Buch kostenlos herunterladen
Bab 18 - Kencan Makan Malam
Josephine VDWLudwina turun dari pesawat dengan perasaan gembira. Sudah lama ia tidak keluar dari bandara Changi. Biasanya ke sini hanya untuk transit ke negara lain. Dulu menurutnya Singapura membosankan.
Walaupun mereka sudah membangun banyak atraksi baru yang bagus seperti Gardens by The Bay dan lain-lain, ia tidak tertarik berkunjung - hingga minggu lalu ketika bertemu Andrea di bandara saat ia hendak ke Scotlandia dan Ludwina tak bisa lagi menahan kerinduannya untuk bertemu pemuda itu.
Ia pun bertekad untuk mengesampingkan egonya dan pergi ke Singapura, kemudian di sana ia akan mencari alasan untuk bertemu.
Dari bandara ia segera menuju Raffles Hotel dan check in. Setelah beristirahat sebentar, ia berjalan kaki ke beberapa tempat yang dulu menjadi favoritnya untuk dikunjungi. Cuaca yang panas tidak membuatnya segan untuk menikmati kota.
Rasanya Singapura seperti terlahir kembali untuknya. Hanya dengan mengingat bahwa Andrea berada di kota yang sama, perasaan Ludwina menjadi bahagia.
[Aku sedang duduk di Chijmes. Mencari inspirasi. Kamu kerja sampai jam berapa?]
Ludwina mengirim email kepada Andrea.
5 menit kemudian ia menerima SMS dari sebuah nomor Singtel.
[Ini nomor ponselku yang baru. Komunikasi bisa lebih cepat dengan telepon. Aku kerja sampai jam 6. Bagaimana proses pencarian inspirasinya? Dapat yang bagus? - Andrea Baskara]
[Tidak banyak inspirasi. Aku malah minum..ahahaha.]
[Mau makan malam bareng? Aku yang traktir. Kau tamu di sini.]
Ludwina tersenyum membaca SMS Andrea. Is he asking me out on a date? pikir gadis itu. Hatinya berbunga-bunga.
[I would love that! Pick the place and I'll be there.]
Andrea mengirim email singkat kepada Lucia, office manager untuk meminta rekomendasi restoran dan dengan senang hati gadis itu memberi beberapa pilihan.
"Untuk kapan? Tempat yang paling happening sekarang adalah Moccasin Restaurant. Agak susah untuk dapat kursi kalau tidak reservasi. I can help you check."
"Oh, terima kasih. Kalau bisa bantu pesankan satu meja untuk dua orang, aku akan berutang budi kepadamu," kata Andrea sambil tersenyum. "Malam ini atau besok, mana yang available."
"Baiklah. Dengan siapa nih? Kalau boleh tanya?" Lucia tersenyum menyelidik. Andrea tidak menjawab, hanya tersenyum, dan Lucia mengerti untuk tidak mendesak.
"Malam ini ada meja untuk dua orang. Sudah kupesankan atas namamu." kata Lucia setengah jam kemudian. Andrea mengucap terima kasih lalu mengirim SMS kepada Ludwina tentang reservasi makan malam mereka di Moccasin.
[Jam 8 di Moccasin Restaurant. Mau kujemput?]
[Tidak usah. Dari Chijmes tidak jauh. Aku tinggal jalan kaki ke sana.]
Baik Ludwina maupun Andrea tanpa sadar tersenyum terus sepanjang hari itu. Banyak pria yang sedang minum di Chijmes tertarik melihat gadis cantik yang duduk sendirian di mejanya sambil nyengir tanpa henti dan mengiriminya minuman, tetapi dengan ramah ia menolak.
Sementara teman-teman kantor Andrea tak luput memperhatikan ekspresinya yang demikian cerah sepanjang hari. Biasanya ia sangat tertutup dan senang menyendiri, tetapi kali ini sepertinya Andrea bersikap lebih sosial terhadap mereka.
Jam 8 kurang lima Ludwina sudah ada di pintu masuk Moccasin. Ia menyebutkan reservasi atas nama Andrea dan pelayan membawanya ke meja di sudut ruangan. Ketika ia baru duduk, tiba-tiba terdengar suara seseorang memanggilnya dengan akrab.
"Hey... Wina! Kok nggak bilang-bilang ke Singapura lagi?"
Wina menoleh ke asal suara dan menemukan seorang pria berwajah agak jahil dan berpenampilan sangat trendi, datang mendekatinya.
"Astaga... Kevin, apa kabar? Ngapain di sini?"
Ludwina berdiri dan merangkul Kevin dengan akrab. Mereka tertawa-tawa saling tepuk bahu dan saling mengacak rambut masing-masing, tepat ketika Andrea tiba. Ia berdiri kaku melihat pemandangan di depannya dan mendeham.
"Ini restoranku yang baru. Ini cabang dari restoranku yang di Hong Kong, baru berdiri enam bulan dan cukup ramai, jadi aku sering ke sini untuk kontrol," jawab Kevin kemudian. "Kamu sendiri tumben ke Singapura? Dulu katanya mau puasa menginjakkan kaki ke Singapura. Sudah selesai puasanya?"
Ludwina tertawa, "Ahahaha... iya, sudah. Beberapa tahun ini sudah lumayan berubah ya, aku mau jalan-jalan ke sini lagi."
Ia menoleh kepada Andrea dan kemudian ikut berdeham, "Eh, kenalkan ini Andrea. Kami reservasi makan malam di sini atas nama Andrea. Andrea kenalkan ini Kevin Tan, temanku sejak kecil, ternyata dia pemilik restoran Moccasin. Aku baru tahu tadi."
Kevin menjabat tangan Andrea dengan hangat, "Ayo kupindahkan kalian ke meja yang lebih baik."
Ia mengajak mereka ke sudut lain yang lebih privasi dan memiliki kursi untuk 4 orang supaya ruangnya lebih luas.
"Please order anything. It's on me." Kevin memberi tanda kepada pelayan untuk membawakan menu. "I am sorry I cannot sit with you now, but I promise I'll come back here."
Ludwina dan Andrea mengangguk. Setelah Kevin pergi, Andrea menoleh kepada Ludwina, "Wahh... aku nggak jadi traktir, ternyata restorannya punya temanmu."
"That's good. Berarti nanti kamu harus traktir lagi di tempat lain," jawab Ludwina dengan senyum jahil.
"Kalian akrab sekali kelihatannya."
"Iya, kami teman dari kecil. Sebenarnya malah dulu aku sama dia itu mau dijodohkan. Kedua orang tua sudah setuju."
"Oh..." Andrea tertegun mendengar penjelasan Ludwina. "Terus?"
"Ini kan abad 21, Andre. Siapa yang mau dijodohin? Walaupun aku nggak ada masalah sama Kevin. Dia anaknya baik, jahil, dan penuh petualangan... Tapi orangtua kami hanya menjodohkan anak-anaknya karena tradisi. Orang kaya kawin dengan orang kaya. Hidup kami sudah diatur sedari kecil." Ludwina terdiam cukup lama sebelum melanjutkan.
"12 tahun yang lalu kakakku Wolfgang meninggal dunia di usia 14. Kematiannya karena meningitis cukup mendadak dan membuat kami sekeluarga terguncang. Kak Johann kemudian ingin menjadi dokter untuk menyelamatkan jiwa dan menolong orang... Sementara Ayah dan Ibu menjadi berubah pikiran. Mereka sekarang tidak peduli dengan uang dan bisnis dan hal-hal materialistis lainnya, fokus mereka hanyalah kebahagiaanku dan Johann. Makanya aku dilepas kuliah ke New York untuk mengejar mimpiku, dan sekarang aku bisa terbang ke mana pun aku mau untuk mencari inspirasi atau apa pun yang aku ingin temukan. Johann bisa jadi dokter, dan dia sekarang pacaran dengan seorang pelukis."
Entah kenapa Andrea sangat lega mendengar penjelasan Ludwina. Ia sekarang mengerti mengapa sikap keluarga Ludwina cukup santai dan terbuka. Mereka bahkan tidak membahas bisnis ayahnya di meja makan. Fokus orangtuanya hanya pada kebahagiaan anak-anaknya.
"Kamu kelihatannya cukup dekat dengan Kevin. Dia keberatan waktu pertunangan diputuskan?" tanyanya kemudian.
Ludwina mengerutkan kening. "Uhm.. technically, aku masih 'tunangan' Kevin....hahahaha, kami nggak pernah secara resmi memutuskannya, karena aku kan belum menemukan pacar yang aku suka....ahahaha..."
Pelayan datang membawakan minuman mereka. Kevin kemudian datang kembali dan duduk di sebelah Ludwina. Perasaan Andrea tiba-tiba menjadi tidak enak.
Buch teilen mit
Facebook
Twitter
Whatsapp
Reddit
Copy Link
Aktuellstes Kapitel
Kisah Cinta Ludwina & Andrea Bab 58 - Akhirnya Bahagia
"Aku sayang banget sama kamu, Andrea," bisik Ludwina ke telinga Andrea, "Aku ingin menghabiskan setiap hari mencintaimu."Andrea membantu Ludwina membuka pakaiannya dan dengan sangat hati-hati mencumbu istrinya. Ia sungguh merindukan tubuh Ludwina dan bercinta dengannya. Ia selalu menahan diri setelah mereka berkumpul bersama karena takut membuat Ludwina sakit, tetapi hari ini istrinya yang berinisiatif untuk bercinta dan ia tidak akan mengecewakannya.Mereka bercinta dengan sangat lembut dan menikmati setiap detik kebersamaan itu, jauh lebih syahdu dari biasanya, karena mereka tahu setiap detik mereka bersama adalah sangat berharga.Andrea sangat lega melihat rona wajah kemerah-merahan Ludwina yang diliputi rasa bahagia saat mereka tidur malam itu. Ia berharap dapat membekukan momen itu selamanya.***Bu Inggrid, Pak Kurniawan dan Johann kaget setengah mati ketika akhirnya Andrea memberi tahu mereka tentang penyakit Ludwina. Atas permintaan istrin
Kisah Cinta Ludwina & Andrea Bab 57 - Ludwina Ingin Sembuh
Mereka tiba di coffee shop langganan mereka dan barulah Andrea meletakkan Ludwina di kursi. Ia memesan kopi favorit keduanya lalu duduk di samping Ludwina sambil menggenggam tangannya. Ia tak mau melepaskan gadis itu sama sekali. Takkan pernah lagi!"Kamu mau berapa lama di New York?" tanyanya saat mereka sedang menikmati kopinya. "Aku mesti beli baju banyak kalau kita akan lama di sini.""Aku nggak tahu..." jawab Ludwina. "Aku mesti ketemu dokterku untuk konsultasi lagi besok.""Oke, aku ikut ya." kata Andrea cepat.Ludwina mengangguk.Mereka tidak membahas penyakit Ludwina sampai keduanya tiba di hotel. Andrea merasa lebih baik jika ia mendengar langsung dari dokter. Ia tak ingin membuat istrinya stress dengan berbagai pertanyaannya.Setelah memastikan Ludwina beristirahat, Andrea pergi ke toko terdekat dan membeli pakaian. Ia menolak ditemani karena tidak ingin Ludwina menjadi kelelahan. Setelah kembali ke hotel ia memesan makanan dan mer
Kisah Cinta Ludwina & Andrea Bab 56 - Pertemuan Di Central Park
Karena Ludwina tidak mengangkat ponselnya, Andrea akhirnya menghubungi Johann untuk mencari tahu keberadaan istrinya. Dari Johann ia mengetahui bahwa Ludwina sudah berangkat ke New York. Andrea segera memesan penerbangan ke sana tetapi kemudian ia sadar bahwa visa Amerika yang ada di paspornya baru saja kedaluwarsa.Ia ingat 5 tahun lalu mengajukan visa Amerika karena berniat traveling ke sana bersama Ludwina tetapi mereka malah menikah di Bali dan baru berangkat setahun kemudian. Visa yang diperolehnya valid untuk 5 tahun dan baru berakhir minggu ini.Sungguh mematahkan hati. Ketika akhirnya ia mengetahui apa yang terjadi dengan Ludwina, Andrea tak bisa segera menyusulnya.Andrea buru-buru pulang ke Inggris dan mengajukan visa Amerika lewat kedutaan Amerika Serikat di London. Ia sangat gelisah dan tidak bisa tidur sambil menunggu visanya diproses. Ia berusaha mengalihkan pikirannya dari Ludwina dengan bekerja, tetapi tidak berhasil."Joe, aku perlu bicar
Kisah Cinta Ludwina & Andrea Bab 55 - Andrea Ke Singapura
Sebenarnya Ludwina patah hati saat meninggalkan Andrea di pantai. Ia tak pernah melihat suaminya menangis sebelumnya dan hatinya tercabik-cabik saat ia harus menampilkan wajah dingin dan pergi meninggalkannya begitu saja.Ini demi kebaikan Andrea, berkali-kali ia meyakinkan dirinya sendiri.Ludwina segera meminta concierge memesankan taksi untuknya dan kembali ke Hotel Kanawa. Setibanya di sana ia segera masuk ke kamar dan mengurung diri. Tubuhnya merasa sangat lelah dan ia tak mampu bertemu siapa pun. Telepon dari Mbak Ria, editornya, pun harus ia tolak. Ia hanya mengirim SMS bahwa ia akan datang ke sesinya di UWRF besok dan hari ini ia ingin beristirahat dengan tanpa gangguan.***Andrea sebenarnya tergoda untuk datang ke UWRF dan melihat Ludwina lagi. Tetapi setiap mengingat betapa gadis itu masih belum memaafkannya, Andrea merasa sakit dan mengurungkan niatnya. Sepanjang hari ia hanya mencoba menghilangkan ke
Kisah Cinta Ludwina & Andrea Bab 54 - Pertemuan Dan Perpisahan Di Bali
Ludwina yang tiba di Hotel Hilton keesokan harinya mengira guest relation officer yang menemuinya juga mengenalinya sama seperti beberapa penggemar yang ia temui di Central Park. Ia mengikuti saja ketika staf itu membawanya ke kamar cantik menghadap laut yang ditinggali Andrea.Ia sebenarnya sudah check in di Hotel Kanawa milik ayahnya, sehingga ke Hilton hanya dengan membawa tas tangannya. Ia ingat bahwa hari ini adalah ulang tahun pernikahannya dengan Andrea. Mungkin ia akan menerima untuk makan malam bersama Andrea terakhir kalinya sebelum meminta dokumen perceraian itu dari suaminya dan mengakhiri pernikahan mereka.Ia melihat bunga dan prosecco dengan pita merah di kamar itu. Hatinya seketika terasa sakit, ia masih ingat dengan jelas malam itu ketika Andrea melamarnya. Ia melihat dua kemeja Andrea yang dibelikannya sebelum suaminya itu berangkat ke London dan pertahanannya runtuh.Ludwina kembali menangis untuk kesekian kalinya. Tadinya ia sudah mampu bersi
Kisah Cinta Ludwina & Andrea Bab 53 - Ludwina Mampir Ke London
Suasana menjadi syahdu dengan hujan rintik-rintik di luar jendela. Andrea lalu mengeluarkan sebotol wine dan dua gelas serta segelas jus untuk Ronan. Ia menuangkan wine untuk dirinya dan Adelina. Ia menyerahkan gelas berisi wine kepada gadis itu. Adelina menerimanya dengan sepassang mata masih berkaca-kaca."Sore-sore begini pas sekali untuk minum wine. Lumayan bisa membuat suasana hati menjadi lebih baik." Andrea mendentingkan gelasnya ke gelas Adelina dan meneguk wine-nya. "Minumlah... biar kau merasa baikan."Adelina mengangguk dan menyesap wine-nya. Wajahnya yang suram perlahan-lahan tampak mulai cerah."Wine makes adulting bearable (Wine membuat orang dewasa bisa bertahan hidup)." katanya dengan senyum mulai menghiasi wajahnya. Keduanya tertawa kecil. Andrea mengangguk juga, membenarkan."Aku tahu kamu perempuan kuat, tapi kalau kamu merasa sedang sedih dan ingin berbagi, tempatku dan segelas wine selalu siap menunggu," kata Andrea kemu
Kisah Cinta Ludwina & Andrea Bab 52 - It Was A Good Memory
SEPTEMBER 2018.Sudah setahun Ludwina dan Andrea berpisah. Andrea sudah mulai menerima kenyataan bahwa mungkin Ludwina tidak akan pernah memaafkannya, tetapi ia sungguh sangat ingin bertemu istrinya satu kali saja, untuk berusaha meyakinkannya...Email dari
Kisah Cinta Ludwina & Andrea Bab 51 - Kau Carilah Istrimu
Setelah enam bulan di London, Andrea masih belum menerima balasan dari email-emailnya. Ia tetap setia mengirim email setiap hari Minggu, tetapi kini ia sudah belajar untuk menerima kenyataan bahwa Ludwina tidak akan membalas.Kondisi perusahaan sudah stabil dan ia sudah bisa mengambil cuti
Kisah Cinta Ludwina & Andrea Bab 50 - I'm So Proud Of You
Ludwina tidak mengira bahwa novel sejarah yang ditulisnya mendapatkan sambutan sangat baik. Ini membuatnya sedikit terhibur. Ia sudah tidak memiliki akun di media sosial, tetapi ia banyak membaca review positif di internet dan berbagai artikel yang memuji ceritanya. Hal ini membuatnya semakin ber
Kisah Cinta Ludwina & Andrea Bab 24 - Bagaimana Dengan Kevin?
Ketika akhirnya Ludwina pulang ke Jakarta, Johann tak habis-habis menggodanya.
