loading
Home/ All /I Hate You But Love You/Chapter 1

Chapter 1

Author: Rilla
"publish date: " 2020-09-30 18:29:32

Pernikahan yang suci itu baru saja dilaksanakan. Tamu undangan menikmati acara tersebut dengan baik. Canda tawa selalu bersemi dan tak lepas dari mereka.

Namun berbeda dengan para undangan, kedua mempelai justru tak menampakkan sedikit pun wajah bahagia mereka. Khususnya Ara sang mempelai wanita.

Pernikahan secara terpaksa yang mereka lakukan lantaran Bastian ,pria yang baru saja menikahinya sudah merusak hidupnya dan mengambil kehormatan yang sudah ia jaga selama ini.

Menyesal?

Sungguh ia sangat menyesal, namun apa boleh buat. Jika tak menikahi Bastian, ia tak yakin akan ada pria lain yang mau menikahinya lantaran ia sudah tak perawan lagi.

Ingin menangis meratap, namun Ara tak mampu. Ingin berteriak kencang, suaranya seolah tertahan hanya sampai tenggorokannya. Dadanya sesak, cincin yang tersemat di jari manisnya, tak tahu fungsinya apa.

Ara menatap Bastian yang tengah berbincang dengan teman-teman kantor Bastian. Setelah kedatangan teman-temannya, barulah Bastian tertawa. Tawa pria itu begitu lepas, namun jika bersamanya, tawa Bastian tak pernah ada.

Apa pernikahannya akan baik-baik saja? Ara berharap semua akan baik.

Zahra melirik ke sudut kanan, di sana ia melihat ada Riani dan Tian yang tengah menyantap makanan dengan canda yang tak pernah hilang dari mereka berdua.

Oh satu lagi, jangan lupakan perut datar Riani yang kini nampak sedikit membesar. 

Ya,  wanita itu tengah hamil empat bulan setelah enam bulan menikah dengan Tian.

"Apa aku bisa sebahagia itu nantinya?" Ara menarik nafas dengan sesak. Dadanya serasa sempit hanya untuk sekedar menarik nafas.

Lagi-lagi wajah lesu yang hanya bisa Ara perlihatkan sampai acara selesai.

Dan kini ia sudah berada di kamar. Tepatnya kamarnya dengan Babas yang ada di rumah Babas.

Setelah resmi menikah, Ara langsung dibawa oleh Babas ke rumah milik pria itu dan tinggal bersama di sana.

Ara menyentuh sprei putih yang melapisi ranjang. Seharusnya sprei ini yang akan menjadi saksi pertama kali hilangnya keperawanannya, namun mimpi itu harus ia kubur dalam-dalam.

Bahkan untuk merasakan kembali dengan Babas saja ia ragu. Ragu jika Babas akan mau menyentuhnya, melihat bagaimana Babas menyambut pernikahan ini. Rasanya begitu mustahil dan hanya akan jadi mimpi belaka.

Ara tertunduk sedih.  Ia melirik dari sudut matanya kamar mandi yang kini sedang dipakai Babas untuk membersihkan diri.

Setelah mereka masuk ke kamar, tanpa bicara, Babas langsung masuk ke kamar mandi dan sampai saat ini belum keluar juga.

Ara berdiri lesu, ia menghadap cermin rias yang ada di kamar mereka.

Hanya sebentar, setelahnya ia memilih berjalan menuju kopernya dan mengambil baju tidur lengan panjang dan keluar menuju kamar tamu.

Di sana Ara memilih membersihkan diri dan kembali lagi menuju kamarnya dan Babas.

Saat sampai di kamar, Ara sudah menemukan Babas tertidur pulas. Untuk kesekian kalinya, Ara menghembuskan nafas lesu.

Bayangan tentang indahnya dunia pengantin baru harus ia kubur dalam-dalam.

"Sabar Ara. Bagaimana pun juga, Babas sekarang suami mu. Sehebat apapun kamu bela diri, sepintar apapun kamu, sekarang Babas adalah suami yang harus kamu hormati." Ara bermonolog pelan bahkan nyaris berbisik.

Ia meletakkan pakaian gaunnya dengan rapi di dalam lemari dan berjalan mendekati ranjang.

Dengan hati-hati Ara naik ke atas. Ia berusaha untuk tak membangunkan Babas, yang akan membuat suaminya itu marah.

Dalam luka Ara pun tertidur. Entah apa yang akan terjadi hari esok, ia tak akan memikirkannya sekarang.

*****                  

Babas terbangun tepat saat matahari masuk ke dalam celah gorden kamarnya.  Ia menggeliat dan langsung memutar tubuhnya untuk melihat ke sebelah kiri.

Kosong!

Haaahh. Pernikahan macam apa ini? Ini bukan pernikahan impian Babas. Ia tak menginginkan ini. Tapi mau bagaimana lagi, ia tak ingin jadi pria bajingan yang sudah menghancurkan masa depan seorang gadis, lalu ia tinggalkan.

Setidaknya dengan ia menikahi Ara, kehidupan Ara bisa sedikit terjamin, walaupun bukan untuk urusan cinta. Dan kalaupun nanti mereka bercerai, status janda yang Ara sandang tak akan membuat laki-laki lain memikirkan perawan atau tidak perawannya Ara.

Jahat memang, tapi ini yang bisa ia lakukan. Karena jika untuk urusan cinta, ia belum bisa memberikannya. Ia masih belum siap dengan cerita cinta.

Babas menyibak selimut tebal yang menutupi tubuhnya. Seharusnya sepasang pengantin baru pasti bangun saling berpelukan, di bawah selimut, tanpa sehelai baju pun yang menutupi tubuh mereka.

Tapi lihat ini?

Bastian melirik pakaian tidurnya yang masih lengkap.

Sudahlah, jangan dipikirkan lagi.

Setelah dirasa benar-benar bangun, Babas langsung berjalan menuju kamar mandi. Ia memutuskan membersihkan diri dan berencana ke rumah Tian.

Beruntung hari ini hari libur, jadi ia akan seharian berada di rumah Tian.

Sedangkan di bawah sana, Ara masih setia berkutat dengan penggorengan. Sudah berapa kali tangannya terciprat minyak panas, teriris saat memotong bawang dan tersenggol teflon panas.

Ia belum bisa memasak, namun tak mungkin selamanya ia tak masak. Sekarang statusnya adalah istri. Ia tak ingin berdosa karena selalu memberikan Babas makanan buatan orang lain.

Hampir dua setengah jam Ara menyiapkan sepiring nasi goreng dan ini sudah percobaan yang ke tiga. Dan syukurlah rasanya tak terlalu aneh. Masih bisa di makan.

Ia segera menghidangkan makanan tersebut di atas meja, lalu kembali lagi ke dapur untuk membuatkan secangkir kopi untuk Babas dan kembali meletakkannya di atas meja.

"Selesai.." Ucapnya cukup puas. Namun mendadak ia meringis saat lagi-lagi ia merasakan luka di tangannya. "Perih banget.." ringisnya.

Ara meniup tangannya yang luka secara perlahan. Beruntung di rumah Bastian ada persediaan obat dan plester luka.

Suara pintu kamar yang dibuka membuat Ara langsung menghilangkan ringisannya dan bersikap senormal mungkin.

Dari bawah ia bisa melihat Babas yang sudah sangat rapi keluar dari kamar.

Ara hendak menemuinya namun Bastian malah menghindari kontak mata dengan Ara, "Aku ingin ke rumah Tian. Mungkin akan kembali saat malam." hanya itu yang Babas katakan tanpa melihat Ara, tanpa bertanya apa yang Ara lakukan dan bagaimana tidur Ara? Apakah nyenyak.

"Baiklah, hati-hati.."

Babas tak merespon ucapan Ara, ia langsung berjalan menuju pintu keluar dan tak berapa lama, Ara bisa mendengar suara mobil yang menyala dan pergi.

Di dalam, Ara menatap lirih jari jemarinya. Ada kekecewaan yang amat besar yang Ara rasakan. Ia pikir Babas akan lembut sama seperti saat ia memergoki Tian dan Riani bercinta di taman rumah Tian, lalu setelahnya ia dan Babas yang saling berciuman. Namun tebakannya salah. Ia merasa, sebuah pernikahan sudah menghancurkan masa depan Babas.

Babas tak ingin menikah dengannya dan ia pikir pernikahan ini karena terpaksa.

Ara memukul kepalanya keras, "Kau bodoh Ra. Harusnya malam itu tak gak datang menemui Bastian." Ara terus memukul kepalanya. Hatinya sakit dan matanya mulai menitikkan air.

"Kau bodoh. Seharusnya kau tak terlalu peduli saat Bastian mengatakan bibirmu miliknya." Ara menangis tergugu.

"Sekarang apa yang kau tangiskan sialan. Tak ada yang perlu kau tangiskan dan sesali sekarang. Hidupmu sudah hancur, hidupmu sudah berada di neraka dunia."

Tangis Ara semakin kencang. Ia tak mau membendung lagi, ia tak mau menyimpan. Ini pagi pertama pernikahannya, namun hal romantis yang ia hayalkan justru hancur lebur.

"Wanita bodoh!" Ara menghapus air matanya.

Ia berbalik ke belakang dan kembali menatap miris makanan yang tak tersentuh di atas meja.

Ara juga kehilangan nafsu makan untuk menyantapnya.

Dengan lesu, Ara mengambil piring berisi nasi goreng tersebut dan membuang isinya ke dalam tempat sampah.

Makananmu tak pernah cocok di perut Bastian, Ra, batin Ara sesak.

Setelah merapikan semua kekacauan yang ia ciptakan tadi di dapur, Ara memutuskan untuk kembali membersihkan diri.

Hari ini ia ingin menemui Mas Raka pelatih karatenya.

Berkunpul bersama teman-teman yang lain ia harap bisa meredakan sesak di dadanya.

*****

Bersambung!

Want to know what happens next?
Continue Reading
Previous Chapter
Next Chapter

Share the book to

  • Facebook
  • Twitter
  • Whatsapp
  • Reddit
  • Copy Link

Latest chapter

I Hate You But Love You   Chapter 32

Ara menatap Babas yang sudah diam sejak dua menit yang lalu. Setelah Babas meminta untuk mereka bicara, mereka duduk di ruang TV dengan posisi duduk yang dipisah oleh meja. Ara memutar matanya jengah. Suara Naima masih setia berteriak di luar dan wanita gila itu selalu menggedor-gedor pintu sejak tadi. Ingin rasanya ia mematahkan lengan Naima dan menyumpalkan ke mulut Naima agar Naima mau diam dan tak berisik serta membuat kegaduhan. "Urus dulu kekasihmu.." perintah Ara dingin. "Aku tak ada urusan dengannya sekarang, aku ada urusan denganmu..." ucap Babas tenang. "Tapi kekasihmu berisik. Jangan sampai aku mematahkan lengannya.." "Lakukan saja jika kau ingin." jawab Babas dengan wajah serius. Ara berdiri dari duduknya dan langsung berjalan menuju pintu depan. Sedangkan Babas hanya melihat gerak gerik Ara dari belakang.

I Hate You But Love You   Chapter 31

Bersulaaaaang!! Teriakan tersebut terdengar memekakkan di dalam sebuah kedai minuman yang ada di tepi pantai. Kedai tersebut terletak di Sebuah resort yang menampilkan pemandangan laut yang bersih dan luas. Tempat mereka semua berlibur sengaja dipilihkan Raka di daerah pantai. Jadi jika penat, bisa berjalan-jalan melihat pemandangan laut. Apalagi matahari saat terbenam. "Kalian tahu? Radit itu sangat payah.." ucap Leoni salah seorang rekan tim Ara. Radit itu pacar baru Leoni. Ia mengatakan itu tentang kekasihnya karena Radit sangat culun dan tak bisa apa-apa. "Kalau payah kenapa kau pacari?" tanya Ara yang langsung meneguk minumannya. Oh iya, jangan kalian berpikir jika mereka semua mengkonsumsi alkohol. Tidak sama sekali. Jika berkumpul bersama, mereka semua menghindari yang namanya alkohol, berbeda jika mereka sendirian.&n

I Hate You But Love You   Chapter 30

Dalam kamar yang ada di sebuah apartemen, Naima tengah duduk bermenung di atas ranjangnya. Bagian bawah mata yang hitam, rambut acak-acakan dan tanpa busana. Sungguh Naima nampak seperti wanita yang tengah dipenuhi emosi dan frustasi.Semenjak Babas pergi dari rumahnya semalam, ia sungguh tak tak bisa menghubungi Bastian lagi. Bahkan Naima nyaris depresi karena kehilangan kontak tentang Babas. Ia merasa dunianya hancur.Kenapa Babas jadi nerubah seperti ini.? Bantinnya bertanya."Lihat saja Bas, istri sialan mu itu tak akan bisa hidup tenang." ucap Naima sembari tersenyum menakutkan.Naima kembali meraih botol yang berisi minuman berakohol itu. Selama di luar negeri, Ia sudah biasa menikmati dan meneguk minuman memabukkan terseb

I Hate You But Love You   Chapter 29

Ara mengangguk lucu sebagai tanda ia mengiyakan apa yang Babas minta. Setelahnya, Babas tak banyak bicara lagi. Pria itu langsung berjalan menuju lantai atas dan masuk ke dalam kamar.Ara semakin dibuat bingung. Sebenarnya suaminya itu kenapa? Apa ada yang salah dengan suaminya? Kenapa bisa jadi seperti ini? Babas yang mendadak lembut dan tak kasar lagi, apalagi kartu kredit itu..Ara merogok saku celananya dan menatap kembali kartu kredit yang tadi Babas berikan padanya melalui amplop yang tertempel di pintu lemari pendingin.Menatap kartu tersebut lalu menatap pintu kamar Babas secara bergantian, itulah yang Ara lakukan selama beberapa detik sebelum akhirnya ia tersadar dengan tingkah bodohnya.Ara berjalan menuju dapur. Ia meraih c

I Hate You But Love You   Chapter 28

Apa aku bermimpi?Aku seperti melihat Babas tengah duduk di hadapanku. Tapi kenapa dia hanya diam?.Aku melirik ke sekeliling, dimana hanya ada putih tanpa dinding. Walaupun begitu, aku tak ketakutan. Justru yang kurasakan adalah sebuah kenyamanan.Sekali lagi aku melirik Babas ada di hadapanku. Kutatap mata itu penuh minat. Jantung yang awalnya berdetak normal, lambat laun berdetak cepat dan semakin tak karuan.Ruangan putih yang tadi menutupi sekelilingku, langsung berubah menjadi lorong rumah sakit tempat aku duduk setelah lelah menemani Riani.Walaupun lorong itu berubah, ada satu yang tak berubah. Yaitu Babas yang duduk di depanku. Apa aku bermimpi?

I Hate You But Love You   Chapter 27

Aku menengadah langit yang sedari tadi gelap. Bukan karena matahari yang tenggelam, namun karena awan hitam yang menutupi dan berkuasa atas matahari siang ini.Aku menatap lurus ke depan. Gedung-gedung menjulang tinggu terlihat berjejer mencakar langit. Dari puncak rumah sakit ini, aku sekaali lagi menghembuskan nafas gusar.Ada hal yang berkecamuk di hatiku. Dan semua hal itu ada pada satu titik, yaitu Naima.Entah kenapa aku bisa begitu gila karena seorang Naima. Perkenalanku dengan Naima dimulai sejak aku menginjak bangku sekolah menengah pertama. Saat itu Naima menjadi siswi paling cantik dan populer di sekolahku tersebut.Jujur, dulu aku tak menyukai dia sama sekali. Namun banyak yang memintaku untuk mendekati Naima sampai akhirnya aku menyetujui permintaan teman-temanku tersebut.Singkat cerita, aku dekat dengan Naima dan memutuskan pacaran setelah tiga bulan

I Hate You But Love You   Chapter 21

Setelah memutuskan panggilan telponnya dengan Raka, Ara langsung berlari menuju lemari pakaiannya. Ia menarik satu tengtop dan satu celana pendek yang hanya menutupi bokongnya saja sedikit.Ia segera

I Hate You But Love You   Chapter 20

Ketegangan terjadi di ruang keluarga rumah tersebut. Baik Babas maupun Naima sama-sama terdiam. Apalagi mendengar ancaman Ara pada Naima. Babas melirik Naima dan kembali mengode kekasihnya itu untuk masuk ke kamar.

I Hate You But Love You   Chapter 19

Hujan deras mengguyur sekitaran Jakarta siang itu. Suara petir yang menggelegar juga memekakkan terlinga. Langit seolah enggan untuk bersabar menunggu sore atau nanti malam dalam menumpahkan semua sesak pada awan.

I Hate You But Love You   Chapter 18

Babas melirik ke arah meja makan. Di mana di sana ada Ara dan teman prianya. Tatapan Babas begitu tajam bahkan membuat Vino salah tingkah."Apa tak apa?" tanya Vino bingung.

More Chapters
Download the Book
GoodNovel

Download the book for free

Download
Search what you want
Library
Browse
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystemFantasyLGBTQ+ArnoldMM Romancegenre22- Englishgenre26- EnglishEnglishgenre27-Englishgenre28-英语
Short Stories
SkyMystery and suspenseModern urbanDoomsday survivalAction movieScience fiction movieRomantic movieGory violenceRomanceCampusMystery/ThrillerImaginationRebirthEmotional RealismWerewolfhopedreamhappinessPeaceFriendshipSmartHappyViolentGentlePowerfulGory massacreMurderHistorical warFantasy adventureScience fictionTrain station
CreateWriter BenefitContest
Hot Genres
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystem
Contact Us
About UsHelp & SuggestionBussiness
Resources
Download AppsWriter BenefitContent policyKeywordsHot SearchesBook ReviewFanFictionFAQFAQ-IDFAQ-FILFAQ-THFAQ-JAFAQ-ARFAQ-ESFAQ-KOFAQ-DEFAQ-FRFAQ-PTGoodNovel vs Competitors
Community
Facebook Group
Follow Us
GoodNovel
Copyright ©‌ 2026 GoodNovel
Term of use|Privacy