Download the book for free
13. Isi Hati Yang Tersampaikan
Author: Psychopath TenderKejadian yang menurut Julia begitu memalukan tersebut, agaknya membuat sang gadis menjadi sedikit pendiam ketika ditanya ada apa dengan sikapnya yang mendadak berubah siang hari itu. Jacob sendiri, sempat dibuat kebingungan saat ia menanyakan Julia ingin makan apa.
Gadis itu hanya diam saja seraya mengetik sesuatu di ponselnya. Begitu selesai, sang gadis menunjukkannya kepada Jacob. Tulisan yang berbunyi, 'Aku tidak lapar' itu membua
Share the book to
Facebook
Twitter
Whatsapp
Reddit
Copy Link
Latest chapter
CAN'T L'Héritière (INDONESIA) 37. Bad News
Tak ada seorang pun yang bisa menebak kemana perginya seseorang dari rumah. Kecuali mereka ada memberitahukan kepergian mereka kepada orang-orang terdekat sesaat sebelumnya, atau meninggalkan teka-teki di atas tempat tidur. Hal itu pulalah yang menjadi teka-teki kepergian Julia Peterson dari rumahnya yang kini mendadak dipadati oleh orang-orang yang penasaran dengan kehadiran mobil polisi di rumah besar tersebut. "Huu ... tolong, Pak Polisi! Tolong ... tolonglah aku, tolong bantu kami mencari anakku .... Anakku Julia!" Meggan bersimpuh di atas lantai dengan wajah yang terhalangi oleh kedua tangannya. Menutupi wajah memerah yang basah karena air mata. "Kumohon! Tolonglah! Bantu aku mencari anakku! Hu hu hu.... Julia!" Suasana di kediaman keluarga Peterson tampak ramai oleh orang-orang yang datang karena rasa pena
CAN'T L'Héritière (INDONESIA) 36. Be Panic!
"Aku masih merasa sedikit ngantuk," ucap Charlie sambil menarik kursi di meja makan. Meggan, sang istri pun datang membawakannya secangkir kopi dan menaruhnya di hadapannya. Charlie menatap kopi dan wanita yang puluhan tahun lalu dinikahinya ini secara bergantian. "Terima kasih, Sayang." Siapa yang menyangka, jika kedua orang ini dulunya menikah bukan karena cinta melainkan perjodohan yang sudah diatur oleh kedua orang tua masing-masing. Meggan dan Charlie tak pernah terlibat dengan perasaan seperti cinta. Mereka menikah karena paksaan dari kedua orang tua yang sama-sama menginginkan kekayaan dari keluarga yang berbesan dengannya. Saat awal pernikahan pun, tak terdengar adanya ucapan manis yang romantis keluar dari bibir keduanya. Seolah memang tak ada cinta di antara mereka. Namun, kini semua telah berbeda. Keduanya sekarang bak pecinta ulung yang
CAN'T L'Héritière (INDONESIA) 35. Worries
Tak menunggu sampai hari Sabtu tiba, pasangan suami istri dari keluarga Peterson telah kembali dari luar negeri pada hari Kamis pagi. Sepertinya, Meggan dan Charlie sudah benar-benar merindukan rumah dan anak-anak kesayangan mereka. Teman lama yang sudah mereka anggap keluarga sendiri pun, sempat meminta untuk bertemu di kediaman mereka setelah kepulangan keduanya dari perjalanan bisnis. Walau tiba di pagi hari buta, tampaknya hal itu tak membuat mereka lupa menghubungi putra kesayangan mereka, Louis, untuk menjemput mereka di bandara. Mereka sudah menyiapkan banyak sekali buah tangan yang pasti akan disukai oleh anak gadis kecil kesayangan mereka, Julia. Tentu saja oleh-oleh yang mereka bawa ini hanya untuk Julia seorang, sebab mereka tahu, Louis bukan anak yang suka meminta barang-barang bagus dari mereka. Jadi, tak ada salahnya jika mereka hanya pergi membelikan barang-barang bagus s
CAN'T L'Héritière (INDONESIA) 34. Meet
Orang-orang sering mengatakan, apa saja akan dilakukan oleh orang-orang jika segala sesuatu itu menyangkut dengan masalah uang. Alat tukar yang bisa dipakai untuk membeli sesuatu itu pun menjadi daya tarik orang di masa sekarang. Tidak, bahkan dulu pun, semua orang saling berlomba mengumpulkan uang yang banyak. Sama halnya dengan dua orang sahabat baiknya Javier, kedua orang itu langsung bergerak cepat ketika mendengar tentang adanya bayaran. Pemuda itu mengernyit seketika. "Masalah uang saja, kalian berdua langsung secepat kilat ya?" kekehnya sambil tertawa kecil. Sesaat kemudian, ponsel di dalam sakunya pun berdering dengan sangat nyaring. Sampai-sampai raut wajahnya pun berubah seketika. "Kenapa?" Daniel bertanya, lalu mendekat ke arah sahabatnya. Dengan malas, Javier mengangkat ponsel dan memperlihatkan siapa sang penelepon. "Orang berengsek itu menghubungiku sekarang," ucapnya data
CAN'T L'Héritière (INDONESIA) 33. Emily's Tears 2
Keceriaan yang terpancar di wajah tiga orang remaja yang sama-sama memiliki usia yang berbeda-beda itu memang suatu pemandangan yang teramat langka di kediaman Emily yang dirasa cukup sepi. Terutama dari apa yang dirasakan oleh kedua orang tua Emily ketika melihat anak perempuannya bisa tertawa lepas saat berada di tengah-tengah para sahabatnya yang saat itu sengaja berkunjung ke rumah mereka. Mengintip dari sela-sela pintu yang terbuka sedikit, memang bukan tindakan yang terpuji, apalagi di beberapa negara, mengintip bisa dikategorikan sebagai aksi kriminalitas. Akan tetapi, rasa penasaran kedua orang tua dari seorang anak remaja yang tumbuh pesat memang tak bisa dibendung begitu saja. Larissa memeluk lengan kokoh sang suami, bersandar pada pundak lelaki yang telah ia nikahi belasan tahun silam dengan raut wajah sendu. Nasib malang yang menimpa putri kesayangan mereka sama sekali tak b
CAN'T L'Héritière (INDONESIA) 32. Emily Tears
"Ehhh?! Kenapa kau malah menangis, Emi?" Javier panik, saat melihat Emily menyeka pipinya yang mendadak basah. Buru-buru pemuda 17 tahun itu menyeka air mata yang tersisa dengan ibu jarinya secara hati-hati. "Aku sudah sering mengatakannya padamu, jangan pernah menangis lagi!" "Kau tahu? Aku tidak suka melihat air matamu! Kau boleh bersedih, tapi jangan menangis seperti ini di depanku!" Emily menggeleng pelan, ia gigit bibirnya perlahan. "Aku ... aku tidak tahu apakah Jacob masih ingin bersamaku atau tidak," bisiknya lirih. "Aku senang kau berkata seperti itu, Javi. Aku senang sekali. Aku sudah berjanji padamu untuk tidak lagi menangis di depanmu, tapi aku malah menangis lagi. Maafkan aku, Javi." Raut wajah Emily kembali sendu. Air matanya kembali menitik jatuh. "Tapi, kakakmu sudah memiliki orang lain di sisinya, Vi. Apa yang bisa kulakukan selain
CAN'T L'Héritière (INDONESIA) 28. Just Hope
Papa, Mama ... aku mau pulang. Pulang ke rumah. Papa ... Jacob ... tolong aku, Jacob .... Julia membatin dalam tangisnya. Ia menangis, tersedu-sedu walau tak ada isakan lirih yang keluar dari mulutnya yang tertutupi lakban hitam. Namun,
CAN'T L'Héritière (INDONESIA) 27. Just Regretful
Julia menundukkan kepala, air matanya menetes secara perlahan, hingga tak berhenti mengalir membasahi pipi. Seberapa keras pun dia mencoba menggerakkan kedua tangannya, hasilnya akan tetap sama. Tak berhasil. Tangannya terikat kuat oleh sesuatu. 
CAN'T L'Héritière (INDONESIA) 26. Feeling Worried
Pukul delapan malam, suasana kota yang gemerlap dari atas bangunan tinggi akan memanjakan mata setiap orang yang kebetulan menyaksikannya. Lalu lalang kendaraan, terdengar begitu bising, memecah kesunyian malam. Di tengah-tengah waktu itu, ada seorang pemuda yang baru saja b
CAN'T L'Héritière (INDONESIA) 25. Basement
"Hei, Vi, masih lama?" Daniel mengetuk-ngetuk setir mobil yang ia kemudikan. Sudah lebih dari tiga jam mereka berkendara dari pusat kota ke sekitar pegunungan dekat perbatasan, mencari keberadaan rumah lama Javier yang tersembunyi di dalam gunung.&nb
