Cargando
Inicio/ Todos /Nanny to Mommy (Indonesia)/Batch 2 : Begadang

Batch 2 : Begadang

Autor: Rose Marberry
"Fecha de publicación: " 2020-09-02 09:35:00

Suasana canggung lagi-lagi tercipta. Setelah, makan malam yang gagal, akhirnya Dennis dan Azyan pulang, karena Baby Danish terus menangis. 

Sekarang sudah pukul 10 malam, memang bukan waktu yang bagus, karena bayi yang masih merah, tak boleh kena angin malam. 

Azyan mengendong Baby Danish yang mendadak menangis, padahal bayi merah itu sempat tertidur saat dalam mobil. Dan sekarang, ketika menginjak udara rumah, auranya menjadi ribut. Dennis membuka pintu rumah berwarna putih gading tersebut, dan mempersilahkan Azyan masuk terlebih dahulu. 

Azyan sempat duduk di sofa, sambil menimang Danish yang terus menangis. Bahkan, sudah diberi ASI, bayi itu terus menangis. 

"Udah ya baby. Neny sedih, kalau baby nangis terus." Bisik Azyan lembut. Ia tak tega, melihat bayi merah itu terus menangis. Ia berharap Danish bisa berbicara, agar ia tahu, apa yang bayi itu keluhkan. 

Sudah diberi ASI berkali-kali, Danish tetap menolak. Bayi itu terus menangis, membuat Azyan ikut meneteskan air mata. Gadis itu merasa sedih, tak bisa mengerti bahasa bayi. 

"Sayang... sayang..." Azyan mendekap dengan sayang Danish, dan terus mengerakan badannya, berharap Danish diam. Tapi, tangisan bayi makin kencang. Azyan akhirnya hanya bisa meneteskan air mata, merasa tak berguna, tak bisa menenangkan Baby Danish. 

"Masuk angin tuh." Azyan berlonjak kaget, ketika melihat Dennis sudah berdiri di depannya. Lelaki ini, selalu saja membuat jangtungnya nyaris copot, karena suka hadir tiba-tiba. 

"I-iya." Jawab Azyan gugup. 

"Coba beri minyak angin." Azyan menerima minyak angin yang diberi Dennis. Lelaki itu terus memperhatikan dirinya, yang sedang mengosokan minyak angin di perut Danish. 

"Di kamar aja." Perintah Dennis. Akhirnya, Azyan memindahkan Danish dan meletakan di kamarnya.

Dengan hati-hati, Azyan membuka baju Danish dan mengosokan minyak angin di perutnya. Apa iya kembung. Azyan menepuk-nepuk kecil perut Baby Danish, tubuh bayi itu merah semua, karena terlalu banyak menangis. 

Dennis hanya memperhatikan lidah kecil Baby Danish yang melurus karena, menangis dengan sekuat tenaga. 

"Udah, cepat tutup nanti masuk angin lagi." Azyan dengan gugup mengancingkan lagi baju Danish. Ia selalu kikuk, jika Dennis berada di sekelilingnya dan merasa tak nyaman. 

Segala cara Azyan lakukan, mulai dari menimang, menyanyikan, dan mengerak-gerakan, beri ASI dan tak ada respon yang berarti dari Baby Danish. Dan Dennis hanya berdiri di sudut memperhatikan bagaimana Azyan yang kewalahan. Dennis hanya memajangkan dirinya disana, tanpa ada tindakan apa-apa. 

"Sini." Azyan yang sedang mengerakan tubuh Baby Azyan dengan gugup, memberi bayi merah itu pada Dennis. 

Dennis mendekap bayi merah itu dan melihat wajahnya. Sangat merah, dan lagi-lagi Dennis perhatikan lidahnya. Dennis menatap lama bayi itu, sambil mencium aroma bayi yang membuatnya ketagihan sekarang. 

Setelah merasai tangan Dennis, secara ajaib bocah itu diam. Dennis menghembuskan napas gusar, apa artinya bayi merah ini akan diam, jika terkena tangannya? 

Azyan membiarkan Dennis menenangkan Baby Danish. Perlahan, bayi itu tertidur. Mungkin juga kelelan, karena kebanyakan menangis. 

"T-tidur bang." Azyan menunjuk ke tengah ranjang. Menandkan agar Dennis memindahkan Baby Danish. Karena laki-laki utu berdiri lebih dari 30 menit, sambil menimang Baby Danish. 

Akhirnya, Dennis memindahkan Baby Danish dan membiarkan bayi itu tertidur di pelukannya. Merasa lelah, Dennis ikut tertidur. Azyan serba salah, ia tak mungkin satu ranjang bersama Dennis. Ia bolak-balik, harus tidur dimana. Ia tak mungkin, di kamar lelaki itu, nanti Dennis mengira ia akan, mencuri barang laki-laki itu. Tak ada pilihan lain,  Akhirnya, Azyan mengalah dan memilih tidur di sofa. Azyan memeluk dirinya karena kedinginan, ia yang sudah terbiasa memeluk Baby Danish, merasa kehilangan, karena kehangatan dan aroma bayi itu telah diambil oleh Dennis. Azyan juga mengantuk dan capek sejujurnya, ia tak pernah berpengelaman mengasuh bayi, dan sekarang mengemban amanah yang sangat besar. 

Azyan sempat melihat Dennis yang tertidur dalam damai, seperti potret ayah dan anak, minus ibu. Tanpa sadar, Azyan menyingungkan senyum. 

Azyan menutup intu kamar, dan it tertidur di sofa. Sambil berjaga-jaga, jika Baby Danish terbangun di tengah malam, minta makan, atau buang air. 

___________________________________

Mata Azyan begitu berat. Ia sampai bermimpi, sedang pergi ke pasar, membeli balon, dengan keadaan begitu ramai. 

"Zyan.." 

"Zyan.." 

"Zyan.." 

Azyan merasakan ada yang memanggil namanya di tengah keramaian pasar, tapi Azyan tak bisa merasakan itu siapa. 

"Zyan!" Kali ini lebih keras. Azyan langsung terbangun. Gadis merasakan, tangan Dennis masih berada di pipinya. Dengan mata yang berat, Azyan melihat Dennis yang berjongkok di depannya. 

"Jangan tidur di sofa." Azyan masih diam. Kesadarannya belum kembali. Kepala gadis itu terasa berdenyut. 

"Nih, makan dulu. Kamu harus banyak makan, nanti nggak ada makanan buat Danish." Dennis memberikan ayam goreng sekotak lengkap dengan nasi dan minuman. 

"A-bang makan." Ujar Azyan gugup.

"Ya, saya juga lapar." Dennis ke belakang mencuci tangannya. Lelako itu tersadar, sekitar jam 11. Karena perutnya melilit minta isi. Akhirnya, ia keluar dan membeli ayam goreng 24 jam, sekalian nasi dan airnya. 

Setelah Dennis mencuci tangan, Azyan bergilir mencuci tangannya di wastafel. 

Dennis mengelarkan nasi, ia mengumpulkan dua nasi jadi satu, dan menumpuk beberapa potong ayam, dan sambal. Padahal Dennis akan melarang Azyan tak boleh makan sambal, kasian Danish harus sakit perut nanti. Sebagai orang pintar, harusnya Dennis tak menelan mentah-mentah mitos tersebut. Tapi, Dennis tak ingin, ada apa-apa yang terjadi pada Baby Danish. Azyan belum terlalu telaten mengurus anak. 

"I-ini makan berdua bang?" Dennis mengalihkan pandangannya pada Azyan. 

"Makan Zyan." Perintah Dennis, tanpa menjawab pertanyaan gadis itu. 

Akhirnya, Azyan duduk di hadapan Dennis, duduk bersila dihalangi oleh meja, dan makan sepiring berdua. Sebenarnya Azyan merasa kurang nyaman, tapi ia melihat Dennis begitu santai, akhirnya ia ikut menikmati makanan tersebut. 

"Jangan colek-colek sambal." Cegat Dennis, ketika ingin mengambil sedikit sambal pada potongan ayam yang akan masuk ke mulut. 

"T-tapi." 

"Jangan bantah Zyan. Saya nggak mau, Danish sakit perut." Akhirnya dengan muka merah, Azyan memasukan nasi dan ayam dalam mulutnya, walau rasanya kurang nikmat karena tak ada sambal. 

Keduanya makan dalam diam, bahkan Dennis makan begitu lahap, begitupun Azyan. 

"Kamu ngantuk nggak, besok ke kampus?" Azyan dengan malu mengeleng. Dennis terus melanjutkan menggigit tulang ayam, dan menyingkirkan tulang-tulang. 

Ketika Dennis lengah, Azyan mencuri sambal sedikit-sedikit. 

"Saya lihat Zyan." Akhirnya Azyan dan Dennis tertawa bersama. Dennis yang terlalu overproctive, dan Azyan yang kepala batu. 

"Awas ya, kalau sakit perut." Keduanya tersenyum lugas tanpa beban. Seperti suami istri. 

Menyadari, keduanya terlewat akrab, bahkan bisa tertawa bersama, merupakan suatu kemajuan pesat. 

"Ehem." Dennis membersihkan tenggorokannya. Ia sudah lama tak pernah tertawa, namun karena hal sepeleh seperti itu saja ia bisa tertawa. Azyan hanya makan sambil senyum-senyum. 

Setelah selesai, keduanya duduk sebentar, dan melanjutkan tidur. 

"Tidur sama saya malam ini." Tukas Dennis. Azyan tiba-tiba membatu, apa maksudnya? 

"Tidur di kamar Danish Azyan. Itu kan, kamar kamu." Azyan berlalu dan membereskan makanan mereka, dan mencuci tangannya. 

"Jangan takut, nggak saya apa-apain." Azyan berlonjak kaget, tiba-tiba Dennis sudah berdiri di pintu, pembatas antara ruang makan dan dapur. 

"I-iya bang." Ujar Azyan gugup sambil mencuci tangannya. 

Azyan membereskan semuanya dan menunggu Dennis di sofa. Lelaki tinggi tegap itu mengelap tangannya dan melihat Azyan yang menunggu di sofa. 

"Ayo." Ajak Dennis. Dengan gugup Azyan mengikut langkah kaki Dennis di belakang. 

"Saya tidur nggak bisa lampu terang." Dennis sudah berbaring. Azyan masih berdiri di tepi ranjang. 

"B-baby nggak bisa tidur gelap." Azyan sudah terbiasa lampu terang, karena ia akan repot jika Baby Danish terjaga tengah malam, dan harus bolak-balik menghidupkan lampu. 

"Yaudah." Dennis mengambil bantal dan menutup seluruh wajahnya. 

Dengan perlahan, Azyan naik ke atas ranjang luas yang terasa dingin. Baby Danish yang tidur di tengah tak terpengaruh sama sekali, dengan dua orang dewasa di sampingnya. 

Azyan tak bisa menutup matanya. Begitupun Dennis. Lelaki itu bolak-balik juga tak bisa tidur. Azyan hanya memandang Baby Danish, yang menyedot-nyedot bibirnya. Dan tangan kecilnya yang memakai sarung terlihat begitu lemah dan mengemaskan disaat bersamaan. 

Azyan menowel-nowel lembut pipi Danish. Berharap bayi itu terbangun, karena ia tak bisa seranjang bersama Dennis. Jantung Azyan berpacu lebih kerasa. Bukan ia suudzon pada Dennis yang akan memperkosanya, Azyan tahu, Dennis bukan lelaki seperti itu, tapi ia hanya merasa tak tenang. 

Tiba-tiba mata Azyan menangkap iris Dennis yang menatapnya. Azyan jadi bertingkah gugup. 

"Saya nggak bisa tidur." Curhat Dennis. 

"I-iya." 

"Besok di kantor pasti ngantuk." Dennis menyugar rambutnya yang hitam legam. Azyan memperhatikan semua gerak-gerik lelaki itu. 

"Hah. Dia nggak sadar ya." Puji Dennish memperhatikan Baby Danish. Tanpa sadar, Azyan juga tersenyum memperhatikan bagaimana bayi merah itu tertidur. 

Tangan Dennis dan Azyan sama-sama terulur membeli pipi Baby Danish sebelah kiri dan kanan. 

"Sebenarnya, dia lucu bangat. Seperti tak ada dosa sama sekali. Kenapa orang tuanya membuangnya?" 

Azyan hanya tersenyum. Ia tak punya alasan pasti untuk pertanyaan Dennis. 

"Tidak apa-apa dengan begini, abang bisa secepatnya cari istri." Dennis hanya terdiam. Entah kenapa, ia tak ingin ada kata istri dihidupnya. Apa artinya hidup Dennis sudah nyaman dengan kehadiran Baby Danish dan Azyan? Entalah. Lelaki itu sendiri tak bisa menjawab isi hatinya. 

"Saya nggak pernah mikir nikah Zyan." Dennis menggaruk rambutnya. Cowok itu bangun dan duduk di ranjang. Azyan terus menopang kepalanya. 

"Kamu tahu kenapa?" Tanya Dennis. Azyan menggeleng. Memangnya siapa yang tahu, lelaki itu tak mau menikah? Bahkan, bundanya saja tak tahu pasti, alasan Dennis tak pernah memikirkan pasangan. 

"Argh... mungkin suatu saat kamu akan tahu." Azyan hanya diam. Itu masalah pribadi Dennis, ia tak berhak tahu hidup lelaki itu. Tugasnya sekarang, menjadi nanny dan merawat Baby Danish sepenuh hati. 

Dennis tiba-tiba terdiam. Ia tak pernah seterbuka ini pada orang lain, bahkan bundanya sendiri. Apa artinya, Dennis nyaman bersama Azyan? Entalah, lelaki itu tak dapat menjawabnya. 

"Semuanya terasa rumit. Dan tak seorangpun yang mengerti dan tahu hal ini." Lagi-lagi Azyan diam dan memandang Baby Danish, sesekali, cewek itu melirik punggung tegap Dennis. Dan membiarkan perasaan asing terus menganggu dirinya. 

"M-mungkin ada saatnya abang berbagi, biar tak menyimpannya sendirian." 

"Benar." Ujar Dennis membenarkan ucapan Azyan. Ia hanya perlu berbagi, pada oran yang bisa ia percaya dan membuatnya nyaman. Ia juga, tak mungkin terus dihantui oleh masa lalu. Keadaab yang seharusnya membuat ia hidup tenang, tanpa ada bayang-bayang masa lalu yang terus menganggu hidupnya. Tujuan utama Dennis sekarang adalah, membesarkan Baby Danish. Bahkan, sampai besar, Baby Danish harus tahu orang tua Danish, bukan bayi yang diadopsi dari panti asuhan. 

"Tidur?" Azyan mengeleng. Bahkan, matanya terasa segar sekarang. 

"Bahkan, jika Danish besar, dia akan tahu kamu ibunya." Perasaan bersalah dan sedih begelayut di dada Azyan. Demi apapun, gadis ini tak rela jika pada akhirnya ia harus berpisah dengan bayi megemaskan ini. Baby Danish berhak bahagia, dan ialah saksi pertumbuhan bayi ini sampai dewasa. Bahkan, Ayzan rela menjadi nanny Baby Azyan seumur hidup. Ia terlampui menyanyangi Baby Danish seperti anak sendiri, naluri keibuan muncul ketika melihat Baby Danish yang polos dan lemah. 

"S-saya akan tetap jadi Ibu Danish. Walau orang lain tahu, saya hanya pengasuh." Dennis mengangguk. Ia lega, akhirnya Azyan punya pemikiran yang sama dengannya. 

"Ya, Danish butuh kasih sayang dan perhatian." 

Azyan dan Dennis sama-sama terdiam. Tak menyangka, waktu begadang mereka dihabiskan dengan pilow talk semacam ini. Deeptalk penuh makna. Dan hanya, mereka yang tahu arti dari masing-masing perkataan tersebut. 

"Kamu nggak ngantuk?" 

"Nggak bang." Azyan menggigit bibirnya, ketika menyadari ia tak lagi gugup berinterkasi bersama Dennis. 

"Coba tutup mata." Azyan akhirnya menurut. Gadis menurunkan kepalanya di bantal bersampul kuning tersebut, dan menutup matanya. Tiba-tiba ia merasakan sebuh tangan besar menggengam tangannya jantung Azyan mau copot. Ia ingin berteriak minta tolong. Tapi tubuhnya seolah kaku, yang ia lakukan hanya merasakan tangan hangat itu menggengamnya. 

"Begini lebih baik?" Tanya Dennis. Azyan hanya diam. Ia semakin merasakan, ketika tangan besar itu mengelus-elus lembut tangannya. Bahkan, Azyan mengintip sedikit apa yang dilakukan lelaki itu. 

Azyan bisa melihat, Dennis yang memeriksa kuku-kuku jarinya. Bersyukur, ia sudah memotong kuku kemarin, jika tidak, ia yakin, lelaki itu akan menegurnya jorok. 

"Saya harap, kamu bisa jadi Ibu Danish selamanya." 

Cup! 

Dennis mengecup tangan Azyan. Gadis itu langsung melotot. Dan berharap, Baby Danish tak bangun dan melihat adegan tak senonoh di depannya. 

"Goodnight Mommy Danish." Ucapan itu mengalun merdu di telinga Azyan. Membuat kerja jantung gadis itu tak sehat, bahkan mau meloncat dari sarangnya. Perlakuan Dennis yang tiba-tiba dan tak diduga, membuat Azyan selalu was-was. 

Ucapan goodnight bukannya membuat Azyan tertidur, nyatanya gadis itu tak bisa tidur sampai pagi, karena perlukan Dennis yang tiba-tiba. 

Dan Azyan menantikan perlakukan ajaib Dennis yang lain. Sangat! 

________________________________

We come to the chapter 2. Hope you guys, enjoy the story. Don't forget to rate this story with 5 stars. 

See you :*

Want to know what happens next?
Continuar Leyendo
Capítulo anterior
Capítulo siguiente

Compartir el libro a

  • Facebook
  • Twitter
  • Whatsapp
  • Reddit
  • Copy Link

Último capítulo

Nanny to Mommy (Indonesia)   FB - Mereka Pergi

Kecewa.Azyan kecewa pada Ilona yang melakukan semuanya tanpa menunggu persetujuan dari dirinya. Bukankah ia belum menjawab ide yang Ilona rencanakan? Walau Azyan memang tak punya jawaban, seperti maju salah, mundur salah. Lebih baik ia kabur dan menghindar agar tak lagi memikirkan semua hal ini.Azyan memperhatikan anak semata wayangnya yang sibuk memasukan jari-jari kaki dalam mulut dengan badan gempal karena gemuk dan terlihat makin mengemaskan. Danish adalah bayi paling mengemaskan, tapi perjuangan untuk mendapatkan bayi ini begitu susah.Azyan berbaring kembali dan mengelus-elus kepala Danish sayang. Harusnya ia menjumpai Ilona dan menyatakan keberatannya, bukan sepihak seperti ini, karena masa depannya dipertaruhkan disini, memangnya Ilona mau Danish tak punya ayah karena Dennis akhirnya jatuh cinta pada Alena? Oh sialan! Memikirkan ini Azyan tak sanggup.Azyan mengangkat Danish dan meletakan bayi it

Nanny to Mommy (Indonesia)   FB 14 - Plan B dan Kecewanya Azyan

"Saya seperti kau menyerah. Ini tidak berjalan dengan baik. Hidup bersama, ada anak, tapi abang memang nggak ingat apa-apa."Azyan tersedu sambil menggeleng, mengadu pada Ilona, sambil mengendong Danish. Bayi yang sudah berumur empat bulan. Azyan mengira, setelah 4 bulan Dennis akan sadar dari amnesia dan sadar siapa dirinya. Nyatanya semua terasa asing di mata Dennis. Laki-laki itu tetap menganggap Azyan seorang pengasuh bukan ibu dari anaknya."Bunda punya ide yang lebih bahaya lagi. Tapi nggak tahu, Bella setuju atau nggak?" kata Ilona sambil memegang tangan mungil Danish yang berusaha memasukan tangannya dalam mulut bayi itu. Azyan langsung memandang nenek Danish. Wanita yang sangat berperan besar dalam kelangsungan hidupnya. Tapi anaknya yang sakit, tak ingat apa-apa tentang dirinya, membuat Azyan ingin menyerah dan membawa Danish pergi sejauh mungkin agar Dennis tak menemukan mereka kembali. Dan laki-laki itu tahu, arti kehilangan.

Nanny to Mommy (Indonesia)   FB 13 - Perjuangan Azyan

Azyan bolak-balik, sambil memegang perutnya. Kontraksi. Peluh mulai membasahi wajahnya, walau ia masih bisa menahan semuanya dan sedikit beraktivitas. "Biasanya disuruh jangan makan. Puasa dulu, tapi sekarang masih lama, Bella makan aja dulu." Azyan hanya meringis memegang perutnya. Penantiannya telah tiba, tapi banyak banyak hal yang ia pikirkan. Terutama, bagaimana nasib anaknya setelah ini, karena Dennis sama sekali tak mengingatnya. Bahkan, jadi nanny juga, Azyan tak bisa menjamin ini akan berhasil. Apa ia bisa berpura-pura di depan semua orang, jika ia adalah pengasuh untuk anaknya sendiri? "Udah jangan banyak mikir yang aneh-aneh. Fokus ke kandungan, setelah keluar, semua kesakitan ini hilangnya dengan sendirinya. Ini nggak bohong, dan ini disebut keajaiban." Azyan duduk di atas atas kursi, memandang kosong ke arah salad buah di atas meja. Sakitnya bisa ia tahan, karena belum terlalu intens. Walau saatnya datang

Nanny to Mommy (Indonesia)   FB 12 - Nanny To Mommy

"Akhirnya, libur juga kita." Ilene memeluk lengan Azyan yang hanya diam.Perutnya makin membesar, sudah 7 bulan atau 32 minggu. Membuat Azyan lebih cepat merasa lelah dan juga wajahnya begitu pucat. Ia mengalami anemia."Habis ini, Bella akan fokus pada kehamilan dan juga kelahirannya." Azyan tak perlu menanggapi, karena memang ia masih marah pada dua kembar tersebut. Ia belum bisa berdamai, beruntung ia melewati masa-masa sulit."Wah, kebetulan aku lagi dapat duit hehehe. Tenang, bukan uang haram. Aku mau traktir." ujar Darris tiba-tiba sudah bergabung sambil nyegir.Ilene langsung melotot pada adiknya. "Bukan dia. Tapi abang." rasanya seperti pertahana Azyan runtuh. Tapi ia berpura-pura tegar. Jantung Azyan berdetak lebih cepat, rasanya mau copot. Gadis itu menelan ludahnya gugup, matanya sudah memanas. Ia merindukan bau itu, baju Dennis yang beberapa bulan lalu, sudah hilang baunya karena ia gosokan di

Nanny to Mommy (Indonesia)   FB 11 - Kepingan Puzzle Yang Hilang

"Bunda mohon, tolong pikirkan ini. Bagaimana kamu mau merawat anakmu, jika kamu sendirian. Gimana kalau malam-malam perutnya mules." Azyan hanya menunduk, beribu cara Ilona membujuknya, beribu cara juga ia menghindar."Kehamilan Bella sudah lima bulan, sebentar lagi banyak drama yang keram, tak bisa gerak leluasa. Pokoknya hamil itu banyak drama, dan memang harus ada yang mendampingi tak bisa hidup sendiri kayak gini."Ilona mengantarkan Azyan mencari kontrakan terbaru. Azyan benar-benar menghilang dari kehidupan mereka. Harusnya, Azyan menjadi tanggung jawab mereka, namun gadis itu keras kepala, ditambah Dennis punya penyakit. Ah, semuanya terasa serba salah."Ya, Bella berhak marah. Tapi, pikirkan kondisi anaknya." Azyan hanya mengangguk.Dan Ilona kewalahan, bagaimana mengatur semua ini. Azyan sudah sakit hati dan kecewa, Dennis juga butuh penanganan. Dan dua anak kembarnya sudah mendapatkan hukuman mer

Nanny to Mommy (Indonesia)   FB 10 - Hukuman untuk Si Kembar

"Teman kamu baik bangat Ai. Dia mau bantuin kamu merawat Abang."Semua orang terdiam, tidak dengan hati Azyan yang retak seribu. Pegangan Azyan pada kursi roda itu melemah. Gadis itu urung mendorong kursi roda Dennis. Hari ini, Dennis keluar dari rumah sakit, setelah dua Minggu dirawat walau ia belum bisa berjalan normal, jadi Dennis hanya bisa beraktivitas dengan menggunakan kursi roda."Ayo." ajak Ilene pada Azyan yang hanya diam. Kata sederhana itu, meluluhkan pertahanan dan kesabaran Azyan. Rasanya Azyan ingin berlari sejauh mungkin, dan tak seorang pun dapat menemukannya dan ia bebas melakukan segala perasaannya, tanpa ia menutupi semuanya."Abang boleh ajak kawan ke rumah?" tanya Ilene pada abanganya. Dennis hanya mengangguk. Tapi, Azyan hanya berjalan dengan lemah mengikuti dua bersaudara itu dari belakang. Setelah ini, ia hanya perlu menghilang dari kehidupan lelaki ini dan amnesia seperti Dennis, dan melupakan apa ya

Nanny to Mommy (Indonesia)   FB 5 - Dendam Darris

Sedang ingin menyendiri.Azyan tak ingin diganggu siapapun, bahkan Dennis. Gadis itu ingin merenungi semua ini, sampai ia benar-benar memutuskan dan membuatnya takkan menyesal di kemudia hari. Waktu tak dapat diputar benar? Jadi, Azyan tak ingin menyesal karena ketolola

Nanny to Mommy (Indonesia)   FB 4 - Little Dennis

"Mungkin kalian butuh waktu untuk membicarakan ini. Bunda percaya, Bella sudah dewasa. Kecewa hanya sekali diperbolehkan, selanjutnya jangan terus tergerus dengan rasa kecewa. Rasa kecewa bisa membawa dendam yang akan merugikan diri sendiri."Ilona menepuk belakang Azya

Nanny to Mommy (Indonesia)   FB 3 - Usaha Dennis dan Rencananya

"Oy ..."Ilene mengetuk pintu kamar Irish, setelah meminta izin Ilene diperbolehkan untuk menjumpai Azyan. Walau sedari tadi tak ada sahutan."Anybody home? I'm home now, please open the door." Ilene mengetuk lagi, tapi tak ada respon yang berarti dari

Nanny to Mommy (Indonesia)   FB 2 - Penyesalan Dennis

Hancur, berantakan, tak bersisa. Disaat, masa depan depan yang telah ia rancang hilang hanya dalam satu malam. Satu malam, menggerogoti habis seluruh sendi-sendi kehidupan Azyan.Azyan hanya terduduk di sisi ranjang, sambil menangis dan memeluk lututnya. Ia tak pasti, s

Más capítulos
Descargar el libro
GoodNovel

Descarga el libro gratis

Descargar
Buscar lo que desee
Biblioteca
Explorar
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystemFantasyLGBTQ+ArnoldMM Romancegenre22- Englishgenre26- EnglishEnglishgenre27-Englishgenre28-英语
Cuentos cortos
SkyMystery and suspenseModern urbanDoomsday survivalAction movieScience fiction movieRomantic movieGory violenceRomanceCampusMystery/ThrillerImaginationRebirthEmotional RealismWerewolfhopedreamhappinessPeaceFriendshipSmartHappyViolentGentlePowerfulGory massacreMurderHistorical warFantasy adventureScience fictionTrain station
CrearBeneficios para escritorConcurso
Géneros populares
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystem
Contáctanos
Acerca de nosotrosAyuda y sugerenciasNegocios
Recursos
Descargar appsBeneficios para escritorPolítica de contenidoPalabras claveBúsquedas PopularesReseña de libroFicción de fansFAQFAQ-IDFAQ-FILFAQ-THFAQ-JAFAQ-ARFAQ-ESFAQ-KOFAQ-DEFAQ-FRFAQ-PTGoodNovel vs Competitors
Comunidad
Facebook Group
Síganos
GoodNovel
Copyright ©‌ 2026 GoodNovel
Condiciones de uso|Privacidad