Buch kostenlos herunterladen
Bab 22 - Makan Malam Yang Menyenangkan
Josephine VDWWajah Andrea sedikit memerah dari wine yang diminumnya. Ludwina menjadi sadar bahwa pemuda ini tidak punya toleransi alkohol yang bagus. Dia sendiri bisa minum sampai satu botol wine dan masih baik-baik saja, tetapi rupanya, dua gelas adalah batas bagi Andrea.
"Maybe you should stop drinking," kata Ludwina sambil menurunkan gelas Andrea. Pemuda itu menggeleng sambil memandangnya lekat-lekat.
"Batasku dua gelas. Setelah ini aku tidak minum lagi," katanya sambil tersenyum.
"Oh, bagus. Kamu tahu batas." Ludwina menuang segelas untuk dirinya sendiri lalu mendentingkan gelasnya ke gelas Andrea baru meneguk wine-nya. "Aku masih bisa minum beberapa gelas lagi."
"Cheers!" kata Andrea, "untuk....?"
"Untuk kencan pertama kita tanpa aku perlu mengarang alasan bodoh," jawab Ludwina sambil tertawa kecil. "Terima kasih sudah meminta duluan. Aku malu kalau terus-terusan mencari alasan konyol supaya bisa ketemu kamu."
"Terima kasih sudah menerima ajakanku untuk makan malam," balas Andrea. "Aku senang bisa bertemu lagi denganmu. Kamu orang yang sangat menyenangkan."
Ludwina memandang Andrea dengan mata berbinar-binar. Ia mengangguk sambil tersenyum lebar.
"So, kamu pernah hampir menikah 4 tahun lalu... How interesting. Kenapa tidak jadi?" tanyanya kemudian.
"It's a long story," kata Andrea. Matanya sesaat terlihat sedih. Ia terlihat diam agak lama seperti berusaha memutuskan untuk mulai dari mana.
"Kalau itu membuatmu sedih, tidak usah diceritakan," tukas Ludwina cepat-cepat. "Aku hanya penasaran. Nggak terlalu penting kok. Kamu orang yang unik dan aku ingin tahu semua tentang kamu... tapi aku nggak mau melihat kamu sedih."
"Aku jatuh cinta dengan sahabatku di sekolah. Kami teman sebangku sepanjang SMA, dan kemudian sama-sama kuliah di UI, beda jurusan. Dia gadis paling cantik dan paling baik hati yang pernah aku kenal. Sayangnya kami beda agama, dan keluarganya yang kaya raya tidak bisa menerimaku," Andrea tersenyum dan menyentuh pipi Ludwina pelan, "Tidak semua orangtua seterbuka dan sehangat orangtuamu. Empat tahun lalu kami memutuskan untuk kawin lari ke Singapura."
Ludwina menahan nafas, hingga Andrea melanjutkan ceritanya.
"Lalu...?"
"Seminggu sebelum kami berangkat ke Singapura, Adelina pindah ke London. Ibunya sakit kanker dan ia tidak tega menyakiti hati orangtuanya dalam keadaan ibunya sakit seperti itu. Mereka pindah ke Inggris untuk mengobati penyakit ibunya, dan aku tak pernah bertemu dengan mereka lagi."
"Kamu nggak cari tahu kabarnya sekarang? Kamu kan pakar security, bisa dengan mudah cari tahu, siapa tahu ibunya sudah sembuh... dan siapa tahu Adelina masih menunggu kamu," tanya Ludwina dengan suara agak bergetar. Ini informasi yang sangat mengejutkan baginya. Ia tak pernah menduga, di hati Andrea dulu pernah ada gadis yang mengisi hidupnya dengan sangat dalam. Mereka bahkan sudah memutuskan menikah!
"Adelina sudah menemukan orang lain setahun setelah pindah ke London, dan aku menghormati keputusannya. Aku nggak pernah stalking dia, I'm not that kind of person. Aku juga nggak pernah stalking kamu kan, walaupun aku bisa melakukannya?"
"Kamu masih cinta sama Adeline?" tanya Ludwina lagi.
Andrea menggeleng pelan, "Dia dulu sahabatku, tetapi kami sudah hampir 4 tahun nggak ketemu, dan rasanya kami berdua sudah sama-sama move on dengan kehidupan kami."
Ludwina memegang tangan Andrea dan menepuk-nepuknya lembut, "I am sorry to hear that, pasti waktu dia pergi kamu merasa sedih banget."
Andrea tersenyum menatap Ludwina, "Life happens. Kalau kamu bagaimana? Pernah hampir nikah dengan siapa?"
Ludwina membekap mulutnya dengan sikap pura-pura kaget, "Kok kamu tahu? Aku pernah hampir nikah drive thru di Las Vegas waktu party sama temen-temen kuliah dan kami mabuk berat...."
Sepasang alis Andrea merengut mendengarnya, ia tidak tahu apakah Ludwina bercanda atau tidak.
"Uhmm...terus?"
"Aku cuma bercanda... hahaha" Ludwina mencuil hidung Andrea yang ikut merengut. "Aku nggak pernah punya pacar serius. Aku terlalu sibuk traveling. Lagipula aku nggak kuatir sama jodoh... Menurutku perempuan harus melakukan banyak hal besar dalam hidup sebelum settle down dan menikah. Aku punya waktu 10 tahun lagi sebelum aku berhenti. Aku juga sebenarnya nggak pernah memikirkan tentang menikah, apalagi punya anak. Tanggung jawabnya terlalu besar..."
Andrea mengangguk-angguk, "Aku mengerti."
Saat itu, sebenarnya Ludwina sudah menyesali kata-katanya. Mengapa ia begitu jujur di kencan pertama mereka? Andrea tadi jelas mengisyaratkan bahwa ia adalah seorang family man yang ingin menikah dan punya anak.
Ia bahkan tidak ragu untuk menikahi Adelina 4 tahun lalu waktu ia masih berumur 23 tahun. Sementara Ludwina yang masih kekanakan dan manja, tidak bisa membayangkan dirinya berhenti traveling untuk tinggal diam di suatu tempat dan menikah, apalagi punya anak.
Ia saaaaaangat menyukai Andrea, tapi mengapa pemuda itu harus begitu dewasa dan ingin menikah? Kenapa dia tidak seperti pemuda-pemuda lain seumurnya yang masih senang bertualang dan menikmati perjalanan melihat dunia? Ludwina membayangkan traveling bersama Andrea pasti akan sangat menyenangkan.
"You are a wonderful person," kata Ludwina kemudian. "I hope you will find the happiness you deserve".
"Thank you, Wina."
Ludwina menghabiskan wine di gelasnya, mengisinya kembali, dan meneguknya sampai habis. Ia saaaaaangat menyukai Andrea.
Mengapa tadi ia tidak berpura-pura bersikap seperti gadis normal yang ingin settle down dan menikah dan punya anak? Setidaknya mereka tidak perlu mengakhiri penjajakan setelah kencan pertama ini... Masih ada alasan untuk ketemu lagi.
Mungkin nanti, seiring dengan waktu, Andrea akan berubah pikiran, kalau dia bertemu dengan banyak pasangan yang bercerai dan hidup menderita, dia bisa melihat sendiri betapa menikah itu nggak seindah yang banyak orang bayangkan.
"Are you guys both OK?" tanya Kevin yang muncul tiba-tiba. Andrea dan Ludwina serentak menjawab,
"Ya, baik-baik saja. Terima kasih. Makanannya enak sekali."
Keduanya saling pandang dan tersenyum, mereka tidak menyangka keduanya akan kompak seperti itu.
"Mau dipanggilkan taksi?"
"Aku menginap di Raffles, tidak terlalu jauh kalau jalan kaki menurunkan makanan. Kayaknya aku mau menikmati udara segar dan pulang dengan jalan kaki saja," kata Ludwina.
"Aku antar ya. Aku juga suka jalan kaki,"
"You do?" Ludwina tersenyum lebar dan bangkit dari duduknya. Ia merangkul Kevin dan pamit, lalu memberi tanda agar Andrea mengikutinya. "Bye, Kevin. Nanti aku datang lagi. Andrea, ayo pulang."
Andrea pamit juga kepada Kevin dan mengikuti Ludwina. Mereka berjalan berdampingan keluar Moccasin dan menyusuri trotoar bersih Singapura ke arah Barat.
"Kamu tinggal di mana?" tanya Ludwina sambil jalan.
"Di Beach Road," jawab Andrea.
"Oh..." Ludwina ingat dulu keluarganya punya rumah di daerah itu. "Kamu suka tinggal di Singapura?"
"Suka. Di sini banyak orang dari berbagai bangsa tinggal bersama. Kotanya rapi dan bersih. Semuanya reliable. Bagaimana pendapatmu sendiri setelah dua tahun puasa datang ke kota ini? Apa kamu bakal datang ke Singapura lagi atau ini yang terakhir?"
"Hmm... mungkin aku datang lagi."
"I'm happy to hear that."
Mereka tak bicara apa-apa lagi dan menikmati berjalan dalam diam. Sesungguhnya Ludwina berharap mereka tidak pernah sampai di Raffles Hotel... dan tanpa sengaja ia berjalan lambat sekali. Ia tidak melihat Andrea berkali-kali melirik ke arahnya dan tersenyum simpul.
Akhirnya mereka pun tibalah di depan Raffles Hotel dan Ludwina harus mengucap selamat tinggal.
"Besok kamu mau kemana?" tanya Andrea sebelum pergi.
"Hmm.. mungkin aku mencari inspirasi menulis di Chijmes, atau di taman..."
"Besok aku bisa kerja dari luar kantor, mau kutemani mencari inspirasi? Kamu bisa mengetik novelmu atau membaca buku, aku bisa sambil melakukan testing aplikasi dengan laptopku."
Ludwina tak percaya pada pendengarannya sendiri. Ia menatap Andrea dengan mata berbinar-binar.
"Benarkah? I would love that!"
"Baiklah. Sampai jumpa besok." Andrea tersenyum lebar dan berjalan menuju apartemennya di Beach Road. Ia menoleh dan melambai ketika melihat Ludwina masih berdiri di tempatnya semula, menunggu hingga ia hilang dari pandangan.
Buch teilen mit
Facebook
Twitter
Whatsapp
Reddit
Copy Link
Aktuellstes Kapitel
Kisah Cinta Ludwina & Andrea Bab 58 - Akhirnya Bahagia
"Aku sayang banget sama kamu, Andrea," bisik Ludwina ke telinga Andrea, "Aku ingin menghabiskan setiap hari mencintaimu."Andrea membantu Ludwina membuka pakaiannya dan dengan sangat hati-hati mencumbu istrinya. Ia sungguh merindukan tubuh Ludwina dan bercinta dengannya. Ia selalu menahan diri setelah mereka berkumpul bersama karena takut membuat Ludwina sakit, tetapi hari ini istrinya yang berinisiatif untuk bercinta dan ia tidak akan mengecewakannya.Mereka bercinta dengan sangat lembut dan menikmati setiap detik kebersamaan itu, jauh lebih syahdu dari biasanya, karena mereka tahu setiap detik mereka bersama adalah sangat berharga.Andrea sangat lega melihat rona wajah kemerah-merahan Ludwina yang diliputi rasa bahagia saat mereka tidur malam itu. Ia berharap dapat membekukan momen itu selamanya.***Bu Inggrid, Pak Kurniawan dan Johann kaget setengah mati ketika akhirnya Andrea memberi tahu mereka tentang penyakit Ludwina. Atas permintaan istrin
Kisah Cinta Ludwina & Andrea Bab 57 - Ludwina Ingin Sembuh
Mereka tiba di coffee shop langganan mereka dan barulah Andrea meletakkan Ludwina di kursi. Ia memesan kopi favorit keduanya lalu duduk di samping Ludwina sambil menggenggam tangannya. Ia tak mau melepaskan gadis itu sama sekali. Takkan pernah lagi!"Kamu mau berapa lama di New York?" tanyanya saat mereka sedang menikmati kopinya. "Aku mesti beli baju banyak kalau kita akan lama di sini.""Aku nggak tahu..." jawab Ludwina. "Aku mesti ketemu dokterku untuk konsultasi lagi besok.""Oke, aku ikut ya." kata Andrea cepat.Ludwina mengangguk.Mereka tidak membahas penyakit Ludwina sampai keduanya tiba di hotel. Andrea merasa lebih baik jika ia mendengar langsung dari dokter. Ia tak ingin membuat istrinya stress dengan berbagai pertanyaannya.Setelah memastikan Ludwina beristirahat, Andrea pergi ke toko terdekat dan membeli pakaian. Ia menolak ditemani karena tidak ingin Ludwina menjadi kelelahan. Setelah kembali ke hotel ia memesan makanan dan mer
Kisah Cinta Ludwina & Andrea Bab 56 - Pertemuan Di Central Park
Karena Ludwina tidak mengangkat ponselnya, Andrea akhirnya menghubungi Johann untuk mencari tahu keberadaan istrinya. Dari Johann ia mengetahui bahwa Ludwina sudah berangkat ke New York. Andrea segera memesan penerbangan ke sana tetapi kemudian ia sadar bahwa visa Amerika yang ada di paspornya baru saja kedaluwarsa.Ia ingat 5 tahun lalu mengajukan visa Amerika karena berniat traveling ke sana bersama Ludwina tetapi mereka malah menikah di Bali dan baru berangkat setahun kemudian. Visa yang diperolehnya valid untuk 5 tahun dan baru berakhir minggu ini.Sungguh mematahkan hati. Ketika akhirnya ia mengetahui apa yang terjadi dengan Ludwina, Andrea tak bisa segera menyusulnya.Andrea buru-buru pulang ke Inggris dan mengajukan visa Amerika lewat kedutaan Amerika Serikat di London. Ia sangat gelisah dan tidak bisa tidur sambil menunggu visanya diproses. Ia berusaha mengalihkan pikirannya dari Ludwina dengan bekerja, tetapi tidak berhasil."Joe, aku perlu bicar
Kisah Cinta Ludwina & Andrea Bab 55 - Andrea Ke Singapura
Sebenarnya Ludwina patah hati saat meninggalkan Andrea di pantai. Ia tak pernah melihat suaminya menangis sebelumnya dan hatinya tercabik-cabik saat ia harus menampilkan wajah dingin dan pergi meninggalkannya begitu saja.Ini demi kebaikan Andrea, berkali-kali ia meyakinkan dirinya sendiri.Ludwina segera meminta concierge memesankan taksi untuknya dan kembali ke Hotel Kanawa. Setibanya di sana ia segera masuk ke kamar dan mengurung diri. Tubuhnya merasa sangat lelah dan ia tak mampu bertemu siapa pun. Telepon dari Mbak Ria, editornya, pun harus ia tolak. Ia hanya mengirim SMS bahwa ia akan datang ke sesinya di UWRF besok dan hari ini ia ingin beristirahat dengan tanpa gangguan.***Andrea sebenarnya tergoda untuk datang ke UWRF dan melihat Ludwina lagi. Tetapi setiap mengingat betapa gadis itu masih belum memaafkannya, Andrea merasa sakit dan mengurungkan niatnya. Sepanjang hari ia hanya mencoba menghilangkan ke
Kisah Cinta Ludwina & Andrea Bab 54 - Pertemuan Dan Perpisahan Di Bali
Ludwina yang tiba di Hotel Hilton keesokan harinya mengira guest relation officer yang menemuinya juga mengenalinya sama seperti beberapa penggemar yang ia temui di Central Park. Ia mengikuti saja ketika staf itu membawanya ke kamar cantik menghadap laut yang ditinggali Andrea.Ia sebenarnya sudah check in di Hotel Kanawa milik ayahnya, sehingga ke Hilton hanya dengan membawa tas tangannya. Ia ingat bahwa hari ini adalah ulang tahun pernikahannya dengan Andrea. Mungkin ia akan menerima untuk makan malam bersama Andrea terakhir kalinya sebelum meminta dokumen perceraian itu dari suaminya dan mengakhiri pernikahan mereka.Ia melihat bunga dan prosecco dengan pita merah di kamar itu. Hatinya seketika terasa sakit, ia masih ingat dengan jelas malam itu ketika Andrea melamarnya. Ia melihat dua kemeja Andrea yang dibelikannya sebelum suaminya itu berangkat ke London dan pertahanannya runtuh.Ludwina kembali menangis untuk kesekian kalinya. Tadinya ia sudah mampu bersi
Kisah Cinta Ludwina & Andrea Bab 53 - Ludwina Mampir Ke London
Suasana menjadi syahdu dengan hujan rintik-rintik di luar jendela. Andrea lalu mengeluarkan sebotol wine dan dua gelas serta segelas jus untuk Ronan. Ia menuangkan wine untuk dirinya dan Adelina. Ia menyerahkan gelas berisi wine kepada gadis itu. Adelina menerimanya dengan sepassang mata masih berkaca-kaca."Sore-sore begini pas sekali untuk minum wine. Lumayan bisa membuat suasana hati menjadi lebih baik." Andrea mendentingkan gelasnya ke gelas Adelina dan meneguk wine-nya. "Minumlah... biar kau merasa baikan."Adelina mengangguk dan menyesap wine-nya. Wajahnya yang suram perlahan-lahan tampak mulai cerah."Wine makes adulting bearable (Wine membuat orang dewasa bisa bertahan hidup)." katanya dengan senyum mulai menghiasi wajahnya. Keduanya tertawa kecil. Andrea mengangguk juga, membenarkan."Aku tahu kamu perempuan kuat, tapi kalau kamu merasa sedang sedih dan ingin berbagi, tempatku dan segelas wine selalu siap menunggu," kata Andrea kemu
Kisah Cinta Ludwina & Andrea Bab 52 - It Was A Good Memory
SEPTEMBER 2018.Sudah setahun Ludwina dan Andrea berpisah. Andrea sudah mulai menerima kenyataan bahwa mungkin Ludwina tidak akan pernah memaafkannya, tetapi ia sungguh sangat ingin bertemu istrinya satu kali saja, untuk berusaha meyakinkannya...Email dari
Kisah Cinta Ludwina & Andrea Bab 51 - Kau Carilah Istrimu
Setelah enam bulan di London, Andrea masih belum menerima balasan dari email-emailnya. Ia tetap setia mengirim email setiap hari Minggu, tetapi kini ia sudah belajar untuk menerima kenyataan bahwa Ludwina tidak akan membalas.Kondisi perusahaan sudah stabil dan ia sudah bisa mengambil cuti
Kisah Cinta Ludwina & Andrea Bab 50 - I'm So Proud Of You
Ludwina tidak mengira bahwa novel sejarah yang ditulisnya mendapatkan sambutan sangat baik. Ini membuatnya sedikit terhibur. Ia sudah tidak memiliki akun di media sosial, tetapi ia banyak membaca review positif di internet dan berbagai artikel yang memuji ceritanya. Hal ini membuatnya semakin ber
Kisah Cinta Ludwina & Andrea Bab 49 - Pembicaraan Johann Dan Andrea
Ketika Johann tiba, Andrea segera memperkenalkannya kepada Adelina dan Ronan."Adelina, perkenalkan ini Johann, kakak iparku. Dia seorang dokter spesialis penyakit dalam dan sedang ikut konferensi di sini." Andrea lalu beralih kepada Johann, "Ini Adelina, ibu dari anakku Ronan. Dan ini Ron
