Wird geladen
Startseite/ ALLE /Kisah Cinta Ludwina & Andrea/Bab 11 - Tubrukan Di Bandara

Bab 11 - Tubrukan Di Bandara

Josephine VDW
"Veröffentlichungsdatum: " 26.08.2020 12:55:23

Andrea membalikkan badan setelah memastikan gate penerbangannya di layar dan tidak menyadari seorang gadis berjalan dengan menundukkan kepala tepat menabrak dadanya.

Gadis itu mungil sekali, hanya setinggi bahunya, dan karena dorongan tubuh Andrea yang besar ia pun terpelanting jatuh. Andrea kaget sekali dan buru-buru membantunya berdiri.

"Maafkan saya, saya tidak sengaja... Sini saya bantu berdiri."

"Nggak usaaaahh... gue bisa sendiri!!" Gadis itu galak sekali menepis tangan Andrea. Akhirnya Andrea hanya bisa mengangkat bahu dan berlalu. Gadis itu mencoba berdiri tetapi ternyata hak stiletto-nya copot sebelah dan ia jatuh kembali. Ia meringis sambil memijit kaki kanannya yang terkilir, "Eh, kamu! Sini! Tanggung jawab, kamu. Gue ga bisa jalan, tauk!"

Beberapa orang tampak mencoba membantunya tetapi dengan keras kepala ia mengebaskan tangan-tangan yang terulur. Andrea berbalik lalu sambil geleng-geleng kepala menggendong gadis itu ke bangku terdekat, lalu mengumpulkan barang-barang yang tercecer dari tasnya dan menyerahkan tas tersebut ke pangkuan gadis itu.

"Coba dicek siapa tahu ada yang hilang. Kamu gate-nya di mana? Biar saya antar ke gerbang boarding."

"Gue baru mendarat dan sedang mencari paspor..." jawab gadis itu ketus. "Paspor gue hilang. Dari tadi gue udah naik turun beberapa lantai untuk nyari..."

Wajahnya mulai terlihat memelas. Gadis itu jelas kelelahan.

"Sudah lapor keamanan atau imigrasi?" tanya Andrea dengan sabar. Gadis itu menggeleng. "Kamu bisa jalan?"

Gadis itu menggeleng lagi, tetapi wajahnya sudah tidak ketus. Andrea melirik jam tangannya. Ia masih punya waktu satu jam sebelum boarding. Ia tahu betapa susahnya kehilangan paspor di dalam bandara karena gadis itu tidak akan bisa keluar tanpa paspornya.

Karena kaki gadis itu terkilir, akhirnya Andrea membantu melepaskan sepatunya yang rusak dan mencantelkannya di ranselnya sendiri. Ia kemudian menggendong gadis itu di punggungnya dan dengan sabar membawanya melintasi terminal untuk mencari petugas keamanan.

"Kalau kamu baru mendarat, kenapa ada di terminal keberangkatan? Sudah dicari di daerah kedatangan?"

"Sudah... tadi gue sempat naik ke atas beli kopi dulu sebelum keluar, tapi ternyata waktu mau keluar imigrasi, paspor gue ilang. Mungkin ketinggalan di coffee shop atau jatuh... Dari tadi dicari tidak ketemu juga..." jawab gadis itu memelas, sikap ketusnya sudah hilang sama sekali.

"OK, aku bawa kamu cari petugas keamanan bandara ya."

Setelah separuh jalan melintasi terminal tiba-tiba gadis itu berseru kecil, "Bagasi gue!! Pasti sudah sampai dari tadi."

"Tapi kan bagasi baru bisa diambil kalau sudah lewat imigrasi?"

"Gue penumpang prioritas, semua bagasi penumpang bisnis dan first class langsung diambil di lounge maskapai. I need to make sure bagasi gue aman. Tolong bawa aku ke sana..."

Akhirnya Andrea membawa gadis itu ke arah ruang tunggu lounge maskapai untuk mengurusi bagasinya. Sepanjang jalan mereka menjadi perhatian orang-orang, karena Andrea menggendong seorang gadis dewasa di punggungnya sambil membawa sepasang stiletto di ranselnya dan tas tangan Prada.

"Ini bagasinya, Mbak Ludwina." kata petugas saat menyerahkan dua koper gadis itu di lounge maskapai. "Mbak perlu diambilkan kursi roda?"

Andrea yang bisa membayangkan betapa susahnya ia mendorong dua koper dan kursi roda berisi Ludwina, segera menggeleng. Ia hanya menarik sebuah troli dan menumpuk kedua koper itu di atasnya. Kemudian ia mengangkat gadis itu dan mendudukkannya di bagian paling atas.

"Ehh.. apa-apaan kamu ini? Aku bukan koper tauk!" protes Ludwina ketika tubuhnya diangkat dan diletakkan di atas troli bersama koper-kopernya.

"Maaf ya, Tuan Putri. Saya nggak bisa mendorong troli sambil gendong kamu kayak tadi. Kalau kamu mau urusan paspornya segera beres, kita harus bergerak cepat. Setengah jam lagi pesawat saya boarding," kata Andrea dengan sabar.

Dengan muka cemberut Ludwina akhirnya mengangguk. Andrea mendorong troli berisi koper-koper dan Ludwina ke arah kantor Avsec terdekat. Mereka lalu melaporkan tentang paspornya yang hilang.

Proses BAP berjalan hampir setengah jam dan berkali-kali Andrea melihat jamnya dengan resah. Pesawatnya sudah hampir boarding. Setelah selesai dari Avsec mereka diminta pergi ke kantor imigrasi.

Dalam perjalanan ke kantor imigrasi, Andrea mendengar namanya dipanggil lewat loudspeaker karena pesawat ke Singapura sudah mau berangkat dan ia satu-satunya penumpang yang belum naik. Dengan mendesah panjang ia kembali mendorong troli itu.

Herannya, wajah Ludwina tampak sama sekali tidak cemas seperti tipikal orang yang kehilangan paspor. Setahu Andrea, kelalaian menghilangkan dokumen negara bisa dikenai denda besar dan bahkan tidak boleh memiliki paspor selama dua tahun, tetapi gadis ini tampak santai saja.

Malah secara mencurigakan ia terlihat menikmati perjalanan didorong dengan troli seperti bocah di supermarket.

Seorang lelaki berseragam yang melihat kedatangan mereka tampak tersenyum menyambut dari pintu kantor imigrasi.

"Oom... pasporku hilang di bandara barusan. Aku nggak bisa keluar. Bisa minta surat jalan, nggak?" tanya Ludwina dengan suara yang hampir terdengar manja. Andrea hampir tak percaya pendengarannya sendiri.

"Itu siapa?" tanyanya.

"Itu kepala bandara sini," bisik Ludwina. "Teman ayahku."

Pria itu menggeleng-geleng dan mengacak-acak rambut Ludwina dengan gemas, "Seharusnya kamu bawa asisten kalau bepergian, biar ada yang menyimpankan paspormu. Supaya barang-barangmu nggak berhilangan terus."

"Iya, Oom... Maaf. Tadinya aku mau langsung ke sini, tapi aku kecelakaan dan kakiku terkilir, jadi dibantu ke sini oleh..." Ludwina menoleh kepada Andrea, "siapa namamu?"

"Andrea," jawab Andrea masih keheranan.

"Iya, aku ke sini dibantu Andrea. Orangnya baik banget ya, sampai aku diurusin begini." Ia menoleh ke belakang dengan pandangan penuh kagum ke arah Andrea yang mendorong trolinya.

"Sini masuk, biar Oom bikinin surat jalan."

"Tadi kami juga sudah BAP di Avsec, Oom."

"Lah, buat apa ke Avsec dulu? Kan bisa langsung ke sini?" Kepala Bandara kemudian melihat Ludwina dengan pandangan curiga, lalu tersenyum sendiri. Ia tahu akal bulus gadis nakal itu, karena sudah mengenalnya sejak remaja.

Ludwina pasti sengaja berlama-lama dengan mengambil bagasi dan ke Avsec sebelum mendatangi kepala bandara karena ia ingin berlama-lama dibantu pemuda jangkung berwajah tampan ini. "Sebentar ya... Oom cari dulu dokumennya."

Hingga 15 menit, dokumen yang dibutuhkan tidak juga ketemu, akhirnya kepala bandara meminta sekretarisnya ke kantor imigrasi di terminal sebelah untuk mengambil beberapa dokumen agar surat jalan untuk Ludwina bisa dikeluarkan.

Möchten Sie wissen, wie es weitergeht?
Weiterlesen
Vorheriges Kapitel
Nächstes Kapitel

Buch teilen mit

  • Facebook
  • Twitter
  • Whatsapp
  • Reddit
  • Copy Link

Aktuellstes Kapitel

Kisah Cinta Ludwina & Andrea   Bab 58 - Akhirnya Bahagia

"Aku sayang banget sama kamu, Andrea," bisik Ludwina ke telinga Andrea, "Aku ingin menghabiskan setiap hari mencintaimu."Andrea membantu Ludwina membuka pakaiannya dan dengan sangat hati-hati mencumbu istrinya. Ia sungguh merindukan tubuh Ludwina dan bercinta dengannya. Ia selalu menahan diri setelah mereka berkumpul bersama karena takut membuat Ludwina sakit, tetapi hari ini istrinya yang berinisiatif untuk bercinta dan ia tidak akan mengecewakannya.Mereka bercinta dengan sangat lembut dan menikmati setiap detik kebersamaan itu, jauh lebih syahdu dari biasanya, karena mereka tahu setiap detik mereka bersama adalah sangat berharga.Andrea sangat lega melihat rona wajah kemerah-merahan Ludwina yang diliputi rasa bahagia saat mereka tidur malam itu. Ia berharap dapat membekukan momen itu selamanya.***Bu Inggrid, Pak Kurniawan dan Johann kaget setengah mati ketika akhirnya Andrea memberi tahu mereka tentang penyakit Ludwina. Atas permintaan istrin

Kisah Cinta Ludwina & Andrea   Bab 57 - Ludwina Ingin Sembuh

Mereka tiba di coffee shop langganan mereka dan barulah Andrea meletakkan Ludwina di kursi. Ia memesan kopi favorit keduanya lalu duduk di samping Ludwina sambil menggenggam tangannya. Ia tak mau melepaskan gadis itu sama sekali. Takkan pernah lagi!"Kamu mau berapa lama di New York?" tanyanya saat mereka sedang menikmati kopinya. "Aku mesti beli baju banyak kalau kita akan lama di sini.""Aku nggak tahu..." jawab Ludwina. "Aku mesti ketemu dokterku untuk konsultasi lagi besok.""Oke, aku ikut ya." kata Andrea cepat.Ludwina mengangguk.Mereka tidak membahas penyakit Ludwina sampai keduanya tiba di hotel. Andrea merasa lebih baik jika ia mendengar langsung dari dokter. Ia tak ingin membuat istrinya stress dengan berbagai pertanyaannya.Setelah memastikan Ludwina beristirahat, Andrea pergi ke toko terdekat dan membeli pakaian. Ia menolak ditemani karena tidak ingin Ludwina menjadi kelelahan. Setelah kembali ke hotel ia memesan makanan dan mer

Kisah Cinta Ludwina & Andrea   Bab 56 - Pertemuan Di Central Park

Karena Ludwina tidak mengangkat ponselnya, Andrea akhirnya menghubungi Johann untuk mencari tahu keberadaan istrinya. Dari Johann ia mengetahui bahwa Ludwina sudah berangkat ke New York. Andrea segera memesan penerbangan ke sana tetapi kemudian ia sadar bahwa visa Amerika yang ada di paspornya baru saja kedaluwarsa.Ia ingat 5 tahun lalu mengajukan visa Amerika karena berniat traveling ke sana bersama Ludwina tetapi mereka malah menikah di Bali dan baru berangkat setahun kemudian. Visa yang diperolehnya valid untuk 5 tahun dan baru berakhir minggu ini.Sungguh mematahkan hati. Ketika akhirnya ia mengetahui apa yang terjadi dengan Ludwina, Andrea tak bisa segera menyusulnya.Andrea buru-buru pulang ke Inggris dan mengajukan visa Amerika lewat kedutaan Amerika Serikat di London. Ia sangat gelisah dan tidak bisa tidur sambil menunggu visanya diproses. Ia berusaha mengalihkan pikirannya dari Ludwina dengan bekerja, tetapi tidak berhasil."Joe, aku perlu bicar

Kisah Cinta Ludwina & Andrea   Bab 55 - Andrea Ke Singapura

Sebenarnya Ludwina patah hati saat meninggalkan Andrea di pantai. Ia tak pernah melihat suaminya menangis sebelumnya dan hatinya tercabik-cabik saat ia harus menampilkan wajah dingin dan pergi meninggalkannya begitu saja.Ini demi kebaikan Andrea, berkali-kali ia meyakinkan dirinya sendiri.Ludwina segera meminta concierge memesankan taksi untuknya dan kembali ke Hotel Kanawa. Setibanya di sana ia segera masuk ke kamar dan mengurung diri. Tubuhnya merasa sangat lelah dan ia tak mampu bertemu siapa pun. Telepon dari Mbak Ria, editornya, pun harus ia tolak. Ia hanya mengirim SMS bahwa ia akan datang ke sesinya di UWRF besok dan hari ini ia ingin beristirahat dengan tanpa gangguan.***Andrea sebenarnya tergoda untuk datang ke UWRF dan melihat Ludwina lagi. Tetapi setiap mengingat betapa gadis itu masih belum memaafkannya, Andrea merasa sakit dan mengurungkan niatnya. Sepanjang hari ia hanya mencoba menghilangkan ke

Kisah Cinta Ludwina & Andrea   Bab 54 - Pertemuan Dan Perpisahan Di Bali

Ludwina yang tiba di Hotel Hilton keesokan harinya mengira guest relation officer yang menemuinya juga mengenalinya sama seperti beberapa penggemar yang ia temui di Central Park. Ia mengikuti saja ketika staf itu membawanya ke kamar cantik menghadap laut yang ditinggali Andrea.Ia sebenarnya sudah check in di Hotel Kanawa milik ayahnya, sehingga ke Hilton hanya dengan membawa tas tangannya. Ia ingat bahwa hari ini adalah ulang tahun pernikahannya dengan Andrea. Mungkin ia akan menerima untuk makan malam bersama Andrea terakhir kalinya sebelum meminta dokumen perceraian itu dari suaminya dan mengakhiri pernikahan mereka.Ia melihat bunga dan prosecco dengan pita merah di kamar itu. Hatinya seketika terasa sakit, ia masih ingat dengan jelas malam itu ketika Andrea melamarnya. Ia melihat dua kemeja Andrea yang dibelikannya sebelum suaminya itu berangkat ke London dan pertahanannya runtuh.Ludwina kembali menangis untuk kesekian kalinya. Tadinya ia sudah mampu bersi

Kisah Cinta Ludwina & Andrea   Bab 53 - Ludwina Mampir Ke London

Suasana menjadi syahdu dengan hujan rintik-rintik di luar jendela. Andrea lalu mengeluarkan sebotol wine dan dua gelas serta segelas jus untuk Ronan. Ia menuangkan wine untuk dirinya dan Adelina. Ia menyerahkan gelas berisi wine kepada gadis itu. Adelina menerimanya dengan sepassang mata masih berkaca-kaca."Sore-sore begini pas sekali untuk minum wine. Lumayan bisa membuat suasana hati menjadi lebih baik." Andrea mendentingkan gelasnya ke gelas Adelina dan meneguk wine-nya. "Minumlah... biar kau merasa baikan."Adelina mengangguk dan menyesap wine-nya. Wajahnya yang suram perlahan-lahan tampak mulai cerah."Wine makes adulting bearable (Wine membuat orang dewasa bisa bertahan hidup)." katanya dengan senyum mulai menghiasi wajahnya. Keduanya tertawa kecil. Andrea mengangguk juga, membenarkan."Aku tahu kamu perempuan kuat, tapi kalau kamu merasa sedang sedih dan ingin berbagi, tempatku dan segelas wine selalu siap menunggu," kata Andrea kemu

Kisah Cinta Ludwina & Andrea   Bab 49 - Pembicaraan Johann Dan Andrea

Ketika Johann tiba, Andrea segera memperkenalkannya kepada Adelina dan Ronan."Adelina, perkenalkan ini Johann, kakak iparku. Dia seorang dokter spesialis penyakit dalam dan sedang ikut konferensi di sini." Andrea lalu beralih kepada Johann, "Ini Adelina, ibu dari anakku Ronan. Dan ini Ron

Kisah Cinta Ludwina & Andrea   Bab 48 - Kedatangan Adelina Dan Ronan

Andrea sangat terkejut ketika ia mendarat di Heathrow, London dan mencoba menelepon Ludwina, tetapi panggilannya sama sekali tidak diangkat oleh istrinya itu. Ia mencoba lagi ketika tiba di hotel, dan tetap tidak diangkat.Ia mengirim banyak SMS dan email tetapi tidak satu pun yang dibalas

Kisah Cinta Ludwina & Andrea   Bab 47 - Andrea Ke London

Andrea mengajukan resign dari perusahaannya sekarang dan segera mengurus proses untuk masuk ke perusahaan baru yang didirikan Joe. Dalam waktu dua minggu semuanya siap dan mereka tinggal memilih tanggal keberangkatan.Ia tidak pernah menyangka, setelah semua prosesnya ha

Kisah Cinta Ludwina & Andrea   Bab 46 - Perpisahan Tiga Bulan

Ludwina hanya beralasan saat ia bilang ingin menenangkan diri dengan berbelanja. Sebenarnya ia kembali ke rumah sakit untuk mendapatkan pendapat kedua. Dokter onkologi kedua yang ditemuinya mengonfirmasi temuan Dr. Chou dan mereka memintanya untuk segera melakukan perawatan kemoterapi agar penyeb

Weitere Kapitel
Buch herunterladen
GoodNovel

Buch kostenlos herunterladen

Download
Suchen
Bibliothek
Stöbern
RomantikAlternativgeschichteUrbanWerwolfMafiaSystemFantasyLGBTQ+
Kurzgeschichten
LiebeskummerGeheimnisModerne StadtApokalypse-Überleb1enshort-Science-FictionLiebesroman0
ErstellenVorteile für Autor:innenWettbewerb
Beliebte Genres
RomantikAlternativgeschichteUrbanWerwolfMafiaSystem
Kontaktieren uns
Über unsHilfe & VorschlägeGeschäft
Ressourcen
Apps herunterladenVorteile für Autor:innenInhaltsrichtlinieTop-SuchanfragenFAQFAQ-IDFAQ-FILFAQ-THFAQ-JAFAQ-ARFAQ-ESFAQ-KOFAQ-DEFAQ-FRFAQ-PTGoodNovel vs Competitors
Community
Facebook Group
Folge uns
GoodNovel
Copyright ©‌ 2026 GoodNovel
Nutzungsbedingungen|Datenschutz