Buch kostenlos herunterladen
Bab 2
IsnaAisya, dan Nisa berjalan menuju kantin sekolah, mereka memesan dua porsi mie Ayam dan dua gelas es jeruk. Saat asyik menikmati makanan mereka, dari arah belakang terdengar suara.
"Hai, boleh gabung, gak." Kata seorang lelaki dari arah belakang, Aisya menoleh dan melihat Reno yang membawa makanan, Reno segera duduk di depan Aisya.
"Silahkan" jawab keduanya.
"Terima kasih" kata Reno, sambil memandang Aisya dengan mata berbinar.
" Makin cantik aja lo, Sya" kata Reno tanpa mengalihkan pandangannya dari Aisya.
Aisya, yang merasa terus dipandang oleh Reno merasa risih, ia memutar bola matanya dengan jengah.
"Lo, kesini mau makan, apa mau gombalin Aisya,sih." Kata Nisa
"Ya, mau dua-duanya. Sayang banget kan pemandangan indah yang berada didepan mata, untuk dilewatkan" kata Reno
"Geli, gue dengarnya" cibir Nisa
"Yey, lo mah sirik aja, Aisyanya aja santai-santai aja dianya" kata Reno, tanpa mengalihkan pandangan dari wajah Aisya yang cute abis menurut Reno.
Sebenarnya, Reno sudah lama menaruh hati pada Aisya, tetapi Aisya gak pernah menggubrisnya, katanya dia gak mau pacaran, maunya nikah dulu, baru pacaran gitu prinsipnya. Tapi Reno gak masalah kok dia tetap berjuang untuk mendekati Aisya. Reno ini ganteng, putih, tinggi, cool, pokoknya perfect lah, dia juga jadi idola ciwi-ciwi di sekolahnya. Tapi biasa saja kalo menurut Aisya karena dia gak ada rasa sama si Reno. Bukan berarti dia gak suka cowok ya, dia suka kok, hanya saja Reno bukan tipenya.
"Sya, ntar malam jalan, yuk." Ajak Reno
"Sorry, Ren. Gue gak bisa, soalnya gue udah ada janji sama Abang gue" tolak Aisya.
"Oh, gitu, ya." Kata Reno lagi-lagi dia mendapatkan penolakzn untuk yang kesekian kalinya.
"Iya, sorry banget ya. Gue betulan gak bisa" kata Aisya, karena ia merasa kalo Reno kecewa dengan penolakannya.
"Ya, gapapa kok, santai aja lagi" jawab Reno
Aisya, dan Nisa sudah selesai makannya, sebelum bangkit dari duduknya mereka bilang " duluan ya, Ren" ucap keduanya berbarengan. Reno hanya menganggukan kepalanya sebagai jawaban, karena mulutnya masih penuh oleh makanan.
Mereka, berjalan beriringan meninggalkan kantin sekolah, yang mana si Nisa bilang begini " Kenapa, gak loe terima aja sih ajakannya, Reno.?" Tanya Nisa
"Ya, gue malas aja. Lagian gue juga udah ada janji betulan sama Abang gue" jawab Aisya
"Kan, cuma jalan aja, Sya"
"Gue, gak mau ngasih dia harapan. Kalo gue terima ajakan dia pasti dia berpikir bahwa gue ngasih dia kesempatan buat dekatin gue, padahal gue kan gak ada rasa sama dia, gue takut dia kecewa pada akhirnya" jelas Aisya panjang lebar.
"Apa susahnya, sih. Kasih dia kesempatan,menurut gue dia ganteng, kalo dikata dia itu udah perfect banget lah" puji Nisa pada Reno.
"Lagian ni ya, dia tu udah lama suka sama loe, kasian tahu anak orang dicuekin terus." Lanjutnya
"Ya, tapi dia bukan tipe gue" kata Aisya dengan bibir sambil mengerucut.
"Terus, tipe lo yang kaya gimana?"
"Tau ah" kata Aisya seraya meninggalkan Nisa yang tertinggal di belakangnya.
=======
Bell pertanda pulang sekolah sudah berbunyi, Aisya dan Nisa berjalan menuju gerbang sekolah untuk menunggu jemputan masing-masing. Aisya menelepon Bang Dimas untuk menjemputnya, tetapi Abangnya itu gak bisa menjemputnya karena ada pekerjaan yang harus di selesaikan. Aisya menghampiri Nisa yang sedang duduk menunggu jemputannya.
" Eeh, lo pulang bareng siapa" kata Nisa
"Tadinya, sih. Gue mau di jemputin Abang gue, pas gue telpon dia sibuk, jadi gak bisa jemput" kata Aisya pada Nisa.
"Ya, udah pulang bareng gue aja kalo, gitu." Ajak Nisa
"Gak, usah,Nis. Gue naik angkutan umum aja deh. Lagian juga arah pulang kita berlawanan" tolak Aisya, ia gak mau merepotkan sahabatnya tersebut apalagi arah pulang mereka berlawanan arah.
"Ya gapapa, Sya."
"Makasih, Nis. Tapi gue mau naik angkot aja deh" katanya
" Benerin, neh. Gak apa-apa gue tinggal duluan" kata Nisa karena Mobil jemputannya sudah datang.
"Iya, gapapa"
"Ya, udah gue duluan ya. Hati-hati lo"
"Iya" jawab Aisya, Nisa pun masuk kemobilnya mereka saling berdadah melambaikan tangan.
Aisya, berjalan menuju halte untuk menunggu angkutan umum yang lewat. Entah kebetulan atau apa angkutan yang dia tunggu tak kunjung lewat juga. Sudah sejam dia berdiam diri duduk di halte sendirian. Tiba-tiba terdengar suara Motor yang berhenti di depan halte. Reno membuka helmnya dan menghampiri Aisya.
" Kok, belum pulang, Sya?" Tanya Reno
"Iya, gue lagi nungguin angkot lewat, tapi gak ada satu pun yang lewat" jelas Aisya.
"Ya, udah gue antarin aja kalo gitu, lagian kitakan searah" tawar Reno
Aisya, merima tawaran Reno, karena dia sudah lapar, dan capek duduk nunggu angkot yang tak kunjung lewat.
"Kok, lo baru pulang sih, Ren" Tanyanya sebelum naik ke atas boncengan Reno.
"Tadi, gue ada urusan sebentar" jawab, Reno.
"Oh"
Aisya, naik keatas boncengan Reno, yang mana Reno bilang "Pegangan, Sya" dan berujung mendapati pukulan Aisya dikepalanya yang dilapisi helm, tetapi Reno malah tertawa. Reno pun segera menyalakan motornya dan melaju perlahan membelah jalanan.
======
Aisya, dan Reno sampai di depan rumah Aisya. Ia segera turun dari motor Reno. "Makasih ya, Ren." Ucapnya
"Sama-sama, gue gak disuruh mampir dulu neh" celetuk Reno
"Eeh, lo mau mampir. Ya udah ayuk" ajak Aisya
"Gak kok, Sya. Gue cuma becanda. Serius betul nanggapinnya" seru Reno.
"Ya, betulan juga gapapa, Ren." Kata Aisya
"Gak, Sya. Ya udah gue cabut dulu, ya." Pamit Reno
"Iya, hati-hati, Ren." Sahut Aisya dan dijawab Reno dengang mengacungkan jari jempolnya. Reno berlalu meninggalkan pekarangan rumah Aisya.
Aisya, mengucapkan salam dan segera masuk kedalam rumahnya, yang mana di ruang tengah sudah ada Bang Andra.
"Cie dianterin siapa neh pulangnya" celetuk Bang Andra yang melihat Aisya berjalan menuju kamarnya.
"Teman" jawabnya singkat
"Teman apa teman, cie Adek gue dah besar sekarang" cicit Andra yang membuat Aisya cemberut.
"Apaan sih, Bang. Gak jelas banget deh"
"Bunda, Adek sekarang punya pacar" teriak Andra memanghil Bundanya
"Apaan, sih. Aisya gak ada pacaran tau"
"Bang Andra, bohong, Bun. Aisya gak ada pacar-pacaran kok" teriaknya.
"Apa, sih. Kalian ini teriak-teriak" ujar Bu Dewi dari arah dapur
"Bang Andra, neh,Bun. Yang mulai" adu Aisya
"Dasar, tukang ngadu" ejek Andra
"Biarin" sahut Aisya, ia belari masuk kedalam kamarnya. Ia meletakan tas sekolahnya, dan melepas seregam sekolahnya. Ia masuk kekamar mandi untuk membersihkan diri.
Aisya keluar dari kamarnya, karena perutnya yang lapar minta di isi. Ia berjalan menuju dapur mencari makan, syukur di meja makan sudah ada makanan yang dimasak Bundanya.
=====
Setelah selesai makan, ia duduk dulu di ruang tengah sambil menikmati tontom yang ada di Tv. Lama-lama dia bosan sendiri dengan tontonnya, ia memutuskan untuk masuk kekamar Abang.
"Bang Andra" sapanya saat sudah berada dikamar Abangnya itu.
"Hmmm"
"Abang, lagi ngpain, sih."
"Hmm" jawab Andra lagi
"Iss, Abang sariawan, apa gimana sih, dari tadi hmm, hmm melulu jawabnya" sungutnya
"Lo, gak liat gue lagi ngapain"
"Emm, ya liat sih. Lagi baca Undangan"
"Nah, tu lo tau. Ngapain mesti nanya lagi. Dasar bocah" cicit Andra yang membuat adiknya itu cemberut.
"Yey, Aisyakan. Cuma nanya, Bang. Gitu aja sewot"
" Tau ah, pusing gue"
"Coba, liat undangan dari siapa tu, Bang" Aisya langsung mengambil kartu undangan yang berada ditangan Andra.
"Jessi, hmm kaya pernah dengar ini nama" katanya
"Apa, jangan-jangan ini jessi. Pacarnya Abang yang wakyu itu" lanjutnya
"Hmm" kata Andra lagi sambil nganggukin kepala
"Wah, pantesan. Abang sensi betul kaya cewek PMS aja"
"Ternyata, di tinggal kawin sama pujaan hatinya" olok Aisya sambil ketawa
"Diam, lo" kata Andra karena tidak terima di tertawakan Adiknya
" terus, Abang mau datang ke nikahannya si jessi-jessi itu" tanyanya lagi
"Gak tahu."
" kok gak tahu, sih. Abang tu harus datang, tapi harus bawa gebetan. Biar si jessi itu tahunya Abang sudah move on dari dia" papar Aisya memberi saran pada Abangnya.
"Hmm, tapi masalahnya gue gak punya gebetan"
"Hmm, gini aja Abang cari aja cewek yang bersedia jadi pacar pura-puranya Abang"
"Abangkan, banyak punya kenalan cewek, gitu aja gak tahu"
"Ya, tapi masalah teman-teman cewek Abang udah punya pasangan semua"
"Ya, cari aja siapa gitu" kata Aisya
"Gak ada" kata Andra, yang mana dia melirik dan memperhatikan Aisya sambil menyelidik. Dan tercetus lah ide gila dari otaknya.
"Apaan sih, Bang. Liatin Aisya sampai segitunya. Aisya tau kok kalo Aisya ini dah cantik" cibirnya karena dia jengah dipandang Bang Andra.
"Gimana, kalo lo aja yang jadi pasangan pura-pura Abang" dan Andra langsung mendapat pelototan mata dari adiknya.
"WHAT" katanya sambil melotot
"Biasa aja kali itu mata, gak usah sampe melotot segala. Kalo, dipikir-pikir ide lo ada benarnya juga, gue mesti bawa pasangan ke nikahan dia" kata Andra
"Mau, ya jadi pasangan Abang" bujuk Andra, ia malas kalau harus mencari cewek lagi yang mau di ajak pergi kepesta, kalau perginya sama Aisya kan dia gak mesti ngeluarin uang buat bayar jasa wanita yang ia sewa buat jadi pacar pura-puranya.
"Ogah banget gue" tolak Aisya dengan ide gila Abangnya itu, ia pikir Abangnya sudah tidak waras karena di tinggal nikah sama mantan pacarnya.
Bersambung...
Di tunggu kritik dan sarannya. Saya masih pemula masih banyak kekurangannya. Semoga suka.
Buch teilen mit
Facebook
Twitter
Whatsapp
Reddit
Copy Link
Aktuellstes Kapitel
AISYA ( INDONESIA ) Bab 28
Reyhan sampai di rumah sakit, ia berlari memasuki rumah sakit sambil menggendong Aisya. "Suster, tolong istri saya." Teriak Reyhan pada Suster yang berada di sana.Dengan sigap Suster tersebut menyuruh Reyhan membaringkan Aisya di sebuah brangkar, lalu mendorongnya menuju UGD. Saat sampai di depan pintu UGD, Reyhan ingin ikut masuk ke dalam tapi ditahan oleh perawat."Maaf, Pak. Bapak tidak bisa ikut masuk." Ucap perawat tersebut menahan tubuh Reyhan yang ingin ikut masuk."Tapi, Sus...?""Bapak berdoa saja semoga istri Bapak, baik-baik saja." Ucap Suster tersebut."Tolong istri saya Dokter." Kata Reyhan pada Dokter yang akan menangani Aisya. Sebelum pintu ruangan UGD itu ditutup.Reyhan segera menghubungi kedua orang tuanya dan mertuanya kalau mereka berada di rumah sakit. Ia takut terjadi apa-apa dengan istri kecilnya itu.Tak berapa lama, Pak Hadi dan Bu Rasti datang, mereka segera menghampiri Reyhan yang seda
AISYA ( INDONESIA ) Bab 27
Aisya bangun dari tidurnya, diliriknya Reyhan yang ada di sampingnya masih tidur nyenyak sambil memeluknya. Aisya memindahkan tangan Reyhan yang ada di atas perutnya. Dengan hati-hati Aisya turun dari ranjang, ia takut Reyhan akan terbangun. Aisya memakai jaketnya, kemudian ia mengambil dompet, serta kunci motornya. Aisya membuka pintu kamar pelan agar tak menimbulkan suara. Tadi abis Shalat shubuh mereka tidur lagi, sekarang baru jam 06.00 pagi. Aisya lapar, dia ingin makan bubur Ayam. Maka dia bangun dan pergi ke luar buat nyari bubur Ayam. Ia ingin pamit pada kedua mertuanya tapi sepertinya mereka masih pada tidur juga, jadilah dia pergi tanpa pamitan.Reyhan terbangun dari tidurnya, ia meraba-raba tempat tidur di samping, kosong. Lalu ia membuka matanya dan duduk. Reyhan turun dari tempat tidur, ia membuka kamar mandi ternyata kosong. Hmm ke mana istrinya ini. Tumben sekali pagi-pagi dah ngilang aja. Lalu
AISYA ( INDONESIA ) Bab 26
Aisya dan Reyhan sudah kembali ke rumah orang tua Reyhan. Pagi ini Aisya sibuk bantuin Mami Rasti bikin sarapan. Aisya bagian potong memotong dan Mami Rasti bagian masak memasak."Mi, Aisya bangunin Abang dulu, ya." Ucap Aisya saat kegiatan memasak mereka sudah hampir selesai."Iya, sayang." Sahut Mami Rasti.Aisya masuk ke kamar dilihatnya Reyhan sudah tidak ada di atas ranjang. Dibukanya pintu kamar mandi, di sana juga tak terlihat ada Reyhan. Lalu Aisya kembali lagi ke dapur menemui Mami Rasti."Mi, lihat Abang, gak?" Tanya Aisya pada Mami Rasti."Loh, bukannya tadi kamu mau bangunin, dia?" "Iya, Mi. Tapi Abangnya dah gak ada di kamar, Aisya cari di kamar mandi juga gak ada." "Lah, ke mana itu anak." Seru Mami Rasti."Tadi pas Aisya bangun, Abang masih tidur di kamar." "Coba, kamu cari di halaman belakang, deh!" Usul Mami Rasti."Iya, Mi." Aisya berjalan ke arah halaman belakang r
AISYA ( INDONESIA ) Bab 25
Aisya terbangun dari tidurnya, ia melirik jam yang berada di atas nakas samping tempat tidurnya, jam 01.30 dini hari. Lalu pandangannya beralih pada Reyhan yang sedang terlelap di sampingnya. Aisya membuka selimutnya, lalu ia berjalan ke luar dari kamar. Tujuannya adalah dapur, perut Aisya merasa lapar. Aisya membuka kulkas, tidak ada makanan yang bisa dimakan. Pandangannya jatuh pada telur yang berjejer rapi di kulkas. Aisya mengambil sebiji telur dan sayur sawi hijau. Kemudian dia mengambil sebungkus mie instan di lemari. Dia ingin membuat mie saja biar lebih praktis dan cepat matengnya, karena cacing di perutnya sudah berteriak kelaparan minta dikasih makan.Saat Aisya sedang memasukan bumbu mie kedalam panci yang sudah berisi telur, sayuran, dan mie. Sepasang tangan kokoh melingkar di perutnya. Aisya berjengkit kaget karenanya."Kamu ngapain, yang?" Ucap Reyhan"Iss, ngagetin aja, deh." "Kamu, lapa
AISYA ( INDONESIA ) Bab 24
Reyhan memarkirkan mobilnya di halaman rumah orang tua Aisya. "Abang, benaran nih, gak turun dulu?" Tanya Aisya pada Reyhan."Gak, sayang. Abang ada meeting penting pagi ini takutnya nanti telat." "Ya, udah deh." Aisya mencium punggung tangan Reyhan lalu dibalas dengan kecupan di kening oleh Reyhan."Bilangin ke Bunda sama Ayah, ya. Abang gak bisa mampir soalnya buru-buru." "Iya, Bang. Nanti Aisya bilangin. Abang hati-hati ya." Aisya membalikkan badannya dan tangannya sudah bersiap untuk membuka pintu mobil, tiba-tiba ditarik oleh Reyhan. "Kenap,,,,, hmmppt." Belum selesai Aisya bertanya, Reyhan sudah lebih dulu menyambar bibir mungilnya, bibir yang bikin Reyhan ketagihan. Reyhan melumat bibir Aisya dengan lembut, tetapi lama kelamaan ciumannya semakin panas dan menuntut untuk lebih. Reyhan yang tersadar dari ingatannya bahwa dia harus segara k
AISYA ( INDONESIA ) Bab 23
Aisya memandang dua orang yang berada di depannya dengan perasaan kesal. Ingin sekali dia menyiram wajah perempuan yang bernama Dina tersebut dengan kuah bakso yang dia makan. Enak saja main rangkul-rangkul suami orang. "Rey, ngapain di sini? sama siapa ke sini?" Tanya Dina dengan suara manjanya. Gak liat apa bininya segede gaban gini di depannya masih nanya lagi batin Aisya. "Loe gak lihat gue lagi makan, sama istri gue lah." Sahut Reyhan, ia jengah melihat tingkah Dina yang bergelayut manja di lengannya apalagi ini ada Aisya, istrinya. Reyhan pun melepaskan tangannya dari rangkulan Dina."Sejak kapan Rey Selera makan kamu pindah ke tempat beginian?" Ucap Dina, sambil memandang Aisya dengan tatapan mengejek. "Ya, suka-suka gue lah." "Iss, kamu berubah banget deh, apa habis kenal cewek ingusan ini loe jadi berubah?" Ucap Dina, sambil menunjuk Aisya.Ingin sekali rasanya Aisya mematahkan telunjuk Dina yang menunju
AISYA ( INDONESIA ) Bab 7
Di sinilah Aisya dan Reyhan duduk, di ruang tamu rumah Aisya dan di kelilingi oleh beberapa warga, mereka menuduh Aisya dan Reyhan telah berbuat mesum. Karena mereka hanya berdua saja dirumah, karena orang tua Aisya dan Abang-abangnya sedang tidak berada dirumah. Aisya sudah menjelaskan kalau dia
AISYA ( INDONESIA ) Bab 22
Kini Aisya dan Mami sudah sampai di rumah mereka baru saja pulang dari Mall dan sedang istirahat duduk di sofa sambil menikmati dua gelas jus Mangga. "Mi, perempuan yang tadi ketemu kita waktu di Mall siapa?" Tanya Aisya, setelah ia menyesap jus mangga miliknya. Ia masih pena
AISYA ( INDONESIA ) Bab 21
Tak berapa lama Reyhan keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk yang dililitkan di pinggang. Aisya yang melihat pemandangan itu hanya mengalihkan pandangannya. Ia takut tergoda dengan perut seksi suaminya itu. Aisya masih dongkol dia, kalau ingat tadi suaminya abis digandeng cewek cant
AISYA ( INDONESIA ) Bab 20
Kedua mata Aisya masih memandang dan memperhatikan dua orang yang sedang bergandengan mesra menuju sebuah Restoran yang berada di sebelah Restoran jepang tempat Aisya dan Nisa makan."Woy, kita samperin yuk." Aisya terjengkit, ia kaget mendengar suara Nisa."Iih, lo ngelamun ya?"
