Buch kostenlos herunterladen
Bab 12 - Ludwina Yang Menggemaskan
Josephine VDWMereka terpaksa harus menunggu setengah jam. Teh dan kue-kue disajikan sambil mereka menunggu, dan kepala bandara asyik mengobrol dengan Ludwina tentang perjalanannya.
"Aku baru pulang dari Hong Kong, Oom. Ayah membuka hotel baru di Kowloon, jadi aku mau sekalian coba menginap di sana dan mencari inspirasi menulis. Oom punya koran kompas hari sabtu kemarin nggak?"
"Ada. Kenapa?"
"Artikel perjalananku ke Italia sudah terbit...ahahaha... aku senang banget. Susah lho menulisnya."
Andrea mengambil koran Kompas yang dimaksud dari tumpukan koran di atas meja lalu membuka-buka halamannya sambil mendengarkan obrolan kedua orang itu. Ia menemukan artikel yang dimaksud Ludwina, ia lalu membacanya.
"Ini dokumen yang bapak minta," kata sekretaris yang baru datang dengan setumpuk dokumen. Kepala bandara akhirnya segera mengambil satu formulir dan mengisi beberapa data dan memberi cap, lalu menyerahkannya kepada Ludwina.
"OK, sudah beres, kalian serahkan saja surat ini di pintu keluar." katanya sambil mengedip kepada Ludwina. Andrea mengernyitkan kening. Ia curiga jangan-jangan seharusnya proses meminta surat jalan ini bisa selesai dari tadi. Untuk apa kepala bandara sepertinya sengaja melama-lamakan?
"Terima kasih, Oom. Nanti aku sampaikan salamnya ke ayah."
"Baik. Oh, ya, Andrea... tolong antar Ludwina pulang sampai ke rumah, ya. Dengan kaki terkilir begitu dia tidak bisa pulang sendiri. Jadi laki-laki harus bertanggung jawab," ujar Kepala Bandara saat melepas mereka. Andrea mengangguk.
Toh pesawatnya sudah berangkat. Mungkin ia nanti masih sempat membeli tiket malam hari dan tetap bisa datang ke wawancaranya besok. Ia mendorong troli berisi koper-koper dan Ludwina keluar terminal dan segera mengambil taksi
"Aku hanya naik Golden Bird," kata Ludwina cepat. Ia sudah tidak ber gue-elu lagi. "Aku yang bayar, tenang saja."
"OK." jawab Andrea. Supir menaruh koper-koper di bagasi dan Andrea membantu menggendong Ludwina masuk ke dalam taksi Golden Bird.
"Menteng ya, Pak. Jalan Teuku Umar."
"Baik, Non."
Gadis ini pasti kaya sekali, pikir Andrea. Ia tahu daerah Menteng adalah daerah paling elit di Jakarta dan berisi orang-orang kaya lama. Mengingat hubungan dekatnya dengan kepala bandara barusan, dan sekarang naik Golden Bird, ia pasti anak orang kaya. Andrea mendesah. Ia ingat keluarga Adelina juga dulu tinggal di Menteng sebelum pindah ke London.
Taksi berhenti di sebuah rumah megah bak istana, mungkin salah satu rumah paling mewah di kawasan perumahan elit tersebut.
Supir menurunkan koper-koper yang segera diambil oleh tukang kebun dan dimasukkan ke dalam. Ludwina mengulurkan tangannya memberi tanda agar Andrea menggendongnya turun.
Saat itulah Andrea baru memperhatikan wajah gadis manja itu baik-baik. Wajahnya kekanakan dan matanya besar bersinar-sinar. Kulitnya semulus salju dan ada bintik-bintik coklat di sekitar hidung dan pipinya yang membuatnya tampak imut sekali. Rambutnya lurus dan sangat lebat membingkai wajah cantiknya dengan sempurna.
Usianya mungkin masih 18 tahun. Kenapa orangtuanya membiarkannya bepergian sendirian ke luar negeri?
"Anak kecil seperti kamu kenapa dibiarkan pergi sendirian, sih?" tanya Andrea keheranan. Tapi diangkatnya juga Ludwina dari mobil dan digendong masuk ke rumah, melintasi taman asri yang sangat luas.
"Siapa yang anak kecil? Aku sudah 24 tauk! Aku baru lulus dari Columbia University dengan gelar terhormat," tukas Ludwina.
Oh, OK. Ternyata anak ini sudah lulus kuliah, tapi penampilan dan kelakuannya masih seperti kanak-kanak, pikir Andrea. Seorang perempuan cantik setengah baya keluar dari dalam dan cepat menghampiri mereka dengan wajah kuatir.
"Ya aampuuunn, Wina... ada apa? Kenapa kamu digendong begini? Kamu sakit?"
"Tadi aku tubrukan sama dia dan kakiku terkilir, mungkin retak...huhuhu..." Ludwina mulai meneteskan air mata buaya.
"Waduh...kalau begitu langsung ke Rumah Sakit saja ya, biar Johann yang periksa," kata ibunya dengan cemas.
Keduanya menoleh pada Andrea yang tidak punya pilihan selain mengangguk. Mobil Alphard dikeluarkan dan Andrea membawa Ludwina masuk ke dalam. Ia terpaksa menemani gadis itu ke rumah sakit. Ibunya duduk di sebelah supir dan dengan cepat mobil itu melaju ke RSCM.
Lagi-lagi Andrea menggendong Ludwina turun dari mobil ke rumah sakit karena kursi roda sedang habis. Mereka segera menemui dokter di poli tulang. Kaki Ludwina segera dirontgen dan mereka konsultasi dengan dokter sambil menunggu hasilnya.
"Kalau kakinya nggak retak dan nggak perlu digips, bisa penyembuhan sendiri di rumah." kata dokter muda di depan mereka.
"Tapi pasti perlu physiotherapy kan, Dok, biar bisa berfungsi normal dengan cepat?" tanya Ludwina buru-buru. Matanya menatap dokter Indra cukup lama hingga membuatnya tidak nyaman. Dokter Indra menoleh ke arah Andrea dan seketika mengerti maksud Ludwina.
Ia berdeham, "Yah, tergantung. Kalau mau cepat sembuh, memang harus physiotherapy."
Hasil rontgen pun tiba dan tidak ditemukan patah atau retak, yang membuat Andrea cukup lega. Ia tak bisa membayangkan bila Ludwina sampai mengalami patah kaki karena dirinya. Keluarganya yang kaya pasti tidak akan membiarkannya begitu saja.
Ia mendesah saat melihat jam. Sudah pukul 8 malam, ia tak mungkin bisa terbang ke Singapura malam ini dan menghadiri wawancara kerja besok.
Mereka lalu pulang kembali ke rumah Ludwina di Menteng. Karena sudah malam, seisi keluarga sudah berkumpul ketika mereka tiba. Ayah Ludwina adalah seorang lelaki separuh baya berwajah sabar dan kakaknya ternyata seorang dokter yang masih mengenakan jas dokternya saat baru tiba di rumah.
"Eh, sudah waktunya makan malam. Nak Andrea ikut makan di sini, ya. Terima kasih banyak sudah menolong dan mengurusi Ludwina kami seharian ini. Kami sangat berterima kasih..." kata ibu Ludwina saat Andrea meletakkan Ludwina di sofa. Ia tampak bingung, ia tidak menduga keluarga Ludwina akan begini ramah kepadanya.
"Iya, ikut makan di sini saja. Kita juga harus membicarakan jadwal fisioterapi untuk kakiku," tukas Ludwina. Johann tampak keheranan mendengarnya.
"Kakimu kan cuma terkilir? Buat apa fisioterapi?"
"Pssshh.. Dokter Indra sendiri yang bilang aku perlu fisioterapi. Kau tahu apa? Kau kan bukan spesialis tulang!" sergah Ludwina.
Andrea hanya bisa tersenyum simpul mendengar keributan mereka. Ia tahu niat Ludwina dan ia merasa tersanjung karena gadis itu sepertinya menyukainya dan sedari tadi berusaha mencari cara untuk membuat Andrea tinggal.
Keluarganya pun tampak sangat menyenangkan. Melihat dari rumahnya, keluarga ini pasti kaya sekali, tetapi sikap mereka sangat membumi dan ramah. Andrea merasa tersentuh.
Buch teilen mit
Facebook
Twitter
Whatsapp
Reddit
Copy Link
Aktuellstes Kapitel
Kisah Cinta Ludwina & Andrea Bab 58 - Akhirnya Bahagia
"Aku sayang banget sama kamu, Andrea," bisik Ludwina ke telinga Andrea, "Aku ingin menghabiskan setiap hari mencintaimu."Andrea membantu Ludwina membuka pakaiannya dan dengan sangat hati-hati mencumbu istrinya. Ia sungguh merindukan tubuh Ludwina dan bercinta dengannya. Ia selalu menahan diri setelah mereka berkumpul bersama karena takut membuat Ludwina sakit, tetapi hari ini istrinya yang berinisiatif untuk bercinta dan ia tidak akan mengecewakannya.Mereka bercinta dengan sangat lembut dan menikmati setiap detik kebersamaan itu, jauh lebih syahdu dari biasanya, karena mereka tahu setiap detik mereka bersama adalah sangat berharga.Andrea sangat lega melihat rona wajah kemerah-merahan Ludwina yang diliputi rasa bahagia saat mereka tidur malam itu. Ia berharap dapat membekukan momen itu selamanya.***Bu Inggrid, Pak Kurniawan dan Johann kaget setengah mati ketika akhirnya Andrea memberi tahu mereka tentang penyakit Ludwina. Atas permintaan istrin
Kisah Cinta Ludwina & Andrea Bab 57 - Ludwina Ingin Sembuh
Mereka tiba di coffee shop langganan mereka dan barulah Andrea meletakkan Ludwina di kursi. Ia memesan kopi favorit keduanya lalu duduk di samping Ludwina sambil menggenggam tangannya. Ia tak mau melepaskan gadis itu sama sekali. Takkan pernah lagi!"Kamu mau berapa lama di New York?" tanyanya saat mereka sedang menikmati kopinya. "Aku mesti beli baju banyak kalau kita akan lama di sini.""Aku nggak tahu..." jawab Ludwina. "Aku mesti ketemu dokterku untuk konsultasi lagi besok.""Oke, aku ikut ya." kata Andrea cepat.Ludwina mengangguk.Mereka tidak membahas penyakit Ludwina sampai keduanya tiba di hotel. Andrea merasa lebih baik jika ia mendengar langsung dari dokter. Ia tak ingin membuat istrinya stress dengan berbagai pertanyaannya.Setelah memastikan Ludwina beristirahat, Andrea pergi ke toko terdekat dan membeli pakaian. Ia menolak ditemani karena tidak ingin Ludwina menjadi kelelahan. Setelah kembali ke hotel ia memesan makanan dan mer
Kisah Cinta Ludwina & Andrea Bab 56 - Pertemuan Di Central Park
Karena Ludwina tidak mengangkat ponselnya, Andrea akhirnya menghubungi Johann untuk mencari tahu keberadaan istrinya. Dari Johann ia mengetahui bahwa Ludwina sudah berangkat ke New York. Andrea segera memesan penerbangan ke sana tetapi kemudian ia sadar bahwa visa Amerika yang ada di paspornya baru saja kedaluwarsa.Ia ingat 5 tahun lalu mengajukan visa Amerika karena berniat traveling ke sana bersama Ludwina tetapi mereka malah menikah di Bali dan baru berangkat setahun kemudian. Visa yang diperolehnya valid untuk 5 tahun dan baru berakhir minggu ini.Sungguh mematahkan hati. Ketika akhirnya ia mengetahui apa yang terjadi dengan Ludwina, Andrea tak bisa segera menyusulnya.Andrea buru-buru pulang ke Inggris dan mengajukan visa Amerika lewat kedutaan Amerika Serikat di London. Ia sangat gelisah dan tidak bisa tidur sambil menunggu visanya diproses. Ia berusaha mengalihkan pikirannya dari Ludwina dengan bekerja, tetapi tidak berhasil."Joe, aku perlu bicar
Kisah Cinta Ludwina & Andrea Bab 55 - Andrea Ke Singapura
Sebenarnya Ludwina patah hati saat meninggalkan Andrea di pantai. Ia tak pernah melihat suaminya menangis sebelumnya dan hatinya tercabik-cabik saat ia harus menampilkan wajah dingin dan pergi meninggalkannya begitu saja.Ini demi kebaikan Andrea, berkali-kali ia meyakinkan dirinya sendiri.Ludwina segera meminta concierge memesankan taksi untuknya dan kembali ke Hotel Kanawa. Setibanya di sana ia segera masuk ke kamar dan mengurung diri. Tubuhnya merasa sangat lelah dan ia tak mampu bertemu siapa pun. Telepon dari Mbak Ria, editornya, pun harus ia tolak. Ia hanya mengirim SMS bahwa ia akan datang ke sesinya di UWRF besok dan hari ini ia ingin beristirahat dengan tanpa gangguan.***Andrea sebenarnya tergoda untuk datang ke UWRF dan melihat Ludwina lagi. Tetapi setiap mengingat betapa gadis itu masih belum memaafkannya, Andrea merasa sakit dan mengurungkan niatnya. Sepanjang hari ia hanya mencoba menghilangkan ke
Kisah Cinta Ludwina & Andrea Bab 54 - Pertemuan Dan Perpisahan Di Bali
Ludwina yang tiba di Hotel Hilton keesokan harinya mengira guest relation officer yang menemuinya juga mengenalinya sama seperti beberapa penggemar yang ia temui di Central Park. Ia mengikuti saja ketika staf itu membawanya ke kamar cantik menghadap laut yang ditinggali Andrea.Ia sebenarnya sudah check in di Hotel Kanawa milik ayahnya, sehingga ke Hilton hanya dengan membawa tas tangannya. Ia ingat bahwa hari ini adalah ulang tahun pernikahannya dengan Andrea. Mungkin ia akan menerima untuk makan malam bersama Andrea terakhir kalinya sebelum meminta dokumen perceraian itu dari suaminya dan mengakhiri pernikahan mereka.Ia melihat bunga dan prosecco dengan pita merah di kamar itu. Hatinya seketika terasa sakit, ia masih ingat dengan jelas malam itu ketika Andrea melamarnya. Ia melihat dua kemeja Andrea yang dibelikannya sebelum suaminya itu berangkat ke London dan pertahanannya runtuh.Ludwina kembali menangis untuk kesekian kalinya. Tadinya ia sudah mampu bersi
Kisah Cinta Ludwina & Andrea Bab 53 - Ludwina Mampir Ke London
Suasana menjadi syahdu dengan hujan rintik-rintik di luar jendela. Andrea lalu mengeluarkan sebotol wine dan dua gelas serta segelas jus untuk Ronan. Ia menuangkan wine untuk dirinya dan Adelina. Ia menyerahkan gelas berisi wine kepada gadis itu. Adelina menerimanya dengan sepassang mata masih berkaca-kaca."Sore-sore begini pas sekali untuk minum wine. Lumayan bisa membuat suasana hati menjadi lebih baik." Andrea mendentingkan gelasnya ke gelas Adelina dan meneguk wine-nya. "Minumlah... biar kau merasa baikan."Adelina mengangguk dan menyesap wine-nya. Wajahnya yang suram perlahan-lahan tampak mulai cerah."Wine makes adulting bearable (Wine membuat orang dewasa bisa bertahan hidup)." katanya dengan senyum mulai menghiasi wajahnya. Keduanya tertawa kecil. Andrea mengangguk juga, membenarkan."Aku tahu kamu perempuan kuat, tapi kalau kamu merasa sedang sedih dan ingin berbagi, tempatku dan segelas wine selalu siap menunggu," kata Andrea kemu
Kisah Cinta Ludwina & Andrea Bab 32 - Italy Negara Favoritku
"Sore ini kita turun ke kota kecil Pitigliano untuk belanja bahan makanan, sekaligus lihat-lihat. Besok ki
Kisah Cinta Ludwina & Andrea Bab 31 - Dari Paris Ke Tuscany
Mereka bangun ketika matahari sudah tinggi dan dengan malu-malu keduanya membereskan tempat tidur dan bergantian mandi. Agenda hari ini hanyalah mengunjungi Museum Louvre dan Ludwina sudah memesan tiket online sehingga mereka tidak perlu mengantri panjang.Ini adalah keempat kalinya Ludwin
Kisah Cinta Ludwina & Andrea Bab 30 - Museum Louvre Tidak Akan Kemana-mana
Laura dan Pierre datang ke taman dengan membawa limoncello dan croissant. Gadis Amerika berambut pendek itu memanggil Ludwina dengan menyenandungkan Simponi Beethoven nomor
Kisah Cinta Ludwina & Andrea Bab 29 - Malam Romantis Di Paris
Andrea tertawa melihat ekspresi Ludwina, lalu ia geleng-geleng sendiri sambil membereskan kopernya di lemari.
