loading
Home/ All /CAN'T L'Héritière (INDONESIA)/08. Kembali Pulih Dari Ketakutan

08. Kembali Pulih Dari Ketakutan

Author: Psychopath Tender
"publish date: " 2020-09-07 07:30:28

    Julia yang sudah pulih dari ketakutannya yang sebenarnya tak perlu dikhawatirkan berlebih itu mulai kembali beraktivitas seperti biasa. Gadis itu kembali masuk ke sekolah seolah tak pernah terjadi apa-apa dengannya, dan itu membuat Hana—sahabatnya—merasa sangat bahagia. Tentu saja, apa yang terjadi kepada Julia waktu itu memang sangat menakutkan, tetapi hidup harus terus berjalan. Tak sepantasnya rasa takut itu menjadikan segalanya bertambah semakin buruk dengan tak masuk ke sekolah selama berhari-hari.

"Julia, kau kemana saja beberapa hari ini?" tanya salah seorang gadis begitu Julia mendudukkan dirinya di atas sebuah kursi kelas. Disusul oleh pertanyaan serupa lainnya dari teman-teman sebaya.

"Julia, kau sakit?" tanya Melia. Yang disusul pertanyaan serupa dari kembarannya—Mesia. "Ya, kau terlihat pucat. Sakit apa kau, Julia?"

"Kenapa kau baru datang ke sekolah hari ini, Julia? Minggu depan kita kan sudah ujian," ucap Nancy.

"Iya! Tugas dan catatan kita ada banyak sekali! Untunglah, punyaku lengkap. Kau bisa meminjamnya nanti padaku."

Julia tersenyum simpul begitu mendapat beragam pertanyaan dari teman-teman sekelasnya. Ia bahkan sampai kewalahan menjawab pertanyaan itu satu per satu. Beruntung, ada Hana yang dengan senang hati membantunya dalam menjawab setiap pertanyaan. Betapa baiknya teman-temannya itu.

"Mulai sekarang, lebih berhati-hati lagi ya, Julia," pesan Fani dengan wajah cemas. "Jangan sampai terulang kembali! Sekarang, memang sedang tidak aman."

Julia tersenyum dan mengangguk kepada temannya itu. "Tenang saja, aku akan menjaga diri lebih baik lagi ke depannya," tutur sang gadis Peterson seraya mengacungkan jempol.

"Zaman sekarang, ada banyak sekali orang yang berbuat jahat kepada sesamanya. Jadi, aku harap kalian semua tetap waspada di mana pun kalian berada," pesan Bella selaku ketua kelas 12-C kepada seluruh siswi. "Dan jangan mudah terpedaya oleh orang asing. Ingat itu."

Julia yang duduk dengan tenang di kursinya ikut menganggukkan kepala sama seperti teman sekelasnya yang lain, setuju dengan ucapan gadis dengan riasan tipis di wajahnya.

Sesaat kemudian, datanglah Meggie—gadis yang suka bergosip ke tempat duduk Julia, lalu melontarkan pertanyaan, "Julia, apa kabar? Aku menyimak ceritamu dengan baik sekali."

Ucapan gadis itu membuat seluruh warga kelas langsung merotasikan mata. Meggie terlihat tidak peduli. "Tadi kau sempat mengatakan kalau kau diikuti oleh seseorang setelah selesai kencan dengan kekasihmu, bukan?"

Sambil mengedipkan mata dengan ekspresi bingung, Julia menjawab, "Ya, setelah kami berdua berpisah, aku mengambil jalan pintas yang sepi dan di gang itulah aku diikuti oleh seorang pria aneh yang membawa pisau. Memangnya ada apa?"

Meggie memasang ekspresi seolah terkejut dengan penjelasan Julia. Padahal dia hanya ingin mempertegas pernyataan gadis bungsu dari keluarga Peterson yang kaya itu, untuk memengaruhinya semata.

"Kau sama sekali tak menaruh kemungkinan bahwa kekasihmu lah yang melakukan itu semua kepadamu?" tanya Meggie Serra dengan wajah angkuh. Semua warga kelas memandang gadis yang dijuluki Rubah Licik itu dengan kesal.

"Dia mungkin saja berniat mencelakakanmu, Julia." Meggie tampaknya tidak peduli dengan tatapan mencemooh yang ditujukan kepadanya oleh para gadis di kelas. Ia hanya ingin 'menasihati' Julia. Itu saja.

"Hah?" Julia tercengang di tempat. "Aku tak mengerti."

 Apa maksud dari ucapan Meggie itu? Jacob lah yang waktu itu membuntutinya? Tapi ... untuk tujuan apa? Semua itu mustahil. 

"Jacob tidak mungkin seperti itu, aku percaya dengannya." Julia tersenyum, walau bagaimanapun, ia akan tetap mempercayai kekasihnya sendiri.

"Kau itu hanya terbuai dengan ketenaran kekasihmu saja, kan?! Lebih baik kau berhenti menjalin hubungan dengannya!"

"Julia, jangan dengarkan Meggie!" seru Hana dengan nyaring, ia langsung berdiri dari tempat duduknya dan menutup telinga sahabatnya. "Meggie, jangan kau mencoba memengaruhi sahabatku dengan ucapan yang tak punya dasar!"

Meggie hanya tertawa, membuat Fani yang berdiri di dekatnya mendorong gadis itu hingga membuatnya terjerembap ke lantai. "HEI!" pekiknya tak terima, tetapi teman-teman sekelasnya hanya tertawa saja menyaksikan kejatuhan sang gadis.

"Ck!" Meggie pun bangkit dan meninggalkan kelas dan kerumunan yang memandang kasihan padanya begitu saja. Hana lalu melepaskan telinga Julia yang tadi ia tutupi dengan tangannya. "Julia, kau baik-baik saja?" tanyanya khawatir.

Bunyi bel masuk pelajaran telah berbunyi dengan nyaring, membuat para siswi yang sebelumnya berdiri, sontak berlarian dan memilih duduk di tempat duduknya masing-masing dengan rapi.

"Aku baik-baik saja, Hana. Sekarang, cepat duduklah. Sebentar lagi guru pengawasnya akan masuk," bisik Julia kepada sang sahabat. Hari itu, mereka memang akan melaksanakan ujian percobaan karena ujian penentu kelulusan akan tiba sebentar lagi.

"Hei, dengar," bisik Hana sebelum beranjak ke kursinya. "Jika kau selalu mendengarkan kata-kata orang lain, dan mengabaikan kata hatimu, maka sama saja kau sudah menjadi orang lain."

"Tapi syukurlah kau tak termakan ucapan rubah licik itu, Julia! Jika kau melakukannya, maka akan sulit bagimu untuk menemukan kebahagiaan sejati di suatu saat nanti," tutur Hana seraya mencubit pipi sahabatnya dengan gemas.

Julia tersenyum manis, ia mengangguk sedikit dan berkata, "Terima kasih karena sudah membantuku sejauh ini dengan sangat baik, Hana."

Gadis bermarga Smith lantas tertawa pelan lalu melangkah ke tempat duduknya. Hana mengedipkan sebelah matanya, kemudian berucap, "Tentu saja! Kita kan sahabat!"

"Aku akan selalu menjaga dan melindungimu, Julia."

Julia menyunggingkan senyum lebar begitu mendengar penuturan Hana. Betapa beruntungnya Julia mendapatkan sahabat yang sangat menyayanginya seperti Hana.

+++

Julia dan teman-temannya tengah sibuk mempersiapkan ujian akhir karena mereka sudah kelas tiga di bangku High School, gadis itu bahkan jadi jarang memegang ponsel dan menghubungi kekasihnya—Jacob.

Berbicara tentang pria bersurai hitam dengan iris mata berwarna cokelat gelap, mengingatkan Julia pada hari di mana ia kembali menghubungi sang kekasih.

Betapa khawatirnya Jacob kepada gadis yang memiliki rasi bintang Sagitarius itu.

Begitu Julia menyalakan ponselnya, ternyata ia telah mendapatkan panggilan tak terjawab sebanyak 69 kali, 59 dari Jacob dan sisanya dari teman-teman di sekolah. Julia sampai tercengang karena perbuatan kekasihnya itu benar-benar gigih.

"Kau kemana saja beberapa hari ini, Julia? Aku sangat mencemaskanmu," ucap Jacob dari seberang telepon.

Julia bahkan bisa merasakan kekalutan dan kebahagiaan yang Jacob rasakan saat meneleponnya waktu itu. Semua perasaan sang lelaki bercampur jadi satu dan itu membuat Julia merasa bersalah.

Sekaligus bahagia di saat bersamaan.

"Jika ada masalah, tolong berceritalah padaku, Julia. Aku ingin kau berbagi semua hal tentangmu. Entah itu masa lalumu, apa yang kau sukai atau bahkan sesuatu yang kau benci sekalipun."

"Aku ingin mengetahui semuanya dengan jelas."

Julia benar-benar luluh saat mendengarnya. Jacob memang sosok lelaki terbaik, kekasih yang hebat dan pria yang membuatnya jatuh cinta sejak pertama kali mengenalnya.

Gadis itu tak mungkin bisa menutupi segala sesuatu dari sang kekasih yang jelas-jelas begitu peduli kepadanya. Dengan perasaan yang sudah lebih tenang, Julia pun memutuskan untuk menceritakan apa yang terjadi kepadanya di hari di mana mereka berdua berpisah.

Julia lupa jika tujuannya waktu itu untuk tidak memberitahukan Jacob adalah agar kekasihnya itu tidak terlalu khawatir dan menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang menimpa Julia.

Benar saja, Jacob benar-benar menyalahkan dirinya atas kesialan yang didapatkan Julia. Pria itu terus-terusan mengucap permohonan maaf dan berjanji tidak akan membiarkan Julia pulang sendirian lagi ke rumah. Hati Julia sakit mendengar suara lirih sang kekasih.

"Tidak, ini bukan salahmu, Sayang." Julia sudah berucap kalimat itu berulang kali, tetapi rasa bersalah Jacob belum menghilang juga. Justru semakin bertambah saat Julia mengatakan ia hampir terkena serangan sang penguntit.

"Maaf, ini semua salahku. Seharusnya waktu itu aku memaksamu pulang bersamaku, Julia."

Julia tak tahu apakah dia harus merasa senang atau merasa bersalah begitu melihat dilema yang tengah dirasakan oleh sang kekasih. Ia lalu menenangkan Jacob, dan mengajak pria itu kencan lagi di lain hari.

"Baiklah." Selepas pembicaraan keduanya selesai tentang masalah yang dialami Julia, gadis itu meminta izin untuk jarang memegang ponsel karena akan sibuk belajar mempersiapkan ujian kelulusan.

Jacob pun memakluminya begitu saja, tetapi ia berpesan agar Julia tidak terlalu lama belajar agar tidak memberatkan pikiran sang gadis.

Julia tersenyum mengingatnya, Jacob memang selalu bisa ia andalkan. Beruntung sekali dia bisa memiliki kekasih hebat seperti seorang Jacob Leckner.

Julia berjanji, tidak akan pernah melepaskannya.

+++

Waktu berlalu dengan cepat, tibalah keluarga Peterson di akhir pekan—saat yang paling mereka tunggu-tunggu dan selalu mereka nantikan, yaitu bersih-bersih rumah secara besar-besaran!

Berbeda dengan keluarga kaya lainnya, keluarga Peterson tidak pernah sekalipun menggunakan jasa pembantu.

Menurut sang kepala keluarga—Charlie, selain sulit dan kurang percaya terhadap orang-orang yang katanya pandai membersihkan rumah, mereka juga ingin lebih produktif dengan cara merawat rumah sendiri ketimbang meminta bantuan dari orang lain.

Jadi, pasangan Peterson yaitu Charlie dan Meggan memutuskan untuk membersihkan rumah mereka di akhir pekan saja, tetapi dilakukan secara besar-besaran bersama anak-anak kesayangan mereka.

Tak terkecuali sudut kecil di dalam rumah mereka sekalipun, sama sekali tidak boleh ada yang terlewat oleh peralatan kebersihan.

"Louis, tolong bantu Papa bersihkan gudang!" teriak Charlie kepada anak sulungnya, Louis yang dipanggil pun mengikuti arah sumber suara dengan tatapan malas.

Semua jadwal kegiatan atau bisnis mereka di hari Sabtu dan Minggu memang khusus dikosongkan, sebab kedua orang tua Julia beranggapan bahwa menghabiskan waktu berkualitas di rumah bersama keluarga adalah kebahagiaan tersendiri yang tidak bisa digantikan oleh siapapun.

"Sayang, tolong bantu Mama di sebelah sini ya." Julia melepas masker yang ia gunakan dan memberi gestur 'ok' kepada sang mama. "Baiklah, Ma," sahut sang gadis dengan riang.

Hari ini, Julia mengikat rambutnya dengan tinggi. Awalnya Julia bermaksud membuat sanggul kembali agar tidak kesulitan saat membersihkan rumah, tetapi begitu ingat kejadian memalukan di taman langsung membuat gadis itu mengurungkan niatnya.

"Ma, ini taruh di mana?" tanya Julia kepada Meggan, ia mengangkat sebuah kotak berukuran sedang yang berisi beberapa buah buku tak terpakai dan sudah banyak yang dimakan oleh hewan rayap.

Meggan yang sedang membersihkan perabotan elektroniknya menggunakan cairan pembersih menoleh dan diam sesaat seraya memandang kotak yang kini dipeluk oleh Julia. "Hmm, tolong kau taruh itu di ruang baca saja, Sayang. Pisahkan yang masih layak dibaca dan yang sudah rusak ya," ucapnya sebelum kembali beralih pada tugasnya.

Julia mengangguk paham dan berlalu meninggalkan ruang tamu, tetapi sebelum itu Meggan sempat memanggilnya. "Julia!" Panggilan dari sang mama membuat Julia berhenti melangkah dan sibuk memandangi wanita paruh baya yang terlihat kelelahan. "Ya?"

"Tolong kau bersihkan juga rak-rak buku perpustakaan keluarga kita ya, Sayang. Sudah lama Mama ingin membersihkannya tetapi selalu saja lupa. Lalu setelah ini, Mama ingin beristirahat dulu sebelum memasak makan siang."

Selesai berbicara, Meggan kembali fokus membersihkan dan mengelap barang elektronik seperti televisi, vas dan lain sebagainya menggunakan kain pembersih khusus yang ia pesan langsung dari perusahaannya.

Julia yang mendapatkan amanah dari sang mama hanya mengangguk dan meninggalkan ruangan di mana sang mama berada.

Gadis berkucir kuda itu begitu antusias dengan kegiatan bersih-bersih di keluarga mereka. Walau orang tuanya jarang berada di rumah, tetapi di akhir pekan mereka sekeluarga bisa bersantai bersama-sama tanpa membahas masalah pekerjaan ataupun bisnis.

Julia merasa sangat bersyukur, karena diberkahi oleh keluarga, teman dan kekasih yang sangat baik kepadanya. Gadis itu hanya berharap, semoga kebahagiaannya itu bertahan selamanya.

+++

Semilir angin lembut yang masuk dari jendela yang terbuka lebar, membuat seorang gadis yang sedang sibuk menata buku-buku di rak bergegas menghampiri jendela dan menutupnya dengan rapat.

Julia kembali beranjak ke deretan rak berwarna merah bata dan berjongkok guna mengambil beberapa buku dari dalam kotak untuk di susunnya dengan rapi di sana.

Gadis itu sangat menyukai kegiatan bersih-bersih di akhir pekan, baginya kebersihan adalah bagian dari pola hidup sehat seseorang yang paling utama di dunia ini.

Di tengah kegiatan Julia dalam menyusun buku-buku berdasarkan ukuran, tangannya secara tak sengaja menyenggol sebuah buku hingga buku besar tersebut jatuh dan menimbulkan bunyi 'buk' yang keras.

Julia buru-buru berjongkok dan mengambil buku yang jatuh tersebut yang ternyata adalah buku ensiklopedia bebas dengan abjad A.

Sang gadis lalu berniat mengembalikannya ke tempat semula saat secarik kertas keluar dari dalam halaman buku tebal tersebut.

"Eh, benda apa ini?" tanya Julia. Ia lalu berdiri diam dan memperhatikan lembaran usang yang ada di tangannya dengan bingung. 

Want to know what happens next?
Continue Reading
Previous Chapter
Next Chapter

Share the book to

  • Facebook
  • Twitter
  • Whatsapp
  • Reddit
  • Copy Link

Latest chapter

CAN'T L'Héritière (INDONESIA)   37. Bad News

Tak ada seorang pun yang bisa menebak kemana perginya seseorang dari rumah. Kecuali mereka ada memberitahukan kepergian mereka kepada orang-orang terdekat sesaat sebelumnya, atau meninggalkan teka-teki di atas tempat tidur. Hal itu pulalah yang menjadi teka-teki kepergian Julia Peterson dari rumahnya yang kini mendadak dipadati oleh orang-orang yang penasaran dengan kehadiran mobil polisi di rumah besar tersebut. "Huu ... tolong, Pak Polisi! Tolong ... tolonglah aku, tolong bantu kami mencari anakku .... Anakku Julia!" Meggan bersimpuh di atas lantai dengan wajah yang terhalangi oleh kedua tangannya. Menutupi wajah memerah yang basah karena air mata. "Kumohon! Tolonglah! Bantu aku mencari anakku! Hu hu hu.... Julia!" Suasana di kediaman keluarga Peterson tampak ramai oleh orang-orang yang datang karena rasa pena

CAN'T L'Héritière (INDONESIA)   36. Be Panic!

"Aku masih merasa sedikit ngantuk," ucap Charlie sambil menarik kursi di meja makan. Meggan, sang istri pun datang membawakannya secangkir kopi dan menaruhnya di hadapannya. Charlie menatap kopi dan wanita yang puluhan tahun lalu dinikahinya ini secara bergantian. "Terima kasih, Sayang." Siapa yang menyangka, jika kedua orang ini dulunya menikah bukan karena cinta melainkan perjodohan yang sudah diatur oleh kedua orang tua masing-masing. Meggan dan Charlie tak pernah terlibat dengan perasaan seperti cinta. Mereka menikah karena paksaan dari kedua orang tua yang sama-sama menginginkan kekayaan dari keluarga yang berbesan dengannya. Saat awal pernikahan pun, tak terdengar adanya ucapan manis yang romantis keluar dari bibir keduanya. Seolah memang tak ada cinta di antara mereka. Namun, kini semua telah berbeda. Keduanya sekarang bak pecinta ulung yang

CAN'T L'Héritière (INDONESIA)   35. Worries

Tak menunggu sampai hari Sabtu tiba, pasangan suami istri dari keluarga Peterson telah kembali dari luar negeri pada hari Kamis pagi. Sepertinya, Meggan dan Charlie sudah benar-benar merindukan rumah dan anak-anak kesayangan mereka. Teman lama yang sudah mereka anggap keluarga sendiri pun, sempat meminta untuk bertemu di kediaman mereka setelah kepulangan keduanya dari perjalanan bisnis. Walau tiba di pagi hari buta, tampaknya hal itu tak membuat mereka lupa menghubungi putra kesayangan mereka, Louis, untuk menjemput mereka di bandara. Mereka sudah menyiapkan banyak sekali buah tangan yang pasti akan disukai oleh anak gadis kecil kesayangan mereka, Julia. Tentu saja oleh-oleh yang mereka bawa ini hanya untuk Julia seorang, sebab mereka tahu, Louis bukan anak yang suka meminta barang-barang bagus dari mereka. Jadi, tak ada salahnya jika mereka hanya pergi membelikan barang-barang bagus s

CAN'T L'Héritière (INDONESIA)   34. Meet

Orang-orang sering mengatakan, apa saja akan dilakukan oleh orang-orang jika segala sesuatu itu menyangkut dengan masalah uang. Alat tukar yang bisa dipakai untuk membeli sesuatu itu pun menjadi daya tarik orang di masa sekarang. Tidak, bahkan dulu pun, semua orang saling berlomba mengumpulkan uang yang banyak. Sama halnya dengan dua orang sahabat baiknya Javier, kedua orang itu langsung bergerak cepat ketika mendengar tentang adanya bayaran. Pemuda itu mengernyit seketika. "Masalah uang saja, kalian berdua langsung secepat kilat ya?" kekehnya sambil tertawa kecil. Sesaat kemudian, ponsel di dalam sakunya pun berdering dengan sangat nyaring. Sampai-sampai raut wajahnya pun berubah seketika. "Kenapa?" Daniel bertanya, lalu mendekat ke arah sahabatnya. Dengan malas, Javier mengangkat ponsel dan memperlihatkan siapa sang penelepon. "Orang berengsek itu menghubungiku sekarang," ucapnya data

CAN'T L'Héritière (INDONESIA)   33. Emily's Tears 2

Keceriaan yang terpancar di wajah tiga orang remaja yang sama-sama memiliki usia yang berbeda-beda itu memang suatu pemandangan yang teramat langka di kediaman Emily yang dirasa cukup sepi. Terutama dari apa yang dirasakan oleh kedua orang tua Emily ketika melihat anak perempuannya bisa tertawa lepas saat berada di tengah-tengah para sahabatnya yang saat itu sengaja berkunjung ke rumah mereka. Mengintip dari sela-sela pintu yang terbuka sedikit, memang bukan tindakan yang terpuji, apalagi di beberapa negara, mengintip bisa dikategorikan sebagai aksi kriminalitas. Akan tetapi, rasa penasaran kedua orang tua dari seorang anak remaja yang tumbuh pesat memang tak bisa dibendung begitu saja. Larissa memeluk lengan kokoh sang suami, bersandar pada pundak lelaki yang telah ia nikahi belasan tahun silam dengan raut wajah sendu. Nasib malang yang menimpa putri kesayangan mereka sama sekali tak b

CAN'T L'Héritière (INDONESIA)   32. Emily Tears

"Ehhh?! Kenapa kau malah menangis, Emi?" Javier panik, saat melihat Emily menyeka pipinya yang mendadak basah. Buru-buru pemuda 17 tahun itu menyeka air mata yang tersisa dengan ibu jarinya secara hati-hati. "Aku sudah sering mengatakannya padamu, jangan pernah menangis lagi!" "Kau tahu? Aku tidak suka melihat air matamu! Kau boleh bersedih, tapi jangan menangis seperti ini di depanku!" Emily menggeleng pelan, ia gigit bibirnya perlahan. "Aku ... aku tidak tahu apakah Jacob masih ingin bersamaku atau tidak," bisiknya lirih. "Aku senang kau berkata seperti itu, Javi. Aku senang sekali. Aku sudah berjanji padamu untuk tidak lagi menangis di depanmu, tapi aku malah menangis lagi. Maafkan aku, Javi." Raut wajah Emily kembali sendu. Air matanya kembali menitik jatuh. "Tapi, kakakmu sudah memiliki orang lain di sisinya, Vi. Apa yang bisa kulakukan selain

CAN'T L'Héritière (INDONESIA)   27. Just Regretful

Julia menundukkan kepala, air matanya menetes secara perlahan, hingga tak berhenti mengalir membasahi pipi. Seberapa keras pun dia mencoba menggerakkan kedua tangannya, hasilnya akan tetap sama. Tak berhasil. Tangannya terikat kuat oleh sesuatu. 

CAN'T L'Héritière (INDONESIA)   26. Feeling Worried

Pukul delapan malam, suasana kota yang gemerlap dari atas bangunan tinggi akan memanjakan mata setiap orang yang kebetulan menyaksikannya. Lalu lalang kendaraan, terdengar begitu bising, memecah kesunyian malam. Di tengah-tengah waktu itu, ada seorang pemuda yang baru saja b

CAN'T L'Héritière (INDONESIA)   25. Basement

"Hei, Vi, masih lama?" Daniel mengetuk-ngetuk setir mobil yang ia kemudikan. Sudah lebih dari tiga jam mereka berkendara dari pusat kota ke sekitar pegunungan dekat perbatasan, mencari keberadaan rumah lama Javier yang tersembunyi di dalam gunung.&nb

CAN'T L'Héritière (INDONESIA)   24. Nostalgia

"Hari ini, aku akan minum sepuasnya!" gumam Louis sambil menenggak habis segelas vodka yang ada di gelas sloki, lalu menaruh kembali gelasnya dengan cepat ke atas meja. Sore hari menjelang malam, di saat ada banyak sekali orang-orang ber

More Chapters
Download the Book
GoodNovel

Download the book for free

Download
Search what you want
Library
Browse
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystemFantasyLGBTQ+ArnoldMM Romancegenre22- Englishgenre26- EnglishEnglishgenre27-Englishgenre28-英语
Short Stories
SkyMystery and suspenseModern urbanDoomsday survivalAction movieScience fiction movieRomantic movieGory violenceRomanceCampusMystery/ThrillerImaginationRebirthEmotional RealismWerewolfhopedreamhappinessPeaceFriendshipSmartHappyViolentGentlePowerfulGory massacreMurderHistorical warFantasy adventureScience fictionTrain station
CreateWriter BenefitContest
Hot Genres
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystem
Contact Us
About UsHelp & SuggestionBussiness
Resources
Download AppsWriter BenefitContent policyKeywordsHot SearchesBook ReviewFanFictionFAQFAQ-IDFAQ-FILFAQ-THFAQ-JAFAQ-ARFAQ-ESFAQ-KOFAQ-DEFAQ-FRFAQ-PTGoodNovel vs Competitors
Community
Facebook Group
Follow Us
GoodNovel
Copyright ©‌ 2026 GoodNovel
Term of use|Privacy