Wird geladen
Startseite/ ALLE /Kisah Cinta Ludwina & Andrea/Bab 19 - Kencan Pertama Yang Terlalu Serius

Bab 19 - Kencan Pertama Yang Terlalu Serius

Josephine VDW
"Veröffentlichungsdatum: " 15.09.2020 14:18:07

"Aku dan Kevin ini punya kesepakatan, kalau sampai  umur 30 kami belum menemukan pasangan, kami kawin aja dengan masing-masing." Ludwina menerangkan dengan geli. Kevin mengangguk membenarkan.

"Tadinya kesepakatan batas umur yang kita sepakati adalah 25, terus karena Ludwina sekarang sudah 24, kita naikkan jadi 30. Mungkin nanti beberapa tahun lagi akan naik lagi jadi 35 atau 40...ahahaha... Zaman sekarang rasanya menikah makin menjadi tidak populer."

"Betul. Banyak orang yang menjadikan pernikahan sebagai tujuan hidup. Padahal itu hanya satu bagian kecil dari kehidupan manusia, masih ada karier, cita-cita, hubungan kita dengan orang lain, mimpi-mimpi yang ingin kita wujudkan. Menurutku sudah terlalu banyak orang yang menikah dan punya anak karena mereka tidak tahu lagi mau apa dalam hidup," kata Ludwina mengangkat bahu, "Aku mau menulis novel sukses dan menginspirasi orang lain."

"Aku mau buka restoran-restoran baru yang bisa membawa nama Indonesia ke kancah dunia. Aku mau mengembangkan grup perusahaan ayahku." Kevin menyambung.

"Kalau Andrea? Kamu mau apa?" tanya Ludwina sambil menatap Andrea. Pemuda itu tampak menimbang sesuatu, baru menjawab.

"Aku ingin menjadi security expert terbaik di Asia Pasifik, dan dunia," kata pemuda itu kemudian.

"Iya, kan? Kalau kita fokus pada impian kita masing-masing, kita tidak akan punya waktu untuk hal remeh seperti menikah dan punya anak," tukas Ludwina.

"Sudah dua tahun aku lulus kuliah dan sudah puluhan negara kudatangi untuk mencari inspirasi, aku masih belum bisa menjadi penulis betulan. Bayangkan apa yang terjadi kalau aku harus dihambat oleh suami dan anak."

"Eh, tapi kalau kita jadi menikah di umur 30, setidaknya kamu kasih aku anak satu, Win, biar ada yang meneruskan bisnisku," kata Kevin sambil tertawa,

"Kita bisa adopsi saja, Kevin sayang. Populasi manusia sudah terlalu banyak." Ludwina menggeleng-geleng.

"Memangnya kamu bisa menyayangi anak orang lain seperti anakmu sendiri? Kamu kan orangnya egois." tukas Kevin. Ludwina tampak tersinggung mendengarnya.

"Kamu kan tahu kalau aku sudah mengambil keputusan, aku pasti memegang teguh keputusanku itu. Aku pasti bertanggungjawablah." Ludwina menatap Kevin dengan mata menyipit dan penuh tuduhan sambil menghabiskan mojito pesanannya. "Siapa yang memelihara succulent* aja sampai mati kekeringan? Kamu kalau menjaga tanaman tetap hidup saja nggak bisa, jangan bicara soal punya anak dong."

Kevin garuk-garuk kepala mendengar tuduhan Ludwina. Tampangnya terlihat kalah. Ia lalu menoleh kepada Andrea untuk mencari dukungan.

"Ludwina kelamaan tinggal di Amerika. Pikirannya sama seperti kebanyakan anak milenial sana yang hanya mau traveling, nggak mau settle down, nggak mau menikah dan punya anak. Pandangannya sudah terlalu western. Aku masih percaya sama nilai-nilai timur karena aku kuliah di sini. Menurutku kita perlu memiliki keturunan untuk meneruskan legacy kita. Andrea, kamu kuliah di mana?"

"UI," jawab Andrea. "Tapi aku setuju sih dengan Ludwina, punya anak itu tanggung jawab besar. Kita nggak hanya perlu uang, tapi juga dedikasi, kasih sayang, dan waktu. Orang yang nggak bisa menjaga tanaman atau hewan peliharaan, sebaiknya nggak usah punya anak. Banyak orang yang punya anak tanpa persiapan dan akhirnya terjadi banyak masalah, menghasilkan anak-anak yang tidak bahagia di dunia ini, dan akhirnya ada banyak orang dewasa yang juga tidak bahagia."

Ludwina tersenyum lebar mendengar penjelasan Andrea.

"Jadi kamu setuju bahwa manusia sudah terlalu banyak dan kita nggak perlu punya anak?" tanyanya sambil melirik Kevin, senyum lebar tersungging di bibirnya.

"Aku setuju bahwa orang yang nggak mampu menjadi orangtua yang baik sebaiknya tidak punya anak." Andrea menyesap wine-nya pelan-pelan, sebelum melanjutkan, "Aku suka berkebun dan punya dua anjing di rumah. Tanaman dan anjing-anjingku hidup sehat dan bahagia."

Seketika senyum Ludwina menghilang. Ia dan Kevin saling pandang dan keduanya garuk-garuk kepala.

"YOU want to have kids?" tanya Ludwina kemudian.

"Yes," jawab Andrea mantap.

"Umur kamu baru 27 kan?" tanya Ludwina lagi. "Biasanya cowok umur segitu masih senang-senangnya main dan mencari pengalaman. Johann saja sudah hampir 30 tapi masih sibuk mengejar kariernya sebagai dokter. Dia pacaran sudah hampir 6 tahun dengan Irma dan mereka juga santai saja tuh."

"Kamu percaya nggak kalau aku hampir menikah 4 tahun lalu? Umurku waktu itu baru 23 tahun," jawab Andrea. "When you meet the right person, you shouldn't let go. Kalau mengejar karier dan pengalaman, sampai kapan pun nggak ada habisnya."

Ludwina tertegun. Ia tak pernah menduga pembicaraan mereka akan menjadi seserius ini. Ini kencan pertama mereka kan? Ia tidak pernah tahu Andrea pernah hampir menikah. Dengan siapa? Kenapa tidak jadi? Siapa perempuan itu? Apa Andrea masih mencintainya??

Kevin yang menyadari pembicaraan di antara kedua tamunya ini menjadi serius, akhirnya mendeham dan permisi untuk menyapa tamu-tamu restoran yang lain.

Makanan yang mereka pesan tiba dan keduanya mulai makan dalam diam. Tepatnya karena Ludwina yang tidak berbicara apa-apa sambil menghabiskan main coursenya, dan ia menghindari tatapan Andrea. Pikirannya dipenuhi pertanyaan dan ia tidak tahu harus mulai menginterogasi Andrea dari mana.

Lagipula... ia tidak merasa berhak terlalu banyak bertanya, karena Andrea bukan apa-apanya. Mereka hanya janjian malam ini untuk makan malam setelah 7 bulan tidak bertemu.

Ludwina menyukai Andrea karena pemuda tampan itu sangat sabar,  pintar, dan membuat hatinya berbunga-bunga. Dan ia merasa Andrea juga menyukainya. Tetapi mereka baru di tahap berteman, dan Ludwina tidak tahu sejauh apa ia bisa bertanya tentang kehidupan pribadi pemuda itu. Ia tidak mau lancang.

Untuk pertama kalinya dalam hidup, Ludwina merasa tidak bisa menemukan bahan pembicaraan.

Möchten Sie wissen, wie es weitergeht?
Weiterlesen
Vorheriges Kapitel
Nächstes Kapitel

Buch teilen mit

  • Facebook
  • Twitter
  • Whatsapp
  • Reddit
  • Copy Link

Aktuellstes Kapitel

Kisah Cinta Ludwina & Andrea   Bab 58 - Akhirnya Bahagia

"Aku sayang banget sama kamu, Andrea," bisik Ludwina ke telinga Andrea, "Aku ingin menghabiskan setiap hari mencintaimu."Andrea membantu Ludwina membuka pakaiannya dan dengan sangat hati-hati mencumbu istrinya. Ia sungguh merindukan tubuh Ludwina dan bercinta dengannya. Ia selalu menahan diri setelah mereka berkumpul bersama karena takut membuat Ludwina sakit, tetapi hari ini istrinya yang berinisiatif untuk bercinta dan ia tidak akan mengecewakannya.Mereka bercinta dengan sangat lembut dan menikmati setiap detik kebersamaan itu, jauh lebih syahdu dari biasanya, karena mereka tahu setiap detik mereka bersama adalah sangat berharga.Andrea sangat lega melihat rona wajah kemerah-merahan Ludwina yang diliputi rasa bahagia saat mereka tidur malam itu. Ia berharap dapat membekukan momen itu selamanya.***Bu Inggrid, Pak Kurniawan dan Johann kaget setengah mati ketika akhirnya Andrea memberi tahu mereka tentang penyakit Ludwina. Atas permintaan istrin

Kisah Cinta Ludwina & Andrea   Bab 57 - Ludwina Ingin Sembuh

Mereka tiba di coffee shop langganan mereka dan barulah Andrea meletakkan Ludwina di kursi. Ia memesan kopi favorit keduanya lalu duduk di samping Ludwina sambil menggenggam tangannya. Ia tak mau melepaskan gadis itu sama sekali. Takkan pernah lagi!"Kamu mau berapa lama di New York?" tanyanya saat mereka sedang menikmati kopinya. "Aku mesti beli baju banyak kalau kita akan lama di sini.""Aku nggak tahu..." jawab Ludwina. "Aku mesti ketemu dokterku untuk konsultasi lagi besok.""Oke, aku ikut ya." kata Andrea cepat.Ludwina mengangguk.Mereka tidak membahas penyakit Ludwina sampai keduanya tiba di hotel. Andrea merasa lebih baik jika ia mendengar langsung dari dokter. Ia tak ingin membuat istrinya stress dengan berbagai pertanyaannya.Setelah memastikan Ludwina beristirahat, Andrea pergi ke toko terdekat dan membeli pakaian. Ia menolak ditemani karena tidak ingin Ludwina menjadi kelelahan. Setelah kembali ke hotel ia memesan makanan dan mer

Kisah Cinta Ludwina & Andrea   Bab 56 - Pertemuan Di Central Park

Karena Ludwina tidak mengangkat ponselnya, Andrea akhirnya menghubungi Johann untuk mencari tahu keberadaan istrinya. Dari Johann ia mengetahui bahwa Ludwina sudah berangkat ke New York. Andrea segera memesan penerbangan ke sana tetapi kemudian ia sadar bahwa visa Amerika yang ada di paspornya baru saja kedaluwarsa.Ia ingat 5 tahun lalu mengajukan visa Amerika karena berniat traveling ke sana bersama Ludwina tetapi mereka malah menikah di Bali dan baru berangkat setahun kemudian. Visa yang diperolehnya valid untuk 5 tahun dan baru berakhir minggu ini.Sungguh mematahkan hati. Ketika akhirnya ia mengetahui apa yang terjadi dengan Ludwina, Andrea tak bisa segera menyusulnya.Andrea buru-buru pulang ke Inggris dan mengajukan visa Amerika lewat kedutaan Amerika Serikat di London. Ia sangat gelisah dan tidak bisa tidur sambil menunggu visanya diproses. Ia berusaha mengalihkan pikirannya dari Ludwina dengan bekerja, tetapi tidak berhasil."Joe, aku perlu bicar

Kisah Cinta Ludwina & Andrea   Bab 55 - Andrea Ke Singapura

Sebenarnya Ludwina patah hati saat meninggalkan Andrea di pantai. Ia tak pernah melihat suaminya menangis sebelumnya dan hatinya tercabik-cabik saat ia harus menampilkan wajah dingin dan pergi meninggalkannya begitu saja.Ini demi kebaikan Andrea, berkali-kali ia meyakinkan dirinya sendiri.Ludwina segera meminta concierge memesankan taksi untuknya dan kembali ke Hotel Kanawa. Setibanya di sana ia segera masuk ke kamar dan mengurung diri. Tubuhnya merasa sangat lelah dan ia tak mampu bertemu siapa pun. Telepon dari Mbak Ria, editornya, pun harus ia tolak. Ia hanya mengirim SMS bahwa ia akan datang ke sesinya di UWRF besok dan hari ini ia ingin beristirahat dengan tanpa gangguan.***Andrea sebenarnya tergoda untuk datang ke UWRF dan melihat Ludwina lagi. Tetapi setiap mengingat betapa gadis itu masih belum memaafkannya, Andrea merasa sakit dan mengurungkan niatnya. Sepanjang hari ia hanya mencoba menghilangkan ke

Kisah Cinta Ludwina & Andrea   Bab 54 - Pertemuan Dan Perpisahan Di Bali

Ludwina yang tiba di Hotel Hilton keesokan harinya mengira guest relation officer yang menemuinya juga mengenalinya sama seperti beberapa penggemar yang ia temui di Central Park. Ia mengikuti saja ketika staf itu membawanya ke kamar cantik menghadap laut yang ditinggali Andrea.Ia sebenarnya sudah check in di Hotel Kanawa milik ayahnya, sehingga ke Hilton hanya dengan membawa tas tangannya. Ia ingat bahwa hari ini adalah ulang tahun pernikahannya dengan Andrea. Mungkin ia akan menerima untuk makan malam bersama Andrea terakhir kalinya sebelum meminta dokumen perceraian itu dari suaminya dan mengakhiri pernikahan mereka.Ia melihat bunga dan prosecco dengan pita merah di kamar itu. Hatinya seketika terasa sakit, ia masih ingat dengan jelas malam itu ketika Andrea melamarnya. Ia melihat dua kemeja Andrea yang dibelikannya sebelum suaminya itu berangkat ke London dan pertahanannya runtuh.Ludwina kembali menangis untuk kesekian kalinya. Tadinya ia sudah mampu bersi

Kisah Cinta Ludwina & Andrea   Bab 53 - Ludwina Mampir Ke London

Suasana menjadi syahdu dengan hujan rintik-rintik di luar jendela. Andrea lalu mengeluarkan sebotol wine dan dua gelas serta segelas jus untuk Ronan. Ia menuangkan wine untuk dirinya dan Adelina. Ia menyerahkan gelas berisi wine kepada gadis itu. Adelina menerimanya dengan sepassang mata masih berkaca-kaca."Sore-sore begini pas sekali untuk minum wine. Lumayan bisa membuat suasana hati menjadi lebih baik." Andrea mendentingkan gelasnya ke gelas Adelina dan meneguk wine-nya. "Minumlah... biar kau merasa baikan."Adelina mengangguk dan menyesap wine-nya. Wajahnya yang suram perlahan-lahan tampak mulai cerah."Wine makes adulting bearable (Wine membuat orang dewasa bisa bertahan hidup)." katanya dengan senyum mulai menghiasi wajahnya. Keduanya tertawa kecil. Andrea mengangguk juga, membenarkan."Aku tahu kamu perempuan kuat, tapi kalau kamu merasa sedang sedih dan ingin berbagi, tempatku dan segelas wine selalu siap menunggu," kata Andrea kemu

Kisah Cinta Ludwina & Andrea   Bab 40 - Pernikahan Yang Syahdu

Hari pernikahan tiba seperti mimpi. Rasanya baru kemarin Ludwina bertubrukan dengan Andrea di bandara, lalu bertualang bersama di Eropa, dan kemudian Andrea melamarnya... dan kini hari sakral itu tiba, saat mereka akhirnya akan menjadi suami istri.Laura dan Pierre terbang dari Paris karen

Kisah Cinta Ludwina & Andrea   Bab 39 - Ingin Menikah Dengan Sederhana

Setelah makan malam, Ludwina mencuci piring makan mereka dan membersihkan meja makan. Dalam hati ia merasa sangat gembira dengan pembagian tugas seperti ini. Ia merasa seperti pasangan-pasangan modern yang hidup berdua tanpa pembantu dan berbagi tugas rumah tangga.Setelah semua rapi kemba

Kisah Cinta Ludwina & Andrea   Bab 38 - Membahas Pernikahan

Ludwina masih belum dapat percaya bahwa ia akan menikah dengan Andrea. Mereka sudah kenal hampir setahun, tetapi baru menjadi dekat selama beberapa bulan terakhir, terutama sejak bertualang bersama di Eropa.Ia mengambil foto jari manisnya yang berhiaskan cincin berlian dari Andrea dan cuk

Kisah Cinta Ludwina & Andrea   Bab 37 - Will You Marry Me?

Andrea pelan-pelan melepaskan diri dari Ludwina dan ia tersenyum geli melihat gadis itu tampak kecewa. Ia mencuil hidung Ludwina dan tertawa."Aku sudah janji sama ayahmu untuk memperlakukanmu dengan penuh hormat. Aku nggak mau melanggar janji.""Kamu bicara sama ayah?" tanya Ludwin

Weitere Kapitel
Buch herunterladen
GoodNovel

Buch kostenlos herunterladen

Download
Suchen
Bibliothek
Stöbern
RomantikAlternativgeschichteUrbanWerwolfMafiaSystemFantasyLGBTQ+
Kurzgeschichten
LiebeskummerGeheimnisModerne StadtApokalypse-Überleb1enshort-Science-FictionLiebesroman0
ErstellenVorteile für Autor:innenWettbewerb
Beliebte Genres
RomantikAlternativgeschichteUrbanWerwolfMafiaSystem
Kontaktieren uns
Über unsHilfe & VorschlägeGeschäft
Ressourcen
Apps herunterladenVorteile für Autor:innenInhaltsrichtlinieTop-SuchanfragenFAQFAQ-IDFAQ-FILFAQ-THFAQ-JAFAQ-ARFAQ-ESFAQ-KOFAQ-DEFAQ-FRFAQ-PTGoodNovel vs Competitors
Community
Facebook Group
Folge uns
GoodNovel
Copyright ©‌ 2026 GoodNovel
Nutzungsbedingungen|Datenschutz