kembarannya. Azyan hanya diam, sebenarnya apa yang diharapkan Darris dari dirinya? yang lebih memilih bau bayi, daripada memakai parfum mahal.

Azyan begitu tenang, tidak dengan Darris yang bolak-balik seperti pesawat lepas kendali.

"Bella." Azyan hanya mengangkat wajahnya memandang Darris.

"Bella." Azyan diam lagi. Justru, pikirannya tersita pada Dennis. Apa yang laki-laki itu lakukan dengan Baby Danish? Walau sudah ada Bu Amin, tapi kadang ia tahu, Dennis yang menawarkan diri mengurus Baby Danish. Azyan tak ingin Baby Danish bermasalah karena sifat sok tahu Dennis yang katanya sudah terbiasa mengurus adik-adiknya.

"Aku udah emak-emak." tutur Azyan. Darris menggeleng, kenapa Azyan harus merendah? Bukankah, gadis ini layak dapat perhatian dan cinta?

"Aku hanya pengasuh bagi keluargamu. Aku nggak enak sama abangmu, nanti dikira tak sungguh-sungguh jadi pengasuh, malah mau pacaran." Azyan coba beri pengertian. Darris masih menggeleng. Cowok itu meremas rambutnya. Salah, jika ia belum bisa melupakan masa lalunya?

"Maaf. Tapi aku masuk sekarang." Azyan meninggalkan Darris mengepalkan tangannya. Ia berjanji, gadis itu akan menjadi miliknya.

_________________________________

Dennis membawa laptopnya ke kamar Azyan. Lama-lama ia bisa pindah kamar, bergabung dengan pengasuh tersebut.

Baby Danish sedang tertidur, bayi merah itu tertidur ketika sudah diberi makanan, karena Azyan selalu menyetok susu bagi Baby Danish. Gadis itu selalu berusaha yang terbaik, agar bayi merah itu tak kekurangan apapun.

Dennis mengalihkan perhatiannya dari layan laptop dan memandang Baby Danish. Pikirannya sedang tidak fokus ke kerjaan sekarang. Lelaki dewasa itu menoleh pada bayi merah tersebut tanpa sadar tersenyum. Teringat, ia melakukan hal nekat. Bagaimana mungkin, ia mengatakan hal semanis itu pada Azyan. Padahal, ia tak berkata manis, pada gadis manapun.

Dennis hanya geleng-geleng, menghilangkan segala pikiran tentan Azyan yang terus menari di kepalanya. "Zyan... Zyan..." guman Dennis.

Akhirnya, Dennis menyingkirkan laptopnya dan menyambar ponsel miliknya, ingin memberi pesan pada Azyan. Entah kenapa, ia ingin menanyakan kabar Azyan, dan ingin menjemput gadis itu. Padahal, mereka berpisah belum sampai satu jam. Benar-benar aneh.

DennisN : Zyan, pulang jam berapa?

Lekaki itu meletakan ponselnya, dan kembali memandang ke arah Baby Danish. Rasa untuk melindungi bayi ini begitu besar. Entah kenapa, Dennis merasa ia sudah seperti membangung sebuah keluarga kecil. Ia ingin membangun keluarga kecil miliknya. Tapi, Dennis tak pernah memikirkan pasangan lagi, setelah kejadian pahit di masa lalu. Kejadian, yang membuat ia tak ingin mengenal cinta seumur hidupnya.

"Kamu secepatnya akan dapat mommy. Tapi nggak tahu kapan, cepat besar ya baby." Dennis menghirup aroma bayi tersebut. Dennis dan Azyan sama-sama memiliki keinginan Baby Azyan cepat besar, agar mereka bisa bercengkrama langsung dengan bayi ini. Entah kenapa, Dennis merasa Baby Danish bayi paling beruntung di dunia. Ia mendapatkan kasih sayang dari semua orang.

Dennis memeriksa terus ponselnya, tapi belum dibalas Azyan. Mungkin terlalu berharap, Dennis merasa kecewa. Ia berharap Azyan mengiyakan, mungkin mereka bisa jalan-jalan sebentar. Walau harus repot, karena bayi merah tak boleh sering jalan.

Andai, sudah besar. Dennis akan mengajak Baby Danish berjalan terus. Lelaki itu akan memilih kerja freelance dan fokus mengurus anak.

Dennis melihat pesannya telah dibaca Azyan, tapi tak dibalas gadis itu.

Lelaki itu hanya mendesah kecewa.

Ketika melihat Azyan mengabaikan pesannya.

__________________________________

Azyan terus memikirkan Dennis dan Baby Danish. Gadis itu tak tenang, ia berharap perkuliahan cepat selesai,  ia pulang dan mengurus bayi. Jiwa pengasuh telah mengakar pada dirinya. Ia bersyukur hari ini, hanya ada satu mata kuliah, jadi Azyan bisa pulang cepat selesai.

Azyan bernapas lega, akhirnya selesai juga mata kuliah Morphology. Walau dengan tugas yang menumpuk, gadis itu bisa menyempatkan waktunya membuat tugas, ketika Baby Danish tidur.

Azyan berjalan dengan cepat ingin pulang. Ia memeriksa ponselnya, dan tanpa sadar tersenyum. Dennis begitu perhatian. Belum sempat gadis itu membalas. Ia sudah ditarik oleh Darris.

"Lepasin!"

"Pulang sama aku Bella." Azyan menggeleng. Dennis sudah berkirim pesan padanya.

Darris dan Azyan saling tarik-menarik. Azyan tak ingin terlibat dengan Darris. Tapi bungsu Ilona itu terlali keras kepala. Ia juga bersikap seperti ibunya dan berbanding terbalik dengan abang sulungnya.

"Trus Ai pulang sama siapa?"  Tanya Azyan akhirnya mengalah. Karena Darris dan Ilene biasanya pulang dan berangkat bersama, walau mereka memiliki jadwal yang berbeda.

"Udah biarin aja." Darris memasukan Azyan dalam mobil dan cepat menguncinya, takut gadis itu kabur.

Azyan hanya diam, walau di dalam mobil, Darris terus mengoceh. Gadis itu terlalu lelah untuk melayan. Ia sudah terbiasa hidup bersama Dennis kaku yang hidupnya terlalu diam.

"Makasih." ujar Azyan ketika, telah sampai di rumah Dennis.

"Aku mau mampir juga dong, lihat baby." Modus Darris. Azyan memutar bola matanya malas. Dan turun.

"Woy bang! Apa kabar keponakan? Makanya cari bini, biar tak susah ngurus anak." Teriak Darris. Padahal Dennis sedang menatap Azyan kecewa. Gadis itu memilih mengabaikan pesannya dan memilih pulang bersama adiknya. Kalau tak ingat, mereka berasal dari perut yang sama Dennis sudah menendang Darris jauh-jauh. Ia kelewat kesal, adiknya suka sekali modus pada pengasuh Baby Danish.

"Baby." Azyan mendekati Baby Danish yang tertidur di gendongan Dennis yang berdiri di depan pintu.

"Jangan dipegang. Bayi tak boleh terkontaminasi dengan orang pacaran." Ujar Dennis dengan nada sarkas. Azyan hanya diam, menelan ludahnya gugup.

Darris tersenyum, merasa menang sekarang.

"Sepertinya ada api yang terbakar disini." Timpal Darris tanpa dosa, dan masuk ke dalam rumah abangnya.

Azyan dan Dennis sama-sama menghela napas panjang. Merasa kecewa pada lawannya.

____________________________________

Ada yg cembukor :v

Kalau kita buat abang bosbob jadi bucin seru kali ya :v

Biar war sama adiknya.

Ingin tahu kelanjutannya?
Lanjutkan Membaca
Bab Sebelumnya
Bab selanjutnya

Bagikan buku ke

  • Facebook
  • Twitter
  • Whatsapp
  • Reddit
  • Copy Link

Bab terbaru

Nanny to Mommy (Indonesia)   FB - Mereka Pergi

Kecewa.Azyan kecewa pada Ilona yang melakukan semuanya tanpa menunggu persetujuan dari dirinya. Bukankah ia belum menjawab ide yang Ilona rencanakan? Walau Azyan memang tak punya jawaban, seperti maju salah, mundur salah. Lebih baik ia kabur dan menghindar agar tak lagi memikirkan semua hal ini.Azyan memperhatikan anak semata wayangnya yang sibuk memasukan jari-jari kaki dalam mulut dengan badan gempal karena gemuk dan terlihat makin mengemaskan. Danish adalah bayi paling mengemaskan, tapi perjuangan untuk mendapatkan bayi ini begitu susah.Azyan berbaring kembali dan mengelus-elus kepala Danish sayang. Harusnya ia menjumpai Ilona dan menyatakan keberatannya, bukan sepihak seperti ini, karena masa depannya dipertaruhkan disini, memangnya Ilona mau Danish tak punya ayah karena Dennis akhirnya jatuh cinta pada Alena? Oh sialan! Memikirkan ini Azyan tak sanggup.Azyan mengangkat Danish dan meletakan bayi it

Nanny to Mommy (Indonesia)   FB 14 - Plan B dan Kecewanya Azyan

"Saya seperti kau menyerah. Ini tidak berjalan dengan baik. Hidup bersama, ada anak, tapi abang memang nggak ingat apa-apa."Azyan tersedu sambil menggeleng, mengadu pada Ilona, sambil mengendong Danish. Bayi yang sudah berumur empat bulan. Azyan mengira, setelah 4 bulan Dennis akan sadar dari amnesia dan sadar siapa dirinya. Nyatanya semua terasa asing di mata Dennis. Laki-laki itu tetap menganggap Azyan seorang pengasuh bukan ibu dari anaknya."Bunda punya ide yang lebih bahaya lagi. Tapi nggak tahu, Bella setuju atau nggak?" kata Ilona sambil memegang tangan mungil Danish yang berusaha memasukan tangannya dalam mulut bayi itu. Azyan langsung memandang nenek Danish. Wanita yang sangat berperan besar dalam kelangsungan hidupnya. Tapi anaknya yang sakit, tak ingat apa-apa tentang dirinya, membuat Azyan ingin menyerah dan membawa Danish pergi sejauh mungkin agar Dennis tak menemukan mereka kembali. Dan laki-laki itu tahu, arti kehilangan.

Nanny to Mommy (Indonesia)   FB 13 - Perjuangan Azyan

Azyan bolak-balik, sambil memegang perutnya. Kontraksi. Peluh mulai membasahi wajahnya, walau ia masih bisa menahan semuanya dan sedikit beraktivitas. "Biasanya disuruh jangan makan. Puasa dulu, tapi sekarang masih lama, Bella makan aja dulu." Azyan hanya meringis memegang perutnya. Penantiannya telah tiba, tapi banyak banyak hal yang ia pikirkan. Terutama, bagaimana nasib anaknya setelah ini, karena Dennis sama sekali tak mengingatnya. Bahkan, jadi nanny juga, Azyan tak bisa menjamin ini akan berhasil. Apa ia bisa berpura-pura di depan semua orang, jika ia adalah pengasuh untuk anaknya sendiri? "Udah jangan banyak mikir yang aneh-aneh. Fokus ke kandungan, setelah keluar, semua kesakitan ini hilangnya dengan sendirinya. Ini nggak bohong, dan ini disebut keajaiban." Azyan duduk di atas atas kursi, memandang kosong ke arah salad buah di atas meja. Sakitnya bisa ia tahan, karena belum terlalu intens. Walau saatnya datang

Nanny to Mommy (Indonesia)   FB 12 - Nanny To Mommy

"Akhirnya, libur juga kita." Ilene memeluk lengan Azyan yang hanya diam.Perutnya makin membesar, sudah 7 bulan atau 32 minggu. Membuat Azyan lebih cepat merasa lelah dan juga wajahnya begitu pucat. Ia mengalami anemia."Habis ini, Bella akan fokus pada kehamilan dan juga kelahirannya." Azyan tak perlu menanggapi, karena memang ia masih marah pada dua kembar tersebut. Ia belum bisa berdamai, beruntung ia melewati masa-masa sulit."Wah, kebetulan aku lagi dapat duit hehehe. Tenang, bukan uang haram. Aku mau traktir." ujar Darris tiba-tiba sudah bergabung sambil nyegir.Ilene langsung melotot pada adiknya. "Bukan dia. Tapi abang." rasanya seperti pertahana Azyan runtuh. Tapi ia berpura-pura tegar. Jantung Azyan berdetak lebih cepat, rasanya mau copot. Gadis itu menelan ludahnya gugup, matanya sudah memanas. Ia merindukan bau itu, baju Dennis yang beberapa bulan lalu, sudah hilang baunya karena ia gosokan di

Nanny to Mommy (Indonesia)   FB 11 - Kepingan Puzzle Yang Hilang

"Bunda mohon, tolong pikirkan ini. Bagaimana kamu mau merawat anakmu, jika kamu sendirian. Gimana kalau malam-malam perutnya mules." Azyan hanya menunduk, beribu cara Ilona membujuknya, beribu cara juga ia menghindar."Kehamilan Bella sudah lima bulan, sebentar lagi banyak drama yang keram, tak bisa gerak leluasa. Pokoknya hamil itu banyak drama, dan memang harus ada yang mendampingi tak bisa hidup sendiri kayak gini."Ilona mengantarkan Azyan mencari kontrakan terbaru. Azyan benar-benar menghilang dari kehidupan mereka. Harusnya, Azyan menjadi tanggung jawab mereka, namun gadis itu keras kepala, ditambah Dennis punya penyakit. Ah, semuanya terasa serba salah."Ya, Bella berhak marah. Tapi, pikirkan kondisi anaknya." Azyan hanya mengangguk.Dan Ilona kewalahan, bagaimana mengatur semua ini. Azyan sudah sakit hati dan kecewa, Dennis juga butuh penanganan. Dan dua anak kembarnya sudah mendapatkan hukuman mer

Nanny to Mommy (Indonesia)   FB 10 - Hukuman untuk Si Kembar

"Teman kamu baik bangat Ai. Dia mau bantuin kamu merawat Abang."Semua orang terdiam, tidak dengan hati Azyan yang retak seribu. Pegangan Azyan pada kursi roda itu melemah. Gadis itu urung mendorong kursi roda Dennis. Hari ini, Dennis keluar dari rumah sakit, setelah dua Minggu dirawat walau ia belum bisa berjalan normal, jadi Dennis hanya bisa beraktivitas dengan menggunakan kursi roda."Ayo." ajak Ilene pada Azyan yang hanya diam. Kata sederhana itu, meluluhkan pertahanan dan kesabaran Azyan. Rasanya Azyan ingin berlari sejauh mungkin, dan tak seorang pun dapat menemukannya dan ia bebas melakukan segala perasaannya, tanpa ia menutupi semuanya."Abang boleh ajak kawan ke rumah?" tanya Ilene pada abanganya. Dennis hanya mengangguk. Tapi, Azyan hanya berjalan dengan lemah mengikuti dua bersaudara itu dari belakang. Setelah ini, ia hanya perlu menghilang dari kehidupan lelaki ini dan amnesia seperti Dennis, dan melupakan apa ya

Nanny to Mommy (Indonesia)   Batch 18 : Jangan Ganggu Saya

Rasanya Azyan ingin mencolok mata Darris pakai sendok. Cowok itu terus menganggunya. Keluarga itu sedang sarapan, dan Ilona di bawah menyuapi Darris. Naasnya, Azyan duduk di samping Darris, mau tak mau ia harus mendapat senggolan setiap saat. Kalau boleh, Azyan ingin memijak kaki Darris

Nanny to Mommy (Indonesia)   Batch 17 : Pindah Rumah

"Zyan...""Zyan...""Zyan. Keluarlah, dua hari kamu nggak mau keluar. Saya nggak marah, malah saya senang dan bersyukur, identitas Danish jelas. Kamu harus makan, kasian Danish. Jangan hukum diri kamu, apalagi Danish. Tak ada yang marah sama kamu."

Nanny to Mommy (Indonesia)   Batch 16 : Danish anakku!

"Adek tunggu abang. Pokoknya jangan masuk dulu, sebelum abang datang. Ini penantian kita selama ini." lelaki itu terkekeh, masih melihat seorang wanita cantik di layar ponselnya, ia tersenyum begitu manis."Cepat abang..." suara rengekan di ujung telpon.

Nanny to Mommy (Indonesia)   Batch 15 : Berat

"Eum..." Azyan hanya bisa melenguh, ketika tanpa ampun Dennis melumat bibirnya. Padahal, posisi gadis itu sedang mengendong Danish. Azyan sedang di dapur ingin membuatkan susu untuk dirinya sendiri, ketika ia sedang sibuk. Dennis malah memberinya gendongan Danish, Azyan hanya menurut, t

Bab Lainnya
Unduh Buku
GoodNovel

Unduh Buku Gratis di Aplikasi

Unduh
Cari
Pustaka
Pencarian
RomansayinniHistoricalUrbanMafiaSystemFantasiLGBTQ+aRnoldMM Romancegenre22- 印尼语genre26- IndonesiaNamegenre27-请勿使用印尼语genre28- IndonesiaName
Cerita Pendek
LangitMisteri dan teka-tekiKota modernSurvival akhir duniaFilm aksiFilm fiksi ilmiahFilm romantisKekerasan berdarahRomansaKehidupan SekolahMisteri/ThrillerFantasiReinkarnasiRealistisManusia SerigalaharapanmimpikebahagiaanPerdamaianPersahabatanCerdasBahagiaKekerasanLembutKuat红安Pembantaian berdarahPembunuhanPerang sejarahPetualangan fantasiFiksi ilmiahStasiun kereta
MenulisKeuntungan PenulisLomba
Genre Populer
RomansayinniHistoricalUrbanMafiaSystemFantasi
Hubungi kami
Tentang kamiHelp & SuggestionBisnis
Sumber
Unduh AplikasiKeuntungan PenulisKebijakan KontenKata kunciPencarian PopulerUlasan bukuFanFictionFAQFAQ-IDFAQ-FILFAQ-THFAQ-JAFAQ-ARFAQ-ESFAQ-KOFAQ-DEFAQ-FRFAQ-PTGoodNovel vs Competitors
Komunitas
Facebook Group
Ikuti kami
GoodNovel
Copyright ©‌ 2026 GoodNovel
Syarat Penggunaan|Kebijakan Privasi