Buch kostenlos herunterladen
Bab 6
IsnaAisya hari ini sudah kembali bersekolah lagi, tanda-tanda memar di wajahnya sudah menghilang. Ia melajukan motor kesayangannya menuju sekolah. Kini ia sudah berada di parkiran sekolahnya, ia melepas helm dan bercermin sebentar dspion motornya seraya merapikan rambutnya yang agak sedikt berantakan karena tertiup angin.
"Aisya." Panggil Nisa, sohibnya. Aisya menoleh seraya melambaikan tangannya pada Nisa yang sedang berlari kearahnya.
"Gimana, kabar lo??" Udah sehatkan ucapnya setelah ia berada di samping Aisya. Ia mengaku izin sakit kemaren padahal emang sakit benaran sih, abis main baku hantam. Eh emang ada ya, permainan baku hantam. Ah, ya sudahlah.
"Iyalah, makanya gue ada disini," sahut Aisya
"Ah lo mah." Kata Nisa. Mereka berjalan beriringan menuju kelas.
"Hai, Sya. Udah masuk nih, kangen gue," itu adalah suara Reno yang baru saja datang.
"Apaan sih, lo. Gue gak kangen sama lo," jawabnya jutek
"Gapapa, Sya. Ntar lo bakalan kangen sama gue," ucap Reno dengan pedenya.
"Udah, sana lo. Ntar ulat keladi ngamuk lagi, liat lo dekat-dekat gue," usirnya karena terlihat diujung pojokan Siska dan gengnya sedang menatap kearah mereka berada.
"Loh, apa hubungannya sama dia, Sya. Gue kan gak ada apa-apa sama dia," ucap Reno karena dia memang gak ada hubungam apa-apa sama Siska.
"Ya lo tanya aja dia sendiri," kata Aisya dan berlalu meninggalkan Reno yang bingung.
Aisya masuk ke dalam kelasnya bersama dengan Nisa yang sejak tadi setia berdiri di sampingnya, bell tanda masuk sudah berbunyi mereka bersiap memmulai pelajaran seperti biasa. Kini mereka sudah berada di kantin sekolah menikmati makanan kesukaan mereka yaitu mie ayam dan es jeruk di kantin sekolah, karena jam istirahat sudah tiba.
"Gak terasa ya, bentar lagi kita udah ujian kelulusan," kata Nisa sambil meminum es jeruknya.
"Iya, sedih gue bakalan pisah sama lo, lo kan sobat gue satu-satunya," kata Aisya sambil menatap Nisa sedih.
"Ya, mau gimana lagi. Gue mesti kuliah di Surabaya, ngikut orang tua gue," kata Nisa, karena orang tuanya dipindah tugaskan ke Surabaya mau gak mau, dia juga harus ikut.
"Gak bisa apa, kalo lo tetap tinggal disini, terus kita kuliah satu Kampus bareng."
"Gue juga maunya, gitu. Tapi orang tua gue gak bakalan ngizinin gue jauh-jauh dari mereka."
"Bakalan, kangen banget gue sama kebawelan lo, Nis." Ujar Aisya
"Eh, kok kita mewek-mewekkan gini sih jadinya. Gue kan masih lama juga pindahnya, ujian sekolah aja belum." Cicit Nisa, supaya sahabatnya gak melow lagi.
"Ya, tetap aja nanti kita jauh, tau."
"Ya, nanti kalo libur kuliahkan gue bisa liburan tempat lo."
"Benar, juga ya." Kata Aisya, mereka segera menghabiskan makanannya karena bell tanda masuk sudah berbunyi, gara-gara kebanyakkan ngobrol jadi lambat deh makannya. Mereka berlari memasuki kelas, bertepatan dengan Pak Seno datang.
=======
Aisya kini sudah berada di parkiran, ia sudah duduk diatas motornya, ia memasang helmnya yang bermotif tokoh Minion. Ia segera menjalankan motornya dengan perlahan, setelah keluar dari area sekolah ia melajukan motornya dengan cepat, tiba-tiba mesin motornya mati mendadak, hampir saja dia oleng. Ia segera menepikan motornya di dekat trotoar, ia mencoba menghidupkan mesin motornya kembali tetapi tidak bisa.
"Aduh, kenapa pake acara mogok sih ini motor," gumamnya sambil memukul jok motornya.
"Mana Bengkel masih jauh lagi. Apes banget gue. Masa gue harus dorong ini motor," katanya, kemudian ia merogoh ponsel yang berada didalam kantong tasnya, untuk menghubungi salah satu Abangnya, ketika melihat ponsel ternyata ponselnya udah mati habis batrei gegara dia lupa mencharge tadi pagi.
"Ini juga hp, pake mati segala lagi. Sial banget gue. Padahal tadi pagi gue keramas deh mandinya," katanya. Lah apa hubungannya coba mandi keramas sama motor mogok dan hp mati . Dasar Aisya kadang rada gak jelas dia.
"Gini banget nasib gue, cantik-cantik masa dorong motor mana ini dah mau hujan lagi," ocehnya sambil berjalan mendorong motornya.
Tiba-tiba terdengar bunyi klakson dari arah belakang,karena gak berhenti-henti itu bunyi klakson, Aisya mulai kesal dan menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang.
"Apaan sih, berisik banget gak tau apa orang capek juga jalan sambil dorong motor," semburnya. Orang tersebut membuka helmnya "hai" ucapnya sambil tersenyum manis.
"Butuh bantuan gak?" Tawar Reyhan yang sejak tadi ngikutin Aisya.
"Gak butuh." Jawab Aisya cuek
"Beneran nih, bentar lagi turun hujan loh,"
"Motor lo, tinggal di sini aja nanti teman gue yang ngurusnya dan ngantarin motor lo ke bengkel, lo biar gue yang antarin." Aisya nampak berpikir untuk menerima tawaran Reyhan.
"Tenang aja, gue gak ada niat jahat kok." Katanya seakan tahu akan apa yang dipikirkan Aisya.
"Cepatan naik!!. Bentar hujannya turun." Serunya sambil menepuk jok belakang motornya, Aisya menatapnya sebentar dan mengangguk.
Aisya naik ke atas boncengan Reyhan, ia merima tawaran Reyhan untuk mengantarkannya pulang. Ia berpegangan di jaket yang Reyhan gunakan. Baru saja Reyhan melajukan motornya, hujan dengan derasnya mengguyur mereka. Reyhan menepikan motornya di sebuah Ruko yang terlihat kosong untuk berteduh.
Mereka berteduh di sebuah ruko kosong, sambil menunggu hujan reda Aisya duduk di sebuah kursi kayu yang berada didepan ruko tersebut. Ia menutupi bagian depan tubuhnya dengan tas, sebab seragam sekolahnya basah, dan tembus pandang. Reyhan yang melihat Aisya menutupi tubuhnya dengan tas segera melepaskan jaket yang ia pakai dan memberikannya pada Aisya.
"Pake ini!!" Seru Reyhan, Aisya mendongakkan kepalanya untuk menatap Reyhan, dan mengambil jaket yang dipegang Reyhan lalu memakainya.
"Terima kasih." Ucapnya setelah memakai jaketnya.
"Sama-sama." Balas Reyhan sambil tersenyum menatap Aisya.
Sudah satu jam lebih mereka berteduh tetapi hujannya masih belum reda juga, malah semakin deras hujannya. Aisya sudah menggigil kedinginan, mana laper lagi, ia belum makan siang dari tadi cuma makan semangkok mie ayam di sekolah.
"Hujannya tambah deras, gimana ini??" Kata Reyhan sebab hari mulai semakin gelap, hujannya tak kunjung reda juga.
"Kita pulang aja, Bang." Jawab Aisya, ia mulai takut.
"Lo gakpapa, kalo hujan-hujanan. Ntar sakit." Ucapnya seraya menatap Aisya.
"Gakpapa, Bang. Daripada kita kejebak hujan disini sampai malam."
"Ya udah, lo pakai ini aja," kata Reyhan sambil menyerahkan sebuah mantel berbentuk baju pada Aisya.
"Terus, Abang pakai apa??" Tanyanya karena, ia hanya melihat mantelnya cuma ada satu.
"Gue gak apa-apa begini aja," jawab Reyhan
Aisya segera memakai jas hujan yang diberikan Reyhan tadi, walaupun jas hujannya agak kebesaran di badannya. Ia segera menghampiri Reyhan yang sudah duduk di atas motornya, lalu naik keatas boncengan Reyhan. Reyhan melajukan motornya dengan pelan sebab hari sudah mulai gelap, dan hujan masih deras, jalanan juga di penuhi oleh genangan air.
Reyhan menggigil, badannya gemetar karena kedinginan apalagi dia duduknya didepan sambil mengendarai motornya, tak berapa lama mereka sampai di depan rumah Aisya yang nampak terlihat sepi. Aisya turun dan melepas jas hujan yang ia pakai. Reyhan juga turun, Aisya menyuruh Reyhan untuk mampir dulu sebentar sebab Reyhan kelihatan pucat dan tubuhnya menggigil, Aisya kan gak tega kalo nyuruh dia langsung pulang apalagi Reyhan begitu karena ngantarin dia pulang hujan-hujanan.
Aisya menyuruh Reyhan masuk, ia pun segera memanggil Bunda dan Ayahnya, serta Abang-Abangnya tetapi tidak ada yang menyahut alias mereka semua sedang tidak ada dirumah.
Aisya menyuruh Reyhan duduk di ruang tamu, ia masuk ke kamar Abangnya dan mengambil satu potong pakaian Abangnya untuk Reyhan. Aisya keluar dari kamar Abangnya dan memberikan baju tersebut pada Reyhan. Reyhan izin ke kamar mandi untuk berganti pakaian. Aisya pun masuk ke kamarnya.
Tiba-tiba terdengar suara teriakan beberapa orang dan gedoran di pintu rumahnya. Aisya berlari kearah pintu dan membukakan pintu rumah. Terlihat ada beberapa warga berada di teras rumahnya.
"Nah, ini dia orangnya," ucap salah satu warga yang berada di teras rumahnya
"Ada apa ya, Pak??" Tanya Aisya
"Apa benar kamu memasukan seorang laki-laki ke dalam rumah, saat orang tuamu tidak berada di rumah??" Tanya Pak Sobri yang menjabat sebagai ketua Rt dikompleks mereka.
"Eeh, tapi saya sama Bang Reyhan tidak ngapa-ngpain, Pak. Saya hanya menyuruhnya masuk untuk berteduh dan mengganti baju sebentar" jawab Aisya jujur. Sebab dia juga tidak tahu kalo orang tuanya sedang tidak berada dirumah, apalagi dari tadi ponselnya mati.
"Pasti mereka berbuat yang tidak-tidak di dalam rumah ini," ujar Pak Rudi, yang tidak menyukai Aisya sebab dulu Aisya pernah memergoki anaknya mencuri ponsel ditoko Bu Indah, dan melaporkannya.
Bersambung....
Buch teilen mit
Facebook
Twitter
Whatsapp
Reddit
Copy Link
Aktuellstes Kapitel
AISYA ( INDONESIA ) Bab 28
Reyhan sampai di rumah sakit, ia berlari memasuki rumah sakit sambil menggendong Aisya. "Suster, tolong istri saya." Teriak Reyhan pada Suster yang berada di sana.Dengan sigap Suster tersebut menyuruh Reyhan membaringkan Aisya di sebuah brangkar, lalu mendorongnya menuju UGD. Saat sampai di depan pintu UGD, Reyhan ingin ikut masuk ke dalam tapi ditahan oleh perawat."Maaf, Pak. Bapak tidak bisa ikut masuk." Ucap perawat tersebut menahan tubuh Reyhan yang ingin ikut masuk."Tapi, Sus...?""Bapak berdoa saja semoga istri Bapak, baik-baik saja." Ucap Suster tersebut."Tolong istri saya Dokter." Kata Reyhan pada Dokter yang akan menangani Aisya. Sebelum pintu ruangan UGD itu ditutup.Reyhan segera menghubungi kedua orang tuanya dan mertuanya kalau mereka berada di rumah sakit. Ia takut terjadi apa-apa dengan istri kecilnya itu.Tak berapa lama, Pak Hadi dan Bu Rasti datang, mereka segera menghampiri Reyhan yang seda
AISYA ( INDONESIA ) Bab 27
Aisya bangun dari tidurnya, diliriknya Reyhan yang ada di sampingnya masih tidur nyenyak sambil memeluknya. Aisya memindahkan tangan Reyhan yang ada di atas perutnya. Dengan hati-hati Aisya turun dari ranjang, ia takut Reyhan akan terbangun. Aisya memakai jaketnya, kemudian ia mengambil dompet, serta kunci motornya. Aisya membuka pintu kamar pelan agar tak menimbulkan suara. Tadi abis Shalat shubuh mereka tidur lagi, sekarang baru jam 06.00 pagi. Aisya lapar, dia ingin makan bubur Ayam. Maka dia bangun dan pergi ke luar buat nyari bubur Ayam. Ia ingin pamit pada kedua mertuanya tapi sepertinya mereka masih pada tidur juga, jadilah dia pergi tanpa pamitan.Reyhan terbangun dari tidurnya, ia meraba-raba tempat tidur di samping, kosong. Lalu ia membuka matanya dan duduk. Reyhan turun dari tempat tidur, ia membuka kamar mandi ternyata kosong. Hmm ke mana istrinya ini. Tumben sekali pagi-pagi dah ngilang aja. Lalu
AISYA ( INDONESIA ) Bab 26
Aisya dan Reyhan sudah kembali ke rumah orang tua Reyhan. Pagi ini Aisya sibuk bantuin Mami Rasti bikin sarapan. Aisya bagian potong memotong dan Mami Rasti bagian masak memasak."Mi, Aisya bangunin Abang dulu, ya." Ucap Aisya saat kegiatan memasak mereka sudah hampir selesai."Iya, sayang." Sahut Mami Rasti.Aisya masuk ke kamar dilihatnya Reyhan sudah tidak ada di atas ranjang. Dibukanya pintu kamar mandi, di sana juga tak terlihat ada Reyhan. Lalu Aisya kembali lagi ke dapur menemui Mami Rasti."Mi, lihat Abang, gak?" Tanya Aisya pada Mami Rasti."Loh, bukannya tadi kamu mau bangunin, dia?" "Iya, Mi. Tapi Abangnya dah gak ada di kamar, Aisya cari di kamar mandi juga gak ada." "Lah, ke mana itu anak." Seru Mami Rasti."Tadi pas Aisya bangun, Abang masih tidur di kamar." "Coba, kamu cari di halaman belakang, deh!" Usul Mami Rasti."Iya, Mi." Aisya berjalan ke arah halaman belakang r
AISYA ( INDONESIA ) Bab 25
Aisya terbangun dari tidurnya, ia melirik jam yang berada di atas nakas samping tempat tidurnya, jam 01.30 dini hari. Lalu pandangannya beralih pada Reyhan yang sedang terlelap di sampingnya. Aisya membuka selimutnya, lalu ia berjalan ke luar dari kamar. Tujuannya adalah dapur, perut Aisya merasa lapar. Aisya membuka kulkas, tidak ada makanan yang bisa dimakan. Pandangannya jatuh pada telur yang berjejer rapi di kulkas. Aisya mengambil sebiji telur dan sayur sawi hijau. Kemudian dia mengambil sebungkus mie instan di lemari. Dia ingin membuat mie saja biar lebih praktis dan cepat matengnya, karena cacing di perutnya sudah berteriak kelaparan minta dikasih makan.Saat Aisya sedang memasukan bumbu mie kedalam panci yang sudah berisi telur, sayuran, dan mie. Sepasang tangan kokoh melingkar di perutnya. Aisya berjengkit kaget karenanya."Kamu ngapain, yang?" Ucap Reyhan"Iss, ngagetin aja, deh." "Kamu, lapa
AISYA ( INDONESIA ) Bab 24
Reyhan memarkirkan mobilnya di halaman rumah orang tua Aisya. "Abang, benaran nih, gak turun dulu?" Tanya Aisya pada Reyhan."Gak, sayang. Abang ada meeting penting pagi ini takutnya nanti telat." "Ya, udah deh." Aisya mencium punggung tangan Reyhan lalu dibalas dengan kecupan di kening oleh Reyhan."Bilangin ke Bunda sama Ayah, ya. Abang gak bisa mampir soalnya buru-buru." "Iya, Bang. Nanti Aisya bilangin. Abang hati-hati ya." Aisya membalikkan badannya dan tangannya sudah bersiap untuk membuka pintu mobil, tiba-tiba ditarik oleh Reyhan. "Kenap,,,,, hmmppt." Belum selesai Aisya bertanya, Reyhan sudah lebih dulu menyambar bibir mungilnya, bibir yang bikin Reyhan ketagihan. Reyhan melumat bibir Aisya dengan lembut, tetapi lama kelamaan ciumannya semakin panas dan menuntut untuk lebih. Reyhan yang tersadar dari ingatannya bahwa dia harus segara k
AISYA ( INDONESIA ) Bab 23
Aisya memandang dua orang yang berada di depannya dengan perasaan kesal. Ingin sekali dia menyiram wajah perempuan yang bernama Dina tersebut dengan kuah bakso yang dia makan. Enak saja main rangkul-rangkul suami orang. "Rey, ngapain di sini? sama siapa ke sini?" Tanya Dina dengan suara manjanya. Gak liat apa bininya segede gaban gini di depannya masih nanya lagi batin Aisya. "Loe gak lihat gue lagi makan, sama istri gue lah." Sahut Reyhan, ia jengah melihat tingkah Dina yang bergelayut manja di lengannya apalagi ini ada Aisya, istrinya. Reyhan pun melepaskan tangannya dari rangkulan Dina."Sejak kapan Rey Selera makan kamu pindah ke tempat beginian?" Ucap Dina, sambil memandang Aisya dengan tatapan mengejek. "Ya, suka-suka gue lah." "Iss, kamu berubah banget deh, apa habis kenal cewek ingusan ini loe jadi berubah?" Ucap Dina, sambil menunjuk Aisya.Ingin sekali rasanya Aisya mematahkan telunjuk Dina yang menunju
AISYA ( INDONESIA ) Bab 19
Aisya terbangun dari tidurnya, ia masih berada di pelukan Reyhan, ia melirik jam yang berada di atas nakas samping tempat tidur. jam sudah menunjukkan pukul 05.00 pagi. Ia mengelus wajah Reyhan yang nampak tenang dalam tidurnya."Bang, bangun!!" Aisya membangunkan Reyhan, sebab mereka
AISYA ( INDONESIA ) Bab 18
Ternyata yang mengetuk pintu kamar mereka adalah Mami Rasti, beliau menyuruh anak dan menantunya tersebut untuk makan malam. Reyhan dan Aisya pun berjalan ke luar kamar, untuk makan bersama Papi dan Mami mereka. Mereka makan malam diiringi dengan ob
AISYA ( INDONESIA ) Bab 17
Aisya dan Reyhan baru saja ingin pulang dari acara jalan-jalan mereka, di pertengahan jalan tiba-tiba Aisya menyuruh Reyhan untuk menghentikan laju motornya. "Ada apa ?" Tanya Reyhan pada Aisya."Aisya mau beli itu!!" Aisya menunjuk Bapak-bapak penjual rujak yang
AISYA ( INDONESIA ) Bab 16
Aisya sudah mandi dan wangi, kini ia sedang berada di dapur. Aisya ingin membuatkan Reyhan sarapan. Ia ingin membuat nasi goreng. "Ngpain, Sya?" Tanya Mami Rasti yang baru saja ke dapur."Eh, Mami. Ini Aisya mau bikin nasi goreng," kata Aisya sembari menunjukkan sepiri
