Baixe o livro gratuitamente
Part 6, maaf
Autor: Carol16Davin's pov
Ketika aku sedang melajukan mobilku, aku sempat menelpon asisten pribadiku untuk mulai menyewa asisten rumah tangga untuk rumah ini.
Lagipula asisten lama telah pensiun dan harus digantikan dengan yang baru.
Tut!..
Ketika aku selesai menelpon, aku melihat istriku sendiri menaiki mobil orang lain dan bahkan hampir disentuh oleh pria lain.
Sontak aku pun mulai mengemudikan mobilku untuk mengikuti mereka berdua dengan diam diam.hatiku serasa mendingin dan agak kesal melihat Violetta bersama pria lain.
'Apakah ia telah memiliki kekasih sebelum menikah?'pernyataan itu terus melayang di benakku dan membuatku semakin geram.
Aku pun terus mengikuti mereka dan mendapati bahwa mereka berhenti di depan perusahaan aku. Aku lalu segera memanggil dan memerintahkan orangku untuk memarkirkan mobil sedangkan aku pergi mengejar Violetta.
Ketika ia akan memasuki kantornya, aku dengan segera mencekal lengannya dengan penuh amarah dan menariknya ke dalam kantorku.
Aku merasa seolah olah diriku telah dikendalikan oleh kemarahan sehingga tanpa sadar membuatnya terluka.
"K-kau adalah laki laki terkejam yang pernah kutemui!"
Kalimat itu memasuki telingaku dan membuatku tersadar bahwa aku telah melukai Violetta, istriku..
Namun, semua terlambat karena ia telah keluar dan pergi dariku. Dengan segera aku menelpon Siska agar dapat menenangkan Violetta dan menjaganya.
"Woy, boleh ke rumah gua dulu gak.gua gak sengaja bikin Violetta terluka..bantuin jaga dia,"ujarku pada Siska dari telepon.
"Ganggu aja, orang mau ngedate nih sama cogan kagek siang.."balasnya dengan nada malas.
"Plis, sekali aja..nanti gua kasih apa pun yang lo mau."
"Kenapa gak abang aja sih yang kesana? Kan gua yang jadi repot nih,"balasnya dengan kesal dan memberontak.
"..."
"Yodah..awas ya lo bang!"balasnya dan segera mematikan panggilannya.
Tut!
Aku pun mulai mengerjakan semua tugas dan file file yang berceceran dengan sistem kebut.aku berdoa agar Violetta tidak marah padaku dan tidak apa apa...
Violetta's pov
"Astaga...kamu kenapa??"tanya Siska, saudari dari Davin.
"Gakpapa kok,"balasku dan segera disambut oleh sumpah serapah Siska pada Davin...
"Dia itu memang kurang ajar.bukannya ngejer kamu malah telpon aku.kan jadinya aku kira kondisimu itu gak terlalu parah .."
Aku pun hanya menunjukkan senyumku padanya sebagai balasan atas ucapannya pada Davin. Ketika aku membandingkan mereka berdua, aku merasa bahwa mereka berbeda baik dari segi wajah maupun sikapnya.
Aku tak terlalu mengambil pusing akan hal ini.setidaknya masih ada Siska yang mau membantuku.
Kalau Feysya sepertinya tidak akan kuberitahu.sudah cukup aku membuatnya kuatir terus menerus...
"Kak, jadi mau aku yang obati aja gak?"tanyanya padaku yang sedang sibuk mengoleskan obat pada lenganku yang memar.
"Makasih.."ucapku yang dibalas dengan cengiran ala anak kecil oleh Siska.
Akhirnya, setelah selesai memakai obat, kami mulai bermain main dan tentunya ia masih memperhatikan kondisiku yang telah agak membaik.
Tak terasa, hari telah larut dan ia mulai pulang ke rumah.aku merasa hampa di sini..
Aku pun teringat dengan note book milikku dan mengambilnya.aku mencoba menceritakan segala kejadian hari ini ke dalam buku itu hingga terdengar suara mobil.
Tap, tap, tap....
Ceklek!
Aku pun menatap ke arah luar dan mendapati bahwa suamiku, Davin masuk ke dalam dan ke dekatku untuk melihat kondisiku.
Aku agak menjaga jarak sebagai tanda bahwa aku masih terluka dan memintanya untuk menjauh..
"Maaf.."
Kupandangi wajahnya yang menawan itu dengan lekat lekat dan mulai menghela nafas. Aku pun mendekatinya dan menganggukkan kepalaku.
Ia pun segera membawaku ke sofa dan melihat kembali lenganku yang lebam dan memgoleskan obatnya kembali.
"Masih sakit?"tanyanya sembari masih mengoleskan obat.
"Nggak.."balasku dengan setengah meringis karena pengolesan obat.
"Lo tadi nelpon Siska ya?"tanyaku padanya dengan agak penasaran.
"Iya, soalnya kerjaan masih banyak.jadinya aku cuma bisa manggil Siska buat ngejagain lo,"balas nya dengan sedih dan seketika membuatku terkikik.
"Tau gak? Si Siska ngomong sumpah serapah ke kamu karna ngeliat kondisi aku,"ucapku sambil menahan tawa.
Ia pun ikut tertawa dan menggelengkan kepalanya.namun, dalam beberapa detik kemudian ekspresinya berubah dan membuatku merasa bingung.
"Cowok tadi pagi yang nganter kamu siapa?"tanyanya dengan suara yang agak berat..
Compartilhar o livro para
Facebook
Twitter
Whatsapp
Reddit
Copy Link
Último capítulo
Bahtera pernikahan (indonesia) Part 46, pengakuan
Davin's pov "Ta, apa kau tahu? Aku bermimpi aneh tadi sore ketika keluar dari ruangan dan memejamkan mataku sejenak." "Seorang gadis terlihat mirip sekali sepertimu dan tampak bahwa ia sedang mengalami suatu masalah dari raut wajahnya. .. sebuah cermin juga terlihat di sana dan menarik perhatian diriku." "Ketika aku mengesernya, cermin itu dapat memperlihatkan berbagai hal hal yang sedang terjadi dan sebelumnya telah terjadi. Namun, aku tak dapat menggesernya ke masa depan.." ucapku panjang lebar pada wanita di sampingku yang tak merespon ataupun menggerakkan secuil pun anggota tubuhnya. Walaupun aku mungkin tahu mungkin saja ia tak akan mendengarkanku karena kondisi dirinya yang dapat terbilang lebih dari sekadar sekarat dan bahkan nyawanya bisa saja kapanpun terangkat secara tiba tiba... Aku mulai bangkit dan membaringkan tubuhku di sebuah sofa keras. Aku mulai memejamkan mataku yang
Bahtera pernikahan (indonesia) Part 45, keadaannya
Hai semuanya... ini chapter selanjutnya ya.. makasih udah mau menunggu cerita saya selama ini dan selamat membaca... Davin's pov"Kami telah berusaha semampu mungkin, namun karena keadaannya terlampau parah... ia akan mengalami koma dan bahkan bila ia terbangun dari kondisi ini. Kami menduga bahwa akan terjadi kerusakan pada salah satu bagian tubuhnya baik permanen maupun sementara," ungkap dokter itu dengan raut wajah lelah."Baik, apakah sekarang ia dapat dikunjungi?" Tanyaku balik."Boleh, namun hanya boleh 2 orang dan bergantian bila lebih dari 2 orang.""Makasih dok," jawabku sembari diikuti oleh langkahnya yang menjauh dari sini. Dengan cepat, aku memasuki ruangan itu dan berganti baju sebelum mendekati istriku. Ketika telah selesai, aku mulai mendekati Violetta dan melihat bahwa berbagai alat terpasang pada tubuhnya. Hanya deru nafas dan suara mesin medis yang menggema ke seluruh ruangan dan menghiasi pendengaranku
Bahtera pernikahan (indonesia) Part 44, pendarahan otak
Malam semuanya.... maaf ya lama update ceritanya. Semoga kalian bisa menikmati karya ini. Salam sehat dan tetap di rumah.... Davin's pov Aku dengan cekatan melepaskan tangannya dengan pelan dan mulai memencet bel di belakang ranjangnya. "Bertahanlah...." harapku pada wanita di sebelahku ini.. Dalam beberapa menit, mulai masuk seorang berpakaian putih yang didampingi seorang suster dan berlalu lalang mengecek keadaan istriku. Setelah itu, dengan segera ia memerintahkan suster di sampingnya agar pergi dan memanggil beberapa orang. Aku pun langsung bertanya padanya. "Apa yang terjadi dengannya?" Ucapku dengan cemas. "Sepertinya ia mengalami pendarahan subdural," balasnya dan mulai terdengar langkah beberapa orang yang masuk ke dalam. "apakah telah dilakukan CT Scan sebelumnya?" Tanyanya pada dokter yang sebelumnya melakukan operasi pada istriku. "I
Bahtera pernikahan (indonesia) Part 43, Pembatalan Penerbangan
Davin's pov Kupandangi wajahnya yang bergeser mengalihkan pandangannya melihat ruang ICU lalu melihatku kembali. Ia pun meletakkan tangannya ke bahuku dan tersenyum kecil. "Tidak perlu, aku akan mengurus perusahaanmu dan milikku saja.""Kau saja yang menemaninya. Orang sepertiku tidak pantas bersamanya," ujarnya sembari berbalik dan menjalankan kakinya menuju ke luar. Aku pun memandangnya yang mulai menjauh lalu duduk kembali. Aku mulai memutuskan bahwa aku akan menceritakan kejadian itu padanya setelah ia bangkit. Aku pun duduk dan mencerna perkataan yang akan kuucapkan padanya, tanpa kusadari bahwa aku tertidur hingga seorang dokter menyadarkanku. "Tuan.. "Tuan..." Dengan segera, aku menatapnya dan langsung berdiri. Aku menajamkan pandanganku dan memandangnya dengan tatapan bertanya. "Bagaimana keadaannya?" Tanyaku.
Bahtera pernikahan (indonesia) Part 42, Dimana Davin!!
Violetta's pov Tampak sesosok laki laki yang berdiri di dekat jendela membelakangiku terlihat seolah olah sedang menungguku, aku menjauhkan gagasan yang menjulang dan berputar di ingatanku . mulai kulangkahkan kakiku pada arahnya berdiri. Ketika aku mendekatinya, ia berbalik dan wajahnya tidak sesuai dengan ekspetasiku. "Han, Davin mana?" "Itu tidaklah penting," balasnya padaku dengan datar. "Ini sangat penting bagiku. Tolong katakan Han.. dimana Davin!" Tanyaku dengan tercekat padanya. "Dia..." ucapannya yang lama dan menggantung membuatku semakin cemas dan mulai mendekat padanya. Dengan segera aku mengangkat kedua lenganku dan mengarahkannya ke lengan Rio. Lalu aku menahannya dengan erat. "Seriusan Han! Jangan lama lama!" Hardikku dengan panik dan masih menarik lengan bajunya.
Bahtera pernikahan (indonesia) Part 41, pamit
Violetta's pov " kamu kenapa malam malam kesini?" Tanyaku padanya dengan bingung. "Aku udah mau ke Bali besok siang, mau pamitan dulu. Abang mana?" Tanyanya dan kubalas dengan gelengan. "Ia masih di kantor," balasku. "Baik, kak sampaikan salamku padanya ya." "Siapp," balasku dengan tertawa kecil. Aku dengan segera dipeluk olehnya dan mulai membalas pelukannya serta menampakkan senyum. "Hati hati ya," timpalku dan dibalas dengan anggukan darinya. Kami pun bercipika cipiki sebagai perpisahan dalam waktu yang terbilang singkat dan setelah selesai, ia mulai meninggalkan ku . Aku dengan sigap menutup pintu rumah lalu masuk ke dalam. Setelah itu, aku kembali menunggu kedatangan Davin
Bahtera pernikahan (indonesia) Part 36, identitas Davin
Halo readers... ini part selanjutnya sudah di publish. Selamat membaca dan salam sehat untuk semuanya.... mohon maaf bila masih terdapat kesalahan dalam bab ini. Violetta's pov Aku mulai terbangun dan merasakan bahwa aku terbaring di sebuah kasur empuk. A
Bahtera pernikahan (indonesia) Part 35, hilang ingatan
Davin's povAku terhelak ketika wanita di depanku menanyakan hal ini. Aku mulai merasa bingung bagaimana menjawabnya.. aku pun mulai mendekat padanya. Namun, ia mundur dan menjauhiku, bahkan ia menampakkan wajahnya yang marah dan bingung pada bersamaan."Kau siap
Bahtera pernikahan (indonesia) Part 34, mengapa??
Davin's pov Aku sedang melihat lihat berkas yang ditangani oleh adikku dalam perusahaan secara diam diam. Ternyata, dari tadi berkas yang kuperiksa tiada kesalahan sedikit pun! Hingga berkas keterakhir, kegiatanku terganggu oleh suara bel dari luar..Aku pun mulai meng
Bahtera pernikahan (indonesia) Part 33, lupa ingatan?..
Violetta's pov Hari ini adalah hari dimana aku akan pergi dari rumah Davin. Entah kenapa, aku merasa terdapat rasa yang mengganjal di hatiku ketika akan melangkah keluar dari rumah ini. Namun, aku menekankan keputusan yang telah kuucapkan dan tak akan kutarik sama sekali.
