Download the book for free
Bab 2 Melarikan Diri
Author: Abigail KusumaQueen Hospital, L.A.
Callista memarkirkan mobilnya dengan sembarangan di halaman parkir rumah sakit. Dia turun dari mobilnya dan langsung berjalan masuk ke dalam lobby rumah sakit. Hari ini adalah hari tersial bagi Callista. Bagaimana tidak? Dia ditarik pulang saat dirinya baru saja selesai memeriksa pasien. Entah berapa banyak orang yang melihat dirinya saat ditarik pulang oleh ayahnya sendiri. Jika saja yang menarik dirinya bukan ayahnya, sudah pasti Callista mematahkan tangan yang berani menarik dirinya.
Sejak kecil, Callista memang memiliki sifat yang keras kepala. Callista tidak suka jika selalu diatur oleh kedua orang tuanya. Bukan ingin melawan atau memberontak, hanya saja Callista ingin menentukan apa yang telah menjadi impiannya sejak dulu. Ya, meski terkadang dia harus berdebat dengan ayahnya sendiri.
Kini Callista berjalan masuk ke dalam ruang kerjanya, namun saat Callista melangkah masuk, dia mendengar suara berteriak memanggil namanya. Callista membalikan tubuhnya dan menatap Olivia sahabatnya yang tengah berlari menghampirinya.
“Callista, kau dari mana saja?” tanya Olivia ketika dia berdiri di hadapan Callista.
“Aku rasa kau tahu, tadi pagi ayahku menyeretku pulang ke rumah,” jawab Callista ketus.
Olivia terkekeh geli. “Ini semua karenamu tidak mau pulang ke rumah. Jadi ayahmu langsung mendatangimu bahkan menyeretmu pulang. Tapi percayalah Paman Michael terlihat sangat tampan saat menyeretmu tadi. Aku begitu menganggumi ayahmu itu.”
Kejadian saat Callista dipaksa pulang oleh Michael memang menjadi pusat perhatian para pasien. Tidak hanya itu Dokter dan perawat juga ikut memperhatikan. Pasalnya, Callista terkenal dengan wajahnya yang cantik dan sifatnya yang tegas. Memiiki darah campuran Indonesia- California, membuat Callista begitu dikenal. Meski memiliki darah asia dari sang kakek, namun Callista sama sekali tidak memiliki wajah asia.
Callista mencebikan bibirnya. “Jangan bicara yang tidak-tidak. Aku ini baru saja berhasil melarikan diri dari rumah. Kepalaku sakit berurusan dengan keluargaku.”
“Aku tahu, pasti kau diminta memimpin perusahaan keluargamu, kan?” tebak Olivia sembari mengulum senyumannya.
“Jika kau sudah mengetahuinya maka diamlah!” tukas Callista kesal.
Olivia menghela napas dalam, dia sangat mengenal sahabatnya ini dengan baik. Callista memang tidak berminat untuk memimpin perusahaan keluarganya. Sejak kecil, impian Callista adalah menjadi seorang Dokter. Callista selalu menyerahkan perusahaan pada Jessica, kakaknya. Callista selalu mempercayai jika kakaknya itu bisa menangani perusahaan dengan baik.
“Kau tahu Callista sebentar lagi kakakmu akan menikah. Jadi tentu saja ayahmu mengharapkanmu membantunya dalam memimpin perusahaan,” ujar Olivia yang mengingatkan sahabatnya itu.
“Aku juga tahu kakakku akan segera menikah. Tapi dia tidak menikah sekarang. Aku yakin kakakku itu hebat. Dia sangat mampu menangani perusahaan dengan sangat baik. Jadi aku rasa dia tidak membutuhkan bantuanku,” balas Callista dengan nada yang sedikit malas. Dia sungguh tidak ingin mendengar hal ini lagi. Sudah cukup perdebatan dengan sang ayah membuatanya sakit kepala.
Olivia mendengus kesal. “Kau ini keras kepala sekali, Callista!”
“Sudahlah, kau jangan berisik. Kau tidak tahu, pengawal keluargaku tadi menahanku. Aku yakin setelah ayahku tiba di Paris dia akan langsung menghubungiku,” tukas Callista kesal. Pikirannya menerawang, membayangkan kemarahan ayahnya itu.
Olivia menggelengkan kepalanya. “Itu salahmu, kenapa kau tidak mau pulang ke rumah. Kau ini suka sekali tinggal di apartemen. Mansionmu sudah sangat mewah, kenapa kau tidak suka tinggal di mansionmu? Jika aku memiliki mansion sebesar mansionmu, aku rasa aku tidak akan keluar rumah.”
“Kalau kau mau, kau saja yang tinggal di mansionku. Aku tidak mau tinggal di sana. Kau tahu, ayahku terlalu banyak mengatur hidupku. Bahkan dia tidak pernah setuju aku menjadi seorang dokter,“ ujar Callista. Keluarganya memang tidak ada yang setuju dirinya menjadi seorang dokter. Terutama Michael, ayahnya itu lebih suka Callista meneruskan bisnisnya.
Olivia berdecak pelan. “Jangan bicara yang tidak-tidak! Lebih baik kita ke kafe agar pikiranmu jauh lebih santai. Minum hot chocolate di malam hari aku rasa sangat enak.” Olivia sengaja mengajak Callista, tentu saja tujuannya agar sahabatnya jauh lebih tenang dan tidak terlalu memikirkan masalah perusahaannya.
“Kau benar, hot chocolate akan membuatku lebih tenang,” balas Callita yang menyetujui perktaan Olivia.
Olivia tersenyum, dia langsung memeluk lengan Callista dan berjalan menuju salah satu kafe terdekat dengan rumah sakit.
***
Callista merenggangkan sedikit lehernya. Hari ini Callista begitu lelah, ditambah dia harus berurusan dengan anak buah ayahnya. Callista yakin jika Michael sudah tiba di Paris dan mengetahi dirinya tidak berada di rumah pasti Michael akan kembali menyeret Callista pulang ke rumah. Tapi Callista tidak perduli, setidaknya saat ini Callista bisa bebas.
Setelah menyelesaikan memeriksa pasien. Kini Olivia dan Callista meninggalkan rumah sakit, menuju kafe yang terdekat. Lokasi kafe yang tidak jauh dari rumah sakit, membuat Callista memilih untuk berjalan kaki.
Saat tiba di kafe, Callista memilih tempat duduk di ujung dekat jendela. Lalu Olivia memesankan hot chocolate dan cheese cake untuk mereka. Rasanya makan makanan manis membuat dirinya tenang.
Tidak lama kemudian, pelayan mengantarkan makanan yang sudah dipesan oleh Olivia. Ketika hot chocolate sudah terhidang di hadapan Callista dan Olivia, mereka langsung mengambil hot chocolate dan mulai menyesap hot chocolate yang berada di tangan mereka itu.
“Callista, apa kau masih memikirkan Thomas sampai saat ini?” Olivia bertanya dengan hati-hati. Dia tidak ingin membuat sahabatnya itu mengingat masa lalunya.
Callista mengangkat bahunya, dia sendiri tidak mengerti apa dirinya masih memikirkan Thomas atau tidak. “Aku rasa saat aku dengannya bertemu suatu hari nanti, aku tidak lagi mengenalnya. Apa dia masih setampan yang dulu?”
“Mungkin dia jauh lebih tampan. Tapi aku yakin dia sudah meninggalkan Los Angeles. Aku sudah tidak lagi melihat keluarga Thomas disini,” ujar Olivia seraya menyuapkan cheesecake yang ada di hadapannya ke mulutnya.
“Ya, aku sudah tahu dia pasti sudah meninggalkan Los Angeles sejak kita masih SMA dulu,” balas Callista datar.
Olivia menghela napas dalam, lalu dia menatap lekat mata Callista. “Apa kau masih merindukan Thomas?”
“Aku rasa kau sudah tidak waras, Olivia! Aku menyukai Thomas saat kita masih SMA. Bahkan aku tidak yakin jika suatu saat nanti aku bertemu lagi dengannya apa aku masih mengingatnya atau tidak,” kata Callista menegaskan. “Selain itu, kau juga tahu aku tidak suka terlibat hubungan percintaan yang rumit. Cukup kakakku yang ingin segera menikah. Aku ingin menikmati waktu ku untuk bersantai.”
“Tapi sejak dulu kau ini tidak pernah memiliki kekasih, Callista. Cobalah buka hatimu dan mulai menyukai pria lain,” ujar Olivia yang tidak setuju dengan perkataan sahabatnya itu.
Callista memang tidak pernah menjalin hubungan dengan pria manapun. Bukan Callista tidak bisa melupakan cinta pertamanya. Tapi memang Callista lebih memilih untuk tidak menjalin hubungan percintaan yang rumit.
Bagi Callista, menyendiri dan menikmati hidup seperti ini membuatnya jauh lebih tenang. Callista sering mellihat Jessica bertengkar dengan Adam dan terkadang membuat Jessica tidak bisa fokus dalam perusahaan. Itu yang membuat Callista enggan untuk menjalin hubungan. Mungkin suatu saat nanti dan yang pasti tidak sekarang.
“Kau sendiri bagaimana? Setelah kau dikhianati oleh kekasihmu sudah bertahun-tahun lalu tapi kau tetap menyendiri dan tidak mau membuka hatimu untuk yang lain,” sindir Callista. Olivia selalu meminta Callista membuka hati untuk pria lain tapi sahabatnya itu masih terus dibayang-bayangi oleh masa lalu.
Olivia mendesah pelan. “Aku berbeda, luka yang diberikannya terlalu dalam. Aku tidak ingin membuka luka itu. Aku lebih menikmati waktuku menyendiri.”
“Aku memang tidak pernah memiliki kekasih, tapi bukannya aku sudah mengatakan padamu lupakan pria sialan itu? Hidupmu terlalu indah untuk mengingat pria itu. Aku tidak mau kau harus memikirkan pria itu. Masih banyak pria yang menyukaimu,” ujar Callista menegaskan.
“Sudahlah, aku tidak ingin membahasnya. Minggu depan aku ingin mengajakmu ke salah satu klub malam milik temanku. Apa kau mau mau ikut denganku?” tanya Olivia yang memilih untuk tidak lagi membahas tentang pria.
“Aku tidak bisa minum alkohol, kau tahu itu bukan. Lagi pula kau ini bagaimana, kita ini Dokter tapi datang ke klub malam.” jawab Callista.
Olivia mendengus tak suka. “Kau pikir dokter bukan manusia? Kita juga butuh untuk bersenang-senang. Tenanglah aku tidak akan mengajakmu minum alkohol. Aku juga tidak bisa minum alkohol. Kita datang saja di klub milik temanku itu. Aku tidak enak, dia sudah mengundangku untuk datang.”
“Ya ya baiklah aku akan menemanimu,” balas Callista yang akhirnya menyetujui permintaan Olivia.
Senyum di bibir Olivia terukir begitu sumeringah, ketika mendengar akhirnya Callista mau menemani dirinya.
“Lebih baik kita kembali ke rumah sakit sekarang.” Callista melirik arloji di tangannya. Dia tidak mungkin meninggalkan ruamh sakit terlalu lama.
Olivia mengangguk setuju. “Ya, kau benar. Lebih baik kita kembali sekarang.”
Kemudian, Callista meminta bill pada pelayan, setelah Callista membayar makanan yang telah di pesan dia dan Olivia langsung berjalan meninggalkan kafe itu dan segera kembali ke rumah sakit.
***
-To Be Continued
Share the book to
Facebook
Twitter
Whatsapp
Reddit
Copy Link
Latest chapter
Daniel And Callista (INDONESIA) Bab 55 Kecemburuan Yang Membuat Egois
Daniel menyandarkan punggungnya di kursi. Dia memejamkan mata lelah. Sudah tiga hari ini, dia tidak berkomunikasi dengan Callista. Sebenarnya, dia ingin sekali menghubungi Callista, tapi ego yang ada di dalam dirinya mengalahkan keinginannya. Tidak bisa dipungkiri, dia masih begitu marah melihat Callista dekat dengan Mike. Ya, meski dia sudah mendapatkan informasi, jika benar Callista menggantikan Viktor menangani pasien yang mengalami kerusakan jantung, tapi tetap saja Daniel tidak suka Callista harus dekat dengan Mike. Hal yang membuat Daniel marah, adalah ketika saat Callista membiarkan Mike menemaninya di lobby, padahal sejak awal, Daniel sudah mengatakan jangan pernah dekat dengan Mike.
Daniel And Callista (INDONESIA) Bab 54 Pertengkaran
Daniel turun dari mobilnya, dia membanting kasar pintu mobilnya, kemudian melangkah masuk ke dalam penthousenya. Callista turun dari mobil, dia berlari mengejar Daniel yang sudah lebih dulu masuk ke dalam penthousenya. “Daniel, tunggu, kita harus bicara..” Callista menahan lengan Daniel, hingga membuat langkah kaki Daniel terhenti. “Callista, aku lelah. Lebih baik kau langsung istirahat.” Daniel melepaskan tangan Callista yang menyentuh lengannya itu.
Daniel And Callista (INDONESIA) Bab 53 Ungkapan Hati
Callista melangkah keluar dari ruang operasi. Setelah berada di ruang operasi hampir tiga belas jam berada di ruang operasi, membuatnya begitu lelah. Callista melirik arloji, kini sudah pukul delapan malam. Tanpa menunda, Callista langsung menuju ruang kerjanya, mengganti pakaiannya dan bersiap-siap untuk pulang. Sebelumnya, dia mengirimkan pesan pada Daniel, untuk tidak menunggunya. Bukan tidak ingin dijemput, tapi Callista hanya tidak ingin Daniel kelelahan harus menjemputnya. Tentu Callista mengerti, kesibukan Daniel sudah menyita banyak waktu kekasihnya itu. Dia tidak ingin merepotkan kekasihnya. Terlebih jarak dari perusahaan Daniel ke Queen Hospital tidaklah dekat.
Daniel And Callista (INDONESIA) Bab 52 Kedatangan Adam
“Nanti sore aku akan menemputmu,” ucap Daniel saat tiba di lobby rumah sakit. Rasanya begitu berat melepas kekasihnya itu. Padahal sebelumnya, Daniel sudah meminta Callista untuk tidak bekerja. Tapi tentu Callista menolaknya. Bisa saja Daniel memaksa Callista untuk tidak bekerja, tapi Daniel memilih untuk menuruti keinginan kekasihnya itu. Ini lebih baik, demi menghindar berdebat dengannya.Callista mendesah pelan. “Apa kau itu tidak bekerja? Kau selalu menjemputku. Bukan tidak ingin dijemput, tapi aku tidak ingin kau kelelahan harus menjemputku.”
Daniel And Callista (INDONESIA) Bab 51 Tetaplah Disisiku
Perlahan Callista mulai membuka matanya, dia merintih kesakitan pada bagian bawahnya. Namun, dia berusaha untuk menahan rasa sakit di bagian bawahnya. Tatapan Callista kini teralih melihat sosok pria yang masih tertidur pulas di sampingnya. Seketika senyum di bibir Callista terukir mengingat kejadian tadi malam. Sentuhan Daniel, tatapan pria itu yang begitu memuja tubuhnya. Bahkan sepanjang malam, Daniel selalu terus menginginkannya. Pria itu tidak henti memuji dirinya. Tadi malam, adalah hal terindah dalam hidup Callista. Dimana dia memberikan hal yang paling berharga dari dirinya, untuk pria yang dia cintai.Callista membawa tangannya menyentuh dengan lembut wajah Daniel. Rahang t
Daniel And Callista (INDONESIA) Bab 50 Completely Mine
“Daniel, kau kenapa? Apa kau melakukan kesalahan?” Callista menghentakan kakinya, saat masuk ke dalam penthouse milik Daniel. Tatapannya menatap kesal Daniel yang sejak tadi mendiaminya.“Tidak, aku hanya lelah,” jawab Daniel dingin. Dia melangkah masuk ke dalam kamarnya. Callista langsung mengikuti Daniel masuk ke dalam kamar pria itu. “Kau tidak pernah seperti ini, katakan padaku ada apa?” Callista menahan lengan Daniel. Kesabarannya sudah habis. Sepanjang perjalanan, Daniel te
Daniel And Callista (INDONESIA) Bab 49 Cemburu?
Daniel menatap Callista yang tengah tertidur dalam pelukannya. Dia mengelus lembut pipi Callista. Bulu mata lentik, hidung mancung dan mungil
Daniel And Callista (INDONESIA) Bab 48 Rencana Ke Jepang
Daniel menatap Callista yang tengah memasukan pakaian miliknya ke dalam tas. Sudah sejak tadi Daniel mengatakan cukup pelayan saja yang memasukan bajunya ke dala
Daniel And Callista (INDONESIA) Bab 47 Aku mencintaimu
Kondisi Daniel berangsur membaik. Setiap harinya Callista selalu menjaga Daniel. Bahkan Callista akan selalu menginap di ruang rawat Daniel, hanya demi memastik
Daniel And Callista (INDONESIA) Bab 46 Hampir Kehilanganmu
Sudah satu minggu Daniel tidak sadarkan diri. Operasi Daniel berjalan lancar. Meski Callista berhasil menyelamatkan Daniel dari masa kritisny
