Wird geladen
Startseite/ ALLE /Kisah Cinta Ludwina & Andrea/Bab 13 - Makan Malam Dengan Keluarga Ludwina

Bab 13 - Makan Malam Dengan Keluarga Ludwina

Josephine VDW
"Veröffentlichungsdatum: " 26.08.2020 14:40:45

"Nggak usah, Pak. Harusnya saya wawancara kerja besok pagi di Middle Road. Nggak akan keburu."

Semua orang di meja makan saling pandang. Ludwina menekap mulutnya dengan kaget.

"Wahh.. maaf, kamu jadi nggak bisa datang wawancara kerja..."

"Nggak apa-apa, serius. It's just a job interview. Nanti juga ada lagi." Memang Andrea tidak terlalu kuatir. Ada beberapa perusahaan yang sedang mendekatinya untuk bekerja bagi mereka.

Keinginannya bekerja di Singapura tidak terlalu besar karena ia tidak ingin meninggalkan ibunya. Apalagi Singapura mengingatkannya akan rencana pernikahannya yang gagal 3 tahun lalu.

"Kamu kirim resume ke sini, deh. Nanti saya carikan posisi yang sesuai untuk kamu." kata Pak Kurniawan kemudian. Andrea menggeleng-geleng sambil tertawa ringan.

"Serius, nggak apa-apa, Pak. Buat saya yang lebih penting adalah memastikan kalau Ludwina nggak kenapa-kenapa. Saya sangat takut kalau melukai anak Bapak."

Ludwina tampak mengangkat wajah dan mengangguk-angguk. "Betul sekali. Laki-laki memang harus bertanggung jawab. Minta nomor telepon kamu ya. Besok aku kirim jadwal fisioterapi."

Johann tampak memandang Ludwina dengan pandangan jahil tetapi gadis itu tidak perduli. "Dokter Indra bilang aku perlu fisioterapi sebulan! Kamu nggak percaya sama teman kuliahmu sendiri?"

"OK, tapi kalau ada apa-apa, kamu jangan sungkan minta bantuan saya, ya." kata Pak Kurniawan kemudian.

Seisi ruangan bisa melihat dengan jelas Ludwina yang memandang Andrea dengan penuh kekaguman, dan betapa Andrea tak pernah berhenti tersenyum sepanjang mereka makan malam. Pak Kurniawan, Bu Inggrid, dan Johann tampak saling pandang dengan penuh makna.

Selama makan malam yang berlangsung dua jam itu, Andrea tiba-tiba saja sudah terasa seperti keluarga sendiri. Entah bagaimana hal itu terjadi, ia juga tidak mengerti.

Mereka bicara banyak hal remeh-temeh dan tidak terasa waktu pun menunjukkan pukul 10 malam dan ia harus pulang. Dengan agak berat hati ia pamit.

Dalam hati tiba-tiba ia merasakan suatu kehilangan. Mungkin ini rasanya memiliki keluarga yang utuh. Melihat betapa keluarga Ludwina sangat hangat dan bahagia, sesisip rasa iri muncul di lubuk hatinya.

Seandainya nanti ia punya keluarga sendiri, ia akan memastikan bahwa keluarganya akan hangat dan bahagia seperti itu. Anak-anaknya akan memiliki orangtua yang sabar dan penuh kasih sayang.

Ia akan menjadi ayah yang baik bagi anak-anaknya, dan suami yang penuh cinta bagi istrinya. Ia sangat mengagumi Pak Kurniawan.

***

Möchten Sie wissen, wie es weitergeht?
Weiterlesen
Vorheriges Kapitel
Nächstes Kapitel

Buch teilen mit

  • Facebook
  • Twitter
  • Whatsapp
  • Reddit
  • Copy Link

Aktuellstes Kapitel

Kisah Cinta Ludwina & Andrea   Bab 58 - Akhirnya Bahagia

"Aku sayang banget sama kamu, Andrea," bisik Ludwina ke telinga Andrea, "Aku ingin menghabiskan setiap hari mencintaimu."Andrea membantu Ludwina membuka pakaiannya dan dengan sangat hati-hati mencumbu istrinya. Ia sungguh merindukan tubuh Ludwina dan bercinta dengannya. Ia selalu menahan diri setelah mereka berkumpul bersama karena takut membuat Ludwina sakit, tetapi hari ini istrinya yang berinisiatif untuk bercinta dan ia tidak akan mengecewakannya.Mereka bercinta dengan sangat lembut dan menikmati setiap detik kebersamaan itu, jauh lebih syahdu dari biasanya, karena mereka tahu setiap detik mereka bersama adalah sangat berharga.Andrea sangat lega melihat rona wajah kemerah-merahan Ludwina yang diliputi rasa bahagia saat mereka tidur malam itu. Ia berharap dapat membekukan momen itu selamanya.***Bu Inggrid, Pak Kurniawan dan Johann kaget setengah mati ketika akhirnya Andrea memberi tahu mereka tentang penyakit Ludwina. Atas permintaan istrin

Kisah Cinta Ludwina & Andrea   Bab 57 - Ludwina Ingin Sembuh

Mereka tiba di coffee shop langganan mereka dan barulah Andrea meletakkan Ludwina di kursi. Ia memesan kopi favorit keduanya lalu duduk di samping Ludwina sambil menggenggam tangannya. Ia tak mau melepaskan gadis itu sama sekali. Takkan pernah lagi!"Kamu mau berapa lama di New York?" tanyanya saat mereka sedang menikmati kopinya. "Aku mesti beli baju banyak kalau kita akan lama di sini.""Aku nggak tahu..." jawab Ludwina. "Aku mesti ketemu dokterku untuk konsultasi lagi besok.""Oke, aku ikut ya." kata Andrea cepat.Ludwina mengangguk.Mereka tidak membahas penyakit Ludwina sampai keduanya tiba di hotel. Andrea merasa lebih baik jika ia mendengar langsung dari dokter. Ia tak ingin membuat istrinya stress dengan berbagai pertanyaannya.Setelah memastikan Ludwina beristirahat, Andrea pergi ke toko terdekat dan membeli pakaian. Ia menolak ditemani karena tidak ingin Ludwina menjadi kelelahan. Setelah kembali ke hotel ia memesan makanan dan mer

Kisah Cinta Ludwina & Andrea   Bab 56 - Pertemuan Di Central Park

Karena Ludwina tidak mengangkat ponselnya, Andrea akhirnya menghubungi Johann untuk mencari tahu keberadaan istrinya. Dari Johann ia mengetahui bahwa Ludwina sudah berangkat ke New York. Andrea segera memesan penerbangan ke sana tetapi kemudian ia sadar bahwa visa Amerika yang ada di paspornya baru saja kedaluwarsa.Ia ingat 5 tahun lalu mengajukan visa Amerika karena berniat traveling ke sana bersama Ludwina tetapi mereka malah menikah di Bali dan baru berangkat setahun kemudian. Visa yang diperolehnya valid untuk 5 tahun dan baru berakhir minggu ini.Sungguh mematahkan hati. Ketika akhirnya ia mengetahui apa yang terjadi dengan Ludwina, Andrea tak bisa segera menyusulnya.Andrea buru-buru pulang ke Inggris dan mengajukan visa Amerika lewat kedutaan Amerika Serikat di London. Ia sangat gelisah dan tidak bisa tidur sambil menunggu visanya diproses. Ia berusaha mengalihkan pikirannya dari Ludwina dengan bekerja, tetapi tidak berhasil."Joe, aku perlu bicar

Kisah Cinta Ludwina & Andrea   Bab 55 - Andrea Ke Singapura

Sebenarnya Ludwina patah hati saat meninggalkan Andrea di pantai. Ia tak pernah melihat suaminya menangis sebelumnya dan hatinya tercabik-cabik saat ia harus menampilkan wajah dingin dan pergi meninggalkannya begitu saja.Ini demi kebaikan Andrea, berkali-kali ia meyakinkan dirinya sendiri.Ludwina segera meminta concierge memesankan taksi untuknya dan kembali ke Hotel Kanawa. Setibanya di sana ia segera masuk ke kamar dan mengurung diri. Tubuhnya merasa sangat lelah dan ia tak mampu bertemu siapa pun. Telepon dari Mbak Ria, editornya, pun harus ia tolak. Ia hanya mengirim SMS bahwa ia akan datang ke sesinya di UWRF besok dan hari ini ia ingin beristirahat dengan tanpa gangguan.***Andrea sebenarnya tergoda untuk datang ke UWRF dan melihat Ludwina lagi. Tetapi setiap mengingat betapa gadis itu masih belum memaafkannya, Andrea merasa sakit dan mengurungkan niatnya. Sepanjang hari ia hanya mencoba menghilangkan ke

Kisah Cinta Ludwina & Andrea   Bab 54 - Pertemuan Dan Perpisahan Di Bali

Ludwina yang tiba di Hotel Hilton keesokan harinya mengira guest relation officer yang menemuinya juga mengenalinya sama seperti beberapa penggemar yang ia temui di Central Park. Ia mengikuti saja ketika staf itu membawanya ke kamar cantik menghadap laut yang ditinggali Andrea.Ia sebenarnya sudah check in di Hotel Kanawa milik ayahnya, sehingga ke Hilton hanya dengan membawa tas tangannya. Ia ingat bahwa hari ini adalah ulang tahun pernikahannya dengan Andrea. Mungkin ia akan menerima untuk makan malam bersama Andrea terakhir kalinya sebelum meminta dokumen perceraian itu dari suaminya dan mengakhiri pernikahan mereka.Ia melihat bunga dan prosecco dengan pita merah di kamar itu. Hatinya seketika terasa sakit, ia masih ingat dengan jelas malam itu ketika Andrea melamarnya. Ia melihat dua kemeja Andrea yang dibelikannya sebelum suaminya itu berangkat ke London dan pertahanannya runtuh.Ludwina kembali menangis untuk kesekian kalinya. Tadinya ia sudah mampu bersi

Kisah Cinta Ludwina & Andrea   Bab 53 - Ludwina Mampir Ke London

Suasana menjadi syahdu dengan hujan rintik-rintik di luar jendela. Andrea lalu mengeluarkan sebotol wine dan dua gelas serta segelas jus untuk Ronan. Ia menuangkan wine untuk dirinya dan Adelina. Ia menyerahkan gelas berisi wine kepada gadis itu. Adelina menerimanya dengan sepassang mata masih berkaca-kaca."Sore-sore begini pas sekali untuk minum wine. Lumayan bisa membuat suasana hati menjadi lebih baik." Andrea mendentingkan gelasnya ke gelas Adelina dan meneguk wine-nya. "Minumlah... biar kau merasa baikan."Adelina mengangguk dan menyesap wine-nya. Wajahnya yang suram perlahan-lahan tampak mulai cerah."Wine makes adulting bearable (Wine membuat orang dewasa bisa bertahan hidup)." katanya dengan senyum mulai menghiasi wajahnya. Keduanya tertawa kecil. Andrea mengangguk juga, membenarkan."Aku tahu kamu perempuan kuat, tapi kalau kamu merasa sedang sedih dan ingin berbagi, tempatku dan segelas wine selalu siap menunggu," kata Andrea kemu

Kisah Cinta Ludwina & Andrea   Bab 44 - Berita Buruk Yang Datang Bersamaan

Ia harus mendapatkan opini dokter. Ia tak akan bisa merahasiakan kehamilannya dan memberi Andrea kejutan kalau suaminya ikut menemani ke dokter. Karena itulah ia menyuruh Andrea tetap berangkat ke kantor."Baiklah. Kamu jaga diri, Sayang. Aku telepon setiap jam ya. Aku sayang kamu." Akhirn

Kisah Cinta Ludwina & Andrea   Bab 43 - Kamu... Ingin Punya Anak?

Ulang tahun pernikahan mereka yang ketiga, Andrea dan Ludwina kembali ke Paris. Laura dan Pierre sudah menjadi orang tua. Mereka memiliki sepasang bayi kembar laki-laki yang lucu sekali berumur dua tahun. Julien dan Francoise memiliki wajah persis seperti Laura, tetapi matanya berwarna hijau ceme

Kisah Cinta Ludwina & Andrea   Bab 42 - Andrea Sangat Ingin Mempunyai Anak

Pembicaraan Ludwina dan Andrea terdengar oleh pasangan suami istri separuh baya yang duduk di dekat mereka, dan keduanya segera menyapa pasangan muda itu dengan ramah."Selamat siang, kalian dari Indonesia juga?" tanya sang wanita separuh baya, "Mau ke Jakarta?""Oh, hallo, Ibu... s

Kisah Cinta Ludwina & Andrea   Bab 41 - Kehidupan Pengantin Baru

Sejak malam pertama mereka, Andrea hampir tidak pernah lagi memanggil nama Ludwina. Ia selalu menggunakan kata "Sayang" saat memanggil gadis itu. Awalnya Ludwina masih merasa geli dipanggil demikian, karena ia terbiasa saling memanggil nama bahkan dengan kakaknya yang jauh lebih tua.Setel

Weitere Kapitel
Buch herunterladen
GoodNovel

Buch kostenlos herunterladen

Download
Suchen
Bibliothek
Stöbern
RomantikAlternativgeschichteUrbanWerwolfMafiaSystemFantasyLGBTQ+
Kurzgeschichten
LiebeskummerGeheimnisModerne StadtApokalypse-Überleb1enshort-Science-FictionLiebesroman0
ErstellenVorteile für Autor:innenWettbewerb
Beliebte Genres
RomantikAlternativgeschichteUrbanWerwolfMafiaSystem
Kontaktieren uns
Über unsHilfe & VorschlägeGeschäft
Ressourcen
Apps herunterladenVorteile für Autor:innenInhaltsrichtlinieTop-SuchanfragenFAQFAQ-IDFAQ-FILFAQ-THFAQ-JAFAQ-ARFAQ-ESFAQ-KOFAQ-DEFAQ-FRFAQ-PTGoodNovel vs Competitors
Community
Facebook Group
Folge uns
GoodNovel
Copyright ©‌ 2026 GoodNovel
Nutzungsbedingungen|Datenschutz