loading
Home/ All /My Mine (Indonesia)/Chapter 4 - Bar

Chapter 4 - Bar

Author: Sixthly
"publish date: " 2020-10-29 11:10:10

Nadhara menghela napas panjang berkali-kali, perutnya berbunyi karena dia belum sempat makan sepulang dari rumah sakit. Althaf mengacaukan segalanya, dia benar-benar tidak tahu jika pria itu berada di rumah sakit tempatnya mengunjungi Ferdi.

Nadhara kembali menghela napas, dia akhirnya beranjak dari tempat tidur. Tanpa mengganti pakaian, dia berjalan pelan ke arah dapur lalu menyiapkan bahan masakan untuk membuat makan siang.

Nadhara hanya membuat mie instan yang dia makan dengan nasi, nafsu makannya hilang ketika betemu dengan Althaf. Dia merasa hari ini merupakan hari terburuknya, dia tidak percaya bisa betemu dengan pria itu lagi.

Setelah makan, dia turun ke bawah untuk membantu pegawainya bekerja. Walaupun suasana hatinya sedang kacau, Nadhara tetap ingin bekerja dan tidak ingin membebani mereka.

“Hari ini kalian bisa menutup toko?” tanya Nadhara ketika matahari terbenam.

Mika menatap Daffa, mereka berdua bertatapan sejenak lalu mengangguk. “Bisa, memangnya kau mau kemana lagi? Ke rumah sakit?” tanya Mika.

Nadhara menggeleng, “Aku hanya ingin keluar.”

Mika mengangguk pelan, “Oke, tapi pastikan kau tidak pulang larut atau bermalam bersama pria.”

Nadhara tersenyum kecil lalu membentuk huruf ‘O’ dengan jari telunjuk dan ibu jarinya. Setelah itu, Nadhara naik kembali ke rumahnya, dia membuka lemari lalu memilih dress berwarna merah yang sedikit terbuka. Hari ini, dia memutuskan untuk pergi bersenang-senang dan melepas penat di kepalanya.

Kedatangan Althaf membuatnya seperti menanggung beban yang sangat berat, padahal sudah sejak beraa tahun dia merasa bebas dan tidak memiliki apapun lagi untuk di pikirkan. Pastinya, sejak dia berpisah dengan kekasihnya dua tahun yang lalu.

…

Berbagai cerita sudah dilalui oleh Nadhara, dia pernah menjalin hubungan serius dengan seorang. Pria yang awalnya sangat bangga memiliki kekasih sepertinya dan berakhir dengan perpisahan karena keluarganya tidak menyetujui hubungan mereka. Setelah itu, Nadhara tidak ingin lagi berkomitmen dengan seorang pria pun.

Nadhara sampai di bar tepat setengah delapan malam, tempat itu terlihat cukup ramai dari tempat parkirnya yang penuh. Kali ini dia membawa mobil pribadinya setelah tadi siang tidak menggunakan kendaraan itu karena tidak ingin terjebak macet berjam-jam.

Nadhara menyapukan lipstick merah di bibirnya dan memperbaiki penampilannya sebelum masuk. Tujuannya ke sini hanya untuk melepaskan beban di kepala karena pikirannya sangat kusut, dia akan pulang sebelum mabuk untuk keselamatan dirinya.

Dia mengambil tempat duduk tepat di bar untuk segera dilayani oleh bartender. Nadhara memesan tequila sebagai permulaan, walaupun dia yakin bahwa hanya minuman jenis itu yang bisa dia konsumsi.

Nadhara merasa kepalanya lebih ringan, entah sudah gelas keberapa yang dia minum mala mini tetapi itu membuatnya senang karena dia tidak lagi memikirkan pria itu. Nadhara tanpa sadar terus memesan minuman alkohol dengan kadar yang lebih tinggi.

“This is your last, honey! Your hangover now!” ucap seorang bartender kepada Nadhara.

“Oh, shut up! I want more!” ucap Nadhara tanpa sadar.

Dia meraih gelas itu lalu menenggak minumannya sampai habis, Nadhara terus ngotot dan berdebat dengan bartender ketika dia tidak di berikan minuman. Karena tidak ingin membuat keributan, akhirnya bartender itu kembali memberikan Nadhara gelas whisky berukuran kecil namun sangat memabukkan.

“Oh, this right. I want fly!” gumam Nadhara mulai meracau.

Mungkin bagi Nadhara bertemu dengan Althaf adalah awal dari kekacauan hidupnya. Sampai dia pergi ke bar hanya untuk melepas penat di kepalanya, padahal dia baru saja bertemu, mereka bahkan tidak berbicara selama sepuluh menit. Nadhara perlahan meneteskan air matanya tanpa sebab, dadanya tiba-tiba sesak ketika kembali memikirkan pria itu.

Nadhara seperti tidak memiliki pilihan lain dan memilih untuk menyakiti dirinya sendiri. Dia bahkan kembali meminum alkohol, padahal dia sudah lama berhenti meminum itu dan memilih hidup sehat. Namun, semua pertahanannya runtuh ketika kembali bertemu dengan Althaf. Pria pertama yang menjadi kekasihnya dan pria yang dia berikan hal yang paling penting dalam hidupnya.

Nadhara memberikan semua miliknya yang berharga kepada pria itu untuk ditinggalkan. Dia masih ingat bagaimana pria itu tiba-tiba menghilang ketika dia merasa sangat terpuruk, Nadhara merasa ditinggalkan oleh semua orang termasuk orang yang sangat dia sayangi dan pria itu menghilang sampai hari ini ketika mereka tidak sengaja bertemu.

“Dasar berengsek!” gumam Nadhara pelan.

Makiannya itu tidak terlalu besar namun terdengar oleh seorang pria yang duduk tidak jauh dari Nadhara. Beberapa pria mulai mendekati Nadhara ketika melihat gadis itu sudah teler, bagi mereka Nadhara adalah kesempatan emas. Siapa pula yang ingin menyia-nyiakan kesempatan bersama gadis itu. Nadhara merupakan wujud asli dari fantasi seroang pria.

“Menjauh dariku!” ucap Nadhara ketika merasakan seseorang merangkul dan berbisik di telinganya.

Kesadarannya masih tersisa untuk menolak ajakan mereka, dia tidak ingin menjadi salah satu gadis pemuas nafsu mereka di tempat tidur lalu ditinggal tanpa pertanggung jawaban dengan alasan mabuk.

Seorang pria yang sejak tadi memperhatikan Nadhara beranjak dari tempat duduknya dan mulai mendekati Nadhara. Pria itu mengetatkan rahang ketika melihat Nadhara sudah benar-benar teler dan hanya bisa meracau tidak jelas.

Nadhara beranjak dari tempat duduknya dan mencoba untuk bediri sebelum tubuhnya limbung. Beruntung pria itu berhasil menangkap tubuh Nadhara sebelum terjatuh di atas lantai. Nadhara menatap pria itu dengna pandangan kabur dan berbayang, “Kamu siapa? Hm?”

Pria itu hanya menarik sudut bibirnya untuk tersenyum tipis lalu memutuskan untuk mengabaikan pertahnyaan Nadhara. Nadhara tertawa kecil lalu kembali meracau tidak jelas. Pria itu segera membawa Nadhara keluar dari bar dengan langkah pelan, mengabaikan panggilan dari rekan-rekannya. Pria itu menuntun Nadhara yang berjalan oleng ke parkiran.

Pria itu membuka pintu mobilnya lalu memasukkan tubuh Nadhara ke dalamnya lalu menutup pintu dan berlari kecil mengitari mobilnya sebelum ikut masuk ke dalam.

“Eh, ini mobil siapa?” tanya Nadhara setengah sadar ketika pria itu memasang sabuk pengaman di tubuhnya.

Untuk kedua kalinya, pria itu kembali tidak menjawab pertanyaan Nadhara. Memilih untuk memasang sabuk pengamannya sendiri lalu mengemudikan mobil pergi dari bar itu.

Nadhara masih meracau sepanjang jalan, gadis itu terlihat sangat mabuk dan hanya berkata tidak jelas. Namun, tiap katanya di dengar baik-baik oleh pria itu. Kadang-kadang dia meringis ketika mendengar ucapan Nadhara yang terdengar sangat benci dan marah.

Pria itu sesekali menoleh untuk menatap wajah Nadhara, bibirnya tersenyum menatap gadis itu. “Hei, kamu single?” tanya Nadhara yang tiba-tiba menoleh menatap pria itu.

Pria itu menoleh sekilas lalu kembali menatap jalan raya, “Menurutmu?”

Nadhara menarik dasi pria itu lalu menciumnya tepat di bibir, “I don’t know, but I’m taken.” ucapnya setelah ciuman mereka terlepas lalu kembali meracau dan kembali duduk rapih di tempat duduknya.

Pria itu menatap Nadhara terpana, beruntung gadis itu menciumnya saat mereka berhenti di lampu merah.

“Are you married?” tanya pria itu.

Nadhara menggeleng, “No, but I have boyfriend. He’s very possessive, but he leave me.”

Setelah mengatakan itu, Nadhara tertawa sendiri. Tawanya terdengar sangat menyedihkan di telinga pria itu.

…

Nadhara berusaha membuka matanya, dia merasa kepalanya sangat pening luar biasa. Dia menggerakkan matanya gelisah karena wajahnya terkena sinar matahari pagi, sangat silau tetapi dia tidak bisa menggerakkan badan karena seluruh badannya terasa pegal.

Tentu saja Nadhara mengalami hangover, bahkan untuk membuka mata saja dia tidak sanggup, dia seperti merasa matanya di pasangi lem. Setelah berhasil membuka mata, Nadhara melihat ruangan tempatnya berada dan dia langsung merasa asing berada di tempat ini.

Nadhara mengerutkan kening, dia tidak pernah merasa semabuk ini sebelumnya. Dia juga tidak pernah ingin sampai di tempat asing seperti yang ada di film-film. Beruntung tidak ada seseorang berbaring di dekatnya, jika ada Nadhara tidak tahu harus berbuat apa.

Dengan cepat, Nadhara menguasai diri dan berusaha untuk beranjak dari temapt tidur. Ruangan itu jelas bukan kamarnya karena sangat besar dan cat ruangannya berwarna cokelat muda. Belum lagi, wangi maskulin yang sangat kental tercium ketika dia membuka mata.

Nadhara membulatkan matanya dalam sekejap, maskulin? Berarti dia berada di sebuah kamar seseorang. Nadhara menghela napas frustasi, bagaimana bisa dia berakhir di sini.

Nadhara menoleh ke kanan dan ke kiri, hingga dia melihat seseorang pria sedang duduk santai di balkon kamar itu. Nadhara tidak bisa bisa melihat jelas pria itu karena posisi yang membelakanginya.

“Sudah bangun?” tanya pria tanpa melihat ke arahnya.

Nadhara berusaha bangkit dari tempat tidur dan merasa kepalanya sangat pening sampai dia merasa akan muntah. Tanpa sengaja dia menghela napas berat dan mendesah frustasi, kenapa dia bisa tidak mengontrol dirinya semalam.

“Aku di mana?” tanya Nadhara sembari memegang kepalanya dan beranjak duduk di pinggir tempat tidur.

“Di rumahku.” Jawab pria itu masih berada tetap di posisinya.

Nadhara langsung memejamkan mata lalu mengutuk dirinya di dalam hati. Dia menundukkan pandangannya dan melebarkan tatapannya ketika mengetahui dresnya sudah berganti dengan baju kaos dan celana selutut.

“Di mana pakaianku semalam?” tanya Nadhara lagi.

“Di keranjang pakaian kotor, tadi malam kau memuntahkan sisa makananmu di sana. Jangan khawatir, kau sendiri yang memakai pakaian itu semalam. Jadi, aku sama sekali tidak menyentuhmu.” Ucap pria itu.

Akhirnya Nadhara bisa menghela napas lega, “Thanks.”

“For what?” tanya pria itu lalu beranjak berdiri dari tempat duduknya dan melangkah ke arah Nadhara.

Nadhara refleks menutup mulutnya dengan satu tangan dan menatap pria itu dengan tatapan terkejut. Dia terpaku bahkan samai menahan napasnya selama beberapa detik, Nadhara seperti tidak mempercayai apa yang sekarang terekam oleh matanya itu. Terkatup dan terbuka seolah kehilangan suara.

“Apa kabar, Nad?”

“Al…Althaf?”

Althaf mengangguk, “Iya, ini aku.”

Sekarang, Nadhara seperti ingin menghilang dari padnangan pria itu. Dia menyakiti dirinya dengan meminum alkohol untuk menghilangkan pria itu dari kepalanya tetapi malah berakhir bertemu pria itu di pagi hari.

“Aku mau pulang.” ucap Nadhara langsung berdiri dan mengakibatkan keseimbangannya goyah.

Althaf berdecak lalu menangkap tubuh gadis itu yang terhuyung pelan ke arahnya. “Kamu nggak bisa pulang dengan keadaan begini. Sarapan dulu!”

“Nggak mau!” ucap Nadhara menolak tegas.

Althaf memegang kedua bahu Nadhara, “Aku tahu kamu mau pulang. Oke, tapi bagaimana kamu bisa pulang kalau berdiri saja tidak bisa!”

...

Jakarta, Maret 2008

Nadhara sedang melepas sepatunya sebelum masuk ke rumah Sarah, sahabat baiknya di sekolah. Hari ini, Sarah mengajaknya untuk mengerjakan tugas bersama di rumahnya. Mereka lalu naik ke kamar Sarah karena gadis itu berkata jika kedua orang tuanya sedang pergi keluar kota.

“Nad, tadi kamu bisa ngerjain soal UTS kimia?” tanya Sarah.

Nadhara menggeleng, “Susah, tapi aku isi aja jawabannya dari pada kosong.”

“Kayaknya salah soal deh, yang masuk ulangan tadi itu pelajaran selanjutnya. Besok aku lapor deh, siapa tau bisa ulangan ulang.” Ucap Sarah dengan ekspresi cemberut.

Nadhara tertawa kecil, “Bisa tuh, tadi anak-anak juga ngeluh kenapa soalnya kayak gitu.”

Sarah mengangguk yakin, kali ini pasti semua teman sekelas mereka mendukung rencananya walaupun ujian mereka harus di ulang. Nadhara hanya mendunkung rencana sahabatnya karena dia juga ingin memperbaiki nilainya, hasil UTSnya bisa anjlok.

“Oh iya, tau Martin nggak? Akhir-akhir ini dia selalu nanyain kamu. Kamu pacaran sama dia?” tanya Sarah penasaran.

Nadhara tertawa kencang, “Nggak lah, bicara aja nggak pernah. Tapi, memang sering di tanyain juga sama anak kelas sebelah. Ternyata kamu juga sudah di tanya sama dia?”

Sarah ikut tertawa, “Iya, tadi nggak sengaja ketemu atau mungkin dia yang nungguin aku pas keluar dari perpus.” Ucap Sarah.

Nadhara hanya menggelengkan kepalanya pelan. Gadis itu memang memiliki pesona sendiri, kulitnya sangat putih alami yang dia dapat dari ibunya, rambutnya panjang terurai indah, belum lagi wajahnya cantik dengan lesum pipi di kedua sisinya. Hobinya yang sudah berolahraga membuat tubuh gadis itu memiliki proporsi yang sangat bagus.

Itulah kenapa Nadhara menjadi bintang di sekolah dan membuat anak laki-laki mendekatinya tetapi sampai sekarang dia masih belum menerima siapapun padahal sudah banyak yang menyatakan perasaan kepadanya. Entahlah, Nadhara merasa mereka bukan seleranya.

“Sar, haus nih.” Ucap Nadhara pelan sembari memegang tenggorokannya.

Sarah refleks memukul keningnya, “Maaf, lupa kasih kamu minum. Ambil sendiri deh di bawah, ya? Aku kebelet nih!”

“Yah, sana gih buruan. Mau aku ambilin apa?” tanya Nadhara setelah berhenti tepat di depan pintu.

Sarah tampak berpikir, “Minuman dingin sama cemilan, kalau masih ada kue cokelat di kulkas ambil aja.” Jawab Sarah lalu masuk ke kamar mandi.

Sebenarnya, Nadhara agak sangsi untuk mengambil cemilan sendiri di rumah Sarah. Padahal dia sudah berkenalan dengan orangtua sahabatnya itu, mereka memang sangat sibuk dan sering bepergian. Nadhara dengan cepat sampai di bawah dan membuka kulkas.

Rumah Sarah sangat besar, itu karena kedua Papanya merupakan seorang pengusaha dan ibunya yang seorang pengacara. Sementara, kakak Sarah sedang Rumah itu sangat sepi, mungkin ‘bibi’ yang bekerja di rumah Sarah sedang keluar. Dia mengambil semua pesanan Sarah dan menaruhnya di meja, setelah itu Nadhara menutup pintu kulkas.

Dia dikejutkan dengan kehadiran sosok laki-laki yang berdiri tepat di samping kulkas. Laki-laki itu memiliki tubuh yang sangat proporsional, bahunya sangat bidang, sangat tinggi dan memiliki wajah yang luar biasa tampan. Dia seperti melihat laki-laki yang berada di majalah olahraga.

“Eh, maaf kak. Lagi ngambil minum sama cemilan.” Ucap Nadhara kepada laki-laki di depannya ini.

Sekilas, dia tahu jika laki-laki itu merupakan kakak Sarah karena dia berulang kali melihat foto mereka berdua di kamar sahabatnya itu. Tapi, dia melupakan siapa nama kakak Sarah itu.

“Iya, nggak apa-apa. Mau dibantuin buat bawa ke atas?” tanya laki-laki itu.

Nadhara yang sedang mengambil cemilan itu menoleh, “Eh, nggak usah kak. Bisa bawa sendiri kok.” Jawabnya lalu melangkah dari dapur.

Ketika berjalan beberapa langkah, cemilan yang dia pegang langsung terjatuh karena tangannya tidak cukup untuk memegang semua benda yang dia bawa. Nadhara langsung memejamkan matanya karena malu.

“Yuk, saya ambil sebagian ya?” ucap laki-laki itu sembari mengambil cemilan yang jatuh dan beberapa benda lain di tangan Nadhara.

Mereka berjalan bersama ke lantai atas, “Lagi ngerjain tugas atau lagi main aja?”

“Mau kerjain tugas sekalian main kak.” Jawab Nadhara lalu tersenyum kecil.

Laki-laki itu terkekeh, “Tugas apa?”

“Biologi, kak.”

“Mau dibantuin?” tanya laki-laki itu lagi.

Nadhara refleks menggeleng, “Gampang kok, kak. Bisa di kerjain berdua sama Sarah.”

Laki-laki itu mengangguk pelan sembari tersenyum, mereka sekarang sudah sampai di kamar Sarah. Nadhara meletakkan cemilan yang dipegangnya di atas karpet lalu mengambil satu persatu cemilan dari tangan laki-laki itu.

Setelah itu, Nadhara kembali berdiri.

“Kenalin, saya Althaf. Kakak Sarah.” Ucap laki-laki itu.

Akhirnya, Nadhara bisa mengingat nama kakak sahabatnya itu. Dia menyambut uluran tangan Althaf sembari tersenyum, “Nadhara."

Want to know what happens next?
Continue Reading
Previous Chapter
Next Chapter

Share the book to

  • Facebook
  • Twitter
  • Whatsapp
  • Reddit
  • Copy Link

Latest chapter

My Mine (Indonesia)   Chapter 12 - Ferdi

Nadhara terkejut dengan sausana restoran itu. Dia menatap Ferdi tetapi pria itu hanya menatapnya dengan penuh senyum sembari menggiringnya ke dalam restoran. Ferdi memang sudah memesan tempat di restoran romantis yang terletak di Bali itu. Hari ini, dia ingin menyatakan perasaannya kepada Nadhara. Perasaan yang sudah dia pendam selama bertahun-tahun. Dia pikir, jika tidak memberitahu Nadhara tentang apa yang di rasakan mungkin suatu saat nanti Ferdi akan menyesal.

My Mine (Indonesia)   Chapter 11 - Dinner

…Juni 2010Nadhara sedang berjalan di Lombok Internasional Airport, dia menyeret koper dan berbicara dengan Sarah. Nadhara sedang ikut dalam liburan keluarga sahabatnya itu, kedekatan

My Mine (Indonesia)   Chapter 10 - Bestfriend?

Nadhara menarik kopernya keluar dari bandara, mereka akan dijemput oleh sopir resort. Kebetulan dia satu mobil dengan Ferdi karena rekannya yang lain memutuskan untuk berjalan-jalan. Hanya mereka berdua yang ingin ke resort untuk beristirahat terlebih dahulu.“Nad? Mau jalan-jalan nanti malam?” tanya Ferdi.

My Mine (Indonesia)   Chapter 9 - French Kiss

Hari ini, toko roti Rosemarry, milik Nadhara tutup. Dia menutupnya selama tiga hari untuk memberikan hadiah liburan kepada semua orang yang bekerja bersamanya. Penjualan dua minggu itu sangat melebihi target dan untuk merayakannya mereka akan liburan.Bukan liburan biasa, mereka semua akan pergi ke Bali. Nadhara sudah menyewa resort yang akan mereka tempati selama tiga hari ke depan. Dia akan pergi sendiri, sementara semua orang satu-persatu sudah men

My Mine (Indonesia)   Chapter 8 - First Kiss

Althaf sebenarnya ingin tinggal di tempat itu, apalagi ketika tahu jika lantai itu menjadi rumah Nadhara. Tetapi, dia tiba-tiba mendapat panggilan darurat karnea ada pasien datang dengan gagal jantung.Althaf terburu-buru bahkan tidak tahu jika saat itu Nadhara sempat memperhatikannya keluar dari toko itu karena tampak sangat cemas dan terburu-buru. Althaf langsung pergi ke rumah sakit, dia bahkan lupa membayar makanannya.

My Mine (Indonesia)   Chapter 7 - Regret

Nadhara sedang sibuk menghias kue ketika pintu dapur di ketuk dari luar, “Mbak, ada yang nyari diluar.” Kata Dira.Nadhara mengerutkan kening, bingung. “Siapa?” “Itu, Mbak. Cowo ganteng yang datang waktu itu.” jawab Dira.

My Mine (Indonesia)   Chapter 6 - The Past

Juni 2010

My Mine (Indonesia)   Chapter 5 - Hangover

Nadhara sangat ingin menampar dirinya sendiri dan berharap semua ya

More Chapters
Download the Book
GoodNovel

Download the book for free

Download
Search what you want
Library
Browse
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystemFantasyLGBTQ+ArnoldMM Romancegenre22- Englishgenre26- EnglishEnglishgenre27-Englishgenre28-英语
Short Stories
SkyMystery and suspenseModern urbanDoomsday survivalAction movieScience fiction movieRomantic movieGory violenceRomanceCampusMystery/ThrillerImaginationRebirthEmotional RealismWerewolfhopedreamhappinessPeaceFriendshipSmartHappyViolentGentlePowerfulGory massacreMurderHistorical warFantasy adventureScience fictionTrain station
CreateWriter BenefitContest
Hot Genres
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystem
Contact Us
About UsHelp & SuggestionBussiness
Resources
Download AppsWriter BenefitContent policyKeywordsHot SearchesBook ReviewFanFictionFAQFAQ-IDFAQ-FILFAQ-THFAQ-JAFAQ-ARFAQ-ESFAQ-KOFAQ-DEFAQ-FRFAQ-PTGoodNovel vs Competitors
Community
Facebook Group
Follow Us
GoodNovel
Copyright ©‌ 2026 GoodNovel
Term of use|Privacy