Wird geladen
Startseite/ ALLE /Kisah Cinta Ludwina & Andrea/Bab 23 - Singapura Penuh Cinta

Bab 23 - Singapura Penuh Cinta

Josephine VDW
"Veröffentlichungsdatum: " 18.09.2020 15:51:59

Ludwina merasa konyol sekali pagi ini karena ia tidak bisa menemukan pakaian yang cocok untuk keluar hotel.

Cuaca hari ini di diperkirakan tidak sepanas biasanya, dan ia bisa mengenakan celana pendek dan atasan tipis  yang kasual, khas daerah tropis. Tetapi entah kenapa ia merasa penampilannya persis sama dengan gadis-gadis yang berlalu lalang di Singapura. Ia ingin terlihat spesial.

Akhirnya setelah ganti baju beberapa puluh kali, ia mengenakan pilihan pertamanya.

[Kamu mau cari inspirasi di mana? Aku jemput ke hotel?]

Andrea sudah tiba di kantornya dan ia sedang meminta izin ke manajernya untuk bekerja di luar kantor. Joe tampak heran tetapi senang melihat Andrea ingin bekerja di luar hari ini. Ia bisa melihat perubahan suasana hati pemuda itu dua hari terakhir ini.

[Aku mau ke National Museum dan cari inspirasi di sana. Setelah  itu aku mau duduk di coffee shop dan menulis. Sampai ketemu di sana.]

[Oke]

Mereka bertemu di museum dan melihat-lihat isinya sebentar, sebelum memutuskan untuk mencari kafe terdekat dan mulai bekerja. Keduanya memilih sudut paling sepi demi privasi, karena Andrea bekerja dengan materi rahasia, sementara Ludwina tidak suka mengetik bila ada suara orang lalu lalang.

Begitu duduk, ia membuka laptopnya dan menuliskan kepingan-kepingan informasi yang diperolehnya dari museum barusan. Ia menyebutnya bank inspirasi, dan sudah terkumpul banyak gagasan di dalamnya selama 3 tahun terakhir.

Di dalam folder Singapura Ia mencatat kasus Maria Hertogh yang pernah menyulut terjadinya kerusuhan etnis di Singapura pada tahun 1950an. Gadis itu terlahir pada keluarga Belanda di Jawa. Saat pendudukan Jepang, Maria yang masih kecil dititipkan orangtuanya kepada tetangga mereka seorang Melayu muslim yang tidak punya anak.

Maria kemudian dibesarkan sebagai muslim dan dibawa ke Singapura. Setelah perang selesai, keluarga kandung Maria ingin membawanya pulang ke Belanda, tetapi dicegah oleh ibu angkatnya yang menyatakan bahwa Maria telah diserahkan kepadanya untuk diadopsi.

Maria tidak ingin meninggalkan keluarga angkatnya, tetapi keluarga Hertogh yang menuntut ke pengadilan berhasil memenangkan kasusnya dan memaksa Maria yang berusia 13 tahun untuk pulang ke Belanda dan kembali menjadi Katolik.

Saat putusan pengadilan keluar, terjadi kerusuhan berdarah di Singapura yang diakibatkan protes warga Melayu yang menganggap pengadilan Inggris bersikap tidak adil kepada pribumi Melayu.

"Untuk apa kamu mencatat hal-hal begitu?" tanya Andrea tertarik. Ludwina menjelaskan kisah itu sambil mengetik sehingga Andrea jadi memperhatikan.

"Aku suka menyimpan cuplikan fakta sejarah, yang nanti bisa aku jadikan latar belakang novel. Menurutku kasus Maria Hertogh ini cukup menarik.

Kerusuhan etnis akibat putusan pengadilan waktu itu membuat pemerintah Singapura bersikap tegas dan sampai sekarang kita tahu kehidupan bertoleransi di Singapura bagus sekali," jawab Ludwina.

"Menarik," komentar Andrea. "Kamu selalu penuh dengan cerita-cerita yang menarik. Kamu tinggal menuangkannya jadi novel beneran."

"Iya sih... " Ludwina mencoba mengintip laptop Andrea, tetapi ia hanya melihat kode-kode yang tidak dimengertinya. "Kamu lagi apa?"

"Aku lagi masuk ke pintu belakang sebuah bank, mencari kelemahan sistemnya."

"Oh.."

Mereka kembali bekerja dalam diam, hanya sesekali saling mengangkat muka dan tersenyum melihat yang lain sedang sibuk dengan dunianya.

Setelah dua jam Ludwina mulai merasa bosan mengetik. Materi bank inspirasinya sudah habis dan ia rindu melihat pepohonan.

"Mau ke taman? Di sebelah kanan kita ada Fort Canning Park," tanyanya kemudian.

"Boleh." Andrea menutup laptopnya dan membayar minuman mereka lalu beranjak keluar. Ludwina mengikuti dengan senyum terkembang.

Ia mengajak Andrea berjalan-jalan di taman Fort Canning Park yang luas dan akhirnya memilih satu tempat yang teduh di bawah pohon. Dari situ mereka bisa melihat hamparan rumput dan bangunan kolonial di kejauhan.

"Duduk di sini?" Ludwina duduk menyandar di pohon dan mengeluarkan buku untuk dibaca. Andrea mengangguk setuju. Pandangannya mengarah ke sekitar mereka yang tampak begitu hijau dan damai. Ia lalu duduk di sebelah Ludwina dan melanjutkan pekerjaannya.

Mereka kembali sibuk dengan pekerjaannya. Ludwina dengan novel yang baru dibelinya, dan Andrea dengan security testingnya.

Ternyata bekerja berdampingan seperti ini rasanya sangat menyenangkan. Angin sepoi-sepoi yang berhembus membuat Ludwina terlena dan tidak lama ia pun jatuh tertidur.

Andrea baru menyadari Ludwina ketiduran saat kepala gadis itu oleng dan menimpa bahunya. Sambil geleng-geleng ia menahan kepala gadis itu dan perlahan-lahan memposisikannya menyandar di bahunya dengan nyaman, tetapi wajahnya tersenyum senang sekali.

Ia tidak akan membangunkan Ludwina, biar gadis itu istirahat di bahunya. Kalau perlu ia akan terus ada di taman ini walau baterai laptopnya habis.

Ludwina bangun satu jam kemudian, dan ia menemukan kepalanya tersandar di dada Andrea, sementara pemuda itu sendiri tidur menyandar ke pohon di belakang mereka.

Hmm... Ia tidak mau membangunkan Andrea.

Ia juga tidak mau beranjak dari dada pemuda itu...

Ludwina memejamkan matanya dan pura-pura tidur kembali. Biar nanti dia tunggu sampai Andrea bangun sendiri...

Ahhh.... betapa damainya suasana ini.

Ludwina tidak ingat pernah merasa begini damai dan bahagia selama hidupnya. Ia tidak mau pulang ke hotel. Ia mau menginap di taman ini kalau perlu.

Saat pikirannya tengah dipenuhi berbagai skenario, tiba-tiba terdengar langkah orang mengendap-endap mendekati mereka. Ludwina curiga dan membuka sebelah matanya, melihat ke arah suara.

Ia menemukan seorang pemuda yang mengira mereka tidur sedang berjalan perlahan-lahan mendekati mereka, tentunya dengan niat jahat. Ludwina langsung sadar bahwa ia mengincar laptop mereka. Ia buru-buru melompat bangun dan menghardik pemuda itu yang terkejut setengah mati.

"Hey! Kenapa kau mengendap-endap begitu? Mau curi barang kami, ya?!" serunya keras.

Sontak pemuda itu kabur terburu-buru.

Andrea membuka matanya dan bangun dari tidur. "Sudah jam berapa?"

"Mau jam 5 sore".

"Kamu mau makan seafood di Makan Sutra?" tanyanya kemudian.

Makan Sutra adalah tempat makan outdoor berisi banyak warung berbagai makanan yang terkenal di Esplanade. Makanan di sana terkenal enak dan murah. Andrea tidak yakin apakah Ludwina yang terbiasa makan di restoran mewah mau makan di sana, tetapi ternyata gadis itu mengangguk bersemangat.

"Mau! Aku lapar."

Andrea menarik Ludwina bangun dari rumput lalu menggandeng tangannya ke halte bus terdekat. Mereka turun di Esplanade lalu makan malam di Makan Sutra.

Andrea tambah menyukai Ludwina karena gadis itu ternyata sama sekali tidak manja, ia mau makan apa saja dan tidak keberatan berjalan kaki jauh ataupun naik turun bus. Tidak sedikit pun ada tanda-tanda ia ingin diperlakukan dengan kemewahan.

Sikapnya pun sangat sederhana. Hanya orang yang mengerti fashion yang bisa menaksir harga tas laptop Hermes yang dibawanya, serta pakaian bermerk sangat mahal yang melekat di tubuhnya.

"I am having a really good day. Thank you for having me." kata Ludwina.

"Aku juga mengalami hari yang menyenangkan. Pekerjaanku beres dan aku bisa menghabiskan waktu sama kamu," balas Andrea. "Kamu kapan pulang ke Jakarta?"

"Belum tahu... Aku menemukan banyak inspirasi di sini," kata Ludwina sambil mengangkat bahu. "Aku lihat nanti deh."

"Selama kamu di sini, kita bisa ketemu kalau kamu mau. Sambil kerja kayak gini, atau jalan-jalan di weekend. Aku bisa kerja di luar kantor 3 hari dalam seminggu kalau aku mau."

"Oh, sounds good. Besok aku mau kerja di Ikea...." jawab Ludwina sambil tersenyum jahil, "Aku suka pura-pura ngantor di ruang displaynya."

"Ikea Alexandra atau Tampines?"

"Yang Tampines aja."

"OK."

Keesokan harinya Andrea menepati janjinya menemani Ludwina mencari inspirasi di Ikea. Mereka makan bakso Swedia siang di kantin Ikea lalu kembali 'ngantor' di ruang yang dipilih Ludwina. Suasana hati keduanya tampak senang sekali.

Keesokan harinya Andrea harus kerja di kantor, maka Ludwina menghabiskan waktunya untuk membaca buku di Restoran Italia di dalam Hotel Raffles. Ia bertemu Andrea sepulang kerja di Chijmes untuk ngobrol sambil makan malam.

Tanpa terasa sudah dua minggu Ludwina berada di Singapura. Ia betah sekali dan tidak terpikir mau pulang. Singapura yang 2 tahun lalu membuatnya bosan setengah mati hingga memutuskan untuk berhenti traveling ke sana, kini terasa sangat vibran dan indah, penuh dengan segala kemungkinan.

Baginya Singapura sekarang dipenuhi oleh cinta.

Möchten Sie wissen, wie es weitergeht?
Weiterlesen
Vorheriges Kapitel
Nächstes Kapitel

Buch teilen mit

  • Facebook
  • Twitter
  • Whatsapp
  • Reddit
  • Copy Link

Aktuellstes Kapitel

Kisah Cinta Ludwina & Andrea   Bab 58 - Akhirnya Bahagia

"Aku sayang banget sama kamu, Andrea," bisik Ludwina ke telinga Andrea, "Aku ingin menghabiskan setiap hari mencintaimu."Andrea membantu Ludwina membuka pakaiannya dan dengan sangat hati-hati mencumbu istrinya. Ia sungguh merindukan tubuh Ludwina dan bercinta dengannya. Ia selalu menahan diri setelah mereka berkumpul bersama karena takut membuat Ludwina sakit, tetapi hari ini istrinya yang berinisiatif untuk bercinta dan ia tidak akan mengecewakannya.Mereka bercinta dengan sangat lembut dan menikmati setiap detik kebersamaan itu, jauh lebih syahdu dari biasanya, karena mereka tahu setiap detik mereka bersama adalah sangat berharga.Andrea sangat lega melihat rona wajah kemerah-merahan Ludwina yang diliputi rasa bahagia saat mereka tidur malam itu. Ia berharap dapat membekukan momen itu selamanya.***Bu Inggrid, Pak Kurniawan dan Johann kaget setengah mati ketika akhirnya Andrea memberi tahu mereka tentang penyakit Ludwina. Atas permintaan istrin

Kisah Cinta Ludwina & Andrea   Bab 57 - Ludwina Ingin Sembuh

Mereka tiba di coffee shop langganan mereka dan barulah Andrea meletakkan Ludwina di kursi. Ia memesan kopi favorit keduanya lalu duduk di samping Ludwina sambil menggenggam tangannya. Ia tak mau melepaskan gadis itu sama sekali. Takkan pernah lagi!"Kamu mau berapa lama di New York?" tanyanya saat mereka sedang menikmati kopinya. "Aku mesti beli baju banyak kalau kita akan lama di sini.""Aku nggak tahu..." jawab Ludwina. "Aku mesti ketemu dokterku untuk konsultasi lagi besok.""Oke, aku ikut ya." kata Andrea cepat.Ludwina mengangguk.Mereka tidak membahas penyakit Ludwina sampai keduanya tiba di hotel. Andrea merasa lebih baik jika ia mendengar langsung dari dokter. Ia tak ingin membuat istrinya stress dengan berbagai pertanyaannya.Setelah memastikan Ludwina beristirahat, Andrea pergi ke toko terdekat dan membeli pakaian. Ia menolak ditemani karena tidak ingin Ludwina menjadi kelelahan. Setelah kembali ke hotel ia memesan makanan dan mer

Kisah Cinta Ludwina & Andrea   Bab 56 - Pertemuan Di Central Park

Karena Ludwina tidak mengangkat ponselnya, Andrea akhirnya menghubungi Johann untuk mencari tahu keberadaan istrinya. Dari Johann ia mengetahui bahwa Ludwina sudah berangkat ke New York. Andrea segera memesan penerbangan ke sana tetapi kemudian ia sadar bahwa visa Amerika yang ada di paspornya baru saja kedaluwarsa.Ia ingat 5 tahun lalu mengajukan visa Amerika karena berniat traveling ke sana bersama Ludwina tetapi mereka malah menikah di Bali dan baru berangkat setahun kemudian. Visa yang diperolehnya valid untuk 5 tahun dan baru berakhir minggu ini.Sungguh mematahkan hati. Ketika akhirnya ia mengetahui apa yang terjadi dengan Ludwina, Andrea tak bisa segera menyusulnya.Andrea buru-buru pulang ke Inggris dan mengajukan visa Amerika lewat kedutaan Amerika Serikat di London. Ia sangat gelisah dan tidak bisa tidur sambil menunggu visanya diproses. Ia berusaha mengalihkan pikirannya dari Ludwina dengan bekerja, tetapi tidak berhasil."Joe, aku perlu bicar

Kisah Cinta Ludwina & Andrea   Bab 55 - Andrea Ke Singapura

Sebenarnya Ludwina patah hati saat meninggalkan Andrea di pantai. Ia tak pernah melihat suaminya menangis sebelumnya dan hatinya tercabik-cabik saat ia harus menampilkan wajah dingin dan pergi meninggalkannya begitu saja.Ini demi kebaikan Andrea, berkali-kali ia meyakinkan dirinya sendiri.Ludwina segera meminta concierge memesankan taksi untuknya dan kembali ke Hotel Kanawa. Setibanya di sana ia segera masuk ke kamar dan mengurung diri. Tubuhnya merasa sangat lelah dan ia tak mampu bertemu siapa pun. Telepon dari Mbak Ria, editornya, pun harus ia tolak. Ia hanya mengirim SMS bahwa ia akan datang ke sesinya di UWRF besok dan hari ini ia ingin beristirahat dengan tanpa gangguan.***Andrea sebenarnya tergoda untuk datang ke UWRF dan melihat Ludwina lagi. Tetapi setiap mengingat betapa gadis itu masih belum memaafkannya, Andrea merasa sakit dan mengurungkan niatnya. Sepanjang hari ia hanya mencoba menghilangkan ke

Kisah Cinta Ludwina & Andrea   Bab 54 - Pertemuan Dan Perpisahan Di Bali

Ludwina yang tiba di Hotel Hilton keesokan harinya mengira guest relation officer yang menemuinya juga mengenalinya sama seperti beberapa penggemar yang ia temui di Central Park. Ia mengikuti saja ketika staf itu membawanya ke kamar cantik menghadap laut yang ditinggali Andrea.Ia sebenarnya sudah check in di Hotel Kanawa milik ayahnya, sehingga ke Hilton hanya dengan membawa tas tangannya. Ia ingat bahwa hari ini adalah ulang tahun pernikahannya dengan Andrea. Mungkin ia akan menerima untuk makan malam bersama Andrea terakhir kalinya sebelum meminta dokumen perceraian itu dari suaminya dan mengakhiri pernikahan mereka.Ia melihat bunga dan prosecco dengan pita merah di kamar itu. Hatinya seketika terasa sakit, ia masih ingat dengan jelas malam itu ketika Andrea melamarnya. Ia melihat dua kemeja Andrea yang dibelikannya sebelum suaminya itu berangkat ke London dan pertahanannya runtuh.Ludwina kembali menangis untuk kesekian kalinya. Tadinya ia sudah mampu bersi

Kisah Cinta Ludwina & Andrea   Bab 53 - Ludwina Mampir Ke London

Suasana menjadi syahdu dengan hujan rintik-rintik di luar jendela. Andrea lalu mengeluarkan sebotol wine dan dua gelas serta segelas jus untuk Ronan. Ia menuangkan wine untuk dirinya dan Adelina. Ia menyerahkan gelas berisi wine kepada gadis itu. Adelina menerimanya dengan sepassang mata masih berkaca-kaca."Sore-sore begini pas sekali untuk minum wine. Lumayan bisa membuat suasana hati menjadi lebih baik." Andrea mendentingkan gelasnya ke gelas Adelina dan meneguk wine-nya. "Minumlah... biar kau merasa baikan."Adelina mengangguk dan menyesap wine-nya. Wajahnya yang suram perlahan-lahan tampak mulai cerah."Wine makes adulting bearable (Wine membuat orang dewasa bisa bertahan hidup)." katanya dengan senyum mulai menghiasi wajahnya. Keduanya tertawa kecil. Andrea mengangguk juga, membenarkan."Aku tahu kamu perempuan kuat, tapi kalau kamu merasa sedang sedih dan ingin berbagi, tempatku dan segelas wine selalu siap menunggu," kata Andrea kemu

Kisah Cinta Ludwina & Andrea   Bab 44 - Berita Buruk Yang Datang Bersamaan

Ia harus mendapatkan opini dokter. Ia tak akan bisa merahasiakan kehamilannya dan memberi Andrea kejutan kalau suaminya ikut menemani ke dokter. Karena itulah ia menyuruh Andrea tetap berangkat ke kantor."Baiklah. Kamu jaga diri, Sayang. Aku telepon setiap jam ya. Aku sayang kamu." Akhirn

Kisah Cinta Ludwina & Andrea   Bab 43 - Kamu... Ingin Punya Anak?

Ulang tahun pernikahan mereka yang ketiga, Andrea dan Ludwina kembali ke Paris. Laura dan Pierre sudah menjadi orang tua. Mereka memiliki sepasang bayi kembar laki-laki yang lucu sekali berumur dua tahun. Julien dan Francoise memiliki wajah persis seperti Laura, tetapi matanya berwarna hijau ceme

Kisah Cinta Ludwina & Andrea   Bab 42 - Andrea Sangat Ingin Mempunyai Anak

Pembicaraan Ludwina dan Andrea terdengar oleh pasangan suami istri separuh baya yang duduk di dekat mereka, dan keduanya segera menyapa pasangan muda itu dengan ramah."Selamat siang, kalian dari Indonesia juga?" tanya sang wanita separuh baya, "Mau ke Jakarta?""Oh, hallo, Ibu... s

Kisah Cinta Ludwina & Andrea   Bab 41 - Kehidupan Pengantin Baru

Sejak malam pertama mereka, Andrea hampir tidak pernah lagi memanggil nama Ludwina. Ia selalu menggunakan kata "Sayang" saat memanggil gadis itu. Awalnya Ludwina masih merasa geli dipanggil demikian, karena ia terbiasa saling memanggil nama bahkan dengan kakaknya yang jauh lebih tua.Setel

Weitere Kapitel
Buch herunterladen
GoodNovel

Buch kostenlos herunterladen

Download
Suchen
Bibliothek
Stöbern
RomantikAlternativgeschichteUrbanWerwolfMafiaSystemFantasyLGBTQ+
Kurzgeschichten
LiebeskummerGeheimnisModerne StadtApokalypse-Überleb1enshort-Science-FictionLiebesroman0
ErstellenVorteile für Autor:innenWettbewerb
Beliebte Genres
RomantikAlternativgeschichteUrbanWerwolfMafiaSystem
Kontaktieren uns
Über unsHilfe & VorschlägeGeschäft
Ressourcen
Apps herunterladenVorteile für Autor:innenInhaltsrichtlinieTop-SuchanfragenFAQFAQ-IDFAQ-FILFAQ-THFAQ-JAFAQ-ARFAQ-ESFAQ-KOFAQ-DEFAQ-FRFAQ-PTGoodNovel vs Competitors
Community
Facebook Group
Folge uns
GoodNovel
Copyright ©‌ 2026 GoodNovel
Nutzungsbedingungen|Datenschutz