Cargando
Inicio/ Todos /WOLVIRE (Bahasa Indonesia)/Prolog
WOLVIRE (Bahasa Indonesia)

Prolog

Autor: Varga Nurlela Blafire
"Fecha de publicación: " 2020-09-15 22:41:28

Darah mengalir turun dari leher lelaki yang duduk terkulai di ruangan itu. Membasahi tuksedo hitam yang ia pakai dan lantai di bawahnya dengan genangan pekat. Rambut kelabunya bernoda merah dan tampak lengket, setetes darah mengalir ke dahinya. Bahu dan dada orang itu bergeming. Tak ada tanda-tanda napasnya masih tersisa.

Beberapa langkah dari mayat itu, seorang wanita telentang dengan posisi janggal dan leher penuh darah. Wajahnya yang telah pucat menyiratkan kesakitan. Bibirnya terbuka, seakan wanita bergaun putih itu sempat berteriak sebelum urat lehernya terputus. Di sampingnya, berlutut seorang pria yang tersengguk-sengguk dengan perasaan terluka. Pria bernama Rudi itu menoleh secepat embusan angin, iris matanya yang gelap menatap seorang pria lain yang berdiri tak jauh darinya dengan benci.

“Opo sing mok karepke?” (Apa yang kau inginkan?) Rudi menggeram rendah. Perlahan dan agak gemetar, ia berdiri.

Yang dimusuhi menyeringai di bawah tudung jubahnya yang bermotif batik hitam. Kelepai jubah itu bergerak saat kedua tangan si pemilik terentang seperti akan memeluk seseorang.

“Opo sing tak karepke?” Pria berjubah batik tertawa. “Aku sing goblok, opo kowé sing pekok? Kowé wêruh opo pengarepanku!” (Aku yang bodoh, atau kau yang tolol? Kau tahu apa keinginanku!)

Rudi mengepalkan tangannya dengan marah. “Anakku wés mati, Sétan!”

Yang dipanggil setan memiringkan kepalanya dengan geli. “Aku uduk cah cilik, Rud. Anakmu séhat, ora loro, ora dipatèni, opo manèh mati ngêndhat! Mok dhêlikake nek endi bocahé?!” (Aku bukan anak kecil, Rud. Anakmu sehat, tidak sakit, tidak dibunuh, apalagi mati bunuh diri! Kau sembunyikan di mana dia?!)

Rudi terkekeh sedih. “Kowé ora perlu wêruh opo-opo bab panggonané anakku. Arep kok gawé opo dhèwèké? Anakku duwé hak urip! Ojo ganggu dhèwèké!” (Kau tidak perlu tahu apa-apa tentang di mana anakku berada. Mau kau apakan dia? Anakku punya hak untuk hidup! Jangan ganggu dia!)

Pria berjubah batik melesat bagaikan kilat. Dalam sekian milidetik, leher Rudi sudah berada di cengkeramannya.

“Ojo neko-neko karo aku, 'cok!” (Jangan macam-macam denganku, sialan!) Pria berjubah batik menggeram dengan suara mirip binatang. Wajahnya berkerut marah. Cekikannya semakin erat, tapi Rudi bergeming.

Rudi mendengus. “Aku mung berusaha dadi wong tuwo sing apik kanggo anakku.” (Aku cuma berusaha jadi orang tua yang baik untuk anakku.)

Sang musuh menggertakkan gigi. “Bakal tak sepuro awakmu, anggêr gêlêm nyerahaké anakmu ning aku!” (Akan kumaafkan dirimu, asal kamu mau menyerahkan anakmu padaku!)

Wajah Rudi terpilin marah. Kebencian membakar tatapannya. Ia meludah, tepat ke wajah sang musuh di hadapannya.

Pria berjubah batik berteriak geram. Dengan satu kedipan mata, ia mematahkan leher Rudi tanpa usaha yang berarti. Darah hitam muncrat hingga memercik ke wajah si pembunuh. Kepala Rudi terlontar dan menggelinding, lalu berhenti di samping kepala istrinya yang telah mati. Sang musuh menghempaskan tubuh tanpa kepala yang ia pegang dengan kasar.

“Bakal tak golèki anakmu, Rud. Bakal tak golèki.” (Akan kucari anakmu, Rud. Akan kucari.)

Pria berjubah batik itu membalikkan badan, lalu pergi meninggalkan hasil kerja tangannya di sana.

Want to know what happens next?
Continuar Leyendo
Capítulo anterior
Capítulo siguiente

Compartir el libro a

  • Facebook
  • Twitter
  • Whatsapp
  • Reddit
  • Copy Link

Último capítulo

WOLVIRE (Bahasa Indonesia)   27

Linda dan Aryadi berdiri dengan tegang, tak terkecuali Rokan Allegro dan yang lain. Ketiga belas witch hanya berdiri kaku mengelilingi peti mati terbuka yang di dalamnya terbaring tubuh Barbara. Namun, bibir mereka tampak berkomat-kamit tanpa mengeluarkan suara. Kedua tangan para witch itu saling terkait di depan, seakan sedang berdiri santai dan hanya menikmati dinginnya gua yang mereka masuki.Linda mulai tak sabar. Keinginannya untuk menginterupsi begitu besar, tapi ia berusaha untuk menahannya. Seseorang menyentuh bahunya, Linda menoleh dan mendapati Rokan Allegro yang mengangguk pelan, membantunya menguatkan hati untuk bersabar.Para witch itu tampak bergerak setelah kira-kira tiga puluh menit atau lebih. Mereka mulai berjalan perlahan mengitari peti mati seraya mengulurkan tangan ke arah Barbara. Mereka mulai bergumam seirama dengan suara rendah, gema yang d

WOLVIRE (Bahasa Indonesia)   26

“Persiapkan apa yang perlu dipersiapkan. Kita butyh melakukan Penjemputan Jiwa secepatnya.”“Baik, sir.”Linda menatap kepergian sang witch yang menjauh dan masuk ke dalam lift itu. Pandangannya beralih pada Rokan Allegro. Sebuah pemikiran mendadak terlintas di benaknya.“Sir, kau bilang cuma para witch yang bisa menggunakan Pemindah Raga,” Linda menyatakan.Rokan Allegro mengerutkan kening. “Lalu?”“Bagaimana mungkin witch itu dan Barbara bisa sampai ke mari secepat ini? Kalau mereka berhasil menyelamatkan Barbara sebelum tengah malam dan tiba di sini pukul lima, bukankah itu waktu yang dibutuhkan untuk para witch saat mereka menggunakan Pemindah Raga?”Rokan Allegro mengambil langkah ke depan, berhenti di pintu Ruang Penyembuhan dan memandang Barbara yang terbaring lemah dari balik kaca. “Barbara adalah jenis immortal lain selain witch yang bisa menggunakan Pemindah Raga.&rd

WOLVIRE (Bahasa Indonesia)   25

Aku tidak tahu bagaimana cara seseorang bisa kerasukan dengan benar. Atau dalam hal ini, dikendalikan secara penuh. Itu terasa mengerikan saat aku diberitahu bahwa aku dikurung di dalam otakku sendiri. Dalam tubuhku sendiri. Aku bertanya-tanya apakah begini yang akan kurasakan jika seandainya aku memiliki kepribadian ganda. Namun, ini sepertinya lebih buruk. Aku tak bisa merasakan segala indra yang ada di fisik nyataku lagi. Aku merasa kosong. Aku merasa buta. Aku seperti orang gila yang tersesat dalam lingkup kegelapan di bawah jurang nan menyesakkan.Yang bisa kulakukan, atau setidaknya begitulah yang kupikir kulakukan, hanya menangis.Suara iblis itu tak lagi menakut-nakutiku, tapi setelah beberapa saat yang terasa seperti jutaan jan bagiku, suara itu tiba-tiba meraung. Aku berjengit, namun tetap tak melakukan apa-apa selain memeluk lutut di suatu tempat di antara luasnya pikiranku. Aku baru mendongak saat kusadari bahwa raungan itu tak kunjung berhenti. Aku tidak t

WOLVIRE (Bahasa Indonesia)   24

Selama berhari-hari berikutnya Saga tak lagi merepotkan diri mencari Bara dan keluarganya lagi, seperti yang sang ibu suruh padanya. Ia tak bisa mengelak saat perasaannya tetap saja khawatir meski ia sudah berusaha berpikir jahat selama detik-detik tertentu dalam benaknya yang tengah melamun. Biar bagaimana pun, Saga sudah menganggap Bara sebagai temannya. Seseorang yang sepatutnya khawatir jika salah satu temannya menghilang, atau yang lebih parah, dikejar oleh pemburu yang lebih parah dari serigala liar.Pada suatu hari, lima belas hari setelah menghilangnya Bara dan keluarga, ia datang ke hutan itu. Hutan yang ia tak berani dekati sebelumnya. Saga tak tahu apakah dia sudah gila atau akan menjadi gila atau dunia itu sendiri yang gila. Sebenarnya, ia sendiri tak yakin siapa siapa yang gila gara-gara siapa.Intinya adalah Saga sudah tak tahan lagi. Berdiam diri sementara ia tahu bahwa temannya sedang dalam bahaya, itu terasa seperti hal yang salah. Vampir dan para shap

WOLVIRE (Bahasa Indonesia)   23

“Pa! Setidaknya kita harus melaporkan hal ini pada INDICENT, bukan?”Sudah seminggu sejak Saga menemukan rumah Mr. Aryadi yang acak-acakan. Namun, saat Saga memberitahukan perihal ini pada orang tua angkatnya, mereka menolak melakukan apa pun dan dengan tegas melarang Saga berkoar-koar tentang itu pada siapa pun.Setiap hari, setiap saat yang bisa Saga lakukan, ia selalu meluangkan waktu untuk datang melihat rumah kakek Bara lagi dan lagi. Saat masih belum ada juga tanda-tanda keberadaan dari para penghuni rumah itu, lagi dan lagi, Saga membiarkan dirinya melesat dan berkelebat ke sana-kemari, mencoba mencari ke mana keluarga itu pergi. Sejak hilangnya keluarga kecil itu, ponsel Bara sama sekali tak bisa dihubungi oleh Saga. Operator seluler selalu menjawab bahwa nomor yang dihubungi sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan.Pernah suatu hari Saga sampai harus mendatangi beberapa kota lain yang dekat dengan kota Koba, menanyakan tentang ciri-

WOLVIRE (Bahasa Indonesia)   22

Hari saat kemunculan Hugo di rumah Aryadi …. Saga mendengkus saat matanya mengawasi lalu-lalang kendaraan dari jendela kamarnya. Mulutnya memberengut sementara tangannya bersedekap. Kesebalan tampak memenuhi ekspresi di wajahnya yang imut. Orang tua angkatnya tadi sempat memergoki Saga sedang saling telepon bersama Bara. Hanya menggunakan tatapan mengancam sewajarnya seorang ibu yang marah pada anaknya, ibu Saga memberi isyarat agar ia mengaktifkan mode loud speaker-nya. Begitu Bara mengatakan bahwa orang tuanya akan datang ke Bangka untuk menjelaskan semua hal pada gadis itu, orang tua Saga serentak melotot.“Kabari aku nanti,” balas Saga cepat-cepat saat Bara akan menutup teleponnya. Saga lekas berdiri dari tempat tidurnya sembari mengantongi handphonenya dan menatap kedua orang tuanya dengan salah satu alis dinaikkan. “Kenapa Mama harus menyuruhku—”“Seharusnya kau tidak perlu ikut campur urusan orang l

WOLVIRE (Bahasa Indonesia)   21

Tujuh sosok berpakaian serba merah gelap itu tiba-tiba muncul begitu saja di suatu tempat di Hutan Setan. Untuk sesaat mereka menyeimbangkan diri. Pemindah Raga bukan pilihan transportasi instan yang nyaman bahkan untuk para witch itu sendiri. Terasa akan sedikit goyah saat mereka telah menginjak

WOLVIRE (Bahasa Indonesia)   20

Beberapa meter setelah mereka memasuki kedalaman hutan, Tetua Brahma menghentikan langkahnya dan membalikkan badan. Kesembilan orang sisanya memandang tetua itu dengan sorot mata bertanya-tanya.“Gunakan kecepatan lari supernatural kita,” ujar Tetua Brahma, disambut dengan angg

WOLVIRE (Bahasa Indonesia)   19

“Kita terlambat, Dad!”Linda menggerak-gerakkan kakinya dengan penuh kekhawatiran. Matanya menatap barisan pepohonan yang melesat di luar jendela mobil yang mereka tumpangi menuju Alas Purwo (Hutan Purwa). Aryadi memegang kedua tangan wanita itu yang tak henti-hentinya saling m

WOLVIRE (Bahasa Indonesia)   18

Langit masih menggelegar seakan malaikat sedang melecutkan petir kematian pada iblis-iblis yang berkeliaran. Satu per satu korban di bawahku mengalami hal yang sama seperti wanita tadi. Korban yang tak berada di jangkauan pandanganku … aku hanya bisa mendengar jerit kesakitan dan kemudian

Más capítulos
Descargar el libro
GoodNovel

Descarga el libro gratis

Descargar
Buscar lo que desee
Biblioteca
Explorar
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystemFantasyLGBTQ+ArnoldMM Romancegenre22- Englishgenre26- EnglishEnglishgenre27-Englishgenre28-英语
Cuentos cortos
SkyMystery and suspenseModern urbanDoomsday survivalAction movieScience fiction movieRomantic movieGory violenceRomanceCampusMystery/ThrillerImaginationRebirthEmotional RealismWerewolfhopedreamhappinessPeaceFriendshipSmartHappyViolentGentlePowerfulGory massacreMurderHistorical warFantasy adventureScience fictionTrain station
CrearBeneficios para escritorConcurso
Géneros populares
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystem
Contáctanos
Acerca de nosotrosAyuda y sugerenciasNegocios
Recursos
Descargar appsBeneficios para escritorPolítica de contenidoPalabras claveBúsquedas PopularesReseña de libroFicción de fansFAQFAQ-IDFAQ-FILFAQ-THFAQ-JAFAQ-ARFAQ-ESFAQ-KOFAQ-DEFAQ-FRFAQ-PTGoodNovel vs Competitors
Comunidad
Facebook Group
Síganos
GoodNovel
Copyright ©‌ 2026 GoodNovel
Condiciones de uso|Privacidad