Baixe o livro gratuitamente
Part 3, pisah kamar
Autor: Carol16Violetta's pov
"Ta, lo ngapain disini??"tegur suamiku dengan suara dingin dan membuatku tergagap.
"A-aku nyari kamar kita.."balasku tak berani menatap matanya yang memancarkan cahaya dingin dan menusuk tubuhku..
"Ikut aku!"balasnya dan menarik tanganku dengan kuat.
"Sakit Vin..."balasku dengan suara kecil dan meringis.
Aku melihat reaksinya yang menghela nafas dengan keras dan melepaskan pergelangan tanganku yang telah memerah karena ditarik kuat olehnya.
Dengan cepat aku menyembunyikan tanganku agar tak ditariknya kembali.
"Ikut aku.."balasnya lalu meninggalkanku sendirian.
Aku pun berusaha tak menintikkan air mata kembali.hari ini aku cukup mudah menangis, padahal biasanya aku tidak apa apa walau terjebak dalam masalah yang cukup rumit.
Aku mulai mengikutinya dan memandang punggungnya yang tegak dan lurus, suamiku memang cukup dingin padaku..
'Entah karma apa yang kuperbuat di masa lalu..'batinku sembari mengikutinya karena takut ketinggalan dan tersesat.
Ketika kami melewati sebuah kamar, ia berhenti lalu menatapku kembali dengan rasa sebal.dapat dilihat dari pancaran matanya yang malas melihatku.
"Ini kamar kamu,"ujarnya lalu berusaha membuka pintu.
Ceklek!
Krit....
Aku pun memasuki kamar yang bernuansa warna biru itu.aku menjadi teringat pada kamar Rio ketika melihat semua tata letak dan warnanya, terutama tempat kerja Davin yang di ujung kamar menghadap luar..
Lamunanku buyar ketika sebuah suara menyelip masuk ke indra pendengaranku...
"Ini kunci kamarmu,"ujar Divan, suamiku dan memberikannya ke tanganku.
"Baik,"balasku sembari menatapnya dan menerima kunci itu.
"Kau tidur di sini.aku akan tidur di tempat lain.masing masing tidak boleh mencampuri urusan orang lain,"ujarnya lalu pergi membelakangiku.
"Makasih.."ucap ku
Bang..
Suara itu terpotong oleh tertutupnya pintu kamar.
Aku pun dengan segera memindahkan bajuku ke dalam almari di sisi kiri.setelah beres, aku melihat lihat kamar ini dan menemukan sebuah gambar potret sebuah keluarga serta Davin ketika remaja bersama seorang perempuan.
Kurasa ini adalah kamarnya sebelum menikah denganku.dapat dilihat dari warna kamar dan tata letak benda yang biasanya terdapat di kamar laki laki.
'Apakah aku merusak kehidupan orang lain pula??'
Dengan cepat aku menggelengkan kepalaku berusaha mengusir pikiran buruk itu.aku harus tetap optimis menjalani pernikahan ini.
Mungkin ini salah satu jalan yang Tuhan berikan padaku..
Setelah selesai melihat tata letak kamar,aku meletakkan beberapa potret diriku dan sebuah note book milikku di meja kerja Divan dulunya.
Setelah itu, aku menemukan sebuah foto pria yang tertawa dari koperku dan membuatku memandangnya dengan lekat lekat dan merasa bersalah padanya.
"Maafin aku Rio..janji kita berdua menjadi hancur.."gumamku sembari membayangkan saat saat kami masih bersama.
'Mungkin...kau tak akan memaafkan aku karena yang meninggalkan duluan dan menghancurkan hubungan kita itu aku..'
Trak...
Aku menaruh foto itu ke dalam laci dan menutupnya.aku tak ingin melihatnya lagi agar tidak mengingat luka yang kutorehkan padanya hari itu
Aku mulai menyadari bahwa aku telah memiliki hidup baru dan harus mencoba beradaptasi dengan kehidupan baru ini.dengan segera aku menandai pintu kamarku dari depan dengan sebuah kertas yang diselotip dan berisi namaku.
Setelah itu aku menuruni tangga dan melihat lihat bagian bawah untuk mengingat letak letak dari bagian rumah ini.setidaknya dapat memudahkanku dalam menjalankan aktivitas.
Dapat dibilang rumah ini sangat besar, aku yang telah berkeliling selama 45 menit pun masih menemui setengah bagian rumah.
Aku pun pergi ke tempat dapur yang masih gelap dan menuangkan air putih
Ceklek!
Seketika lampu menjadi terang dan aku menjadi shock.gelas itu hampir jatuh karena kehadiran suamiku yang tiba tiba..
"Apa yang kau lakukan disini?sekarang sudah larut.."tanya suamiku dengan heran.
"Aku tadi liat liat isi rumah ini,"balasku sembari menjaga tanganku agar gelas tadi tak jatuh ke lantai.
"Oh.."
Ia pun melewatiku dan menaruh sebuah gelas kosong ke wastafel.dengan cepat aku pergi darinya jauh jauh agar tak dikontani oleh mulutnya yang tajam dan dingin itu...
Aku memasuki kamarku dan berusaha memejamkan mataku.tetapi tidak bisa entah kenapa..mungkin karena perasaan bersalah atau rumah yang asing.
Aku pun membuka handphoneku dan berusaha mencari sebuah akun...
Compartilhar o livro para
Facebook
Twitter
Whatsapp
Reddit
Copy Link
Último capítulo
Bahtera pernikahan (indonesia) Part 46, pengakuan
Davin's pov "Ta, apa kau tahu? Aku bermimpi aneh tadi sore ketika keluar dari ruangan dan memejamkan mataku sejenak." "Seorang gadis terlihat mirip sekali sepertimu dan tampak bahwa ia sedang mengalami suatu masalah dari raut wajahnya. .. sebuah cermin juga terlihat di sana dan menarik perhatian diriku." "Ketika aku mengesernya, cermin itu dapat memperlihatkan berbagai hal hal yang sedang terjadi dan sebelumnya telah terjadi. Namun, aku tak dapat menggesernya ke masa depan.." ucapku panjang lebar pada wanita di sampingku yang tak merespon ataupun menggerakkan secuil pun anggota tubuhnya. Walaupun aku mungkin tahu mungkin saja ia tak akan mendengarkanku karena kondisi dirinya yang dapat terbilang lebih dari sekadar sekarat dan bahkan nyawanya bisa saja kapanpun terangkat secara tiba tiba... Aku mulai bangkit dan membaringkan tubuhku di sebuah sofa keras. Aku mulai memejamkan mataku yang
Bahtera pernikahan (indonesia) Part 45, keadaannya
Hai semuanya... ini chapter selanjutnya ya.. makasih udah mau menunggu cerita saya selama ini dan selamat membaca... Davin's pov"Kami telah berusaha semampu mungkin, namun karena keadaannya terlampau parah... ia akan mengalami koma dan bahkan bila ia terbangun dari kondisi ini. Kami menduga bahwa akan terjadi kerusakan pada salah satu bagian tubuhnya baik permanen maupun sementara," ungkap dokter itu dengan raut wajah lelah."Baik, apakah sekarang ia dapat dikunjungi?" Tanyaku balik."Boleh, namun hanya boleh 2 orang dan bergantian bila lebih dari 2 orang.""Makasih dok," jawabku sembari diikuti oleh langkahnya yang menjauh dari sini. Dengan cepat, aku memasuki ruangan itu dan berganti baju sebelum mendekati istriku. Ketika telah selesai, aku mulai mendekati Violetta dan melihat bahwa berbagai alat terpasang pada tubuhnya. Hanya deru nafas dan suara mesin medis yang menggema ke seluruh ruangan dan menghiasi pendengaranku
Bahtera pernikahan (indonesia) Part 44, pendarahan otak
Malam semuanya.... maaf ya lama update ceritanya. Semoga kalian bisa menikmati karya ini. Salam sehat dan tetap di rumah.... Davin's pov Aku dengan cekatan melepaskan tangannya dengan pelan dan mulai memencet bel di belakang ranjangnya. "Bertahanlah...." harapku pada wanita di sebelahku ini.. Dalam beberapa menit, mulai masuk seorang berpakaian putih yang didampingi seorang suster dan berlalu lalang mengecek keadaan istriku. Setelah itu, dengan segera ia memerintahkan suster di sampingnya agar pergi dan memanggil beberapa orang. Aku pun langsung bertanya padanya. "Apa yang terjadi dengannya?" Ucapku dengan cemas. "Sepertinya ia mengalami pendarahan subdural," balasnya dan mulai terdengar langkah beberapa orang yang masuk ke dalam. "apakah telah dilakukan CT Scan sebelumnya?" Tanyanya pada dokter yang sebelumnya melakukan operasi pada istriku. "I
Bahtera pernikahan (indonesia) Part 43, Pembatalan Penerbangan
Davin's pov Kupandangi wajahnya yang bergeser mengalihkan pandangannya melihat ruang ICU lalu melihatku kembali. Ia pun meletakkan tangannya ke bahuku dan tersenyum kecil. "Tidak perlu, aku akan mengurus perusahaanmu dan milikku saja.""Kau saja yang menemaninya. Orang sepertiku tidak pantas bersamanya," ujarnya sembari berbalik dan menjalankan kakinya menuju ke luar. Aku pun memandangnya yang mulai menjauh lalu duduk kembali. Aku mulai memutuskan bahwa aku akan menceritakan kejadian itu padanya setelah ia bangkit. Aku pun duduk dan mencerna perkataan yang akan kuucapkan padanya, tanpa kusadari bahwa aku tertidur hingga seorang dokter menyadarkanku. "Tuan.. "Tuan..." Dengan segera, aku menatapnya dan langsung berdiri. Aku menajamkan pandanganku dan memandangnya dengan tatapan bertanya. "Bagaimana keadaannya?" Tanyaku.
Bahtera pernikahan (indonesia) Part 42, Dimana Davin!!
Violetta's pov Tampak sesosok laki laki yang berdiri di dekat jendela membelakangiku terlihat seolah olah sedang menungguku, aku menjauhkan gagasan yang menjulang dan berputar di ingatanku . mulai kulangkahkan kakiku pada arahnya berdiri. Ketika aku mendekatinya, ia berbalik dan wajahnya tidak sesuai dengan ekspetasiku. "Han, Davin mana?" "Itu tidaklah penting," balasnya padaku dengan datar. "Ini sangat penting bagiku. Tolong katakan Han.. dimana Davin!" Tanyaku dengan tercekat padanya. "Dia..." ucapannya yang lama dan menggantung membuatku semakin cemas dan mulai mendekat padanya. Dengan segera aku mengangkat kedua lenganku dan mengarahkannya ke lengan Rio. Lalu aku menahannya dengan erat. "Seriusan Han! Jangan lama lama!" Hardikku dengan panik dan masih menarik lengan bajunya.
Bahtera pernikahan (indonesia) Part 41, pamit
Violetta's pov " kamu kenapa malam malam kesini?" Tanyaku padanya dengan bingung. "Aku udah mau ke Bali besok siang, mau pamitan dulu. Abang mana?" Tanyanya dan kubalas dengan gelengan. "Ia masih di kantor," balasku. "Baik, kak sampaikan salamku padanya ya." "Siapp," balasku dengan tertawa kecil. Aku dengan segera dipeluk olehnya dan mulai membalas pelukannya serta menampakkan senyum. "Hati hati ya," timpalku dan dibalas dengan anggukan darinya. Kami pun bercipika cipiki sebagai perpisahan dalam waktu yang terbilang singkat dan setelah selesai, ia mulai meninggalkan ku . Aku dengan sigap menutup pintu rumah lalu masuk ke dalam. Setelah itu, aku kembali menunggu kedatangan Davin
Bahtera pernikahan (indonesia) Part 36, identitas Davin
Halo readers... ini part selanjutnya sudah di publish. Selamat membaca dan salam sehat untuk semuanya.... mohon maaf bila masih terdapat kesalahan dalam bab ini. Violetta's pov Aku mulai terbangun dan merasakan bahwa aku terbaring di sebuah kasur empuk. A
Bahtera pernikahan (indonesia) Part 35, hilang ingatan
Davin's povAku terhelak ketika wanita di depanku menanyakan hal ini. Aku mulai merasa bingung bagaimana menjawabnya.. aku pun mulai mendekat padanya. Namun, ia mundur dan menjauhiku, bahkan ia menampakkan wajahnya yang marah dan bingung pada bersamaan."Kau siap
Bahtera pernikahan (indonesia) Part 34, mengapa??
Davin's pov Aku sedang melihat lihat berkas yang ditangani oleh adikku dalam perusahaan secara diam diam. Ternyata, dari tadi berkas yang kuperiksa tiada kesalahan sedikit pun! Hingga berkas keterakhir, kegiatanku terganggu oleh suara bel dari luar..Aku pun mulai meng
Bahtera pernikahan (indonesia) Part 33, lupa ingatan?..
Violetta's pov Hari ini adalah hari dimana aku akan pergi dari rumah Davin. Entah kenapa, aku merasa terdapat rasa yang mengganjal di hatiku ketika akan melangkah keluar dari rumah ini. Namun, aku menekankan keputusan yang telah kuucapkan dan tak akan kutarik sama sekali.
